Syyaikh Uday bin Musafir

Bismillahir Rahmanir Rahiim

Berasal dan lahir dari Syam tinggal di Al-Hakari. Beliau adalah salah seorang syaikh timur terbesar termasuk yang paling dalam ilmunya dan paling tinggi martabatnya. Beliau adalah adalah seorang tiang guru sufisme dan maha guru para sufi.

Di awal kesufiannya beliau telah melakukan mujahadah berat yang sulit untuk dilakukan oleh banyak syaikh suluk. Syaikh Abdul Qadir sangat menghormati beliau dan banyak memujinya serta memberikan kesaksian atas kesultanan beliau atas para wali. Beliau berkata, “Jika kenabian dapat digapai dengan mujahadah, niscaya Syaikh Uday akan mendapatkannya”.

Pada awal perjalanan spiritualnya beliau tinggal seorang diri dan berkelana dari gua ke gua, gunung ke gunung, padang pasir ke padang pasir. Sejak awal beliau telah melakukan serangkaian mujahadah berat selama beberapa waktu. Semua binatang buas, ular dan binatang berbisa tunduk kepadanya.

Beliau adalah salah seorang yang diberikan otoritas untuk mendidik para murid dan para ‘arif di wilayah timur. Banyak wali yang menjadi muridnya dan banyak wali yang dihasilkan dengan kebersamaan bersama beliau. Beliaulah yang memandikan Syaikh Abdul Qadir Al-Jilli ketika beliau wafat. Beliau juga menjadi tujuan ziarah orang-orang dari berbagai negara.

Diantara pernyataan berkwalitas tinggi adalah “

“Seorang syaikh adalah  yang menemanimu ketika beliau ada dan tetap menjagamu ketika beliau sedang tidak ada di tempat. Ahlaknya membersihkan dirimu, thariqahnya mendisiplinkanmu dan pancarannya menerangi hatimu.

Sedangkan seorang murid adalah seorang yang memancar cahayanya berkat keintiman dan kebahagiaannya bergaul dengan para fakir. Dan orang yang cahayanya memancar berkat adab dan kerendahan diri dalam bergaul bersama para sufi. Memiliki akhlak yang baik dan selalu tawadhu’ dalam segala hal. Mendengarkan dengan baik ketika bergaul dengan para ulama. Bersikap tenang ketika bergaul dengan ahli ma’rifah, bertauhid ketika bergaul dengan ahli maqam.”

“Seorang abdal tidak akan mencapai keabdalannya dengan  makan, minum, tidur, siksaan dan pukulan. Derajad tersebut dapat dicapai dengan mujahadah dan riyadhah karena siapapun yang mati tidak akan hidup kembali. Dan siapa saja yang hancur karena Allah maka Allah yang akan bertanggung jawab mengantinya. Oleh karena itu barang siapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan menghancurkan dirinya, maka Allah akan menggantinya dengan diri-Nya”.

Jika engkau terbunuh maka engkau tergolong tentara kami.  Jika engkau hancur maka engkau berada bersama kami. Jika engkau hidup maka engkau akan hidup dalam kebahagiaan dan apabila engkau mati maka engkau akan mati sebagai syuhada.

Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.  Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Al-Ankabut 69). Kemudian beliau berkata :

Engkau ingin mengenal Yang Maha Tinggi dengan murah.

Betapa bodohnya orang yang meminum madu dari sengat lebah (pastilah mustahil).

Dinukilkan bahwa Abu Israil Ya’qub bin Abdul Muqtadir si pengelana mengisolasi selama tiga tahun di gunung hingga debu menjadi kulitnya. Pada suatu hari seekor serigala mendatangainya dan menjilatinya lalau meninggalkannya seperti batu. Saat itu rasa ujub masuk ke dalam hatinya dan seketika itu pula serigala tersebut memandangnya dengan pandangan merendah kemudian mengencinginya. Dalam hatinya beliau berkata, “Kalau saja Allah mencabut kewalianku”.

Tanpa disadari Syaikh Uday telah berada di sampingnya dan tidak memberi salam kepadanya. Beliau berkata kepadanya, “kami tidak mengucapkan salam dan ucapkan selamat kepada mereka yang dikencingi serigala”. Abu Israil kemudian menceritakan semua kisahnya kepada Syaikh Uday dan harapannya untuk menyudahi kontemplasi (khalwat) nya.

Setelah mendengarkan kisah tersebut, Syaikh Uday menghentakkan kakinya ke tanah dan terpancarlah air. Beliau hentakkan sekali lagi kakinya dan kali ini tumbuhlah pohon delima. Lalu beliau berkata kepada pohon tersebut , “Aku Uday, berbuahlah dengan izin Allah, satu hari manis dan satu hari masam. “ Kepada Abu Israil beliau berkata, “Abu Israil, tinggalah di sini, dan makanlah semua pohon ini dan minum dari air mata itu. Jika engkau membutuhkanku, maka panggilah aku maka aku akan datang”. Kemudian beliau pergi dan Abu Israil tinggal di tempat itu beberapa tahun.

Syaikh Umar Al- Qaisi berkata, “Tujuh tahun aku mengabdi Syaikh Uday dan selama itu banyak kejadian supra natural yang aku saksikan. Pada suatu hari beliau berkata, “pergi ke jazirah ke enam di laut tengah. Engkau akan menemukan masjid dan mendapati seorang syaikh di dalamnya. Katakan kepada syaikh tersebut, “Syaikh Uday berkata kepadamu, “hati-hati jangan sampai menyeleweng dan jangan engkau memilih suatu perkara yang mengandung hasratmu terhadapnya”. Lalu beliau mendorong pundakku dan tiba-tiba aku berada di tempat tesebut dan mengabari syaikh yang beliau maksud. Syaikh tersebut menangis dan mendoakan beliau, kemudian berkata kepadaku.’ Satu dari tujuh orang khawash saat ini telah dipensiunkan dari jabatannya dan terlintas dalam hatiku keinginan untuk mengantikan tempatnya’. Setelah itu beliau mendorongku dan aku mendapati diriku sudah berada kembali di zawiyah”.

Syaikh Raja’ Al-baar Sataqi berkata, “Pada suatu hari Syaiikh Uday keluar dari zawiyahnya menuju ladang. Di tengah perjalanan beliau menoleh kepadaku dan berkata sambil menunjuk ke sebuah kuburan dengan tangannya yang penuh berkah. ‘Raja’ tidakkah engkau mendengar empu kuburan tersebut memohon pertolongan kepadaku ?’. Aku pun memandang ke kuburan yang beliau tunjuk dan melihat asap bergulung-gulung keluar dari kubur tersebut.

Syaikh Uday berjalan menuju kubur tersebut, berhenti di tepinya dan terus memohon kepada Allah sampai akhirnya asap tersebut menipis dan akhirnya menghilang. Beliau menoleh kepadaku  dan berkata, ‘Allah telah mengampuninya dan mengangkat azab darinya’. Lalu beliau berjongkok dan berkata dalam bahasa Kurdi  “Ya Hasan apakah engkau baik ?” Dari dalam kubur aku mendengar, “Ya aku dalam keadaan baik. Allah telah mengangkat azab-Nya atas diriku”. Dan setelah itu kami kembali ke zawiyah.

Abu Israil yang kita kisahkan di atas, berkata, “ Suatu hari aku memohon izin sekaligus berpamitan kepada Syaikh Uday untuk pergi ke Abdaan. Beliau berkata kepadaku, ‘ Abu Israil, jika diperjalananmu engkau bertemu seekor singa yang membuatmu takut, katakan kepadanya, “Syaikh Uday berkata kepadamu untuk menjauh dariku”. Maka dia akan pergi darimu. Kemudian jika engkaui melihat badai atau ombak yang menakutkanmu di laut. Katakan kepadanya, “Syaikh Uday bin Musafir berkata kepadamu untuk tenang”. Maka ia aka tenang’.

Maka setiap aku bertemu dengan binatang buas atau singa, aku selalu mengatakan kepada mereka apa yang dikatakan oleh Syaikh Uday dan merekapun menyingkir. Begitu pula ketika aku berlayar di laut Bashrah ditengah badai yang besar dan ombak yang tinggi , aku mengucapkan apa yang diajarkan Syaikh Uday kepadaku. Seketika itu pula badai menjadi tenang dan lautan menjadi jernih”.

Syaikh Umar berkata, “Suatu hari ketika kami sedang bersama Syaikh Uday. Setelah shalat ashar yang dihadiri para fuqara (sufi), beluia memberikan isyarat ke depan dan bergumam tentang sesuatu. Kemudian beliau berdiri lalu duduk dan tetap dalam kondisi tersebut hingga masuk waktu maghrib. Ketika seorang muridnya mengumandangkan azan, beliau terperanjat dan memukul dadanya serasa berkata, “Apa maumu dengan azanmu, aku sedang berada di arsy dan engkau turunkan kami ke kasur.”

Dalam riwayat lainnya beliau berkata, “Ketika kami sedang berada di hadapan sang syaikh, datanglah serombongan orang Kurdi menghadap belaiu. Diantara mereka terdapat seorang pria yang biasa dipanggil Al-Khatib Al-Husain. Beliau berkata, “Khatib Al-Husain, bangun dan ikutlah denganku, kita akan mengambil batu dan membangun tembok untuk taman”.

Kemudian sang Syaikh bangkit dan diikuti oleh rombongan dan jama’ah yang ada menuju gunung. Di sana beliau membelah batu dan menurunkannya secara estafet sampai ke tempat kerja. Namun salah seorang pria tertimpa batu yang sedang dipindahkan dan tewas seketika dengan tubuh remuk, terbenam dalam tanah. Al-Khatib Al-Husaini berkata, “Ya Syaikh, si Fulan telah berpulang ke rahmatuLlah”. Sang Syaikh turun dari gunung lalu menghampiri si fulan yang tertimpa batu tadi. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya dan berdo’a. Dengan izin Allah pria tersebut bangkit seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa”.

Diriwayatkan suatu hari Amir Ibrahim Mahran, penguasa benteng Al-Jarhiah mengunjungi Syaikh bersama rombongan para sufi. Beliau sangat mencintai sang syaikh. Disamping itu beliau juga mencintai para sufi, tapi dia tidak menemukan yang setara dengan syaikh Uday.  Kepada para sufi yang datang kepadanya beliau menceritakan biografi syaikh Uday. Setelah mendengarkan penuturan sang Amir , mereka berkata, “Kita harus menemuinya danmenanyakan suatu masalah sebagai ujian terhadap dirinya”.

Ketika mereka duduk di hadapan sang Syaikh, salah seorang diantara mereka berbicara dengan beliau dan beliau tidak merespon pertanyaan tersebut.  Diamnya sang syaikh, oleh si penanya diartikan ketidak mampuannya menjawab pertanyaannya. Sang syaikh telah mengetahui niyatnya, kemudian beliau menoleh kepada jama’ah yang telah ribut dan beliau berkata, “Sesungguhnya Allah telah menjadikan beberapa orang hamba-Nya yang jika salah seorang diantara mereka berkata kepada sebuah gunung “Bersatulah” maka kedua gunung tu akan bersatu.” Ketika para sufi tersebut melihat kepada dua buah gunung yang ada mereka menyaksikan kedua buah gunung tersebut telah bersatu, dan setelah itu mereka bergelimpangan di kaki beliau-padahal beliau masih tenggelam dalam penampakan kondisi spiritualnya-. Kemudian beliau melambaikan tangannya dan gunung tersebut kemabali seperti semula dan kemudian mengobati para sufi tersebut.  Mereka kemudian bertobat dan menjadi murid-muridnya. Kemudian mereka berpamitan dan pulang.

Syaikh Umar meriwayatkan, “Ketika aku sedang berada di majlis sang Syaikh, orang-orang saleh sedang membicarakan apa yang terjadi pada mereka. Sang Syaikh kemudian berkata,” di sini ada seorang pria yang dapat menyembuhkan kebutaan, lepra dan lumpuh tanpa mengaku nabi.” Ketika itu aku sangat terkesan dengan pernyataan beliau dan pulang. Setelah beberapa hari, dengan pernyataan yang masih terngiang, aku kembali mengunjungi Syaikh Uday. Setelah aku tiba di sana dan mengucapkan salam kepadanya, beliau berkata kepadaku, ‘Umar, maukah engkau menemaniku dalam perjalanan, tapi dengan syarat engkau tidak boleh membicarakannya.’ ‘Aku mendengar dan patuh’. Jawabku.

Diikuti aku, beliau berjalan meninggalkan rumahnya dan terus berjalan hingga mencapai hutan yang sangat lebat. Saat itu aku diserang rasa lapar yang luar biasa sehingga tidak dapat mengikuti beliau. Beliau menoleh ke arahku dan berkata, ‘Umar engkau tertinggal’. ‘Tuanku, aku sangat lapar’. Kataku kepadanya. Mendengar keluhanku, beliau mengumpulkan buncis tanah (khurnub al-ardh) dan meletakkannya di mulutku. Akupun memakannya dan mendapati rasanya seperti buah kurma. Setelah perutku kenyang dan tenagaku pulih sang syaikh kembali melanjutkan perjalanannya. Dalam hati aku berkata, ‘Semua ini karena khurnub lalu aku ambil satu biji dan memakannya. Ternyata rasa pahitnya sampai membuat seluruh mulutku menjadi pahit. Akupun membuangnya. Sang syaikh menoleh kepadaku dan menegurku,’Ya Dabir (hai pendosa).’ Aku mengakui, ‘benar ya syaikh’.

Beberapa saat kemudian kami sampai di suatu desa dengan sumber air di dekatnya. Di dalam desa tersebut terdapat sebatang pohon tempat tinggal seorang pemuda buta dan menderita penyakit lepra. Ketika melihat pemuda tersebut, aku teringat perkataan sang syaikh dan aku berkata kepada diriku sendiri, ‘Jika apa yang beliau katakan pada waktu itu benar, maka dia dapat menyembuhkan pemuda ini’.  Beliau menoleh dan berkata, ‘Umar, apa yang engkau pikirkan ?’ Demi kesucian tempat Allah dalam kalbumu, dan demi kesucian Syaikh Aqil al-munbaji dan syaikh Muslimah, aku memohon kepada Allah untuk menyembuhkan pemuda ini’. Jawabku. ‘Jika memang demikian’, kata beliau kemudian ‘bersumpahlah engkau tidak akan mebocorkan hal ini. Akupun bersumpah memenuhi permintaan beliau.

Kemudian beliau pergi ke mata air, berwudhu dan kembali lalu melakukan shalat dua reka’at. Selesai melakukan shalat, beliau berkata kepadaku, “Jika engkau melihatku sujud dan berdoa’ aminkan doaku”. Akupun mengamini doa yang beliau panjatkan. Kemudian beliau mengusap dengan kedua tangannya yang penuh berkah kepada si pemuda tersebut dan berkata, ‘Bangkit dengan izin Allah’. Maka bangkitlah pemuda tersebut dan duduk seakan-akan belum pernah terkena penyakit apapun.

Pemuda tersebut berkata kepada penduduk desa, ‘ada dua orang melewatiku. Salah seorang diantaranya mengusapkan tangannya ke tubuhku dan akupun sembuh’. Para pendudukpun segera mengejar kami. Melihat orang-orang mengejar kami maka beliau memerintahkan kepadaku untuk duduk dihadapannya lalu menutup mataku dengan tangannya dan mereka tidak melihat kami. Setelah mereka berlalu, syaikh berdiri kemudian pulang. Beberapa langkah aku mengikuti beliau dan tiba-tiba sampailah kami di zawiyahnya’”.

Dalam riwayat lain syaikh Umar berkata, “Suatu saat syaikh sedang duduk di Zawiyahnya di depan majsid Barastaq dan banyak fuqara yang hadir pada saat itu. Tiba-tiba beliau menunjuk ke depan dan bergumam. Para sufi sampai bangkit untuk mendengarkan perkataannya dan pada saat itu mereka mencium bau yang sangat wangi. Kemudian sang syaikh berdiri dan masuk ke zawiyahnya, mengencangkan ikat pinggang dan mengambil tongkatnya lalu berjalan keluar sampai ke pekuburan Bani Fadl dan diikuti orang banyak. Di sana beliau berhenti di salah satu kuburan , melaksanakan shalat kemudian membuka tutup kepalanya dan berdoa. Orang-orang yang ,mengikuti beliau juga membuka tutup kepala mereka dan mengamini doanya. Setelah berdoa beliau kembali memakai penutup kepalanya dan kembali pulang ke zawiyahnya.

Setelah beliau duduk di zawiyahnya orang-orang bertanya apa yang menyebabkan beliau berbuat hal seperti itu. Beliau bercerita, “Ketika aku dalam kondisi sima’ (beraudisi), tiba-tiba seorang pria dari Bani Fadl yang aku ketahui telah meninggal dunia masuk ke masjid. Akupun berkata dalam hati, ‘Pasti orang mati inilah yang dilihat oleh para fuqara’ sufi sehingga audisi menjadi batal. Namun ketika aku melihat kalian tidak berubah sedikitpun, akupun menyadari bahwa kalian tidak melihatnya. Orang tersebut berdiri di hadapanku dan berkata, Ya Syaikh, kemarin seorang Kurdi bernama Dawud dikuburkan bersama kami. Dari sejak dia dikuburkan hingga sat ini , kami tidak dapat tenang dan enak karena azab yang diturunkan Allah kepadanya. Terserah kepadamu apakah kamu ingin memindahkannya dari kami atau mendoakannya kepada Allah untuk mengangkat azab yang diturunkan kepadanya”. Aku tidak dapat menguasai diri lagi sehingga aku bangkit dan pergi ke pekuburan Bani Fadl dan memohonkannya kepada Allah. Aku berharap Allah mengabulkan permohonanku”.

Syaikh Ismail At-Tunisi berkata, “Bersama rombongan orang-orang Tunisia aku pergi berziarah kepada Syaikh Uday. Setibanya kami di sana dan setelah kami mengucapkan salam, kamipun duduk dan mulai berbicara tentang karamah para wali.

Berkatalah Syaih Uday, “Syaikh yang tidak mengetahui berapa kali kalbu muridnya berubah dalam satu malam bukanlah seorang Syaikh, terlepas apakah muridnya berada di timur atau di barat”.

“Ini masalah sulit”. Kataku dalam hati.”Syaikh akan melihatku saat aku sedang berhubungan dengan isteriku”. Ketika pulang, aku menjauhi isteriku satu bulan penuh.

Ketika Syaikh Uday mengetahui apa yang aku lakukan, beliau menitipkan pesan kepada serombongan sufi yang hendak pulang. Beliau berkata, “Jika kalian pulang hendaklah salah satu diantara kalian singgah di Tunisia dan katakan kepada Ismail Tunisi bahwa aku menyuruhnya kemari.”. Setelah menerima pesan dari sang Syaikh, aku segera berangkat. Setibanya di sana, beliau memarahiku. ‘Umar’ katanya kepadaku, ‘mana yang lebih disukai seorang syaikh , melihat muridnya melakukan sesuatu yang halal atau melakukan sesuatu yang haram. Jangan pernah engkau ulangi perbuatanmu.’ Aku menerima teguran tersebut dengan ‘Saya mendengar dan saya patuh’. Lalu pulang kembali ke rumah”.

Syaikh Umar Al-Ubaidi meriwayatkan :

Suatu ketika saat aku sedang bersama sang syaikh, hadir pula serombongan peteni negeri. Salah seorang diantara mereka berkata kepada yang lain, “Sahabatku, jika nanti Munkar dan Nakir alaiHimassalam mendatangimu, apa yang akan engkau katakan kepada mereka ?” “Aku akan katakan bahwa aku sedang bersama Syaikh Uday” jawabnya. Sang syaikh memuji jawaban tersebut dan berkata, “Sungguh tepat jawaban si Fulan”.

Syaikh Muhammad bin Rasya meriwayatkan :

Suatu ketika aku menemani sang Syaikh menjemput isteri saudaranya Abi Barakat dari Zauq Al-bauriah. Dalam perjakanan kami melewati jalanan yang penuh duri.  Dalam hati aku berkata, “Orang-orang ada yang menaiki kendaraan, ada yang berjalan kaki Tetapi memakai sandal. Sedangkan Syaikh Uday berjalan telanjang kaki”. Pikiran tersebut sampai membuatku menangis. Namun Allah berkehendak membukakan mata hatiku dan aku melihat sang Syaikh berdiri di atas kereta dari cahaya yang berjalan tujuh depa di atas tanah.

Syaikh Umar Al-Qubaidi dalam riwayatnya menyatakan :

Saat aku bersama Syaikh Uday, hadir pula Syaikh ALi Al-Mutawakkil dan Syaikh Muhammad bin Rasya. Syaikh Muhammad duduk di sebelah kiri sang Syaikh yang sebenarnya merupakan tempat syaikh ALi. Hal itu menyebabkan Syaikh Ali agak keberatan. Mereka duduk selama satu jam dan tidak ada seorangpun yang berbicara sehingga sang Syaikh mulai menyadari ketidak harmonisan keadaan tersebut.

Tak lama kemudian, Syaikh Ali berkata kepada Syaikh Uday, “Tuanku, izinkan aku bertanya kepada saudaraku Syaikh Muhammad suatu permasalahan”. Setelah diizinkan, beliau bertanya kepada Syaikh Muhammad, “Syaikh Muhammad, benarkan tadi malam engkau berada di Barakat.?”

“Benar” jawab Syaikh Muhammad.

“Kalau begitu berapa orang yang hadir di sana dan dari kabilah apa saja”?. Tanya dia lagi.

“Arab tujuh belas ribu orang, Kurdi dua puluh lima ribu orang, turkaman tujuh orang, Handawan tiga orang, dan dari Nuriyah tiga orang”.

“Engkau benar”. Ujar Syaikh Ali.

Kejadian tersebut membuat Syaikh Uday sangat gembira.

Ketika  hanya tinggal para sahabat teerdekatnya, beliau menerangkan mereka, “Berapa lama engkau sabar tidak makan ?” tanya Syaikh Uday kepada Syaikh Ali. “Aku makan dan tidak minum selama satu tahun. Satu tahun minum dan tidak makan, dan satu tahun tidak makan dan tidak minum.” Jawab beliau.

“Kalau begitu, “ kata beliau, “Engkau bukanlah yang terkuat. “Bagaimana denganmu ?” Tanya Syaikh Uday kepada Syaikh Muhammad.  “Aku lebih pendek dari pada Syaikh Ali. Aku hanya tidak minum selama sembilan bulan, tidak makan selama sembilan bulan, dan tidak makan serta tidak minum selama sembilan bulan.” Jawabnya. Kemudian beliau menoleh kepadaku dan berkata, “Bagaimana denganmu Umar ?” Aku berkata, “Aku hanya makan tidak minum enam bulan, minum tidak makan selama enam bulan dan tidak makan dan tidak minum selama enam bulan.” “AlhamduliLlah” Ujar beliau,”Yang menjadikan orang-orang seperti kalian sebagai sahabatku”.

Syaikjh Muhammad Rasya berdiri dan membuka tutup kepalanya dan berkata kepada syaikh Uday,”Demi kesucian tempat Allah dalam kalbumu, demi kesucian Syaikh Aqil dan Syaikh Muslimah aku mohon kepadamu untuk memberitahu kami bagaimana kondisimu bersama Allah”.

“Duduk wahai Kurdi, engkau terlalu ingin tahu”. Jawab sang Syaikh. Kemudian beliau melanjutkan, “Aku ingin beri tahu kalian tapi aku ingin kalian bersumpah tidak akan mengatakannya kepada siapapun sebelum aku meninggal dunia”. Setelah kami bersumpah, beliau berkata, “Ibnu Rasya, pria ini dinafkahi oleh Allah, diberi makan dan minum oleh Al-Haq, diasuh dan dimanja oleh al-Haq seperti seorang ibu kepada anak satu-satunya.

Syaikh Umar meriwayatkan :

Suatu saat Syaikh Uday mendeskrepsikan kepadaku ayam jantan di ‘arsy yang selalu berkokok saaat waktu shalat  tiba. “Tuanku, perdengarkan kepadaku kokokannya”. Pintaku kepada beliau.” Ketika tiba waktu dzuhur, belliau berkata kepadaku, “Kemarilah dan tempelkan telingamu ke telingaku”. Aku melakukannya dan terdrngarlah olehku kokokan ayam jantan kemudian aku pingsan beberapa waktu. Aku terbangun oleh syair yang dibacakannya :

Jika engkau ingin berdampingan dengan Tuan dan Raja yang abadi kejayaannya.

Jangan pernah berbuka dengan sesuatu yang berbau syubhat dan jangan tidur.

Syaikh Taqiyudin Muhammad Al-Waidz Al-Banani berkata :

Diriwayatkan sebab kelahiran Syaikh Uday bin Musafir konon ayah beliau Musafir bin Ismail telah berkhalwat selama empat puluh tahun di dalam hutan. Kemudian dalam mimpinya beliau mendengar suara yang berkata, “Pulanglah dan gauli isterimu maka engkau akan mendapatkan anak seorang wali Allah yang terkenal di barat maupun di timur”.

Pada suatu ketika saat ibunya yang sedang mengandung beliau minum, lewatlah syaikh Aqil dan Syaikh Maslamah. “Apakah engkau melihat apa yang aku lihat ?” tanya syaikh Maslamah kepada Syaikh Aqil. “Apa yang engkau lihat ?” jawabnya balik bertanya.

“Sinar memancar ke langit dari tenggorokannya”.

“Itu adalah anak kita Uday”. Jawab Syaikh Aqil. Kemudian beliau mengajak Syaikh Maslamah menemui sang ibu untuk memberikan salam kepadanya. Merekapun mendatanginya dan memberikan salam kepada janin tersebut. “Assalamu’alaika yaa Uday, assalamu alaika yaa waliyuLlah”. Ucap mereka ketika itu. Tujuh tahun kemudian mereka kembali ke desa tersebut dan menemukan anak tersebut sedang bermain bersama anak-anak yang lain. Dia menyebut dirinya sendiri dengan nama yang sebenarnya. “Aku adalah Uday bin Musafir” katanya.  Merekapun mengejarnya dan mengucapkan salam kepadanya. Uday kecil menjawab salam mereka dengan tiga kali salam.

“Mengapa engkau menjawab salam kami dengan tiga kali salam ?” tanya mereka. Beliau menjawab, “Karena kalian telah mengucapkan dua salam kepadaku saat aku berada di perut ibuku. Jika bukan karena rasa maluku kepada Isa bin Maryam AS akan aku balas salam kalian dari perut ibuku dua kali”.

Saat beliau mencapai usia dewasa, dalam mimpinya sebuah suara berkata, “Ya Uday bangkitlah ke ‘arsy itulah tempatmu. Dan melalui taganmu Allah menghidupkan hati-hait yang mati. “

Abu Barakat meriwayatkan :

Pada suatu hari 30 orang sufi mendatanginya. Sepuluh orang pertama berkata, “Tuanku, ceritakan kepada kami hakikah”. Dan saat beliau menceritakannya, mereka semua meleleh sehingga yang tersisa hanya genangan air. Sepuluh orang sufi berikutnya menghadap beliau dan memohon, “Tuanku, ceritakan kepada kami hakikah mahabbah”. Namun ketika sang Syaikh menceritakan apa yang mereka minta, mereka semua meninggal dunia. Akhirnya sepuluh orang terakhir menghadap beliau dan memohon, “Tuan kami, ceritakan kepada kami hakikah faqr”. Dan saat beliau menceritakannya, orang-orang tersebut menyobek baju mereka dan berlari ke hutan belantara.

Di hari yang lain datanglah serombongan sufi. Kepada sang syaikh mereka berkata, “kami ingin engkau memperlihatkan kepada kami sebuah karamah”. Beliau menolak dengan halus. “Kami ini orang faqir tidak memiliki apapun”.  Kata beliau kepada mereka. Namun mereka memaksanya, akhirnya beliau berkata kepada mereka, “Allah memiliki seorang hamba yang apabila berkata kepada pepohonan bersujudlah karena Allah maka semua pohon akan bersujud.” Sampai saat ini semua pohon di sekitar zawiyahnya tumbuh condong ke arah bangunan tersebut.

Imanuddin bin Katsir meriwayatkan dalam kitab tarikhnya :

Beliau adalah Uday bin Musafir bin Ismail bin Musa bin Marwan bin Al-Hasan bin Marwan Al-Hakari. Beliau berasal dari Baqa’ sebelah barat damaskus di sebuah desa bernama baitul faar. Kemudian beliau pergi ke Baghdad dan berkumpul bersama Syaikh Abdul Qadir, Syaikh Hammad Ad-Dabbas, Syaikh Aqil Munbaji, Abil Wafa’ Al-Halwani, Abi Najib As-Suhrawardi dan lainnya. Lalau beliau berkontemplasi di gunung Hakari, baliau bangun di sana sebuah zawiyah dan beliau sangat diyakini oleh pendudukk sekitar sampai-sampai ada yang menyanjung beliau secara berlebihan.

Al-hafidz Adz-Dzahabi dalam kitab tarikhnya meriwayatkan :

Beliau juga disebut oleh Al-Hafidz Abdul Qadir dengan Uday Asy-Syami. Beliau banyak berkelana dan berkumpul dengan para syaikh serta melakukan berbagai macam mujahadah. Tinggal di sebuah gunung di Moushul, di tempat yang tidak pernah disentuh manusia . dengan berkahnya Allah menghidupkan tempat tersebut dan menghilangkan rasa takut dalam diri orang-orang akan perampok dan hadangan kaum Kurdi. Allah bangun tempat tersebut hingga banyak orang yang mendapatkan manfaat darinya dan kemasyhurannya mulai tersebar.

Beliau adalah orang yang baik budi, bijak, sangat kuat berpegang pada syari’at dan tidak pernah menyalahkan Allah. Beliau hidup hampir 80 tahun dan selama itu kami belum pernah mendengar bahwa beliau menjual sesuatu atau memakai sesuatu yang menunjukkan keduniawian. Ladang kecil di kaki gunung merupakan sumber penghasilan beliau. Beliau juga menanam katun sebagai sumber sandangnya. Tidak pernah beliau makan dari pemberian orang lain dan tidak pernah memasuki rumah orang lain. Sedemikian seringnya beliau tidak makan sampai-sampai yakin bahwa beliau tidak pernah makan. Saat beliau mendengar berita tersebut, beliau mengambiil sesuatu dan memakannya di hadapan orang banyak.

Qadhi Qudhah Mujiruddin AbduRrahman Al-Amri Al-Maqdisi Al-Alimi Al-Hanbali dalam kitabnya menyatakan :

Syaikh Uday bin Musafir bun Ismail bin Musa bin Marwan Al-Umawi bin Al-Hasan bin Marwan bin Ibrahim bin Al-Walid bin Abdul Mulk bin Marwan bin AL-Hikam bin Abi’ Al-Ash bin Utsman bin ‘Affan bin Rabi’ah bin Abd Syamsy bin Zahrah bin Abd Manaf.

Tinggal di Hakari dan merupakan seorang hamba yang shaleh, termasyhur yang kepadanyalah dinisbathkan kelompok ‘Adawiyah. Orang-orang diseluruh wilayah membicarakannya dan beliau diikuti oleh banyak murid. Beliau lahir di desa Bait Al-Faar di daerah Baghlabak dan tempat kelahiran beliau masih banyak dikunjungi orang hingga saat ini.

Beliau wafat pada tahun 555 H dan dimakamkan di Hakari dan dimakamkan di sebelah zawiyahnya di usia sembilan puluh tahun.