Riwayat Hidup Al-Hasan dan Al-Husain

Bismillahir Rahmanir Rahiim


Beliau dilahirkan pada bulan Ramadhan tahun ke-3 Hijriyah menurut kebanyakan para
ulama sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar. (lihat Fathul Bari juz VII, hal. 464)
Setelah ayah beliau Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu terbunuh, sebagian kaum
muslimin membai’at beliau, tetapi bukan karena wasiat dari Ali. Berkata Syaikh
Muhibbudin al-Khatib bahwa diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya juz
ke-1 hal. 130 -setelah disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib akan terbunuh- mereka
berkata kepadanya: “Tentukanlah penggantimu bagi kami.” Maka beliau menjawab:
“Tidak, tetapi aku tinggalkan kalian pada apa yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam….”
Dan disebutkan oleh beliau (Muhibuddin Al-Khatib) beberapa hadits dalam masalah ini.
(Lihat Ta’liq kitab Al-‘Awashim Minal Qawashim, Ibnul Arabi, hal. 198-199). Tetapi
setelah itu Al-Hasan menyerahkan ketaatannya kepada Mu’awiyah untuk mencegah
pertumpahan darah di kalangan kaum muslimin.
Kisah tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab As-Shulh dari Imam AlHasan Al-Bashri, dia berkata: -Demi Allah- Al-Hasan bin Ali telah menghadap
Mu’awiyah beserta beberapa kelompok pasukan berkuda ibarat gunung, maka
berkatalah ‘Amr bin ‘Ash: “Sungguh aku berpendapat bahwa pasukan-pasukan tersebut
tidak akan berpaling melainkan setelah membunuh pasukan yang sebanding
dengannya”. Berkata kepadanya Mu’awiyah -dan dia demi Allah yang terbaik di antara
dua orang-: “Wahai ‘Amr! Jika mereka saling membunuh, maka siapa yang akan
memegang urusan manusia? Siapa yang akan menjaga wanita-wanita mereka? Dan
siapa yang akan menguasai tanah mereka?”
Maka ia mengutus kepadanya (Al-Hasan) dua orang utusan dari Quraisy dari Bani
‘Abdi Syams Abdullah bin Samurah dan Abdullah bin Amirbin Kuraiz, ia berkata:
“Pergilah kalian berdua kepada orang tersebut! Bujuklah dan ucapkan kepadanya serta
mintalah kepadanya (perdamaian -peny.)” Maka keduanya mendatanginya, berbicara
dengannya dan memohon padanya…) kemudian di akhir hadits Al-Hasan bin Ali
meriwayatkan dari Abi Bakrah bahwa dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam di atas mimbar dan Hasan bin Ali di sampingnya beliau sesaat menghadap
kepada manusia dan sesaat melihat kepadanya seraya berkata:
إِ نﱠ اﺑْﻨِﻰ هَﺬَا ﺳَﻴﱢﺪٌ، وَ ﻟَ ﻌَ ﻞﱠ ا ﷲَ أَ نْ
ﻳُ ﺼْ ﻠِ ﺢَ ﺑِ ﻪِ ﺑَ ﻴْ ﻦَ ﻓِ ﺌَ ﺘَ ﻴْ ﻦِ ﻋَ ﻈِ ﻴْ ﻤَ ﺘَ ﻴْ ﻦِ ﻣِ ﻦَ
ا ﻟْ ﻤُ ﺴْ ﻠِ ﻤِ ﻴْ ﻦَ. (رواﻩ اﻟﺒﺨﺎرى ﻣﻊ اﻟﻔﺘﺢ
۷/٦٤۷ رﻗﻢ
٢۷٠٤)
Sesungguhnya anakku ini adalah sayyid, semoga Allah akan mendamaikan dengannya
antara dua kelompok besar dari kalangan kaum muslimin. (HR. Bukhari dengan Fathul
Bari, juz V, hal. 647, hadits no. 2704) 4
Berkata Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah: “….Al-Husein menyalahkan saudaranya AlHasan atas pendapat ini, tetapi beliau tidak mau menerimanya. Dan kebenaran ada pada
Al-Hasan sebagaimana dalil yang akan datang….” (lihat AlBidayah wan Nihayah, juz
VIII hal. 17). Yang dimaksud oleh beliau adalah dalil yang sudah kita sebutkan di atas
yang diriwayatkan dari Abi Bakrah radhiyallahu ‘anhu.
Itulah keutamaan Al-Hasan yang paling besar yang dipuji oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Maka bersatulah kaum muslimin hingga tahun tersebut terkenal
dengan tahun jama’ah.
Yang mengherankan justru kaum Syi’ah Rafidlah menyesali kejadian ini dan
menjuluki Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu sebagai ‘pencoreng wajah- wajah kaum
mukminin’. Sebagian mereka menganggapnya fasik sedangkan sebagian lagi bahkan
mengkafirkannya karena hal itu. Berkata Syaikh Muhibbudin Al-Khatib mengomentari
ucapan Rafidlah ini sebagai berikut: “Padahal termasuk dari dasar-dasar keimanan
Rafidlah -bahkan dasar keimanan yang paling utama- adalah keyakinan mereka bahwa
Al-Hasan, ayah, saudara dan sembilan keturunannya adalah maksum. Dan dari
konsekwensi kemaksuman mereka, bahwa mereka tidak akan berbuat kesalahan. Dan
setiap apa yang bersumber dari mereka berarti hak yang tidak akan terbatalkan.
Sedangkan apa yang bersumber dari Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma yang paling
besar adalah pembai’atan terhadap amiril mukminin Mu’awiyah, maka mestinya mereka
pun masuk dalam bai’at ini dan beriman bahwa ini adalah hak karena ini adalah amalan
seorang yang maksum menurut mereka. (Lihat catatan kaki kitab Al- Awashim minal
Qawashim hal. 197-198). Tetapi kenyataannya mereka menyelisihi imam mereka
sendiri yang maksum bahkan menyalahkannya, menfasikkannya, atau mengkafirkannya.
Sehingga terdapat dua kemungkinan:
Pertama, mereka berdusta atas ucapan mereka tentang kemaksuman dua belas imam,
maka hancurlah agama mereka (agama Itsna ‘Asyariyyah).
Kedua, mereka meyakini kemaksuman Al-Hasan, maka mereka adalah para pengkhianat
yang menyelisihi imam yang maksum dengan permusuhan dan kesombongan serta
kekufuran. Dan tidak ada kemungkinan yang ketiga.
Adapun Ahlus Sunnah yang beriman dengan kenabian “kakek Al-Hasan” shallallahu
‘alaihi wa sallam berpendapat bahwa perdamaian dan bai’at beliau kepada Mu’awiyah
radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu bukti kenabian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan amal terbesar Al-Hasan serta mereka bergembira dengannya kemudian
menganggap AlHasan yang memutihkan wajah kaum mukminin.
Demikianlah khilafah Mu’awiyah berlangsung dengan persatuan kaum muslimin karena
Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebab pengorbanan Al-Hasan bin Ali radhiyallahu
‘anhu yang besar yang dia -demi Allah-lebih berhak terhadap khilafah daripada
Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Bakar Ibnul Arabi
dan para ulama. Semoga Allah meridlai seluruh para shahabat Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. 5
Pada tahun ke 10 masa khilafah Mu’awiyah meninggallah Al-Hasan radhiyallahu `anhu
pada umur 47 tahun. Dan ini yang dianggap shahih oleh Ibnu Katsir, sedangkan yang
masyhur adalah 49 tahun. Wallahu A’lam bish-Shawab. Ketika beliau diperiksa oleh
dokter, maka dia mengatakan bahwa Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu meninggal karena
racun yang memutuskan ususnya. Namun tidak diketahui dalam sejarah siapa yang
membunuhnya.
Adapun ucapan Rafidlah yang menuduh pihak Mu’awiyah sebagai pembunuhnya sama
sekali tidak dapat diterima sebagaimana dikatakan oleh Ibnul ‘Arabi dengan ucapannya:
“Kami mengatakan bahwa hal ini tidak mungkin karena dua hal: pertama, bahwa dia
(Mu’awiyah) sama sekali tidak mengkhawatirkan kejelekan apapun dari Al-Hasan
karena beliau telahmenyerahkan urusannya kepada Mu’awiyah. Yang kedua, hal ini
adalah perkara ghaib yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, maka
bagaimana mungkin menuduhkannya kepada salah seorang makhluk-Nya tanpa bukti
pada zaman yang berjauhan yang kita tidak dapat mudah percaya dengan nukilan
seorang penukil dari kalangan pengikut hawa nafsu (Syi’ ah). Dalam keadaan fitnah dan
Ashabiyyah, setiap orang akan menuduh lawannya dengan tuduhan yang tidak
semestinya, makatidak mungkin diterima kecuali dari seorang yang bersih dan tidak
didengar darinya kecuali keadilan.” (Lihat Al-washim minal Qawashim hal. 213-214)
Demikian pula dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bahwa tuduhan Syi’ah
tersebut tidak benar dan tidak didatangkan dengan bukti syar’i serta tidak pula ada
persaksian yang dapat diterima dan tidak ada pula penukilan yang tegas tentangnya.
(Lihat Minhajus
Sunnah juz 2 hal. 225)
Semoga Allah merahmati Al-Hasan bin Ali dan meridlainya dan melipatgandakan
pahala amal dan jasa-jasanya. Dan semoga Allah menerimanya sebagai syahid. Amiin.
Riwayat Hidup Al-Husein dan Peristiwa Pembunuhannya
Beliau dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun ke-empat Hijriyah. Diriwayatkan bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mentahnik (yakni mengunyahkan kurma
kemudian dimasukkan ke mulut bayi dengan digosokkan ke langit-langitnya -pent.),
mendoakan dan menamakannya Al-Husein. Demikianlah dikatakan oleh Ibnu Katsir
dalam Al-Bidayah wan Nihayah, juz VIII, hal. 152.
Berkata Ibnul Arabi dalam kitabnya Al-Awashim minal Qawashim: “Disebutkan oleh
ahli tarikh bahwa surat-surat berdatangan dari ahli kufah kepada Al-Husein (setelah
meninggalnya Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu). Kemudian Al-Husein mengirim Muslim
Ibnu Aqil, anak pamannya kepada mereka untuk membai’at mereka dan melihat
bagaimana keikutsertaan mereka. Maka Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu memberitahu
beliau (Al-Husein) bahwa mereka dahulu pernah mengkhianati bapak dan saudaranya.
Sedangkan Ibnu Zubair mengisyaratkan kepadanya agar dia berangkat, maka
berangkatlah Al- Husein. Sebelum sampai beliau di Kufah ternyata Muslim Ibnu Aqil
telah terbunuh dan diserahkan kepadanya oleh orang-orang yang memanggilnya. 6
“Cukup bagimu ini sebagai peringatan bagi yang mau mengambil peringatan”
(kelihatannya yang dimaksud adalah ucapan Ibnu Abbas kepada Al-Husein -pent.).
Tetapi beliau radhiyallahu ‘anhu tetap melanjutkan perjalanannya dengan marah karena
dien dalam rangka menegakkan al-haq. Bahkan beliau tidak mendengarkan nasehat
orang yang paling alim pada jamannya yaitu ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dan
menyalahi pendapat syaikh para shahabat yaitu Ibnu Umar. Beliau mengharapkan
permulaan pada akhir (hidup -pent.), mengharapkan kelurusan dalam kebengkokan dan
mengharapkan keelokan pemuda dalam rapuh ketuaan.
Tidak ada yang sepertinya di sekitarnya, tidak pula memiliki pembela-pembela yang
memelihara haknya atau yang bersedia mengorbankan dirinya untuk membelanya.
Akhirnya kita ingin mensucikan bumi dari khamr Yazid, tetapi kita tumpahkan darah
Al-Husein, maka datang
kepada kita musibah yang menghilangkan kebahagiaan jaman. (lihat Al-Awashim minal
Qawashim oleh Abu Bakar Ibnul ‘Arabi dengan tahqiq dan ta’liq Syaikh Muhibbuddin
Al-Khatib, hal. 229-232)
Yang dimaksud oleh beliau dengan ucapannya ‘Kita ingin mensucikan bumi dari khamr
Yazid, tetapi kita tumpahkan darah Al-Husein’ adalah bahwa niat Al-Husein dengan
sebagian kaum muslimin untuk mensucikan bumi dari khamr Yazid yang hal ini masih
merupakan tuduhan-tuduhan dan tanpa bukti, tetapi hasilnya justru kita menodai bumi
dengan darah Al-Husein yang suci. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhibbudin AlKhatib dalam ta’liq-nya terhadap buku Al-Awashim Minal Qawashim.
Ketika Al-Husein ditahan oleh tentara Yazid, Samardi Al-Jausyan mendorong Abdullah
bin Ziyad untuk membunuhnya. Sedangkan Al-Husein meminta untuk dihadapkan
kepada Yazid atau dibawa ke front untuk berjihad melawan orang-orang kafir atau
kembali ke Mekah. Namun mereka tetap membunuh Al-Husein dengan dhalim sehingga
beliau meninggal dengan syahid radhiyallahu ‘anhu. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Al-Husein terbunuh di Karbala di dekat Eufrat
dan jasadnya dikubur di tempat terbunuhnya, sedangkan kepalanya dikirim ke hadapan
Ubaidillah bin Ziyad di Kufah. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam
Shahihnya dan dari
para imam yang lain.
Adapun tentang dibawanya kepala beliau kepada Yazid telah diriwayatkan dalam
beberapa jalan yang munqathi’ (terputus) dan tidak benar sedikitpun tentangnya.
Bahkan dalam riwayat-riwayat tampak sesuatu yang menunjukkan kedustaan dan
pengada-adaan riwayat tersebut.
Disebutkan padanya bahwa Yazid menusuk gigi taringnya dengan besi dan bahwasanya
sebagian para shahabat yang hadir seperti Anas bin Malik, Abi Barzah dan lain-lain
mengingkarinya. Hal ini adalah pengkaburan, karena sesungguhnya yang menusuk
dengan besi adalah ‘Ubaidilah bin Ziyad. Demikian pula dalam kitab-kitab shahih dan
musnad, bahwasanya mereka menempatkan Yazid di tempat ‘Ubaidilah bin Ziyad.
Adapun ‘Ubaidillah, tidak diragukan lagi bahwa dialah yang memerintahkan untuk 7
membunuhnya (Husein) dan memerintahkan untuk membawa kepalanya ke hadapan
dirinya. Dan akhirnya Ibnu Ziyad pun dibunuh karena itu.
Dan lebih jelas lagi bahwasanya para shahabat yang tersebut tadi seperti Anas dan Abi
Barzah tidak berada di Syam, melainkan berada di Iraq ketika itu. Sesungguhnya para
pendusta adalah orang-orang jahil (bodoh), tidak mengerti apa-apa yang menunjukkan
kedustaan mereka.” (Majmu’ Fatawa, juz IV, hal. 507-508)
Adapun yang dirajihkan oleh para ulama tentang kepala Al-Husein bin Ali radhiyallahu
‘anhuma adalah sebagaimana yang disebutkan oleh az- Zubair bin Bukar dalam kitabnya
Ansab Quraisy dan beliau adalah seorang yang paling ‘alim dan paling tsiqah dalam
masalah ini (tentang keturunan Quraisy). Dia menyebutkan bahwa kepala Al-Husein
dibawa ke Madinah An-Nabawiyah dan dikuburkan di sana. Hal ini yang paling cocok,
karena di sana ada kuburan saudaranya Al-Hasan, paman ayahnya Al-Abbas dan anak
Ali dan yang seperti mereka. (Dalam sumber yang sama, juz IV, hal. 509)
Demikianlah Al-Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma terbunuh pada hari Jum’at, pada
hari ‘Asyura, yaitu pada bulan Muharram tahun 61 H dalam usia 54 tahun 6 bulan.
Semoga Allah merahmati Al-Husein dan mengampuni seluruh dosadosanya serta
menerimanya sebagai syahid.
Dan semoga Allah membalas para pembunuhnya dan mengadzab mereka dengan adzab
yang pedih. Amin.
Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Yazid bin Mu’awiyyah
Untuk membahas masalah ini kita nukilkan saja di sini ucapan Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah secara lengkap dari Fatawa-nya sebagai berikut:
Belum terjadi sebelumnya manusia membicarakan masalah Yazid bin Muawiyyah dan
tidak pula membicarakannya termasuk masalah Dien. Hingga terjadilah setelah itu
beberapa perkara, sehingga manusia melaknat terhadap Yazid bin Muawiyyah, bahkan
bisa jadi mereka menginginkan dengan itu laknat kepada yang lainnya. Sedangkan
kebanyakan Ahlus Sunnah tidak suka melaknat orang tertentu. Kemudian suatu kaum
dari golongan yang ikut mendengar yang demikian meyakini bahwa Yazid termasuk
orang-orang shalih yang besar dan Imam-imam yang mendapat petunjuk.
Maka golongan yang melampaui batas terhadap Yazid menjadi dua sisi yang
berlawanan:
Sisi pertama, mereka yang mengucapkan bahwa dia kafir zindiq dan bahwasanya dia
telah membunuh salah seorang anak perempuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
membunuh shahabat-shahabat Anshar, dan anak-anak mereka pada kejadian Al-Hurrah
(pembebasan Madinah) untuk menebus dendam keluarganya yang dibunuh dalam
keadaan kafir seperti kakek ibunya ‘Utbah bin Rab’iah, pamannya Al-Walid dan selain
keduanya. Dan mereka menyebutkan pula bahwa dia terkenal dengan peminum khamr
dan menampakkan maksiat-maksiatnya. 8
Pada sisi lain, ada yang meyakini bahwa dia (Yazid) adalah imam yang adil,
mendapatkan petunjuk dan memberi petunjuk. Dan dia dari kalangan shahabat atau
pembesar shahabat serta salah seorang dari wali-wali Allah. Bahkan sebagian dari
mereka meyakini bahwa dia dari kalangan para nabi. Mereka mengucapkan bahwa
barangsiapa tidak berpendapat terhadap Yazid maka Allah akan menghentikan dia
dalam neraka Jahannam. Mereka meriwayatkan dari Syaikh Hasan bin ‘Adi bahwa dia
adalah wali yang seperti ini dan seperti itu.
Barangsiapa yang berhenti (tidak mau mengatakan demikian), maka dia berhenti dalam
neraka karena ucapan mereka yang demikian terhadap Yazid. Setelahzaman Syaikh
Hasan bertambahlah perkara-perkara batil dalam bentuk syair atau prosa. Mereka
ghuluw kepada Syaikh Hasan dan Yazid dengan perkara-perkara yang menyelisihi apa
yang ada di atasnya Syaikh ‘Adi yang agung -semoga Allah mensucikan ruhnya-. Karena
jalan beliau sebelumnya adalah baik, belum terdapat bid’ah-bid’ah yang seperti itu,
kemudian mereka mendapatkan bencana dari pihak Rafidlah yang memusuhi mereka
dan kemudian membunuh Syaikh Hasan bin ‘Adi sehingga terjadilah fitnah yang tidak
disukai Allah dan Rasul-Nya.
Dua sisi ekstrim terhadap Yazid tersebut menyelishi apa yang disepakati oleh para
ulama dan Ahlul Iman. Karena sesungguhnya Yazid bin Muawiyyah dilahirkan pada
masa khalifah Utsman bin ‘Affan radliallahu ‘anhu dan tidak pernah bertemu Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam serta tidak pula termasuk shahabat dengan kesepakatan para
ulama. Dia tidak pula terkenal dalam masalah Dien dan keshalihan.
Dia termasuk kalangan pemuda-pemuda muslim bukan kafir dan bukan pula zindiq. Dia
memegang kekuasaan setelah ayahnya dengan tidak disukai oleh sebagian kaum
muslimin dan diridlai oleh sebagian yang lain. Dia memiliki keberanian dan
kedermawanan dan tidak pernah menampakkan kemaksiatan-kemaksiatan sebagaimana
dikisahkan oleh musuh-musuhnya.
Namun pada masa pemerintahannya telah terjadi perkara-perkara besar yaitu:
1. Terbunuhnya Al-Husein radhiyallahu ‘anhu sedangkan Yazid tidak memerintahkan
untuk membunuhnya dan tidak pula menampakkan kegembiraan dengan pembunuhan
Husein serta tidak memukul gigi taringnya dengan besi. Dia juga tidak membawa
kepala Husein ke Syam. Dia memerintahkan untuk melarang Husein dengan
melepaskannya dari urusan walaupun dengan memeranginya. Tetapi para utusannya
melebihi dari apa yang diperintahkannya tatkala Samardi Al-Jausyan mendorong
‘Ubaidillah bin Ziyad untuk membunuhnya.Ibnu Ziyad pun menyakitinya dan ketika AlHusein radhiyallahu ‘anhu meminta agar dia dibawa menghadap Yazid, atau diajak ke
front untuk berjihad (memerangi orang-orang kafir bersama tentara Yazid -pent), atau
kembali ke Mekkah, mereka menolaknya dan tetap menawannya.
Atas perintah Umar bin Sa’d, maka mereka membunuh beliau dan sekelompok Ahlul
Bait radhiyallahu ‘anhum dengan dhalim. Terbunuhnya beliau radhiyallahu ‘anhu
termasuk musibah besar, karena sesungguhnyaterbunuhnya Al-Husein -dan ‘Utsman
bin ‘Affan sebelumnya- adalah penyebab fitnah terbesar pada umat ini. Demikian juga
pembunuh keduanya adalah makhluk yang paling jelek di sisi Allah. Ketika keluarga 9
beliau radhiyallahu ‘anhu mendatangi Yazid bin Mua’wiyah, Yazid memuliakan mereka
dan mengantarkan mereka ke Madinah.
Diriwayatkan bahwa Yazid melaknat Ibnu Ziyad atas pembunuhan Husein dan berkata:
“Aku sebenarnya meridlai ketaatan penduduk Irak tanpa pembunuhan Husein.” Tetapi
dia tidak menampakkan pengingkaran terhadap pembunuhnya, tidak membela serta
tidak pula membalasnya, padahal itu adalah wajib bagi dia. Maka akhirnya Ahlul Haq
mencelanya karena meninggalkan kewajibannya, ditambah lagi dengan perkara-perkara
yang lain. Sedangkan musuh-musuh mereka menambahkan kedustaan-kedustaan
atasnya.
2. Ahlil Madinah membatalkan bai’atnya kepada Yazid dan mereka mengeluarkan
utusan-utusan dan penduduknya. Yazid pun mengirimkan tentara kepada mereka,
memerintahkan mereka untuk taat dan jika mereka tidak mentaatinya setelah tiga hari
mereka akan memasuki Madinah dengan pedang dan menghalalkan darah mereka.
Setelah tiga hari, tentara Yazid memasuki Madinah an-Nabawiyah, membunuh mereka,
merampas harta mereka, bahkan menodai kehormatan-kehormatan wanita yang suci,
kemudian mengirimkan tentaranya ke Mekkah yang mulia dan mengepungnya. Yazid
meninggal dunia pada saat pasukannya dalam keadaan mengepung Mekkah dan hal ini
merupakan permusuhan dan kedzaliman yang dikerjakan atas perintahnya.
Oleh karena itu, keyakinan Ahlus Sunnah dan para imam-imam umat ini adalah mereka
tidak melaknat dan tidak mencintainya. Shalih bin Ahmad bin Hanbal berkata: Aku
katakan kepada ayahku: “Sesungguhnya suatu kaum mengatakan bahwa mereka cinta
kepada Yazid.” Maka beliau rahimahullah menjawab: “Wahai anakku, apakah akan
mencintai Yazid seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir?” Aku bertanya:
“Wahai ayahku, mengapa engkau tidak melaknatnya?” Beliau menjawab: “Wahai
anakku, kapan engkau melihat ayahmu melaknat seseorang?” Diriwayatkan pula bahwa
ditanyakan kepadanya: “Apakah engkau menulis hadits dari Yazid bin Mu’awiyyah?”
Dia berkata: “Tidak, dan tidak ada kemulyaan, bukankah dia yang telah melakukan
terhadap ahlul Madinah apa yang dia lakukan?”
Yazid menurut ulama dan Imam-imam kaum muslimin adalah raja dari raja-raja (Islam
-pent). Mereka tidak mencintainya seperti mencintai orang-orang shalih dan wali-wali
Allah dan tidak pula melaknatnya. Karena sesungguhnya mereka tidak suka melaknat
seorang muslim secara khusus (ta ‘yin), berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh
Bukhari dalam Shahih-nya dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu: Bahwa
seseorang yang dipanggil dengan Hammar sering minum khamr. Acap kali dia
didatangkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dicambuknya. Maka
berkatalah seseorang: “Semoga Allah melaknatnya. Betapa sering dia didatangkan
kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Jangan engkau melaknatnya, sesungguhnya dia mencintai Allah dan RasulNya. ” (HR. Bukhari)
Walaupun demikian di kalangan Ahlus Sunnah juga ada yang membolehkan laknat
terhadapnya karena mereka meyakini bahwa Yazid telah melakukan kedhaliman yang
menyebabkan laknat bagi pelakunya. 10
Kelompok yang lain berpendapat untuk mencintainya karena dia seorang muslim yang
memegang pemerintahan di zaman para shahabat dan dibai’at oleh mereka. Serta
mereka berkata: “Tidak benar apa yang dinukil tentangnya padahal dia memiliki
kebaikan-kebaikan,atau dia melakukannya dengan ijtihad.”
Pendapat yang benar adalah apa yang dikatakan oleh para imam (Ahlus Sunnah), bahwa
mereka tidak mengkhususkan kecintaan kepadanya dan tidak pula melaknatnya. Di
samping itu kalaupun dia sebagai orang yang fasiq atau dhalim, Allah masih mungkin
mengampuni orang fasiq dan dhalim. Lebih-lebih lagi kalau dia memiliki kebaikankebaikan yang besar.
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya dari Ummu Harran binti Malhan
radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَ أَ وﱠ لُ ﺟَ ﻴْ ﺶٍ ﻣِ ﻦْ أُﻣﱠﺘِﻰ ﻳَ ﻐْ ﺰُ وْ نَ…
(ﻣَ ﺪِ ﻳْ ﻨَ ﺔَ ﻗَ ﻴْ ﺼَ ﺮَ ﻣَ ﻐْ ﻔُ ﻮْ رٌ ﻟَ ﻬُ ﻢْ. (رواﻩ اﻟﺒﺨﺎرى
Tentara pertama yang memerangi Konstantiniyyah akan diampuni. (HR. Bukhari)
Padahal tentara pertama yang memeranginya adalah di bawah pimpinan Yazid bin
Mu’awiyyah dan pada waktu itu Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bersamanya.
Catatan:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah melanjutkan setelah itu dengan ucapannya: “Kadangkadang sering tertukar antara Yazid bin Mu’ awiyah dengan pamannya Yazid bin Abu
Sufyan. Padahal sesungguhnya Yazid bin Abu Sufyan adalah dari kalangan Shahabat,
bahkan orang-orang pilihan di antara mereka dan dialah keluarga Harb (ayah Abu
Sufyan bin Harb -pent) yang terbaik. Dan beliau adalah salah seorang pemimpin Syam
yang diutus oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu ketika pembebasan negeri
Syam. Abu Bakar ash- Shiddiq pernah berjalan bersamanya ketika mengantarkannya,
sedangkan dia berada di atas kendaraan. Maka berkatalah Yazid bin Abu Sufyan:
“Wahai khalifah Rasulullah, naiklah! (ke atas kendaraan) atau aku yang akan turun.”
Maka berkatalah Abu Bakar: “Aku tidak akan naik dan engkau jangan turun,
sesungguhnya aku mengharapkan hisab dengan langkah-langkahku ini di jalan Allah.
Ketika beliau wafat setelah pembukaan negeri Syam di zaman pemerintahan Umar
radhiyallahu ‘anhu, beliau mengangkat saudaranya yaitu Mu’awiyah untuk
menggantikan kedudukannya.
Kemudian Mu’awiyah mempunyai anak yang bernama Yazid di zaman pemerintahan
‘Utsman ibnu ‘Affan dan dia tetap di Syam sampai terjadi peristiwa yang terjadi. Yang
wajib adalah untuk meringkas yang demikian dan berpaling dari membi-carakan Yazid
bin Mu’awiyah serta bencana yang menimpa kaum muslimin karenanya dan
sesungguhnya yang demikian merupakan bid’ah yang menyelisihi ahlus sunnah wal
jama’ah. Karena dengan sebab itu sebagian orang bodoh meyakini bahwa Yazid bin
Mu`awiyah termasuk kalangan shahabat dan bahwasanya dia termasuk kalangan
tokoh-tokoh orang shalih yang besar atau imam-imam yang adil. Hal ini adalah 11
kesalahan yang nyata.” (Diambil dari Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,
jilid 3, hal. 409-414)
Bid’ah-bid’ah yang Berhubungan dengan
Terbunuhnya Al-Husein
Kemudian muncullah bid’ah-bid’ah yang banyak yang diadakan oleh kebanyakan orangorang terakhir berkenaan dengan perisiwa terbunuhnya Al-Husein, tempatnya,
waktunya dan lain-lain. Mulailah mereka mengada-adakan An-Niyaahah (ratapan) pada
hari terbunuhnya Al-Husein yaitu pada hari ‘Asyura (10 Muharram), penyiksaan diri,
mendhalimi binatang-binatang ternak, mencaci maki para wali Allah (para shahabat)
dan mengada-adakan kedustaan-kedustaan yang diatasnamakan ahlul bait serta
kemungkaran-kemungkaran yang jelas dilarang dalam kitab Allah dan sunnah RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.
Al-Husein radhiyallahu ‘anhu telah dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan
mati syahid pada hari ‘Asyura dan Allah telah menghinakan pembunuhnya serta orang
yang mendukungnya atau ridla dengan pembunuhannya. Dan dia mempunyai teladan
pada orang sebelumnya dari para syuhada, karena sesungguhnya dia dan saudaranya
adalah penghulu para pemuda ahlul jannah. Keduanya telah dibesarkan pada masa
kejayaan Islam dan tidak mendapatkan hijrah, jihad, dan kesabaran atas gangguangangguan di jalan Allah sebagaimana apa yang telah didapati oleh ahlul bait
sebelumnya. Maka Allah mulyakan keduanya dengan syahid untuk menyempurnakan
kemulyaan dan mengangkat derajat keduanya.
Pembunuhan beliau merupakan musibah besar dan Allah subhanahu wa ta’ala telah
mensyari’atkan untuk mengucapkan istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) ketika
musibah dalam ucapannya:
وَ ﺑَ ﺸﱢ ﺮِ اﻟﺼﱠﺎﺑِﺮِﻳﻦَ ا ﻟﱠ ﺬِ ﻳ ﻦَ إِذَا…
أَ ﺻَ ﺎ ﺑَ ﺘْ ﻬُ ﻢْ ﻣُﺼِﻴﺒَﺔٌ ﻗَﺎﻟُﻮا إِﻧﱠﺎ ﻟِ ﻠﱠ ﻪِ
وَإِﻧﱠﺎ إِ ﻟَ ﻴْ ﻪِ رَ ا ﺟِ ﻌُ ﻮ نَ أُ و ﻟَ ﺌِ ﻚَ ﻋَ ﻠَ ﻴْ ﻬِ ﻢْ
ﺻَ ﻠَ ﻮَ ا تٌ ﻣِ ﻦْ رَ ﺑﱢ ﻬِ ﻢْ وَ رَ ﺣْ ﻤَ ﺔٌ وَ أُ و ﻟَ ﺌِ ﻚَ هُ ﻢُ
.اﻟْﻤُﻬْﺘَﺪُونَ
…. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orangyang sabar, (yaitu) orang-orang
yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi
raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat
dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al- Baqarah:
155-157)
Sedangkan mereka yang mengerjakan apa-apa yang dilarang oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam rangka meratapinya seperti memukul pipi, merobek baju, dan
menyeru dengan seruan-seruan jahiliyah, maka balasannya sangat keras sebagaimana
diriwayatkan dalam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, berkata:
Bersabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam: 12
ﻟَ ﻴْ ﺲَ ﻣِﻨﱠﺎ ﻣَ ﻦْ ﻟَ ﻄَ ﻢَ اﻟْﺨُﺪُوْدَ، وَ ﺷَ ﻖﱠ
اﻟْﺠُﻴُﻮْبَ، وَدَﻋَﺎ ﺑِﺪَﻋْﻮَى ا ﻟْ ﺠَ ﺎ هِ ﻠِ ﻴﱠ ﺔِ. (رواﻩ
(اﻟﺒﺨﺎرى وﻣﺴﻠﻢ
Bukan dari golongan kami, siapa yang memukul-mukul pipi, merobek- robek baju, dan
menyeru dengan seruan-seruan jahiliyah. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain, juga dalam Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al- Asy’ari
radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia berkata: “Aku berlepas diri dari orang-orang yang
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri darinya, yaitu bahwasanya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari al-haliqah, ash-shaliqah dan
asy-syaaqqah. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan dalam Shahih Muslim dari Abi Malik Al-Asy’ari bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
أَ رْ ﺑَ ﻊٌ ﻓِﻰ أُﻣﱠﺘِﻰ ﻣِ ﻦْ أَ ﻣْ ﺮِ ا ﻟْ ﺠَ ﺎ هِ ﻠِ ﻴﱠ ﺔِ ﻻَ
ﻳَ ﺘْ ﺮُ آُ ﻮْ ﻧَ ﻬُ ﻦﱠ: ا ﻟْ ﻔَ ﺨْ ﺮُ ﻓِﻰ اْﻷَﺣْﺴَﺎبِ
وَ ا ﻟ ﻄﱠ ﻌْ ﻦُ ﻓِﻰ اْ ﻷَﻧْﺴَﺎبِ وَاْﻹِﺳْﺘِﺴْﻘَﺎءُ
(ﺑِ ﺎ ﻟ ﻨُ ﺠُ ﻮْ مِ وَاﻟﻨﱢﻴَﺎﺣَﺔُ. (رواﻩ ﻣﺴﻠﻢ
Empat perkara yang terdapat pada umatku dari perkara perkara jahiliyah yang mereka
tidak meninggalkannya: bangga dengan kedudukan, mencela nasab (keturunan),
mengharapkan hujan dengan bintang-bintang dan meratapi mayit. (HR. Muslim)
Dan juga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَ إِ نﱠ ا ﻟ ﻨﱠ ﺎ ﺋِ ﺤَ ﺔَ إِذَا ﻟَ ﻢْ ﺗَ ﺘُ ﺐْ ﻗَ ﺒْ ﻞَ…
ا ﻟْ ﻤَ ﻮْ تِ ﺟَ ﺎ ﺋَ ﺖْ ﻳَ ﻮْ مَ ا ﻟْ ﻘِ ﻴَ ﺎ ﻣَ ﺔِ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ
ﺳِ ﺮْ ﺑَ ﺎ لٌ ﻣِ ﻦْ ﻗَ ﻄِ ﺮَ ا نِ ، وَ دَ رْ عٌ ﻣِ ﻦْ ﻟَ ﻬَ ﺐِ
(ا ﻟ ﻨﱠﺎ رِ. (ﺻﺤﻴﺢ رواﻩ أﺣﻤﺪ واﻟﻄﺒﺮاﻧﻰ واﻟﺤﺎآﻢ
Sesungguhnya perempuan tukang ratap jika tidak bertaubat sebelum matinya dia akan
dibangkitkan di hari kiamat sedangkan atasnya pakaian dari timah dan pakaian dada
dari nyala api neraka. (HR. Ahmad, Thabrani dan Hakim)
Hadits-hadits tentang masalah ini bermacam-macam. Demikianlah keadaan orang yang
meratapi mayit dengan memukul-mukul badannya, merobek-robek bajunya dan lainlain. Maka bagaimana jika ditambah lagi bersama dengan itu kezaliman terhadap
orang-orang mukmin (para shahabat), melaknat mereka, mencela mereka, serta
sebaliknya membantu ahlu syiqaq orang-orang munafiq dan ahlul bid’ah dalam
kerusakan dien yang mereka tuju serta kemungkaran lain yang Allah lebih
mengetahuinya. 13
Maraji’:
– Minhajus-Sunnah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
– Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
– Al-‘Awashim Minal Qawashim, oleh Qadhi Abu Bakar
– Ibnul Arabi dengan tahqiq dan ta’liq Syaikh Muhibbudin Al-Khatib.
– Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir.
– Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani.
– Shahih Muslim dengan Syarh Nawawi.
– Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-
Albani.
[Sumber: Majalah SALAFY edisi VIII/Rabi’ul Awal/1417/1996 Penulis Ustadz
Muhammad Umar Sewed]

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s