‘Aqad, ‘Ahad dan Bai’at menurut Al-Qur’an dan Sunnah

Bismillahir rahmanir rahiim

Untuk masalah ‘Aqad kita perhatikan firman Allah dibawah ini :

: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. (Q.S. Al-Maidah: 1)

Perkataan ‘aqad dalam ayat ini bermakna  suatu perjanjian yang melibatkan lebih dari satu golongan. Menurut Imam Raghib, ‘aqad yang dimaksudkan di dalam ayat ini mengandung tiga makna, yaitu :

  • ‘Aqad  di antara Allah dan manusia, yaitu kewajiban-kewajiban yang telah dibebankan kepada manusia.
  • ‘Aqad di antara manusia dan jiwanya.
  • ‘Aqad di antara sesama manusia.

Firman Allah :

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (Q.S. An-Nahl: 91-92)

Di dalam ayat di atas, ‘aqad manusia dengan Allah merupakan ‘aqad yang paling penting sekali. Maksudnya manusia diwajibkan melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya.

Firman Allah :

“Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya).” (Q.S. Al-Ahzab: 23)

Di dalam ayat di atas, ‘aqad manusia dengan Allah disebut ‘ahad. Demikian juga kebanyakan penggunaan ‘ahad di dalam Al-Qur’an berkaitan dengan janji manusia kepada Allah. Perkataan ‘ahad ini juga digunakan dalam konteks jual beli atau bai’at seperti firman Allah :

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (Q.S. At-Taubah: 111)

Oleh karena pentingnya seorang mu’min itu senantiasa berpegang teguh dengan ‘ahadnya kepada Allah, maka Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita sebuah do’a  yang juga merupakan Sayyidul Istighfar : “Allahumma anta Rabbi Laa ilaaha illa anta khalaqtanii wa ana abduka wa ana ‘alaa ahdika wa wa’dika – Mastatho’tu A-‘uudzubika minsyarrimaa shona’tu abuu-ulaka bini’matika ‘alayya wa abuu-‘u bidzambii faghfirlii fainnahu Laa yaghfirudz-dzunuu-ba illa anta” (“Yaa Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan yang berhak kusembah kecuali hanya Engkau sendiri. Telah Engkau jadikan aku dan aku ini adalah hamba-Mu, dan berusaha sekuat tenaga untuk setia memegangangjanji (‘ahad)-Mu.Aku berlindung kepada-Mu daripada kejahatan yang terlanjur yang telah aku lakukan. Aku menyadari akan segala nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan aku tahu pula akan dosaku, maka ampunilah kiranya aku, karena sesungguhnya tiadalah yang mengampuni dosaku itu hanya Engkau.”) (H.R. Bukhari)

‘Aqad manusia sesama manusia merupakan satu perkara yang telah diutamakan sejak awal pertumbuhan Islam yang pertama. Di dalam al-Qur’an Allah telah menetapkan dasar-dasar bagi membina sebuah masyarakat Islam. Di antara dasar yang disebutkan berkenaan ‘ahad adalah ;

“. . . . Dan penuhilah janji (‘ahad) sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.” (Q.S. Al-Israa’: 34)

Memenuhi perjanjian atau ‘ahad bukan saja merupakan tuntutan moral antara individu-individu, tetapi ia juga menjadi dasar semua urusan dalam dan luar bagi ummat Islam dan sistem pemerintahan Islam. Jelas dari dasar ini bahwa pelaksanaan perjanjian antara sesama manusia sebagai individu atau kumpulan adalah penting hingga ia menjadi salah satu dasar bagi pembinaan sebuah negara Islam.

Dalam konteks ‘aqad antara manusia dengan manusia, bai’at adalah satu sumpah setia yang merupakan ‘aqad untuk melakukan ketha’atan. Apabila seseorang itu telah melakukan bai’at kepada seorang pemimpin ia sebenarnya telah membuat satu ‘aqad dengan pemimpin itu. Ini berarti ia telah memberikan urusan dirinya dan muslim lain kepada pemimpin tersebut. Ia juga berjanji tidak akan merebut kekuasaan dari pemimpin tadi, akan senantiasa menaatinya serta melaksanakan semua tugas-tugas yang diberikan oleh pemimpin tadi.

Ta’rif bai’at secara umum adalah “al-‘ahad ‘ala at’-ta’ah” atau satu perjanjian untuk tha’at. Seorang yang memberi bai’at, atau mubayyi’ itu membuat ‘ahad (perjanjian) kepada pemimpin agar pemimpin itu mengurusi urusannya di dalam jama’ah dan ia tidak akan mempertikaikan kedudukan pemimpin  itu. Mubayyi’ itu akan mentaati pemimpin dalam keadaan senang atau susah.

Jika dilihat dari segi hukum syara’ bai’at mengandung tiga perkara :

1)     Bai’at dilakukan menurut batas kemampuan seseorang.

2)     Adalah sunnah bagi seorang pemimpin meminta bai’at dari jama’ahnya.

3)  Apabila seorang muslim telah membuat bai’at, maka wajib baginya untuk memenuhi bai’at tersebut.

Ketiga perkara ini didasarkan kepada keterangan-keterangan berikut : “Dari Abdullah Ibn Umar, katanya : “Apabila kami memberi bai’at kepada Rasulullah SAW, baginda akan mengarahkan kamu menyatakan sebanyak yang kamu mampu.”

Dari Junadah bin Abi Umayyah, katanya : “Kami menziarahi Ubaidah bin as-Samit semasa ia sakit. Kami berkata : “Semoga Allah memberi kesehatan kepadamu. Bolehkah engkau beritahu kami hadits dari Rasulullah SAW yang boleh memberi manfaat kepada engkau. Ia berkata : Rasulullah SAW menyeru kami dan kami memberi bai’at masuk Islam kepadanya, di antara syarat-syarat yang terkandung di dalam bai’at itu adalah kami hendaklah dengar dan taat kepada perintahnya di masa kami kuat dan lemah, di masa kami susah dan senang dan untuk mentaati pemimpin kami serta memberi kepadanya hak-haknya, dan tidak memeranginya kecuali ia melakukan kekufuran yang kami mempunyai bukti-buktinya.”

Riwayat di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW menjemput manusia untuk memberi bai’at kepadanya. Siddiq Hasan Khan, seorang faqih (ahli fiqih) dan muhaddits (ahli hadits) menerangkan riwayat ini sebagai berikut : “Hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa meminta ba’ah dari sahabat itu adalah sunnah dan memberi bai’at kepada orang lain itu juga adalah sunnah, tetapi memenuhi bai’at selepas membuatnya adalah wajib dan memecahkan bai’at adalah maksiat.”

Bai’at hendaklah dilakukan dengan hati yang penuh ikhlas karena ia bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk kepentingan jama’ah. Rasulullah SAW menjelaskan salah satu dari tiga golongan manusia yang Allah tidak berkata-kata padanya di hari  qiamat  adalah : “Seseorang yang memberi bai’at kepada seorang imam semata-mata untuk faedah dunia, jika imam itu memberikan apa yang dikehendakinya, maka ia akan mentaati imam tersebut, tetapi jika imam itu tidak memberi apa yang dikehendakinya maka ia tidak akan memenuhi bai’atnya.” (H.R. Bukhari)

Demikianlah, pentingnya bai’at antara manusia kepada manusia lain menurut syari’at Islam. Siapa yang memecahkan bai’at dalam urusan apapun akan dianggap melakukan maksiat. Besar atau kecil maksiat yang dilakukan bergantung kepada perkara dan syarat-syarat yang dibai’atkan.

Perjanjian di antara manusia dalam apa bentuknya boleh diperbarui. Hal ini sama dengan bai’at yang boleh diulang dari masa ke masa. Tikrar al-Bai’at atau memperba rui bai’at merupakan amalan Rasulullah SAW terhadap sahabatnya.

Dari Salamah Ibn al-Akwa’, katanya : “Kami berbai’at kepada Rasulullah SAW di bawah pohon, beliau berkata : “Ya Salamah ! Tidakkah engkau hendak memberi bai’at ?” Aku menjawab : “Ya Rasulullah, aku pun telah memberi bai’at kepadamu dahulu.” Ia berkata : “Berilah untuk kali kedua.”

Melakukan bai’at berulangkali di dalam jama’ah adalah dibenarkan karena ini adalah berdasarkan kepada sunnah Rasulullah SAW. Tindakan ini baik karena akan selalu memperingatkan anggota jama’ah terhadap tugas-tugas dan tanggung jawabnya di dalam jama’ahnya (organisasi).

Talqin dan Bai’at dalam Pengukuhan

“Talqin” adalah merupakan peringatan guru kepada murid, sedang “bai’at” atau juga disebut ‘ahad dalam hal ini adalah  merupakan ikrar atau janji murid untuk sanggup dan setia dalam ketha’atannya mengamalkan segala kebajikan yang diperintahkan kepadanya.

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani bahwa Rasulullah SAW pernah mentalqinkan sahabat-sahabatnya secara berombongan atau perseorangan. Talqin berombongan pernah diceritakan oleh Syaddad bin ‘Aus ; Bahwa suatu ketika kami berada dekat Rasulullah, beliau bersabda : “ Apa adakah diantara kamu orang asing ? maka jawab saya : Tidak ada “.  Lalu Rasulullah menyuruh menutup pintu dan berkata : Angkat tanganmu dan ucapkanlah Laa Ilaaha Illallah, seterusnya beliau bersabda : Segala puji bagi Allah, wahai Tuhanku Engkau telah mengutus aku dengan kalimat ini dan Engkau menjadikan dengan ucapannya karunia syurga kepadaku dan bahwa Engkau tidak sekali–kali menyalahi janji. Kemudian Rasulullah berkata pula : Belumkah aku memberikan kabar gembira kepadamu bahwa Allah telah mengampuni kamu semua ? Maka bersabdalah Rasulullah SAW : “ Tidak ada segolongan manusiapun yang berkumpul dan melakukan dzikrullah dengan tidak ada niat lain melainkan untuk Allah semata-mata, kecuali nanti akan datang suara dari langit . Bangkitlah kamu semua, dosamu sudah diampuni dan sudah ditukar kejahatan yang lampau dengan kebajikan “.

Oleh karena itu Allah berfirman :

“Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah kamu dengan bai’atmu, yang kamu lakukan itu adalah kejayaan yang agung.” ( Q.S. At-Taubah: 111 ).

Tentang bai’at perseorangan pernah diceritakan oleh Yusuf Al-Kurani dan teman-temannya dengan sanad yang syah bahwa Sayyidina Ali ra bertanya kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku jalan yang sedekat-dekatnya kepada Allah dan yang semudah-mudahnya  dan yang paling utama dapat ditempuh oleh hamba-Nya ? Maka bersabdalah Rasulullah : “ Hendaknya kamu lakukan dzikrullah yang kekal dan ucapan yang paling utama yang pernah kulakukan dan dilakukan  oleh Nabi-Nabi sebelum aku yaitu Laa Ilaaha Illallah. Jika   ditimbang dengan tujuh petala langit dan bumi dalam satu daun timbangan dan kalimat Laa Ilaaha Illallah dalam satu timbangan yang lainnya, maka kalimat Laa Ilaaha Illallah akan lebih berat. Kemudian ia berkata : Wahai ‘Ali tidak akan datang kiamat jika diatas muka bumi ini masih ada orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah. Sayyidina ‘Ali berkata : Bagaimana caranya aku berdzikir  ya Rasulullah ? Nabi menjawab : Pejamkan kedua matamu dan dengar aku mengucapkan tiga kali kemudian engakau ucapkan tiga kali juga sedangkan aku mendengarkannya. Maka berkatalah Rasulullah : Laa Ilaaha Illallah tiga kali, sedangkan kedua matanya dipejamkan, dan suaranya dikeraskan serta ‘Ali mendengarnya. Kemudian ‘Ali mengucapkan : Laa Ilaaha Illallah seperti yang Rasulullah ucapkan sedangkan Rasulullah mendengarkannya “.

Demikian cara talqin dzikir yang disampaikan oleh ‘Ali bin Abi Thalib ra.

Kemudian pengertian “ Pengukuhan “ disini adalah penegasan, pengakuan atau pengesahan yang diiringi dengan Talqin Guru dan Ikrar/Janji ( Bai’at ) murid. Dengan adanya pengukuhan ini akan terjadi ikatan bathin yang kuat antara Murid dengan Guru ( sebagai pemimpin dan pembimbing jama’ah ) yang akhirnya akan melahirkan pribadi yang setia dan tha’at karena Allah swt.

Saidina Umar ra menegaskan : “ Tidak ada Islam tanpa jama’ah, tidak ada Jama’ah tanpa Pemimpin, dan tidak ada Pemimpin tanpa adanya ketha’atan “

Pengukuhan bagi Jama’ah Tarekat Qodiriyah sangat berharga dan berarti, terutama dalam hal memperoses dan membenahi diri dengan menjalankan program-program amalan dan dzikir yang dilaksanakan secara terpadu, terbimbing, dan berkesinambungan, yang akhirnya akan lahir pribadi mu’min yang sejati dengan jiwa tauhid dan ikhlas dalam beribadah kepada Allah swt. Sehingga rahmat dan perlindungan Allah selalu menaunginya, jadilah ia orang yang tenang, damai, yakin dan berani dalam kebenaran.

Prosesi Pengukuhan

Prosesi pengukuhan terdiri dari 3 (tiga) tahapan di antaranya :

Tahap pertama, disebut dengan tahap persiapan sebelum dikukuhkan.

Calon anggota jama’ah yang akan dikukuhkan sebelumnya harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

a.   Terdaftar sebagai anggota jama’ah dan memenuhi syarat-syarat administrasi (untuk pendataan dan ketertiban).

b.   Melaksanakan ibadah-ibadah khususnya shalat lima waktu dan menjalankan amalan dan zikir untuk persiapan pengukuhan.

c.   Bersedia dan siap untuk dikukuhkan tanpa ada unsur paksaan dari pihak manapun (ikhlas dalam pengukuhan).

Tahap kedua, disebut dengan tahap pengukuhan.

Anggota jama’ah yang sudah memenuhi syarat-syarat ditahap pertama maka akan diadakan proses pengukuhan dengan cara sebagai berikut :

a.  Sebelum proses pengukuhan berlangsung guru pembimbing memberikan beberapa arahan dan peringatan (talqin) kepada murid yang akan dikukuhkan tentang segala hal yang menyangkut persoalan pengukuhan.

b.   Kemudian guru pembimbing menanyakan kepada calon anggota jama’ah yang akan dikukuhkan apakah bersedia serta ikhlas untuk menerima pengukuhan. Jika seandainya calon anggota jama’ah bersedia untuk menerima pengukuhan maka guru pembimbing akan menanyakan apakah calon anggota jama’ah juga bersedia untuk berikrar (berbai’at).

c.    Jika hal tersebut sudah diterima oleh calon anggota jama’ah maka guru pembimbing selanjutnya membaca : Surat Al-Fatihah, Shalawat Munjiyat, Zikir Asma Al-Mu’min  dan  Surah Al-Fath ayat 10 yang artinya :

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia (berbai’at) kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (Q.S. Al-Fath : 10)

Selanjutnya calon anggota jama’ah membacakan ikrar (janji) di hadapan guru pembimbing diantaranya yang berisi :

  1. Tidak mensekutukan Allah dengan apapun.
  2. Berusaha menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
  3. Berbakti kepada kedua orang tua, setia dengan guru pembimbing dan mengamalkan ajaran yang diberikan oleh guru pembimbing.
  4. Bersedia menjaga nama baik jama’ah Nur Al-Mu’min kapan dan dimanapun berada.
  5. Bersedia untuk mentaati prinsip-prinsip anggota jama’ah Nur Al-Mu’min.

d.   Setelah pembacaan ikrar (janji) barulah guru pembimbing melaksanakan pengukuhan diantaranya memberikan Amalan Al-Mu’min, Membuka Latifah/Rohani dan selanjutnya memasukkan Washilah atau Thariqat Al-Mu’min sebagai jalan atau kendaraan untuk berjalan menuju Allah, kemudian bersama-sama mengucapkan kalimah Laa Ilaaha Illallah 3 X dan ditutup dengan Muhammadarra suulullahi Shallallahu ’alaihi wasallam.

e.   Setelah pengukuhan dilaksanakan maka guru pembimbing akan menutup dengan do’a, kemudian diakhiri dengan membaca do’a alhir majelis dan  ucapan selamat dari jama’ah yang hadir menyaksikan proses pengukuhan.

Tahap ketiga, disebut dengan tahap setelah pengukuhan.

a.   Setiap anggota jama’ah yang telah dikukuhkan akan mendapat beberapa pedoman atau panduan amalan dan dzikir yang akan dilaksanakan / diamalkan di dalam kehidupannya sebagai ibadah taqarrub kepada Allah.

b.   Amalan-Amalan atau Dzikir-Dzikir yang diberikan wajib dijalankan dengan mengikuti petunjuk atau aturan yang diberikan oleh pembimbing.

c.     Amalan atau Dzikir akan diberikan secara bertahap sesuai dengan tahapan amalan yang dijalankan oleh anggota jama’ah yang telah dikukuhkan

2 thoughts on “‘Aqad, ‘Ahad dan Bai’at menurut Al-Qur’an dan Sunnah

  1. assalamu’alaikum….
    afwan, judul blog akhi adalah “tarekatqodariyah.wordpress.com” tapi mengapa dalam ikrar seorang salik saat akan berbai’at dengan seorang mursyid akhi mencatut nama tarekat lain di poin 4 dan 5?
    (4 Bersedia menjaga nama baik jama’ah Nur Al-Mu’min kapan dan dimanapun berada.
    5 Bersedia untuk mentaati prinsip-prinsip anggota jama’ah Nur Al-Mu’min)
    mohon penjelasannya>>>>

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s