Posts from the ‘Zikir’ Category

KH Hasan Mustafa (Garut, Jawa Barat)



Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma sholi ala sayyidina muhammadin wa ala ali sayyidina muhammadin wa ala ahli bait

Haji Hasan Mustafa (Garut, Jawa Barat, 1268 H/3 Juni 1852 M – Bandung, 1348 H/13 Januari 1930) adalah seorang ulama dan pujangga Islam yang banyak menulis masalah agama dan tasawuf dalam bentuk guritan (pusisi yang berirama dalam bahasa Sunda), pernah menjadi kepala penghulu di Aceh pada zaman Hindia Belanda.

Haji Hasan Mustafa lahir dan hidup dalam lingkungan menak (bangsawan Sunda), tetapi berorientasi pada pesantren. [Ayahnya, Mas Sastramanggala, setelah naik haji disebut Haji Usman, camat perkebunan.] Karena kekerasan hati ayahnya ia tidak dididik melalui bangku sekolah yang akan membukakan dunia menak bagi masa depannya, melainkan dimasukkan ke pesantren. Pertama-tama ia belajar mengaji dari orang tuanya, kemudian belajar qiraah (membaca al-Qur’an dengan baik) dari Kiai Hasan Basri, seorang ulama dari Kiarakoneng, Garut, dan dari seorang qari yang masih berkerabat dengan ibunya.

Ketika berusia 8 tahun, ia dibawa ayahnya menunaikan ibadah haji untuk pertama kali. Di Mekah ia bermukim selama setahun dan belajar bahasa Arab dan membaca al-Qur’an. Sepulangnya dari Mekah di masukkan ke berbagai pesantren di Garut dan Sumedang. Ia belajar dasar-dasar ilmu syaraf dan nahwu (tata bahasa Arab) kepada Rd. H Yahya, seorang pensiunan penghulu di Garut. Kemudian ia pindah ke Abdul Hasan, seorang kiai dari Sawahdadap, Sumedang. Dari Sumedang ia kembali lagi ke Garut untuk belajar kepada Kiai Muhammad Irja, murid Kiai Abdul Kahar, seorang kiai terkenal dari Surabaya dan murid dari Kiai Khalil Madura, pemimpin Pesantren Bangkalan, Madura. Pada tahun 1874, ia berangkat untuk kedua kalinya ke Mekah guna memperdalam ilmu-ilmu keagamaan Islam. Kali ini ia bermukim di Mekah selama 8 tahun. Ketika berada di Mekah ia berkenalan dengan Christiaan Snouck Hurgronje, seorang orientalis Belanda yang sedang meneliti masyarakat Islam di Mekah. Pertemuan itu membuat hubungan keduanya akrab sampai Haji Hasan Mustafa meninggal dunia dan Snouck Hurgronje kembali ke negerinya setelah menunaikan tugas pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia.

Menurut data yang diperoleh dari P.S. van Koningsveld, seorang ahli bahasa Arab dan agama Islam di Belanda, melalui naskah asli Abu Bakar Djajadiningrat, seorang ulama Indonesia, yang dianggap sebagai sumber utama Snouck Hurgronje tentang Mekah, diperoleh informasi bahwa Haji Hasan Mustafa adalah seorang ulama terkemuka dari Jawa yang berada di Mekah menjelang akhir abad ke-19. Ia dianggap setingkat dengan Haji Ahmad Banten, putra Syekh Nawawi al-Jawi (Nawawi al-Bantani). Dalam urutan nama ulama Jawa terkemuka di Mekah saat itu, Haji Hasan Mustafa ditempatkan dalam urutan keenam. Ia mengajar di Masjidil Haram dan mempunyai 30 orang murid. Haji Hasan Mustafa menulis buku dalam bahasa Arab,Fath al-Mu’in (Kunci Penolong), yang diterbitkan di Mesir.

Haji Hasan Mustafa adalah seorang ulama yang menguasai berbagai macam ilmu yang diperoleh dari guru-gurunya di Mekah. Selain kepada Syekh Nawawi al-Bantani, ia juga berguru pada Syekh Mustafa al-Afifi, Syekh Abdullah az-Zawawi, Hasballah, dan Syekh Bakar as-Satha, semuanya adalah orang Arab.

Haji Hasan Mustafa meninggalkan Mekah pada tahun 1882, karena dipanggil oleh RH. Muhammad Musa, penghulu Garut pada masa itu. Ia dipanggil pulang untuk meredakan ketegangan akibat perbedaan paham di antara para ulama di Garut. Berkat usaha Haji Hasan Mustafa dan bantuan RH. Muhammad Musa, perselisihan itu dapat diredakan. Selama 7 tahun ia memberikan pelajaran agama siang dan malam, terutama di Masjid Agung Garut.

Karena pengetahuan agamanya yang luas, Snouck Hurgronje pada tahun 1889 memintanya untuk mendampinginya dalam perjalanan keliling Jawa dan Madura. Ketika itu Snouck Hurgronje adalah penasihat pemerintah Hindia Belanda tentang masalah Bumiputra dan Arab. Ia menjadi pembantu Snouck Hurgronje selama 7 tahun. Atas usul Snouck Hurgronje, pemerintah Belanda mengangkat Haji Hasan Mustafa menjadi kepala penghulu di Aceh pada tanggal 25 Agustus 1893.

Jabatan kepala penghulu di Aceh dipegangnya selama 2 tahun (1893-1895). Kemudian pada tahun 1895 ia kembali ke Bandung dan menjadi penghulu Bandung selama 23 tahun. Akhirnya pada tahun 1918, atas permintaannya sendiri ia memperoleh pensiun.

Haji Hasan Mustafa adalah seorang ulama yang sabar, berpendirian teguh dan berani mengemukakan pendapat serta pendirian. Ia mengembangkan ajaran islam melalui tugas sebagai penghulu dan kegiatannya sebagai pengajaran agama dan tasawuf dalam pertemuan-pertemuan informal. Di antara muridnya terdapat Kiai Kurdi dari Singaparna, Tasikmalaya, yang mempunyai sebuah pesantren.

Ajaran Islam ditulis dan diajarkannya dengan menggunakan lambang-lambang yang terdapat dalam pantun serta wayang tradisional Sunda. Metafora yang dipergunakan sering bersifat khas Sunda. Penyampaian ajaran agama Islam begitu dekat dengan kebudayaan setempat (Sunda). Ia memetik 104 ayat al-Qur’an untuk orang Sunda. Jumlah itu dianggap cukup dan sesuai dengan kemampuan orang Sunda dalam memahami ajaran islam.

Aliran mengenai tasawuf yang dianut dan diajarkan kepada muridnya tidak diketahui dengan pasti. Akan tetapi beberapa orang menyebutkan bahwa ia menganut aliran Syattariah, suatu tarekat yang berasal dari India, didirikan oleh Syekh Abdullah Asy-Syattar, dikembangkan di Indonesia mula-mula oleh Syekh Abdur Rauf Singkel, dan menyebar ke Jawa Barat karena peranan Syekh Haji Abdul Muhyi, salah seorang murid Syekh Abdur Rauf Singkel. Dalam karyanya ia sering menyebut nama al-Ghazali sebagai sufi yang dikaguminya.

Haji Hasan Mustafa menyebarkan ajaran Islam melalui karya-karya seninya yang sangat berlainan dengan karya-karya seni Sunda pada masa itu. Umumnya yang dibahas adalah maslah-masalah ketuhanan (tasawuf). Bentuk formalnya mirip dengan kitab-kitab suluk dalam bahasa Jawa, tetapi isinya lebih dekat dengan tradisi puisi tasawuf. Karya-karya itu merupakan perpaduan atas tanggapan, renungan, dan pendapat Haji Hasan Mustafa terhadap bermacam-macam pengetahuan yang dikuasainya, yakni agama Islam, tasawuf, kebudayaan Sunda, dan peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Hampir semua karyanya ditulis dalam huruf pegon (tulisan menggunakan huruf Arab tetapi kata-kata dalam bahasa Jawa atau Sunda).

[Sekitar tahun 1900 ia menulis lebih dari 10.000 bait dangding yang mutunya dianggap sangat tinggi oleh para pengeritik sastra Sunda. Karya tersebut umumnya membahas masalah suluk, terutama membahas hubungan antara hamba (kaula) dengan Tuhan (Gusti). Metafora yang sering digunakannya untuk menggambarkan hubungan itu ialah seperti rebung dengan bambu, seperti pohon aren dengancaruluk (bahan aren), yang menyebabkan sebagian ulama menuduhnya pengikut mazhab wahdatul-wujud. Terhadap tuduhan itu, ia sempat membuat bantahan Injaz al-Wa'd, fi Ithfa al-Ra'd (membalas kontan sekalian membekap guntur menyambar) dalam bahasa Arab yang salah satu salinan naskahnya masih tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden.]

Karya-karyanya yang pernah dicetak dan dijual kepada umum adalah Bab Adat-Adat Urang Sunda Jeung Priangan Liana ti Éta (1913), esei tentang suku Sunda, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan Belanda (1977); Leutik Jadi Patélaan Adatna Jalma-Jalma di Pasundan (1916); Pakumpulan Atawa Susuratanana Antara Juragan Haji Hasan Mustafa Sareng Kyai Kurdi (1925); Buku Pengapungan (Hadis Mikraj, tahun 1928); dan Syekh Nurjaman (1958).

Di samping itu terdapat pula buku-bukunya yang hanya dicetak dan diedarkan di kalangan terbatas, seperti Buku Pusaka Kanaga Wara, Pamalatén, Wawarisan, danKasauran Panungtungan. Semua buku tersebut tidak diketahui tahun terbitnya.

Karya-karyanya yang dipublikasikan dalam bentuk stensilan ialah Petikan Qur’an Katut Abad Padikana (1937) dan Galaran Sasaka di Kaislaman (1937). Masih ada karya lain yang tidak dipublikasikan dan disimpan oleh M. Wangsaatmadja (sekretarisnya, 1923-1930). Pada tahun 1960 naskah tersebut diketik ulang dan diberi judul Aji Wiwitan (17 jilid). [Selain itu, Haji Hasan Mustapa menulis naskah dalam bahasa melayu Kasful Sarair fi Hakikati Aceh wa Fidir (Buku Rahasia Sebetulnya Aceh dan Fidi) yang sampai sekarang naskahnya tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden.]

Pada tahun 1977 haji Hasan Mustafa sebagai sastrawan Sunda memperoleh hadiah seni dari presiden Republik Indonesia secara anumerta.*** (Sumber: Suplemen Ensiklopedi Islam Jilid 1, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, cet-9, 2003, hal. 183-184. Tulisan di dalam kurung tegak merupakan catatan tambahan dari Ensiklopedi Sunda.)

‘Aqad, ‘Ahad dan Bai’at menurut Al-Qur’an dan Sunnah


Bismillahir rahmanir rahiim

Untuk masalah ‘Aqad kita perhatikan firman Allah dibawah ini :

: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. (Q.S. Al-Maidah: 1)

Perkataan ‘aqad dalam ayat ini bermakna  suatu perjanjian yang melibatkan lebih dari satu golongan. Menurut Imam Raghib, ‘aqad yang dimaksudkan di dalam ayat ini mengandung tiga makna, yaitu :

  • ‘Aqad  di antara Allah dan manusia, yaitu kewajiban-kewajiban yang telah dibebankan kepada manusia.
  • ‘Aqad di antara manusia dan jiwanya.
  • ‘Aqad di antara sesama manusia.

Firman Allah :

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (Q.S. An-Nahl: 91-92)

Di dalam ayat di atas, ‘aqad manusia dengan Allah merupakan ‘aqad yang paling penting sekali. Maksudnya manusia diwajibkan melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya.

Firman Allah :

“Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya).” (Q.S. Al-Ahzab: 23)

Di dalam ayat di atas, ‘aqad manusia dengan Allah disebut ‘ahad. Demikian juga kebanyakan penggunaan ‘ahad di dalam Al-Qur’an berkaitan dengan janji manusia kepada Allah. Perkataan ‘ahad ini juga digunakan dalam konteks jual beli atau bai’at seperti firman Allah :

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (Q.S. At-Taubah: 111)

Oleh karena pentingnya seorang mu’min itu senantiasa berpegang teguh dengan ‘ahadnya kepada Allah, maka Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita sebuah do’a  yang juga merupakan Sayyidul Istighfar : “Allahumma anta Rabbi Laa ilaaha illa anta khalaqtanii wa ana abduka wa ana ‘alaa ahdika wa wa’dika – Mastatho’tu A-‘uudzubika minsyarrimaa shona’tu abuu-ulaka bini’matika ‘alayya wa abuu-‘u bidzambii faghfirlii fainnahu Laa yaghfirudz-dzunuu-ba illa anta” (“Yaa Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan yang berhak kusembah kecuali hanya Engkau sendiri. Telah Engkau jadikan aku dan aku ini adalah hamba-Mu, dan berusaha sekuat tenaga untuk setia memegangangjanji (‘ahad)-Mu.Aku berlindung kepada-Mu daripada kejahatan yang terlanjur yang telah aku lakukan. Aku menyadari akan segala nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan aku tahu pula akan dosaku, maka ampunilah kiranya aku, karena sesungguhnya tiadalah yang mengampuni dosaku itu hanya Engkau.”) (H.R. Bukhari)

‘Aqad manusia sesama manusia merupakan satu perkara yang telah diutamakan sejak awal pertumbuhan Islam yang pertama. Di dalam al-Qur’an Allah telah menetapkan dasar-dasar bagi membina sebuah masyarakat Islam. Di antara dasar yang disebutkan berkenaan ‘ahad adalah ;

“. . . . Dan penuhilah janji (‘ahad) sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.” (Q.S. Al-Israa’: 34)

Memenuhi perjanjian atau ‘ahad bukan saja merupakan tuntutan moral antara individu-individu, tetapi ia juga menjadi dasar semua urusan dalam dan luar bagi ummat Islam dan sistem pemerintahan Islam. Jelas dari dasar ini bahwa pelaksanaan perjanjian antara sesama manusia sebagai individu atau kumpulan adalah penting hingga ia menjadi salah satu dasar bagi pembinaan sebuah negara Islam.

Dalam konteks ‘aqad antara manusia dengan manusia, bai’at adalah satu sumpah setia yang merupakan ‘aqad untuk melakukan ketha’atan. Apabila seseorang itu telah melakukan bai’at kepada seorang pemimpin ia sebenarnya telah membuat satu ‘aqad dengan pemimpin itu. Ini berarti ia telah memberikan urusan dirinya dan muslim lain kepada pemimpin tersebut. Ia juga berjanji tidak akan merebut kekuasaan dari pemimpin tadi, akan senantiasa menaatinya serta melaksanakan semua tugas-tugas yang diberikan oleh pemimpin tadi.

Ta’rif bai’at secara umum adalah “al-‘ahad ‘ala at’-ta’ah” atau satu perjanjian untuk tha’at. Seorang yang memberi bai’at, atau mubayyi’ itu membuat ‘ahad (perjanjian) kepada pemimpin agar pemimpin itu mengurusi urusannya di dalam jama’ah dan ia tidak akan mempertikaikan kedudukan pemimpin  itu. Mubayyi’ itu akan mentaati pemimpin dalam keadaan senang atau susah.

Jika dilihat dari segi hukum syara’ bai’at mengandung tiga perkara :

1)     Bai’at dilakukan menurut batas kemampuan seseorang.

2)     Adalah sunnah bagi seorang pemimpin meminta bai’at dari jama’ahnya.

3)  Apabila seorang muslim telah membuat bai’at, maka wajib baginya untuk memenuhi bai’at tersebut.

Ketiga perkara ini didasarkan kepada keterangan-keterangan berikut : “Dari Abdullah Ibn Umar, katanya : “Apabila kami memberi bai’at kepada Rasulullah SAW, baginda akan mengarahkan kamu menyatakan sebanyak yang kamu mampu.”

Dari Junadah bin Abi Umayyah, katanya : “Kami menziarahi Ubaidah bin as-Samit semasa ia sakit. Kami berkata : “Semoga Allah memberi kesehatan kepadamu. Bolehkah engkau beritahu kami hadits dari Rasulullah SAW yang boleh memberi manfaat kepada engkau. Ia berkata : Rasulullah SAW menyeru kami dan kami memberi bai’at masuk Islam kepadanya, di antara syarat-syarat yang terkandung di dalam bai’at itu adalah kami hendaklah dengar dan taat kepada perintahnya di masa kami kuat dan lemah, di masa kami susah dan senang dan untuk mentaati pemimpin kami serta memberi kepadanya hak-haknya, dan tidak memeranginya kecuali ia melakukan kekufuran yang kami mempunyai bukti-buktinya.”

Riwayat di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW menjemput manusia untuk memberi bai’at kepadanya. Siddiq Hasan Khan, seorang faqih (ahli fiqih) dan muhaddits (ahli hadits) menerangkan riwayat ini sebagai berikut : “Hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa meminta ba’ah dari sahabat itu adalah sunnah dan memberi bai’at kepada orang lain itu juga adalah sunnah, tetapi memenuhi bai’at selepas membuatnya adalah wajib dan memecahkan bai’at adalah maksiat.”

Bai’at hendaklah dilakukan dengan hati yang penuh ikhlas karena ia bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk kepentingan jama’ah. Rasulullah SAW menjelaskan salah satu dari tiga golongan manusia yang Allah tidak berkata-kata padanya di hari  qiamat  adalah : “Seseorang yang memberi bai’at kepada seorang imam semata-mata untuk faedah dunia, jika imam itu memberikan apa yang dikehendakinya, maka ia akan mentaati imam tersebut, tetapi jika imam itu tidak memberi apa yang dikehendakinya maka ia tidak akan memenuhi bai’atnya.” (H.R. Bukhari)

Demikianlah, pentingnya bai’at antara manusia kepada manusia lain menurut syari’at Islam. Siapa yang memecahkan bai’at dalam urusan apapun akan dianggap melakukan maksiat. Besar atau kecil maksiat yang dilakukan bergantung kepada perkara dan syarat-syarat yang dibai’atkan.

Perjanjian di antara manusia dalam apa bentuknya boleh diperbarui. Hal ini sama dengan bai’at yang boleh diulang dari masa ke masa. Tikrar al-Bai’at atau memperba rui bai’at merupakan amalan Rasulullah SAW terhadap sahabatnya.

Dari Salamah Ibn al-Akwa’, katanya : “Kami berbai’at kepada Rasulullah SAW di bawah pohon, beliau berkata : “Ya Salamah ! Tidakkah engkau hendak memberi bai’at ?” Aku menjawab : “Ya Rasulullah, aku pun telah memberi bai’at kepadamu dahulu.” Ia berkata : “Berilah untuk kali kedua.”

Melakukan bai’at berulangkali di dalam jama’ah adalah dibenarkan karena ini adalah berdasarkan kepada sunnah Rasulullah SAW. Tindakan ini baik karena akan selalu memperingatkan anggota jama’ah terhadap tugas-tugas dan tanggung jawabnya di dalam jama’ahnya (organisasi).

Talqin dan Bai’at dalam Pengukuhan

“Talqin” adalah merupakan peringatan guru kepada murid, sedang “bai’at” atau juga disebut ‘ahad dalam hal ini adalah  merupakan ikrar atau janji murid untuk sanggup dan setia dalam ketha’atannya mengamalkan segala kebajikan yang diperintahkan kepadanya.

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani bahwa Rasulullah SAW pernah mentalqinkan sahabat-sahabatnya secara berombongan atau perseorangan. Talqin berombongan pernah diceritakan oleh Syaddad bin ‘Aus ; Bahwa suatu ketika kami berada dekat Rasulullah, beliau bersabda : “ Apa adakah diantara kamu orang asing ? maka jawab saya : Tidak ada “.  Lalu Rasulullah menyuruh menutup pintu dan berkata : Angkat tanganmu dan ucapkanlah Laa Ilaaha Illallah, seterusnya beliau bersabda : Segala puji bagi Allah, wahai Tuhanku Engkau telah mengutus aku dengan kalimat ini dan Engkau menjadikan dengan ucapannya karunia syurga kepadaku dan bahwa Engkau tidak sekali–kali menyalahi janji. Kemudian Rasulullah berkata pula : Belumkah aku memberikan kabar gembira kepadamu bahwa Allah telah mengampuni kamu semua ? Maka bersabdalah Rasulullah SAW : “ Tidak ada segolongan manusiapun yang berkumpul dan melakukan dzikrullah dengan tidak ada niat lain melainkan untuk Allah semata-mata, kecuali nanti akan datang suara dari langit . Bangkitlah kamu semua, dosamu sudah diampuni dan sudah ditukar kejahatan yang lampau dengan kebajikan “.

Oleh karena itu Allah berfirman :

“Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah kamu dengan bai’atmu, yang kamu lakukan itu adalah kejayaan yang agung.” ( Q.S. At-Taubah: 111 ).

Tentang bai’at perseorangan pernah diceritakan oleh Yusuf Al-Kurani dan teman-temannya dengan sanad yang syah bahwa Sayyidina Ali ra bertanya kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku jalan yang sedekat-dekatnya kepada Allah dan yang semudah-mudahnya  dan yang paling utama dapat ditempuh oleh hamba-Nya ? Maka bersabdalah Rasulullah : “ Hendaknya kamu lakukan dzikrullah yang kekal dan ucapan yang paling utama yang pernah kulakukan dan dilakukan  oleh Nabi-Nabi sebelum aku yaitu Laa Ilaaha Illallah. Jika   ditimbang dengan tujuh petala langit dan bumi dalam satu daun timbangan dan kalimat Laa Ilaaha Illallah dalam satu timbangan yang lainnya, maka kalimat Laa Ilaaha Illallah akan lebih berat. Kemudian ia berkata : Wahai ‘Ali tidak akan datang kiamat jika diatas muka bumi ini masih ada orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah. Sayyidina ‘Ali berkata : Bagaimana caranya aku berdzikir  ya Rasulullah ? Nabi menjawab : Pejamkan kedua matamu dan dengar aku mengucapkan tiga kali kemudian engakau ucapkan tiga kali juga sedangkan aku mendengarkannya. Maka berkatalah Rasulullah : Laa Ilaaha Illallah tiga kali, sedangkan kedua matanya dipejamkan, dan suaranya dikeraskan serta ‘Ali mendengarnya. Kemudian ‘Ali mengucapkan : Laa Ilaaha Illallah seperti yang Rasulullah ucapkan sedangkan Rasulullah mendengarkannya “.

Demikian cara talqin dzikir yang disampaikan oleh ‘Ali bin Abi Thalib ra.

Kemudian pengertian “ Pengukuhan “ disini adalah penegasan, pengakuan atau pengesahan yang diiringi dengan Talqin Guru dan Ikrar/Janji ( Bai’at ) murid. Dengan adanya pengukuhan ini akan terjadi ikatan bathin yang kuat antara Murid dengan Guru ( sebagai pemimpin dan pembimbing jama’ah ) yang akhirnya akan melahirkan pribadi yang setia dan tha’at karena Allah swt.

Saidina Umar ra menegaskan : “ Tidak ada Islam tanpa jama’ah, tidak ada Jama’ah tanpa Pemimpin, dan tidak ada Pemimpin tanpa adanya ketha’atan “

Pengukuhan bagi Jama’ah Tarekat Qodiriyah sangat berharga dan berarti, terutama dalam hal memperoses dan membenahi diri dengan menjalankan program-program amalan dan dzikir yang dilaksanakan secara terpadu, terbimbing, dan berkesinambungan, yang akhirnya akan lahir pribadi mu’min yang sejati dengan jiwa tauhid dan ikhlas dalam beribadah kepada Allah swt. Sehingga rahmat dan perlindungan Allah selalu menaunginya, jadilah ia orang yang tenang, damai, yakin dan berani dalam kebenaran.

Prosesi Pengukuhan

Prosesi pengukuhan terdiri dari 3 (tiga) tahapan di antaranya :

Tahap pertama, disebut dengan tahap persiapan sebelum dikukuhkan.

Calon anggota jama’ah yang akan dikukuhkan sebelumnya harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

a.   Terdaftar sebagai anggota jama’ah dan memenuhi syarat-syarat administrasi (untuk pendataan dan ketertiban).

b.   Melaksanakan ibadah-ibadah khususnya shalat lima waktu dan menjalankan amalan dan zikir untuk persiapan pengukuhan.

c.   Bersedia dan siap untuk dikukuhkan tanpa ada unsur paksaan dari pihak manapun (ikhlas dalam pengukuhan).

Tahap kedua, disebut dengan tahap pengukuhan.

Anggota jama’ah yang sudah memenuhi syarat-syarat ditahap pertama maka akan diadakan proses pengukuhan dengan cara sebagai berikut :

a.  Sebelum proses pengukuhan berlangsung guru pembimbing memberikan beberapa arahan dan peringatan (talqin) kepada murid yang akan dikukuhkan tentang segala hal yang menyangkut persoalan pengukuhan.

b.   Kemudian guru pembimbing menanyakan kepada calon anggota jama’ah yang akan dikukuhkan apakah bersedia serta ikhlas untuk menerima pengukuhan. Jika seandainya calon anggota jama’ah bersedia untuk menerima pengukuhan maka guru pembimbing akan menanyakan apakah calon anggota jama’ah juga bersedia untuk berikrar (berbai’at).

c.    Jika hal tersebut sudah diterima oleh calon anggota jama’ah maka guru pembimbing selanjutnya membaca : Surat Al-Fatihah, Shalawat Munjiyat, Zikir Asma Al-Mu’min  dan  Surah Al-Fath ayat 10 yang artinya :

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia (berbai’at) kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (Q.S. Al-Fath : 10)

Selanjutnya calon anggota jama’ah membacakan ikrar (janji) di hadapan guru pembimbing diantaranya yang berisi :

  1. Tidak mensekutukan Allah dengan apapun.
  2. Berusaha menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
  3. Berbakti kepada kedua orang tua, setia dengan guru pembimbing dan mengamalkan ajaran yang diberikan oleh guru pembimbing.
  4. Bersedia menjaga nama baik jama’ah Nur Al-Mu’min kapan dan dimanapun berada.
  5. Bersedia untuk mentaati prinsip-prinsip anggota jama’ah Nur Al-Mu’min.

d.   Setelah pembacaan ikrar (janji) barulah guru pembimbing melaksanakan pengukuhan diantaranya memberikan Amalan Al-Mu’min, Membuka Latifah/Rohani dan selanjutnya memasukkan Washilah atau Thariqat Al-Mu’min sebagai jalan atau kendaraan untuk berjalan menuju Allah, kemudian bersama-sama mengucapkan kalimah Laa Ilaaha Illallah 3 X dan ditutup dengan Muhammadarra suulullahi Shallallahu ’alaihi wasallam.

e.   Setelah pengukuhan dilaksanakan maka guru pembimbing akan menutup dengan do’a, kemudian diakhiri dengan membaca do’a alhir majelis dan  ucapan selamat dari jama’ah yang hadir menyaksikan proses pengukuhan.

Tahap ketiga, disebut dengan tahap setelah pengukuhan.

a.   Setiap anggota jama’ah yang telah dikukuhkan akan mendapat beberapa pedoman atau panduan amalan dan dzikir yang akan dilaksanakan / diamalkan di dalam kehidupannya sebagai ibadah taqarrub kepada Allah.

b.   Amalan-Amalan atau Dzikir-Dzikir yang diberikan wajib dijalankan dengan mengikuti petunjuk atau aturan yang diberikan oleh pembimbing.

c.     Amalan atau Dzikir akan diberikan secara bertahap sesuai dengan tahapan amalan yang dijalankan oleh anggota jama’ah yang telah dikukuhkan

Hamba Allah Sejati


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Hamba Allah yang sejati haruslah melaksanakan segala sesuatu apa yang diperintahkan Allah dan meninggalkan segala apa yang dilarangan-Nya. Hendaknya ia berusaha untuk menundukkan hawa nafsunya yang berupa amarah dan serakah. Hawa nafsu yang berlawanan dengan perintah agama itu ada dalam khayalan dan fikiran yang berlawanan dengan yang hakikat. Segala perbuatan yang dibenarkan oleh agama, itulah yang suka ditentangnya. Dan segala perbuatan yang bertentangan dengan agama, dengan senang hati dilakukannya. Itulah peranan hawa nafsu dalam diri manusia.

Dalam tingkat thariqah, ego atau nafsu itu mendorong seseorang untuk mengikuti ajaran-ajaran agama yang palsu dan seolah-olah para pengamal thariqah itu telah berjalan di atas ajaran yang benar, yakni ajaran dari Allah. Padahal seringkali jalan thariqah yang dianggapnya benar itu sebenarnya salah dan bathil, karena penuh dengan kekeliruan, berbenturan dengan tuntutan syari’at dan petunjuk Islam yang hakiki.

Dalam tingkat hikmah atau hakikat, masalah yang dihadapi lebih berat lagi, karena ego dan keinginan yang ada dalam diri seseorang selalu mendorong hasrat untuk mendakwa mereka sebagai Waliyullah. Bahkan, ada pula yang mau mengaku dirinya sebagai “tuhan”. Inilah dosa yang paling besar. Allah berfirman : “Terangkanlah kepada-Ku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya ?” (Q.S. Al-Furqan: 43)

Peringkat-peringkat tersebut sangat berbeda dengan peringkat ma’rifah. Peringkat ini tidak pernah dapat dijamah oleh nafsu dan iblis. Bahkan malaikatpun tidak mampu mencapainya. Apa dan siapa pun selain Allah bila dapat sampai ke dalamnya, niscaya ia akan hangus. Malaikat Jibril pernah berkata kepada Nabi Muhammad SAW, “Jika selangkah saja aku masuk ke situ, maka hanguslah aku.”

Hamba Allah yang sebenarnya ialah hamba yang bebas dari gangguan ego dan nafsu setan, karena dirinya dilindungi oleh perisai keikhlasan dan kesucian hati dalam berma’rifah kepada Allah SWT.

Seorang alim berkata, “Jika sang hamba itu mentaati Allah dengan sepenuh hati dan perasaan, niscaya Allah akan mengaruniakan ma’rifah untuknya. Bahagialah ia memandang rahasia-rahasia Tuhan di balik Alam Malakut. Namun, bila kemudian ia berbalik hati, ingkar kepada syarat-syaratnya, karunia itu akan dicabut-Nya kembali. Hatinya yang penuh dengan cahaya ma’rifah akan kembali suram, gelap gulita seperti semula. Karena itulah, orang yang hatinya telah dipenuhi cahaya ma’rifah sangat khawatir bila cahaya itu akan dicabut seperti keadaannya yang dulu karena suatu kesalahan yang dibuatnya. Iblis laknatullah selalu menanti peluang untuk masuk dalam diri manusia. Apabila manusia lalai, mereka akan membelitnya dengan belalainya dan dijerumuskannya manusia ke lembah kehinaan sehingga semua amalan yang pernah diperolehnya dengan susah payah akan menjadi abu dan sia-sia.

Firman Allah : “Iblis menjawab, “Demi kekuasaan-Mu, aku bersungguh-sungguh akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis (yaitu orang yang ikhlas) di antara mereka.” (Q.S. Shaad: 82 – 83).

Lihatlah, betapa Iblis laknatullah sendiri mengaku di hadapan Allah SWT, bahwa ia tidak mampu menggoda orang yang mengikhlaskan dirinya hanya kepada Allah, sebagaimana bunyi ayat tersebut di atas.

Manusia tidak akan sampai ke peringkat tertinggi itu selagi ia belum suci, karena nafsu-nafsu dunia tidak akan melepaskannya hingga Zat Yang Maha Esa itu terlahir padanya. Inilah yang disebut dengan keihklasan.

Zat itu hendaknya dikenali dengan sempurna. Kejahilan akan hilang dari diri manusia bila ia menerima ilmunya secara langsung dari Allah. Ilmu yang semacam ini tidak dapat dicapai dengan cara belajar, karena ilmu itu adalah karunia dari Allah yang diberikan khusus kepada hamba pilihan (Waliyullah) tanpa perantara atau wasilah.

Apabila Allah SWT menjadi gurunya maka Dia akan memberikan berbagai sumber ilham ke dalam diri mereka, segala rahasia-rahasia yang halus akan dilontarkan Allah ke dalam hati mereka. Maka menjelmalah ia seperti Nabi Khidir atau hamba-hamba shaleh yang lain, yang selalu menerima sumber ilmu dari Yang Pemilik ilmu itu.

Keadaan semacam inilah yang disebut telah mencapai tingkat makrifah. Mereka telah mengenali Tuhan Penciptanya, dan senantiasa mengabdi kepada Tuhan yang sudah dikenali-Nya.

Orang yang mencapai peringkat ini akan melihat Ruh al-Quds (Ruh Suci) dan kekasih Allah, yaitu Nabi Muhammad SAW. Ia boleh berbincang-bincang dengan kekasih Allah tentang segala perkara dari awal hingga akhir, dan Nabi-Nabi lainnya memberinya tanda atau isyarat yang baik tentang janji bahwa ia akan berkumpul bersama kekasih Allah itu. Hal ini tidak mengherankan karena mereka yang telah mencapai peringkat ini, semua keinginannya akan terpenuhi dengan kehendak Allah. Firman Allah : “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang yang saleh. Dan mereka itulah teman yang paling baik.” (Q.S. An-Nisaa’: 69)

Tafsir Surah Al-Falaq


Bismillahirrahmaanirrahiim

Allah berfirman.
Artinya :
“Katakanlah : “Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai subuh” [Al-Falaq : 1]
“Dari kejahatan makhluk-Nya” [Al-Falaq : 2]
“Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita” [Al-Falaq : 3]
“Dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul” [Al-Falaq : 4]
“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki” [Al-Falaq : 5]

Mengenai ‘basmalah” telah berlalu penjelasannya

Firman Allah.

“Artinya : Katakanlah : “Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai subuh” [Al-Falaq : 1]

Rabb Falaq adalah Allah. Al-Falaq maknanya subuh. Boleh juga dengan makna lebih umum, yaitu setiap apa yang dimunculkan Allah pada pagi hari, seperti subuh, biji buah-buahan dan biji tumbuh-tumbuhan.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan” [Al-An’am : 95]

Dan firmanNya.

“Artinya : Dia menyingsingkan pagi” [Al-An’am : 96]

Firman Allah

“Artinya : Dari kejahatan makhluknya” [Al-Falaq : 2]

Yaitu dari kejahatan seluruh makhlukNya hingga kejahatan dirinya sendiri. Karena nafsu selalu memerintahkan untuk berbuat jahat. Jika engkau katakan, dari kajahatan makhluk-Nya, maka engkau adalah orang pertama yang termasuk di dalamnya. Sebagaimana yang tertera dalam khutbah hajah.

“Artinya : Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami” [1]

FirmanNya “ Min syarri maa kholaq” mencakup setan dari golongan jin dan manusia dan kejahatan lain-lain.

Firman Allah.

“Artinya : Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita” [Al-Falaq : 3]

Dikatakan arti ‘al-ghasiq’ ialah malam, dan dikatakan juga artinya bulan. Yang shahih adalah bahwa ‘al-ghasiq’ mencakup kedua makna. Adapun ‘al-ghasiq’ artinya malam karena Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dirikan shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam” [Al-Israa : 78]

Pada malam hari banyak kejahatan dan binatang buas berkeliaran. Oleh karena itu, dipinta perlindungan dari kejahatan al-ghasiq, yaitu malam.

Al-ghasiq dengan arti bulan terdapat dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu ketika beliau menunjukkan bulan kepada ‘Aisyah seraya bersabda.

“Artinya : Inilah yang disebut al-ghasiq” [2]

Bulan dikatakan ghasiq karena cahayanya muncul di malam hari.

“Wa min syarri ghasiqin idzaa wa qab” athaf kepada “ min syarri maa kholaq” yang termasuk dalam bab, athaf khusus kepada yang umum. Karena ghasiq termasuk makhluk Allah Azza wa Jalla. Adapun firman Allah “ Idza wa qab” yakni, jika menjelang. Malam jika datang menjelang disebut ghasiq begitu juga bulan jika bersinar cerah disebut ghasiq. Ini semua terjadi pada malam hari.

Firman Allah.

“Artinya : Dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul” [Al-Falaq : 4]

“An-Naffaatsaati fii al-uqad” yaitu para tukang sihir yang mangikat tali dan lain-lain, kemudian menghembusnya sambil membacakan mantera-mantera yang terdiri dari nama-nama syetan. Ia menghembus setiap buhul yang ia ikat. Demikianlah ia lakukan berulang-ulang. Tukang sihir yang tercela ini menginginkan orang tertentu agar sihirnya mengenai orang tersebut. Allah menyebut ‘naffaatsaat’ (bentuk perempuan) tidak ‘naffaatsiin’ (bentuk lelaki). Karena kebanyakan yang melakukan jenis sihir ini adalah wanita. Oleh karena itu, Allah menyebutkan“An-Naffaatsaati fii al-uqad” . Dan kemungkinan juga maksud dari An-Naffaatsat ialah hembusannya, yang berarti mencakup pria dan wanita.

Firman Allah

“Artinya : Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki” [Al-Falaq : 5]

Al-Hasid ialah seorang yang benci terhadap orang lain karena mendapat nikmat Allah. Jika seseorang mendapat nikmat berupa harta, kedudukan, ilmu dan lain-lain, dada mereka terasa sesak sehingga muncul sikap iri tersebut. Al-Hassad (orang-orang yang mempunyai sifat dengki) ini terbagi menjadi dua :

Seseorang yang benci terhadap orang lain karena mendapat nikmat Allah, tetapi ia tidak berbuat apa-apa terhadap orang tersebut. Kamu akan lihat dia seperti orang yang terkena demam panas jika melihat orang lain mendapat nikmat, tetapi ia tidak melakukan tindakan apa-apa terhadap orang tersebut.

Kejahatan dan bala’ ada pada orang yang dengki bila ia bertindak. Oleh karena itu, Allah berfirman “idzaa hasad” artinya jika ia dengki.

Di antara tindakan orang yang dengki ialah ‘Ain yang mengenai seseorang . yaitu, orang ini benci kepada orang lain karena mendapat nikmat Allah, ia merasakan sesuatu terjadi pada dirinya jika si fulan mendapat nikmat, pada saat itu keluar dari dirinya sesuatu yang jelek (yang sulit untuk diungkapkan), kemudian ia kenai si fulan dengan ‘ain tersebut. Akibatnya, bisa menyebabkan kematian, sakit atau gila. Terkadang orang hasid ini dapat menghentikan mesin, atau merusak kendaraan atau tiba-tiba mogok, dapat merusak pompa air atau penjaga kebun. ‘Ain itu benar adanya dapat menimpa orang lain dengan izin Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla menyebutkan : Jika malam telah tiba, tukang sihir yang menghembus buhul-buhul, orang yang dengki apabila ia dengki, katiga bencana ini terjadi secara tersembunyi.

Malam adalah tirai atau penutup ‘wa al-alayli idzaa yagsyaa”., “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)”. Kejahatan yang tidak diketahui terjadi pada saat ini.

“An-naffaatsaati fii al-uqad” ialah sihir yang tersembunyi yang tidak diketahui. “haasidin idzaa hasad” ialah ‘ain yang juga tersembunyi. Boleh jadi ‘ain itu berasal dari orang yang menurut perkiraanmu dialah orang yang paling kamu cintai dan kamulah orang yang paling kamu cintai. Namun ternyata, ia sendiri yang telah menimpakan ‘ain kepadamu. Oleh karena itu, Allah mengkhususkan tiga hal ini, mala jika telah tiba, tukang sihir yang menghembus buhul-buhul dan orang yang dengki apabila ia dengki. Kesemuanya itu termasuk dalam firmanNya “ min syarri maa kholaq”. “dari kejahatan makhlukNya”.

Jika seseorang berkata : Bagaimana cara menanggulangi tiga kejahatan tersebut ? Kita katakana : Cara menanggulanginya dengan menjadikan hati selalu bergantung kepada Allah Ta’ala. Menyerahkan semua perkara kepadaNya, bertawakkal kepadaNya, selalu membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan untuk membentengi dan menjaga dirinya dari kejahatan mereka.

Akhir-akhir ini, banyak yang menjadi korban ilmu-ilmu sihir, pendengki-pendengki dan yang semisalnya. Karena manusia lalai dari mengingat Allah, melemahnya rasa tawakkal, terlalu sedikit membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan sebagai pembenteng diri. Sementara kita sudah ketahui bahwa dzikir tersebut merupakan benteng diri yang sangat kokoh, lebih kokoh dari tembok Ya’juj dan Ma’juj. Akan tetapi sangat disayangkan, banyak yang tidak mengetahui dzikir tersebut ; ada yang mengetahuinya tetapi tidak melaksanakannya, dan ada yang membaca tetapi dengan hati yang lalai. Semua ini adalah suatu kekurangan. Jika orang-orang membaca dzikir-dzikir yang ada dasarnya di dalam syari’at, niscaya akan selamat dari kejahatan tersebut. Kita memohon kepada Allah agar diberi kesehatan dan keselamatan.

[Disalin dari kitab Tafsir Juz ‘Amma, edisi Indonesia Tafsir Juz ‘Amma, penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari, penerbit At-Tibyan – Solo]

WIRID PENGOBATAN SEGALA PENYAKIT SYAIKH ABU HASAN AL SYADZILI


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Sakit adalah kondisi yang tidak kita kehendaki. Apabila ada saudara, tetangga, teman, orang lain dan juga diri kita sendiri mengalami sakit maka akan lebih mulia apabila kita berupaya untuk mengobatinya. Selain upaya medis dengan perawatan dokter, maka akan lebih substansial kita mengobati penyakit dengan upaya batin.

Cara mengadakan upaya batin untuk mengobati sakit adalah meminta kepada Allah swt Yang Maha Kuasa agar si sakit diberi kesembuhan. Kita berharap dan hanya Allah Swt yang menentukan harapan kita. Laksanakan sholat Tobat,Hajat, tahajud atau sholat malam dengan jumlah rakaat yang sesuai dengan kemampuan. Lalu baca wirid SYaikh ABU HASAN AL SYADZILI, pendiri tarikat Syadziliah berikut ini dengan khusyuk semampunya.

“YA WASI’U YA ALIIMU YA DZAL FADLIL ADHIIMI ANTA RABBI WA ILMUKA KHASBI IN TAMSISNI BIDHURRAN FALAA KAASIFA LAHU ILLA ANTA WAIN TARUDDUNII BIKHAIRIN FALAA RADDA LIFADZLIKA TUSHIIBU BIRAHMATIKA MAN TASYAA’U MIN IBADDIKA ANTAL QHAFUURURRAHIIM”

“Ya, Allah, wahai Dzat Yang Maha Melapangkan, wahai Dzat Yang Maha Mengetahui, wahai Dzat Yang Maha Memiliki anugerah keutamaan yang agung. Engkau adalah Tuhanku, dan cukuplah bagiku ilmu-Mu. Jika aku ditimpa penyakit, maka tiada yang bisa mengobati selain Engkau. Jika Engkau memulihkan kondisiku, maka tiada seorang pun yang bisa mengambil alih anugerah-Mu. Engkau curahkan rahmat kasih-Mu pada orang yang Engkau kehendaki dari hamba-hamba-Mu, dan Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Download Cara Mengamalkan Zikir

Surah Alfatihah Dan Khasiat-Nya


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Surah Al-Fatihah (الفاتح , al-Fātihah, “Pembukaan”) adalah surat pertama dalam Kitab Suci  Al Qur’an. Surah ini diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat. Al-Fatihah merupakan surah yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap diantara surah-surah yang ada. Surah ini disebut Al-Fatihah (Pembukaan), karena dengan surah inilah dibuka dan dimulainya Al-Quran. Dinamakan Ummul Qur’an (induk Al-Quran/أمّ القرءان) atau Ummul Kitab (induk Al-Kitab/أمّ الكتاب) karena dia merupakan induk dari semua isi Al-Quran. Dinamakan pula As Sab’ul matsaany (tujuh yang berulang-ulang/السبع المثاني) karena jumlah ayatnya yang tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam sholat.

Ada sebuah petunjuk barangsiapa yang membaca Al Fathihah diantara sembahyang sunat subuh dengan Fardhu Subuh sebanyak 41 kali, maka dia akan:

  • Derajat dan pangkatnya naik.
  • Tidak akan mengalami kemiskinan.
  • Allah SWT akan membayar hutangnya
  • Menyembuhkan segala penyakit.
  • Dikuatkan kelemahannya oleh Allah.
  • Usahanya berhasil sampai yang dicita-citakannya terkabul.

Ada sebuah riwayat. Suatu ketika murid Syaikh al Tamimi memberi penjelasan: “Suatu hari penyakit telah menyerang negeri Maltan dengan dahsyatnya sehingga banyak terjadi kematian setiap hari. Lalu tuan Syaikh al-Tamimi meminta sahabat dan muridnya membaca Fatihah kepada mereka yang sakit tersebut. “Maka kami pun membaca dan meniupkannya ke atas kepala orang sakit itu, seketika orang sakit itu pun sembuh dang penyakitnya berkurangan.”

Begitulah rahasia kehebatan Al Fatihah. Siapa yang membaca 41 kali Fathihah untuk seorang yang sakit, setelah itu dihembuskan kepadanya, Insya Allah dia akan sehat.

Ibnu Abas r.a menjelaskan Saidina Hassan bin Ali r.a cucu Rasulullah SAW sakit. Melihat cucunya sakit, Rasulullah mengambil air dan membacakan fatihah dan membacakan 41 kali dalam suatu wadah, kemudain air itu disapukan ke muka, kepala dan dua belah tangan dan kaki serta perut dan anggota tubuh lainnya. Maka, penyakitnya segera sembuh.

Maka siapa saja yang mengidap sesuatu penyakit baca Al Fatihah sebanyak 41 setelah tiupkan ka segelas air dan itu baca doa ini: “Ya Allah sembuhkanlah karena Engkau Maha Penyembuh. Ya Allah lindungi karena Engkau Maha Pelindung. Ya Allah pulihkan karena Engkau Maha Pemulih.”

Selanjutnya berikan air minum kepada orang yang mengidap penyakit dan sapukan ke mukanya serta ke seluruh tubuhnya, dengan ijin Allah SWT, maka sakitnya akan sembuh.

Inilah manfaat lengkap wirid Al Fatihah:

PENYEMBUHAN PSIKOLOGIS

Membaca al Fathihah sebanyak 100 kali sehari pada tiap-tiap selesai sholat maka dia akan:

  • Dimudahkan rezkinya
  • Dimudahkan kesulitannya.
  • Dibersihkan hatinya.
  • Diangkat darjatnya.
  • Dimudahkan pekerjaannya.
  • Dilepaskan dari dukacita
  • Dijauhkan dari mudharat.
  • Diberikan sifat rajin dan semangat.
  • Tidak mudah kecewa.
  • Dijauhkan dari syaitan.
  • Perilakunya cenderung berbuat kebajikan

MENGEMBALIKAN PANGKAT DERAJAT JABATAN

Saipa yang dipecat dari pekerjaannya atau jatuh pangkat yang disandangnya dan ia berharap mengembalikan pangkatnya yang telah hilang tersebut maka hendaklah ia membaca Fathihah sebanyak 41 kali diantara Sunat Subuh dan Fardhunya selama 40 hari. Jangan kurang dari bilangan ini dan jangan putuskan ayat-ayat yang dibaca. Insayallah pangkatnya semula akan kembali bahkan ia akan menyandang pangkat yang lebih tinggi.

OBAT MANDUL

Siapa yang mandul dan belum mendapat anak selama menikah hendaklah ia membaca surah Fathihah 41 kali selam 40 hari dengan tidak putus-putus dan tidak kurang bilangannya. Dibaca di antara Sunat Subuh dan Fardhu Subuh. Maka, ia akan sgera mendapatkan anak yang sholeh.

MENYEMBUHKAN PENYAKIT KULIT

Baca Al Fathihah sebanyak 7 kali, kemudian ludahkan diatas kapas dan tempelkan pada kulit yang luka atau kulit yang berpenyakit  maka dengan izin Allah kulitnya sembuh.

PEKERJAAN BERES

Siapa yang melakukan pekerjaan dan hendak menyelesaikan pekerjaan itu dengan baik, bacalah Fathihah di tengah malam sebanyak 41 kali. Insyaallah dimudahkan pekerjaannya dengan tidak mendapat gangguan dan semuanya beres.

PENGHILANG LAPAR DAN DAHAGA

Siapa yang kehausan karena berada dalam perjalanan yang jauh misalnya di tengah padang pasir, atau di tengah laut saat berlayar tersesat yang tidak ada sedikitpun air dan ia dahaga atau lapar, hendaklah ia membaca Fathihah sekali diatas tapak tangannya, kemudian ditiupkan diatas tapak tangannya itu dan disapukan ke muka dan perutnya. Insyaallah ia tidak akan merasa lapar atau dahaga pada hari itu.

MENGOBATI SAKIT TELINGA

Jika mengidap sakit telinga baru atau pun lama, hendaklah dituliskan Fathihah dalam satu kertas kemudian dihapuskan tulisan itu dengan minyak mawar dan titikkan ke dalam telinga, insayaallah telinganya sehat.

BELENGGU PUN TERLEPAS

Apabila suatu ketika kita mengalami peristiwa kejahatan dan dibelenggu atau dirantai, maka bacakan Al Fathihah 121 kali, kemudian hembuskan ke ikatan atau belenggu tersebut. Insya allah akan terurai ikatan atau belunggu tersebut dengan izin Allah.

PAGAR GAIB

Petunjuk yang lain, siapa membaca Fathihah sekali saat ia meletakkan kepalanya di bantal saat akan tidur kemudian dilanjutkan dengan membaca:  Qulhuallahu Ahad 3 kali,  surah al Falaq sekali, surah an Nas sekali maka ia selamat dari segala kejahatan serta menjadi dinding dari kejahatan gaib dari syaitan dan segala makhluk yang akan merasuki tubuhnya pada saat dia tidur.

MENYEMBUHKAN SAKIT PELUPA

Jika dibacakan Fatihah:

  • 70 kali sehari
  • selama 7 hari

pada suatu yang wadah yang berisi air kemudian dihembuskan ke dalam air itu dan diberi minum kepada siapa yang kurang cerdas/ bodoh pelupa dan selalu negative thinking maka Insyaallah akan dibukakan pintu hatinya dan diberikan kepadanya kepahaman serta pengetahuan dan penyakit pelupanya segera sembuh. Pikirannya pun menjadi positive thinking

HAJAT SUKSES

Syaikh Mahayudin bin Arabi berkata: “Barangsiapa yang sedang menyelenggarakan hajat hendaklah ia membaca Al Fathihah sebanyak 41 kali, selepas sholat maghrib, jangan ia bergerak dari tempat duduknya, hingga selesai membaca sebanyak bilangan tersebut. Setelah itu bermohonlah kepada Tuhan hajatnya akan sukses maka dengan ijin Allah SWT, hajatnya alan lancer dan sukses tidak kurang suatu apa.

MINYAK FATIHAH

Jika di bacakan 70 kali Al Fathihah ke dalam minyak (apa saja jenis minyak) dan disimpan untuk persediaan agar mencegah masuk angin, atau untuk menyegarkan tenaga dan menyembuhkan urat. Juga bagi penyakit punggung dan pinggang. Insyaallah segera sehat apabila di gosokkan.

SEBAGAI PENAWAR

Jika disengat binatang berbisa seperti lipan, kala jengking atau binatang bersengat hendaklah diambil segelas air dan masukkan sedikit garam (butiran kasar) dalam air itu dan bacakan Al Fatihah sekali. Kemudian minumkan, Insyaallah bisa/racunnya akan hilang.

Barrakallahu ta’alaa

Hijib Imam Nawawi


بِسْـمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ . بِسْـمِ اللهِ ، اَللهُ اَكْبَرُاَ قُوْلُ عَلَىنَفْسِيْ وَعَلَىدِ يْنِيْ وَعَلَىاَ هْـلِيْ و

عَلَىاَوْلاَدِيْ وَعَلَىمَا لِيْ وَعَلَىاَ صْحَـا بِيْ وَعَـلَى اَدْ يَا نِهِمْ وَعَلَىاَمْوَ الِهِمْ اَلْفَ لاَحَوْلَ وَلاَ قُـوَةَ اِلاَّ بِـا للهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ .

بِسْـمِ الله اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ ، اَ قُوْلُ عَلَىنَفْسِيْ وَعَلَى دِ يْنِيْ وَعَلَىاَ هْـلِيْ وَ عَلَىاَوْلاَدِيْ وَ عَلَىمَا لِيْ وَعَلَىاَ صْحَـا بِيْ وَعَـلَى اَدْ يَا نِهِمْ وَعَلَى اَمْوَ الِهِمْ . اَلْفَ اَلْفِ لاَحَوْلَ وَلاَ قُـوَّةَ اِلاَّ بِـا للهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ .

بِسْـمِ اللهِ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَ قُوْلُ عَلَىنَفْسِيْ وَعَلَى دِ يْنِيْ وَعَلَىاَهْـلِيْ وَعَلَىاَوْلاَدِيْ وَعَلَىمَا لِيْ وَعَلَىاَ صْحَـا بِيْ وَعَـلَى اَدْ يَا نِهِمْ وَعَلَى اَمْوَ الِهِمْ . اَلْفَ اَلْفِ اَلْفِ لاَحَوْلَ وَلاَ قُـوَّةَ اِلاَّ بِـا للهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ .

بِسْـمِ اللهِ وَ بِاللهِ وَمِنَ ا للهِ وَاِلىَاللهِ وَعَلىَاللهِ وفِىاللهِ ، وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُـوَّةَ اِلاَّ بِـا للهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ .

بِسْـمِ اللهِ عَلَى دِ يْنِيْ وَعَلَىنَفْسِيْ ، بِسْـمِ اللهِ عَلَى مَا لِيْ وَعَلَىا َهْـلِيْ وَعَلَىاَوْلاَدِيْ وَعَلَىاَ صْحَـا بِيْ بِسْـمِ اللهِ عَلَىكُلِّ شَيْءٍ اَعْطَا نِيْهِ رَبِّيْ بِسْـمِ اللهِ رَبِّ السَّمَوَتِ السَّبْعِ وَ رَبِّ اْلاَرَضِيْنَ السَّبْعِ وَرَبِّ اْلعَرْ شِ اْلعَظِيْمِ .

بِسْـمِ اللهِ الَّذِيْ لاَيَضُـرُّمَعَ اسْمِـهِ سَيْءُ فِىاْلاَرْضِ وَلاَفِى السَّمَآءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ ( نَلاَنا ً)

بِسْـمِ اللهِ خَيْرُاْلاَ اسْمَآءِ فِىاْلاَرْضِ وَفِىلسَّمَآءِ

بِسْـمِ اللهِ اَفْتَتِحُ ، وَ بِهِ اَخْتَتِمُ اَللهُ اللهُ اللهُ رَبِّيْ لاَاُشْرِكُ بِهِ اَحَداً ، اَللهُ اللهُ اللهُ َلآاِلَـهَ اِلاَّ هُوَ اَللهُ اللهُ اللهُ اَ عَزُّ وَاَجَلُّ وَاَكْبَرُ مِمَّا اَخَافُ وَاَحْذَرُ ( نَلاَنا ً)

اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ وَمِنْ شَـِّرغَيْرِيْ وَمِنْ شَرِّمَاخَلَقَ رَبِّيْ ، بِكَ اللَّهُمَّ اَحْـتَرِزُ مِنْهُمْ وَبِكَ اللَّهُمَّ اّدْ رَأُ فِى نُحُوْرِهِمْ ، وَبِكَ اللَّهُمَّ اَعُوْذُ مِنْ شُرُوْرِهِمْوَاسْتَكْفِيْكَ اِيَّاهُمْ وَ اُقَدِّ مُ بَيْنَ يَدَ يَّ وَاَيْدِ يْهِمْ وَاَيْدِيْ مَنْ اَحَا طَتْهُ عِنَا يَتِيْ وَ شَمِلَتْهُ اِحَا طَتِيْ . بِسْـمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ ( قُلْ هُوَاللهُ اَحَدُ.اَللهُ الصَّمَدُ) اَ لْاِ ضْلاَ صْ ( نَلاَنا ً) وَمِثْـلُ ذَ لِكَ عَنْ يَمِيْنِيْ وَاَيْمَا نِهِمْ وَمِثْلُ ذَ لِكَ عَنْ شِمَا لِيْ وَعَنْ شَمَا ئِلِهِمْ ، وَمِثْلُ ذَ لِكَ اَمَا مِيْ وَاَمَا مَهُمْ ، وَمِثْلُ ذَلِكَ مِنْ خِلْفِيْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ ، وَمِثْلُ ذَ لِكَ مِنْ فَوْقِيْ وَمِنْ فَوْ قِهِمْ ، وَمِثْلُ ذَ لِكَ مِنْ تَحْتِيْ وَمِنْ تَحْتِهِمْ وَمِثْلُ ذَ لِكَ مَحِيْطٌ بِيْ وَبِهِمْ وَبِمَا اَحَطْنَا بِِهِ.

اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اَسْا لُكَ لِيْ وَلَهُمْ مِنْ خَيْرِكَ بِخَيْرِكَ اَلَّذِ يْ لاَ يَمْلِكُهُ غَيْرُكَ . اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ وَاِيَّا هُمْ فِى حِفْظِكَ وَعِيَاذِ كَ وَعِبَادِ كَ وَعِيَالِكَ وَجِوَارِكَ وَاَمَنِكَ وَاَمَا نَتِكَ وَحِزْ بِكَ وَحِرْزِكَ وَكَنَفِكَ وَسَتْرِكَ وَلُطْفِكَ مِنْ كُلِّ شَيْطَا نٍ وَسُلْطَا نٍ وَاِنْسٍ وَجَـآ نٍّ َوبَاغٍ وَحَا سِدٍ وَسَبُعٍ وَحَيَةٍ وَعَقْرَبٍ . وَمِنْ شَرِّكُلِّ دَآبَّةٍ اَنْتَ اَخِذُبِنَا صِيَتَهِا اِنَّ رَبِّيْ عَلَىصِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

حَسْبِيَ الرَّبُّ مِنَ الْمَرْ بُوْبِيْنَ حَسْبِيَ اْخَالِقُ مِنَ اْلمَخْلُوْقِيْنَ، حَسْبِيَ الرَّازِقُ مِنَ اْلمَرْزُوْ قِيْنَ، حَسْبِيَ السَّاتِرُ مِنَ اْلمَسْتُوْرِيْنَ حَسْبِيَ النَّا صِـرُمِنَ اْلمَنْصُوْرِيْنَ حَسْبِيَ اْلقَاهِرُمِنَ اْلمَقْهُوْرِيْنَ حَسْبِيَ الَّذِيْ هُوَحَسْبِيْ، حَسْبِيْ مَنْ لَمْ يَزَلْ حَسْبِيْ حَسْبِيَ الله ُوَنِعْمَ اْلوَكِيْلُ، حَسْبِيَ الله ُمِنْ جَمِيْعِ خَلْقِهِ. ( اِنَّ وَلِِيِّيَ اللهُ الَّذِيْ نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّا لِحِيْنَ ) وَاِذَ اقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِ يْنَ لاَيُؤْ مِنُوْنَ بِاْلاَ خِرَةِ حَجِابًا مًسْتُوْرًا وَجَعَلْنَا عَلَ قُلُوْ بِهِمْ اَكِنَّةً اَنْ يَفْقَهُوْهُ وَفِى اَذَا نِهِمْ وَقْرًا، وَاِذَ اذَ كَرْتَ رَبْكَ فِى الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَى اَدْبَارِهِمْ نُفُوْرًا )( فَاِنْ تَوَلَوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللهُ لآاِلَهَ اِلاَّهُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ ) (x 7) وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُـوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ .) وَصَلَّىاللهُ عَلَى سَيِّدِ نَا مُحَّمَدْ اِ لنَّبِيِّ اْلاُ مِّيِّ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ .

Kemudian meniup ke kanan, ke kiri, ke depan dan ke belakang masing – masing 3x

خَبَأْ تُ نَفْسِيْ فِى خَزَاِ ئنِ بِسْـمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ اَقْفَا لُهَا ثِقَتِى بِـاللهِ مَفَا تِيْحُهَا لاَحَوْلَ وَلاَ قُـوَةَ اِلاَّ بِـا للهِ ، اُ دَافِعُ بِكَ اللَّهُمَّ عَنْ نَفْسِيْ مَـا اُطِيْقُ وَمَالاَ اُطِيْقُ ، لاَ طَا قَةَ لِمَخْلُوْ قٍ مَعَ قُدْرَةِ الْخَالِقِ حَسْبِيَ اللهُ وَنِعْمَ الْوَ كِيْلُ ، بِخَفِيِّ لُطْفِــ اللهِ بِلَطِيْفِ صُنْعِ اللهِ بِجَمِيْلِ سِتْرِ اللهِ دَ خَلْتُ فِى كَنَفِ اللهِ ، تَشَفَعْتُ بِسَيِّدِ نَارَسُوْ لِ اللهِ تَحَصَّنْتَ بِاَسْمَـآءِ اللهِ ، اَمَنْتُ بِاللهِ ، تَوَ كَلْتُ عَلَىاللهِ اِدَّخَرْتُ اللهَ لِكُلِّ شِدَّةٍ . اَللَّهُمَ يَامَنْ اِسْمَهُ مَحْبُوْبُ وَوَجْهُهُ مَطْلُوْ بُ ، اِكْفِنِيْ مَا قَلْبِيْ مِنْهُ مَرْ هُوْ بُ اَنْتَ غَا لِبُ غَيْرُ مَغْلُوْ بٍ ، وَصَلَّىاللهُ عَلَى سَيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِـهِ وَ صَحْبِهِ وَسَــلَّمَ ، حَسْبِيَ اللهُ وَنِعْمَ اْلوَ كِيْلُ .

Zikrul Maut


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Perumpamaan orang yang mau meninggal digambarkan oleh sahabat Nabi sbb :
“Kematian itu laksana pohon dengan cabang dan ranting penuh duri. Kemudian pohon itu dimasukkan kedalam perut manusia lewat mulutnya. Lalau seorang lelaki dengan sekuat tenaga menarik pohon berduri keluar lewat mulut. Ranting itu membawa semut yang terbawa dan meninggalkan semua yang tertinggal dan tersisa dalam perutnya.”

Begitu pedih dan sakitnya gambaran sakratul maut. Sampai-sampai Rasullullah dalam doanya meminta pada Allah SWT untuk menimpakan sebagian rasa sakit itu kepada dirinya. subhanallah. sungguh mulia akhlak Rasullullah sehingga menjelang ajal. masih memikirkan ummatnya.

Begitu hebat dan dasyatnya sakratul maut itu, sehingga mendorong kita untuk mengingat mati dan berbuat amal kebajikan untuk bekal kita nanti. Mengingat kematian sebagai tapal batas antara kehidupan dunia dan akherat. Mengingat mati dapat meningkatkan kualitas hidup. Sebagian orang merindukan kematian untuk menemui kekasih hatiNYA.

Banyak orang mendamba kematian karena mereka tahu apa yang akan didapat diakherat. Tapi sebagian besar orang malah takut dan lari menghindarinya. Mereka ciptakan peralatan yang mampu memperpanjang umur, membikin obat-obatan untuk menghambat penuaan.Bahkan ada yang pengin hidup sampai seribu tahun lamanya. Mereka begitu mendewakan dunia, mungkin umur bisa panjang tapi proses penuaan tidak bisa dikekang. buat apa berlama-lama didunia, tapi tak bermanfaat apa-apa. Kita tak bisa menghindar dari kematian, walau sembunyi dimana, kematian pasti datang menjemput. Sering-seringlah kita mengingat kemnatian, karena dapat memupuskan kecintaan kita kepada dunia. Karena dunia hanya tipu daya semata dan bersifat sementara.

Kematian begitu dekat dengan kita, kematian selalu mengintai kita dimanapun berada. Karena kematain begitu dekat dan bisa datang kapan saja, mari kita perbanyak amal perbuatan kita, lebih mendekatkan diri kepada Allah. Berkarya yang bermanfaat untuk kemasyalahatan ummat. Bagi yang tidak beriman kematian begitu menakutkan dan mengerikan, tapi bagi orang-orang yang beriman kematian bagaikan tidur panjang. Tersenyum karena surga sudah diperlihatkan didepan mata.

Kita sadar bahwa kematian merupakan kepastian, tidak ada yang dapat kita lakukan kecuali mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum kematian itu benar-benar datang menjemput. Kematian dapat menghantarkan kita kepada kehidupan yang kekal. Tentu kita akan mengumpulkan kebajikan-kebajikan yang banyak agar selamat didunia dan akherat.

Bahkan Rasullullah mengibaratkan orang yang cerdas adalah orang yang mengingat kematian. Karena mereka adalah orang-orang yang terbaik menyiapkan diri menyambut datangnya pertemuan mereka dengan Allah SWT.
Sebagaimana Rasullullah bersabda :
“Orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling siap menghadapinya, mereka itulah orang-orang yang cerdas. Mereka pergi dengan membawa kemulian dunia dan kehormatan akherat. (H.R Ibnu Majah)

“Katakanlah : Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib dan nyata, lalau diberikan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (QS. Al-Jumu’ah: 8)

Hanni's Eyes

It's good fun, this life thing.

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 274 other followers

%d bloggers like this: