Campuran Masalah

Tidurkah Syaitan ???

Seorang pria pernah bertanya kepada Hasan : Hai Abu Said apakah syetan juga tidur ?….dan beliau menjawab :” Andai dia bisa tidur tentu kita bisa istirahat. Namun Allah senantiasa memberikan rahmat pertolongan milik Nya. Jadi orang – orang yang bertaqwa tidak akan sulit untuk menutup jalan menuju ke arah kemaksiatan. Seperti kita ketahui jalan syetan itu sangat banyak dan jalan kemalaikatan cuman satu.coba kita bandingkan itu ibarat seorang musafir di hutan yang sulit mendapatkan jalan , kecuali dengan penglihatan “ mata hati “ yang di maksud adalah hati yang bersih yang disertai ketaqwaan . Kata Pendidik saya dulu waktu ngaji lawan syetan itu adalah KESHOLEHAN yang di ilmuin dengan Alquran dan Sunah Rasul Nya.
Syetan menipu dalam kebajikan sebagaimana ia menipu dalam kejahatan secara jelas dan taktik ini sering membuat kita sering celaka . Maka kita harus senantiasa mendekatkan dengan rahmat pertolongan kepunyaan Allah swt.
Suatu ilmu tidak akan bermanfaat bila terletak diantara malu dan sombong ( dengan keahliannya ) . Hal seperti itu ibarat banjir yang menghancurkan tempat yang tinggi . sesungguhnya sikap ujub dan sombong itu mampu menghapus segala keutamaan dan bisa merendahkan derajat diri. Dan lebih parah lagi kesombongan dapat merusak akal dan agama . Nabi saw bersabda: “ Tiga perkara yang membuat orang hancur : 1. kikir 2. mengikuti hawa nafsu 3. orang yang membanggakan diri .”
Kepintaran dan kecerdasan yang di anugerahkan kepada kita seharusnya membawa kita lebih tawadhu dan rendah hati .Semoga Allah swt selalu memberi rahmat pertolongan milik Nya kepada kita semua , sehingga kita senantiasa jauh dari sifat tersebut.
Mutiara wasiat dari Syaidina Ali r.a

Sebagaimana ada keterangan hadist bahwa Rasulullah saw pernah bersabda “ Aku adalah gudangnya ilmu dan Ali adalah gerbangnya.”. Banyak ilmu yang bisa kita petik dari sahabat yang Nabi saw yang satu ini.

MUTIARA WASIAT Beliau.

Tiada harta lebih berharga daripada akal.
Tiada kesendirian lebih sepi daripada keangkuhan diri.
Tiada kebijakan lebih baik daripada hidup sederhana dan terencana.
Tiada kemuliaan lebih tinggi daripada ketakwaan.
Tiada karib lebih baik daripada keluhuran budi.
Tiada harta warisan lebih besar daripada pendidikan.
Tiada petunjuk jalan lebih baik dari pada taufik Allah.
Tiada perdagangan lebih menguntungkan daripada amal saleh.
Tiada laba melebihi pahala Allah.
Tiada wara (sikap berhati-hati) lebih baik daripada pengekangan diri terhadap segala syubhat (belum jelas halal & haramnya).
Tiada zuhud lebih baik daripada zuhud terhadap barang yang haram.
Tiada amal lebih baik daripada mengerjakan sesuatu yang difardlukan.
Tiada ilmu lebih baik daripada hasil tafakkur.
Tiada iman lebih baik daripada rasa malu dan sabar.
Tiada kehormatan diri lebih baik daripada tawadhu.
Tiada kemuliaan lebih baik daripada ilmu.
Tiada kekayaan lebih baik daripada kemurahan hati.
Dan tiada dukungan yang lebih baik daripada nasihat yang tulus.

Adat atau kebiasaan yang menjadi dasar dalam hukum syara’ mempunyai ta’rif sebagai berikut ;

Hubungan yang ada hubungannya antara yang menyebabkan dan yang di sebabkan , karena kejadiannya sering terjadi serta sah gagalnya dan tidak ada kemampuan untuk membuktikan.

Maka seandainya ada perkara dimana antara yang menyebabkan dan yang di sebabkan tidak ada hubungannya , maka hal itu tidak disebut sebagai Adat.
Dan apabila yang menyebabkan dan yang di sebabkan ada hubungannya maka walaupun tidak ada kaitan yang nyata juga tidak termasuk adat
Seharusnya penyambunganya yang di maksud harus berdasar pada perkara yang sering terjadi , maka kejadian yang bersifat sementara tidak termasuk adat. Seperti mu’jizat para Nabi , Karomah para wali atau sihirnya orang fasik
Penyambungan yang di maksud itu bisa jadi gagal . maka keluar yang di sebut Khowariqul adat ( kejadian yang luar biasa ) seperti dibakar tidak gosong , dibacok tidak mempan dll.

Adat tidak mempunyai kemampuan untuk menciptakan atau membuktikan salah satu kejadian . Gosongnya perkara yang kebakar bukan karena api , kenyangnya perut setelah makan bukan karena makanan , turunnya hujan bukan karena awan semua itu karena kehendak kepunyaan Allah swt.

Ta’rif adat yang di sebut diatas merupakan dasar hukum adat yang didalamnya memunculkan ilmu diantaranya :

~ Ilmu Nabatat = Ilmu Tumbuh – tumbuhan ( Flora )
~ Ilmu Hayawanat = Ilmu Hewan ( Fauna )
~ Ilmu Jamadat = Ilmu Teknologi.
~ Ilmu Pertambangan = Geologi
~ Ilmu Falak / Samawat = Astronomi.

Dalam hal ini hukum syara’ menetapkan fardhu kifayah adanya salah seorang diantara umat Islam yang
Menggunakan ilmu – ilmu di atas .Maka sudah seharusnya kita selaku umat islam menguasai salah satu ilmu tersebut , setidaknya ada satu orang di suatu daerah

Hukum Adat Wajib dihormati.

Karena hukum adat menjadi dasar dalam hukum syara’ maka ketentuannya wajib di hormati seperti hukum adat menetapkan kalau merokok akan menyebabkan penyakit kangker , dengan begitu kita wajib menghormati dengan cara tidak merokok.

Allah telah memfrmankan di surat Ar-Ra’du ayat 11 :

…sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum ( Musabab ) sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada mereka sendiri ( sebab )

Walaupun begitu , ayat – ayat Allah yang ada kaitannya dengan hukum adat ( sebab dan musabab ) seperti yang diatas jangan sampai di itikadkan kalau adat mempunyai daya cipta untuk menjadikan suatu perkara , karena semua itu atas kuasa kepunyaan Allah swt.
Dalam surat At Taubah ayat 51 :

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”

Firman yang telah difirmankan Allah swt ada yang menunjukkan kepada syareat dan hakekat , ayat sareat menunjukkan Adat di dalam pengamalan yaitu untuk dijadikan pegangan didalam ucapan , sedangkan yang menunjukkan hakekat yaitu untuk pegangan untuk tawakal , sabar dan syukur kepada Allah ta’ala .

Selama masih ada hukum adat maka ketentuan hukum adat harus dihormati ( dilaksanakan ) seandainya kehendak kepunyaan Allah tidak menghendaki adanya hukum adat Allah tidak meng Taklif untuk melaksanakan hukum adat , melainkan memerintahkan untuk tawakal kepada Nya sepenuhnya dibarengi dengan kesabaran dan syukur.
Sebagai mana kejadian yang menimpa Nabi Ibrahim AS ketika akan dibakar oleh raja Namrud,. di kejadian pada Nabi Ibrahim tidak berlaku hukum adat , Nabi Ibrahim hanya pasrah sumerah diri ( tawakal )kepada Allah swt. Did lam hatinya ada keyakinan kalau api tidak punya kekuatan untuk membakar , hanya kekuasaan kepunyaan Allah swt lah yang mampu menciptakkannya. Maka dalam keadaan Nabi Ibrahim dahulu turunlah rahmat pertolongan kepunyaan Allah swt yang mana ketentuan hukum adat bertolak belakang , api yang seharusnya panas menjadi dingin.
Di surat Al-Anbiya ayat 69 :

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”.

Hubungan sebab akibat ( sambungan adat ) ada empat perkara :

1. Hubungan ada dengan ada , seperti hubungan rasa kenyang dengan adanya yang di makan
2. Hubungan ada dengan tidak ada , seperti hubungan adanya selimut dengan tidak adanya dingin .
3. Hubungan tidak ada dengan ada , seperti hubungan tidak adanya selimut dengan adanya dingin.
4. Hubungan tidak ada dengan tidak ada , seperti hubungan tidak makan karena tidak ada makanan

Selain itu juga ada yang menyebut lain tentang adat seperti :

~ Adat yang mengandung arti akhlak atau kelakuan seseorang .

Sebagai contoh ;” si anu kebiasaannya sopan “ mengandung arti kalau kelakuan si anu itu sopan.

~ Adat yang mengandung arti Sya’nul Kaom ( kebiasaan suatu kaum ) seperti orang madura kalau membawa barang biasa di letakkan di atas kepala .

Adat – adat yang tersebut di atas tidak mutlak bisa termasuk hukum syara’ . karena ada yang di pandang baik atau jelek .

Pembagian Hukum Adat

Penetapan hukum adat ada dua :

~ Wajib ‘Ady , yaitu satu ketetapan yang harus terjadi menurut adat , dengan dasar hubungannya.

~ Muhal ‘Ady , yaitu ketetapan yang tidak akan terjadi menurut adat , disebut juga Khowariqul Lil Adat

Hukum Akal


Sebagaimana yang sudah di sebutkan dalam pasal hukum – hukum yaitu adanya sebutan hukum tetapi tidak termasuk hukum hukum , begitu pula di dalam hukum akal , ada sebutan akal yang tidak termasuk di dalam hukum akal ( tidak bisa dijadikan putusan hukum akal ) karena beda maksudnya .

~ Akal yang mengandung arti Ikhtiar seperti “ saya sudah kehabisan akal untuk mengalahkan “
~ Akal yang mengandung arti hukum. Seperti ”Akal saya tidak menerima kalau dia terbang “
~ Akal yang mengandung arti Pintar. Seperti “ dia akalnya cerdas sekali “
~ Akal yang mengandung Dewasa. Seperti “ anak kecil itu belum punya akal “

Pembagian akal :

~ Akal Ghorizi , yaitu akal yang mempunyai kekuatan untuk makrifat kepada Allah swt.

~ Akal Thobi’i , yaitu akal yang mempunyai kemampuan untuk mengerti namun tidak mampu makrifat kepada Allah swt.

Seandainya manusia yang mempunyai akal ghorizi tidak bisa menggunakan akalnya untuk mengenal Allah swt , pasti turun derajatnya melebihi hewan. Yang hanya mempunyai akal thobi’i.

Dalam Alquran dijelaskan :

Dan Kami menjadikan isi neraka jahanam dari bansa jin dan manusia ,mereka mempunyai akal tapi tidak di pakai untuk memahami ayat – ayat Allah , dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipakai melihat ( tanda – tanda kekuasaan Allah ) dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipakai untuk mendengar ( ayat – ayat Allah ).Mereka laksana hewan , bahkan mereka lebih sesat lagi.Mereka yaitu orang – orang yang lalai.

Ta’rif Hukum Akal.

Menetapkan stu perkara dengan perkara yang lain atau menghilangkan satu perkara dengan perkara yang lain dengan tidak menunggu hasil kejadian yang sering terjadi dan tidak menggunakan penetapan asy syar’i.
Yang di tetepakan hukum akal yaitu kelangsungan sebelum umat manusia diciptakan serat Rasul – Rasul di angkat , malahan sebelum di gelarnya alam dunia . jadi jelas kelangsungan hukum akal tidak ditandai dengan adanya akal atau tidak adanya akal , sebab sebelum akal ada ketetapan hukum akal sudah ada . seperti contoh : ada atau tidak adanya akal tidak mempengaruhi ketetapan kalau Allah itu yang mempunyai kuasa .
Lantas apa yang di maksud hukum akal ??…..jawabnya sebab isi ketentuan hukum akal di ketemukan oleh akal , tapi bukan berarti adanya hukum akal itu setelah adanya akal.

Dalil hukum akal ada dua :

~ Dalil Naqli , yaitu dalil – dalil yang bersumber pada Alquran dan hadist ( khusus untuk orang- ornag yang sudah beriman kepada Allah swt ).
~ Dalil Aqli , yaitu dalil – dalil yang berdasar pada ketetapan akal ( untuk orang – orang yang sudah beriman dan belum beriman kepada Allah swt ).

Dalil Aqli di bagi dua :

~ Dalil Aqli Ijmali , yaitu dalil yang sifatnya sderhana.Hukum mengetahui dalil ini adalah FARDU “AIN ( wajib ).

~ Dalil Aqli Tafshili , yaitu dalil yang lebih tinggi yang mamapu menguatkan ajaran Islam serta melawan ajaran yang tidak sesuai dengan tauhid . Hukum mengetahui dalil ini adalah Fadu Kifayah.

Hubungan hukum Syara’ dan hukum Akal

Ketetapan hukum syara’ kepada hukum akal adalah sebagai kemudi / control. Sebab seandainya hukum akal yang di pakai tidak memperhatikan syara’ akan menyebabkan alam pemikiran yang samar dan tidak tentu tautannya . yang nantinya bakal seperti golongan kafir fulusiah atau jabbariyyah.
Seandainya ada kejadian dalam ayat Alquran atau keterangan hadist yang isinya tidak dipahami oleh akal maka hukum akal sudah di kemudikan hukm syara’ sehingga akan menjadikan penyaring dan menjadikan takhsis tentang ayat itu

Dalam surat Al-Hasyr ayat 2 :

.” ……Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.”

Ta’rif Syara’ (ta’rif Agama Islam) yaitu :

Katetepan Ilahi yang di tujukan untuk orang – orang yang mempunyai akal sehat dengan tujuan sejatinya untuk kebahagiaan / kebaikan orang – orang tersebut.
Sudah dijelaskan kalau yang menetapkan syara’ ialah Allah swt dan Rasul Nya dan tidak di benarkan seorangpun yang iukt campur dalam penetapan hukum syara’ . Yang kedua hukum syara’ ini ditujukan untuk orang – orang yang berakala sehat , jadi orang/ sesuatu yang tidak mempunyai akal sehat tidak dijadikan sasaran hukum syara’ seperti:

· Jamadat, yaitu barang mati yang tidak hidup ( batu , gunung dll )
· Nabatat, yaitu mahkluk yang hidup atau hanya tumbuh saja ( tumbuh –tumbuhan )
· Hayawanat, yaitu mahkluk / barang hidup tapi tidak mempunyai akal ( hewan )
· Orang gila atau orang dalam keadaan mabuk .

Hukum syara’ akan memberikan petunjuk kepada perkara dzatiyyah yang baik buat manusia , artinya hukum syara’ akan memberi petunjuk ke orang – orang yang sehat akalnya untuk menerima dzatiyyah kebaikan di dunia dan di akherat.

Kebaikan yang bisa di terima di kehidupan dunia di antaranya :

· Menjamin kesempurnaan akal .

Pusat kemuliaan manusia ada di akalnya , oleh sebab itu Islam mengharamkan kepada setiap perkara yang membuat akal rusak , seperti arak , narkoba , judi . Allah swt telah memfirmankan dalam Alquran di dalam surat Al Maidah ayat 90 .

· Menjamin keselamatan diri manusia .

Untuk menjaga keselamatan lahiriah manusia , manusia di perintahkan untuk tidak berbuat perkara – perkara yang dapat merusak keselamatan manusia . Aturan kepunyaan Allah memfardu kifayahkan untuk mengadakan ahli kesehatan di setiap tempat , seperti hukum jinayat yang telah di firmankan Allah dialam surat Al Maidah ; 45 :

…dan Kami sudah menetapkan ke mereka di dalam ( at taurat ) , sesungguhnya jiwa di balas dengan jiwa , mata dengan mata , hidung dengan hidung , telinga dengan telinga , gigi dengan gigi dan semuanya ada qishasnya .

· Menjamin kesucian keturunan manusia.

Kebahagian dan kesejahteraan rumah tangga merupakan salah satu sebab yang bisa menentukan derajat manusia . Dan sesungguhnya Islam menjamin kesucian dan kerahayuan rumah tanga dengan mengharamkan zina . Allah swt telah memfirmakan dalam Alquran tepatnya di surat Ar Ruum ayat 21:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.

· Menjamin hak milik manusia

Untuk menjamin hak milik manusia Hukum Syara’ membuat bab Mu’amalat dan bab waris
Allah swt telah memfirmankan di surat Al-Baqarah ayat 275 :

.. dan Allah sudah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba

Dan di surat An Nisaa ayat 11 :

Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan

· Menjamin kehormatan manusia .

Untuk menjaga kehormatan manusia hukum syara’ mengharamkan Qodzah ( menuduh zinah ) , Sabbu ( menghina orang ) , Ghibah ( mengunjing ). Allah swt telah menfirmankan di surat Al Hujarat ayat 11 :

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.

Dan di ayat 12 surat Al Hujarat :

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

· Menghidupkan rasa sosial.

Untuk menghidupkan perkara ini , maka ada kewajiban mengeluarkan zakat dan di tekankan menunaikan shodaqoh , hibah , wakaf , membela fakir miskin dengan tenaga , pikiran .
Allah swt sudah memfirmankan di surat Al Baqarah ayat 43 :

…dan dirikan sholat dan tunaikan zakat serta rukuklah bersama orang – orang yang

Telah difirmankan pula di surat Al-Baqarah :

..dan tolong menolonglah kalian di jalan kebaikan dan ketaqwaan

· Menjamin kelestarian serta keselamatan agama islam.

Untuk menjamin hukum syara’ harus melaksanakan jalannya perjuangan seperti menjaga kemakmuran masjid , mendirikan sholat , menyebarkan syareat islam dan lain – lain.
Allah swt telah memfirmankan di surat As-Shaaf ayat 14 :

Wahai orang – orang yang beriman jadikan dirimu penolong agama Allah

Dan di surat At-Taubah ayat 41 :

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

· Menjamin kelangsungan kekeluargaan / persahabatan.

Untuk menjamin kelestarian dalam persahabatan / kekeluargaan terhadap sesama manusia , hukum islam melarang Hiqdu (dendam), Ghodob (marah), Hasud (benci dan mengharapkan hilangnya kenikmatan orang lain). Selain itu Islam juga mengajarkan kasih saying dan hormat menghormati ke sesama umat islam.

Allah sudah memfirmankan di surat Al-Hujurat ayat 10 :

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat..

· Menjamin keselamatan hewan.

Hukum syara’ melarang menganiaya hewan seperti dibakar hidup – hidup , di kurung tapi tidak di beri makan , dipekerjakan diluar kemampuannya serta di sembelih dengan cara – cara yang tidak sah

Allah telah memfirmankan di surat Al-Baqarah ayat 205 :

Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan..

· Menjamin kepentingan umum.

Supaya kepentingan umum terjaga , hukum syara, melarang perbuatan yang akan mengganggu kepentingan umum yang dalam keadaan aman .

Allah sudah memfirmankan di surat Ar-A’rof ayat 56 :

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Aturan – aturan yang disebut di atas di ikat oleh hukum syara’ , barangsiapa yang taat terhadap aturan tersebut maka aturan tersebut membawanya ke surga kepunyaan Allah swt. Dan sebaliknya barangsiapa yang melanggar aturan itu maka membawanya ke neraka kepunyaan Allah swt.

Untuk keselamatan dan kabaikan kita di akherat maka kita harus melaksanakan atau mengamalkan beberapa perkara yaitu :

Ø Aqidah.

Untuk memelihara keimanan , hukum syara’ mengajarkan ‘Aqoid seperti ‘Aqidah Islamiyah.
Perhatikan surat Az Zumar ayat 71 – 72 :

Ø Ibadah

Untuk beribadah kepada Allah harus menurut kaidah – kaidah hokum fiqih karena untuk menjamin ibadah yang kita laksanakan kepada Allah swt.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s