I’TIKAAF

itikaf

Khatimah Dan Maraa’ji Pembahasan I’tikaaf

Dianjurkan bagi orang-orang yang beri’tikaaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan dan yang tidak i’tikaaf, berusahalah memanfaatkan waktu untuk ibadah kepada Allah, perbanyaklah baca al-Qur’an, berdzikir kepada Allah, dan melakukan shalat-shalat sunnat yang disunnahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mudah-mudahan kita termasuk orang yang mendapatkan malam Lailatul Qadar yang keutamaannya lebih baik dari seribu bulan dan mudah-mudahan pula dosa kita diampunkan Allah Subahanhu wa Ta’ala Allah Jalla Jalaluhu berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun Malaikat-Malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”

Hal-Hal Yang Dibolehkan Sewaktu I’tikaaf

Shafiyyah Radhiyallahu anha bercerita: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah beri’tikaaf (pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan), lalu aku datang untuk mengunjungi beliau pada malam hari, (yang saat itu di sisi beliau sudah ada beberapa istrinya, lalu mereka pergi). Kemudian aku berbicara dengan beliau beberapa saat, untuk selanjutnya aku berdiri untuk kembali. (Maka beliau bersabda: ‘Janganlah kamu tergesa-gesa, biar aku mengantarmu’). Kemudian beliau berdiri mengantarku -dan rumah Shafiyyah di rumah Usamah bin Zaid-. Sehingga ketika sampai di pintu masjid yang tidak jauh dari pintu Ummu Salamah, tiba-tiba ada dua orang dari kaum Anshar yang melintas. Ketika melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kedua orang itu mempercepat jalannya, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Janganlah kalian tergesa-gesa, sesungguhnya dia adalah Shafiyyah binti Huyay’.

Hal-Hal Yang Membatalkan I’tikaaf

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka, sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa

Hal-Hal Yang Sunnat Dan Yang Makruh Bagi Orang Yang I’tikaaf

Disunnatkan bagi orang yang i’tikaaf memperbanyak ibadah sunnat serta menyibukkan diri dengan shalat berjama’ah dan shalat-shalat sunnat, membaca al-Qur’an, tasbih, tahmid, takbir, istighfar, berdo’a membaca shalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ibadah-ibadah lain untuk mendekatkan diri kita kepada Allah Ta’ala. Semua ibadah ini harus dilakukan sesuai dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk juga dalam hal ini disunnahkan menuntut ilmu, membaca/menelaah kitab-kitab tafsir dan hadits, membaca riwayat para Nabi ‘alaihimush shalatu wa sallam dan orang-orang shalih, dan mempelajari kitab-kitab fiqh serta kitab-kitab yang berisi tentang masalah aqidah dan tauhid.

Waktu Memulai Dan Mengakhiri I’tikaaf

Dan jika seseorang berniat hendak i’tikaaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, maka hendaklah ia mulai memasuki masjid sebelum matahari terbenam. Pendapat yang menerangkan bahwa waktu dimulainya i’tikaaf adalah sebelum matahari terbenam pada tanggal 20 Ramadhan, yaitu pada malam ke 21, merupakan pendapat dari Imam Malik, Imam Hanafi, Imam asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya. Dalil mereka ialah riwayat tentang i’tikaafnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal Ramadhan, pertengahan dan akhir Ramadhan: “Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang hendak beri’tikaaf bersamaku, hendaklah ia melakukannya pada sepuluh malam terakhir (dari bulan Ramadhan)”

Pendapat Fuqaha’ Mengenai Masjid Yang Sah Dipakai Untuk I’tikaaf

Para fuqaha’ berbeda pendapat mengenai masjid yang sah dipakai untuk i’tikaaf, dalam hal ini ada beberapa pendapat, yaitu: Sebagian ulama berpendapat bahwasanya i’tikaaf itu hanya dilakukan di tiga masjid, yaitu; Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Aqsha. Ini adalah pendapat Sa’id bin al-Musayyab. Imam an-Nawawi berkata, “Aku kira riwayat yang dinukil bahwa beliau berpendapat demikian tidak sah”. Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, Ishaq dan Abu Tsur berpendapat bahwa i’tikaaf itu sah dilakukan di setiap masjid yang dilaksanakan shalat lima waktu dan didirikan jama’ah. Imam Malik, Imam asy-Syafi’i dan Abu Dawud berpendapat bahwa i’tikaaf itu sah dilakukan pada setiap masjid, karena tidak ada keterangan yang sah yang menegaskan terbatasnya masjid sebagai tempat untuk melaksanakan i’tikaaf.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s