AL-Qur’an

Bismillahir Rahmnir Rahiim

Definisi Al-Qur’an

a.   Menurut Bahasa

Lafaz Al-Qur’an berasal dari kata “Qara’a” yang berarti “membaca”. Hal ini sesuai dengan ayat Al-Qur’an:

“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” (Q.S. Al-Qiyamah: 17-18)

b.   Menurut Istilah

Al-Qur’an ialah firman Allah yang merupakan mu’jizat dan diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril as. yang ditulis dalam mushaf dan membacanya adalah ibadah.

Al-Qur’an Di Wahyukan

Para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur’an berdasarkan dalil ayat Al-Qur’an dan riwayat Hadits shahih melalui tiga tahap yaitu :

Tahap Pertama, Al-Qur’an berada di Lauh Mahfuzh, sebagaimana firman Allah:

“padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (Q.S. Al-Buruuj: 20-22)

Ketika Al-Qur’an berada di Lauh Mahfuzh tidak diketahui bagaimana keadaannya, kecuali Allah yang mengetahuinya, karena waktu itu Al-Qur’an berada di alam ghaib, kemudian Allah menampakkan atau menurunkannya ke Baitul ‘Izzah di langit bumi. Secara umum, demikian itu menunjukkan adanya Lauh Mahfuzh, yaitu yang merekam segala qadha dan takdir Allah SWT, segala sesuatu yang sudah, sedang, atau yang akan terjadi di alam semesta ini. Demikian ini merupakan bukti nyata akan mengagungkan kehendak dan kebijaksanaan Allah SWT yang Maha Kuasa.

Jika keberadaan Al-Qur’an di Lauh Mahfuzh itu merupakan Qadha (ketentuan) dari Allah SWT, maka ketika itu Al-Qur’an adanya persis sama dengan keadaannya sekarang. Namun demikian hakekatnya tidak dapat diketahui, kecuali oleh seorang Nabi yang diperlihatkan oleh Allah kepadanya. Dan segala sesuatu yang terjadi di bumi ini telah tertulis dalam Lauh Mahfuzh sebagaimana firman Allah :

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Q.S. Al Hadiid: 22)

Tahap Kedua, Al-Qur’an dari Lauh Mahfuzh diturunkan ke langit bumi (Baitul ‘Izzah)

Berdasarkan kepada beberapa ayat dalam Al-Qur’an dan Hadits berkah yang dinamakan malam Al-Qadar (Lailatul Qadar) dalam bulan suci Ramadhan. Sebagaimana firman Allah :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan.”(Q.S Al-Qadr: 1)

Dan firman Allah :

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (Q.S. Al Baqarah: 185)

Dan firman Allah :

“sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (Q.S. Ad-Dukhaan: 3)

Tiga ayat tersebut di atas menegaskan bahwa Al-Qur’an, diturunkan pada suatu malam bulan Ramadhan yang dinamakna malam Lailatul Qadar yang penuh berkah. Demikian juga berdasarkan beberapa riwayat sebagai berikut :

“Riwayat dari Ibn Abbas ra. berkata : Al-Qur’an dipisahkan dari Adz Dzikir lalu Al-Qur’an itu diletakkan di Baitul Izzah dari langit dunia, lalu Jibril mulai menurunkannya kepada Nabi.”

Dan hadis riwayat Ibnu Abbas :

“Riwayat dari Ibnu Abbas berkata : Al-Qur’an diturunkan sekaligus langit bumi (Bait Al-Izzah) berada di Mawaqi’a Al-Nujum (tempat bintang-bintang) dan kemudian Allah menurukan kepada Rasul-Nya dengan berangsur-angsur.”

Dan hadits riwayat Imam Thabrani :

“Riwayat dari Ibnu Abbas ra. berkata : Al-Qur’an diturunkan pada malam Al-Qadar pada bulan Ramadhan di langit bumi sekaligus kemudian diturunkan secara berangsur-angsur.”

Ketiga riwayat tersebut dijelaskan di dalam Al-Iqam bahwa ketiganya adalah sahih sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Suyuthy riwayat dari Ibn Abbas, dimana dia ditanya oleh Athiyah bin Aswad dia berkata : “Dalam hatiku terdapat keraguan tentang firman Allah dalam surah Al –  baqarah ayat 185 :

“ (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran…….”

dan firman Allah dalam surah Al – Qadr ayat 1:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan”

Sedangkan Al-Qur’an ada yang diturunkan pada bulan Syawal, Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram, Safar dan bulan Rabi’ul Awwal dan Rabi’ul Akhir. Ibnu Abbas menjawab bahwa Al-Qur’an itu diturunkan pada bulan Ramadhan malam Lailatul Qadar secara sekaligus yang kemudian diturunkan kepada Nabi secara berangsur-angsur di sepanjang bulan dan hari.

Yang dimaksud dengan nujum (bertahap) adalah diturunkan sedikit demi sedikit dan terpisah-pisah, sebagiannya menjelaskan bagian yang lain sesuai dengan fungsi dan kedudukannya.

Al-Suyuthy mengemukakan bahwa Al-Qurthuby telah menukilkan hikayat Ijma’ bahwa turunnya Al-Qur’an secara sekaligus adalah dari Lauh Al-Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit pertama.

Barangkali hikmah dari penurunan ini adalah untuk menyatakan keagungan Al-Qur’an dan kebesaran bagi orang yang diturunkannya dengan cara memberitahukan kepada penghuni langit yang tujuh bahwa kitab yang paling terakhir yang disampaikan kepada Rasul penutup dari umat pilihan sungguh telah diambang pintu dan niscaya akan segera diturunkan kepadanya.

As-Suyuthy berpendapat andaikata tidak ada hikmah Ilahiyah yang menyatakan turunnya kepada umat secara bertahap sesuai dengan keadaan niscaya akan sampai ke muka bumi secara sekaligus sebagaimana halnya kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Tetapi karena Allah SWT membedakan antara Al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya, maka Al-Qur’an diturunkan dalam dua tahap, turun secara sekaligus kemudian diturunkan secara berangsur sebagai penghormatan terhadap orang yang akan menerimanya.

Tahap Ketiga : Al-Qur’an diturunkan dari Baitul-‘Izzah kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari dengan cara sebagai berikut :

a.  Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini Nabi SAW tidak ada melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu (wahyu) sudah ada dalam kalbunya. Mengenai hal ini Nabi mengatakan: “Ruhul Qudus mewahyukan ke dalam qalbuku.”

Firman Allah SWT :

“Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.”(Q.S. Asy Syuuraa : 51).

b.  Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-kata itu.

c.  Wahyu datang kepadanya seperti gemerincingnya lonceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan oleh Nabi. Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat, meskipun turunnya wahyu itu di musim dingin yang sangat. Kadang-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit : “Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa.”

d.  Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki seperti keadaan point b, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli. Hal ini tersebut dalam Al-Qur’an :

Artinya : “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha.” (Q.S. An-Najm: 13-14)

Hikmah Diturunkan Secara Berangsur-angsur

Sebagaimana dijelaskan diatas bahwa Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari, tentunya mengandung hikmah. Adapun  hikmah Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur itu ialah :

a. Agar lebih mudah dimengerti dan dilaksanakan. Orang akan enggan melaksanakan suruhan dan larangan sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak. Hal ini disebutkan oleh Bukhari dari riwayat ‘Aisyah ra.

b. Diantara ayat-ayat itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh, sesuai dengan kemaslahatan. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al-Qur’an diturunkan sekaligus. (Ini menurut pendapat yang mengatakan adanya nasikh dan mansukh).

c. Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan lebih berpengaruh di hati.

d. Memudahkan penghafalan. Orang-orang musyrik yang telah menanyakan mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan sekaligus, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an surah Al-Furqaan: 32 :

“. . . . mengapakah Al-Qur’an tidak diturunkan kepadanya sekaligus . . . . ?” Kemudian dijawab di dalam ayat itu sendiri :

“ . . . . Demikianlah, dengan (cara) begitu Kami hendak menetapkan hatimu . . . . “

e. Di antara ayat-ayat yang ada merupakan jawaban daripada pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau perbuatan, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas ra. Hal ini tidak dapat terlaksana kalau Al-Qur’an diturunkan sekaligus.

Ayat-Ayat Makkiyyah Dan Madaniyyah

Ditinjau dari segi masa turunnya, maka Al-Qur’an itu dibagi atas dua golongan:

a.  Ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah atau sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Makkiyyah.

b.  Ayat-ayat yang diturunkan di Madinah atau sesudah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Madaniyyah.

Ayat-ayat Makkiyyah terdiri dari 86 surah sedang ayat-ayat Madaniyyah terdiri atas 28 surah. Dengan demikian jumlah surah dalam Al-Qur’an adalah sebanyak 114 surah, yang diawali dengan surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Naas.

Perbedaan ayat-ayat Makkiyyah dengan ayat-ayat Madaniyyah ialah :

a.  Ayat-ayat Makkiyyah pada umumnya pendek-pendek, sedang ayat-ayat Madaniyyah panjang-panjang; surah Madaniyyah ayat-ayatnya berjumlah 1.456, sedang surah Makkiyyah jumlah ayat-ayatnya 4.780 ayat. Juz 28 seluruhnya Madaniyyah kecuali surah Mumtahinah, ayat-ayatnya berjumlah 137; sedang juz 29 ialah Makkiyyah kecuali surah Ad-Dahr, ayat-ayatnya berjumlah 431. Surah Al Anfaal dan surah Asy Syu’araa masing-masing merupakan setengah juz tetapi yang pertama Madaniyyah dengan bilangan ayat sebanyak 75, sedang yang kedua Makkiyyah dengan ayatnya yang berjumlah 227.

b.  Dalam surah-surah Madaniyyah terdapat perkataan “ya ayyuhalladzina aamanu” dan sedikit sekali terdapat perkataan “yaa ayyuhannaas”, sedang dalam surah-surah Makkiyyah adalah sebaliknya.

c.  Ayat-ayat Makkiyyah pada umumnya mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ancaman dan pahala, kisah-kisah umat yang terdahulu yang mengandung pengajaran dan budi pekerti, sedang Madaniyyah mengandung hukum-hukum, baik yang berhubungan dengan hukum adat atau hukum-hukum duniawi, seperti hukum kemasyarakatan, hukum ketatanegaraan, hukum perang, hukum internasional, hukum antar agama dan lain-lain.

Nama-nama Al-Qur’an

Allah memberi nama Kitab-Nya dengan Al-Qur’an yang berarti “bacaan”. Arti ini dapat kita lihat dalam Al-Qur’an sebagai berikut :

“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” (Q.S. Al-Qiyamah: 17-18)

Nama ini dikuatkan oleh ayat-ayat yang terdapat di dalam Al-Qur’an sebagai berikut :

“Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.(Q.S. Al Israa’:88)

“Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Q.S. Al Baqarah: 85)

“Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur’an yang agung.” (Q.S.Al Hijr: 87)

“Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia” (Q.S. Al Waaqi’ah: 77)

“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.“ (Q.S. Al Hasyr: 21)

Dari pengertian ayat-ayat tersebut di atas jelaslah bahwa Al-Qur’an itu dipakai sebagai nama bagi Kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW.

Selain Al-Qur’an, Allah juga memberi beberapa nama lain bagi Kitab-Nya, seperti :

a.  Al Kitaab atau Kitaabullah : merupakan sinonim dari perkataan Al-Qur’an sebagaimana tersebut dalam surah Al Baqarah ayat 2 :

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”

Dan surah Al An’aam 114 :
“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Qur’an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.”

b.  Al-Furqaan : “Al-Furqaan” artinya “Pembeda” ialah yang membedakna yang benar dan yang batil, sebagai tersebut dalam surah Al-Furqaan ayat 1 :

“Maha Agung (Allah) yang telah menurunkan Al Furqaan, kepada hamba-Nya, agar ia menjadi peringatan kepada seluruh alam.”

c.  Adz-Dzikir artinya “Peringatan”, sebagaimana yang tersebut dalam surah Al Hijr ayat 9 :

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan “Adz-Dzikir” dan sesungguhnya Kamilah penjaganya.”

Dan surah An Nahl ayat 44 :

“Keterangan-keterangan (mu`jizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.”

Dari ke-empat nama tersebut di atas, yang paling masyhur dan merupakan nama khas ialah “Al-Qur’an”.

Selain dari nama-nama yang empat itu ada lagi beberapa nama bagi Al-Qur’an.
Surah-Surah Dalam Al-Qur’an

Jumlah surah yang terdapat dalam Al-Qur’an ada 114, nama-namanya dan batas-batas tiap-tiap surah, susunan ayat-ayatnya adalah menurut ketentuan yang ditetapkan dan diajarkan oleh Rasulullah sendiri (taufiq).

Sebagian dari surah-surah Al-Qur’an mempunyai satu nama, dan sebagian yang lain mempunyai lebih dari satu nama, sebagaimana yang akan diterangkan dalam muqaddimah tiap-tiap surah.

Surah-surah yang ada dalam Al-Qur’an ditinjau dari segi panjang dan pendeknya terbagi atas 4 (empat) bagian, yaitu :

a. Asab’uththiwaal, dimaksudkan, tujuh surah yang panjang. Yaitu Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa’, Al A’raaf, Al An’aam, Al Maa-idah dan Yunus.

b. Al-Miuun, dimaksudkan surah-surah yang berisi kira-kira seratus ayat lebih, seperti : Hud, Yusuf, Mu’min, dan lain-lain.

c. Al-Matsaani, dimaksudkan surah-surah yang berisi kurang sedikit dari seratus ayat, seperti : Al Anfaal, Al Hijr, dsb.

d. Al-Mufashshal, dimaksudkan surah-surah pendek, seperti : Adh-dhuha, Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas, dan sebagainya.

Adapun 114 surah di dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut :

  1. Al Fatihah, artinya :Pembukaan. Terdiri dari 7 ayat, Disebut juga ummul Qur’an atau As Sab’ul Matsani.
  2. Al Baqarah, artinya : Sapi betina. Terdiri dari 286 ayat, Didalamnya ada kisah penyembelihan sapi betina bani Israil . Madaniyah.
  3. Ali Imran, artinya : Keluarga Imran. Terdiri dari  200 ayat, Memuat kisah keluarga Imran (Maryam, Isa as). Madaniyah.
  4. An Nisaa’ , artinya :Wanita. Terdiri dari 176 ayat, Surat yang banyak membicarakan masalah wanita. Madaniyah.
  5. Al Maa-idah, artinya : Hidangan,120 ayat, Memuat kisa permintaan pengikut Isa as, tentang hidangan langit (ayat 112) . Madaniyah
  6. Al An’aam, artinya :Binatang ternak,165 ayat. Berisi hukum-hukum tentang aqidah dan syariat. Makiyah
  7. Al A’raaf , artinya :Tempat tertinggi,206 ayat.  Berisi keadaan manusia di tempat tertinggi antara surga dan neraka. Makiyah
  8. An Anfaal, artinya : Rampasan Perang, 75 ayat. Memuat hukum peperangan, ghanimah, kisah Badr Kubra, Madaniyah.
  9. At Taubah, artinya : Pengampunan,129 ayat.  Disebut juga bara’ah (Pemutusan hubungan dengan musyrikin). Madaniyah
  10. Yunus (Nama Nabi), 109 ayat. Memuat kisah Nabi Yunus as. Makiyah
  11. Hud (Nama Nabi), 123 ayat.Memuat kisah Nabi Huud as, Nuh as, Musa as, dll. Makiyah
  12. Yusuf (Nama Nabi), 111 ayat. Memuat riwayat Nabi Yusuf as. Makiyah
  13. Ar Ra’d, artinya :Guruh,43 ayat. Diambil dari ayat 13 tentang guruh yang bertasbih. Makiyah
  14. Ibrahim (Nama Nabi), 52 ayat.  Mengandung doa Nabi Ibrahim as. Surah Makiyah
  15. Al Hijr (Nama daerah pegunungan),99 ayat. Yakni penduduk Tsamud kaum Nabi Shalih as. Surat Makiyah
  16. An Nahl, artinya : Lebah, 128 ayat.  Mengandung ayat tentang lebah dan manfaatnya. Makiyah
  17. Al Isra’, artinya :Memperjalankan di malam hari, 111 ayat.Kisah Isra’ Mi’raj. Makiyah
  18. Al Kahfi, artinya :Gua, 110 ayat. Kisah Ashabul Kahfi. Makiyah
  19. Maryam (Ibu Nabi Isa AS), 98 ayat. Kisah Maryam. Makiyah
  20. Thaha,135 ayat. Makiyah.
  21. Al Anbiyaa’ , artinya :Nabi-nabi,112 ayat.  Mengutarakan kisah beberapa nabi. Makiyah
  22. Al Hajj, artinya :Haji,78 ayat. Mengungkapkan hal-hal yang berkenaan dengan ibadah haji. Madaniyah
  23. Al Mu’mi-nuun, artinya :  Orang-orang yang beriman,118 ayat.  Menerangkan sifat-sifat orang mu’min. Makiyah
  24. An Nuur, artinya : Cahaya,64 ayat.Diambil dari ayat 35. Madaniyah
  25. Al Furqaan,artinya : Pembeda, 77 ayat. Menerangkan bahwa Al-Qur’an membedakan antara yang haq dan yang bathil. Makiyah
  26. Asy Syu’araa’, artinya : Para penyair,227 ayat. Makiyah
  27. An Naml, artinya : Semut,93 ayat. Mengungkap kisah semut dan kerajaan Sulaiman. Makiyah
  28. Al Qashash, artinya : Cerita,88 ayat. Memuat kisah Nabi Musa. Makiyah
  29. Al Ankabut, artinya : Laba-laba, 69 ayat.  Mengandung perumpamaan Allah terhadap para penyembah berhala. Makiyah
  30. Ar Ruum, artinya : Bangsa Romawi, 60 ayat.  Pemberian tentang kemenangan Ruum atas Persi. Makiyah
  31. Luqman (Seorang Ahli Hikmah), 34 ayat. Terdapat nasehat-nasehat Luqman. Makiyah
  32. As Sajadah, artinya : Sujud, 30 ayat. Terdapat ayat sajdah. Makiyah
  33. Al Ahzab, artiny :Golongan yang bersekutu,73 ayat. Terdapat kisah perang Al Ahzab. Madaniyah
  34. Saba’ (Nama suku bangsa), 54 ayat.  Terdapat kisah kaum Saba’. Makiyah
  35. Faathir, artinya : Pencipta,45 ayat. Makiyah
  36. Yaa Siin, 83 ayat. Makiyah
  37. Ash Shaffaat, artinya :Yang bershaf-shaf, 182 ayat. Mengemukakan berbarisnya malaikat di hadapan Allah. Makiyah
  38. Shaad, 88 ayat. Makiyah
  39. Az  Zumar, artinya : Rombongan-rombongan, 75 ayat. Menceritakan rombongan ahlu jannah dan ahlu naar. Makiyah
  40. Al Mu’min, artinya : Orang yang beriman, 85 ayat. Kisah pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya. Makiyah
  41. Fush Shilat, artinya : Yang dijelaskan, 54 ayat. Makiyah
  42. Asy Syuura, Artinya :Musyawarah, 53 ayat. Penjelasan bahwa musyawarah merupakan dasar-dasar pemerintahan Islam. Makiyah
  43. Az Zukhruf,artinya : Perhiasan, 89 ayat. Penjelasan bahwa harta adalah perhiasan dunia, bukan berarti kesenangan akhirat. Makiyah
  44. Ad Dukhaan, artinya : Kabut, 59 ayat. Makiyah
  45. Al Jaatsiyah, artinya : Yang berlutut,37 ayat. Keadaan manusia di hari kiamat
  46. Al Ahqaaf, artinya : Bukit-bukit pasir, 35 ayat. Kisah-kisah Nabi Huud as dan kaumnya. Makiyah
  47. Muhammad (Nabi Muhammad SAW),38 ayat. Madaniyah
  48. Al Fath, artinya :  Kemenangan, 29 ayat. Kemenangan-kemenangan yang telah dicapai Rasulullah SAW. Madaniyah
  49. Al Hujurat, artinya : Kamar-kamar, 18 ayat. Madaniyah
  50. Qaaf, 45 ayat. Makiyah

Adz Dzaariyaat, artinya : Angin yang menerbangkan, 60 ayat. Makiyah

  • Ath Thuur, artinya : Bukit, 49 ayat. Ialah bukit Tursina. Makiyah
  • An Najm, artinya : Bintang, 62 ayat. Makiyah
  • Al Qamar, artinya : Bulan, 55 ayat. Makiyah
  • Ar Rahman, artinya :Yang Maha Pemurah, 78 ayat. Makiyah
  • Al Waaqi’ah, artinya : Hari Kiamat, 96 ayat. Makiyah
  • Al Hadiid, artinya : Besi, 29 ayat. Madaniyah
  • Al Mujaadilah, artinya : Wanita yang mengajukan gugatan, 22 ayat. Madaniyah
  • Al Hasyr, artinya : Pengusiran, 24 ayat. Kisah pengusiran Bani Nadhir dari Makkah. Madaniyah
  • Al Mumta-hanah, artinya : Perempuan yang diuji, 13 ayat. Madaniyah
  • Ash Shaff, artinya : Barisan,14 ayat. Penjelasan bahwa Allah cinta kepada orang yang berperang fi sabilillah. Madaniyah
  • Al Jumu’ah, artinya :Hari Jum’at, 11 ayat. Madaniyah
  • Al Munaa-fiquun, artinya : Orang-orang munafiq, 11 ayat. Madaniyah
  • Al Taghaabun, artinya : Hari dinampakkan kesalahan-kesalahan, 18 ayat. Madaniyah
  • At Thalaaq, artinya : Talaq/perceraian, 12 ayat.Madaniyah
  • Ath Tahrim,artinya : Pengharaman, 12 ayat. Madaniyah
  • Al Mulk, artinya : Kerajaan, 30 ayat. Makiyah
  • Al Qalam, artinya : Pena,52 ayat. Makiyah
  • Al Haaqqah, artinya : Hari Qiamat,52 ayat. Makiyah
  • Al Ma’aarij, artinya : Tempat-tempat naik,44 ayat. Makiyah
  • Nuh (Nama Nabi), 28 ayat. Makiyah
  • Al Jin, artinya : Jin,28 ayat. Makiyah
  • Al Muzam-mil, artinya : Orang yang berselimut,20 ayat. Makiyah
  • Al Muddats-tsir Orang yang berkemul56 Makiyah
  • Al Qiyaa-mah, artinya :  Hari Qiamat, 40 ayat. Makiyah
  • Al Insaan, artinya :  Manusia,31 ayat. Madaniyah
  • Al Mursa-laat, artinya :  Malaikat-malaikat yang diutus, 50 ayat.Makiyah
  • An Naba’, artinya : Berita besar, 40 ayat. Makiyah
  • An Naazi-’aat , artinya :  Malaikat-malaikat yang mencabut, 46 ayat.Makiyah
  • ‘Abasa, artinya :  Ia bermuka masam, 42 ayat. Makiyah
  • At Takwir, artinya :  Meng-gulung, 29 ayat. Makiyah
  • Al Infithar, artinya :  Terbelah, 19 ayat. Makiyah
  • Al Muthaffifin, artinya :  Orang-orang yang curang, 36 ayat. Makiyah
  • Al Insyiqaaq, artinya :  Terbelah,25 ayat. Makiyah
  • Al Buruuj, artinya :  Gugusan bintang, 22 ayat. Makiyah
  • At Thaariq, artinya :  Yang datang di malam hari, 17 ayat. Makiyah
  • Al A’laa, artinya :  Yang paling tinggi, 19 ayat. Makiyah
  • Al Ghaasyiyah, artinya :  Hari pembalasan, 26 ayat. Makiyah
  • Al Fajr, artinya :  Fajar, 30 ayat. Makiyah
  • Al Balad, artinya :  Negeri,20 ayat. Makiyah
  • Asy Syams, artinya :  Matahari,15 ayat. Makiyah
  • Al Lail, artinya :  Malam,21 ayat. Makiyah
  • Adh Dhuhaa, artinya :  Waktu matahari naik sepenggalan, 11 ayat. Makiyah
  • Alam Nasyrah, artinya :  Bukankah Kami telah melapang-kan, 8 ayat.Makiyah
  • At Tiin, artinya :  Buah Tiin, 8 ayat. Makiyah
  • Al ‘Alaq, artinya :  Segumpal darah, 19 ayat. Makiyah
  • Al Qadar, artinya :  Kemuliaan, 5 ayat.Makiyah
  • Al Bayyinah, artinya :  Bukit,8 ayat. Makiyah
  • Az Zalzalah, artinya :  Kegun-angan, 8 ayat. Madaniyah
  • Al ‘Aadiyaat, artinya :  Kuda perang yang berlari kencang,11 ayat. Makiyah
  • Al Qaari’ah, artinya :  Hari Qiamat,11 ayat. Makiyah
  • At Takaatsur, artinya :  Bermegah-megah,8 ayat. Makiyah
  • Al ‘Ashr, artinya :  Masa,3 ayat. Makiyah
  • Al Humazah, artinya :  Pengumpat,9 ayat. Makiyah
  • Al Fiil, artinya :  Gajah,5 ayat. Makiyah
  • Al Quraisy, artinya :  Suku Quraisy, 4 ayat.Makiyah
  • Al Maa’un, artinya :  Barang-barang yang berguna,7 ayat. Makiyah
  • Al Kautsar, artinya :  Nikmat yang banyak, 3 ayat. Makiyah
  • Al Kaafiruun, artinya :  Orang-orang yang kafir. Makiyah
  • An Nashr, artinya :  Pertolongan, 3 ayat. Madaniyah
  • Al Lahab, artinya :  Gejolak Api,5 ayat. Makiyah
  • Al Ikhlash, artinya :  Keesaan Allah, 4 ayat. Makiyah
  • Al Falaq, artinya :  Waktu Subuh, 5 ayat. Makiyah
  • An Naas, artinya :  Manusia, 6 ayat. Makiyah
  • Jumlah Ayat6.236(enam ribu dua ratus tiga puluh enam) Jumlah juz dalam Al-Qur’an ada 30 juz, yaitu :

    • Juz 1 disebut Juz Alif Lam Mim
    • Juz 2 disebut Juz Sayaulus Sufaha
    • Juz 3 disebut Juz Tilkar Rasul
    • Juz 4 disebut Juz Kulluth Tha’ami
    • Juz 5 disebut Juz Wal Muhshanatu
    • Juz 6 disebut Juz Laa Yuhibullahu
    • Juz 7 disebut Juz Latajidanna
    • Juz 8 disebut Juz Walau annana
    • Juz 9 disebut Juz Qalal Mala’u
    • Juz 10 disebut Juz Wa’lamu annama
    • Juz 11 disebut Juz Innamas Sabilu
    • Juz 12 disebut Juz Wama min Dabbatin
    • Juz 13 disebut Juz Wama Ubarri’u Nafsi
    • Juz 14 disebut Juz Alif Lam Raa
    • Juz 15 disebut Juz Subhanalladzi
    • Juz 16 disebut Juz Qala alam aqullaka
    • Juz 17 disebut Juz Iqtaraba Linnasi
    • Juz 18 disebut Juz Qad aflahal Mukminun
    • Juz 19 disebut Juz Waqalal ladzina
    • Juz 20 disebut Juz Fama kana jawaba
    • Juz 21 disebut Juz Wala Tujadilu
    • Juz 22 disebut Juz Waman Yaqnut
    • Juz 23 disebut Juz Wama Anzalnaa
    • Juz 24 disebut Juz Faman Adzlamu
    • Juz 25 disebut Juz Ilaihi Yuraddu
    • Juz 26 disebut Juz Haa Miim
    • Juz 27 disebut Juz Qala Fama Khatbukum
    • Juz 28 disebut Juz Qad Sami’a
    • Juz 29 disebut Juz Tabarak
    • Juz 30 disebut Juz Amma

    Jumlah ayatnya para ulama bersepakat bahwa ia lebih dari 6.000 ayat, namun mereka berselisih tentang kelebihannya. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa jumlahnya adalah 6204 ayat, ada yang mengatakan 6214 ayat ada yang mengatakan 219 ayat, 6225 ayat, 6226 ayat, 6236 ayat dll. Demikianlah apa yang dikatakan oleh Abu Amru ad Dani dalam kitab Al-Bayan. Namun yang paling banyak disepakati yaitu pendapat yang mengatakan sejumlah 6236 ayat seperti jumlah ayat-ayat tersebut diatas.

    Beberapa ilmu Yang Membahas Al-Qur’an

    a.  Ilmu Asbabun Nuzul, yaitu bagian dari ulumul Qur’an yang mempelajari sebab-sebab diturunnya ayat. Dengan ilmu ini seorang mufassir dapat mengetahui hikmah adanya suatu hukum dan perhatian syari’at terhadap kepentingan umum dalam menghadapi segala peristiwa. Selanjutnya seorang mufassir bisa membatasi hukum yang diturunkan dengan sebab yang terjadi. Para ulama sangat memperhatikan masalah asbabun nuzul ini, diantaranya apa yang dikatakan oleh Al Wahidy (Wafat 427 H) : “Tidak mungkin kita mengetahui tafsir suatu ayat tanpa mengetahui kisah dan sebab turunnya ayat tersebut.” Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah juga berkata : “Mengetahui asbabun nuzul menolong kita untuk memahami ayat, karena dengan mengetahui sebab turunnya ayat itu dengan sendirinya akan menghasilkan pengetahuan tentang yang disebabkan olehnya.” Diantara kitab asbabun nuzul yang termasyhur adalah kitab Lubabun Nuzul Fii Asbabin Nuzul, karya Imam Jalaluddin As Suyuthi, wafat : 911 H.

    b.  Ilmu Makki dan Madani, yaitu bagian dari ulumul Qur’an yang mempelajari ayat-ayat mana yang turun di Makkah dan ayat-ayat mana yang turun di Madinah. Para ulama begitu tertarik untuk meneliti surat-surat Makiyah dan surat-surat Madaniyah, mereka meneliti surat demi surat untuk diterbitkan sesuai dengan nuzulnya. Bahkan lebih dari mereka juga mengumpulkan waktu, tempat dan pola kalimat. Diantara materi yang dipelajari oleh para ulama dalam pembahasan ini adalah :

    1.      Yang diturunkan di Makkah.

    2.      Yang diturunkan di Madinah.

    3.      Yang diperselisihkan turunnya.

    4.      Ayat-ayat Makiyah yang terdapat dalam surat Madaniyah.

    5.      Ayat-ayat Madaniyah yang terdapat dalam surat Makiyah.

    6.      Yang diturunkan di Makkah sedang hukumnya adalah Madaniyah.

    7.      Yang diturunkan di Madinah sedang hukumnya adalah Makiyah.

    8.      Yang serupa dengan yang diturunkan di Makkah dalam kelompok Madani.

    9.      Yang serupa dengan yang diturunkan di Madinah dalam kelompok Makki.

    10.  Yang dibawa dari Makkah ke Madinah.

    11.  Yang dibawa dari Madinah ke Makkah.

    12.  Yang turun sewaktu malam dan turun diwaktu siang.

    13.  Yang turun di musim panas dan di musim dingin.

    14.  Yang turun di saat menetap dan turun di saat bersafar.

    Inilah pokok-pokok pembahasan dalam Ilmu Makki wal Madani. Diantara kitab yang di dalamnya membahas ilmu Makki dan Madani adalah Al Itqan fil Ulumil Qur’an karya Imam Jalaluddin As Suyuthi : wafat 911 H.

    c.  Ilmu Fawatihus Suwar, yaitu bagian dari ulumul Qur’an yang membahas surat-surat yang dimulai dengan huruf-huruf Hijaiyah tertentu. Diantara huruf-huruf yang sering dipakai dalam Al-Qur’an sebagai permulaan adalah : Huruf Alif, Lam, Mim, Ra’, Shaad, Qaaf, Kaaf, Haa, ‘Ain, Yaa, Tha, Sin, Nun dan Ha. Masing-masing surat memiliki fawatihus suwar yang berbeda-beda, ada yang berjumlah satu, ada yang dua bahkan ada yang sampai lima. Para ulama juga berbeda-beda dalam menafsirkan huruf-huruf itu, diantara mereka ada menyerahkan semuanya kepada Allah, ada pula yang menisbatkan huruf-huruf itu kepada sifat-sifat Allah dan lain sebagainya.

    d.  Ilmu Qiraat, yaitu bagian dari ulumul Qur’an yang membahas tentang cara dan kaifiyat dalam membaca Al-Qur’an. Dalam hal ini yang paling terkenal adalah istilah Qira’atus Sab’ah (Qiraat yang tujuh) atau Qira’atul Asyrah (Qira’at yang sepuluh). Diantara tokoh-tokoh dalam ilmu Qira’at adalah : Abdullah bin Katsir ad Dari di Mekkah, Nafi bin Adbur Rahman di Madinah, Abdullah al Yahashibi di Syam, Abu ‘Amer di Bashrah, Hamzah dan Ashim di Kufah dll.

    e.  Ilmu Nasikh wal Mansukh, yaitu bagian dari Ulumul Qur’an yang membahas ayat-ayat yang terhapus (mansukh) dan ayat-ayat yang menghapus (nasikh). Para ulama berselisih pendapa tentang adanya naskh dalam Al-Qur’an. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa tidak mungkin ada ayat Al-Qur’an yang mansukh, karena Al-Qur’an merupakan ayat yang muhkamat. Diantara mereka ada juga yang berpendapat adanya naskh dalam Al-Qur’an sebagaimana firman Allah yang terdapat dalam surat :

    “Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja”. Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui.” (Q.S. An Nahl : 101)

    dan Surat :

    “Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” (Q.S. Al Baqarah : 106)

    Jumhur ulama mengatakan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang telah dimansukh oleh ayat yang datang terakhir kali. Dalam hal ini Imam Jalaluddin As Suyuthi banyak menjabarkan dalam kitabnya yang berjudul Al Itqan dan At Tahbir Fii Ilmi Tafsir.

    f.   Ilmu Rasmil Qur’ani, yaitu bagian dari ulumul Qur’an yang membahas tentang perumusan dalam penulisan mushaf Al-Qur’an. Diantara mushaf yang paling masyhur dan telah disepakati oleh jumhur ulama adalah Mushaf Utsmani. Rasam inilah yang memiliki kedudukan tinggi, karena khalifah sendiri yang menyetujuinya dan menetapkannya, sehingga ia disebut sebagai mushaf imam.

    g. Ilmu Muhkam dan Mutasyabih, secara bahasa bahwa yang disebut Muhkam adalah sesuatu yang paten dan kokoh, sedang mutasyabih adalah adanya penyerupaan antara dua jenis benda. Dalam hal ini pengertian ayat-ayat muhkam menurut istilah syar’i adalah ayat-ayat yang mudah diketahui maksudnya, sedang ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang hanya diketahui maknanya oleh Allah sendiri. Ayat muhkam berarti ayat yang memiliki satu bentuk (wahjun), sedang mutasyabih mengandung banyak wajah. Ayat muhkam juga berarti ayat yang maksudnya dapat diketahui secara langsung, sedang mutasyabih adalah ayat yang memerlukan penjelasan dengan merujuk kepada ayat-ayat yang lain. Para ulama memberikan contoh beberapa ayat-ayat muhkam, diantaranya adalah ayat-ayat yang membahas masalah halal dan haram, hudud, kewajiban, janji dan ancaman. Sedang diantara contoh ayat-ayat mutasyabih adalah ayat-ayat yang berbicara tentang asma’ dan sifat Allah, termasuk diantaranya masalah-masalah yang membahas tentang alam akhirat.

    h. Ilmu Amtsalli Qur’an, yaitu bagian dari ulumul Qur’an yang membahas tentang berbagai perumpamaan yang Allah buat dalam Al-Qur’an. Objeknya adalah kisah, keadaan, binatang, benda-benda dan hal-hal yang biasanya menarik perhatian dan menakjubkan. Di dalam Al-Qur’an ada tiga macam amtsal, yaitu amtsal musharah (amtsal yang tegas), amtsal kaminah (amtsal yang tersembunyi), dan amtsal mursalah (yang terlepas). Diantara faedah dan adanya amtsal dalam Al-Qur’an adalah untuk mengumpulkan makna yangindah dalam satu ibarat yang pendek, ia juga berfungsi untuk mengungkap hakikat-hakikat dan mengemukakan sesuatu yang jauh dari fikiran hingga menjadi dekat dengan fikiran.

    i.   Ilmu Qashashil Qur’an, yaitu bagian dari ulumul Qur’an yang membahas tentang kisah-kisah di dalam Al-Qur’an. Ia meliputi kisah-kisah para nabi, kisah-kisah umat-umat terdahulu, dan kisah-kisah yang berkaitan dengan kehidupan Rasulullah SAW. Diantara faedah dari semua ini adalah untuk menjelaskan dasar-dasar dakwah pada agama Allah dan menerangkan pokok-pokok syariat yang disampaikan oleh para nabi. Kisah itu juga berfungsi untuk mengokohkan hati Rasulullah SAW dan umatnya agar yakin dalam berpegang teguh kepada agama ini bahwasanya Allah akan memberikan pertolongan kepada hamba-Nya. Hikmah lainnya adalah untuk menampakkan kebenaran risalah nabi Muhammad, dimana beliau dapat menerangkan sifat-sifat umat-umat terdahulu.

    j.   Ilmu Jadalil Qur’an, yaitu bagian dari ilmu ulumul Qur’an yang membahas tentang debat di dalam Al-Qur’an. Jadal atau munadharah bisa berarti membantah atau mendebat sesuatu, maksudnya membantah pendapat orang kafir dan mematahkan hujjah-hujjah mereka. Tujuan dari jadal atau munadharah ini untuk menunjukkan kelemah dan kekurangan mereka, serta menampakkan kebenaran dan misi risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

    k.  Ilmu Aqsamil Qur’an, yaitu bagian dari ulumul Qur’an yang membicarakan tentang sumpah-sumpah di dalam Al-Qur’an. Fungsi dari adanya sumpah ini adalah untuk menekankan kebenaran isi Al-Qur’an, karena benda-benda yang dijadikan Allah sebagai sumpah merupakan benda-benda yang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh benda lainnya. Diantara benda yang sering digunakan untuk bersumpah adalah : matahari, malam, waktu siang, waktu subuh, waktu ashar, kuda perang, bulan dll.

    l.   Ilmu Tafsir Al-Qur’an, ilmu inilah yang menempati bagian terbesar dalam ulumul Qur’an, karena hampir semua ilmu-ilmu Al-Qur’an lainnya berfungsi untuk membantu menafsirkan ayat Al-Qur’an. Para ulamat salaf sangat berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, bila mereka tidak mengerti maka mereka akan mengembalikan permasalahan itu kepada orang yang lebih mengerti, dalam hal ini adalah Rasulullah SAW  dan para sahabatnya. Tokoh sahabat yang menjadi penterjemah Al-Qur’an adalah Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas. Keduanya sering disebut sebagai Syeikhul Mufassirin.

    Keutamaan Membaca Al-Qur’an

    a.   Keutamaan Al-Qur’an
    Mengenai keutamaan Al-Qur’an dapat dilihat dari hadits Rasulullah SAW di bawah ini :

    “Al-Qur’an lebih dicintai oleh Allah dari tujuh petala langit dan tujuh lapis bumi dan dari segala isinya.” (H.R. Abu Nu’aim dari Ibnu Umar r.a.)

    “Al-Qur’an adalah pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya dan petunjuk yang diakui sungguh kebenarannya. Barangsiapa menjadikan Qur’an pemimpinnya, maka ia (Qur’an) akan menuntunnya ke dalam surga. Dan barangsiapa meletakkan Al-Qur’an dibelakangnya, maka ia (Qur’an) akan menghelanya ke dalam neraka.” (H.R. Ibnu Hibban)

    b.   Fadhilah Membaca Al-Qur’an

    Guna menggerakkan hati kita untuk mengerjakan amalan “tilawat” (membaca Al-Qur’an), serta menetapkan fikiran dan keinginan kita kepadanya, baiklah disini kita uraikan fadhilah membaca (tilawat) Al-Qur’an, sebagaimana di bawah ini :

    Pertama, pembaca (pentilawat) Al-Qur’an, ditempatkan di dalam shaf (barisan) orang-orang yang besar yang utama dan tinggi.

    Kedua, pembaca (pentilawat) Al-Qur’an, memperoleh beberapa kebajikan dari tiap-tiap huruf yang dibacanya dan ditambah-tambah derajatnya di sisi Tuhan sebanyak kebajikan yang diperolehnya itu.

    Ketiga, pentilawat Al-Qur’an dinaungi dengan payungan rahmat, dikelilingi oleh para malaikat dan diturunkan Allah kepadanya keterangan dan kewaspadaan.

    Keempat, pentilawat Al-Qur’an digemilangkan hatinya oleh Allah dan dipeliharanya dari kegelapan.

    Kelima, pentilawat Al-Qur’an diharumkan baunya, disegani dan dicintai oleh orang-orang shaleh. Apabila pentilawat itu memperbagus bacaan dan hafalannya, maka ia dapat mencapai derajat malaikat.

    Keenam, pentilawat Al-Qur’an tiada bergundah hati di hari qiamat, karena ia senantiasa dalam pemeliharaan dan penjagaan Allah.

    Ketujuh, pentilawat Al-Qur’an memperoleh kemuliaan, dan diberikan rahmat kepada ibu bapaknya.

    Kedelapan, pentilawat Al-Qur’an memperoleh kedudukan yang tinggi dalam surga.

    Kesembilan, pentilawat Al-Qur’an memperoleh pula derajat seperti yang diingini oleh orang-orang shaleh.

    Kesepuluh, pentilawat Al-Qur’an ditemani dan dikelilingi oleh para malaikat dan semuanya mendoakan dan memohonkan ampunan dan derajat yang setinggi-tingginya.

    Kesebelas, pentilawat Al-Qur’an terlepas dari kesusahan-kesusahan akhirat.

    Keduabelas, pentilawat Al-Qur’an termasuk orang yang dekat kepada Allah, berada dalam rombongan orang-orang yang bersama Allah di surga.

    c.   Fadhilah Berkumpul Membaca Al-Qur’an, Istimewa di bulan Ramadhan

    Bersabda Rasulullah SAW : “Barangsiapa melapangkah kesusahan seorang Mu’min dari sesuatu kesusahan dunia, niscaya Allah melapangkannya dari kesusahan akhirat. Dan barangsiapa memudahkan bagi seseorang yang sedang dalam kesukaran, niscaya Allah memudahkan baginya kesukaran dunia dan akhirat. Dan barangsiapa menutupi ‘aib seorang Muslim, niscaya Allah menutupi ‘aibnya di dunia dan di akhirat, Allah senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba itu senantiasa pula menolong saudaranya. Dan barangsiapa melalui suatu jalan untuk mencapai ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya jalan ke surga. Dan tiada berkumpul kaum di dalam suatu rumah Allah, mereka baca Kitab dan mereka pelajari bersama-sama (bertadarus), melainkan diturunkan kepada mereka ketenangan hati, diselubungi mereka dengan rahmat, dikelilingi mereka oleh malaikat, dan Allah akan menyebut mereka kepada orang-orang yang disisi-Nya. Dan barangsiapa dilambatkan oleh amalannya, niscaya dicepatkannya oleh keturunannya. (H.R. Muslim).

    Dari hadits tersebut di atas maka jelaslah bahwa mentadarruskan Al-Qur’an amat disukai. Yaitu membaca Al-Qur’an bersama-sama, seorang membaca di hadapan yang lain secara berganti-ganti untuk sama-sama mempelajari isinya. Ketahuilah, bahwa pada tiap-tiap malam bulan Ramadhan, Jibril datang kepada Rasulullah untuk bertadarus Al-Qur’an bersama Rasulullah.

    Waktu-Waktu Yang Utama Membaca Al-Qur

    Waktu yang lebih utama (afdal) membaca Al-Qur’an, ialah malam hari, seperti antara maghrib dan Isya, istimewa seperdua yang akhir tiap-tiap malam. Jika siang hari, maka yang lebih utama (afdhal), ialah sesudah sembahyang fardhu, atau pada waktu shubuh. Perlu juga rasanya dinyatakan, bahwa tidak ada waktu yang makruh untuk membaca Al-Qur’an, kecuali pada waktu-waktu yang dilarang menyebut nama Allah SWT.

    Hari-hari yang terbaik untuk membaca Al-Qur’an, ialah hari Jum’at, hari Senin, hari Kamis, hari Arafah, sepuluh hari yang pertama di bulan Zulhijjah (1-9) Zulhijjah), hari-hari bulan Ramadhan, istimewa sepuluh hari yang akhir di bulan itu (20-30 Ramadhan).


    Adab Membaca Al-Qur’an

    Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan beberapa adab (etika) yang dituntut saat membaca Al-Qur’an dan hukum-hukumnya diantaranya sebagai berikut :

    a. Bersikap ikhlas dalam membaca Al-Qur’an dan menghadirkan munajat kepada Allah SWT.

    b. Membersihkan mulutnya dengan siwak (menggosok gigi) atau yang sejenis dengannya.

    c. Pada saat membaca, berada dalam keadaan suci dari hadats kecil dan besar. Adapun diperbolehkannya seseorang membaca Al-Qur’an walau berada dalam keadaan berhadats kecil adalah disertai dengan syarat untuk berjaga-jaga agar tidak sampai menyentuh mushhaf. Dan diperbolehkan hal itu bagi wanita yang tengah istihadhah pada saat-saat tertentu, dengan catatan ia sedang dalam keadaan suci (bersih).

    d. Diharamkan bagi yang tengah berada dalam keadaan junub dan bagi wanita yang tengah mengalami masa haidh untuk membaca Al-Qur’an, baik seluruhnya atau sebagian ayatnya. Terkecuali jika bagian dari ayat tersebut merupakan zikir-zikir yang ditentukan waktunya untuk pagi atau sore hari. Atau zikir-zikir mutlak yang mengandung sebagian ayat Al-Qur’an. Akan tetapi, diperbolehkan bagi mereka berdua untuk membaca Al-Qur’an dalam hati, tanpa diucapkan secara lisan, dan juga diperbolehkan bagi mereka berdua untuk memandang mushhaf tanpa menyentuhnya secara langsung.

    e. Apabila orang yang junub atau wanita yang tengah haidh hendak bersuci, akan tetapi tidak menemukan air, maka hendaknya ia bertayamum, dan diperbolehkan baginya untuk melaksanakan shalat, membaca Al-Qur’an dan ibadah yang lainnya, selama belum berhadats atau belum menemukan air.

    f. Dianjurkan agar membaca Al-Qur’an ditempat yang bersih. Dan dianjurkan membacanya di masjid. Karena, masjid merupakan tempat yang bersih dan mulia kedudukannya, sebagai tempat ibadah. Sebab, dimungkinkan dengan duduk di dalamnya, ia pun dapat tergerak untuk melanjutkannya beri’tikaf, dengan catatan berniat terlebih dahulu. Dan juga sudah sepantasnya tidak membaca Al-Qur’an terkecuali di tempat yang bersih dan suci.

    g. Bagi para pembaca Al-Qur’an, dianjurkan menghadap ke arah kiblat saat membaca, duduk dengan khusyu’, bersikap tenang dan merendahkan posisi kepala. Akan tetapi, jika ia membaca sambil tiduran atau berbaring, atau berada dalam posisi lainnya, maka hal itu boleh saja dan ia juga mendapatkan pahala. Akan tetapi, tidak mendapatkanpahala yang sama dengan kondisi pertama.

    h. Jika hendak memuliakan, maka ketika membaca Al-Qur’an dianjurkan agar diawali dengan ber-isti’adza terlebih dahulu, yaitu mengucapkan “A’uudzubillahi minasy syaithoonirrajiim“ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk). Ini merupakan pendapat mayoritas para allim ulama. Dan seyogyanya juga membaca basmalah : “Bismillahirrahmaanirraahiim“ (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). pada setiap bacaan pertama dari setiap surah, terkecuali surah Baraa’ah (At Taubah).

    i. Apabila hendak memulai membaca Al-Qur’an, hendaknya terlebih dahulu mengkonsen-trasikan keinginannya untuk bersikap khusyu’ dalam membaca, dan untuk merenungkan kandungannya.

    j. Seyogyanya seseorang yang hendak membaca Al-Qur’an dapat merasakan perasaan takut kepada Allah, sesuai dengan sabda Nabi SAW :

    “Bacalah oleh kalian Al-Qur’an, dan menangislah kalian. Akan tetapi, jika kalian tidak mampu untuk menangis, maka pura-puralah menangis.” (H.R. Ibn Majah)

    Adapun yang dimaksud dengan hadits Jabir yang berstatus marfu’ yaitu :

    “Sesungguhnya manusia yang paling baik suaranya dengan (membaca) Al-Qur’an, jika kalian mendengarnya membaca (Al-Qur’an) kalian menyangka bahwa ia takut kepada Allah.’ (H.R. Ibn Majah)

    Caranya adalah dengan memperhatikan kandungan Al-Qur’an, baik ancamannya, perjanjian dan persetujuannya. Kemudian melakukan introspeksi atas kekurangan pada dirinya dalam hal tersebut. Jika kesedihan dan tangis belum juga hadir dalam dirinya, maka tangisilah kekerasan hatinya, karena hal itu merupakan musibah yang paling besar.

    k. Seyogyanya orang-orang yang hendak membaca Al-Qur’an itu melafazkan bacaannya dengan tartil. Karena, para alim ulama telah bersepakat atas anjuran untuk membaca dengan tartil, berdasarkan firman Allah SWT :

    “Dan bacalah Al-Qur’an dengan perlahan-lahan (tartil).” (Q.S. Al-Muzammil:4)

    Karena, bacaan yang dilakukan dengan tartil itu sangat mengagumkan (enak didengar), dan pengaruhnya pada hati lebih mendalam daripada membacanya secara cepat atau terburu-buru.

    l. Dianjurkan jika pada saat membaca mendapatkan ayat yang mengandung ungkapan rahmat, maka hendaknya ia meminta karunia-Nya. Dan jika mendapatkan ayat yang mengandung akan siksa-Nya, maka hendaknya ia meminta perlindungan kepada-Nya dari kejahatan dunia dan siksa akhirat. Dan apabila mendapatkan bacaan ayat yang mensucikan Allah SWT maka hendaknya ia mensucikan-Nya dengan berkata : “Maha Suci Allah”, atau “betapa besar keagungan-Nya”, atau lafaz-lafaz lain yang semakna dengannya.

    m. Seyogyanya ia memuliakan dan membesarkan (kedudukan) Al-Qur’an dengan tidak bermain-main saat membacanya, baik dengan tertawa, membuat kegaduhan, bertengkar, atau bersenda gurau. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT :

    “Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al-A’raaf: 204)

    n. Tidak diperbolehkan membaca Al-Qur’an selain dengan bahasa Al-Qur’an, baik bahasa yang digunakan (selain bahasa Al-Qur’an) itu baik atau tidak baik, pada saat menunaikan shalat atau diluar shalat.

    o. Tidak diperbolehkan membaca Al-Qur’an selain dengan (cara) bacaan yang tujuh (qira’atu sab’ah) yang sangat mutawatir, dan dilarang membacanya dengan bacaan yang diluar ketentuan. Apabila seseorang membaca Al-Qur’an dengan salah satu cara bacaan yang mutawatir, maka hendaknya ia menyempurnakan bacaannya dengan cara itu, selama ayatnya masih berkaitan atau berhubungan dan tidak berpindah-pindah antara cara-cara bacaan yang satu ke cara bacaan yang lain dalam satu rangkaian ayat.

    p. Yang dianjurkan menurut para ulama adalah, hendaklah ia membacanya menurut susunan dalam mushhaf, baik dalam shalat atau bukan. Sebab ketertibannya itu mendatangkan hikmah yang besar.

    q. Membaca Al-Qur’an (langsung) dari mushhafnya adalah lebih utama daripada membacanya dengan hafalan, tanpa mushhaf, selain pada saat menunaikan shalat. Dikarenakan, melihat mushhaf Al-Qur’an itu sendiri merupakan ibadah yang disyari’atkan. Oleh sebab itu, seyogyanyalah bagi seseorang yang membaca Al-Qur’an mengkombinasikan antara membaca dan melihat mushhafnya secara bersamaan, terkecuali jika ia membaca dengan dihafal bacaannya menjadikan dirinya lebih khusyu’.

    r. Dianjurkan untuk membuat halaqah (semacam kelompok) dalam membaca dan tadarrus Al-Qur’an. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW berikut ini  :

    “Tidak berkumpul suatu kaum di dalam rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), dimana mereka tengah membaca kitab Allah (Al-Qur’an) dan saling bertadarrus (belajar) di antara mereka, terkecuali ketenangan akan turun atas mereka, dinaungi rahmat-Nya, para malaikat mengelilingi (menghormati) mereka dan Allah menyebutkan mereka sebagai orang-orang yang berkedudukan mulia disisi-Nya.” (H.R. Abu Daud, Imam At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad)

    s. Dianjurkan untuk mengeraskan suara (menjelaskan) pada saat membaca Al-Qur’an, jika ia tidak takut akan merasa riya’ atau tidak takut mengganggu orang lain. Karena, membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan suara yang jelas dapat membangkitkan semangat dalam hati, menghimpun keinginan dan mentranformasikan pendengaran menjadi perenungan pada bacaannya. Sebagaimana ditegaskan di dalam sabda Nabi SAW berikut ini :

    “Allah SWT tidak memperkenankan melalui lisan Nabi-Nya SAW suara yang bagus dalam membaca Al-Qur’an, jika hal itu akan dapat mengacuhkan makna yang terkandung di dalamnya (bagi yang mendengarkan).” (H.R. Imam Bukhari)

    t. Dianjurkan agar memperindah suaranya disaat membaca Al-Qur’an, sesuai dengan sabda Nabi SAW berikut ini :

    “Hiasilah bacaan Al-Qur’an itu dengan suara indah kalian.” (H.R. Imam Bukhari, Abu Daud, Imam An Nasa’i, Imam Al Albaani)

    u. Dianjurkan agar meminta untuk membaca dengan indah, bagi yang bagus suaranya. Hal ini merupakan sunnah Nabi SAW, sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas r.a : “Ibn Mas’ud  r.a. berkata, bahwa Nabi SAW berkata kepadaku : “Bacalah untukku Al-Qur’an ini”. Aku menjawab : “Bagaimana aku akan membacakan untukmu tentang sesuatu (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu ?” Maka beliau berkata : “Sungguh aku sangat ingin mendengarnya dari selain diriku.” Lalu aku (Ibn Mas’ud) membaca surah An Nisa’ ayat 41 sampai pada ayat yang berbunyi : “Maka bagaimanakah halnya orang-orang kafir nanti, apabila Kami mendatangkan seseorang sebagai saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” Kemudian beliau berkata kepadaku : “Berhenti, atau tahan !” Seketika aku menyaksikan dari kedua mata beliau bercucuran air mata.” (H.R. Ibn ‘Abbas, Imam Bukhari, Imam Muslim)

    v. Mayoritas alim ulama menganjurkan agar segala majelis ilmu (majelis ta’lim) diawali pembukaannya dengan bacaan Al-Qur’an, yang dibawakan oleh seorang pembaca yang bersuara merdu.

    w. Makruh untuk membacanya (Al-Qur’an) pada tempat-tempat dan kondisi-kondisi tertentu, seperti pada saat ruku’ dan sujud, saat membaca tasyahud dan yang lainnya dari gerakan-gerakan shalat, terkecuali pada saat berdiri. Makruh untuk membaca lebih dari surah Al Fatihah bagi makmum, atau jika ia membacanya pada saat mendengar Imam membacanya. Makruh membacanya saat mengantuk dan ikut membacanya pada saat menyimak khutbah bagi yang sedang mendengarnya.

    x. Tidak dianjurkan bagi para pembaca untuk memulai dan mengakhiri bacaan Al-Qur’an menurut tanda-tanda ¼ (Al Arbaa’), 1/10 (Al ‘Asyaar) dan tanda Zuj jika maknanya (saat berhenti) belum sempurna, atau jika ia terikat dengan bacaan berikutnya.

    y. Jika ia mendengar seseorang mengucapkan salam, sedangkan ia membaca Al-Qur’an, maka seyogyanya ia berhenti sejenak dari bacaannya, kemudian menjawab salamnya. Seandainya ada orang lain yang bersin (bangkis) dan ia tengah membaca Al-Qur’an, bukan pada saat mengerjakan shalat, kemudian orang yang bersin tadi mengucapkan kata Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah), maka dianjurkan bagi yang tengah membaca Al-Qur’an berhenti sejenak dan mendoakannya dengan membaca Rahimakallah (semoga Allah menyayangimu). Seandainya pembaca Al-Qur’an mendengarkan suara adzan, maka seyogyanya ia  menghentikan bacaannya dan menjawab panggilan muadzdzin.

    z. Apabila disaat membaca mendapatkan ayat sajdah tilawah, maka hendaknya pada saat itu ia melakukan sujud tilawah.

    Bahaya Meninggalkan Al-Qur’an

    Apabila hubungan dan perlakuan yang baik, yang diberikan kepada Al-Qur’an, merupakan sebagian dari faktor yang menimbulkan kecintaan kepada Allah, maka meninggalkan dan memperlakukan Al-Qur’an dengan buruk adalah menjadi faktor timbulnya kebencian Allah SWT.

    Manusia yang memperlakukan Al-Qur’an dengan baik, maka ia akan mendapatkan kedudukan dan derajat yang mulia di sisi Allah. Akan tetapi, dari sebagian mereka ada yang berubah-ubah dengan sebab meninggalkannya, yaitu dengan memperturutkan kemauan hawa nafsu yang bersifat indrawi.

    Orang-orang yang termasuk golongan mereka yang berpaling dari Al-Qur’an adalah mereka yang meninggalkannya, dimana Nabi SAW pernah mengadukan perilaku mereka yang berbuat begitu kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana disinyalir di dalam firman Allah :

    “Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan”.” (Q.S. Al Furqaan : 30)

    Jika kepada mereka dibacakan Al-Qur’an, maka mereka lebih banyak berbuat kebisingan dan berbicara tentang hal-hal selain darinya (Al-Qur’an). Inilah salah satu bentuk perlakuan (sikap) meninggalkan Al-Qur’an. Yaitu, sikap tidak beriman dan tidak membenarkannya (dengan sepenuh hati), merupakan satu bentuk dari perlakuan meninggalkannya. Tidak bertafakur dan tidak juga memperhatikannya merupakan bentuk dari perlakuan meninggalkannya. Berpaling darinya menuju kepada hal selainnya, baik itu sebatas perasaan, ucapan, nyanyian, dan senda guraunya, pembicaraannya, atau mengambil jalan dari selain ketentuannya, maka semua merupakan bentuk dari perlakuan meninggalkan Al-Qur’an.

    Orang-orang yang meninggalkan Al-Qur’an itu bermacam-macam jenis dan kategorinya. Oleh karenanya, seorang Mu’min hendaknya mawas diri, agar tidak termasuk dalam kategori di atas, dengan melakukan salah satu dari kategori yang dilakukan oleh orang-orang yang dicap sebagai golongan yang meninggalkan Al-Qur’an.

    Imam Ibn Qayyim Al Jauziyah rahimahullah berkata, bahwa perilaku meninggalkan Al-Qur’an itu bermacam-macam bentuknya, yang diantaranya adalah :

    a.  Tidak mau (enggan) mendengarkannya, mengimani, atau mendengarkannya dengan seksama.

    b.  Tidak mengamalkan kandungannya, dan berhenti atau tidak mengindahkan pada ketentuan halal haramnya, meskipun ia membaca serta beriman kepadanya.

    c. Tidak bertahkim dan menjadikannya sebagai landasan hukum dalam perkara-perkara dasar serta cabang-cabangnya.

    d.  Tidak ber-tafakkur, memahaminya dan mengetahui apa yang dikehendaki oleh yang berfirman dengan perantaraan kalam (Al-Qur’an).

    e. Tidak menjadikannya sebagai obat penyembuh bagi berbagai macam penyakit hati dan obat-obatnya, hingga ia mencari obat bagi penyakitnya itu kepada yang lain serta tidak mengobati penyakitnya dengan perantaraan Al-Qur’an.

    Kesemua kategori tersebut di atas termaktub dalam firman Allah SWT :

    “Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan”.” (Q.S. Al-Furqaan: 30)

    Kesemuanya itu dikategorikan sebagai meninggalkan membaca Al-Qur’an. Dan masih banyak lagi gambaran dari perlakuan ini pada era kita saat ini. Misalnya dengan meletakkan mushhaf pada tempat yang tersedia hanya untuk mengambil berkah dari keberadaannya semata. Seperti diletakkan di rak buku rumah, di belakang mobil atau di bagian dpeannya, sehingga mushhafnya itu tertutup oleh debu. Sebagaimana disaksikan bahwa mushhaf itu tidak diacuhkan dan ini merupakna etik ayang buruk yang diberikan bagi kitab Allah.

    Ibnu Jauzi Rahimahullah berkata : “Barangsiapa yang memiliki mushhaf (Al-Qur’an), maka seyogyanya ia membacanya setiap hari, beberapa ayat saja, agar tidak dianggap sebagai orang (hamba) yang tidak mengacukannya.”

    Seperti yang digambarkan oleh Ibn Jauzi rahimahullah, bahwa untuk menyembuhkan jenis terakhir dari ketidak-acuhan terhadap Al-Qur’an ini maka ia pun menunjukkan cara bagaimana mengatasi perlakuan buruk lainnya seperti tidak ber-tafakkur dan tidak berusaha memahaminya dimana ia berkata : “Hendaknya seorang pembaca Al-Qur’an mengerjakannya semata-mata untuk menghilangkan faktor-faktor pencegah di dalam memahaminya. Seperti bayangan yang diberikan setan kepadanya. Dimana seakan-akan bacaan ayatnya tidak benar dan atau tidak keluar menurut makhrajnya, yang mana ia harus mengulang-ulang bacaannya. Sampai timbul keinginan pada dirinya untuk memahami maknanya. Selain itu, setan menggodanya dengan mendorong untuk terus melakukan dosa, bersikap takabbur, atau dicoba dengan menuruti hawa nafsu. Sebab, kesemuanya itu merupakan faktor yang menggelapkan dan mengkaratkan hatinya seperti pudarnya cahaya sebuah cermin. Ia juga mencegah untuk menampakkan kebenaran. Hati itu seperti kaca (cermin) dan syahwat itu seperti karat. Adapun makna yang terkandung di dalam Al-Qur’an itu seperti gambaran-gambaran yang dipantulkan dan terlihat di muka cermin, serta bentuk riyadhah atau pelatihan bagi hati. Yaitu, menyingkirkan segala bentuk syahwat yang merusak, seperti membersihkan cermin dari setiap karat yang memudarkan cahayanya.”

    Itu semua merupakan bentuk pengacuhan terhadap Al-Qur’an, yaitu golongan dan keadaannya. Adapun orang-orang yang selalu berhubungan dengan Al-Qur’an menurut kategori dan derajatnya, tergantung pada kenikmatan yang diberikan Allah kepada mereka, yaitu dengan mencurahkan kemampuan dan keinginan mereka. Para ulama salaf selalu menghidupkan hati mereka dengan kitab Allah, siang dan malam. Mereka memelihara hatinya dengan senantiasa memperbaharui dan mengairinya dengan kesejukan, agar ia selalu hidup, segar dan terjaga.

    Ibn Jauzi Rahimahullah berkata, “Adapun ukuran banyak atau sedikitnya bacaan, maka para ulama salaf dalam hal ini memiliki ketentuan yang berbeda-beda. Diantaran mereka ada yang mampu menyelesaikan (khatam) setiap hari, sehari semalam dengan satu kali khatam. Ada yang mengkhatamkannya setiap tiga hari, tiga malam. Ada yang setiap minggu, setiap bulan, karena adanya tambahan menyibukkan diri dengan ber-tafakkur tentang kandungannya atau menyebarkan pengetahuan dan mengajarkannya. Atau dengan melakukan ibadah selain membaca Al-Qur’an, seperti mencari kehidupan duniawi.

    Kemudian beliau berkata, “Begitu pula dengan ulil amri yang tidak melarang manusia dari kesibukannya yang utama, serta tidak menyakiti fisik mereka. Akan tetapi, semua kesibukan yang ada padanya tidak membbuatnya meninggalkan kebiasaan membaca Al-Qur’an dan berusaha untuk memahami kandungannya.

    Menurut pendapat dari kebanyakan ahli ilmu pengetahuan, bahwa membaca dan memahami Al-Qur’an dengan baik adalah lebih utama dari pada banyak membacanya tanpa memahaminya. Seorang juru bicara Al-Qur’an, yakni Ibn ‘Abbas r.a. berkata : “Membaca surah Al Baqarah dan Ali Imran dengan melagukannya serta merenungkan maknanya adalah lebih aku sukai daripada aku membaca keseluruhannya dengan cepat.”

    Oleh karenanya, Imam Az-Zarkasyi Rahimahullah berkata : “Dimakruhkan bagi suatu kaum yang bacaannya lebih sedikit dari tiga ayat, dimana mereka mengetahui akan hadits berikut ini :

    “Tidak akan memahami maknanya seseorang yang membaca Al-Qur’an kurang dari tiga ayat.” (HR. Abu Daud, Imam At Timridzi, Ibn Majah, Al Albaani)

    Dan yang dipilih – menurut pendapat mayoritas dari para pentahkik – bahwa hal itu berbeda menurut keadaan seseorang baik kesungguhannya, kelemahannya, perenu-ngannya, dan kelalaiannya, karena telah diriwayatkan dari Utsman bin ‘Affan r.a. bahwa ia mengkhatamkannya dalam semalam dan dimakruhkan jika mengkhatamkannya lebih dari 40 hari. (dipetik dari kitab Al Burhaan fii ‘Uluumi Al-Qur’an)

    Akan tetapi, mayoritas orang di Kairo, Mesir terkadang tidak mampu untuk mengkhatamkannya satu kali dalam satu bulan. Karena, mungkin diantara mereka ada yang jatuh sakit, sibuk, sedang berperang atau udzur yang lainnya. Untuk itu, dianjurkan mengkhatamkannya selama 6 bulan sekali, yang berarti dua kali dalam satu tahun.

    Imam Az Zarkasyi Rahimahullah mengisyaratkannya – yang dinukil dari Abi Al Laits – dimana beliau berkata : “Seyogyanya seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an dua kali dalam satu tahun, jika ia tidak mampu melakukannya lebih dari itu.”

    Al Hasan bin Ziyad telah meriwayatkan dari Abi Hanifah, bahwa ia berkata : “Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an dalam setiap tahun dua kali khatam, maka ia telah memenuhi haknya. Karena, Nabi SAW membacanya (dengan menghafal) dihadapan malaikat Jibril a.s. dalam satu tahun sebanyak dua kali” (dipetik dari kitab Al Burhaan fii ‘Uluumi Al-Qur’an)

    Penyusun tutup pembicaraan mengenai penjelasan tentang faktor ini, dimana merupakan faktor yang mendatangkan kecintaan Allah degan satu peringatan yang penting, yaitu : “Bahwa setiap (segala) apa yang diucapkan dari bacaan Al-Qur’an, bagi yang membacanya : dikatakan juga dari mendengar Al-Qur’an bagi yang belum mengetahui bacaannya, maka Allah SWT menjanjikan bagi mereka (termasuk setiap orang yang mendengarkan Al-Qur’an dengan khusyu’) dengan rahmat-Nya. Sebagaimana Dia berfirman :

    “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah secara baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang, agar kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al-‘Araaf: 204)

    Atau dengan kata lain : “Dengarkanlah secara seksama, agar kamu dapat memahami makna-maknanya, merenungkan nasihat yang terkandung di dalamnya, dan perhatikanlah dengan tenang sampai bacaannya selesai, untuk mengangungkan serta menghormatinya. Semua itu dimaksudkan agar kamu beruntung dengan mendapatkan rahmat Allah, sebagai hasil yang paling utama.”

    Rahmat Allah SWT merupakan hasil yang paling benar secara hakiki. Bahkan di dalamnya masih terdapat lagi rahmat-Nya yang lain, dan di dalam hasil (buah) ini masih terdapat lagi hasil-hasil lainnya.

    Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah menyebutkannya dan menjelaskan, bahwa manusia yang memperoleh derajat paling utama dengan mendapatkannya adalah mereka yang lebih mengutamakan untuk mendengarkan (bacaan) Al-Qur’an daripada mendengar godaan-godaan setan. Atau, yang lebih mengutamakan untuk mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan tenang daripada mendengarkan bait-bait sya’ir. Atau, lebih suka untuk mendengarkan firman Allah (yang mengatur, pemilik) langit dan bumi daripada mendengarkan para sastrawan dan penya’ir.

    Seseorang yang lebih mendengarkan Al-Qur’an, maka ia tidak akan pernah melewatkannya. Sebab, Al-Qur’an sudah dianggap sebagai pembimbing untuk menentukan hujjah, melihat berbagai pelajaran yang terkandung di dalamnya, sebagai pengingat bagi pengetahuan dan pikirannya. Dimana kesemuanya itu menjadi bukti atau petunjuk dari kegelapan, berfungsi sebagai penglihatan bagi kebutaannya, sebagai perintah untuk kemaslahatan, sebagai pencegah dari mudharat dan kerusakan, sebagai hidayah menuju cahaya Ilahi, sebagai pintu keluar dari kegelapan. Juga sebagai penahan hawa nafsu, sebagai penjaga dari dosa dan merupakan pintu keberhasilan, sebagai pembuka bagi nilai-nilai subhat, sebagai penghidupan bagi hati, sebagai penyeru kepada taqwa, sebagai penerang bagi penglihatan, sebagai hiburan, obat dan penyembuh bagi penyakit hati, sebagai penerang bagi bukti-bukti Ilahi, sebagai pengokoh bagi kebenaran dan sekaligus sebagai pemusnah kebatilan.

    Kesemuanya itu merupakan rahmat-rahmat Allah yang dicapai manusia jika mengamalkan wasiat tersebut yaitu : “Barangsiapa yang dibacakan Al-Qur’an padanya, maka hendaknya ia menganggap seakan ia mendengarnya dari Allah SWT, yang berbicara kepadanya dengan menggunakan perantaraan Al-Qur’an.

    Wabbillahi Taufik Wal’hidayah Wal’inayah Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabaraakatuh Wamaghfirah


    One thought on “AL-Qur’an

    Leave a Reply

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s