Hijib Salamah


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma sholi ala Sayidina Muhammadin sholatan tuwasi’u biha alainal Arzaqo wa tuhasinu bhalanal akhlaqo wa ala alihi washobihi wasalim

Salamah mengandung pengertian selamat. Maka siapa saja yang mau mengamalkan hizib Salamah ini secara rutin setelah selesai shalat Maghrib dan shalat Subuh maka Insya Allah, Allah akan menjaganya dari berbagai macam bala dan bencana baik yang datang dari golongan jin, syaitan maupun manusia. Karena dirinya dijaga selalu oleh Allah. Agar pembaca tidak penasaran berikut ini kami cantumkan amalan hizib Salamah, berikut arti, kegunaan dan juga lakunya :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِِ الرَّحِيمْ تَحَصَّنْتُ بِذِى اْلعِزَّتِىْ َوْالمُلْكِ وَالْمَلَكُوْتِ وَاعْتَصَمْتُ بِذِى اْلقُدْرَةِ وَاْلقَهَّارِ وَاْلجَبَرُوْتِ وَتَوَكَّلْتُ عَلَى اْلحَيِّ اْلقَيُّوْمِ الَّذِىْ لاَ يَنَامُ وَلاَ يَمُوْتُ دَخَلْتُ ِفىْ حِرْنِ اللهِ َودَخَلْتُ فِىْ حِفْظِ اللهِ وَدَخَلْتُ فِىْ َامَانِ اللهِ نَصْرٌ مِنَ اللهِ وَفَـتْحٌ قَرِيْبٌ وَبَشِّـرِ اْلمُؤْمِنِيْنَ بِحَقِّ كهيعص كُفِيْتُ َوبِحَقِّ حمعسـق حُمِيْتُ وَبِلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ اْلعَلِىِّ الْعَظِيمْ، نُصِرْتُ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ َوعَلَى َالِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ.

BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM.

TAHOSH-SHONTU BIDZIL ‘IZZATI WAL MULKI WAL MALAKUUTI WA’TASHOMTU BIDZIL QUDROTI WAL QOHHAARI WAL JABARUUTI WA’TAWAKKALTU ‘ALAL HAYYIL QOYYUUMIL LADZI LAAYANAAMU WALAA YAMUUTU DAKHOLTU FII HIRNILLAAHI WADAKHOLTU FII HIFDHILLAAHI WADAKHOLTU FII’ AMAANILLAAHI NASHRUN MINALLAAHI WA FATHUN QORIIBUN WABASY-SYIRIL MU’MINIINA BIHAQQI KAAF HAA YAA ‘AIN SHOOD KUFIITU WABI HAQQI HAA MIM ‘AIN SIIN QOOF HUMIITU WABI LAAHAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘ADZIIM NUSHIRTU LAA ILAAHA ILLALLAAH MUHAMMAD RASULULLOHI WA SHOLLALLAHU ‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN WA ‘ALAA ALIHI WASHOHBIHII WASSALAM.

Artinya :
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku peliharakan diri dengan kemuliaan raja diatas raja. Dan aku jagakan diri dengan kekuasaan dan keperkasaan-Nya. Dan aku serahkan diri kepada Dzat yang Maha Hidup dan yang berdiri yaitu yang tidak tidur dan tidak mati. Aku masuk dalam penjagaan Allah. Dan aku masuk dalam pengawasan Allah. Dan aku masuk dalam kedamaian Allah. Pertolongan Allah itu akan terbuka dengan dekat kepada manusia yang mu’min. Dengan haqnya Kaaf Haa Yaa Aiin Shood cukupkan aku. Dengan haknya Haa Min Ain Syin Qoof jagakan aku. Dan tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah. Tolonglah aku. Tidak ada Tuhan selain Allah Muhammad Rasululloh. Semoga melimpahkan sholawat dan salam kepada pimpinan kami Muhammad dan kepada keluarganya dan kepada sahabatnya.

Caramengamalkannya :
– Di puasai puasa biasa selama 3 hari dan sebelumnya mandi keramas terlebih dahulu pada hari pertama puasa.

– Selama puasa pada tengah malam Shalat ADAB, dilanjutkan Hadiah kepada :

اِلىَ حَضَرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَاَزْوَاجِهِ وَاَوْلاَدِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ شَيْئٌ ِللهِ لَهُمْ اَلْفَاِتحَةْ…….

– ILAA HADROTIN NABIYYIL MUSHTHOFAA MUHAMMAD SHOLALLAAHU ‘ALAIHI WASSALAM WA ‘ALA AALIHI, WA ASH-HABIHI, WA AZWAAJIHI, WA AULADIHI, WA DURRIYYATIHI SYAIUN LILLAAHI LAHUMUL FATIHAH…….

ثُمَّ اِلَى حَضَرَةِ اْلأَرْوَاحِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالْمَلاَئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالْعُلَمَاءِ اْلعَالِمِيْنَ خُصُوْصًا اِلَى حَضَرَةِ مَنْ اَجَازَنِىْ اِلَى ُمْنَتهَى شَيْئٌ ِللهِ لَهُمْ اَلْفَاتِحَةْ…….

– TSUMMA ILAA HADROTIN SULTANUL AULIYA SYAIKH ABDUL QODIR JAELANI QodasSallahu Sirrohul Aziz FATIHAH………
dan membaca amalannya sebanyak yang Anda mampu.
– Selama puasa setelah selesai shalat lima waktu amalannya dibaca sebanyak 7 x. Dan setelah selesai puasanya setelah selesai shalat Maghrib dan shalat Subuh amalannya cukup dibaca 1 x saja secara istiqomah

 

 

Advertisements

Sayid Idrus AlHabsyi sebelum menetap di Banjarmasin


 

Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma soli ala Sayyidina Muhammadin Wa’ala ali Sayyidina Muhammadin Wa’ala Ahli Bait

  1. Sayyid Idrus AlHabsyi sebelum menetap di Banjarmasin sempat tinggal di Sambas, Kalbar. Di Sambas, Sayid Idrus menikah dengan kerabat kesultanan Sambas yang bernama Noor. Dari perkawinan mereka lahir Sayid Hasan, yang kelak menggantikan sang ayah menjadi Kapten Arab di Banjarmasin. Sayid Idrus meninggal dunia di Banjarmasin tahun 1296 H (1876 M) dan bermakam di Turbah Sungai Jingah. Idrus di dipercaya sebagai Al-Habsyi pertama yang bermakam di alkah khusus sayid dan syarifah itu. Sayid Hasan bersahabat dekat dengan Surgi Mufti H. Jamaludin bin Syekh Muhamad Arsyad Al-Banjari.

    Ketika Sayid Hasan mendahului berpulang ke rahmatullah, Mufti H. Jamaludin (1793-1928) menangis luar biasa. Saudara perempuan Hasan yakni Syarifah Mahani kelak juga menikah dengan lelaki Al-Habsyi bernama Sayid Muhammad bin Agil. Sayid Muhammad disebut-sebut sebagai guru tarikat yang mempunyai murid Panglima Batur (pejuang perang Banjar yang dihukum gantung oleh Belanda tahun 1905). Keluarga Sayid Muhammad pernah menyembunyikan keberadaan Ratu Zaleha ketika pejuang wanita cucu Pangeran Antasari ini diburu-buru oleh Belanda. Sayid Hasan bin Idrus Al-Habsyi mempunyai 2 putra dan 3 putri, masing-masing: Sayid Husin, Sayid Abubakar, Syarifah Sehah, Syarifah Aisyah, Syarifah Noor .

    Sayid Husin menikah dengan wanita Banjar bernama Intan dan mempunyai 4 anak perempuan yakni Syarifah Sidah, Syarifah Salmah, Syarifah Mastora dan Syarifah Maryam. Sedang Abubakar, anak Sayid Hasan dengan perempuan di Alalak (?) menurunkan anak cucu Al-Habsyi di Alalak Berangas. Syarifah Fatima anak Sayid Muhammad bin Agil Al-Habsyi kemudian dinikah oleh Sayid Hasan bin Saleh Assegaf, pendatang asal Hadramaut. Sayid Hasan Assegaf adalah pedagang besar yang berniaga sampai Afrika, India, Singapura dan Surabaya. Sebagai pedagang ia mencatat aktivitas jual belinya menggunakan sistem administrasi dan akuntansi berbahasa Arab.

    Sayid Hasan-lah yang mengajak Kapten Arab Sayid Alwi anak Abdullah bin Alwi Al-Habsyi ke Banjar. Syarifah Fatimah adalah nenek dari Ali bin Muhammad Assegaf (ketua Rabitah Alawiyyin Kalsel) dan (alm) Umar bin Muhammad Assegaf (mantan Ketua PHRI dan Ketua Apindo Kalsel). Syarifah Muzenah anak Sayid Muhammad lainnya menikah dengan Sayid Abdullah bin Abdul Kadir Al-Habsyi. Lazim terjadi, tiap pendatang orang Arab akan melaporkan diri dan identitasnya dicatat oleh kepala orang Arab (Kapten Arab).

    Kedatangan Ahmad, Zen dan saudara mereka Salim dan Umar ke Banjarmasin kemungkinan juga karena adanya kontak kekeluargaan sebagai sesama Al-Habsyi. Ayah Ahmad dan Zen, Sayid Muhammad bin Alwi Al-Habsyi yang berdiam di Hadramaut suatu ketika kemudian datang mengunjungi putra-putranya di Banjarmasin. Sayid Muhammad bin Alwi karena sakit dan sudah tua akhirnya meninggal dunia dan dimakamkan di Turbah Sungai Jingah Banjarmasin.

    Sayid Muhammad bin Alwi Al-Habsyi mempunyai 7 putra. Husin, putra sulung, pernah singgah ke Banjar tapi kemudian balik lagi ke Hadramaut. Abdillah putra kedua memilih hijrah ke Aceh dan bermukim di sana hingga akhir hayatnya.. Putra Muhammad lainnya Ahmad berdiam di Pal 1 (Jl. A. Yani Km 1), Zen dari Banjarmasin kemudian memilih bertempat tinggal di Martapura,, Ali berdiam di Lawang (daerah perbatasan Malang-Pasuruan), Salim (tinggal di sekitar Pasar Rambai, kampung Telawang Banjarmasin dan kemudian tinggal di Basirih), serta si bungsu Umar di Pal 1. Sayid Muhammad bin Alwi Al-Habsyi mempunyai tiga saudara yakni Abdullah, Syekh dan Hasan. Abdullah tetap tinggal di Hadramaut, sedang Syekh (?) dan Hasan juga memilih hijrah ke Banjarmasin. Ahmad anak Muhammad kemudian menikah dengan sepupunya Syarifah Fetum anak Syekh Zen menikah dengan perempuan dari keluarga Assegaf dan menetap di Martapura. Salim menikah dengan Syarifah Mariam anak Habib Hamid bin Abas Bahasyim (Habib Wali di Basirih Banjarmasin). Umar menikah dengan Syarifah Mariam anak Sayid Husin bin Hasan Al-Habsyi. Kapten Arab Sayid Alwi anak Abdullah menikah dengan sepupunya Syarifah Raguan anak Syekh. Hasan, saudara Sayid Muhammad yang tinggal di Martapura, mempunyai putra bernama Ali. Ali punya putra Hamid. Keluarga inilah yang menurunkan Al-Habsyi di Kota Intan Martapura.

    Kawin dengan Pegustian

    Keluarga Al-Habsyi selain menikah dengan keluarga dekat sesama keturunan pendatang asal Hadramaut juga ada yang membentuk keluarga dengan wanita Banjar berdarah bangsawan. Muhammad Al-Habsyi, misalnya, menikahi perempuan Banjar bernama Hajjah Gusti Hadijah binti Gusti Musa. Dari garis ibu, ibu Gusti Hadijah yang bernama Gusti Maryam adalah buyut dari raja Banjar Sultan Sulaiman (w 1825).

    Anak-anak mereka yang berdarah bangsawan banjar itu kemudian menikah dengan keluarga Al-Habsyi. Syarifah Buhayah dinikah oleh Ali bin Hasyim Al-Habsyi, Syarifah Noor dinikah oleh Achmad bin Muhammad Assadiq Al-Habsyi. Syarifah Lawiyah anak Ali dan Syarifah Buhayah menikah dengan Sayid Saleh bin Husin anak Sayid Muhammad bin Alwi Al-Habsyi. Sayid Saleh adalah pendatang kelahiran Hadramaut.

    Sebelum ke Banjar, Sayid Saleh pernah tinggal di Garut (Jabar) dan berkeluarga di sana. Dari perkawinan itu lahir Sayid Ahmad yang kemudian bersama ayahnya menetap di Banjarmasin. Sayid Ahmad bin Saleh Al-Habsyi menikah dengan Syarifah Hadijah dan mempunyai 8 anak. Syarifah Salmah (Wanamah) anak Ali dan Syarifah Buhayah lainnya menikah dengan Sayid Hasyim bin Abdul Kadir Al-Habsyi, pada tahun 1942.

    Dari perkawinan ini lahir Syarifah Aminah dan Sayid Ahmad (pemimpin pengajian di Ratu Zaleha Banjarmasin). Sayid Hasyim bin Abdul Kadir Al-Habsyi membuka Maulid Habsyi pertama di rumah Habib Ahmad bin Sultan Assegaf (menantu Habib Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi) di Pal 1. Sayid Hamzah anak Ali dan Syarifah Buhayah yang lain, menikah dengan anak Kapten Arab Alwi bin Abdullah Al-Habsyi.

    Sayid Hamzah dikenal sebagai manusia serba bisa dan otodidak. Selain aktif bermain gambus, pandai melukis, juga pandai mengajar (menjadi guru). Sayid Hamzah pada tahun 50-an dikenal sebagai penceramah yang kerap tampil di RRI Banjarmasin dan memimpin sebuah Majelis Ta’lim Golkar. Selain menikah dengan anak Kapten Arab, Sayid Hamzah punya istri di Bali.

    Rumpun keluarga Al-Habsyi yang lain adalah Abdullah bin Husin Al-Habsyi. Abdullah datang ke Banjarmasin melewati Palembang. Tak hanya dikenal sebagai ulama besar, Abdullah merupakan seorang pedagang ekspor impor yang punya hubungan luas dengan aktivitas dagang di manca negara. Abdullah diketahui punya dua putra yakni Hasan (kelahiran Palembang) dan Husin (kelahiran Banjarmasin). Husin, putra Abdullah dari hasil perkawinannya dengan perempuan Banjar bernama Mariam, tercatat pernah melakukan 99 kali perkawinan. Anak keturunannya berjumlah 32-35 orang tersebar di pelbagai kota di Kalsel hingga Samarinda, Kaltim.

    Salah satu istrinya adalah perempuan Kandangan bernama Antung Syahrul. Anak mereka Ahmad yang kelahiran Simpang Lima Kandangan dipanggil masyarakat dengan sebutan Antung (gelar keturunan bangsawan Banjar). Selain Husin, Abdullah juga mempunyai 4 anak perempuan, salah satunya bernama Syarifah Noor yang menikah dengan Sayid Muhammad (Al-Habsyi), pendatang asal dari Geidun, Hadramaut. Sayid Muhammad merupakan seorang hafiz (hafal Qur’an). Tiap kali akan bersalaman dengan orang lain ia terlebih dulu bertanya, “Sudah berwudlu belum?”

    Dari perkawinan Syarifah Noor dengan Sayid Muhammad lahir Syarifah Fatmah yang kemudian menikah dengan sepupunya Antung Ahmad (Kandangan) bin Husin. Dari perkawinan tersebut kemudian lahir Sayid Alwi Al-Habsyi. Tiga saudara perempuan Syarifah Noor juga menikah dengan lelaki kelahiran Hadramaut yakni Sayid Abdullah, Sayid Isa dan Sayid Abdurrahman. Empat orang sayid asal Hadramaut yang menikah dengan 4 putri Sayid Abdullah bin Husin Al-Habsyi ini meninggal dunia tahun 1940-an dan juga bermakam di Turbah Sungai Jingah.

    Selain rumpun keluarga tersebut di atas, masih ada nama Muhamamad bin Abdillah Al-Habsyi. Ia merupakan Kapten Arab pengganti Alwi bin Abdullah Al-Habsyi. Muhammad terkenal sebagai saudagar kaya raya yang mempunyai istri hingga 40 orang. Perjalanannya dari Hadramaut kemudian ke pelbagai kota di Jawa lalu bermukim di Banjar hingga akhir hayatnya.

    Ia mempunyai istri di Semarang Surabaya dan Banjar. Muhammad mempunyai saudara bernama Abdul Kadir. Ia pun sebagaimana saudaranya kelahiran Hadramaut. Orintasi hidup Abdul Kadir ini terbilang langka. Ia jauh dari dari gemerlap kegidupan duniawi. “Sidin ini wali, kada tahu diduit,” ujar Syarifah Noor, cucunya.

    Muhammad mempunyai dua putra yakni Idrus dan Alwi. Yang terakhir ini pernah mendapat sorotan majalah karena kemampuanya mengusir setan (hantu). Ali anak Idrus menikah dengan sepupunya Syarifah Noor anak Alwi. Dari perkawinan mereka lahir antara lain Abdillah (pemilik Toko Kitab Adinda di Jalan P. Antasari) dan Syarifah Ni’mah.

    Wabillahi Taufik Walhidayah wassallamualaikum waraahmatullahi wabaraakatuh

Riwayat Hidup Al-Hasan dan Al-Husain


Bismillahir Rahmanir Rahiim


Beliau dilahirkan pada bulan Ramadhan tahun ke-3 Hijriyah menurut kebanyakan para
ulama sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar. (lihat Fathul Bari juz VII, hal. 464)
Setelah ayah beliau Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu terbunuh, sebagian kaum
muslimin membai’at beliau, tetapi bukan karena wasiat dari Ali. Berkata Syaikh
Muhibbudin al-Khatib bahwa diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya juz
ke-1 hal. 130 -setelah disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib akan terbunuh- mereka
berkata kepadanya: “Tentukanlah penggantimu bagi kami.” Maka beliau menjawab:
“Tidak, tetapi aku tinggalkan kalian pada apa yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam….”
Dan disebutkan oleh beliau (Muhibuddin Al-Khatib) beberapa hadits dalam masalah ini.
(Lihat Ta’liq kitab Al-‘Awashim Minal Qawashim, Ibnul Arabi, hal. 198-199). Tetapi
setelah itu Al-Hasan menyerahkan ketaatannya kepada Mu’awiyah untuk mencegah
pertumpahan darah di kalangan kaum muslimin.
Kisah tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab As-Shulh dari Imam AlHasan Al-Bashri, dia berkata: -Demi Allah- Al-Hasan bin Ali telah menghadap
Mu’awiyah beserta beberapa kelompok pasukan berkuda ibarat gunung, maka
berkatalah ‘Amr bin ‘Ash: “Sungguh aku berpendapat bahwa pasukan-pasukan tersebut
tidak akan berpaling melainkan setelah membunuh pasukan yang sebanding
dengannya”. Berkata kepadanya Mu’awiyah -dan dia demi Allah yang terbaik di antara
dua orang-: “Wahai ‘Amr! Jika mereka saling membunuh, maka siapa yang akan
memegang urusan manusia? Siapa yang akan menjaga wanita-wanita mereka? Dan
siapa yang akan menguasai tanah mereka?”
Maka ia mengutus kepadanya (Al-Hasan) dua orang utusan dari Quraisy dari Bani
‘Abdi Syams Abdullah bin Samurah dan Abdullah bin Amirbin Kuraiz, ia berkata:
“Pergilah kalian berdua kepada orang tersebut! Bujuklah dan ucapkan kepadanya serta
mintalah kepadanya (perdamaian -peny.)” Maka keduanya mendatanginya, berbicara
dengannya dan memohon padanya…) kemudian di akhir hadits Al-Hasan bin Ali
meriwayatkan dari Abi Bakrah bahwa dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam di atas mimbar dan Hasan bin Ali di sampingnya beliau sesaat menghadap
kepada manusia dan sesaat melihat kepadanya seraya berkata:
إِ نﱠ اﺑْﻨِﻰ هَﺬَا ﺳَﻴﱢﺪٌ، وَ ﻟَ ﻌَ ﻞﱠ ا ﷲَ أَ نْ
ﻳُ ﺼْ ﻠِ ﺢَ ﺑِ ﻪِ ﺑَ ﻴْ ﻦَ ﻓِ ﺌَ ﺘَ ﻴْ ﻦِ ﻋَ ﻈِ ﻴْ ﻤَ ﺘَ ﻴْ ﻦِ ﻣِ ﻦَ
ا ﻟْ ﻤُ ﺴْ ﻠِ ﻤِ ﻴْ ﻦَ. (رواﻩ اﻟﺒﺨﺎرى ﻣﻊ اﻟﻔﺘﺢ
۷/٦٤۷ رﻗﻢ
٢۷٠٤)
Sesungguhnya anakku ini adalah sayyid, semoga Allah akan mendamaikan dengannya
antara dua kelompok besar dari kalangan kaum muslimin. (HR. Bukhari dengan Fathul
Bari, juz V, hal. 647, hadits no. 2704) 4
Berkata Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah: “….Al-Husein menyalahkan saudaranya AlHasan atas pendapat ini, tetapi beliau tidak mau menerimanya. Dan kebenaran ada pada
Al-Hasan sebagaimana dalil yang akan datang….” (lihat AlBidayah wan Nihayah, juz
VIII hal. 17). Yang dimaksud oleh beliau adalah dalil yang sudah kita sebutkan di atas
yang diriwayatkan dari Abi Bakrah radhiyallahu ‘anhu.
Itulah keutamaan Al-Hasan yang paling besar yang dipuji oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Maka bersatulah kaum muslimin hingga tahun tersebut terkenal
dengan tahun jama’ah.
Yang mengherankan justru kaum Syi’ah Rafidlah menyesali kejadian ini dan
menjuluki Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu sebagai ‘pencoreng wajah- wajah kaum
mukminin’. Sebagian mereka menganggapnya fasik sedangkan sebagian lagi bahkan
mengkafirkannya karena hal itu. Berkata Syaikh Muhibbudin Al-Khatib mengomentari
ucapan Rafidlah ini sebagai berikut: “Padahal termasuk dari dasar-dasar keimanan
Rafidlah -bahkan dasar keimanan yang paling utama- adalah keyakinan mereka bahwa
Al-Hasan, ayah, saudara dan sembilan keturunannya adalah maksum. Dan dari
konsekwensi kemaksuman mereka, bahwa mereka tidak akan berbuat kesalahan. Dan
setiap apa yang bersumber dari mereka berarti hak yang tidak akan terbatalkan.
Sedangkan apa yang bersumber dari Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma yang paling
besar adalah pembai’atan terhadap amiril mukminin Mu’awiyah, maka mestinya mereka
pun masuk dalam bai’at ini dan beriman bahwa ini adalah hak karena ini adalah amalan
seorang yang maksum menurut mereka. (Lihat catatan kaki kitab Al- Awashim minal
Qawashim hal. 197-198). Tetapi kenyataannya mereka menyelisihi imam mereka
sendiri yang maksum bahkan menyalahkannya, menfasikkannya, atau mengkafirkannya.
Sehingga terdapat dua kemungkinan:
Pertama, mereka berdusta atas ucapan mereka tentang kemaksuman dua belas imam,
maka hancurlah agama mereka (agama Itsna ‘Asyariyyah).
Kedua, mereka meyakini kemaksuman Al-Hasan, maka mereka adalah para pengkhianat
yang menyelisihi imam yang maksum dengan permusuhan dan kesombongan serta
kekufuran. Dan tidak ada kemungkinan yang ketiga.
Adapun Ahlus Sunnah yang beriman dengan kenabian “kakek Al-Hasan” shallallahu
‘alaihi wa sallam berpendapat bahwa perdamaian dan bai’at beliau kepada Mu’awiyah
radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu bukti kenabian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan amal terbesar Al-Hasan serta mereka bergembira dengannya kemudian
menganggap AlHasan yang memutihkan wajah kaum mukminin.
Demikianlah khilafah Mu’awiyah berlangsung dengan persatuan kaum muslimin karena
Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebab pengorbanan Al-Hasan bin Ali radhiyallahu
‘anhu yang besar yang dia -demi Allah-lebih berhak terhadap khilafah daripada
Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Bakar Ibnul Arabi
dan para ulama. Semoga Allah meridlai seluruh para shahabat Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. 5
Pada tahun ke 10 masa khilafah Mu’awiyah meninggallah Al-Hasan radhiyallahu `anhu
pada umur 47 tahun. Dan ini yang dianggap shahih oleh Ibnu Katsir, sedangkan yang
masyhur adalah 49 tahun. Wallahu A’lam bish-Shawab. Ketika beliau diperiksa oleh
dokter, maka dia mengatakan bahwa Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu meninggal karena
racun yang memutuskan ususnya. Namun tidak diketahui dalam sejarah siapa yang
membunuhnya.
Adapun ucapan Rafidlah yang menuduh pihak Mu’awiyah sebagai pembunuhnya sama
sekali tidak dapat diterima sebagaimana dikatakan oleh Ibnul ‘Arabi dengan ucapannya:
“Kami mengatakan bahwa hal ini tidak mungkin karena dua hal: pertama, bahwa dia
(Mu’awiyah) sama sekali tidak mengkhawatirkan kejelekan apapun dari Al-Hasan
karena beliau telahmenyerahkan urusannya kepada Mu’awiyah. Yang kedua, hal ini
adalah perkara ghaib yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, maka
bagaimana mungkin menuduhkannya kepada salah seorang makhluk-Nya tanpa bukti
pada zaman yang berjauhan yang kita tidak dapat mudah percaya dengan nukilan
seorang penukil dari kalangan pengikut hawa nafsu (Syi’ ah). Dalam keadaan fitnah dan
Ashabiyyah, setiap orang akan menuduh lawannya dengan tuduhan yang tidak
semestinya, makatidak mungkin diterima kecuali dari seorang yang bersih dan tidak
didengar darinya kecuali keadilan.” (Lihat Al-washim minal Qawashim hal. 213-214)
Demikian pula dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bahwa tuduhan Syi’ah
tersebut tidak benar dan tidak didatangkan dengan bukti syar’i serta tidak pula ada
persaksian yang dapat diterima dan tidak ada pula penukilan yang tegas tentangnya.
(Lihat Minhajus
Sunnah juz 2 hal. 225)
Semoga Allah merahmati Al-Hasan bin Ali dan meridlainya dan melipatgandakan
pahala amal dan jasa-jasanya. Dan semoga Allah menerimanya sebagai syahid. Amiin.
Riwayat Hidup Al-Husein dan Peristiwa Pembunuhannya
Beliau dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun ke-empat Hijriyah. Diriwayatkan bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mentahnik (yakni mengunyahkan kurma
kemudian dimasukkan ke mulut bayi dengan digosokkan ke langit-langitnya -pent.),
mendoakan dan menamakannya Al-Husein. Demikianlah dikatakan oleh Ibnu Katsir
dalam Al-Bidayah wan Nihayah, juz VIII, hal. 152.
Berkata Ibnul Arabi dalam kitabnya Al-Awashim minal Qawashim: “Disebutkan oleh
ahli tarikh bahwa surat-surat berdatangan dari ahli kufah kepada Al-Husein (setelah
meninggalnya Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu). Kemudian Al-Husein mengirim Muslim
Ibnu Aqil, anak pamannya kepada mereka untuk membai’at mereka dan melihat
bagaimana keikutsertaan mereka. Maka Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu memberitahu
beliau (Al-Husein) bahwa mereka dahulu pernah mengkhianati bapak dan saudaranya.
Sedangkan Ibnu Zubair mengisyaratkan kepadanya agar dia berangkat, maka
berangkatlah Al- Husein. Sebelum sampai beliau di Kufah ternyata Muslim Ibnu Aqil
telah terbunuh dan diserahkan kepadanya oleh orang-orang yang memanggilnya. 6
“Cukup bagimu ini sebagai peringatan bagi yang mau mengambil peringatan”
(kelihatannya yang dimaksud adalah ucapan Ibnu Abbas kepada Al-Husein -pent.).
Tetapi beliau radhiyallahu ‘anhu tetap melanjutkan perjalanannya dengan marah karena
dien dalam rangka menegakkan al-haq. Bahkan beliau tidak mendengarkan nasehat
orang yang paling alim pada jamannya yaitu ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dan
menyalahi pendapat syaikh para shahabat yaitu Ibnu Umar. Beliau mengharapkan
permulaan pada akhir (hidup -pent.), mengharapkan kelurusan dalam kebengkokan dan
mengharapkan keelokan pemuda dalam rapuh ketuaan.
Tidak ada yang sepertinya di sekitarnya, tidak pula memiliki pembela-pembela yang
memelihara haknya atau yang bersedia mengorbankan dirinya untuk membelanya.
Akhirnya kita ingin mensucikan bumi dari khamr Yazid, tetapi kita tumpahkan darah
Al-Husein, maka datang
kepada kita musibah yang menghilangkan kebahagiaan jaman. (lihat Al-Awashim minal
Qawashim oleh Abu Bakar Ibnul ‘Arabi dengan tahqiq dan ta’liq Syaikh Muhibbuddin
Al-Khatib, hal. 229-232)
Yang dimaksud oleh beliau dengan ucapannya ‘Kita ingin mensucikan bumi dari khamr
Yazid, tetapi kita tumpahkan darah Al-Husein’ adalah bahwa niat Al-Husein dengan
sebagian kaum muslimin untuk mensucikan bumi dari khamr Yazid yang hal ini masih
merupakan tuduhan-tuduhan dan tanpa bukti, tetapi hasilnya justru kita menodai bumi
dengan darah Al-Husein yang suci. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhibbudin AlKhatib dalam ta’liq-nya terhadap buku Al-Awashim Minal Qawashim.
Ketika Al-Husein ditahan oleh tentara Yazid, Samardi Al-Jausyan mendorong Abdullah
bin Ziyad untuk membunuhnya. Sedangkan Al-Husein meminta untuk dihadapkan
kepada Yazid atau dibawa ke front untuk berjihad melawan orang-orang kafir atau
kembali ke Mekah. Namun mereka tetap membunuh Al-Husein dengan dhalim sehingga
beliau meninggal dengan syahid radhiyallahu ‘anhu. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Al-Husein terbunuh di Karbala di dekat Eufrat
dan jasadnya dikubur di tempat terbunuhnya, sedangkan kepalanya dikirim ke hadapan
Ubaidillah bin Ziyad di Kufah. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam
Shahihnya dan dari
para imam yang lain.
Adapun tentang dibawanya kepala beliau kepada Yazid telah diriwayatkan dalam
beberapa jalan yang munqathi’ (terputus) dan tidak benar sedikitpun tentangnya.
Bahkan dalam riwayat-riwayat tampak sesuatu yang menunjukkan kedustaan dan
pengada-adaan riwayat tersebut.
Disebutkan padanya bahwa Yazid menusuk gigi taringnya dengan besi dan bahwasanya
sebagian para shahabat yang hadir seperti Anas bin Malik, Abi Barzah dan lain-lain
mengingkarinya. Hal ini adalah pengkaburan, karena sesungguhnya yang menusuk
dengan besi adalah ‘Ubaidilah bin Ziyad. Demikian pula dalam kitab-kitab shahih dan
musnad, bahwasanya mereka menempatkan Yazid di tempat ‘Ubaidilah bin Ziyad.
Adapun ‘Ubaidillah, tidak diragukan lagi bahwa dialah yang memerintahkan untuk 7
membunuhnya (Husein) dan memerintahkan untuk membawa kepalanya ke hadapan
dirinya. Dan akhirnya Ibnu Ziyad pun dibunuh karena itu.
Dan lebih jelas lagi bahwasanya para shahabat yang tersebut tadi seperti Anas dan Abi
Barzah tidak berada di Syam, melainkan berada di Iraq ketika itu. Sesungguhnya para
pendusta adalah orang-orang jahil (bodoh), tidak mengerti apa-apa yang menunjukkan
kedustaan mereka.” (Majmu’ Fatawa, juz IV, hal. 507-508)
Adapun yang dirajihkan oleh para ulama tentang kepala Al-Husein bin Ali radhiyallahu
‘anhuma adalah sebagaimana yang disebutkan oleh az- Zubair bin Bukar dalam kitabnya
Ansab Quraisy dan beliau adalah seorang yang paling ‘alim dan paling tsiqah dalam
masalah ini (tentang keturunan Quraisy). Dia menyebutkan bahwa kepala Al-Husein
dibawa ke Madinah An-Nabawiyah dan dikuburkan di sana. Hal ini yang paling cocok,
karena di sana ada kuburan saudaranya Al-Hasan, paman ayahnya Al-Abbas dan anak
Ali dan yang seperti mereka. (Dalam sumber yang sama, juz IV, hal. 509)
Demikianlah Al-Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma terbunuh pada hari Jum’at, pada
hari ‘Asyura, yaitu pada bulan Muharram tahun 61 H dalam usia 54 tahun 6 bulan.
Semoga Allah merahmati Al-Husein dan mengampuni seluruh dosadosanya serta
menerimanya sebagai syahid.
Dan semoga Allah membalas para pembunuhnya dan mengadzab mereka dengan adzab
yang pedih. Amin.
Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Yazid bin Mu’awiyyah
Untuk membahas masalah ini kita nukilkan saja di sini ucapan Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah secara lengkap dari Fatawa-nya sebagai berikut:
Belum terjadi sebelumnya manusia membicarakan masalah Yazid bin Muawiyyah dan
tidak pula membicarakannya termasuk masalah Dien. Hingga terjadilah setelah itu
beberapa perkara, sehingga manusia melaknat terhadap Yazid bin Muawiyyah, bahkan
bisa jadi mereka menginginkan dengan itu laknat kepada yang lainnya. Sedangkan
kebanyakan Ahlus Sunnah tidak suka melaknat orang tertentu. Kemudian suatu kaum
dari golongan yang ikut mendengar yang demikian meyakini bahwa Yazid termasuk
orang-orang shalih yang besar dan Imam-imam yang mendapat petunjuk.
Maka golongan yang melampaui batas terhadap Yazid menjadi dua sisi yang
berlawanan:
Sisi pertama, mereka yang mengucapkan bahwa dia kafir zindiq dan bahwasanya dia
telah membunuh salah seorang anak perempuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
membunuh shahabat-shahabat Anshar, dan anak-anak mereka pada kejadian Al-Hurrah
(pembebasan Madinah) untuk menebus dendam keluarganya yang dibunuh dalam
keadaan kafir seperti kakek ibunya ‘Utbah bin Rab’iah, pamannya Al-Walid dan selain
keduanya. Dan mereka menyebutkan pula bahwa dia terkenal dengan peminum khamr
dan menampakkan maksiat-maksiatnya. 8
Pada sisi lain, ada yang meyakini bahwa dia (Yazid) adalah imam yang adil,
mendapatkan petunjuk dan memberi petunjuk. Dan dia dari kalangan shahabat atau
pembesar shahabat serta salah seorang dari wali-wali Allah. Bahkan sebagian dari
mereka meyakini bahwa dia dari kalangan para nabi. Mereka mengucapkan bahwa
barangsiapa tidak berpendapat terhadap Yazid maka Allah akan menghentikan dia
dalam neraka Jahannam. Mereka meriwayatkan dari Syaikh Hasan bin ‘Adi bahwa dia
adalah wali yang seperti ini dan seperti itu.
Barangsiapa yang berhenti (tidak mau mengatakan demikian), maka dia berhenti dalam
neraka karena ucapan mereka yang demikian terhadap Yazid. Setelahzaman Syaikh
Hasan bertambahlah perkara-perkara batil dalam bentuk syair atau prosa. Mereka
ghuluw kepada Syaikh Hasan dan Yazid dengan perkara-perkara yang menyelisihi apa
yang ada di atasnya Syaikh ‘Adi yang agung -semoga Allah mensucikan ruhnya-. Karena
jalan beliau sebelumnya adalah baik, belum terdapat bid’ah-bid’ah yang seperti itu,
kemudian mereka mendapatkan bencana dari pihak Rafidlah yang memusuhi mereka
dan kemudian membunuh Syaikh Hasan bin ‘Adi sehingga terjadilah fitnah yang tidak
disukai Allah dan Rasul-Nya.
Dua sisi ekstrim terhadap Yazid tersebut menyelishi apa yang disepakati oleh para
ulama dan Ahlul Iman. Karena sesungguhnya Yazid bin Muawiyyah dilahirkan pada
masa khalifah Utsman bin ‘Affan radliallahu ‘anhu dan tidak pernah bertemu Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam serta tidak pula termasuk shahabat dengan kesepakatan para
ulama. Dia tidak pula terkenal dalam masalah Dien dan keshalihan.
Dia termasuk kalangan pemuda-pemuda muslim bukan kafir dan bukan pula zindiq. Dia
memegang kekuasaan setelah ayahnya dengan tidak disukai oleh sebagian kaum
muslimin dan diridlai oleh sebagian yang lain. Dia memiliki keberanian dan
kedermawanan dan tidak pernah menampakkan kemaksiatan-kemaksiatan sebagaimana
dikisahkan oleh musuh-musuhnya.
Namun pada masa pemerintahannya telah terjadi perkara-perkara besar yaitu:
1. Terbunuhnya Al-Husein radhiyallahu ‘anhu sedangkan Yazid tidak memerintahkan
untuk membunuhnya dan tidak pula menampakkan kegembiraan dengan pembunuhan
Husein serta tidak memukul gigi taringnya dengan besi. Dia juga tidak membawa
kepala Husein ke Syam. Dia memerintahkan untuk melarang Husein dengan
melepaskannya dari urusan walaupun dengan memeranginya. Tetapi para utusannya
melebihi dari apa yang diperintahkannya tatkala Samardi Al-Jausyan mendorong
‘Ubaidillah bin Ziyad untuk membunuhnya.Ibnu Ziyad pun menyakitinya dan ketika AlHusein radhiyallahu ‘anhu meminta agar dia dibawa menghadap Yazid, atau diajak ke
front untuk berjihad (memerangi orang-orang kafir bersama tentara Yazid -pent), atau
kembali ke Mekkah, mereka menolaknya dan tetap menawannya.
Atas perintah Umar bin Sa’d, maka mereka membunuh beliau dan sekelompok Ahlul
Bait radhiyallahu ‘anhum dengan dhalim. Terbunuhnya beliau radhiyallahu ‘anhu
termasuk musibah besar, karena sesungguhnyaterbunuhnya Al-Husein -dan ‘Utsman
bin ‘Affan sebelumnya- adalah penyebab fitnah terbesar pada umat ini. Demikian juga
pembunuh keduanya adalah makhluk yang paling jelek di sisi Allah. Ketika keluarga 9
beliau radhiyallahu ‘anhu mendatangi Yazid bin Mua’wiyah, Yazid memuliakan mereka
dan mengantarkan mereka ke Madinah.
Diriwayatkan bahwa Yazid melaknat Ibnu Ziyad atas pembunuhan Husein dan berkata:
“Aku sebenarnya meridlai ketaatan penduduk Irak tanpa pembunuhan Husein.” Tetapi
dia tidak menampakkan pengingkaran terhadap pembunuhnya, tidak membela serta
tidak pula membalasnya, padahal itu adalah wajib bagi dia. Maka akhirnya Ahlul Haq
mencelanya karena meninggalkan kewajibannya, ditambah lagi dengan perkara-perkara
yang lain. Sedangkan musuh-musuh mereka menambahkan kedustaan-kedustaan
atasnya.
2. Ahlil Madinah membatalkan bai’atnya kepada Yazid dan mereka mengeluarkan
utusan-utusan dan penduduknya. Yazid pun mengirimkan tentara kepada mereka,
memerintahkan mereka untuk taat dan jika mereka tidak mentaatinya setelah tiga hari
mereka akan memasuki Madinah dengan pedang dan menghalalkan darah mereka.
Setelah tiga hari, tentara Yazid memasuki Madinah an-Nabawiyah, membunuh mereka,
merampas harta mereka, bahkan menodai kehormatan-kehormatan wanita yang suci,
kemudian mengirimkan tentaranya ke Mekkah yang mulia dan mengepungnya. Yazid
meninggal dunia pada saat pasukannya dalam keadaan mengepung Mekkah dan hal ini
merupakan permusuhan dan kedzaliman yang dikerjakan atas perintahnya.
Oleh karena itu, keyakinan Ahlus Sunnah dan para imam-imam umat ini adalah mereka
tidak melaknat dan tidak mencintainya. Shalih bin Ahmad bin Hanbal berkata: Aku
katakan kepada ayahku: “Sesungguhnya suatu kaum mengatakan bahwa mereka cinta
kepada Yazid.” Maka beliau rahimahullah menjawab: “Wahai anakku, apakah akan
mencintai Yazid seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir?” Aku bertanya:
“Wahai ayahku, mengapa engkau tidak melaknatnya?” Beliau menjawab: “Wahai
anakku, kapan engkau melihat ayahmu melaknat seseorang?” Diriwayatkan pula bahwa
ditanyakan kepadanya: “Apakah engkau menulis hadits dari Yazid bin Mu’awiyyah?”
Dia berkata: “Tidak, dan tidak ada kemulyaan, bukankah dia yang telah melakukan
terhadap ahlul Madinah apa yang dia lakukan?”
Yazid menurut ulama dan Imam-imam kaum muslimin adalah raja dari raja-raja (Islam
-pent). Mereka tidak mencintainya seperti mencintai orang-orang shalih dan wali-wali
Allah dan tidak pula melaknatnya. Karena sesungguhnya mereka tidak suka melaknat
seorang muslim secara khusus (ta ‘yin), berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh
Bukhari dalam Shahih-nya dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu: Bahwa
seseorang yang dipanggil dengan Hammar sering minum khamr. Acap kali dia
didatangkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dicambuknya. Maka
berkatalah seseorang: “Semoga Allah melaknatnya. Betapa sering dia didatangkan
kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Jangan engkau melaknatnya, sesungguhnya dia mencintai Allah dan RasulNya. ” (HR. Bukhari)
Walaupun demikian di kalangan Ahlus Sunnah juga ada yang membolehkan laknat
terhadapnya karena mereka meyakini bahwa Yazid telah melakukan kedhaliman yang
menyebabkan laknat bagi pelakunya. 10
Kelompok yang lain berpendapat untuk mencintainya karena dia seorang muslim yang
memegang pemerintahan di zaman para shahabat dan dibai’at oleh mereka. Serta
mereka berkata: “Tidak benar apa yang dinukil tentangnya padahal dia memiliki
kebaikan-kebaikan,atau dia melakukannya dengan ijtihad.”
Pendapat yang benar adalah apa yang dikatakan oleh para imam (Ahlus Sunnah), bahwa
mereka tidak mengkhususkan kecintaan kepadanya dan tidak pula melaknatnya. Di
samping itu kalaupun dia sebagai orang yang fasiq atau dhalim, Allah masih mungkin
mengampuni orang fasiq dan dhalim. Lebih-lebih lagi kalau dia memiliki kebaikankebaikan yang besar.
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya dari Ummu Harran binti Malhan
radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَ أَ وﱠ لُ ﺟَ ﻴْ ﺶٍ ﻣِ ﻦْ أُﻣﱠﺘِﻰ ﻳَ ﻐْ ﺰُ وْ نَ…
(ﻣَ ﺪِ ﻳْ ﻨَ ﺔَ ﻗَ ﻴْ ﺼَ ﺮَ ﻣَ ﻐْ ﻔُ ﻮْ رٌ ﻟَ ﻬُ ﻢْ. (رواﻩ اﻟﺒﺨﺎرى
Tentara pertama yang memerangi Konstantiniyyah akan diampuni. (HR. Bukhari)
Padahal tentara pertama yang memeranginya adalah di bawah pimpinan Yazid bin
Mu’awiyyah dan pada waktu itu Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bersamanya.
Catatan:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah melanjutkan setelah itu dengan ucapannya: “Kadangkadang sering tertukar antara Yazid bin Mu’ awiyah dengan pamannya Yazid bin Abu
Sufyan. Padahal sesungguhnya Yazid bin Abu Sufyan adalah dari kalangan Shahabat,
bahkan orang-orang pilihan di antara mereka dan dialah keluarga Harb (ayah Abu
Sufyan bin Harb -pent) yang terbaik. Dan beliau adalah salah seorang pemimpin Syam
yang diutus oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu ketika pembebasan negeri
Syam. Abu Bakar ash- Shiddiq pernah berjalan bersamanya ketika mengantarkannya,
sedangkan dia berada di atas kendaraan. Maka berkatalah Yazid bin Abu Sufyan:
“Wahai khalifah Rasulullah, naiklah! (ke atas kendaraan) atau aku yang akan turun.”
Maka berkatalah Abu Bakar: “Aku tidak akan naik dan engkau jangan turun,
sesungguhnya aku mengharapkan hisab dengan langkah-langkahku ini di jalan Allah.
Ketika beliau wafat setelah pembukaan negeri Syam di zaman pemerintahan Umar
radhiyallahu ‘anhu, beliau mengangkat saudaranya yaitu Mu’awiyah untuk
menggantikan kedudukannya.
Kemudian Mu’awiyah mempunyai anak yang bernama Yazid di zaman pemerintahan
‘Utsman ibnu ‘Affan dan dia tetap di Syam sampai terjadi peristiwa yang terjadi. Yang
wajib adalah untuk meringkas yang demikian dan berpaling dari membi-carakan Yazid
bin Mu’awiyah serta bencana yang menimpa kaum muslimin karenanya dan
sesungguhnya yang demikian merupakan bid’ah yang menyelisihi ahlus sunnah wal
jama’ah. Karena dengan sebab itu sebagian orang bodoh meyakini bahwa Yazid bin
Mu`awiyah termasuk kalangan shahabat dan bahwasanya dia termasuk kalangan
tokoh-tokoh orang shalih yang besar atau imam-imam yang adil. Hal ini adalah 11
kesalahan yang nyata.” (Diambil dari Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,
jilid 3, hal. 409-414)
Bid’ah-bid’ah yang Berhubungan dengan
Terbunuhnya Al-Husein
Kemudian muncullah bid’ah-bid’ah yang banyak yang diadakan oleh kebanyakan orangorang terakhir berkenaan dengan perisiwa terbunuhnya Al-Husein, tempatnya,
waktunya dan lain-lain. Mulailah mereka mengada-adakan An-Niyaahah (ratapan) pada
hari terbunuhnya Al-Husein yaitu pada hari ‘Asyura (10 Muharram), penyiksaan diri,
mendhalimi binatang-binatang ternak, mencaci maki para wali Allah (para shahabat)
dan mengada-adakan kedustaan-kedustaan yang diatasnamakan ahlul bait serta
kemungkaran-kemungkaran yang jelas dilarang dalam kitab Allah dan sunnah RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.
Al-Husein radhiyallahu ‘anhu telah dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan
mati syahid pada hari ‘Asyura dan Allah telah menghinakan pembunuhnya serta orang
yang mendukungnya atau ridla dengan pembunuhannya. Dan dia mempunyai teladan
pada orang sebelumnya dari para syuhada, karena sesungguhnya dia dan saudaranya
adalah penghulu para pemuda ahlul jannah. Keduanya telah dibesarkan pada masa
kejayaan Islam dan tidak mendapatkan hijrah, jihad, dan kesabaran atas gangguangangguan di jalan Allah sebagaimana apa yang telah didapati oleh ahlul bait
sebelumnya. Maka Allah mulyakan keduanya dengan syahid untuk menyempurnakan
kemulyaan dan mengangkat derajat keduanya.
Pembunuhan beliau merupakan musibah besar dan Allah subhanahu wa ta’ala telah
mensyari’atkan untuk mengucapkan istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) ketika
musibah dalam ucapannya:
وَ ﺑَ ﺸﱢ ﺮِ اﻟﺼﱠﺎﺑِﺮِﻳﻦَ ا ﻟﱠ ﺬِ ﻳ ﻦَ إِذَا…
أَ ﺻَ ﺎ ﺑَ ﺘْ ﻬُ ﻢْ ﻣُﺼِﻴﺒَﺔٌ ﻗَﺎﻟُﻮا إِﻧﱠﺎ ﻟِ ﻠﱠ ﻪِ
وَإِﻧﱠﺎ إِ ﻟَ ﻴْ ﻪِ رَ ا ﺟِ ﻌُ ﻮ نَ أُ و ﻟَ ﺌِ ﻚَ ﻋَ ﻠَ ﻴْ ﻬِ ﻢْ
ﺻَ ﻠَ ﻮَ ا تٌ ﻣِ ﻦْ رَ ﺑﱢ ﻬِ ﻢْ وَ رَ ﺣْ ﻤَ ﺔٌ وَ أُ و ﻟَ ﺌِ ﻚَ هُ ﻢُ
.اﻟْﻤُﻬْﺘَﺪُونَ
…. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orangyang sabar, (yaitu) orang-orang
yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi
raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat
dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al- Baqarah:
155-157)
Sedangkan mereka yang mengerjakan apa-apa yang dilarang oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam rangka meratapinya seperti memukul pipi, merobek baju, dan
menyeru dengan seruan-seruan jahiliyah, maka balasannya sangat keras sebagaimana
diriwayatkan dalam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, berkata:
Bersabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam: 12
ﻟَ ﻴْ ﺲَ ﻣِﻨﱠﺎ ﻣَ ﻦْ ﻟَ ﻄَ ﻢَ اﻟْﺨُﺪُوْدَ، وَ ﺷَ ﻖﱠ
اﻟْﺠُﻴُﻮْبَ، وَدَﻋَﺎ ﺑِﺪَﻋْﻮَى ا ﻟْ ﺠَ ﺎ هِ ﻠِ ﻴﱠ ﺔِ. (رواﻩ
(اﻟﺒﺨﺎرى وﻣﺴﻠﻢ
Bukan dari golongan kami, siapa yang memukul-mukul pipi, merobek- robek baju, dan
menyeru dengan seruan-seruan jahiliyah. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain, juga dalam Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al- Asy’ari
radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia berkata: “Aku berlepas diri dari orang-orang yang
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri darinya, yaitu bahwasanya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari al-haliqah, ash-shaliqah dan
asy-syaaqqah. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan dalam Shahih Muslim dari Abi Malik Al-Asy’ari bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
أَ رْ ﺑَ ﻊٌ ﻓِﻰ أُﻣﱠﺘِﻰ ﻣِ ﻦْ أَ ﻣْ ﺮِ ا ﻟْ ﺠَ ﺎ هِ ﻠِ ﻴﱠ ﺔِ ﻻَ
ﻳَ ﺘْ ﺮُ آُ ﻮْ ﻧَ ﻬُ ﻦﱠ: ا ﻟْ ﻔَ ﺨْ ﺮُ ﻓِﻰ اْﻷَﺣْﺴَﺎبِ
وَ ا ﻟ ﻄﱠ ﻌْ ﻦُ ﻓِﻰ اْ ﻷَﻧْﺴَﺎبِ وَاْﻹِﺳْﺘِﺴْﻘَﺎءُ
(ﺑِ ﺎ ﻟ ﻨُ ﺠُ ﻮْ مِ وَاﻟﻨﱢﻴَﺎﺣَﺔُ. (رواﻩ ﻣﺴﻠﻢ
Empat perkara yang terdapat pada umatku dari perkara perkara jahiliyah yang mereka
tidak meninggalkannya: bangga dengan kedudukan, mencela nasab (keturunan),
mengharapkan hujan dengan bintang-bintang dan meratapi mayit. (HR. Muslim)
Dan juga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَ إِ نﱠ ا ﻟ ﻨﱠ ﺎ ﺋِ ﺤَ ﺔَ إِذَا ﻟَ ﻢْ ﺗَ ﺘُ ﺐْ ﻗَ ﺒْ ﻞَ…
ا ﻟْ ﻤَ ﻮْ تِ ﺟَ ﺎ ﺋَ ﺖْ ﻳَ ﻮْ مَ ا ﻟْ ﻘِ ﻴَ ﺎ ﻣَ ﺔِ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ
ﺳِ ﺮْ ﺑَ ﺎ لٌ ﻣِ ﻦْ ﻗَ ﻄِ ﺮَ ا نِ ، وَ دَ رْ عٌ ﻣِ ﻦْ ﻟَ ﻬَ ﺐِ
(ا ﻟ ﻨﱠﺎ رِ. (ﺻﺤﻴﺢ رواﻩ أﺣﻤﺪ واﻟﻄﺒﺮاﻧﻰ واﻟﺤﺎآﻢ
Sesungguhnya perempuan tukang ratap jika tidak bertaubat sebelum matinya dia akan
dibangkitkan di hari kiamat sedangkan atasnya pakaian dari timah dan pakaian dada
dari nyala api neraka. (HR. Ahmad, Thabrani dan Hakim)
Hadits-hadits tentang masalah ini bermacam-macam. Demikianlah keadaan orang yang
meratapi mayit dengan memukul-mukul badannya, merobek-robek bajunya dan lainlain. Maka bagaimana jika ditambah lagi bersama dengan itu kezaliman terhadap
orang-orang mukmin (para shahabat), melaknat mereka, mencela mereka, serta
sebaliknya membantu ahlu syiqaq orang-orang munafiq dan ahlul bid’ah dalam
kerusakan dien yang mereka tuju serta kemungkaran lain yang Allah lebih
mengetahuinya. 13
Maraji’:
– Minhajus-Sunnah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
– Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
– Al-‘Awashim Minal Qawashim, oleh Qadhi Abu Bakar
– Ibnul Arabi dengan tahqiq dan ta’liq Syaikh Muhibbudin Al-Khatib.
– Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir.
– Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani.
– Shahih Muslim dengan Syarh Nawawi.
– Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-
Albani.
[Sumber: Majalah SALAFY edisi VIII/Rabi’ul Awal/1417/1996 Penulis Ustadz
Muhammad Umar Sewed]

Syaikh Abdul Qadir Jailani Qsa


PERMULAAN PENCIPTAAN

Semoga Allah s.w.t memberikan kamu kejayaan di dalam amalan-amalan kamu yang disukai-Nya dan Semoga kamu memperolehi keredaan-Nya. Fikirkan, tekankan kepada pemikiran kamu dan fahamkan apa yang aku katakan.

Allah Yang Maha Tinggi pada permulaannya menciptakan cahaya Muhammad daripada cahaya suci Keindahan-Nya. Dalam hadis Qudsi Dia berfirman: “Aku ciptakan ruh Muhammad daripada cahaya Wajah-Ku”.

Ini dinyatakan juga oleh Nabi Muhammad s.a.w dengan sabdanya:

“Mula-mula Allah ciptakan ruhku. Pada permulaannya diciptakan-Nya sebagai ruh suci”.

“Mula-mula Allah ciptakan qalam”.

“Mula-mula Allah ciptakan akal”.

Apa yang dimaksudkan sebagai ciptaan permulaan itu ialah ciptaan hakikat kepada Nabi Muhammad s.a.w, Kebenaran tentang Muhammad yang tersembunyi. Dia juga diberi nama yang indah-indah. Dia dinamakan nur, cahaya suci, kerana dia dipersucikan dari kegelapan yang tersembunyi di bawah sifat jalal Allah. Allah Yang Maha Tinggi berfirman: “Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah, cahaya dan kitab yang menerangkan”. (Al-Maaidah, ayat 15)

Dia dinamakan akal yang meliputi (akal universal) kerana dia telah melihat dan mengenali segala-galanya. Dia dinamakan qalam kerana dia menyebarkan hikmah dan ilmu dan dia mencurahkan ilmu ke dalam huruf-huruf.

Roh Muhammad adalah zat atau hakikat kepada segala kejadian, permulaan dan kenyataan alam maya. Baginda s.a.w menyatakan hal ini dengan sabdanya, “Aku daripada Allah dan sekalian yang lain daripadaku” . Allah Yang Maha Tinggi menciptakan sekalian roh-roh daripada roh baginda s.a.w di dalam alam kejadian yang pertama, dalam bentuk yang paling baik. ‘Muhammad’ adalah nama kepada sekalian kemanusiaan di dalam alam arwah. Dia adalah sumber, asal usul dan kediaman bagi sesuatu dan segala-galanya.

Empat ribu tahun selepas diciptakan cahaya Muhammad, Allah ciptakan arasy daripada cahaya mata Muhammad. Dia ciptakan makhluk yang lain daripada arasy. Kemudian Dia hantarkan roh-roh turun kepada peringkat penciptaan yang paling rendah, kepada alam kebendaan, alam jirim dan badan.

“Kemudian Kami turunkan ia kepada peringkat yang paling rendah” . (Surah Tin, ayat 15)

Dia hantarkan cahaya itu daripada tempat ia diciptakan, dari alam lahut, iaitu alam kenyataan bagi Zat Allah, bagi keesaan, bagi wujud mutlak, kepada alam nama-nama Ilahi, kenyataan sifat-sifat Ilahi, alam bagi akal asbab kepunyaan roh yang meliputi (roh universal). Di sana Dia pakaikan roh-roh itu dengan pakaian cahaya. Roh-roh ini dinamakan ‘roh pemerintah’. Dengan berpakaian cahaya mereka turun kepada alam malaikat. Di sana mereka dinamakan ‘roh rohani’. Kemudian Dia arahkan mereka turun kepada alam kebendaan, alam jirim, air dan api, tanah dan angin dan mereka menjadi ‘roh manusia’. Kemudian daripada dunia ini Dia ciptakan tubuh yang berdaging, berdarah.

“Kemudian Kami jadikan kamu dan kepadanya kamu akan dikembalikan dan daripadanya kamu akan dibangkitkan sekali lagi”. (Surah Ta Ha, ayat 55)

Selepas peringkat-peringkat ini Allah memerintahkan roh-roh supaya memasuki badan-badan dan dengan kehendak-Nya mereka pun masuk.

“Maka apabila Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiup padanya roh-Ku…”. (Surah Shad, ayat 72)

Sampai masanya roh-roh itu terikat dengan badan, dengan darah dan daging dan lupa kepada asal usul kejadian dan perjanjian mereka. Mereka lupa tatkala Allah ciptakan mereka pada alam arwah Dia telah bertanya kepada mereka: “Adakah aku Tuhan kamu? Mereka telah menjawab:Iya, bahkan!.”

Mereka lupa kepada ikrar mereka. Mereka lupa kepada asal usul mereka, lupa juga kepada jalan untuk kembali kepada tempat asal mereka. Tetapi Allah Maha Penyayang, Maha Pengampun, sumber kepada segala keselamatan dan pertolongan bagi sekalian hamba-hamba-Nya. Dia mengasihani mereka lalu Dia hantarkan kitab-kitab suci dan rasul-rasul kepada mereka untuk mengingatkan mereka tentang asal usul mereka.

“Dan Sesungguhnya Kami telah utuskan Musa (membawa) ayat-ayat Kami (sambil Kami mengatakan): hendaklah kamu keluarkan kaum kamu dari kegelapan kepada cahaya, dan ingatkan mereka kepada hari-hari Allah”. (Surah Ibrahim, ayat 5)

Yaitu ‘ingatkan roh-roh tentang hari-hari di mana mereka tidak terpisah dengan Allah’.

Ramai rasul-rasul telah datang ke dunia ini, melaksanakan tugas mereka dan kemudian meninggalkan dunia ini. Tujuan semua itu adalah membawa kepada manusia perutusan, peringatan serta menyedarkan manusia dari kelalaian mereka. Tetapi mereka yang mengingati-Nya, yang kembali kepada-Nya, manusia yang ingin kembali kepada asal usul mereka, menjadi semakin berkurangan dan terus berkurangan ditelan zaman.

Nabi-nabi terus diutuskan dan perutusan suci berterusan sehingga muncul roh Muhammad yang mulia, yang terakhir di kalangan nabi-nabi, yang menyelamatkan manusia daripada kehancuran dan kelalaian. Allah Yang Maha Tinggi mengutuskannya untuk membuka  mata manusia iaitu membuka mata hati yang ketiduran. Tujuannya ialah mengejutkan manusia dari kelalaian dan ketidaksedaran dan untuk menyatukan mereka dengan keindahan yang abadi, dengan penyebab, dengan Zat Allah. Allah berfirman:
“Katakan: Inilah jalanku yang aku dan orang-orang yang mengikuti daku kepada Allah dengan pandangan yang jelas (basirah)”. (Surah Yusuf, ayat 108).

Ia menyatakan jalan Nabi Muhammad s.a.w. Baginda s.a.w dalam menunjukkan tujuan kita telah bersabda, “Sahabat-sahabatku adalah umpama bintang di langit. Sesiapa daripada mereka yang kamu ikuti kamu akan temui jalan yang benar”.

Pandangan yang jelas (basirah) datangnya daripada mata kepada roh. Mata ini terbuka di dalam jantung hati orang-orang yang hampir dengan Allah, yang menjadi sahabat Allah. Semua ilmu di dalam dunia ini tidak akan mendatangkan pandangan dalam (basirah). Seseorang itu memerlukan pengetahuan yang datangnya daripada alam ghaib yang tersembunyi pengetahuan yang mengalir daripada kesedaran Ilahi.

“Dan Kami telah  ajarkan kepadanya satu ilmu dari sisi Kami (ilmu laduni)”. (Surah Kahfi, ayat 65).

Apa yang perlu seseorang lakukan ialah mencari orang yang mempunyai pandangan dalam (basirah) yang mata hatinya celik, dan cetusan serta perangsang daripada orang yang seperti ini adalah perlu. Guru yang demikian, yang dapat memupuk pengetahuan orang lain, mestilah seorang yang hampir dengan Allah dan berupaya menyaksikan alam mutlak.

Wahai anak-anak Adam, saudara-saudara dan saudari-saudari! Bangunlah dan bertaubatlah kerana melalui taubat kamu akan memohon kepada Tuhan agar dikurniakan-Nya kepada kamu hikmah-Nya. Berusaha dan berjuanglah. Allah memerintahkan:

“Dan berlumba-lumbalah kepada keampunan Tuhan kamu dan syurga yang lebarnya (seluas) langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang berbakti. Yang menderma di waktu senang dan susah, dan menahan marah, dan memaafkan manusia, dan Allah kasih kepada mereka yang berbuat kebajikan”. (Surah Imraan, ayat 133 & 134).

Masuklah kepada jalan itu dan bergabunglah dengan kafilah kerohanian untuk kembali kepada Tuhan kamu. Pada satu masa nanti jalan tersebut tidak dapat dilalui lagi dan pengembara pada jalan tersebut tidak ada lagi. Kita tidak datang ke bumi ini untuk merosakkan dunia ini. Kita dihantar ke mari bukan untuk makan, minum dan berak. Roh penghulu kita menyaksikan kita. Baginda s.a.w berdukacita melihat keadaan kamu. Baginda  s.a.w telah mengetahui apa yang akan berlaku kemudian hari apabila baginda s.a.w bersabda, “Dukacitaku adalah untuk umat yang aku kasihi yang akan datang kemudian”.

Apa sahaja yang datang kepada kamu datang dalam keadaan salah satu bentuk, secara nyata atau tersembunyi; nyata dalam bentuk peraturan syarikat dan tersembunyi dalam bentuk hikmah kebijaksanaan atau makrifat. Allah Yang Maha Tinggi memerintahkan kita supaya mensejahterakan zahir kita dengan mematuhi peraturan syarikat dan meletakkan batin kita dalam keadaan yang baik dan teratur dengan memperolehi hikmah kebijaksanaan atau makrifat. Bila zahir dan batin kita menjadi satu dan hikmah kebijaksanaan atau makrifat dengan peraturan agama (syarikat) bersatu, seseorang itu sampai kepada makam yang sebenarnya (hakikat).

“Dia alirkan dua laut, padahal kedua-duanya bertemu. Antara dua itu ada dinding yang kedua-duanya tidak mampu melewatinya”. (Surah Imraan, ayat 19 & 20).

Kedua-duanya mesti menjadi satu. Kebenaran atau hakikat tidak akan diperolehi dengan hanya menggunakan pengetahuan melalui pancaindera dan deria-deria tentang alam kebendaan. Dengan cara tersebut tidak mungkin mencapai matlamat, sumber, iaitu Zat. Ibadat dan penyembahan memerlukan kedua-duanya iaitu peraturan syarikat dan makrifat. Allah berfirman tentang ibadat:
“Dan tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk mengabdikan diri kepada-Ku”. (Surah Dzaariyat, ayat 56).

Dalam lain perkataan, ‘mereka diciptakan supaya mengenali Daku’ . Jika seseorang tidak mengenali-Nya bagaimana dia boleh memuji-Nya dengan sebenar-benarnya, meminta pertolongan-Nya dan berkhidmat kepada-Nya?

Makrifat yang diperlukan bagi mengenali-Nya boleh dicapai dengan menyingkap tabir hitam yang menutupi cermin hati seseorang, menyucikannya sehingga bersih dan menggilapkannya sehingga bercahaya. Kemudian perbendaharaan keindahan yang tersembunyi akan memancar pada rahasia cermin hati.

Allah Yang Maha Tinggi telah berfirman melalui rasul-Nya:
“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi. Aku suka dikenali, lalu Aku ciptakan makhluk supaya Aku dikenali”.

Tujuan suci diciptakan manusia ialah supaya mereka mengenali Allah, memperolehi makrifat.

Ada dua peringkat makrifat yang suci. Seseorang itu perlu mengenali sifat-sifat Allah dan dalil-dalil yang menjadi kenyataan atau penzahiran bagi sifat-sifat tersebut. Satu lagi ialah mengenali Zat Allah. Di dalam mengenali sifat-sifat Allah manusia secara zahirnya dapat menikmati kedua-duanya iaitu dunia dan akhirat. Makrifat yang memimpin kepada Zat Allah tidak diperolehi dengan diri zahir manusia. Ia terjadi di dalam jiwa atau roh suci manusia yang berada di dalam dirinya yang zahir ini.

“Dan Kami telah perkuatkan dia (Isa) dengan roh kudus”. (Surah Baqarah, ayat 87).

Orang yang mengenali Zat Allah menemui kuasa ini melalui roh kudus (suci) yang dikurniakan kepada mereka.

Kedua-dua makrifat tersebut diperolehi dengan hikmah kebijaksanaan yang mempunyai dua aspek; hikmah kebijaksanaan kerohanian yang di dalam dan pengetahuan zahir tentang benda-benda nyata. Kedua-duanya diperlukan untuk mendapatkaan kebaikan. Nabi s.a.w bersabda, “Pengetahuan ada dua bahagian. Satu pada lidah yang menjadi dalil tentang kewujudan Allah, satu lagi di dalam hati manusia. Inilah yang diperlukan bagi melaksanakan harapan kita”.

Pada peringkat permulaannya seseorang itu memerlukan pengetahuan syarikat. Ini memerlukan pendidikan yang mengenalkan dalil-dalil luar tentang Zat Allah yang menyata di dalam alam sifat-sifat dan nama-nama ini. Apabila bidang ini telah sempurna sampailah giliran pendidikan kerohanian tentang rahasia-rahasia, di mana seseorang itu masuk ke dalam bidang makrifat yang murni untuk mengetahui yang sebenarnya (hakikat). Pada peringkat yang pertama seseorang itu mestilah meninggalkan segala-galanya yang tidak dipersetujui oleh syariat malah, kesilapan di dalam melakukan perbuatan yang baik mestilah dihapuskan. Perbuatan yang baik mestilah dilakukan dengan cara yang betul, sebagaimana keperluan pada jalan sufi. Keadaan ini boleh dicapai dengan melatihkan diri dengan melakukan perkara-perkara yang tidak dipersetujui oleh ego diri sendiri dan melakukan amalan yang bertentangan dengan kehendak hawa nafsu. Berhati-hatilah di dalam beramal agar amalan itu dilakukan bukan untuk dipertontonkan atau diperdengarkan kepada orang lain. Semuanya mestilah dilakukan semata-mata kerana Allah, demi mencari keredaan-Nya. Allah berfirman:

“Barangsiapa berharap menemui Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan amal salih dan janganlah dia mempersekutukan sesuatu dengan Allah dalam ibadatnya kepada Tuhannya”. (Surah Kahfi, ayat 110).

Apa yang dihuraikan sebagai daerah makrifat itu adalah tahap penghabisan bagi daerah kejadian yang pertama. Ia adalah permulaan dan merupakan rumah yang setiap orang kembali ke sana . Di samalah roh suci dijadikan. Apa yang dimaksudkan dengan roh suci adalah roh insan. Ia dijadikan dalam bentuk yang paling baik.

Kebenaran atau hakikat tersebut telah ditanam di tengah-tengah hati sebagai amanah Allah, diamanahkan kepada manusia agar disimpan dengan selamat. Ia bangkit dan menyata melalui taubat yang sungguh-sungguh dan usaha sebenar mempelajari agama. Keindahannya akan memancar ke permukaan apabila seseorang itu mengingati Allah terus menerus, mengulangi kalimah             “La ilaha illah Llah” . Pada mulanya kalimah ini diucapkan dengan lidah. Bila hati sudah hidup ia diucapkan di dalam, dengan hati.

Sufi menggambarkan keadaan kerohanian yang demikian dengan menganggapnya sebagai bayi, iaitu bayi yang lahir di dalam hati, dibela dan dibesarkan di sana . Hati memainkan peranan seperti ibu, melahirkannya, menyusun, memberi makan dan memeliharanya. Jika anak-anak diajarkan kepakaran keduniaan untuk kebaikannya, bayi hati pula diajarkan makrifat rohani. Sebagaimana kanak-kanak bersih daripada dosa, bayi hati adalah tulen, bebas daripada kelalaian, ego dan ragu-ragu. Kesucian bayi biasanya menyata dalam bentuk zahir yang cantik. Dalam mimpi, kesucian dan ketulenan bayi hati muncul dalam rupa malaikat. Manusia berharap mendapat ganjaran syurga sebagai balasan kepada perbuatan baik tetapi hadiah-hadiah yang didatangi dari syurga didatangkan ke mari melalui tangan-tangan bayi hati.

“Dalam kebun-kebun kenikmatan…melayani mereka anak-anak muda yang tidak berubah keadaan mereka”. (Surah Waqi’ah, ayat 12 – 17 ).

“Melayani mereka adalah anak-anak muda laksana mutiara yang tersimpan”. (Surah Tur, ayat 24).

Mereka adalah anak-anak kepada hati, menurut yang diilhamkan kepada sufi, dipanggil anak-anak kerana keelokan dan ketulenan mereka. Keindahan dan ketulenan mereka menyata dalam kewujudan zahir, dalam darah daging, dalam bentuk manusia. Oleh kerana keelokan dan kelembutan sifatnya ia dinamakan anak-anak hati, tetapi dia adalah manusia sejati yang mampu mengubah bentuk kejadian atau ciptaan kerana dia berhubung erat dengan Pencipta sendiri. Dia adalah wakil sebenar kemanusiaan. Di dalam kesedarannya tidak ada sesuatu malah dia tidak melihat dirinya sebagai sesuatu. Tiada hijab, tiada halangan di antara kewujudannya dengan Zat Allah.

Nabi Muhammad s.a.w menggambarkan suasana demikian sebagaimana sabda baginda s.a.w, “ Ada masa aku dengan Allah di mana tiada malaikat yang hampir dan tidak juga nabi yang diutus”. Maksud ‘nabi’ di sini ialah kewujudan lahiriah yang sementara bagi Rasulullah s.a.w sendiri. Malaikat yang paling hampir dengan Allah ialah cahaya suci Muhammad s.a.w, kejadian pertama. Dalam suasana kerohanian itu baginda s.a.w sangat hampir dengan Allah sehingga wujud zahirnya dan rohnya tidak berkesempatan menghijabkannya dengan Allah. Baginda s.a.w menggambarkan lagi suasana demikian, Ada syurga Allah yang tidak ada mahligai dan taman-taman atau sungai madu dan susu, syurga yang di dalamnya seseorang hanya menyaksikan Wajah Allah Yang Maha Suci” . Allah s.w.t berfirman: “Beberapa muka pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya dia memandang”. (Surah Qiamat, ayat 22 & 23).

Pada suasana atau makam tersebut jika seseorang makhluk termasuklah malaikat mendekatinya kewujudan badannya akan terbakar menjadi abu. Allah s.w.t berfirman melalui rasul-Nya:
“Jika Aku bukakan penutup sifat keperkasaan-Ku dengan bukaan yang sangat sedikit sahaja, semua akan terbakar sejauh yang dilihat oleh pandangan-Ku”.

Jibrail yang menemani Nabi Muhamamd s.a.w pada malam mikraj, apabila sampai di Sidratul Muntaha, telah mengatakan jika dia melangkah satu langkah sahaja lagi dia akan terbakar menjadi abu.

 

 

Rasulullah & Barirah Ra


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma salli ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa sahbihi wasallim

Baginda Rasulullah SAW tidak pernah mau mengecewakan orang lain, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa seorang wanita ( Barirah RA) seorang budak wanita miskin dari Afrika, ia mengundang Rasul SAW karena diberi makanan oleh salah seorang sahabat makanan yang sangat enak, maka ia tidak berani memakannya karena sudah lama ingin mengundang Rasul SAW tapi malu tidak punya apa-apa.
Maka ketika datang makanan enak sebelum ia ingin mencicipinya, seumur hidup dia belum mencicipinya dia teringat kepada Rasul SAW, aku ingin Rasul datang mumpung ada makanan yang enak padahal seumur hidup dia belum mencicipi makanan itu.

Barirah yang susah ini pun datang mengundang Rasul SAW ke rumahnya, maka Rasul SAW datang bersama para sahabat untuk menyenangkan Barirah RA seorang budak wanita yang miskin, Rasul saw tidak ingin mengecewakan orang lain maka datang Sang Nabi bersama para sahabat, para sahabat melihat makanan yang sangat enak dan mahal tidak mungkin Barirah membelinya sendiri, maka berkata para sahabat : “Yaa Rasulallah barangkali ini adalah makanan zakat, sedangkan engkau tidak boleh memakan zakat dan shadaqah , kalau bukan makanan zakat ya makanan shadaqah, tentunya kau tidak boleh memakannya”…

Berubahlah hati Barirah dalam kekecewaan, hancur hatinya dengan ucapan itu walau ucapan itu benar Rasul SAW tidak boleh memakan shadaqah dan zakat, namun ia tidak teringat akan hal itu karena memang ia di sedekahi makanan ini, hancur perasaan Barirah RA dan bingung juga risau dan takut serta kecewa dan bingung karena sudah mengundang Rasul SAW untuk makan makanan yang diharamkan pada Rasulullah SAW.

Namun bagaimana manusia yang paling indah budi pekertinya dan bijaksana, maka Rasul SAW berkata : “ Makanan ini betul shadaqah untuk Barirah dan sudah menjadi milik Barirah, Barirah menghadiahkan kepadaku maka aku boleh memakannya “, dan Rasul SAW pun memakannya.

Demikianlah jiwa yang paling indah tidak ingin mengecewakan para fuqara’, itu makanan sedekah betul untuk Barirah tapi sudah menjadi milik Barirah dan Barirah tidak menyedekahkannya padaku ( Rasulullah SAW ) tapi menghadiahkannya kepadaku demikian indahnya Sayyidina Muhammad SAW,

Firman Allah SWT :

“Dan sungguh engkau ( Muhammad SAW ) berada pada akhlak yang agung”.(al-Qalam 68:4)

Wudhu Kaum Sufi


 

Bismilahir Rahmanir Rahiim

Wudlu’ kita sehari-hari, ternyata tidak sekadar membasuh muka, tangan,
kepala, telinga maupun kaki. Wudlu’ diposisikan sebagai amaliah yang
benar-benar menghantar kita semua, untuk hidup dan bangkit dari
kegelapan jiwa. Dalam Wudlu’lah segala masalah dunia hingga akhirat
disucikan, diselesaikan dan dibangkitkan kembali menjadi hamba-hamba
yang siap menghadap kepada Allah SWT.

Bahkan
dari titik-titik gerakan dan posisi yang dibasuh air, ada titik-titik
sentral kehambaan yang luar biasa. Itulah, mengapa para Sufi senantiasa
memiliki Wudlu’ secara abadi, menjaganya dalam kondisi dan situasi apa
pun, ketika mereka batal Wudlu, langsung mengambil Wudlu seketika.
Mari kita buka jendela hati kita. Disana ada ayat Allah, khusus mengenai Wudlu.

“Wahai
orang-orang yang beriman, apabila engkau hendak mendirikan sholat, maka
basuhlah wajahmu dan kedua tanganmu sampai siku-siku, dan usaplah pada
kepalamu dan kaki-kakimu sampai kedua mata kaki…”
Manusia yang
mengaku beriman, apabila hendak bangkit menuju Allah ia harus berwudlu’
jiwanya. Ia bangkit dari kealpaan demi kealpaan, bangkit dari kegelapan
demi kegelapan, bangkit dari lorong-lorong sempit duniawi dan mimpi di
tidur panjang hawa nafsunya.

Ia harus bangkit dan hadlir di
hadapan Allah, memasuki “Sholat” hakikat dalam munajat demi munajat,
sampai ia berhadapan dan menghadap Allah.

Sebelum membasuh muka, kita mencuci tangan-tangan kita sembari bermunajat:
Ya Allah, kami mohon anugerah dan barokah, dan kami berlindung kepadaMu dari keburukan dan kehancuran.

Lalu
kita masukkan air untuk kumur-kumur di mulut kita. Mulut kita adalah
alat dari mulut hati kita. Mulut kita banyak kotoran kata-kata, banyak
ucapan-ucapan berbusakan hawa nafsu dan syahwat kita, lalu mulut kita
adalah mulut syetan.

Mulut kita lebih banyak menjadi lobang
besar bagi lorong-lorong yang beronggakan semesta duniawi. Yang keluar
dan masuknya hanyalah hembusan panasnya nafsu dan dinginnya hati yang
membeku.
Betapa banyak dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits, betapa
berlimpah ruahnya fatwa amar ma’ruf nahi mungkar, tetapi karena keluar
dari mulut yang kotor, hanyalah berbau anyir dalam sengak hidung jiwa
kita. Karena yang mendorong amar ma’ruf nahi mungkarnya bukan Alllah,
tetapi hasrat hawa nafsunya, lalu ketika keluar dari jendela bibirnya,
kata-kata indah hanyalah bau anyir najis dalam hatinya.

Sesungguhnya
mulut-mulut itu sudah membisu, karena yang berkata adalah hawa nafsu.
Ayo, kita masuki air Ilahiyah agar kita berkumur setiap waktu.
Bermunajatlah ketika anda berkumur:
Oh, Tuhan, masukkanlah padaku
tempat masuk yang benar, dan keluarkanlah diriku di tempat keluar yang
benar, dan jadikanlah diriku dari DiriMu, bahwa Engkau adalah Kuasa
Yang Menolongku.

Oh Tuhan, tolonglah daku untuk selalu membaca
KitabMu dan dzikir yang sebanyak-banyaknya, dan tetapkanlah aku dengan
ucapan yang tegas di dunia maupun di akhirat.

Baru kemudian
kita masukkan air suci yang menyucikan itu, pada hidung kita. Hidung
yang suka mencium aroma wewangian syahwat dunia, lalu jauh dari aroma
syurga. Hidung yang menafaskan ciuman mesra, tetapi tersirnakan dari
kemesraan ciuman hakiki di SinggasanaNya.
Oh, Tuhan, aromakan wewangian syurgaMu dan Engkau melimpahkan ridloMu…

Semburkan air itu dari hidungmu, sembari munajatkan
Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari aroma busuknya neraka, dan bau busuknya dunia.

Selanjutnya:
“Basuhlah wajah-wajahmu…”

Dengan
menyucikan hatimu dengan air pengetahuan yang manfaat yang suci dan
menyucikan, baik itu bersifat pengetahuan syariat, maupun pengetahuan
hakikat, serta pengetahuan yang bisa menghapus seluruh
penghalang-penghalang, hijab, antara dirinya dan Allah.
Faktanya
setiap hari kita Wudlu’ membasuh muka kita, tetapi wajah-wajah kita
tidak hadir menghadap Allah, tidak “Fa ainamaa tuwalluu fatsamma
wajhullah…” (kemana pun engkau menghadap, wajah hatimu menghadap arah
Allah).
Kenapa wajah dunia, wajah makhluk, wajah-wajah kepentingan
nafsu kita, wajah-wajah semesta, wajah dunia dan akhirat, masih terus
menghalangi tatapmuka hati anda kepada Allah Ta’ala? Ini semua karena
kebatilan demi kebatilan, baik kebatilan dibalik wajah batil maupun
kebatilan dengan selimut wajah kebenaran, telah membatalkan wudlu jiwa
kita, dan sama sekali tidak kita sucikan dengan air pengetahuan
ma’rifatullah dan pengetahuan yang menyelamatkan dunia akhirat kita.

Hijab-hijab
yang menutupi wajah jiwa kita untuk melihat Allah, sudah terlalu tua
untuk menjadi topeng hidup kita. Kita bertopeng kebusukan, bertopeng
rekayasa, bertopeng kedudukan dan ambisi kita, bertopeng fasilitas
duniawi kita, bertopeng hawa nafsu kita sendiri, bahkan bertopeng ilmu
pengetahuan kita serta imajinasi-imajinasi kita atau jubah-jubah agama
sekali pun.
Lalu wajah kita bopeng, wajah ummat kita penuh dengan
cakar-cakar nafsu kita, torehan-torehan noda kita, flek-flek hitam
nafsu kita, dan alangkah bangganya kita dengan wajah-wajah kita yang
dijadikan landskap syetan, yang begitu bebas menarikan tangan-tangannya
untuk melukis hati kita dengan tinta hitam yang dipanggang di atas
jahanam.
Karena wajah kita lebih senang berpaling, berselingkuh
dengan dunia, berpesta dalam mabuk syetan, bergincu dunia, berparas
dengan olesan-olesan kesemuan hidup, lalu memakai cadar-cadar hitam
kegelapan semesta kemakhlukan.

Banyak orang yang mata kepalanya
terbuka, tetapi matahatinya tertutup. Banyak orang yang mata kepalanya
tertutup, matahatinya terbuka. Banyak orang yang matahatinya terbuka
tetapi bertabur debu-debu kemunafikan duniawinya. Banyak orang yang
sudah tidak lagi membuka matahatinya, dan ia kehilangan Cahaya Ilahi,
lalu menikmati kepejaman matahatinya dalam kegelapan, yang menyangka ia
dalam kebenaran dan kenikmatan.

Oh, Allah, bersihkan wajahkku
dengan cahayaMu, sebagaimana di hari Engkau putihkan wajah-wajah
KekasihMu. Ya Allah janganlah Engkau hitamkan wajahku dengan
kegelapanMu, di hari, dimana Engkau gelapkan wajah-wajah musuhMu.

Tuhan, sibakkan cadar hitamku dari tirai yang membugkus hatiku untuk memandangMu, sebagaimana Engkau buka cadar para KekasihMu…

“Dan basuhlah kedua tanganmu sampai kedua siku-sikumu…”

Lalu
kita basuh kedua tangan kita yang sering menggapai hasrat nafsu syahwat
kita, berkiprah di lembah kotor dan najis jiwa kita, sampai pada tahap
siku-siku hakikat kita dan manfaat agung yang ada di sana.
Tangan
kita telah mencuri hati kita, lalu ruang jiwa kita kehilangan khazanah
hakikat Cahaya hati. Tangan nafsu kita telah mengkorupsi amanah-amanah
Ilahi dalam jiwa, lalu kita mendapatkan pundi-pundi duniawi penuh
kealpaan dan kemunafikan.

Tangan-tangan kita telah merampas
makanan-makanan kefakiran kita, kebutuhan hati kita, memaksa dan
memperkosa hati kita untuk dijadikan tunggangan liar nafsu kita.
Tangan-tangan kita telah memukul dan menampar wajah hati yang menghadap
Allah, menuding muka-muka jiwa yang menghadap Allah, merobek-robek
pakaian pengantin yang bermahkotakan riasan indah para Sufi.

Maka basuhlah tanganmu dengan air kecintaan, dengan beningnya cermin ma’rifat, dari mata air dari bengawan syurga.
Basuhlah tangan kananmu, sembari munajat:
Oh, Allah..berikanlah Kitabku melalui tangan kananku, dan hitanglah amalku dengan hitungan yang seringan-ringannya.

Basuhlah tangan kririmu dengan munajat:
Oh, Allah, aku berlindung kepadaMu, dari pemberian kitabku dari tangan kiriku atau dari belakang punggungku…

Lalu, mari kita usap kepala kita:
Karena
kepala kita telah bertabur debu-debu yang mengotori hati kita, memaksa
hati kita mengikuti selera pikiran kira, sampai hati kita bukan lagi
menghadap kepadaNya, tetapi menghadap seperti cara menghadap wajah di
kepala kita, yaitu menghadap dunia yang hina dan rendah ini.

Pada
kepala kita yang sering menunduk pada dunia, pada wujud semesta, tunduk
dalam pemberhalaan dan perbudakan makhluk, tanpa hati kita menunduk
kepada Allah Ta’ala, kepada Asma-asmaNya yang tersembunyi dibalik
semesta lahir dan batin kita, lalu kepala kita memalingkan wajah hati
kita untuk berpindah ke lain wajah hati yang hakiki.

Mari kita
usap dengan air Cahaya, agar wajah hati kita bersinar kembali, tidak
menghadap ke arah remang-remang yang menuju gelap yang berlapis gulita,
tidak lagi menengok pada rimba duniawi yang dipenuhi kebuasan dan liar
kebinatangannya.
Kepala-kepala kita sering menunduk pada
berhala-berhala yang mengitari hati kita. Padahal hati kita adalah
Baitullah, Rumah Ilahi. Betapa kita sangat tidak beradab dan bahkan
membangun kemusyrikan, mengatasnamakan Rumah Tuhan, tetapi demi
kepentingan berhala-berhala yang kita bangun dari tonggak-tonggak nafsu
kita, lalu kita sembah dengan ritual-ritual syetan,
imajinasi-imajinasi, kebanggaan-kebanggan, lalu begitu sombongnya
kepala kita terangkat dan mendongak.

Mari kita usap kepala kita
dengan usapan Kasih Sayang Ilahi. Karena kepala kita telah terpanggang
panasnya neraka duniawi, terpanaskan oleh ambisi amarah dan emosi nafsu
syahwati, terjemur di hamparan mahsyar duniawi.
Sembari kita mengusap, masti munajat:
Oh
Allah, payungi kepalaku dengan Payung RahmatMu, turunkan padaku
berkah-berkahMu, dan lindungi diriku dengan perlindungan payung
ArasyMu, dihari ketika tidak ada lagi paying kecuali payungMu. Oh,
Tuhan….jauhkan rambutku dan kulitku dari neraka…Oh…

Usap
kedua telingamu. Telinga yang sering mendengarkan paraunya dunia, yang
anda kira sebagai kemerduan musik para bidadari syurga. Telinga yang
berbisik kebusukan dan kedustaan, telinga yang menikmati gunjingan demi
gunjingan. Telinga yang fantastik dengan mendengarkan indahnya musik
duniawi, lalu menutup telinga ketika suara-suara kebenaran bersautan.
Amboi, kenapa telingamu seperti telinga orang-orang munafik?
Apakah anda lebih senang menjadi orang-orang yang tuli telinga hatinya?

Munajatlah:
Oh
Tuhan, jadikan diriku tergolong orang-orang yang mendengarkan ucapan
yang benar dan mengikuti yang paling baik. Tuhan, perdengarkan
telingaku panggilan-panggilan syurga di dalam syurga bersama
hamba-hambaMu yang baik.

Lalu usaplah tengkukmu, sembari berdoa:
Ya Allah, bebaskan diriku dari belenggu neraka, dan aku berlindung kepadaMu dari belenggu demi belenggu yang merantai diriku.

Lalu basuh kaki-kakimu sampai kedua mata kaki:

Kaki-kaki
yang melangkahkan pijakannya kea lam dunia semesta, yang berlari
mengejar syahwat dan kehinaan, yang bergegas dalam pijakan kenikmatan
dan kelezatan pesonanya.
Kaki-kaki yang sering terpeleset ke jurang
kemunafikan dan kezaliman, terluka oleh syahwat dan emosinya, oleh
dendam, iri dan dengkinya, haruslah segera dibasuh dengan air akhlaq,
air yang berumber dari adab, dan bermuara ke samudera Ilahiyah.

Basuhlah
kedua kakimu sampai kedua matakakimu. Agar langkah-langkahmu menjadi
semangat baru untuk bangkit menuju Allah, menapak tilas Jalan Allah,
secepat kilat melesat menuju Allah. Basuhlah dengan air salsabila, yang
mengaliri wajah semesta menjadi jalan lurus lempang menuju Tuhan.
Selebihnya,
Wudlu’ adalah Taubat, penyucian jiwa, pembersihan batin, di lembah
Istighfar. Jangan lupakan Istighfar setiap basuhan anggota wudlu’mu.
Wallahu A’lam.

Tata Cara Berdoa


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Sebelum berdo’a, maka harus diperhatikan adab-adab atau tata tertib berdo’a tersebut.  Diantara adab-adab atau tata tertib berdo’a, diantaranya  adalah sebagai berikut :

1. Mencari yang halal (makanan dan barang yang halal dan menjauhi yang haram)

Diriwayatkan oleh Hafizh bin Mardawaih dari Ibnu Abbas ra, katanya : “Saya membaca ayat di hadapan Nabi SAW yang artinya : “Hai manusia makanlah barang-barang halal lagi baik yang terdapat dimuka bumi”. Tiba-tiba  berdirilah Sa’ad Abi Waqqash, lalu katanya : “Ya Rasulullah! Tolong anda do’akan kepada Allah, agar saya dijadikan orang yang selalu dikabulkan do’anya”.

Ujar Nabi : “Hai Sa’ad! Jagalah soal makananmu, tentu engkau akan menjadi orang yang terkabul do’anya! Demi Tuhan yang nyawa Muhammad berada dalam genggamannya! Jika seorang laki-laki memasukkan sesuap makanan yang haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima do’anya selama empat puluh hari. Dan siapa juga hamba yang dagingnya tumbuh dari makanan haram atau riba, maka neraka lebih layak untuk melayaninya!”

Dan diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi SAW. bersabda : “Hai manusia! Sesungguhnya Allah itu Maha Baik, dan tak hendak menerima kecuali yang baik. Dan Allah telah menitahkan kaum Mukminin melakukan apa-apa yang telah dititahkan-Nya kepada para Mursalin, firman-Nya :

“Hai para Rasul ! Makanlah olehmu makanan yang baik, dan beramal solehlah ! Sesungguhnya,  Aku Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu lakukan !”.(Q.S. Al-Mu’minin : 51)

Dan firman-Nya lagi :

“Hai orang-orang yang beriman ! Makanlah mana-mana rezeki yang baik yang telah Kami berikan padamu !”. (Q. S. Al-Baqarah : 172)

Kemudian disebutnya tentang seorang laki-laki yang telah berkelana jauh, dengan rambutnya yang kusut dan pakaian penuh debu, sedang makanannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan dibesarkan dengan barang haram. Walaupun ia menadahkan tangannya kelangit sambil berdo’a : “Ya Tuhan, Ya Tuhan! Bagaimana Tuhan akan mengabulkan do’anya itu !”.

2.  Menghadap kiblat

Rasulullah SAW pergi keluar buat shalat istisqa’ (minta hujan), maka beliau berdo’a dan memohonkan turunnya hujan sambil menghadap kiblat.

3.  Memperhatikan saat-saat yang tepat dan utama

Seperti pada hari Arafah, bulan Ramadhan, hari Jum’at, sepertiga terakhir dari malam hari, waktu sahur, ketika sedang sujud, ketika turun hujan, antara adzan dan qomat, setelah sholat fardhu, saat mulai pertempuran, ketika dalam ketakutan atau sedang beriba hati, dan lain-lain.

a.  Diterima dari Abu Umamah ra, : Seseorang bertanya : “Ya Rasulullah, do’a manakah yang lebih didengar Allah ? Ujar Nabi : “Do’a ditengah-tengah akhir malam, dan selesai shalat – shalat fardhu”. (H.R. Turmidzi)

b.  Dan diterima dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi SAW. bersabda : “Jarak yang paling dekat diantara hamba dengan Tuhannya ialah ketika ia sedang sujud. Maka perbanyaklah do’a ketika itu, karena besar kemungkinan akan dikabulkan”. (H.R. Muslim).

4.  Mengangkat kedua tangan setentang kedua bahu

Berdasarkan hadits riwayat Abu Daud dari Ibnu Abbas ra, katanya : “Jika kamu meminta hendaklah dengan mengangkat kedua tangamu setentang kedua bahumu atau kira-kira setentangnya, dan jika istighfar ialah dengan menunjuk dengan sebuah jari, dan jika berdo’a dengan melepas jari-jemari tangan”.

Dan diriwayatkan dari Malik bin Yasar bahwa Nabi SAW. bersabda : “Jika kamu meminta kepada Allah, maka mintalah dengan bagian dalam telapak tanganmu, jangan dengan punggungnya” Sedang dari Salman, sabda Nabi SAW : “Sesungguhnya Tuhanmu Yang Maha Berkah dan Maha Tinggi adalah Maha Hidup lagi Maha Murah, ia merasa malu terhadap hamba Nya jika ia menadahkan tangan kepada Nya, akan menolaknya dengan tangan hampa”.

5.  Memulainya dengan memuji Allah, memuliakan dan menyanjung Nya, serta bershalawat kepada Nabi SAW.

Berdasarkan hadits riwayat Abu Daud dan An Nasa’i, juga oleh Turmidzi, dari Fudhalah bin ‘Ubeid ra, : “Bahwa Rasulullah SAW. mendengar seorang laki-laki berdo’a selesai shalatnya, tanpa membesarkan Allah dan mengucapkan shalawat Nabi, maka sabdanya : “Orang ini terlalu tergesa-gesa”. Kemudian dipanggilnya orang itu, katanya kepadanya atau juga kepada orang-orang lain: “Jika salah seorang diantaramu berdo’a, hendaklah dimulainya dengan membesarkan Tuhannya yang Maha Agung dan Maha Mulia itu serta menyanjungNya, lalu mengucapkan shalawat atas Nabi SAW., serta setelah itu barulah ia berdo’a meminta apa yang diingininya”.

6. Memusatkan perhatian, menyatakan kerendahan diri dan ketergantungan kepada Allah Yang Maha Mulia, serta menyederhanakan tinggi suara, antara bisik-bisik dan jahar

Firman Allah : “Dan janganlah kamu keraskan suaramu waktu berdo’a, jangan pula berbisik-bisik dengan suara halus, tetapi tempuhlah jalan tengah antara kedua itu “. (Q.S. Al-Isra’: 110)

Dan firman Nya pula,

Bermohonlah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan tidak mengeraskan suara ! Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melewati batas. (Q.S. Al-A’raf : 55)

Berkata Ibnu Jureir : “Tadharru’ maksudnya ialah merendahkan diri dan pasrah menta’ati-Nya. Sedang “khufyah” ialah dengan hati yang khusyu’ dan keyakinan yang teguh mengenai ke-Esaan dan ke-Tuhanan-Nya dalam hubungan antaramu dengan Nya, jadi bukan dengan suara keras karena riya’.

Selanjutnya dijelaskan dalam sebuah hadits yang diterima dari Abu Musa Asy’ari ra, bahwa ketika Rasululullah SAW mendengar orang-orang berdo’a dengan suara keras, beliaupun bersabda : “ Hai manusia ! Berdo’alah dengan suara perlahan, karena kamu tidaklah menyeru orang yang tuli ataupun berada di tempat yang kamu seru itu ialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, dan tempat kamu bermohon itu lebih dekat lagi kepada salah seorangmu dari leher kendaraanya ! Hai Abdullah bin Qeis ! Maukah kamu kutunjuki sebuah kalimat yang merupakan salah satu perbendaharaan surga ? yaitu : “Laa haula walaa quwwata illaabillaah”.

Dan diriwayatkan pula oleh Ahmad dari Abdullah bin Umar ra, bahwa Nabi SAW bersabda : “Hati itu merupakan gudang-gudang simpanan. Dan sebagiannya lebih tahan lagi simpanannya (ingatannya) dari yang lain. Maka jika kamu hai manusia memohon kepada Allah, maka mohonlah dengan hati yang penuh keyakinan akan dikabulkan-Nya.Karena Allah tidak akan mengabulkan do’a dari seorang hamba yang hatinya kosong dari ingatan dan perhatian.”

7.  Hendaklah do’a itu tidak mengandung dosa atau memutuskan tali silaturahim

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Sa’id Khudri ra, bahwa Nabi SAW. bersabda :  “Tidak seorang Muslimpun yang berdo’a kepada Allah ‘azza wa jalla, sedang do’anya itu tikak mengandung dosa atau bermaksud hendak memutuskan silaturrahim, maka akan diberi Allah salah satu diantara tiga perkara : Pertama, akan dikabulkan Nya do’a itu dengan segera. Kedua, adakalanya ditangguhkan Nya untuk menjadi simpanannya di akhirat kelak. Dan Ketiga, mungkin dengan menghindarkan orang itu dari bahaya yang sebanding dengan apa yang dimintanya”. Tanya mereka : “Bagaimana kalau kami banyak berdo’a?” Ujar Nabi : “Allah akan lebih memperbanyak lagi”.

8.  Tidak menganggap lambat akan dikabulkan Tuhan

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Malik dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi SAW. bersabda : “Tentu do’a seseorang akan dikabulkan Allah, selama orang itu tidak gegabah mengatakan : “Saya telah berdo’a, tetapi do’a itu tidak juga dikabulkan Tuhan”.

9.  Berdo’a dengan keinginan yang pasti agar dikabulkan

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Hurairah ra, bahwa  Rasulullah SAW. bersabda : “Janganlah salah seorang diantaramu mengatakan : “Ya Allah ampunilah daku jika Engkau mengingininya, ya Allah, beri rahmatlah daku jika Engkau mengingininya” dengan tujuan untuk memperkuat permohonannya itu, karena Allah Ta’ala, tak seorangpun yang dapat memaksa Nya”.

10. Memilih kalimat-kalimat yang mencakup makna yang luas.

Umpamanya  “Rabbana aatina fi’d dun-ya hasanah, wafi’l aakhirati hasanah, waqina adzaaban naar”, (Artinya : Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan  di dunia, dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka). Nabi SAW memandang utama berdo’a dengan kalimat-kalimat yang mengandung arti yang luas.

Dalam Sunan Ibnu Majah diriwayatkan : “Bahwa seorang laki-laki datang menemui Nabi SAW, lalu tanyanya : “Ya Rasulullah, manakah do’a yang lebih utama?”.  Ujar Nabi : “Mohonlah kepada Tuhanmu kema’afan dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat ”. Kemudian orang itu kembali datang kepada Nabi, pada hari kedua dan ketiga, juga buat menanyakan soal ini, yang oleh Nabi tetap diberikan jawaban seperti pada hari pertama. Lalu sabda Nabi pula : “Seandainya kamu diberi kema’afan dan keselamatan di dunia dan akhirat, maka sungguh  kamu telah beruntung”.

Juga dalam sebuah hadits bahwa Nabi SAW. bersabda : “Tak ada sebuah do’a pun yang diucapkan oleh hamba, yang lebih utama dari : “Allahuma inni as’alukal mu’afata fid dun-ya wal akhirah”. (Artinya : Ya Allah, sesungguhnya saya memohon pada Mu keselamatan di dunia dan di akhirat ).

11. Menghindari yang tak baik terhadap diri, keluarga dan harta benda sendiri.

Diterima dari Jabir bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kamu berdo’a untuk keburukan dirimu, begitupun terhadap anak-anakmu, terhadap pelayan-pelayan dan harta bendamu, jangan sampai nanti do’amu itu bertepatan dengan suatu saat dimana Allah bisa memenuhi permohonan, hingga do’a burukmu itu akan benar-benar terkabul !”.

12.  Mengulangi do’a sampai tiga kali.
Diterima dari Abdullah bin Mas’ud : “Bahwa Rasulullah SAW. senang sekali berdo’a dan istighfar tiga kali”. (H.R. Abu Daud)

13.  Agar mulai dengan diri pribadi, bila berdo’a buat orang lain.
Firman Allah Ta’ala :

“ Ya Tuhan kami ! berilah keampunan bagi kami, dan bagi saudara-saudara kami yang telah lebih dulu beriman daripada kami”.(Q.S. Al-Hasyr : 10).

Dan diterima dari Ubai bin Ka’ab ra, katanya : “Bila Rasulullah SAW. teringat akan seseorang lalu mendo’akannya maka lebih dulu dimulainya dengan dirinya sendiri “. (H.R. Turmudzi)

14.  Menyapu muka dengan kedua belah telapak tangan setelah selesai berdo’a, setelah memuji dan mengagungkan Allah, dan setelah mengucapkan shalawat Nabi.

Mengenai menyapu muka ini dijelaskan oleh K.H. Drs. Ahmad Dimyathi Badruzzaman, M.A. dalam kitabnya “Zikir Berjama’ah Sunnah atau Bid’ah” dijelaskan bahwa : Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab haditsnya “Bulughul Maram min Abdillah Al-Ahkam” telah mengutip sebuah hadits sebagai berikut : “Dari Umar ra, ia berkata : ‘Adalah Rasulullah Saw apabila berdo’a sambil menengadahkan kedua tangannya, beliau tidaklah menurunkan kedua tangannya sehingga mengusap wajahnya dahulu dengan kedua tangannya itu“. (H.R. Imam Turmidzi)

Selanjutnnya Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : Hadits riwayat Turmidzi itu mempunyai beberapa pendukung, diantaranya hadits Ibnu Abbas ra, riwayat Abu Daud dan yang lainnya. Dan jika beberapa hadits itu dipadukan maka derajat hadits itu meningkat menjadi hadits hasan .

MEMERIKSA DIRI SENDIRI


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Di dalam Al-Qur’an Alloh berfirman, lebih kurang maksudnya,

” Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka, Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. ” (Al Zalzalah:6-7)

Tercantum juga dalam Al-Qur’an firman yang berbunyi sebagai berikut :
” maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya. ” (At Takwir:14).

Khalifah Umar ada berkata, ” perhitunglah dirimu sebelum engkau diperhitungkan”.

Alloh SWT berfirman :

” Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan. “.

Wali-wali Alloh sentiasa mengetahui bahwa manusia datang ke dunia ini untuk menjalankan pengembaraan keruhanian, yang akibatnya ialah untung atau rugi dan tujuannya adalah neraka atau syurga. Senantiasalah mereka itu berwaspada terhadap kehendak-kehendak jasamaniah (tubuh) yang diibaratkan sebagai rekan dalam bisnis yang bersifat jahat dan ada kalanya mendatangkan kerugian kepada bisnis itu. Sebenarnya orang yang bijak itu adalah orang yang mau merenung sebentar selepas sembahyang subuh memikirkan hal dirinya dan berkata kepada jiwanya :

“Wahai jiwaku, engkau hanya hidup sekali. Tiap-tiap saat yang berlalu tidak akan datang lagi dan tidak akan dapat diambil kembali kerena di Hadirat Alloh Subhanahuwa Taala, bilangan nafas turun naik yang dikurniakan kepada engkau itu telah ditetapkan dan tidak boleh ditambah lagi. Inilah perjalanan hidup dalam dunia hanya sekali, tidak ada kali yang kedua dan seterusnya. Oleh itu, apa yang engkau hendak perbuat, buatlah sekarang. Anggaplah seolah-olah hidupmu telah berakhir, dan hari ini adalah hari tambahan yang diberi kepada engkau karena karunia Alloh Subhanahuwa Taala juga. Alangkah ruginya membiarkan hari ini berlalu dengan sia-sia. Tidak ada yang lebih rugi dari itu lagi.”

Di hari berbangkit di akhirat kelak, seseorang itu akan melihat semua waktu hidupnya di dunia ini tersusun seperti susunan peti harta dalam satu barisan yang panjang.

Pintu sebuah daripada peti itu terbuka dan kelihatanlah penuh dengan cahaya: Ini menunjukkan waktu yang dipenuhinya dengan membuat amalan yang sholeh. Hatinya akan terasa indah dan bahagia sekali, bahkan sedikit saja rasa bahagia itu pun sudah cukup membuat penghuni neraka melupakan api neraka yang bernyala itu.

Kemudian peti yang kedua terbuka, maka terlihatlah gelap gelita di dalamnya. Dari situ keluarlah bau busuk yang amat sangat hingga orang terpaksa menutup hidungnya: Ini menunjukkan waktu yang dipenuhinya dengan amal maksiat dan dosa. Maka akan dirasainya azab yang tidak terhingga bahkan sedikit saja pun dari azab itu sudah cukup menggusarkan ahli syurga.

Selepas itu terbuka pintu peti yang ketiga, dan kelihatanlah kosong saja, tidak ada gelap dan tidak ada cahaya di dalamnya: Inilah melambangkan waktu yang dihabiskannya dengan tidak membuat amalan sholeh dan tidak juga membuat amalan maksiat dan dosa. Ia akan merasa sesal dan tidak tentu arah seperti orang yang ada mempunyai harta yang banyak membiarkan hartanya terbuang dan lepas begitu saja dengan sia-sia.

Demikianlah seluruh waktu yang dijalannya itu akan dipamerkan kepadanya satu persatu. Oleh karena itu, seseorang itu hendaklah berkata kepada jiwanya tiap-tiap pagi :

“Alloh telah mengkaruniakan engkau dua puluh empat jam peti harta. Berhati-hatilah mengawasinya supaya jangan kehilangan, karena engkau tidak akan boleh menanggung rasa sesal yang amat sangat jika engkau kehilangan harta itu”.

Aulia Alloh ada berkata,

“Walaupun sekiranya Alloh mengampuni kamu, setelah hidup disia-siakan, kamu tidak akan mencapai derajat orang-orang yang Sholeh dan pasti kamu akan meratapi dan manangisi kerugianmu itu. Oleh itu jagalah lidahmu, matamu dan tiap-tiap anggota mu yang tujuh itu kerena semua itu mungkin menjadi pintu untuk menuju ke Neraka”.

Katakanlah kepada tubuhmu; “Jika kamu memberontak, sesungguhnya kamu akan kuhukum”, karena meskipun tubuh itu kotor, ia boleh menerima arahan dan boleh dijinakkan dengan zuhud”. Demikianlah tujuan memeriksa atau memperhitung diri sendiri.

Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda :

“Berbahagialah orang yang beramal sekarang apa yang menguntungkannya di akhirat kelak”.

Maka sekarang kita masuk pula kepada bagian yang berhubungan dengan Zikirulloh (mengenang atau mengingat Alloh). Manusia itu hendaklah ingat bahwa Alloh Melihat dan Memperhatikan semua tingkah laku dan pikirannya. Manusia hanya melihat yang zhohir saja, tetapi Alloh Melihat zhohir dan batinnya manusia itu. Orang yang percaya dengan ini sebenarnya dapatlah ia menguasai dan mendisiplinkan zhohir dan bathinnya.

Jika ia tidak percaya ini, maka KAFIRLAH ia. Jika ia percaya tetapi ia bertindak berlawanan dengan kepercayaan itu, maka salah besarlah ia.

Suatu hari, seorang Negro menemui Nabi SAW. dan berkata; “Wahai Rasulullah! Saya telah melakukan banyak dosa.

Adakah taubatku diterima atau tidak?”. Nabi SAW. menjawab; “Ya”. Kemudian Negro itu berkata lagi, “Wahai Rasulullah! Setiap kali aku membuat dosa adakah Alloh Melihatnya?”. Nabi SAW. menjawab lagi; “Ya”

Negro itu pun menjerit lalu mati. Sehingga seseorang itu benar-benar percaya bahwa ia sentiasa dalam perhatian Alloh, maka tidaklah mungkin baginya membuat amalan yang baik-baik.

Seorang Sheikh ada seorang murid yang lebih disayanginya daripada murid-murid yang lain. Dengan itu murid-murid yang lain itu pun berasa dengki kepada murid yang seorang itu. Suatu hari Sheikh itu memberi kepada tiap-tiap murid itu seekor ayam dan menyuruh mereka menyembelih ayam itu di tempat yang tidak ada seseorang pun melihat ia menyembelih itu. Maka pergilah mereka tiap-tiap murid membawa seekor ayam ke tempat yang sunyi dan menyembelih ayam di situ. Kemudian membawanya kembali kepada Sheikh mereka. Semuanya membawa ayam yang telah disembelih kepada Sheikh mereka kecuali seorang yaitu murid yang lebih disayangi oleh Sheikh itu. Murid yang seorang ini tidak menyembelih ayam itu.

Ia berkata; “Saya tidak menjumpai tempat yang dimaksudkan itu kerena Alloh di mana-manapun Melihat”.

Sheikh itu pun berkata kepada murid-murid yang lain: “Sekarang sekelian telah lihat sendiri derajat pemuda ini. Dia telah mencapai ke taraf ingat sentiasa kepada Alloh”.

Apabila Zulaiha coba menggoda Nabi Yusuf , ia menutup dengan kain muka sebuah berhala yang selalu disimpannya.

Nabi Yusuf berkata kepadanya :

“Wahai Zulaiha, adakah kamu malu dengan batu? sedangkan dengan batu engkau malu, betapa aku tidak malu dengan Alloh yang menjadikan tujuh petala langit dan bumi”.

Ada seorang datang berjumpa dengan Sheikh dan berkata; “Saya tidak dapat menghindarkan mataku dari hal-hal yang membawa dosa. Bagaimanakah saya hendak mengawalnya?”.

Sheikh menjawab; “Dengan cara mengingat Alloh Melihat kamu lebih jelas dan terang lagi daripada kamu melihat orang lain”.

Dalam hadis ada diterangkan bahwa Alloh ada berfirman seperti demikian;

“Syurga itu adalah bagi mereka yang bersabar hendak membuat suatu dosa, dan kemudian mereka ingat bahwa Aku sentiasa Memandang mereka, lalu mereka pun menahan diri mereka”.

Abdullah Ibnu Dinar meriwayatkan;

“Satu ketika saya berjalan dengan Khalifah Omar menghampiri kota Mekah. Kami bertemu dengan seorang gembala yang sedang membawa gembalaannya.

Omar berkata kepada gembala itu : “Jualkan pada saya seekor kambing itu”. Gembala itu menjawab; “Kambing itu bukan saya punya, tuan saya yang mempunyainya.” Kemudian untuk mencobanya,

Omar berkata; “Baiklah, kamu katakanlah kepada tuanmu bahwa yang seekor itu telah dimakan oleh serigala” . Budak gembala itu menjawab; “Tidak, sesungguhnya tuan saya tidak tahu tetapi Alloh Mengetahuinya”.

Mendengar jawapan budak gembala itu, bertetesanlah air mata Omar. Beliau pun pergi berjumpa dengan tuan budak gembala kambing itu lalu membelinya dan membebaskannya. Beliau berkata kepada budak itu : “Karena kata-katamu itu, engkau bebas dalam dunia dan akan bebas juga di akhirat kelak”.

Ada dua derajat berkenaan Zikir Alloh (mengenang Alloh) ini. Derajat pertama ialah derajat Aulia Alloh. Mereka bertafakur dan tenggelam dalam tafakur mereka dalam mengenang Keagungan dan Kemuliaan Alloh. dan tidak ada tempat langsung dalam hati mereka untuk ‘gairuLlah” (selain dari Alloh). Ini adalah derajat zikir Alloh yang bawah, karena apabila hati seseorang itu telah tetap dan anggotanya dikontrol penuh oleh hatinya hingga mereka dapat mengawal mereka dari hal-hal yang halal pun, maka tidak perlulah lagi ia menyediakan alat atau penahan untuk menghalangi dosa.

Maka kepada zikir Alloh seperti inilah Nabi Muhammad (S.W.T) maksudkan apabila ia berkata,

“Orang yang bangun pagi-pagi dengan hanya Alloh dalam hatinya, Alloh akan memeliharanya didunia dan diakhirat.”

Setengah daripada mereka golongan ini sangat asyik dan tenggelam dalam mengenang dalam mengingati Alloh hingga kalau ada orang berbicara kepada mereka tidaklah mereka dengar, kalau orang berjalan dihadapan mereka tidaklah mereka nampak. Mereka seolah-olah diam seperti dinding. Seseorang Wali Alloh berkata : “Suatu hari saya melintasi tempat ahli-ahli pemanah sedang bertanding memanah. Tidak berapa jauh dari situ ada seorang duduk seorang diri. Saya pergi kepadanya dan coba hendak berbicara dengannya.

Tetapi ia menjawab, “Mengenang Alloh itu lebih baik dari berbicara”.

Saya bertanya, “tidakkah kamu merasa kesepian?”

“Tidak” jawabnya, “Alloh dan dua orang malaikat ada bersamaku” .

Saya bertanya kepada beliau sambil menunjukkan kepada pemanah-pemanah itu, “Antara mereka itu, yang manakah akan menang?”

Beliau menjawab, “Yang itu, Alloh telah beri kemenangan kepadanya.”

Kemudian saya bertanya, “dari manakah kamu tahu ?”

Mendengar itu, ia merenung ke langit lalu berdiri dan pergi sambil berkata, “Oh Tuhan! Banyak hamba-hambamu mengganggu seorang yang sedang mengingatimu!”

Seorang wali Alloh bernama Syubli satu hari pergi berjumpa seorang sufi bernama Thauri. Beliau lihat Thauri duduk dengan berdiam diri dalam tafakkur hingga sehelai bulu romanya pun tidak bergerak.

Syubili bertanya kepada Thauri, “Kepada siapa anda belajar latihan bertafakkur dengan diam diri seperti itu?” Thauri menjawab, “Dari seekor kucing yang saya lihat menunggu di depan lubang tikus. Kucing itu akan lebih diam dari apa yang saya lakukan ini.”

Ibn Hanif meriwayatkan:

“Saya diberitahu bahwa di Bandar Thur ada seorang Syeikh dan muridnya sentiasa duduk dan tenggelam dalam zikir Alloh. Saya pergi ke situ dan saya dapati kedua orang itu duduk dengan muka mereka menghadap ke kiblat. Saya memberi salam kepada mereka tiga kali. Tetapi mereka tidak menjawab. Saya berkata, “Dengan nama Alloh saya minta tuan-tuan menjawab salamku”. Pemuda itu mengangkat kepalanya dan menjawab,

“Wahai Ibn Hanif! dunia ini untuk sebentar waktu saja, dan yang sebentar itupun tinggal sedikit saja. Anda mengganggu kami karena meminta kami menjawab salammu itu”.

Kemudian dia menundukkan kepalanya lagi dan terus berdiam diri. Saya rasa lapar dan dahaga pada masa itu, tetapi dengan memandang mereka itu saya lupa pada diri saya. Saya terus bersama mereka dan sembahyang Dhuhur dan Ashar bersama mereka. Saya minta mereka memberi nasihat kepada saya berkenaan kerohanian ini.

Pemuda itu menjawab, ” Wahai Ibni Hanif, kami merasa susah, kami tidak ada lidah untuk memberi nasihat itu.” Saya terus berdiri di sepertiga malam. Kami tidak berbicara antara satu sama lain, dan tidak tidur. Kemudian saya berkata kepada diri saya sendiri, saya akan mohon kepada Alloh supaya mereka menasihati saya.” Pemuda itu mengangkat kepalanya dan berkata,

“Pergilah cari orang seperti itu, ia akan dapat membawa Alloh kepada ingatan anda dan melengkapkan rasa takut kepada hatimu, dan ia akan memberi anda nasihat yang disampaikan secara diam tanpa berbicara sembarangan.”

Demikianlah dzikir Alloh para Aulia yaitu melenyapkan dan menenggelamkan pikiran dan khayalan dalam Mengenang Alloh. Zikir Mengenang Alloh (dzikir Alloh) yang kedua ialah dzikirnya “golongan kanan” yaitu yang disebut dalam Quran sebagai Ashabul Yamin. Mereka ini tahu dan kenal bahwa Alloh sangat mengetahui terhadap mereka dan mereka merasa tunduk dan tawaduk di Hadirat Alloh SWT tetapi tidaklah sampai mereka melenyapkan dan menenggelamkan pikiran dan khayalan mereka dalam mengenang Alloh saja sehingga tidak peduli keadaan keliling mereka. Mereka sadar diri mereka dan sadar terhadap alam ini. Keadaan mereka adalah seperti seorang yang terkejut karena didapati dalam keadaan telanjang dan cepat-cepat menutup aurat mereka.

Golongan yang satu lagi adalah seperti orang yang tiba-tiba mendapati diri mereka di majlis raja yang besar lalu ia merasa tidak tentu arah dan merasa takjub.

Golongan yang mula-mula itu memeriksa terlebih dahulu apa yang memasuki hati mereka dengan rapi sekali, karena di hari kiamat kelak tiga persoalan akan ditanya terhadap tiap-tiap perbuatan. Dan tindakan yang telah dilakukan.

Pertama: “Kenapa kamu membuat ini?” ,

Kedua: “Dengan cara apa kamu membuat ini?”, dan

Ketiga: “Untuk tujuan apa kamu melakukan ini?”.

Yang pertama itu dipermasalahkan karena seseorang itu hendaklah bertindak dari niat dan dorongan Ketuhanan dan bukan dorongan Syaitan dan hawa nafsu.

Jika masalah itu dijawab dengan memuaskan hati, maka diadakan ujian kedua yaitu masalah bagaiman tindakan itu dilakukan dengan bijak, dengan cara baik, atau dengan cara tidak peduli atau tidak baik.

Yang ketiga, adanya perbuatan dan tindakan itu karena Alloh semataa atau bukan karena hendak disanjung oleh manusia.

Jika seseorang itu memahami makna dari masalah masalah ini, maka ia tentu berhati-hati sekali terhadap keadaan hatinya dan bagaimana ia melawan pikiran yang mungkin menimbulkan tindakannya. Sebenarnya memilih dan menapis pikiran dan khayalan itu sangatlah susah dan rumit.

Barangsiapa yang tidak sanggup membuatnya hendaklah pergi berguru dengan orang-orang keruhanian. Mengaji dan berguru dengan mereka itu dapat mendatangkan cahaya ke dalam hati. Dia hendaklah menjauhkan diri dari orang-orang alim kedunian kerena mereka ini adalah alat atau ujian syaitan.

Alloh berfirman kepada Nabi Daud a.s.;
” Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. “. (Shaad:26)

Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda;

“Alloh kasih kepada orang yang tajam matanya terhadap hal-hal yang menimbulkan syak-wasangka dan tidak membiarkan akalnya diganggui oleh serangan hawa nafsu”.

Akal dan pilihan sangat berkaitan, dan orang yang akalnya tidak menguasai hawa nafsu tidak akan dapat memilih yang baik dari yang jahat.

Disamping membuat pilihan dan berhati-hati sebelum bertindak, maka seseorang itu hendaklah menghitung dan menyadari apa yang telah dilakukannya dahulu. Tiap-tiap malam periksalah dengan hati dan lihatlah apa yang telah dilakukan dan sama adanya untung atau rugi dalam bisnis keruhaniaan ini. Ini adalah penting karena hati itu ibarat rekan dalam berbisnis yang jahat yang senantiasa hendak menipu dan menjilat. Kadang-kadang ia menunjukkan diri jahatnya itu. Sebaliknya topeng taat kepada Alloh, agar manusia menganggap ia telah beruntung tetapi sebenarnya ia telah rugi.

Seorang Wali Alloh bernama Amiya yang berumur 60 tahun telah menghitung berapa hari umurnya. Maka didapati umurnya ialah selama 21, 600 hari.

Beliau berkata kepada dirinya sendiri :

“Aduhai! jika saya telah melakukan satu dosa dalam sehari, bagaimana saya hendak lari dari beban 21, 600 dosa?”.

Beliau menjerit dan terus rebah. Apabila orang datang hendak mengangkatkannya, mereka telah mendapati beliau telah meninggal dunia. Tetapi malang , kebanyakan orang telah lupa. Mereka tidak memperhitung diri mereka sendiri. Jika tiap-tiap satu dosa itu diibaratkan sebiji batu, maka penuhlah sebuah rumah dengan batu itu. Jika malaikat Kiraman Kaatibin meminta gaji karena menulis dosa yang telah manusia lakukan, maka tentulah habis uangnya bahkan tidak cukup untuk membayar gaji mereka itu. Orang berpuas hati membilang biji tasbih sambil berzikir nama Alloh, tetapi mereka tidak ada biji tasbih untuk mengira berapa banyak percakapan sia-sia yang telah diucapkannya. Oleh karena itulah, Khalifah Omar berkata :

“Timbanglah perkataan dan perbuatanmu sekarang sebelum ia dipertimbangkan di akhirat kelak”.

Beliau sendiri sebelum pergi tidur malam hari memukul kakinya dengan cambuk sambil berkata : “Apa yang telah engkau lakukan hari ini?”.

Suatu hari Thalhah sedang sembahyang di bawah pohon-pohon kurma dan terlihat olehnya seekor burung yang jinak berterbangan di situ. Karena memandang burung itu beliau terlupa berapa kalikah beliau sujud. Untuk menghukum dirinya karena kelalaian itu, beliau pun memberi pohon-pohon khurma itu kepada orang lain.

Aulia Alloh mengetahui hawa nafsu mereka itu selalu membawa kepada kesesatan. Oleh itu mereka berhati-hati benar dan menghukum diri mereka setiap kali mereka telah melanggar batas.

Jika seseorang itu mendapati diri mereka telah terjauh dan menyeleweng dari sifat zuhud dan disiplin diri, maka sepatutnya beliau belajar dan meminta nasihat dari orang yang pakar dalam latihan keruhanian, supaya hati mereka lebih bersemangat kepada sifat zuhud, disiplin diri dan akhlak yang suci itu.

Seorang Wali Alloh pernah berkata,

“Apabila saya berasa merosot dalam disiplin diri, saya akan melihat Muhammad bin Abu Wasi, dan melihat beliau itu bersemagatlah hatiku sekurang-kurangnya seminggu”.

Jika seseorang itu tidak mendapati seseorang yang zuhud di sekitarnya, maka indahlah mengkaji riwayat Aulia Alloh. indah juga ia menasihat jiwanya seperti demikian :

“Wahai jiwaku! engkau fikir dirimu cerdik pandai dan engkau marah jika disebut bodoh. Maka apakah engkau ini? Engkau sediakan kain baju untuk melindungi dingin tetapi tidak bersedia untuk kembali ke akhirat.

Keadaanmu adalah seperti orang dalam musim sejuk berkata :

“Aku tidak pakai pakaian panas, cukuplah aku bertawakkal kepada Alloh untuk melindungi aku dari dingin”.

Dia telah lupa bahwa Alloh disamping menjadikan dingin itu ada juga memberi petunjuk kepada manusia bagaimana membuat pakaian untuk melindungi dari dari sejuk dan dingin, dan disediakan alat dan bahan-bahan untuk membuat pakaian itu. Ingatlah jiwa! hukuman kepadamu di akhirat kelak bukanlah karena Alloh murka karena tidak patuhmu, dan janganlah berkata :

“Bagaimana pula dosaku boleh menyakiti Alloh?

Adakah hawa nafsumu sendiri yang menyalakan api neraka di dalam dirimu sendiri, seperti orang yang memakan makanan yang membawa penyakit. adalah penyakit itu tejadi dalam tubuh manusia, dan bukan karena dokter marah kepadanya karena tidak mematuhi perintahnya.

“Tidak malukah kamu wahai jiwa! karena kamu sangat cenderung kepada dunia!!!. Jika kamu tidak percaya dengan Syurga dan Neraka, maka sekurang-kurangnya percayalah kepada mati yang akan merampas dari kamu semua keindahan dunia dunia dan membuat kamu merasa kepayahan berpisah dari dunia ini. Semakin kuat keterikan kamu kepada dunia, maka semakin pedihlah yang kamu rasakan.

Apakah dunia ini bagimu? Jika seluruh dunia ini dari Timur ke Barat kepunyaanmu dan menyembahmu, namun itu tidaklah lama. Akan semuanya hancur jadi abu bersama dirimu sendiri dan namamu makin lama makin dilupakan, seperti Raja-raja yang dahulu sebelum kamu. Setelah kamu melihat bagaimana kecil dan kerdilnya kamu di dunia ini, maka kenapa kamu bergila-gila benar menjual keindahan dan kebahagiaan yang abadi dan memilih kebahagian yang sementara seperti menjual intan berlian yang mahal untuk mendapatkan kaca yang tidak berharga, dan menjadikan kamu bahan ketawa orang lain?”

Terjemahan Kitab Kimyatusy- Sya’adah – KIMIA KEBAHAGIAAN – Karya : Imam Al-Ghazali

Malu


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allah Swt berfirman :

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللّهَ يَرََى

Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya الله melihat segala perbuatannya (Al-‘Alaq 14)

رَسُْولُ اللّه SAWW bersabda :

اَلْحَيَاءُ مِنَ الاِيْمَان

“Malu itu sebagian dari iman”.

Suatu hari رَسُْولُ اللّه SAWW memberi pelajaran kepada para sahabat :

اِسْتَحْيُوْامِنَ اللّهِ تَعَالََى  قَالُوْا اِنَّا نَسْتَحْيِيْ يَا نَبِيَّ اللّهِ وَالْحَمْدُ لِلّهِ  قَالَ  لَيْسَ ذلِكَ  وَلَكِنْ مَنِ اسْتتَحْيَا مِنَ اللّهِ حقَّ الْحَيَّا ءِ فَالْيَحْفَطْ الّرأسَ وَمَا وَعَى وَلِيَحْفَظْ الْبَطْنَ وَمَا حَوَى  وَلِيَذْكُرَ الْمَوْتَ وَالْبَلَى  وَمَنْ اَرادَ الآخِرَةَ تَرَكََ زِيْنَةَ الدُّنْيَا  فَمَنْ فَعَلَ ذلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنَ اللّهِ حَقَّ الْحَيَاء

Malulah kalian pada الله dengan sebenar-benar malu”.

Para sahabat menjawab, “Sesungguhnya kami telah merasa malu wahai Nabi Alloh. Kami bersyukur dapat berbuat demikian”.

Beliau bersabda, “Bukan demikian ! akan tetapi orang yang malu pada الله yang sebenarnya adalah orang yang menjaga kepalanya dan apa yang terekam di dalamnya, menjaga perut dan apa yang dihimpunnya, dan ingatlah kalian pada kematian dan bahayanya. Barang siapa menghendaki kampung akhirat maka tinggalkanlah perhiasan dunia. Barang siapa mampu mengerjakan demikian, maka sungguh dia telah malu kepada الله dengan sebenar-benar malu”.

Sebagian orang bijak mengatakan, “Malulah kalian dengan rasa malu yang sesungguhnya di majlis orang-orang yang memiliki rasa malu”.

Ibnu Atha’ mengatakan, “Ilmu terbesar adalah rasa segan dan malu. Jika segan dan malu telah hilang, maka tida ada kebaikan yang tersisa di dalamnya”.

Dzun Nun Al-Mishri mengatakan, “Rasa malu adalah adanya rasa segan di dalam hati bersamaan dengan keterlepasan segala sesuatu yang telah lewat dari dirimu menuju ke hadirat Rabbi-mu”.

Dikatakan, “Cinta adalah berbicara, rasa malu adalah diam membisu, dan rasa takut adalah kegelisahan”.

Abu Utsman mengatakan, “Orang yang berbicara dengan suasana hati yang diliputi rasa malu, tetapi apa yang dibicarakannya tidak di dalam suasana rasa malu karena الله maka dia adalah orang yang menipu”.

Hasan Al-Hadad bertamu ke rumah AbduLlah bin Manazil.

“Dari mana kamu, “ Tanya tuan rumah.

“Dari majlis Abul Qasim Al-Mudzakir”.

“Tentang apa dia berbicara ?”.

“Tentang malu”.

“Sungguh mengherankan orang yang tidak punya rasa malu kepada الله bagaimana dia bisa berbicara masalah malu ?”

As-Sirri As-Saqathi bekata, “Sesunggunya rasa malu dan jinak  memasuki hati. Jika di dalamnya keduanya menemukan zuhud dan wara’ maka keduanya akan turun. Jika tidak, maka keduanya akan pergi”.

Ahmad Al-Jariri mengatakan, “Sebagian manusia pada kurun pertama bekerja sama dengan agama dalam hal-hal di antara mereka hingga agama menjadi tipis. Kemudian pada kurun kedua bekerja sama dengan pemenuhan janji hingga pemenuhan itu sendiri itu hilang. Kemudian pada kurun ketiga bekerjasama dengan keperwiraan hingga keperwiraan itu sendiri hilang. Kemudian pada kurun keempat bekerja sama dengan rasa malu hingga rasa malu itu hilang. Dan akhirnya jadilah api yang bekerja sama dengan kesenangan dan ketakutan. Dikatakan dalam firman-Nya :

وَلَقَدْْ أَهَمَّ بِهِ وَهَمَّ بِِهَا  لَوْلآ أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِِّهِ

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya” (Yusuf 20)

Sesungguhnya burhan atau tanda kebesaran Tuhan (bukti) melemparkan pakaian pada wajah berhala di sisi rumah. Yusuf AS berkata, “Apa yang sedang kamu kerjakan ?”

Burhan tadi menjawab, “Saya malu pada الله”.

Yusuf AS pun menimpalinya, “Saya lebih utama daripada kamu untuk malu kepada الله”.

Di dalam firman-Nya disebutkan, “

فَجَاءتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِى عَلَى اسْتِحْيَاءِ

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan kemalu-maluan (Al-Qashas 25)

Ayat ini ditafsiri dengan mengartikan sesungguhnya wanita itu malu kepada Musa AS karena berani memintanya untuk datang bertamu ke rumahnya. Dia malu pada kemungkinan tidak bersedianya Musa AS atas undanganya. Sifat pengundang yang malu ini merupakan cermin dari sifat malu yang mulia.

Abu Sulaiman Ad-Darani menuturkan bahwa الله berfirman, “Hai Hamba-Ku sesungguhnya engkau tidak malu kepada-Ku padahal Aku telah menjadikan manusia lupa pada aib-aibmu, menjadikan bumi lupa pada dosa-dosamu, menghapus keteledoranmu dari kitab catatan induk dan tidak akan mendebat hasil hitungan (catatan amalmu) pada hari kiyamat”.

Diceritakan ada seorang lelaki mengerjakan shalat di luar masjid, lalu ditanyakan kepadanya, “Mengapa kamu tidak masuk saja dan mengerjakan shalat di dalamnya ?” Dia menjawab, “Saya malu kepada الله untuk masuk ke dalam rumah-Nya sementara saya sering bermaksiyat kepada-Nya”.

Dikatakan diantara tanda-tanda orang yang punya rasa malu adalah tidak melihat “tempat” yang dipandang memalukan.

Sekelompok ulama sufi bercerita,  Kami di waktu malam pernah melakukan perjalanan jauh dan melewati berbagai tempat yang menjadi sarang harimau. Tiba-tiba di tempat itu kami menemukan seorang laki-laki yang sedang tidur sementara kudanya dibiarkan merumput di samping kepalanya. Kami mencoba menggerakkan tubuhnya dan iapun terbangun.

“Tidakkah kamu takut tidur di tempat yang menakutkan. Ini adalah tempat sarang harimau”. Kata kami mencoba mengingatkannya.

Namun lelaki itu tidak menampakkan ketakutan sama sekali di raut wajahnya. Dia mengangkat kepalanya lalu mengatakan, “Saya malu kepada الله untuk takut pada selain-Nya”. Dia kembali meletakkan kepalanya dan tertidur.

الله memberi wahyu kepada Nabi Isa AS, “Nasihatilah dirimu, jika telah menasehati dirimu maka nasihatilah manusia. Jika tidak malulah kamu kepada-Ku untuk memberi nasihat kepada manusia”.

Dikatakan, malu memiliki beberapa bentuk. Malu karena satu pelanggaran sebagaimana Adam AS ketika ditanyakan kepadanya “Apakah kamu akan lari dari Kami ?” lalu dijawab, “Tidak bahkan malu kepada-Mu”.

Malu karena kekurangan sebagaimana yang dikatakan para malaikat, “Maha Suci Engkau tidaklah kami dapat menyembah-Mu sebenar-benar penyembahan”.

Malu karena pengagungan sebagaimana malaikat Israfil AS ketika mengenakan sayapnyan karena malu kapada الله.

Malu karena kemuliaan sebagaimana رَسُْولُ اللّه SAWW yang malu pada umatnya yang hendak meminta mereka keluar (dari acara undangan perjamuan akan tetapi beliau malu mengatakan, maka الله berfirman :

ولآ مُسْتَأ نِسِيْنَ لِحَدِيْثً

Dan janganlah kalian terlalu asyik memperpanjang percakapan (Al-Ahzab 53).

Malu karena hubungan kerabat sebagaimana Imam Ali RA ketika ditanya Miqdad bin Aswad tentang masalah madzi sampai dia menanyakannya kepada رَسُْولُ اللّه SAWW, dia malu karena mengingat kedudukan Fatimah RA sebagai puteri رَسُْولُ اللّه SAWW yang menjadi isterinya.

Malu karena perendahan sebagaimana Nabi Musa AS yang mengatakan, “Sesungguhnya saya butuh sedikit dunia yang membuat saya malu untuk meminta kepada-Mu wahai Tuhan”. الله pun menimpalinya, “Mintalah kepada-Ku hingga adonanmu tergarami dan kambingmu diberi makan”.

Malu karena penganugerahan. Malu semacam ini merupakan sifat malu milik Tuhan yang terjadi ketika Dia menyodorkan buku catatan kepada hamba setelah dia selesai melewati shiratal mustaqim menuju surga. Tuhan memberikan buku catatan itu dalam keadaan tertutup rapat seraya mengatakan, “Enkau telah melakukan ….engkau telah melakukan…. Saya sungguh malu untuk menampakkan catatan itu kepadamu. Pergi, dan saya benar-benar telah mengampunimu”.

Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan bahwa Yahya bin Muadz mengatakan, “Maha Suci Dzat yang hamba-Nya berbuat dosa namun Dia malu kepadanya”.

Fudhail bin Iyadh mengatakan, “Ada lima tanda kesengsaraan yaitu hati yang keras, mata yang beku, sedikit malu, cinta dunia, dan panjang angan-angan”. Dalam sebagian kitab disebutkan, “tidak ada seorang hambapun yang mencapai separuh hak-Ku. Dia berdoa kepada-Ku dan Saya malu menolaknya. Di bermaksiyat kepada-Ku tetapi tidak malu kepada-Ku”.

Yahya bin Muadz mengatakan, “Barang siapa malu kepada الله dalam keadaan ta’at, maka الله akan malu kepadanya ketika dia melakukan dosa”. Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “Ketahuilah sesungguhnya malu mengharuskan pencarian”.. dikatakan pula, malu adalah pengerutan hati untuk pengagungan Tuhan. Dikatakan, jika seseorang duduk untuk memberikan peringatan kepada manusia, maka dua malaikat memangggilnya seraya berkata, “Nasihatilah dirimu dengan apa-apa yang kamu nasihatkan kepada kawanmu. Jiak tidak, maka malulah kepada Tuhanmu Yang selalu melihatmu.

Al-Junaid ditanya tentang malu, lalu dijawab,” Memandang buruk dan kurang  terhadap perbuatan baikmu. Diantara dua perbuatan itu akan lahir suatu kondisi yang dinamakan malu”

Muhammad Al Washiti berkata, “Tidak akan merasakan kelezatan malu seseorang yang merobek ketentuan hukum atau melanggar janji”.

Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “Malu adalah meninggalkan pengakuan di hadapan الله”. Abu Bakar Al-Warraq berkata, “Terkadang saya shalat dua reka’at karena الله lalu berpaling dari keduanya. Kondisi saya dalam posisi sebagai orang yang berpaling dari pencurian semacam ini merupakan bentuk rasa malu”.



ILHAM QALBI DAN PENYINGKAPAN RUHANI (KASYF MA’NAWI)


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Syaik ABDUL QADIR JAILANI Qsa ADALAH SEORANG WALI ALLAH YANG MEMILIKI KEISTIMEWAAN YAITU KEDEKATANNYA DENGAN SANG PENCIPTA. SAKING DEKATNYA DIA DENGAN ALLAH SWT, MAKA DIA DIJULUKI PEMIMPIN PARA WALI ALLAH YANG ADA DI MUKA BUMI INI. HIDUPNYA BERTABUR KEAJAIBAN SEJAK BAYI HINGGA WAFAT. SEJARAH HIDUPNYA PENUH MIKJIZAT DAN KERAMAT. TIDAK MENGHERANKAN IA DIAKUI SEBAGAI PEMIMPIN WALI KERAMAT DALAM SEJARAH KEWALIAN. BAHKAN IBNU TAIMIYAH SENDIRI PERNAH MENYAKSIKAN BERBAGAI FENOMENA MUKJIZAT DALAM DIRI Syaikh ABDUL QADIR AL JAILANI Qsa.

KENAPA DIA DIBERI KAROMAH YANG BEGITU DAHSYAT? UNTUK MENGETAHUI KUNCINYA, DISINI AKAN DIPAPARKAN KARYA Syaikh ABDUL QODIR JAILANI Qsa RISALAH AL GHAUTSIYYAH.      KARYA INI ADALAH SEBENTUK DIALOG BATINIAH ANTARA ALLAH SWT (DIA) DAN SYEKH ABDUL QADIR AL JAILANI Qsa (AKU), YANG DITERIMA MELALUI ILHAM QALBI DAN PENYINGKAPAN RUHANI (KASYF MA’NAWI).

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Sang Penghapus Duka. Shalawat atas manusia terbaik, Muhammad SAW. Berkatalah sang wali agung (Syaikh Abdul Qadir Al Jailani Qsa ), kepada ALLAH SWT.

Allah SWT Berkata : “Wahai wali agung!”
Aku menjawab : “Aku mendengar panggilan-Mu, Wahai Tuhannya si wali.”

Dia Berkata : “Setiap tahapan antara alam Naasut (ALAM MANUSIA) dan alam Malakut adalah syariat; setiap tahapan antara alam Malakut dan Jabarut adalah tarekat; dan setiap tahapan antara alam Jabarut dan alam Lahut adalah hakikat.”

Lalu Dia berkata kepadaku : “Wahai wali agung ! Aku tidak pernah mewujudkan Diri-Ku dalam sesuatu sebagaimana perwujudanKu dalam diri manusia.”

Lalu aku bertanya : “Wahai Tuhanku, apakah Engkau memiliki tempat ?”, Maka Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, Akulah Pencipta tempat, dan Aku tidak memiliki tempat.”

Lalu aku bertanya : “Wahai Tuhanku, apakah Engkau makan dan minum ?”, Maka Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, makanan dan minuman kaum fakir adalah makanan dan minuman-Ku.”

Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, dari apa Engkau ciptakan malaikat ?”. Dia Berkata kepadaku : “Aku Ciptakan malaikat dari cahaya manusia, dan Aku Ciptakan manusia dari cahaya-Ku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, Aku Jadikan manusia sebagai kendaraan-Ku, dan Aku jadikan seluruh isi alam sebagai kendaraan baginya.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, betapa indahnya Aku sebagai Pencari ! Betapa indahnya manusia sebagai yang dicari ! Betapa indahnya manusia sebagai pengendara, dan betapa indahnya alam sebagai kendaraan baginya.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah Rahasianya. Jika manusia menyadari kedudukannya di sisi-Ku, maka ia akan berucap pada setiap hembusan nafasnya, ‘milik siapakah kekuasaan pada hari ini ?’.

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, tidaklah manusia makan sesuatu, atau minum sesuatu, dan tidaklah ia berdiri atau duduk, berbicara atau diam, tidak pula ia melakukan suatu perbuatan, menuju sesuatu atau menjauhi sesuatu, kecuali Aku Ada [Berperan] di situ, Bersemayam dalam dirinya dan Menggerakkannya.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, tubuh manusia, jiwanya, hatinya, ruhnya, pendengarannya, penglihatannya, tangannya, kakinya, dan lidahnya, semua itu Aku Persembahkan kepadanya oleh Diri-Ku, untuk Diri-Ku. Dia tak lain adalah Aku, dan Aku Bukanlah selain dia.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, jika engkau melihat seseorang terbakai oleh api kefakiran dan hancur karena banyaknya kebutuhan, maka dekatilah ia, karena tidak ada penghalang antara Diri-Ku dan dirinya.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, janganlah engkau makan sesuatu atau minum sesuatu dan janganlah engkau tidur, kecuali dengan kehadiran hati yang sadar dan mata yang awas.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, barangsiapa terhalang dari perjalanan-Ku di dalam batin, maka ia akan diuji dengan perjalanan lahir, dan ia tidak akan semakin dekat dari-Ku melainkan justru semakin menjauh dalam perjalanan batin.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, kemanunggalan ruhani merupakan keadaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Siapa yang percaya dengannya sebelum mengalaminya sendiri, maka ia telah kafir. Dan barang siapa menginginkan ibadah setelah mencapai keadaan wushul, maka ia telah menyekutukan Allah SWT.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, barangsiapa memperoleh kebahagiaan azali, maka selamat atasnya, dia tidak akan terhina selamanya. Dan barang siapa memperoleh kesengsaraan azali, maka celaka baginya, dia tidak akan diterima sama sekali setelah itu.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, Aku Jadikan kefakiran dan kebutuhan sebagai kendaraan manusia. Barangsiapa menaikinya, maka ia telah sampai di tempatnya sebelum menyeberangi gurun dan lembah.”

Lalu Dia Berkatak kepadaku : “Wahai wali agung, bila manusia mengetahui apa yang terjadi setelah kematian, tentu ia tidak menginginkan hidup di dunia ini. Dan ia akan berkata di setiap saat dan kesempatan, ‘Tuhan, matikan aku !’.

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, semua makhluk pada hari kiamat akan dihadapkan kepadaKu dalam keadaan tuli, bisu dan buta, lalu merasa rugi dan menangis. Demikian pula di dalam kubur.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, cinta merupakan tirai yang membatasi antara sang pencinta dan yang dicintai. Bila sang pencinta telah padam dari cintanya, berarti ia telah sampai kepada Sang Kekasih.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, Aku Melihat Ruh-ruh menunggu di dalam jasad-jasad mereka setelah ucapanNya, ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu ?’ sampai hari kiamat.”

Lalu sang wali berkata : “Aku melihat Tuhan Yang Maha Agung dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, barangsiapa bertanya kepadaKu tentang melihat setelah mengetahui, berrti ia terhalang dari pengetahuan tentang melihat. Barangsiapa mengira bahwa melihat tidak sama dengan mengetahui, maka berarti ia telah terperdaya oleh melihat Allah SWT.’

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, orang fakir dalam pandangan-Ku bukanlah orang yang tidak memiliki apa-apa, melainkan orang fakir adalah ia yang memegang kendali atas segala sesuatu. Bila ia berkata kepada sesuatu, ‘jadilah !’ maka terjadilah ia.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Tak ada persahabatan dan kenikmatan di dalam surga setelah kemunculan-Ku di sana, dan tak ada kesendirian dan kebakaran di dalam neraka setelah sapaan-Ku kepada para penghuninya.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, Aku Yang Paling Mulia di antara semua yang mulia, dan Aku Yang Paling Penyayang di antara semua penyayang.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, tidurlah di sisi-Ku tidak seperti tidurnya orang-orang awam, maka engkau akan melihatKu.” Terhadap hal ini aku bertanya : “Wahai Tuhanku, bagaimana aku tidur disisi-Mu ?”. Dia Berkata : “Dengan menjauhkan jasmani dari kesenangan, menjauhkan nafsu dari syahwat, menjauhkan hati dari pikiran dan perasaan buruk, dan menjauhkan ruh dari pandangan yang melalaikan, lalu meleburkan dzatmu di dalam Dzat.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, katakan kepada sahabatmu dan pencintamu, siapa di antara kalian yang menginginkan kedekatan dengan-Ku, maka hendaklah ia memilih kefakiran, lalu kefakiran dari kefakiran. Bila kefakiran itu telah sempurna, maka tak ada lagi apapun selain Aku.”

Lalu Dia Berkata : “Wahai wali agung, berbahagialah jika engkau mengasihi makhluk-makhluk-Ku, dan beruntunglah jika engkau memaaafkan makhluk-makhluk-Ku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, katakan kepada pencintamu dan sahabatmu, ambillah manfaat dari do’a kaum fakir, karena mereka bersama-Ku dan Aku Bersama mereka.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, Aku Bersama segala sesuatu, Tempat Tinggalnya, Pengawasnya, dan kepada-Ku tempat kembalinya.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, jangan peduli pada surga dan apa yang ada di sana, maka engkau akan melihat Aku tanpa perantara. Dan jangan peduli pada neraka serta apa yang ada di sana, maka engkau akan melihat Aku tanpa perantara.”16

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, para penghuni surga disibukkan oleh surga, dan para penghuni neraka disibukkan oleh-Ku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, sebagian penghuni surga berlindung dari kenikmatan, sebagaimana penghuni neraka berlindung dari jilatan api.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, barangsiapa disibukkan dengan selain Aku, maka temannya adalah sabuk [tanda kekafiran] pada hari kiamat.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, orang-orang yang dekat mencari pertolongan dari kedekatan, sebagaimana orang-orang yang jauh mencari pertolongan dari kejauhan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, sesungguhnya Aku Memiliki hamba-hamba yang bukan nabi maupun rasul, yang kedudukan mereka tidak diketahui oleh siapapun dari penghuni dunia maupun penghuni akhirat, dari penghuni surga ataupun neraka, tidak juga malaikat Malik ataupun Ridwan, dan Aku Tidak Menjadikan mereka untuk surga maupun untuk neraka, tidak untuk pahala ataupun siksa, tidak untuk bidadari, istana maupun pelayan-pelayan mudanya. Maka beruntunglah orang yang mempercayai mereka meski belum mengenal mereka.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, engkau adalah salah satu dari mereka. Dan di antara tanda-tanda mereka di dunia adalah tubuh-tubuh mereka terbakar karena sedikitnya makan dan minum; nafsu mereka telah hangus dari syahwat, hati mereka telah hangus dari pikiran dan perasaan buruk, ruh-ruh mereka juga telah hangus dari pandangan yang melalaikan. Mereka adalah pemilik keabadian yang terbakar oleh cahaya perjumpaan [dengan Tuhan].”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, bila seseorang yang haus datang kepadamu di hari yang amat panas, sedangkan engkau memiliki air dingin dan engkau sedang tidak membutuhkan air, jika engkau menahan air itu baginya, maka engkau adalah orang yang paling kikir. Bagaimana Aku Menolak mereka dari rahmat-Ku padahal Aku Telah Menetapkan atas Diri-Ku, bahwa Aku Paling Pengasih di antara yang mengasihi.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, tak seorang pun dari ahli maksiat yang jauh dari-Ku, dan tak seorangpun dari ahli ketaatan yang dekat dari-Ku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, bila seseorang dekat kepada-Ku, maka ia adalah dari kalangan maksiat, karena ia merasa memiliki kekurangan dan penyesalan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, merasa memiliki kekurangan merupakan sumber cahaya, dan mengagumi cahaya diri sendiri merupakan sumber kegelapan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, ahli maksiat akan tertutupi oleh kemaksiatannya, dan ahli taat akan tertutupi oleh ketaatannya. Dan Aku Memiliki hamba-hamba selain mereka, yang tidak ditimpa kesedihan maksiat dan keresahan ketaatan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, sampaikan kabar gembira kepada para pendosa tentang adanya keutamaan dan kemurahan, dan sampaikan berita kepada para pengagum diri sendiri tentang adanya keadilan dan pembalasan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, ahli ketaatan selalu mengingat kenikmatan, dan ahli maksiat selalu mengingat Yang Maha Pengasih.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, Aku Dekat dengan pelaku maksiat setelah ia berhenti dari kemaksiatannya, dan Aku Jauh dari orang yang taat setelah ia berhenti dari ketaatannya.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, Aku Menciptakan orang awam namun mereka tidak mampu memandang cahaya kebesaran-Ku, maka Aku Meletakkan tirai kegelapan di antara Diri-Ku dan mereka. Dan Aku Menciptakan orang-orang khusus namun mereka tidak mampu mendekati-Ku dan mereka sebagai tirai penghalang.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, katakan kepada para sahabatmu, siapa di antara mereka yang ingin sampai kepada-Ku, maka ia harus keluar dari segala sesuatu selain Aku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, keluarlah dari batas dunia, maka engkau akan sampai ke akhirat. Dan keluarlah dari batas akhirat, maka engkau akan sampai kepada-Ku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, keluarlah engkau dari raga dan jiwamu, lalu keluarlah dari hati dan ruhmu, lalu keluarlah dari hukum dan perintah, maka engkau akan sampai kepada-Ku.”

Maka aku bertanya : “Wahai Tuhanku, shalat sepert apa yang paling dekat dengan-Mu ?.” Dia Berkata : “Shalat yang di dalamnya tiada apapun kecuali Aku, dan orang yang melakukannya lenyap dari shalatnya dan tenggelam karenanya.”1

Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, puasa seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Berkata : “Puasa yang di dalamnya tiada apa pun selain Aku, dan orang yang melakukannya lenyap darinya.”

Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, amal apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Berkata : “Amal yang di dalamnya tiada apa pun selain Aku, baik itu [harapan] surga ataupun [ketakutan] neraka, dan pelakunya lenyap darinya.”

Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, tangisan seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Berkata : “Tangisan orang-orang yang tertawa.” Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, tertawa seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Berkata : “Tertawanya orang-orang yang menangis karena bertobat.” Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, tobat seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Menjawab : “Tobatnya orang-orang yang suci.” Lalu aku bertanya : “Wahai Tuhanku, kesucian seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Menjawab : “Kesucian orang-orang yang bertobat.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, pencari ilmu di mata-Ku tidak mempunyai jalan kecuali setelah ia mengakui kebodohannya, karena jika ia tidak melepaskan ilmu yang ada padanya, ia akan menjadi setan.”

Berkatalah sang wali agung : “Aku bertemu Tuhanku SWT dan aku bertanya kepada-Nya, ‘Wahai Tuhan, apa makna kerinduan [‘isyq] ?’, Dia Menjawab : ‘Wahai wali agung, [artinya] engkau mesti merindukan-Ku dan mengosongkan hatimu dari selain Aku.’” Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, jika engkau mengerti bentuk kerinduan maka engkau harus lenyap dari kerinduan, karena ia merupakan penghalang antara si perindu dan yang dirindukan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, bila engkau berniat melakukan tobat, maka pertama kali engkau harus bertobat dari nafsu, lalu mengeluarkan pikiran dan perasaan buruk dari hati dengan mengusir kegelisahan dosa, maka engkau akan sampai kepada-Ku. Dan hendaknya engkau bersabar, karena bila tidak bersabar berarti engkau hanya bermain-main belaka.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, bila engkau ingin memasuki wilayah-Ku, maka hendaknya engkau tidak berpaling kepada alam mulk, alam malakut, maupun alam jabarut. Karena alam mulk adalah setannya orang berilmu, dan malakut adalah setannya ahli makrifat, dan jabarut adalah setannya orang yang sadar. Siapa yang puas dengan salah satu dari ketiganya, maka ia akan terusir dari sisi-Ku.”

Dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, perjuangan spiritual [mujahadah] adalah salah satu lautan di samudera penyaksian [musyahadah] dan tela dipilih oleh orang-orang yang sadar. Barangsiapa hendak masuk ke samudera musyahadah, maka ia harus memilih mujahadah, karena mujahadah merupakan benih dari musyahadah dan musyahadah tanpa mujahadah adalah mustahil. Barangsiapa telah memilih mujahadah, maka ia akan mengalami musyahadah, dikehendaki atau tidak dikehendaki.”

Dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, para pencari jalan spiritual tidak dapat berjalan tanpa mujahadah, sebagaimana mereka tak dapat melakukannya tanpa Aku.”

Dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, sesungguhnya hamba yang paling Ku Cintai adalah hamba yang mempunyai ayah dan anak tetapi hatinya kosong dari keduanya. Jika ayahnya meninggal, ia tidak sedih karenanya, dan jika anaknya pun meninggal, ia pun tidak gundah karenanya. Jika seorang hamba telah mencapai tingkat seperti ini, maka di sisi-Ku tanpa ayah dan tanpa anak, dan tak ada bandingan baginya.”

Dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, siapa yang tidak merasakan lenyapnya seorang ayah karena kecintaan kepada-Ku dan lenyapnya seorang anak karena kecintaan kepada-Ku, maka ia tak akan merasakan lezatnya Kesendirian dan Ketunggalan.”

Dia juga Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, bila engkau ingin memandang-Ku di setiap tempat, maka engkau harus memilih hati resah yang kosong dari selain Aku.” Lalu aku bertanya : “Tuhanku, apa ilmunya ilmu itu ?.” Dia Menjawab : “Ilmunya ilmu adalah ketidaktahuan akan ilmu.”

Dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, berbahagialah seorang hamba yang hatinya condong kepada mujahadah, dan celakalah bagi hamba yang hatinya condong kepada syahwat.”

Lalu aku bertanya kepada Tuhanku SWT tentang mi’raj. Dia Berkata : “Mi’raj adalah naik meninggalkan segala sesuatu kecuali Aku, dan kesempurnaan mi’raj adalah pandangan tidak berpaling dan tidak pula melampauinya [ QS 53 : 17].” Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, tidak ada shalat bagi orang yang tidak melakukan mi’raj kepada-Ku.”