Syaikh Abu Wafa

Syaikh Abu Wafa bin Muhammad Al-Halwani

Beliau dijuluki Kakis. Dimasanya, beliaulah ketua para Syaikh Iraq. Beliau dianugerahi berbagai karamah yang luar biasa. Dari tangannya lahirlah para Syaikh Iraq terkemuka seperti Syaikh Ali bin Al-Hitti, Syaikh Baqa’ bin Bathu’, Syaikh Abdurrahman At-thafsunaji, Syaikh Mathar, Syaikh Majid Al-Kura, Syaikh Ahmad Al-Baqli dan lainnya.

Beliau memiliki tutur kata yang sangat indah di kalangan para ahli hakikah. Beliau memiliki 40 orang pelayan dari mereka yang telah mencapai kondisi spiritual tertentu. Para Syaikh Iraq menyatakan tujuh belas orang diantara sekian banyak muridnya menjadi sultan para wali. Konon ketika gurunya Syaikh Asy-Syanbaki mengambil sumpahnya. Ia berkata, “Hari ini telah terjatuh seekor burung dalam jeratku yang tidak akan pernah ada di jaring para syaikh”.

Di awal kehidupannya, beliau adalah seorang perampok. Sebab taubatnya adalah sebagai berikut : Pada suatu hari ia masuk ke sebuah desa kecil dan mengambil habis seluruh ternak yang ada di desa tersebut. Kebetulan desa tersebut bertetangga dengan tempat kediaman Syaikh Asy-Syanbaki. Merekapun mengadu kepada beliau, “Seluruh ternak kami habis dan kami tidak dapat mengejarnya”. Kata mereka kepada sang Syaikh.

Setelah mendengar pengaduan mereka, Syaikh Asy-Syanbaki berkata kepada pelayannya, “Pergi ke Abu Wafa dan katakan kepadanya,’Syaikh Muhammad Asy-Yanbaki memanggilmu untuk bertobat kepada Allah dan mengembalikan seluruh ternak kepada pemiliknya’.

Pelayan tersebut mendatanginya. Ketika pertama kali mata mereka berbenturan Abu Wafa jauth pingsan. Setelah sadar beliau mendapati kepalanya berada di betis Syaikh Taj’al Arifin. “Apa yang dikatakan sang Syaikh kepadamu”. Tanya beliau. Dia berkata, “Tuanku berkata kepadamu, ‘Bertobatlah dan kembalikan seluruh ternak kepada pemiliknya”. Beliaupun bertobat dan kemudian merobek baju-bajunya lalu mengembalikan seluruh ternak tersebut kepada pemiliknya. Dia berkata kepada pelayan teresebut, “Katakan kepada syaikh bahwa ia menjawab, ‘ya’ dan ia akan datang’. Si pelayan kembali kepada sang Syaikh dan menyampaikan hal tersebut.

Ketika orang-orang bertanya siapa yang akan datang, sang syaikh berkata, “Yang akan datang adalah Abu Wafa”. Ketika tiba, sang Syaikh memeluknya, membai’at dan mengenakan pakaian yang dia pakai lalu mendudukkannya di sisi beliau. Saat waktu dzuhur tiba, mu’adzinpun mengumandangkan adzan. Namub beliau berkata kepada Syaikh Muhammad Asy-Syanbaki, “Bersasbarlah sampai terdengar kokok ayam ‘arsy.” “Anakku”, kata Syaikh Muhammad, “engkau dapat memdengar kokok ayam ‘arsy”. Beliau berkata, “Sejak 30 tahun sudah aku mendengar kokoknya”. Mendengar hal tersebut Syaikh Muhammad Asy-Syanbaki berkata, “Allah telah menganugerahkan ilmu kepadamu. Sekarang bicaralah di hadapan orang-orang”.

Saat beliau memasuki Baghdad, terdengar seruan dari langit, “Bangkitlah kalian semua dan temui dia”. Maka beliaupun disambut dengan sambutan yang luar biasa. Para Syaikh Bathaih berkata, “Kami akan takjub dengan orang yang menyebutkan nama Abu Wafa tanpa tertunduk karena karisma yang dipancarkanya”.

Syaikh Azzaz meriwayatkan bahwa beliau pernah bertemu RasuluLLah SAW dalam mimpi. Ketika itu beliau bertanya, “Ya RasuLullah,apa pendapatmu tentang Syaikh Abu Wafa”. Beliau menjawab, “BismiLlahiRrahmaaniRrahiim, tidak ada yang dapat aku katakan tentang orang dari umatku yang akan aku banggakan di hari kiyamat”.

Ada yang meriwayatkan bahwa beliau berasal dari Narjisi, sebuah kafilah bangas Kurdi.

Syaikh Abdul Qadir Al-Jilli berkata, “ Tidak ada seorang Kurdipun yang seperti Syaikh Abu Wafa’. Beliaulah yang berkata, “Di pagi hari aku seorang Kurdi, dan di sore hari aku telah menjadi orang arab”.

Ketua para Qadhi Mujiruddin Al-Alimi Al-Muqaddisi Al-Hambali berkata dalam kitab Tarikh Mu’tabar fil abnaa’ minal abrar, “Beliau adalah Sayyid Abu Wafa’ Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Hasan bin Murtadha Al-Akbar ‘Ardh bin Zaid bin Zainal Abidin bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib RA. Beliau adalah Qutb zamannya dan ‘alamah masanya.

Menurut riwayat yang autentik, beliau lahir pada 12 Rajab 417 H namun terjadi polemik akan mahzabnya. Ada yang menyatakan bahwa beliau adalah bermahzab Hanbali dan yang lain menyebutkan bahwa beliau bermahzab Syafi’i. Beliau wafat pada 20 Rabuil Awal 501 H di Qalminiya sebuah desa dekat Baghdad.

Riwayat inimenyatakna bahwa beliau memang berasal dari keturunan Ali bin Abi Thalib RA dari silsilah yang suci dan terbaik.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s