Tag Archives: perang banjar

Sayid Idrus AlHabsyi sebelum menetap di Banjarmasin


 

Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma soli ala Sayyidina Muhammadin Wa’ala ali Sayyidina Muhammadin Wa’ala Ahli Bait

  1. Sayyid Idrus AlHabsyi sebelum menetap di Banjarmasin sempat tinggal di Sambas, Kalbar. Di Sambas, Sayid Idrus menikah dengan kerabat kesultanan Sambas yang bernama Noor. Dari perkawinan mereka lahir Sayid Hasan, yang kelak menggantikan sang ayah menjadi Kapten Arab di Banjarmasin. Sayid Idrus meninggal dunia di Banjarmasin tahun 1296 H (1876 M) dan bermakam di Turbah Sungai Jingah. Idrus di dipercaya sebagai Al-Habsyi pertama yang bermakam di alkah khusus sayid dan syarifah itu. Sayid Hasan bersahabat dekat dengan Surgi Mufti H. Jamaludin bin Syekh Muhamad Arsyad Al-Banjari.

    Ketika Sayid Hasan mendahului berpulang ke rahmatullah, Mufti H. Jamaludin (1793-1928) menangis luar biasa. Saudara perempuan Hasan yakni Syarifah Mahani kelak juga menikah dengan lelaki Al-Habsyi bernama Sayid Muhammad bin Agil. Sayid Muhammad disebut-sebut sebagai guru tarikat yang mempunyai murid Panglima Batur (pejuang perang Banjar yang dihukum gantung oleh Belanda tahun 1905). Keluarga Sayid Muhammad pernah menyembunyikan keberadaan Ratu Zaleha ketika pejuang wanita cucu Pangeran Antasari ini diburu-buru oleh Belanda. Sayid Hasan bin Idrus Al-Habsyi mempunyai 2 putra dan 3 putri, masing-masing: Sayid Husin, Sayid Abubakar, Syarifah Sehah, Syarifah Aisyah, Syarifah Noor .

    Sayid Husin menikah dengan wanita Banjar bernama Intan dan mempunyai 4 anak perempuan yakni Syarifah Sidah, Syarifah Salmah, Syarifah Mastora dan Syarifah Maryam. Sedang Abubakar, anak Sayid Hasan dengan perempuan di Alalak (?) menurunkan anak cucu Al-Habsyi di Alalak Berangas. Syarifah Fatima anak Sayid Muhammad bin Agil Al-Habsyi kemudian dinikah oleh Sayid Hasan bin Saleh Assegaf, pendatang asal Hadramaut. Sayid Hasan Assegaf adalah pedagang besar yang berniaga sampai Afrika, India, Singapura dan Surabaya. Sebagai pedagang ia mencatat aktivitas jual belinya menggunakan sistem administrasi dan akuntansi berbahasa Arab.

    Sayid Hasan-lah yang mengajak Kapten Arab Sayid Alwi anak Abdullah bin Alwi Al-Habsyi ke Banjar. Syarifah Fatimah adalah nenek dari Ali bin Muhammad Assegaf (ketua Rabitah Alawiyyin Kalsel) dan (alm) Umar bin Muhammad Assegaf (mantan Ketua PHRI dan Ketua Apindo Kalsel). Syarifah Muzenah anak Sayid Muhammad lainnya menikah dengan Sayid Abdullah bin Abdul Kadir Al-Habsyi. Lazim terjadi, tiap pendatang orang Arab akan melaporkan diri dan identitasnya dicatat oleh kepala orang Arab (Kapten Arab).

    Kedatangan Ahmad, Zen dan saudara mereka Salim dan Umar ke Banjarmasin kemungkinan juga karena adanya kontak kekeluargaan sebagai sesama Al-Habsyi. Ayah Ahmad dan Zen, Sayid Muhammad bin Alwi Al-Habsyi yang berdiam di Hadramaut suatu ketika kemudian datang mengunjungi putra-putranya di Banjarmasin. Sayid Muhammad bin Alwi karena sakit dan sudah tua akhirnya meninggal dunia dan dimakamkan di Turbah Sungai Jingah Banjarmasin.

    Sayid Muhammad bin Alwi Al-Habsyi mempunyai 7 putra. Husin, putra sulung, pernah singgah ke Banjar tapi kemudian balik lagi ke Hadramaut. Abdillah putra kedua memilih hijrah ke Aceh dan bermukim di sana hingga akhir hayatnya.. Putra Muhammad lainnya Ahmad berdiam di Pal 1 (Jl. A. Yani Km 1), Zen dari Banjarmasin kemudian memilih bertempat tinggal di Martapura,, Ali berdiam di Lawang (daerah perbatasan Malang-Pasuruan), Salim (tinggal di sekitar Pasar Rambai, kampung Telawang Banjarmasin dan kemudian tinggal di Basirih), serta si bungsu Umar di Pal 1. Sayid Muhammad bin Alwi Al-Habsyi mempunyai tiga saudara yakni Abdullah, Syekh dan Hasan. Abdullah tetap tinggal di Hadramaut, sedang Syekh (?) dan Hasan juga memilih hijrah ke Banjarmasin. Ahmad anak Muhammad kemudian menikah dengan sepupunya Syarifah Fetum anak Syekh Zen menikah dengan perempuan dari keluarga Assegaf dan menetap di Martapura. Salim menikah dengan Syarifah Mariam anak Habib Hamid bin Abas Bahasyim (Habib Wali di Basirih Banjarmasin). Umar menikah dengan Syarifah Mariam anak Sayid Husin bin Hasan Al-Habsyi. Kapten Arab Sayid Alwi anak Abdullah menikah dengan sepupunya Syarifah Raguan anak Syekh. Hasan, saudara Sayid Muhammad yang tinggal di Martapura, mempunyai putra bernama Ali. Ali punya putra Hamid. Keluarga inilah yang menurunkan Al-Habsyi di Kota Intan Martapura.

    Kawin dengan Pegustian

    Keluarga Al-Habsyi selain menikah dengan keluarga dekat sesama keturunan pendatang asal Hadramaut juga ada yang membentuk keluarga dengan wanita Banjar berdarah bangsawan. Muhammad Al-Habsyi, misalnya, menikahi perempuan Banjar bernama Hajjah Gusti Hadijah binti Gusti Musa. Dari garis ibu, ibu Gusti Hadijah yang bernama Gusti Maryam adalah buyut dari raja Banjar Sultan Sulaiman (w 1825).

    Anak-anak mereka yang berdarah bangsawan banjar itu kemudian menikah dengan keluarga Al-Habsyi. Syarifah Buhayah dinikah oleh Ali bin Hasyim Al-Habsyi, Syarifah Noor dinikah oleh Achmad bin Muhammad Assadiq Al-Habsyi. Syarifah Lawiyah anak Ali dan Syarifah Buhayah menikah dengan Sayid Saleh bin Husin anak Sayid Muhammad bin Alwi Al-Habsyi. Sayid Saleh adalah pendatang kelahiran Hadramaut.

    Sebelum ke Banjar, Sayid Saleh pernah tinggal di Garut (Jabar) dan berkeluarga di sana. Dari perkawinan itu lahir Sayid Ahmad yang kemudian bersama ayahnya menetap di Banjarmasin. Sayid Ahmad bin Saleh Al-Habsyi menikah dengan Syarifah Hadijah dan mempunyai 8 anak. Syarifah Salmah (Wanamah) anak Ali dan Syarifah Buhayah lainnya menikah dengan Sayid Hasyim bin Abdul Kadir Al-Habsyi, pada tahun 1942.

    Dari perkawinan ini lahir Syarifah Aminah dan Sayid Ahmad (pemimpin pengajian di Ratu Zaleha Banjarmasin). Sayid Hasyim bin Abdul Kadir Al-Habsyi membuka Maulid Habsyi pertama di rumah Habib Ahmad bin Sultan Assegaf (menantu Habib Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi) di Pal 1. Sayid Hamzah anak Ali dan Syarifah Buhayah yang lain, menikah dengan anak Kapten Arab Alwi bin Abdullah Al-Habsyi.

    Sayid Hamzah dikenal sebagai manusia serba bisa dan otodidak. Selain aktif bermain gambus, pandai melukis, juga pandai mengajar (menjadi guru). Sayid Hamzah pada tahun 50-an dikenal sebagai penceramah yang kerap tampil di RRI Banjarmasin dan memimpin sebuah Majelis Ta’lim Golkar. Selain menikah dengan anak Kapten Arab, Sayid Hamzah punya istri di Bali.

    Rumpun keluarga Al-Habsyi yang lain adalah Abdullah bin Husin Al-Habsyi. Abdullah datang ke Banjarmasin melewati Palembang. Tak hanya dikenal sebagai ulama besar, Abdullah merupakan seorang pedagang ekspor impor yang punya hubungan luas dengan aktivitas dagang di manca negara. Abdullah diketahui punya dua putra yakni Hasan (kelahiran Palembang) dan Husin (kelahiran Banjarmasin). Husin, putra Abdullah dari hasil perkawinannya dengan perempuan Banjar bernama Mariam, tercatat pernah melakukan 99 kali perkawinan. Anak keturunannya berjumlah 32-35 orang tersebar di pelbagai kota di Kalsel hingga Samarinda, Kaltim.

    Salah satu istrinya adalah perempuan Kandangan bernama Antung Syahrul. Anak mereka Ahmad yang kelahiran Simpang Lima Kandangan dipanggil masyarakat dengan sebutan Antung (gelar keturunan bangsawan Banjar). Selain Husin, Abdullah juga mempunyai 4 anak perempuan, salah satunya bernama Syarifah Noor yang menikah dengan Sayid Muhammad (Al-Habsyi), pendatang asal dari Geidun, Hadramaut. Sayid Muhammad merupakan seorang hafiz (hafal Qur’an). Tiap kali akan bersalaman dengan orang lain ia terlebih dulu bertanya, “Sudah berwudlu belum?”

    Dari perkawinan Syarifah Noor dengan Sayid Muhammad lahir Syarifah Fatmah yang kemudian menikah dengan sepupunya Antung Ahmad (Kandangan) bin Husin. Dari perkawinan tersebut kemudian lahir Sayid Alwi Al-Habsyi. Tiga saudara perempuan Syarifah Noor juga menikah dengan lelaki kelahiran Hadramaut yakni Sayid Abdullah, Sayid Isa dan Sayid Abdurrahman. Empat orang sayid asal Hadramaut yang menikah dengan 4 putri Sayid Abdullah bin Husin Al-Habsyi ini meninggal dunia tahun 1940-an dan juga bermakam di Turbah Sungai Jingah.

    Selain rumpun keluarga tersebut di atas, masih ada nama Muhamamad bin Abdillah Al-Habsyi. Ia merupakan Kapten Arab pengganti Alwi bin Abdullah Al-Habsyi. Muhammad terkenal sebagai saudagar kaya raya yang mempunyai istri hingga 40 orang. Perjalanannya dari Hadramaut kemudian ke pelbagai kota di Jawa lalu bermukim di Banjar hingga akhir hayatnya.

    Ia mempunyai istri di Semarang Surabaya dan Banjar. Muhammad mempunyai saudara bernama Abdul Kadir. Ia pun sebagaimana saudaranya kelahiran Hadramaut. Orintasi hidup Abdul Kadir ini terbilang langka. Ia jauh dari dari gemerlap kegidupan duniawi. “Sidin ini wali, kada tahu diduit,” ujar Syarifah Noor, cucunya.

    Muhammad mempunyai dua putra yakni Idrus dan Alwi. Yang terakhir ini pernah mendapat sorotan majalah karena kemampuanya mengusir setan (hantu). Ali anak Idrus menikah dengan sepupunya Syarifah Noor anak Alwi. Dari perkawinan mereka lahir antara lain Abdillah (pemilik Toko Kitab Adinda di Jalan P. Antasari) dan Syarifah Ni’mah.

    Wabillahi Taufik Walhidayah wassallamualaikum waraahmatullahi wabaraakatuh