KH Hasan Mustafa (Garut, Jawa Barat)



Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma sholi ala sayyidina muhammadin wa ala ali sayyidina muhammadin wa ala ahli bait

Haji Hasan Mustafa (Garut, Jawa Barat, 1268 H/3 Juni 1852 M – Bandung, 1348 H/13 Januari 1930) adalah seorang ulama dan pujangga Islam yang banyak menulis masalah agama dan tasawuf dalam bentuk guritan (pusisi yang berirama dalam bahasa Sunda), pernah menjadi kepala penghulu di Aceh pada zaman Hindia Belanda.

Haji Hasan Mustafa lahir dan hidup dalam lingkungan menak (bangsawan Sunda), tetapi berorientasi pada pesantren. [Ayahnya, Mas Sastramanggala, setelah naik haji disebut Haji Usman, camat perkebunan.] Karena kekerasan hati ayahnya ia tidak dididik melalui bangku sekolah yang akan membukakan dunia menak bagi masa depannya, melainkan dimasukkan ke pesantren. Pertama-tama ia belajar mengaji dari orang tuanya, kemudian belajar qiraah (membaca al-Qur’an dengan baik) dari Kiai Hasan Basri, seorang ulama dari Kiarakoneng, Garut, dan dari seorang qari yang masih berkerabat dengan ibunya.

Ketika berusia 8 tahun, ia dibawa ayahnya menunaikan ibadah haji untuk pertama kali. Di Mekah ia bermukim selama setahun dan belajar bahasa Arab dan membaca al-Qur’an. Sepulangnya dari Mekah di masukkan ke berbagai pesantren di Garut dan Sumedang. Ia belajar dasar-dasar ilmu syaraf dan nahwu (tata bahasa Arab) kepada Rd. H Yahya, seorang pensiunan penghulu di Garut. Kemudian ia pindah ke Abdul Hasan, seorang kiai dari Sawahdadap, Sumedang. Dari Sumedang ia kembali lagi ke Garut untuk belajar kepada Kiai Muhammad Irja, murid Kiai Abdul Kahar, seorang kiai terkenal dari Surabaya dan murid dari Kiai Khalil Madura, pemimpin Pesantren Bangkalan, Madura. Pada tahun 1874, ia berangkat untuk kedua kalinya ke Mekah guna memperdalam ilmu-ilmu keagamaan Islam. Kali ini ia bermukim di Mekah selama 8 tahun. Ketika berada di Mekah ia berkenalan dengan Christiaan Snouck Hurgronje, seorang orientalis Belanda yang sedang meneliti masyarakat Islam di Mekah. Pertemuan itu membuat hubungan keduanya akrab sampai Haji Hasan Mustafa meninggal dunia dan Snouck Hurgronje kembali ke negerinya setelah menunaikan tugas pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia.

Menurut data yang diperoleh dari P.S. van Koningsveld, seorang ahli bahasa Arab dan agama Islam di Belanda, melalui naskah asli Abu Bakar Djajadiningrat, seorang ulama Indonesia, yang dianggap sebagai sumber utama Snouck Hurgronje tentang Mekah, diperoleh informasi bahwa Haji Hasan Mustafa adalah seorang ulama terkemuka dari Jawa yang berada di Mekah menjelang akhir abad ke-19. Ia dianggap setingkat dengan Haji Ahmad Banten, putra Syekh Nawawi al-Jawi (Nawawi al-Bantani). Dalam urutan nama ulama Jawa terkemuka di Mekah saat itu, Haji Hasan Mustafa ditempatkan dalam urutan keenam. Ia mengajar di Masjidil Haram dan mempunyai 30 orang murid. Haji Hasan Mustafa menulis buku dalam bahasa Arab,Fath al-Mu’in (Kunci Penolong), yang diterbitkan di Mesir.

Haji Hasan Mustafa adalah seorang ulama yang menguasai berbagai macam ilmu yang diperoleh dari guru-gurunya di Mekah. Selain kepada Syekh Nawawi al-Bantani, ia juga berguru pada Syekh Mustafa al-Afifi, Syekh Abdullah az-Zawawi, Hasballah, dan Syekh Bakar as-Satha, semuanya adalah orang Arab.

Haji Hasan Mustafa meninggalkan Mekah pada tahun 1882, karena dipanggil oleh RH. Muhammad Musa, penghulu Garut pada masa itu. Ia dipanggil pulang untuk meredakan ketegangan akibat perbedaan paham di antara para ulama di Garut. Berkat usaha Haji Hasan Mustafa dan bantuan RH. Muhammad Musa, perselisihan itu dapat diredakan. Selama 7 tahun ia memberikan pelajaran agama siang dan malam, terutama di Masjid Agung Garut.

Karena pengetahuan agamanya yang luas, Snouck Hurgronje pada tahun 1889 memintanya untuk mendampinginya dalam perjalanan keliling Jawa dan Madura. Ketika itu Snouck Hurgronje adalah penasihat pemerintah Hindia Belanda tentang masalah Bumiputra dan Arab. Ia menjadi pembantu Snouck Hurgronje selama 7 tahun. Atas usul Snouck Hurgronje, pemerintah Belanda mengangkat Haji Hasan Mustafa menjadi kepala penghulu di Aceh pada tanggal 25 Agustus 1893.

Jabatan kepala penghulu di Aceh dipegangnya selama 2 tahun (1893-1895). Kemudian pada tahun 1895 ia kembali ke Bandung dan menjadi penghulu Bandung selama 23 tahun. Akhirnya pada tahun 1918, atas permintaannya sendiri ia memperoleh pensiun.

Haji Hasan Mustafa adalah seorang ulama yang sabar, berpendirian teguh dan berani mengemukakan pendapat serta pendirian. Ia mengembangkan ajaran islam melalui tugas sebagai penghulu dan kegiatannya sebagai pengajaran agama dan tasawuf dalam pertemuan-pertemuan informal. Di antara muridnya terdapat Kiai Kurdi dari Singaparna, Tasikmalaya, yang mempunyai sebuah pesantren.

Ajaran Islam ditulis dan diajarkannya dengan menggunakan lambang-lambang yang terdapat dalam pantun serta wayang tradisional Sunda. Metafora yang dipergunakan sering bersifat khas Sunda. Penyampaian ajaran agama Islam begitu dekat dengan kebudayaan setempat (Sunda). Ia memetik 104 ayat al-Qur’an untuk orang Sunda. Jumlah itu dianggap cukup dan sesuai dengan kemampuan orang Sunda dalam memahami ajaran islam.

Aliran mengenai tasawuf yang dianut dan diajarkan kepada muridnya tidak diketahui dengan pasti. Akan tetapi beberapa orang menyebutkan bahwa ia menganut aliran Syattariah, suatu tarekat yang berasal dari India, didirikan oleh Syekh Abdullah Asy-Syattar, dikembangkan di Indonesia mula-mula oleh Syekh Abdur Rauf Singkel, dan menyebar ke Jawa Barat karena peranan Syekh Haji Abdul Muhyi, salah seorang murid Syekh Abdur Rauf Singkel. Dalam karyanya ia sering menyebut nama al-Ghazali sebagai sufi yang dikaguminya.

Haji Hasan Mustafa menyebarkan ajaran Islam melalui karya-karya seninya yang sangat berlainan dengan karya-karya seni Sunda pada masa itu. Umumnya yang dibahas adalah maslah-masalah ketuhanan (tasawuf). Bentuk formalnya mirip dengan kitab-kitab suluk dalam bahasa Jawa, tetapi isinya lebih dekat dengan tradisi puisi tasawuf. Karya-karya itu merupakan perpaduan atas tanggapan, renungan, dan pendapat Haji Hasan Mustafa terhadap bermacam-macam pengetahuan yang dikuasainya, yakni agama Islam, tasawuf, kebudayaan Sunda, dan peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Hampir semua karyanya ditulis dalam huruf pegon (tulisan menggunakan huruf Arab tetapi kata-kata dalam bahasa Jawa atau Sunda).

[Sekitar tahun 1900 ia menulis lebih dari 10.000 bait dangding yang mutunya dianggap sangat tinggi oleh para pengeritik sastra Sunda. Karya tersebut umumnya membahas masalah suluk, terutama membahas hubungan antara hamba (kaula) dengan Tuhan (Gusti). Metafora yang sering digunakannya untuk menggambarkan hubungan itu ialah seperti rebung dengan bambu, seperti pohon aren dengancaruluk (bahan aren), yang menyebabkan sebagian ulama menuduhnya pengikut mazhab wahdatul-wujud. Terhadap tuduhan itu, ia sempat membuat bantahan Injaz al-Wa’d, fi Ithfa al-Ra’d (membalas kontan sekalian membekap guntur menyambar) dalam bahasa Arab yang salah satu salinan naskahnya masih tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden.]

Karya-karyanya yang pernah dicetak dan dijual kepada umum adalah Bab Adat-Adat Urang Sunda Jeung Priangan Liana ti Éta (1913), esei tentang suku Sunda, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan Belanda (1977); Leutik Jadi Patélaan Adatna Jalma-Jalma di Pasundan (1916); Pakumpulan Atawa Susuratanana Antara Juragan Haji Hasan Mustafa Sareng Kyai Kurdi (1925); Buku Pengapungan (Hadis Mikraj, tahun 1928); dan Syekh Nurjaman (1958).

Di samping itu terdapat pula buku-bukunya yang hanya dicetak dan diedarkan di kalangan terbatas, seperti Buku Pusaka Kanaga Wara, Pamalatén, Wawarisan, danKasauran Panungtungan. Semua buku tersebut tidak diketahui tahun terbitnya.

Karya-karyanya yang dipublikasikan dalam bentuk stensilan ialah Petikan Qur’an Katut Abad Padikana (1937) dan Galaran Sasaka di Kaislaman (1937). Masih ada karya lain yang tidak dipublikasikan dan disimpan oleh M. Wangsaatmadja (sekretarisnya, 1923-1930). Pada tahun 1960 naskah tersebut diketik ulang dan diberi judul Aji Wiwitan (17 jilid). [Selain itu, Haji Hasan Mustapa menulis naskah dalam bahasa melayu Kasful Sarair fi Hakikati Aceh wa Fidir (Buku Rahasia Sebetulnya Aceh dan Fidi) yang sampai sekarang naskahnya tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden.]

Pada tahun 1977 haji Hasan Mustafa sebagai sastrawan Sunda memperoleh hadiah seni dari presiden Republik Indonesia secara anumerta.*** (Sumber: Suplemen Ensiklopedi Islam Jilid 1, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, cet-9, 2003, hal. 183-184. Tulisan di dalam kurung tegak merupakan catatan tambahan dari Ensiklopedi Sunda.)

Advertisements

Syeikh Imam Mahmoud Al Kurdy Al Khalwaty


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma soli ala sayyidina Muhammad wa ala Ali Sayyidina Muhammad

Ini kumpulan 50 hikmah Syeikh Imam Mahmoud Al Kurdy Al Khalwaty (wafat th. 1195 H.).

  1. Tempuhlah jalan kebaikan agar engkau selamat dari kesedihan dan marabahaya. dan tahapan suluk ada 3: Islam, Iman dan Ihsan.
  2. Zuhudlah!! maka engkau akan terpuji.
  3. Bermujahadahlah melawan nafsu, maka hatimu akan cerdas menangkap semua rahasia Allah.
  4. Tawakallah!!!! maka engkau akan diterima (di sisi khaliq dan makhluq).
  5. Banyaklah berdzikir kepada Allah!!! engkau akan menyaksikan cahaya ketuhanan
  6. Senantiasalah engkau lapar (tidak banyak makan) dan hindarilah banyak tidur
  7. Diam merupakan sifat orang-orang Ashfiyaa (orang-orang yang berhati bersih) sedangkan jidal (banyak bicara yang tidak ada manfaatnya) merupakan pekerjaan dan prilaku orang-orang bodoh.
  8. Uzlah (membatasi pergaulan hanya kpd orang soleh & lingkungan soleh) bagi para pemula merupakan keselamatan agamanya, Sedangkan bergaul (dengan semua lingkungan) bagi para syekh justru menambah keyakinannya.
  9. Beradab kepada semua orang (khususnya para ulama) sebenrnya beradab kepada Allah
  10. Tamak kepada makhluk berarti ragu kepada Khaliq (Allah)
  11. Hati-hati dari syirik tersembunyi, meskipun engau dalam sendiri (khalwah), karena jika niatmu tidak murni maka itu merupakan musibah dan malapetaka besar.
  12. Qana’ahlah kepada yang sedikit jika engkau berakal, apa-apa yang telah menjadi bagianmu itulah untukmu, dan yang tidak menjadi bagianmu bukanlah untukmu.
  13. Hindarilah mengaku-aku walaupun engkau benar, merupakan suatu etika (adab) menjauhi sifat mengakui suatu maqam (kedudukan akhlak) sebelum dan sesudah mencapainya.
  14. Engkau harus tampakkan kelemahan (dihadapan Allah) jika engkau benar, kerna rahasia apapun tidak ada yang trsembunyi sedang cahaya hak tidak akan padam.
  15. Jujurlah dalam masa pencarian dan jangan kamu terpengaruh oleh perkataan orang, kerna tida ada seorangpun yang selamat dari cacian orang sehingga tuan dari segala tuan yaitu Nabi Muhammad Saw
  16. Bersiap-siaplah dirimu untuk dihisab (oleh Allah) hingga dalam nafas-nafsmu, terlebih lagi makanan, pakaian, pernikah dan harta.
  17. Janganlah engkau samakan dirimu dengan tokoh-tokoh yang sempurna akhlaknya (syuyukh) dan para waliyullah.
  18. Jauhkanlah cinta populeritas dan kemasyhuran, brapa banyak orang-orang terkemuka diuji dengan dua hal itu.
  19. Janganlah engkau terhijab dengan khumul (menyembunyikan kemuliyaan diri) untuk mencapai Allah (wusul), serahkan dirimu kepada Pencipta furu’ dan ushul (cabangd an dasar agama), dan janganlah engkau dipalingkan oleh maqamaat (akhlak mulia) untuk wusul.
  20. Kepasrahan (terhdp segala yg berlaku atasmu kepada Allah) adalah merupakan tingkatan (akhlak-spiritual) yang paling tinggi.
  21. Ketahuilah !!!! masih banyak lagi tokoh-tokoh pilihan yang sempurna akhlak-spritualnya.
  22. Ketika engkau telah sampai (mencapai maqam ruhiyah yang luhur) maka janganlah bermalasan, janganlah lalai dari tipu daya makar nafsumu, dan jangan lupa apa yg telah berlaku dahulu kepada bapakmu Adam AS.
  23. Janganlah engkau terpedaya (gurur) dengan amal-amal taat, kerna amal itu yang penting diterima (yaitu dengan adanya ikhlas), dan janganlah engkau meninggalkan mujahadah (melawan nafsu) walaupun engkau telah menjadi ahlul wusul (orang yang telah beriman dan ma’rifah tinggi).
  24. Ibadah siserta istiqamah itu lebih utama daripada seribu kasyaf dan keramat
  25. Rasa aman dari marah Allah merupakan sebuah kerugian, dan putus asa kepada rahmat Allah merupakan kekufuran.
  26. Orang yang bahagia adalah orang yang beramal disertai takut tidak diterima, sedangkan orang yang menderita adalah orang yang melakukan maksiat dan berkata: Aku pasti diterima…..
  27. Ktika engaku melihat pelaku keburukan menjadi terhormat ketahuilah hal itu adalah sebuah tipu daya (Allah) dan istidraj (tipuan Allah untuk menjatuhkan secara berangsur), sebaliknya, dan ketika engkau melihat ia ditinggalkan (dihinakan) karena keburukannya maka ketahuilah bahwa dia tengah dicintai dan mahkotai (cahaya kebenaran).
  28. Pelanggaran kepada zahir syariat adalah zindiq, sedang bersepakat dengan orang-orang sesat adalah mencelakakan.
  29. Menyombongkan kepada orang yang sombong adalah suatu sedekah
  30. Bergaul dengan orang-orang kaya akan mewariskan ketamakan, Bergaul kepada orang-orang faqir mewariskan sifat qana’ah, dan ziyarah kubur mewariskan hati yang tunduk (khusyu’)
  31. Bergaul kepada Ulama akan menambahkan ilmu pengetahuan, Bergaul dengan orang-orang bodoh akan mengurangi amal baik. Juga janganlah engkau bergaul dengan ahdas (orang-orang yang rendah iman, moral dan ma’rifatnya meskipun tua usianya) dan jangan berkecenderungan bergaul wanita (lawan jenis) bagi penuntut wusul kecuali jika setelah sempurna (akhlaknya).
  32. Engkau harus mampu menanggung segala musibah derita, bersabar atas kepapaan, dan membuang segala kerendahan dari sifatmu seperti hasud, dengki serta dendam.
  33. Pemaaf itu terpuji, pemarah itu tidak disukai dan tergesa-gesa itu sifat orang-orang sengsara jiwa.
  34. Hati-hatilah engkau bersifat uzub dan takabbur, jauhilah sifat dusta dan congkak.
  35. Janganlah engkau bergaul dengan orang yang berbeda dengan jalanmu walaupun ia seorang yang mulia, namun bergaulah dengan orang yang sesuai tujuannya dengan tujuanmu, pilihlah baik-baik teman ukhuwah untuk dirimu dan tinggalkanlah para pengkhianat ukhuwah dengan cara yang baik.
  36. Kurangilah banyak bepergian walaupun dengan menggerakkan pikiran dan khayal kerana hal itu akan menghambat seorang salik (pemula) dari wusul (ma’rifatullah), Namun apabila engkau telah wusul (ahli nihayah) maka (sebaliknya) jangan tinggalkan bepergian.
  37. Janganlah alam/malhluk itu menghijabmu (menghalangi hatimu) dari (mengenal) Penciptanya (Allah).
  38. Bersihkan Tuhanmu (Allah) dari segala (sifat-sifat) yang baharu dan tempat.
  39. Dzikir (lisan) yang disertai hudur (hadirnya hati bersama Allah) dan berfikir (kepada sifat-sifat Allah) akan mengesankan musyahadah kepada zat Allah.
  40. Setia atau memenuhi janji adalah amanah
  41. Dermawan adalah merupakan kondisi jiwa orang-orang yang maqbul (disukai Allah), sedang pelit/kedekut merupakan perbuatan orang-orang yang dibenci Allah.
  42. Syeikh Mahmoud Al Kurdy ra berkata: Janganlah engkau terpedaya dengan pujian orang kepadamu, karena engkaulah yang lebih tahu kepada dirimu sendiri.
  43. Ridha (menyerah) kepada nafsu adalah ciri kebodohan
  44. Ilmu itu lebih utama daripada amal.
  45. Keutamaan itu untuk orang Alim (berilmu) meskipun sedikit amalnya daripada seorang Abid (ahli ibadah) meskipun banyak amalnya dan panjang umurnya
  46. Ilmu itu ada dua macam: Ilmu (yang diperoleh dari) tulisan dan ilmu (yang diperoleh dari) dzauq (kesehatan&kebersihan ruh).
  47. Upaya membersihkan diri dari kotoran moral itu dengan menyerahkan diri (tarbiyah) kepada para syekh (murobbi), dan kegembiraan yang diperoleh ruh karena dapat membersihkan jasad (mampu beramal dampak dari kebersihan ruh).
  48. Perjalan (tarbiyah ruhiyah) tanpa petunjuk (murobbi) akan lama dan panjang.
  49. Syekh adalah orang meningkatkanmu (dekat kepadaNYA) dengan sirnya, membimbing (menuju jalan hak), menyiapkan (untuk menerima rahasiaNYA) dan mebersihkan (dari mencintai selainNYA) hatimu, serta menjernihkannya dari selainNYA.
  50. Seorang murid adalah orang yang menyembelih nafsunya (dengan pedang mujahadah).

Washilah


Bismillahir Rahmanir Rahiim

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (Nuurun ‘Alaa-Nuur), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memper-buat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. An-Nur: 35)

Dalam bab ini, kita akan mencoba menguraikan masalah washilah yang merupakan salah satu bagian terpenting dalam agama Islam, agar supaya mendapat gambaran yang sejelas-jelasnya mengenai Ilmu Tasawwuf, khususnya mengenai Ilmu Thariqat dan Sufi. Para ulama memahami washilah  ini berbeda-beda pendapat namun intinya mereka bersepakat bahwa washilah adalah sesuatu yang dibenarkan dan dianjurkan dalam Islam, sebagaimana ditegaskan oleh Allah di   dalam Al-Qur’an Surah Al-Maidah : 35:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (washilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

Pengertian Washilah

1. Washilah menurut bahasa ialah “Sesuatu yang dapat mendekatkan kepada yang lain.”

2. Di dalam kamus dinyatakan : Al-wasilah dan Al-Waasilah.

“Almanzilatu indal maliki” yang berarti “Satu kedudukan di sisi raja”.

Dan diartikan juga dengan “ad-darjatu” (derajat) dan “al-qurbatu” (dekat) “Wa wassala ilalahi tausila (Dia mengerjakan sesuatu amal yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah)”

3. Dalam “Al-Mishbah”, dinyatakan :

“Wassaltu Ilallahi bil’amal (Saya mendekatkan diri kepada Allah dengan amal).”

“Taqarroba ilaihi bi’amalin (Dia mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal).”

4. Didalam tafsir Ibnu Katsir Jilid 2 dijelaskan :

“Wasilah ialah sesuatu yang menyampaikan kepada maksud.”

Dan “nama sebuah tempat kediaman Rasulullah SAW dalam surga, paling dekat dengan ‘Arasy”.

5. Dalam kamus “Al-Munjid” disebutkan washilah berarti sesuatu yang didekatkan kepada yang lain.

Mengenai pengertian kata “washilah” yang tersebut di atas, menurut Muhammad Nasib Ar-Rifa’i dalam kitabnya “At-tawashshul ila haqiqatit-tawashshul” sependapat (ijmak) ahli-ahli bahasa menyatakan demikian.

Adapun tawashshul menurut hukum Islam ialah pendekatan diri kepada Allah, dengan mentaati dan beribadat kepada-Nya, mengikuti Nabi-Nabi dan Rasul-Nya, dengan semua amal yang dikasihi dan diridhoi-Nya.

Ibnu Abbas ra, menegaskan : “Al-washilah hiyal qurbah (Wasilah ialah pendekatan).”

Qatadah menafsirkan Al-Qurbah itu : “Dekatkan diri kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengerjakan apa saja yang disukai-Nya.”

Demikianlah setiap yang diperintahkan Syara’, baik yang wajib maupun yang sunnat adalah tawassul atau washilah menurut Syara’.

Adapun washilah terbagi dua :

1. Washilah yang disyariatkan (masyru’).

2. Washilah yang dilarang (mamnu’).

Adapun washilah yang disyariatkan ialah setiap washilah yang diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasul-Nya, sehingga  dapat mendorong kita untuk melaksanakannya. Dan washilah seperti itu dijelaslah  “sesuatu pendekatan kepada Allah dengan taat dan mengerjakan amal-amal saleh yang disukai dan diridhoi-Nya.”

Washilah yang disyariatkan itu terbagi pula menjadi 3 (tiga) diantaranya :

  1. Washilah seorang Mu’min kepada Allah dengan zat-Nya, Nama-nama-Nya dan Sifat-sifat-Nya yang tinggi.
  2. Washilah seorang Mu’min kepada Allah, dengan amal-amal shalehnya.
  3. Washilah seorang Mu’min kepada Allah dengan do’a saudaranya yang Mu’min.

Dasar Hukum Washilah

Adapun dasar hukum washilah itu antara lain firman Allah SWT dalam al-Qur’an surah al-Maidah 35 :

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”

Dari ayat ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Ayat ini hanya ditujukan kepada orang-orang yang beriman. Jadi ayat ini bukan ditujukan untuk orang-orang yang setengah beriman (ragu-ragu terhadap adanya Tuhan), orang-orang yang musyrik dan orang-orang kafir, sebab mereka ini akan menjadikan jalan (washilah) itu sebagai Tuhan mereka.

2. Untuk mencapai kebahagiaan harus melalui syarat-syarat sebagai berikut :

a.  Dengan selalu bertaqwa kepada Allah SWT dalam segala aspek kehidupan.

b.  Hendaknya mencari jalan (washilah) untuk menuju kepada-Nya.

c.  Berjuang pada jalan-Nya itu.

d.  Jika hal tersebut di atas dijalankan maka akan mendapat keberuntungan atau kemenangan.

Pendapat-pendapat ahli tafsir tentang maksud “washilah” dalam ayat tersebut adalah sebagai berikut :

1. Tafsir Al-Khazin jilid 2 menyatakan :

“Carilah (tuntutlah) “pendekatan” kepada-Nya, dengan mematuhi dan mengamalkan sesuatu yang diridhoi-Nya.”

2. Tafsir Ibnu Katsir jilid 2 menyatakan :

“Kata Soufyan Ats-Tsauri dari Tholhah, ‘Atho’ dan dari Ibnu Abbas, maksud “washilah” itu adalah “pendekatan”.

Pendapat itu diperkuat oleh Mujahid, Abu Wail, Al-Hasan, Qatadah, Abdullah bin Katsir dan Ibnu Zaid, dan lain-lain.

3. Tafsir “Fi Zhilalil Qur’an”, jilid 6 menyatakan :

“Menurut satu riwayat dari Ibnu Abbas, ibtaghu ilaihil washilah berarti “ibtaghu ilahil hajah”, artinya “carilah hajat kepada-Nya.

Al-washilah dalam ayat itu bermakna “al-hajat”.

4. Ar-Roghib dalam “Qamus Qur’annya “Mufrodatul Qur’an” menyatakan :

“Hakikat washilah kepada Allah itu ialah memelihara jalan-Nya dengan ilmu dan ibadah.”

“Si Pulan berwashilah kepada Allah, artinya apabila dia melakukan amal perbuatan yang mendekatkan diri kepada-Nya.”

5. Tafsir “Al-Futuhatul Ilahiyah” jilid 1 menyatakan :

“Sesuatu yang mendekatkan kamu kepada-Nya, dengan mentaati-Nya.”

Imam Syeikh Syarbaini Al-Khatib dalam Tafsirnya “Sirojul Munir”, Imam Zamakhsari dalam tafsirnya “Al-Kasysyaf”, Qadhi Al-Baid-dhowi dalam tafsirnya “Anwarut Tanzil” Fakhrur Razi dalam tafsirnya “Al-Kabir” pada umumnya menyatakan bahwa maksud ayat itu adalah “carilah jalan supaya kamu dapat taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah.”

Jika kita perhatikan pendapat ahli-ahli tafsir itu, dengan seksama, maka maksud ayat 35 surat Al-Maidah itu adalah Allah menyuruh kita mencari jalan (washilah) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dengan mentaati semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Washilah dalam ayat itu mengandung pengertian umum. Kalangan ahli thariqat berpendapat salah satu jalan pendekatan diri kepada Allah itu adalah dengan perantaraan rabhithah (pertalian ruhani dengan Mursyid yang selanjutnya sampai ke ruhani Rasulullah SAW dan akhirnya sampai kepada Allah), karena menurut mereka rabithahlah washilah yang sebaik-baiknya, sebab yang dijadikan rabithah itu Nabi SAW, Syeikh-syeikh atau orang yang menempati kedudukan yang tinggi.

Namun demikian bukanlah kalangan thariqat mengartikan washilah dalam ayat itu adalah rabithah, sebab arti demikian bertentangan dengan penafsiran kitab-kitab Tafsir yang mu’tabar. Cuma dari sekian banyak jalan pendekatan, menurut mereka yang paling baik adalah melalui rabithah.

1. Firman Allah Q.S. Al-A’raf 180 :

“Hanya milik Allah asma’ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa’ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

Ayat itu mengandung perintah supaya kita berdo’a kepada Allah dengan washilah nama-nama-Nya yang Agung atau Ismul A’dham. Dengan berwashilah kepada nama-nama-Nya yang Agung tersebut diharapkan permohonan kita cepat diperkenankan atau dikabulkan oleh Allah SWT.

Abu Yusuf berpendapat tidak wajar seseorang berdo’a kepada Allah tanpa berwashilah kepada nama-nama-Nya yang Agung, dan dengan do’a-do’a yang dibenarkan dan diperintahkan.

Jelaslah bahwa ayat itu menganjurkan supaya kita berdo’a kepada-Nya dengan nama-Nya, Sifat-sifat-Nya dan Zat-Nya.

2. Firman Allah Q.S. Ibrahim 38 – 40 :

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.  Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do`a.  Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do`aku.”

Ayat itu menerangkan satu di antara beberapa contah washilah Nabi Ibrahim as ketika bermohon kepada Allah. Ia memulai do’anya dengan menyebut ketinggian ilmu Allah yang mengetahui segala sesuatu di langit dan di bumi. Allah terpuji pada zat, sifat dan perbuatan-Nya. Allah mendengar do’a hamba-Nya di mana pun mereka berada dan dengan bahasa apa pun mereka pergunakan dan dengan maksud apa pun yang mereka tuju. Dan dia perkenankan do’a itu jika Dia kehendaki.

Nabi Ibrahim as di depan do’anya berwasilah dengan Ilmu Allah, anugerah-Nya, puji-pujianNya dan pendengaran-Nya. Kemudian baru berdo’a meminta supaya ia dan anak cucunya menjadi penegak shalat, meminta ampuni dosanya dan dosa ibu bapanya dan dosa-dosa orang mu’min nanti pada hari kiamat. Ayat itu menjadi dalil kepada kita supaya berwashilah dalam berdo’a.

3. Hadits Abu Daud dan Turmudzi dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya :

“Bahwa Rasulullah SAW, mendengar seorang laki-laki berdoa : “Ya Allah, saya mohon kepada-Mu dengan mengakui bahwa Engkau adalah Allah, tiada Tuhan melainkan Engkau, Tuhan Yang Maha Esa, yang bergabung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tiada  seorangpun yang setara dengan dia.”

Maka beliau bersabda : “Sesungguhnya ananda telah bermohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan namanya yang Agung (Ismul A’dham).”

4. Hadis Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Turmudzi dari Anas bin Malik.

“Bahwa Anas pada suatu hari duduk bersama Rasulullah SAW. Seorang laki-laki sedang shalat dan kemudian berdoa : “Ya Allah saya mohon kepada-Mu, dengan segala jenis puji bagi-Mu, tiada Tuhan melainkan Engkau, Tuhan yang menganugerahi, pencipta langit dan bumi, Wahai Tuhan yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan, Wahai Yang Hidup dan Maha Berdiri Sendiri.”

Maka beliau pun bersabda : “Sesungguhnya dia telah berdoa dengan nama Allah yang mulia, yang apabila berdoa dengan nama yang mulia itu, niscaya diperkenankan, dan apabila meminta dengannya, niscaya akan diberi.”

Dua hadis itu menerangkan bahwa dua orang sahabat telah berdo’a berwashilah kepada nama-nama-Nya yang mulia, dan diakui oleh Nabi SAW, bila berdo’a dengan nama-nama itu niscaya diperkenankan.

5. Hadis riwayat Ahmad, Ibnu Khuzaimah dalam sahihnya, Abu Nu’aim dalam “Amalul Yaumi Wal Lailah”, Al-Baihaqi dalam kitabnya “Ad-Da’awat”, At-Thabrani dalam “Kitabud Du’a”, Ibnu As-Sunni dan Ibnu Majah, menyatakan bahwa Nabi SAW berwashilah dan mengajari kita supaya berwashilah. Beliau berwashilah kepada orang yang meminta-minta, ketika berjalan menuju masjid.

Lafadz do’a Nabi SAW itu menurut Musthafa Abu Saif Al-Hamami seorang tokoh Ulama Al-Azhar dalam kitabnya “Ghautsul ‘Ibad” adalah :

“Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu dengan kebenaran orang-orang yang bermohon kepada-Mu, dan saya bermohon kepada-Mu dengan kebenaran perjalananku ini kepada-Mu, . . . “ dan seterusnya.

6. Hadis Turmudzi dan An-Nasai, Al-Baihaqi dan At-Thabrani, menurut “Ghautsul ‘Ibad” menyatakan :

“Seorang laki-laki yang buta telah mendatangi Nabi SAW, seraya berkata : “Do’akanlah kepada Allah, supaya disembuhkan-Nya butaku ini.”

Laki-laki itu berkata pula : “Do’akanlah!”

Maka beliau menyuruhnya supaya mengambil wudhu dengan sempurna (baik) dan berdo’a kepada Allah dengan mengucapkan : “Ya Allah, sesungguhnya saya mohon kepada-Mu dan menghadapkan diriku kepada-Mu dengan (perantara) Nabi Muhammad SAW yang beroleh rahmat. Ya Muhammad, sesungguhnya saya menghadapkanmu kepada Tuhanku dalam hajatku ini, supaya diperkenankan-Nya. Ya Allah maka syafaatkanlah ia pada hajatku ini.”

Selesai berdo’a sesuai dengan yang diperintahkan Nabi SAW, maka ia pun menjadi sehat dan dapat melihat kembali sebagaimana semula.

Menurut Imam Syaukani dalam kitabnya “Tuhfauz Dzakirin”, hadits yang sama maksudnya dengan itu dikeluarkan oleh Turmudzi (hasan-sahih-gharib), An-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim. Menurut Al-Hakim hadits itu sahih atas dasar syarat Bukhari dan Muslim, dari Utsman bin Hanif.

7. Hadits sahih tentang Umar bin Khatab dan sahabat-sahabat berdo’a kepada Allah ketika shalat istisqa’ (minta hujan), dengan berwashilah kepada paman Nabi SAW, Abbas.

Menurut hadits Bukhari dalam Sahih-nya dari Anas :

“Sesungguhnya Umar bin Khatab, apabila mereka (para sahabat) ditimpa kemarau, ia meminta turunkan hujan dengan washilah Abbas bin Abdul Muthalib, seraya mengucapkan : “Ya Allah, kami telah berwashilah kepada-Mu dengan Nabi kami SAW, lantas Engkau turunkan hujan kepada kami. Dan sesungguhnya sekarang ini kami berwashilah kepada-Mu dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami.”

Kata Anas : “Maka hujan pun turun, menyirami mereka.”

Tiada seorang sahabat pun yang membantah perbuatan Umar itu.

Menurut Ibnu Hajar dalam “Fat-hul Bari”, sesudah Umar berwashilah kepada Abbas, maka Abbas pun berdo’a :

“Ya Allah sesungguhnya bala (ujian) tidak turun melainkan karena dosa, dan ia tidak tersingkap, melainkan karena tobat. Sesungguhnya orang banyak telah menghadapkan aku dengan-Mu, karena kedudukanku di samping Nabi-Mu. Inilah tangan-tangan tertadah kepada-Mu, disebabkan dosa-dosa, kami saling nasehat menasehati supaya tobat kepada-Mu, maka turunkanlah hujan kepada kami.” Maka hujan pun turun seperti gunung (lebat).”

Abbas berwashilah kepada Allah dengan mengakui kesalahan, kemudian tobat daripadanya. Ini termasuk amal saleh.

Abbas berdo’a, orang banyak mengaminkan, dan sebelum meletakkan tangan (selesai do’a), hujan pun turun laksana gunung lari dari langit.

8. Hadis Bukhari dan Muslim, muttafaq ‘alaihi dari Ibnu Umar tentang tiga orang yang terkurung dalam sebuah goa, disebabkan pintunya tertutup oleh sebuah batu besar yang jatuh dari atas sebuah gunung. Ketiganya berdo’a kepada Allah dengan washilah amal saleh masing-masing. Akhirnya batu penghalang itu pun bergeser, dan mereka pun keluar dengan selamat.

Hadits-hadits tersebut menunjukkan berwashilah yang sesuai dengan ajaran syari’at, tidak dilarang dan bahkan sebaliknya, dianjurkan.

9. Abu Yusuf Musthafa Al-Hamami, seorang tokoh Ulama Al-Azhar, Kairo, dalam kitabnya “Ghautsul ‘Ibad”, menerangkan bahwa tentang dibenarkannya berwashilah itu, tidak perlu diragukan, karena diamalkan orang dari Timur ke Barat. Sebab menurut beliau, imam madzhab yang empat membenarkannya, tanpa ikhtilaf. Dan kita tidak dapat keluar dari salah satu pendapat yang empat itu. Seandainya, terdapat kemudharatan, tentu Imam yang empat tidak ijmak dalam masalah ini.

Jika ada yang mengatakan bahwa berwashilah itu, membuat perantara di antaranya dengan Allah, dan hal itu tidak boleh, memudharatkan, maka kami mengatakan, siapa yang mengatakan bahwa washilah seperti itu, memudharatkan ? Bagaimana mungkin memudharatkan, sedangkan Allah memerintahkan kepada kita supaya berwashilah, baik di dunia maupun di akhirat.

Di akhirat nanti, orang berebut-rebut mendatangi Nabi masing-masing, meminta pertolongan dan menjadikannya washilah diantaranya dengan Tuhan-nya.

Adapun di dunia ini, Allah menjadikan para Nabi dan Rasul menjadi perantara (washilah) antara-Nya dengan hamba-Nya yang fakir dan miskin, untuk menyampaikan sebagian rezki-Nya kepada mereka. Allah menjadikan para dokter, perantara diantara-Nya dengan penderita sakit, untuk disembuhkan. Allah menjadikan makanan, perantara di antara-Nya dengan hewan-hewan, untuk dapat hidup, untuk memperoleh kenyang dan menolak kelaparan. Allah jadikan air, perantara diantara-Nya dengan hamba-Nya, untuk memuaskan dahaga. Allah menjadikan pakaian, perantara diantara-Nya dengan hamba-Nya, untuk menutupi tubuh, dijadikan-Nya perkawinan untuk mendapat anak, dijadikan-Nya kapal-kapal untuk alat angkutan di lautan.

Sekiranya tidak dijadikannya air, tentu kita akan mati kehausan, kalau tidak diadakannya pakaian, tentu kita akan mati kepanasan dan kedinginan. Kalau tidak ada tidur tentu kita akan mati kelelahan, kalau tidak karena adanya anak-anak maka manusia tidak akan berkembang. Kalau sekiranya tidak diadakan-Nya kapal-kapal, niscaya kita akan mati tenggelam. Kalau tidak karena usaha dan ikhtiar, tentu kita tidak memperoleh rezki. Demikianlah seterusnya, semua yang ada ini dibina atas dasar perantara-perantara.

Bukan Allah tidak bisa menjadikan anak tanpa kawin, bukan Allah tidak bisa membikin orang sakit menjadi sehat tanpa obat, bukan Allah tidak bisa membuat orang kenyang tanpa makan, semuanya bisa, karena Allah itu Maha Kuasa atas segala-galanya. Tetapi Allah tidak melakukannya secara langsung. Dia buat washilah atau perantaranya.

Bahkan orang mati di akhirat tidak akan masuk surga atau neraka, melainkan dengan washilah amalnya.

Firman Allah Q.S. Al-A’raf 8 dan 9 :

“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.”

Jika kalangan yang melarang washilah, berkata “kenapa orang tidak meminta langsung saja kepada Allah, tanpa washilah”, maka itu masalah lain. Bukan itu yang menjadi pembicaraan.

Allah menjadikan beberapa sebab untuk menyampaikan hajat hamba-Nya, dan memerintahkan supaya penyebab itu dilaksanakan. Maka berdo’a kepada Allah untuk sesuatu hajat, adalah satu faktor penyebab. Dan berwashilah kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh dalam memohon hajat itu, adalah menjadi faktor penyebab kedua.

Maka orang yang bermohon kepada Allah tentang sesuatu hajat, dengan washilah, berarti ia telah mengerjakan dua faktor penyebab, sedangkan orang yang bermohon kepada Allah secara langsung tidak berwashilah, berarti ia hanya mengerjakan satu faktor penyebab. Tentu saja orang yang mengajukan permohonan-Nya dengan dua faktor penyebab lebih utama dari orang yang bermohon dengan hanya melaksanakan satu faktor penyebab.

Oleh sebab itu, berwashilah lebih baik daripada tidak berwhasilah, sebagaimana dilakukan juga oleh Nabi SAW dan sahabat-sahabatnya.

Wabillahi Taufik Walhidayh Walinyah Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabaraakatuh wamaghfirah