Campuran Masalah


Tidurkah Syaitan ???

Seorang pria pernah bertanya kepada Hasan : Hai Abu Said apakah syetan juga tidur ?….dan beliau menjawab :” Andai dia bisa tidur tentu kita bisa istirahat. Namun Allah senantiasa memberikan rahmat pertolongan milik Nya. Jadi orang – orang yang bertaqwa tidak akan sulit untuk menutup jalan menuju ke arah kemaksiatan. Seperti kita ketahui jalan syetan itu sangat banyak dan jalan kemalaikatan cuman satu.coba kita bandingkan itu ibarat seorang musafir di hutan yang sulit mendapatkan jalan , kecuali dengan penglihatan “ mata hati “ yang di maksud adalah hati yang bersih yang disertai ketaqwaan . Kata Pendidik saya dulu waktu ngaji lawan syetan itu adalah KESHOLEHAN yang di ilmuin dengan Alquran dan Sunah Rasul Nya.
Syetan menipu dalam kebajikan sebagaimana ia menipu dalam kejahatan secara jelas dan taktik ini sering membuat kita sering celaka . Maka kita harus senantiasa mendekatkan dengan rahmat pertolongan kepunyaan Allah swt.
Suatu ilmu tidak akan bermanfaat bila terletak diantara malu dan sombong ( dengan keahliannya ) . Hal seperti itu ibarat banjir yang menghancurkan tempat yang tinggi . sesungguhnya sikap ujub dan sombong itu mampu menghapus segala keutamaan dan bisa merendahkan derajat diri. Dan lebih parah lagi kesombongan dapat merusak akal dan agama . Nabi saw bersabda: “ Tiga perkara yang membuat orang hancur : 1. kikir 2. mengikuti hawa nafsu 3. orang yang membanggakan diri .”
Kepintaran dan kecerdasan yang di anugerahkan kepada kita seharusnya membawa kita lebih tawadhu dan rendah hati .Semoga Allah swt selalu memberi rahmat pertolongan milik Nya kepada kita semua , sehingga kita senantiasa jauh dari sifat tersebut.
Mutiara wasiat dari Syaidina Ali r.a

Sebagaimana ada keterangan hadist bahwa Rasulullah saw pernah bersabda “ Aku adalah gudangnya ilmu dan Ali adalah gerbangnya.”. Banyak ilmu yang bisa kita petik dari sahabat yang Nabi saw yang satu ini.

MUTIARA WASIAT Beliau.

Tiada harta lebih berharga daripada akal.
Tiada kesendirian lebih sepi daripada keangkuhan diri.
Tiada kebijakan lebih baik daripada hidup sederhana dan terencana.
Tiada kemuliaan lebih tinggi daripada ketakwaan.
Tiada karib lebih baik daripada keluhuran budi.
Tiada harta warisan lebih besar daripada pendidikan.
Tiada petunjuk jalan lebih baik dari pada taufik Allah.
Tiada perdagangan lebih menguntungkan daripada amal saleh.
Tiada laba melebihi pahala Allah.
Tiada wara (sikap berhati-hati) lebih baik daripada pengekangan diri terhadap segala syubhat (belum jelas halal & haramnya).
Tiada zuhud lebih baik daripada zuhud terhadap barang yang haram.
Tiada amal lebih baik daripada mengerjakan sesuatu yang difardlukan.
Tiada ilmu lebih baik daripada hasil tafakkur.
Tiada iman lebih baik daripada rasa malu dan sabar.
Tiada kehormatan diri lebih baik daripada tawadhu.
Tiada kemuliaan lebih baik daripada ilmu.
Tiada kekayaan lebih baik daripada kemurahan hati.
Dan tiada dukungan yang lebih baik daripada nasihat yang tulus.

Adat atau kebiasaan yang menjadi dasar dalam hukum syara’ mempunyai ta’rif sebagai berikut ;

Hubungan yang ada hubungannya antara yang menyebabkan dan yang di sebabkan , karena kejadiannya sering terjadi serta sah gagalnya dan tidak ada kemampuan untuk membuktikan.

Maka seandainya ada perkara dimana antara yang menyebabkan dan yang di sebabkan tidak ada hubungannya , maka hal itu tidak disebut sebagai Adat.
Dan apabila yang menyebabkan dan yang di sebabkan ada hubungannya maka walaupun tidak ada kaitan yang nyata juga tidak termasuk adat
Seharusnya penyambunganya yang di maksud harus berdasar pada perkara yang sering terjadi , maka kejadian yang bersifat sementara tidak termasuk adat. Seperti mu’jizat para Nabi , Karomah para wali atau sihirnya orang fasik
Penyambungan yang di maksud itu bisa jadi gagal . maka keluar yang di sebut Khowariqul adat ( kejadian yang luar biasa ) seperti dibakar tidak gosong , dibacok tidak mempan dll.

Adat tidak mempunyai kemampuan untuk menciptakan atau membuktikan salah satu kejadian . Gosongnya perkara yang kebakar bukan karena api , kenyangnya perut setelah makan bukan karena makanan , turunnya hujan bukan karena awan semua itu karena kehendak kepunyaan Allah swt.

Ta’rif adat yang di sebut diatas merupakan dasar hukum adat yang didalamnya memunculkan ilmu diantaranya :

~ Ilmu Nabatat = Ilmu Tumbuh – tumbuhan ( Flora )
~ Ilmu Hayawanat = Ilmu Hewan ( Fauna )
~ Ilmu Jamadat = Ilmu Teknologi.
~ Ilmu Pertambangan = Geologi
~ Ilmu Falak / Samawat = Astronomi.

Dalam hal ini hukum syara’ menetapkan fardhu kifayah adanya salah seorang diantara umat Islam yang
Menggunakan ilmu – ilmu di atas .Maka sudah seharusnya kita selaku umat islam menguasai salah satu ilmu tersebut , setidaknya ada satu orang di suatu daerah

Hukum Adat Wajib dihormati.

Karena hukum adat menjadi dasar dalam hukum syara’ maka ketentuannya wajib di hormati seperti hukum adat menetapkan kalau merokok akan menyebabkan penyakit kangker , dengan begitu kita wajib menghormati dengan cara tidak merokok.

Allah telah memfrmankan di surat Ar-Ra’du ayat 11 :

…sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum ( Musabab ) sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada mereka sendiri ( sebab )

Walaupun begitu , ayat – ayat Allah yang ada kaitannya dengan hukum adat ( sebab dan musabab ) seperti yang diatas jangan sampai di itikadkan kalau adat mempunyai daya cipta untuk menjadikan suatu perkara , karena semua itu atas kuasa kepunyaan Allah swt.
Dalam surat At Taubah ayat 51 :

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”

Firman yang telah difirmankan Allah swt ada yang menunjukkan kepada syareat dan hakekat , ayat sareat menunjukkan Adat di dalam pengamalan yaitu untuk dijadikan pegangan didalam ucapan , sedangkan yang menunjukkan hakekat yaitu untuk pegangan untuk tawakal , sabar dan syukur kepada Allah ta’ala .

Selama masih ada hukum adat maka ketentuan hukum adat harus dihormati ( dilaksanakan ) seandainya kehendak kepunyaan Allah tidak menghendaki adanya hukum adat Allah tidak meng Taklif untuk melaksanakan hukum adat , melainkan memerintahkan untuk tawakal kepada Nya sepenuhnya dibarengi dengan kesabaran dan syukur.
Sebagai mana kejadian yang menimpa Nabi Ibrahim AS ketika akan dibakar oleh raja Namrud,. di kejadian pada Nabi Ibrahim tidak berlaku hukum adat , Nabi Ibrahim hanya pasrah sumerah diri ( tawakal )kepada Allah swt. Did lam hatinya ada keyakinan kalau api tidak punya kekuatan untuk membakar , hanya kekuasaan kepunyaan Allah swt lah yang mampu menciptakkannya. Maka dalam keadaan Nabi Ibrahim dahulu turunlah rahmat pertolongan kepunyaan Allah swt yang mana ketentuan hukum adat bertolak belakang , api yang seharusnya panas menjadi dingin.
Di surat Al-Anbiya ayat 69 :

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”.

Hubungan sebab akibat ( sambungan adat ) ada empat perkara :

1. Hubungan ada dengan ada , seperti hubungan rasa kenyang dengan adanya yang di makan
2. Hubungan ada dengan tidak ada , seperti hubungan adanya selimut dengan tidak adanya dingin .
3. Hubungan tidak ada dengan ada , seperti hubungan tidak adanya selimut dengan adanya dingin.
4. Hubungan tidak ada dengan tidak ada , seperti hubungan tidak makan karena tidak ada makanan

Selain itu juga ada yang menyebut lain tentang adat seperti :

~ Adat yang mengandung arti akhlak atau kelakuan seseorang .

Sebagai contoh ;” si anu kebiasaannya sopan “ mengandung arti kalau kelakuan si anu itu sopan.

~ Adat yang mengandung arti Sya’nul Kaom ( kebiasaan suatu kaum ) seperti orang madura kalau membawa barang biasa di letakkan di atas kepala .

Adat – adat yang tersebut di atas tidak mutlak bisa termasuk hukum syara’ . karena ada yang di pandang baik atau jelek .

Pembagian Hukum Adat

Penetapan hukum adat ada dua :

~ Wajib ‘Ady , yaitu satu ketetapan yang harus terjadi menurut adat , dengan dasar hubungannya.

~ Muhal ‘Ady , yaitu ketetapan yang tidak akan terjadi menurut adat , disebut juga Khowariqul Lil Adat

Hukum Akal


Sebagaimana yang sudah di sebutkan dalam pasal hukum – hukum yaitu adanya sebutan hukum tetapi tidak termasuk hukum hukum , begitu pula di dalam hukum akal , ada sebutan akal yang tidak termasuk di dalam hukum akal ( tidak bisa dijadikan putusan hukum akal ) karena beda maksudnya .

~ Akal yang mengandung arti Ikhtiar seperti “ saya sudah kehabisan akal untuk mengalahkan “
~ Akal yang mengandung arti hukum. Seperti ”Akal saya tidak menerima kalau dia terbang “
~ Akal yang mengandung arti Pintar. Seperti “ dia akalnya cerdas sekali “
~ Akal yang mengandung Dewasa. Seperti “ anak kecil itu belum punya akal “

Pembagian akal :

~ Akal Ghorizi , yaitu akal yang mempunyai kekuatan untuk makrifat kepada Allah swt.

~ Akal Thobi’i , yaitu akal yang mempunyai kemampuan untuk mengerti namun tidak mampu makrifat kepada Allah swt.

Seandainya manusia yang mempunyai akal ghorizi tidak bisa menggunakan akalnya untuk mengenal Allah swt , pasti turun derajatnya melebihi hewan. Yang hanya mempunyai akal thobi’i.

Dalam Alquran dijelaskan :

Dan Kami menjadikan isi neraka jahanam dari bansa jin dan manusia ,mereka mempunyai akal tapi tidak di pakai untuk memahami ayat – ayat Allah , dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipakai melihat ( tanda – tanda kekuasaan Allah ) dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipakai untuk mendengar ( ayat – ayat Allah ).Mereka laksana hewan , bahkan mereka lebih sesat lagi.Mereka yaitu orang – orang yang lalai.

Ta’rif Hukum Akal.

Menetapkan stu perkara dengan perkara yang lain atau menghilangkan satu perkara dengan perkara yang lain dengan tidak menunggu hasil kejadian yang sering terjadi dan tidak menggunakan penetapan asy syar’i.
Yang di tetepakan hukum akal yaitu kelangsungan sebelum umat manusia diciptakan serat Rasul – Rasul di angkat , malahan sebelum di gelarnya alam dunia . jadi jelas kelangsungan hukum akal tidak ditandai dengan adanya akal atau tidak adanya akal , sebab sebelum akal ada ketetapan hukum akal sudah ada . seperti contoh : ada atau tidak adanya akal tidak mempengaruhi ketetapan kalau Allah itu yang mempunyai kuasa .
Lantas apa yang di maksud hukum akal ??…..jawabnya sebab isi ketentuan hukum akal di ketemukan oleh akal , tapi bukan berarti adanya hukum akal itu setelah adanya akal.

Dalil hukum akal ada dua :

~ Dalil Naqli , yaitu dalil – dalil yang bersumber pada Alquran dan hadist ( khusus untuk orang- ornag yang sudah beriman kepada Allah swt ).
~ Dalil Aqli , yaitu dalil – dalil yang berdasar pada ketetapan akal ( untuk orang – orang yang sudah beriman dan belum beriman kepada Allah swt ).

Dalil Aqli di bagi dua :

~ Dalil Aqli Ijmali , yaitu dalil yang sifatnya sderhana.Hukum mengetahui dalil ini adalah FARDU “AIN ( wajib ).

~ Dalil Aqli Tafshili , yaitu dalil yang lebih tinggi yang mamapu menguatkan ajaran Islam serta melawan ajaran yang tidak sesuai dengan tauhid . Hukum mengetahui dalil ini adalah Fadu Kifayah.

Hubungan hukum Syara’ dan hukum Akal

Ketetapan hukum syara’ kepada hukum akal adalah sebagai kemudi / control. Sebab seandainya hukum akal yang di pakai tidak memperhatikan syara’ akan menyebabkan alam pemikiran yang samar dan tidak tentu tautannya . yang nantinya bakal seperti golongan kafir fulusiah atau jabbariyyah.
Seandainya ada kejadian dalam ayat Alquran atau keterangan hadist yang isinya tidak dipahami oleh akal maka hukum akal sudah di kemudikan hukm syara’ sehingga akan menjadikan penyaring dan menjadikan takhsis tentang ayat itu

Dalam surat Al-Hasyr ayat 2 :

.” ……Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.”

Ta’rif Syara’ (ta’rif Agama Islam) yaitu :

Katetepan Ilahi yang di tujukan untuk orang – orang yang mempunyai akal sehat dengan tujuan sejatinya untuk kebahagiaan / kebaikan orang – orang tersebut.
Sudah dijelaskan kalau yang menetapkan syara’ ialah Allah swt dan Rasul Nya dan tidak di benarkan seorangpun yang iukt campur dalam penetapan hukum syara’ . Yang kedua hukum syara’ ini ditujukan untuk orang – orang yang berakala sehat , jadi orang/ sesuatu yang tidak mempunyai akal sehat tidak dijadikan sasaran hukum syara’ seperti:

· Jamadat, yaitu barang mati yang tidak hidup ( batu , gunung dll )
· Nabatat, yaitu mahkluk yang hidup atau hanya tumbuh saja ( tumbuh –tumbuhan )
· Hayawanat, yaitu mahkluk / barang hidup tapi tidak mempunyai akal ( hewan )
· Orang gila atau orang dalam keadaan mabuk .

Hukum syara’ akan memberikan petunjuk kepada perkara dzatiyyah yang baik buat manusia , artinya hukum syara’ akan memberi petunjuk ke orang – orang yang sehat akalnya untuk menerima dzatiyyah kebaikan di dunia dan di akherat.

Kebaikan yang bisa di terima di kehidupan dunia di antaranya :

· Menjamin kesempurnaan akal .

Pusat kemuliaan manusia ada di akalnya , oleh sebab itu Islam mengharamkan kepada setiap perkara yang membuat akal rusak , seperti arak , narkoba , judi . Allah swt telah memfirmankan dalam Alquran di dalam surat Al Maidah ayat 90 .

· Menjamin keselamatan diri manusia .

Untuk menjaga keselamatan lahiriah manusia , manusia di perintahkan untuk tidak berbuat perkara – perkara yang dapat merusak keselamatan manusia . Aturan kepunyaan Allah memfardu kifayahkan untuk mengadakan ahli kesehatan di setiap tempat , seperti hukum jinayat yang telah di firmankan Allah dialam surat Al Maidah ; 45 :

…dan Kami sudah menetapkan ke mereka di dalam ( at taurat ) , sesungguhnya jiwa di balas dengan jiwa , mata dengan mata , hidung dengan hidung , telinga dengan telinga , gigi dengan gigi dan semuanya ada qishasnya .

· Menjamin kesucian keturunan manusia.

Kebahagian dan kesejahteraan rumah tangga merupakan salah satu sebab yang bisa menentukan derajat manusia . Dan sesungguhnya Islam menjamin kesucian dan kerahayuan rumah tanga dengan mengharamkan zina . Allah swt telah memfirmakan dalam Alquran tepatnya di surat Ar Ruum ayat 21:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.

· Menjamin hak milik manusia

Untuk menjamin hak milik manusia Hukum Syara’ membuat bab Mu’amalat dan bab waris
Allah swt telah memfirmankan di surat Al-Baqarah ayat 275 :

.. dan Allah sudah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba

Dan di surat An Nisaa ayat 11 :

Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan

· Menjamin kehormatan manusia .

Untuk menjaga kehormatan manusia hukum syara’ mengharamkan Qodzah ( menuduh zinah ) , Sabbu ( menghina orang ) , Ghibah ( mengunjing ). Allah swt telah menfirmankan di surat Al Hujarat ayat 11 :

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.

Dan di ayat 12 surat Al Hujarat :

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

· Menghidupkan rasa sosial.

Untuk menghidupkan perkara ini , maka ada kewajiban mengeluarkan zakat dan di tekankan menunaikan shodaqoh , hibah , wakaf , membela fakir miskin dengan tenaga , pikiran .
Allah swt sudah memfirmankan di surat Al Baqarah ayat 43 :

…dan dirikan sholat dan tunaikan zakat serta rukuklah bersama orang – orang yang

Telah difirmankan pula di surat Al-Baqarah :

..dan tolong menolonglah kalian di jalan kebaikan dan ketaqwaan

· Menjamin kelestarian serta keselamatan agama islam.

Untuk menjamin hukum syara’ harus melaksanakan jalannya perjuangan seperti menjaga kemakmuran masjid , mendirikan sholat , menyebarkan syareat islam dan lain – lain.
Allah swt telah memfirmankan di surat As-Shaaf ayat 14 :

Wahai orang – orang yang beriman jadikan dirimu penolong agama Allah

Dan di surat At-Taubah ayat 41 :

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

· Menjamin kelangsungan kekeluargaan / persahabatan.

Untuk menjamin kelestarian dalam persahabatan / kekeluargaan terhadap sesama manusia , hukum islam melarang Hiqdu (dendam), Ghodob (marah), Hasud (benci dan mengharapkan hilangnya kenikmatan orang lain). Selain itu Islam juga mengajarkan kasih saying dan hormat menghormati ke sesama umat islam.

Allah sudah memfirmankan di surat Al-Hujurat ayat 10 :

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat..

· Menjamin keselamatan hewan.

Hukum syara’ melarang menganiaya hewan seperti dibakar hidup – hidup , di kurung tapi tidak di beri makan , dipekerjakan diluar kemampuannya serta di sembelih dengan cara – cara yang tidak sah

Allah telah memfirmankan di surat Al-Baqarah ayat 205 :

Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan..

· Menjamin kepentingan umum.

Supaya kepentingan umum terjaga , hukum syara, melarang perbuatan yang akan mengganggu kepentingan umum yang dalam keadaan aman .

Allah sudah memfirmankan di surat Ar-A’rof ayat 56 :

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Aturan – aturan yang disebut di atas di ikat oleh hukum syara’ , barangsiapa yang taat terhadap aturan tersebut maka aturan tersebut membawanya ke surga kepunyaan Allah swt. Dan sebaliknya barangsiapa yang melanggar aturan itu maka membawanya ke neraka kepunyaan Allah swt.

Untuk keselamatan dan kabaikan kita di akherat maka kita harus melaksanakan atau mengamalkan beberapa perkara yaitu :

Ø Aqidah.

Untuk memelihara keimanan , hukum syara’ mengajarkan ‘Aqoid seperti ‘Aqidah Islamiyah.
Perhatikan surat Az Zumar ayat 71 – 72 :

Ø Ibadah

Untuk beribadah kepada Allah harus menurut kaidah – kaidah hokum fiqih karena untuk menjamin ibadah yang kita laksanakan kepada Allah swt.

Advertisements

Kerasnya Hati


Bismilahir Rahmanir Rahiim

Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengatakan dalam kitabnya Bada’i al-Fawa’id [3/743], “Tatkala mata telah mengalami kekeringan disebabkan tidak pernah menangis karena takut kepada Allah ta’ala, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya keringnya mata itu adalah bersumber dari kerasnya hati. Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa kepada Allah agar terlindung dari hati yang tidak khusyu’, sebagaimana terdapat dalam hadits, “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari hawa nafsu yang tidak pernah merasa kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim [2722]).

Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu? Apakah keselamatan itu?”. Maka Nabi menjawab, “Tahanlah lisanmu, hendaknya rumah terasa luas untukmu, dan tangisilah kesalahan-kesalahanmu.” (HR. Tirmidzi [2406], dia mengatakan; hadits hasan. Hadits ini disahihkan al-Albani dalam Shahih at-Targhib [2741]).

Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah mengatakan [al-Bidayah wa an-Nihayah, 10/256], “Segala sesuatu memiliki ciri, sedangkan ciri orang yang dibiarkan binasa adalah tidak bisa menangis karena takut kepada Allah.”

Di antara sebab kerasnya hati adalah :

* Berlebihan dalam berbicara
* Melakukan kemaksiatan atau tidak menunaikan kewajiban
* Terlalu banyak tertawa
* Terlalu banyak makan
* Banyak berbuat dosa
* Berteman dengan orang-orang yang jelek agamanya

Agar hati yang keras menjadi lembut
Disebutkan oleh Ibnu al-Qayyim di dalam al-Wabil as-Shayyib [hal.99] bahwa suatu ketika ada seorang lelaki yang berkata kepada Hasan al-Bashri, “Wahai Abu Sa’id! Aku mengadu kepadamu tentang kerasnya hatiku.” Maka Beliau menjawab, “Lembutkanlah hatimu dengan berdzikir.”

Sebab-sebab agar hati menjadi lembut dan mudah menangis karena Allah antara lain :

* Mengenal Allah melalui nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya
* Membaca al-Qur’an dan merenungi kandungan maknanya
* Banyak berdzikir kepada Allah
* Memperbanyak ketaatan
* Mengingat kematian, menyaksikan orang yang sedang di ambang kematian atau melihat jenazah orang
* Mengkonsumsi makanan yang halal
* Menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat
* Sering mendengarkan nasehat
* Mengingat kengerian hari kiamat, sedikitnya bekal kita dan merasa takut kepada Allah
* Meneteskan air mata ketika berziarah kubur
* Mengambil pelajaran dari kejadian di dunia seperti melihat api lalu teringat akan neraka
* Berdoa
* Memaksa diri agar bisa menangis di kala sendiri

[diringkas dari al-Buka’ min Khas-yatillah, hal. 18-33 karya Ihsan bin Muhammad al-‘Utaibi]

Tidak mengamalkan ilmu, sebab hati menjadi keras
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Disebabkan tindakan (ahli kitab) membatalkan ikatan perjanjian mereka, maka Kami pun melaknat mereka, dan Kami jadikan keras hati mereka. Mereka menyelewengkan kata-kata (ayat-ayat) dari tempat (makna) yang semestinya, dan mereka juga telah melupakan sebagian besar peringatan yang diberikan kepadanya.” (QS. Al-Maa’idah : 13).

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa kerasnya hati ini termasuk hukuman paling parah yang menimpa manusia (akibat dosanya). Ayat-ayat dan peringatan tidak lagi bermanfaat baginya. Dia tidak merasa takut melakukan kejelekan, dan tidak terpacu melakukan kebaikan, sehingga petunjuk (ilmu) yang sampai kepadanya bukannya menambah baik justru semakin menambah buruk keadaannya

Mas Kawin Yang Tak Ternilai


turunnya_alquran
Bismilahir Rahmanir Rahiim

Sejarah telah berbicara tentang berbagai kisah yang bisa kita jadikan pelajaran dalam menapaki kehidupan. Sejarah pun mencatat perjalanan hidup para wanita muslimah yang teguh dan setia di atas keislamannya. Mereka adalah wanita yang kisahnya terukir di hati orang-orang beriman yang keterikatan hati mereka kepada Islam lebih kuat daripada keterikatan hatinya terhadap kenikmatan dunia. Salah satu diantara mereka adalah Rumaisha’ Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Najar Al-Anshariyah Al-Khazrajiyah. Beliau dikenal dengan nama Ummu Sulaim.

Siapakah Ummu Sulaim ?

Ummu Sulaim adalah ibunda Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal keilmuannya dalam masalah agama. Selain itu, Ummu Sulaim adalah salah seorang wanita muslimah yang dikabarkan masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau termasuk golongan pertama yang masuk Islam dari kalangan Anshar yang telah teruji keimanannya dan konsistensinya di dalam Islam. Kemarahan suaminya yang masih kafir tidak menjadikannya gentar dalam mempertahankan aqidahnya. Keteguhannya di atas kebenaran menghasilkan kepergian suaminya dari sisinya. Namun, kesendiriannya mempertahankan keimanan bersama seorang putranya justru berbuah kesabaran sehingga keduanya menjadi bahan pembicaraan orang yang takjub dan bangga dengan ketabahannya.

Dan, apakah kalian tahu wahai saudariku???

Kesabaran dan ketabahan Ummu Sulaim telah menyemikan perasaan cinta di hati Abu Thalhah yang saat itu masih kafir. Abu Thalhah memberanikan diri untuk melamar beliau dengan tawaran mahar yang tinggi. Namun, Ummu Sulaim menyatakan ketidaktertarikannya terhadap gemerlapnya pesona dunia yang ditawarkan kehadapannya. Di dalam sebuah riwayat yang sanadnya shahih dan memiliki banyak jalan, terdapat pernyataan beliau bahwa ketika itu beliau berkata, “Demi Allah, orang seperti anda tidak layak untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir, sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta selain dari itu.” (HR. An-Nasa’i VI/114, Al Ishabah VIII/243 dan Al-Hilyah II/59 dan 60). Akhirnya menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah dengan mahar yang teramat mulia, yaitu Islam.

Kisah ini menjadi pelajaran bahwa mahar sebagai pemberian yang diberikan kepada istri berupa harta atau selainnya dengan sebab pernikahan tidak selalu identik dengan uang, emas, atau segala sesuatu yang bersifat keduniaan. Namun, mahar bisa berupa apapun yang bernilai dan diridhai istri selama bukan perkara yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesuatu yang perlu kalian tahu wahai saudariku, berdasarkan hadits dari Anas yang diriwayatkan oleh Tsabit bahwa Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, “Aku belum pernah mendengar seorang wanita pun yang lebih mulia maharnya dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam.” (Sunan Nasa’i VI/114).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang kita untuk bermahal-mahal dalam mahar, diantaranya dalam sabda beliau adalah: “Di antara kebaikan wanita ialah memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya.” (HR. Ahmad) dan “Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.” (HR. Abu Dawud)

Bagi Ibu Yang Menyusui dalam Bulan Puasa


ibu puasa

Bismilahir rahmanir Rahiim

Kondisi fisik seorang wanita dalam menghadapi kehamilan dan saat-saat menyusui memang berbeda-beda. Namun, pada dasarnya, kalori yang dibutuhkan untuk memberi asupan bagi sang buah hati adalah sama, yaitu sekitar 2200-2300 kalori perhari untuk ibu hamil dan 2200-2600 kalori perhari untuk ibu menyusui. Kondisi inilah yang menimbulkan konsekuensi yang berbeda bagi para ibu dalam menghadapi saat-saat puasa di bulan Ramadhan. Ada yang merasa tidak bermasalah dengan keadaan fisik dirinya dan sang bayi sehingga dapat menjalani puasa dengan tenang. Ada pula para ibu yang memiliki kondisi fisik yang lemah yang mengkhawatirkan keadaan dirinya jika harus terus berpuasa di bulan Ramadhan begitu pula para ibu yang memiliki buah hati yang lemah kondisi fisiknya dan masih sangat tergantung asupan makanannya dari sang ibu melalui air susu sang ibu.

Kedua kondisi terakhir, memiliki konsekuuensi hukum yang berbeda bentuk pembayarannya.

1. Untuk Ibu Hamil dan Menyusui yang Mengkhawatirkan Keadaan Dirinya Saja Bila Berpuasa
Bagi ibu, untuk keadaan ini maka wajib untuk mengqadha (tanpa fidyah) di hari yang lain ketika telah sanggup berpuasa.

Keadaan ini disamakan dengan orang yang sedang sakit dan mengkhawatirkan keadaan dirinya. Sebagaimana dalam ayat,

“Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (Qs. Al Baqarah[2]:184)

Berkaitan dengan masalah ini, Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Kami tidak mengetahui ada perselisihan di antara ahli ilmu dalam masalah ini, karena keduanya seperti orang sakit yang takut akan kesehatan dirinya.” (al-Mughni: 4/394)

2. Untuk Ibu Hamil dan Menyusui yang Mengkhawatirkan Keadaan Dirinya dan Buah Hati Bila Berpuasa

Sebagaimana keadaan pertama, sang ibu dalam keadaan ini wajib mengqadha (saja) sebanyak hari-hari puasa yang ditinggalkan ketika sang ibu telah sanggup melaksanakannya.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Para sahabat kami (ulama Syafi’iyah) mengatakan, ‘Orang yang hamil dan menyusui, apabila keduanya khawatir dengan puasanya dapat membahayakan dirinya, maka dia berbuka dan mengqadha. Tidak ada fidyah karena dia seperti orang yang sakit dan semua ini tidak ada perselisihan (di antara Syafi’iyyah). Apabila orang yang hamil dan menyusui khawatir dengan puasanya akan membahayakan dirinya dan anaknya, maka sedemikian pula (hendaklah) dia berbuka dan mengqadha, tanpa ada perselisihan (di antara Syafi’iyyah).’” (al-Majmu’: 6/177, dinukil dari majalah Al Furqon)

3 .Untuk Ibu Hamil dan Menyusui yang Mengkhawatirkan Keadaan si Buah Hati saja

Dalam keadaan ini, sebenarnya sang ibu mampu untuk berpuasa. Oleh karena itulah, kekhawatiran bahwa jika sang ibu berpuasa akan membahayakan si buah hati bukan berdasarkan perkiraan yang lemah, namun telah ada dugaan kuat akan membahayakan atau telah terbukti berdasarkan percobaan bahwa puasa sang ibu akan membahayakan. Patokan lainnya bisa berdasarkan diagnosa dokter terpercaya – bahwa puasa bisa membahayakan anaknya seperti kurang akal atau sakit -. (Al Furqon, edisi 1 tahun 8)

Untuk kondisi ketiga ini, ulama berbeda pendapat tentang proses pembayaran puasa sang ibu. Berikut sedikit paparan tentang perbedaan pendapat tersebut.

Dalil ulama yang mewajibkan sang ibu untuk membayar qadha saja.

Dalil yang digunakan adalah sama sebagaimana kondisi pertama dan kedua, yakni sang wanita hamil atau menyusui ini disamakan statusnya sebagaimana orang sakit. Pendapat ini dipilih oleh Syaikh Bin Baz dan Syaikh As-Sa’di rahimahumallah

Dalil ulama yang mewajibkan sang Ibu untuk membayar fidyah saja.

Dalill yang digunakan adalah sama sebagaimana dalil para ulama yang mewajibkan qadha dan fidyah, yaitu perkataan Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, “Wanita hamil dan menyusui, jika takut terhadap anak-anaknya, maka mereka berbuka dan memberi makan seorang miskin.” ( HR. Abu Dawud)

dan perkataan Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhu ketika ditanya tentang seorang wanita hamil yang mengkhawatirkan anaknya, maka beliau berkata, “Berbuka dan gantinya memberi makan satu mud gandum setiap harinya kepada seorang miskin.” (al-Baihaqi dalam Sunan dari jalan Imam Syafi’i, sanadnya shahih)

Dan ayat Al-Qur’an yang dijadikan dalil bahwa wanita hamil dan menyusui hanyaf membayar fidyah adalah, “Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar diyah (yaitu) membayar makan satu orang miskin.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 184)

Hal ini disebabkan wanita hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan anaknya dianggap sebagai orang yang tercakup dalam ayat ini.

Pendapat ini adalah termasuk pendapat yang dipilih Syaikh Salim dan Syaikh Ali Hasan hafidzahullah.

Dalil ulama yang mewajibkan sang Ibu untuk mengqadha dengan disertai membayar fidyah

Dalil sang ibu wajib mengqadha adalah sebagaimana dalil pada kondisi pertama dan kedua, yaitu wajibnya bagi orang yang tidak berpuasa untuk mengqadha di hari lain ketika telah memiliki kemampuan. Para ulama berpendapat tetap wajibnya mengqadha puasa ini karena tidak ada dalam syari’at yang menggugurkan qadha bagi orang yang mampu mengerjakannya.

Sedangkan dalil pembayaran fidyah adalah para ibu pada kondisi ketiga ini termasuk dalam keumuman ayat berikut,

“…Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin…” (Qs. Al-Baqarah [2]:184)

Hal ini juga dikuatkan oleh perkataan Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, “Wanita hamil dan menyusui, jika takut terhadap anak-anaknya, maka mereka berbuka dan memberi makan seorang miskin.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam Irwa’ul Ghalil). Begitu pula jawaban Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhu ketika ditanya tentang wanita hamil yang khawatir terhadap anaknya, beliau menjawab, “Hendaklah berbuka dan memberi makan seorang miskin setiap hari yang ditinggalkan.”

Adapun perkataan Ibnu Abbas dan Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhuma yang hanya menyatakan untuk berbuka tanpa menyebutkan wajib mengqadha karena hal tersebut (mengqadha) sudah lazim dilakukan ketika seseorang berbuka saat Ramadhan.

Demikian pembahasan tentang qadha dan fidyah yang dapat kami bawakan. Semoga dapat menjadi landasan bagi kita untuk beramal. Adapun ketika ada perbedaan pendapat dikalangan ulama, maka ketika saudari kita menjalankan salah satu pendapat ulama tersebut dan berbeda dengan pendapat yang kita pilih, kita tidak berhak memaksakan atau menganggap saudari kita tersebut melakukan suatu kesalahan.

Semoga Allah memberikan kesabaran dan kekuatan bagi para Ibu untuk tetap melaksanakan puasa ataupun ketika membayar puasa dan membayar fidyah tersebut di hari-hari lain sambil merawat para buah hati tercinta. Wallahu a’alam.

Maraji’:
Majalah As Sunnah Edisi Khusus Tahun IX/1426H/2005M
Majalah Al Furqon Edisi 1 Tahun VII 1428/2008
Majalah Al Furqon Edisi Khusus Tahun VIII 1429/2008
Kajian Manhajus Salikin, 11 Desember 2006 bersama Ust. Aris Munandar hafidzahullah
Panduan dan Koreksi Ibadah-Ibadah di Bulan Ramadhan, Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah. Majelis Ilmu. Cet 1 2008

Gelar-Gelar Keturunan Rasulullah Saw


Menurut Sayyid Muhammad Ahmad al-Syatri dalam bukunya Sirah al-Salaf Min Bani Alawi al-Husainiyyin, para salaf kaum ‘Alawi di Hadramaut dibagi menjadi empat tahap yang masing-masing tahap mempunyai gelar tersendiri. Gelar yang diberikan oleh masyarakat Hadramaut kepada tokoh-tokoh besar Alawiyin ialah :
IMAM (dari abad III H sampai abad VII H). Tahap ini ditandai perjuangan keras Ahmad al-Muhajir dan keluarganya untuk menghadapi kaum khariji. Menjelang akhir abad 12 keturunan Ahmad al-Muhajir tinggal beberapa orang saja. Pada tahap ini tokoh-tokohnya adalah Imam Ahmad al-Muhajir, Imam Ubaidillah, Imam Alwi bin Ubaidillah, Bashri, Jadid, Imam Salim bin Bashri.
SYAIKH (dari abad VII H sampai abad XI H). Tahapan ini dimulai dengan munculnya Muhammad al-Faqih al-Muqaddam yang ditandai dengan berkembangnya tasawuf, bidang perekonomian dan mulai berkembangnya jumlah keturunan al-Muhajir. Pada masa ini terdapat beberapa tokoh besar seperti Muhammad al-Faqih al-Muqaddam sendiri. Ia lahir, dibesarkan dan wafat di Tarim. Di kota Tarim, ia belajar bahasa Arab, teologi dan fikih sampai meraih kemampuan sebagai ulama besar ahli fiqih. Ia juga secara resmi masuk ke dunia tasawuf dan mencetuskan tarekat ‘Alawi. Sejak kecil ia menuntut ilmu dari berbagai guru, menghafal alquran dan banyak hadits serta mendalami ilmu fiqih. Ketika ia masih menuntut ilmu, Syekh Abu Madyan seorang tokoh sufi dari Maghrib mengutus Syekh Abdurahman al-Muq’ad untuk menemuinya. Utusan ini meninggal di Makkah sebelum sampai di Tarim, tetapi sempat menyampaikan pesan gurunya agar Syekh Abdullah al-Saleh melaksanakan tugas itu. Atas nama Syekh Abu Madyan, Abdullah membaiat dan mengenakan khiqah berupa sepotong baju sufi kepada al-Faqih al-Muqaddam. Walaupun menjadi orang sufi, ia terus menekuni ilmu fiqih. Ia berhasil memadukan ilmu fiqih dan tasawuf serta ilmu-ilmu lain yang dikajinya. Sejak itu, tasawuf dan kehidupan sufi banyak dianut dan disenangi di Hadramaut, terutama di kalangan ‘Alawi. Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Ia memulai pendidikannya pada ayah dan kakeknya lalu meneruskan pendidikannya di Yaman dan Hijaz dan belajar pada ulama-ulama besar. Ia kemudian bermukim dan mengajar di Mekkah dan Madinah hingga digelari Imam al-Haramain dan Mujaddid abad ke 8 Hijriyah. Ketika Saudaranya Imam Ali bin Alwi meninggal dunia, tokoh-tokoh Hadramaut menyatakan bela sungkawa kepadanya sambil memintanya ke Hadramaut untuk menjadi da’i dan guru mereka. Ia memenuhi permintaan tersebut dan berhasil mencetak puluhan ulama besar.
Abdurahman al-Saqqaf bin Muhammad Maula al-Dawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Ia digelari al-Saqqaf karena kedudukannya sebagai pengayom dan Ilmu serta tasawufnya yang tinggi. Pemula famili al-Saqqaf ini adalah ulama besar yang mencetak berpuluh ulama termasuk putranya sendiri Umar Muhdhar. Ia juga sangat terkenal karena kedermawanannya. Ia mendirikan sepuluh masjid serta memberikan harta wakaf untuk pembiayaannya. Ia memiliki banyak kebun kurma.
Umar Muhdhar bin Abdurahman al-Saqqaf adalah imam dalam ilmu dan tokoh dalam tasawuf. Ia terkenal karena kedermawanannya. Ia menjamin nafkah beberapa keluarga. Rumahnya tidak pernah sepi dari tamu. Ia mendirikan tiga buah masjid. Menurut Muhammad bin Abu Bakar al-Syilli, ia telah mencapai tingkat mujtahid mutlaq dalam ilmu syariat. Ia meninggal ketika sujud dalam shalat Dzuhur.
Abdullah al-Aidrus bin Abu Bakar al-Sakran bin Abdurahman al-Saqqaf. Hingga usia 10 tahun, ia dididik ayahnya dan setelah ayahnya wafat ia dididik pamannya Umar Muhdhar hingga usia 25 tahun. Ia ulama besar dalam syariat, tasawuf dan bahasa. Ia giat dalam menyebarkan ilmu dan dakwah serta amat tekun beribadah. Ali bin Abu Bakar al-Sakran bin Abdurahman al-Saqqaf. Ia menulis sebuah wirid yang banyak dibaca orang hingga abad ke 21 ini. Ia terkenal dalam berbagai ilmu, khususnya tasawuf. Menurut Habib Abdullah al-Haddad, ia merupakan salaf ba’alawi terakhir yang harus ditaati dan diteladani.
HABIB (dari pertengahan abad XI sampai abad XIV). Tahap ini ditandai dengan mulai membanjirnya hijrah kaum ‘Alawi keluar Hadramaut. Dan di antara mereka ada yang mendirikan kerajaan atau kesultanan yang peninggalannya masih dapat disaksikan hingga kini, di antaranya kerajaan Alaydrus di Surrat (India), kesultanan al-Qadri di kepulauan Komoro dan Pontianak, al-Syahab di Siak dan Bafaqih di Filipina.
Tokoh utama ‘Alawi masa ini adalah Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad yang mempunyai daya pikir, daya ingat dan kemampuan menghafalnya yang luar biasa. Sejak kecil ia telah menghafal alquran. Ia berilmu tinggi dalam syariat, tasawuf dan bahasa arab. Banyak orang datang belajar kepadanya. Ia juga menulis beberapa buku. Pada tahap ini juga terdapat Habib Abdurahman bin Abdullah Bilfaqih, Habib Muhsin bin Alwi al-Saqqaf, Habib Husain bin syaikh Abu Bakar bin Salim, Habib Hasan bin Soleh al-Bahar, Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi.
SAYYID (mulai dari awal abad XIV ). Tahap ini ditandai kemunduran kecermelangan kaum ‘Alawi. Di antara para tokoh tahap ini ialah Imam Ali bin Muhammad al-Habsyi, Imam Ahmad bin Hasan al-Attas, Allamah Abu Bakar bin Abdurahman Syahab, Habib Muhammad bin Thahir al-Haddad, Habib Husain bin Hamid al-Muhdhar. Sejarawan Hadramaut Muhammad Bamuthrif mengatakan bahwa Alawiyin atau qabilah Ba’alawi dianggap qabilah yang terbesar jumlahnya di Hadramaut dan yang paling banyak hijrah ke Asia dan Afrika. Qabilah Alawiyin di Hadramaut dianggap orang Yaman karena mereka tidak berkumpul kecuali di Yaman dan sebelumnya tidak terkenal di luar Yaman.
Jauh sebelum itu, yaitu pada abad-abad pertama hijriah julukan Alawi digunakan oleh setiap orang yang bernasab kepada Imam Ali bin Abi Thalib, baik nasab atau keturunan dalam arti yang sesungguhnya maupun dalam arti persahabatan akrab. Kemudian sebutan itu (Alawi) hanya khusus berlaku bagi anak cucu keturunan Imam al-Hasan dan Imam al-Husein. Dalam perjalanan waktu berabad-abad akhirnya sebutan Alawi hanya berlaku bagi anak cucu keturunan Imam Alwi bin Ubaidillah. Alwi adalah anak pertama dari cucu-cucu Imam Ahmad bin Isa yang lahir di Hadramaut. Keturunan Ahmad bin Isa yang menetap di Hadramaut ini dinamakan Alawiyin diambil dari nama cucu beliau Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa yang dimakamkan di kota Sumul.

ALLAH

Kerasnya Hati


racun-hatiBismilahir rahmanir Rahiim

Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengatakan dalam kitabnya Bada’i al-Fawa’id [3/743], “Tatkala mata telah mengalami kekeringan disebabkan tidak pernah menangis karena takut kepada Allah ta’ala, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya keringnya mata itu adalah bersumber dari kerasnya hati. Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa kepada Allah agar terlindung dari hati yang tidak khusyu’, sebagaimana terdapat dalam hadits, “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari hawa nafsu yang tidak pernah merasa kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim [2722]).

Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu? Apakah keselamatan itu?”. Maka Nabi menjawab, “Tahanlah lisanmu, hendaknya rumah terasa luas untukmu, dan tangisilah kesalahan-kesalahanmu.” (HR. Tirmidzi [2406], dia mengatakan; hadits hasan. Hadits ini disahihkan al-Albani dalam Shahih at-Targhib [2741]).

Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah mengatakan [al-Bidayah wa an-Nihayah, 10/256], “Segala sesuatu memiliki ciri, sedangkan ciri orang yang dibiarkan binasa adalah tidak bisa menangis karena takut kepada Allah.”

Di antara sebab kerasnya hati adalah :

* Berlebihan dalam berbicara
* Melakukan kemaksiatan atau tidak menunaikan kewajiban
* Terlalu banyak tertawa
* Terlalu banyak makan
* Banyak berbuat dosa
* Berteman dengan orang-orang yang jelek agamanya

Agar hati yang keras menjadi lembut
Disebutkan oleh Ibnu al-Qayyim di dalam al-Wabil as-Shayyib [hal.99] bahwa suatu ketika ada seorang lelaki yang berkata kepada Hasan al-Bashri, “Wahai Abu Sa’id! Aku mengadu kepadamu tentang kerasnya hatiku.” Maka Beliau menjawab, “Lembutkanlah hatimu dengan berdzikir.”

Sebab-sebab agar hati menjadi lembut dan mudah menangis karena Allah antara lain :

* Mengenal Allah melalui nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya
* Membaca al-Qur’an dan merenungi kandungan maknanya
* Banyak berdzikir kepada Allah
* Memperbanyak ketaatan
* Mengingat kematian, menyaksikan orang yang sedang di ambang kematian atau melihat jenazah orang
* Mengkonsumsi makanan yang halal
* Menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat
* Sering mendengarkan nasehat
* Mengingat kengerian hari kiamat, sedikitnya bekal kita dan merasa takut kepada Allah
* Meneteskan air mata ketika berziarah kubur
* Mengambil pelajaran dari kejadian di dunia seperti melihat api lalu teringat akan neraka
* Berdoa
* Memaksa diri agar bisa menangis di kala sendiri

[diringkas dari al-Buka’ min Khas-yatillah, hal. 18-33 karya Ihsan bin Muhammad al-‘Utaibi]

Tidak mengamalkan ilmu, sebab hati menjadi keras
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Disebabkan tindakan (ahli kitab) membatalkan ikatan perjanjian mereka, maka Kami pun melaknat mereka, dan Kami jadikan keras hati mereka. Mereka menyelewengkan kata-kata (ayat-ayat) dari tempat (makna) yang semestinya, dan mereka juga telah melupakan sebagian besar peringatan yang diberikan kepadanya.” (QS. Al-Maa’idah : 13).

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa kerasnya hati ini termasuk hukuman paling parah yang menimpa manusia (akibat dosanya). Ayat-ayat dan peringatan tidak lagi bermanfaat baginya. Dia tidak merasa takut melakukan kejelekan, dan tidak terpacu melakukan kebaikan, sehingga petunjuk (ilmu) yang sampai kepadanya bukannya menambah baik justru semakin menambah buruk keadaannya