Posts from the ‘sufi’ Category

Syarifah Nafisah Ra


Bismillahir rahmanir Rahiim

Allahumma sholi ala Syaidina Muhammadin wa ali syayaidina Muhammadin wa ala ahki Bait
Seorang Syekh Sufi menuturkan, ada seorang pejabat kerajaan yang hendak menyiksa seseorang dari kalangan rakyat biasa. Orang ini lalu mencari perlindungan kepada seorang wanita yang zuhud, zahidah, putrid keturunan Rasulullah SAW, Syarifah Nafisah binti Hasan bin Zaid bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Wanita yang rajin ibadahnya itu kemudian mendoa’kan tamunya. Kepada orang itu, Syarifah Nafisah berpesan :
”Allah yang maha kuasa akan menutupi mata orang zalim, sehingga ia tidak bisa melihatmu.”
Orang itu lalu pergi. Sampai ditengah keramaian orang, disana sudah ada pejabat kerajaan bersama para pengawalnya. Pejabat itu bertanya kepada para pengawalnya,
“Dimana si Fulan?”
“Dia ada dihadapanmu, Tuan”. Mereka menjawab.
“Demi Allah, aku tidak melihatnya” ujar pejabat itu.
Berulang kali ia mencoba meyakinkan diri, tapi ia memang tidak melihat si Fulan. Para pengawalnya laku menceritakan kepada pejabat itu bahwa orang itu sebelumnya telah mengunjungi Syarifah Nafisah dan minta didoa’kan olehnya. Setelah berdoa’, Syarifah Nafisah mengatakan bahwa Allah SWT akan menutupi penglihatan orang yang akan berbuat zalim kepadanya.
Mendengar cerita itu, si pejabat merasa malu dan menyadari kesalahannya. Ia menundukkan kepala seraya berkata:
“Kalau begitu kezalimanku telah mencapai tingkat sedemikian rupa, sehingga karena doa’ manusia saja Allah SWT telah menutupi mataku dari melihat orang yang terzalimi! Ya Allah, aku bertobat kepadamu.”
Ketika pejabat itu mengangkat mukanya lagi, dia melihat orang yang dicarinya berdiri dihadapannya. Dia pun lalu mendoa’kan orang itu, mencium kepalanya dan menghadiahi seperangkat pakaian bagus. Dan tentu saja, membebaskannya dengan rasa kasih.
Sang pejabat kemudian mengumpulkan kekayaannya dan menyedekahkannya kepada orang-orang miskin. Ia juga mengirimkan seratus dirham kepada Syarifah Nafisah, sebagai tanda syukur, karena telah membuat dirinya bertobat. Syarifah Nafisah menerima uang itu dan membagi-bagikannya kembali kepada orang-orang miskin.

Salah seorang wanita yang menemaninya berkata:

“Wahai ibu, kalau ibu mau memberi saya sedikit uang, saya akan membeli sesuatu untuk berbuka puasa kita.”

“Ambillah benang ini dan juallah. Kita akan berbuka puasa dengan uang hasil penjualan itu.”
Jawab Syarifah Nafisah, yang bermata pencaharian memintal dan menjual benang-benang untuk kain. Wanita sahabatnya itu kemudian pergi menjual benang. Uang hasil penjualan dibelikan roti untuk berbuka puasa Syarifah Nafisah dan sahabat-sahabatnya.
Syarifah Nafisah lahir di Mekah, menikah dengan Ishaq Mu’tamin bin Ja’far Ash Shadiq. Kemudian hijrah ke Mesir, negeri tempat beliau menghabiskan waktunya selama sekitar tujuh tahun, sebelum akhirnya meninggal dunia pada tahun 208 H / 788 M.
Diceritakan menjelang wafatnya, Syarifah Nafisah sedang berpuasa, dan orang-orang menyarankan agar beliau membatalkan puasanya. Beliau berkata:
“Alangkah anehnya saran kalian ini. Selama tiga puluh tahun ini, aku telah bercita-cita hendak menghadap tuhanku dalam keadaan berpuasa. Apakah sekarang aku harus membatalkan puasaku? Tidak, tidak mungkin!”
Beliau lalu membaca ayat Al-Qur’an surah Al-An-‘am. Ketika sampai pada ayat “Bagi mereka Darussalam ( rumah kediaman ) di sisi Tuhan mereka dan dialah pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang mereka kerjakan” ( ayat 127 ). Zahidah ini menghembuskan nafas terakhir.
Semasa kehidupannya di Mesir, terlihat orang-orang disana sangat menghormati dan mengaguminya. Diceritakan, ketika Imam Syafi’i pergi ke Mesir, beliau mendengar Syarifah Nafisah menuturkan hadits-hadits Nabi, dan selanjutnya meriwayatkan hadits dari Syarifah Nafisah itu. Ketika Imam Syafi’i wafat, Syarifah Nafisah melakukan salat jenazah di hadapan jenazah sang Imam. Kemudian beliau mendirikan tempat tinggalnya tidak jauh dari makam Imam Syafi’i, dan sampai meninggalnya beliau tetap disana.
Sebelum wafat, Syarifah Nafisah menyuruh orang menggali kubur untuknya, dan membacakan di atasnya Al-Qur’an sebanyak enam ribu kali tamat. Dan, ketika beliau meninggal dunia seluruh Mesir diliputi suasana berkabung yang sangat mendalam, ratap dan tangis serta doa’ terdengar dari setiap rumah. Jenazah Syarifah Nafisah dikuburkan di rumahnya di Darb Samah, dekat Kairo, Mesir.
Makam Syarifah Nafisah termasyhur, karena orang-orang yang menziarahinya dan bertabaruk kepadanya merasakan doa’nya terkabul. Diceritakan, pernah suaminya, Sayyid Ishaq, menginginkan agar jenazah isteri tercintanya dibawa ke Madinah untuk dikuburkan disana. Namun orang-orang Mesir memohon agar jenazah zahidah itu tidak dipindahkan. Sayyid Ishaq akhirnya mengalah. Masyarakat Mesir rupanya menginginkan agar mereka biasa senantiasa berdekatan dengan beliau, yang memiliki maqam keberkatan dan karamah tinggi.
Sang suami sendiri ternyata sempat bermimpi ditemui Rasulullah SAW, yang mengatakan kepadanya:

“Wahai Ishaq, janganlah engkau berdebat dengan orang-orang Mesir karena Nafisah; sebab melalui maqamnya rahmat Allah akan tercurah kepada mereka.:”

Shalawat Sulthon


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma sholi ala Sayyidina Muhammadin abdika wa nabiyika wa rusulika nabiyil ummi

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ رَحْمَةِ الله
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ فَضْلِ اللهِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد بِعَدَدِ خَلْقِ اللهِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَا فِى عِلْمِ اللهِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ كَرَمِ اللهِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ حُرُوْفِ كَلاَمِ اللهِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ كَلِمَاتِ اللهِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ قَطْرِ اْلاَمْطَارِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ وَرَقِ اْلاَشْجَارِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ رَمْلِ اْلقِفَارِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ اْلحُبُوبِ وَ اْلثِمَارِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَا اَظْلَمَ عَلَيْهِ اللَّيْلِ وَ اَشْرَقَ عَلَيْهِ النَّهَارِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَنْ صَلَّ عَلَيْهِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَنْ لَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ اَنْفَاسِ اْلخَلْقِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ لُجُُوْمِ السَمَوَاتَََِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد بِعَدَدِ كُلٍَّ شَىْءٍ فِى الدُّنْيَا وَاْلاَخِرَةِ
وَصَلَوَاتُ اللهِ وَ مَلاَءِكَتَهُ وَ اَنْبِيَاءِهِ وَ رُسُلِهِ وَ جَمِيْعِ خَلْقِهِ عَلَى سَيِّدِ اْلمُرْسَلِيْنَ وَ اِمَامِ اْلمُتَّقِيْنَ
وَ قَاءِدِ غُرِّ اْلمُحَجِّلِيْنَ وَ شَفِيْعِ اْلمُذْنِبِيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ اصْحَابِهِ وَ اَزْوَاجِهِ
وَ ذُرِّيَتِهِ وَ اَهْلِ بَيْتِهِ وَ اْلاَءِمَّةِ اْلمَضِيِّيْنَ وَ اْلمَشَاءِخِ اْلمُتَقَدِّمِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ وَ الصَّالِحِيْنَ
وَ اَهْلِ طَاعَتِكَ اَجْمَعِيْنَ مِنْ اَهْلِ السَّمَوَاتِ وَ اْلاَرَضِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
وَ يَا اَكْرَمَ اْلاَكْرَمِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ وَ صَلَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ

عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلِّمْ

“Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah rahmatnya Allah. Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah keutamaan dari Allah. Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah ciptaan Allah. Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah apa-apa yang ada dalam pengetahuan Allah. Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah kemuliaan dari Allah. Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah huruf Kalamullah (Kitab-Kitab Allah). Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah kalimat Allah. Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak tetesan air hujan. Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah daun-daun pepohonan. Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah butir pasir di gurun. Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah biji-bijian dan buah-buahan. Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah yang dinaungi kegelapan malam dan diterangi oleh benderang siang. Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah orang yang telah bershalawat kepadanya. Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah orang yang belum bershalawat kepadanya. Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah napas-napas makhluk ciptaan. Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah apa yang ada di seluruh langit. Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah tiap-tiap sesuatu yang ada di dalam dunia dan akhirat. Dan segenap shalawat dari Allah beserta para malaikat-Nya, dan para Nabi-Nya, dan para Rasul-Nya, dan seluruh ciptaan-Nya, semoga tercurah atas junjungan para Rasul, pemimpin orang-orang yang bertaqwa, pemuka para ahli surga, pemberi syafa’at orang-orang yang berdosa, Nabi Muhammad dan juga atas keluarganya, para sahabatnya, istri-istrinya, keturunannya, ahli baitnya, para pemimpin yang telah lampau, para guru yang terdahulu, para syuhada dan orang-orang soleh, dan yang senantiasa taat kepada Allah seluruhnya, dari penghuni bumi dan langit, dengan rahmat-Mu, wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang, dan Engkau Yang Maha Mulia dari semua yang mulia, segala pujian bagi Allah Tuhan alam semesta. Dan shalawat serta salam atas Nabi Muhammad beserta KELUARGA DAN SAHABATNYA.

Syaikh Tubagus Ahmad Bakri


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Syaikh Tubagus Ahmad Bakri, Purwakarta atau Mama Sempur atau Ajengan Plered (Tubagus Ahmad Bakri) adalah ulama besar dan disegani pada zamannya. Syeikh Tubagus Ahmad Bakri adalah seorang ulama yang sangat berpengaruh di daerah Purwakarta. Bahkan hampir bisa dipastikan bahwa karena jasa beliaulah sejumlah pesantren berdiri di daerah tersebut. Tidak hanya itu, di kalangan masyarakat Jawa Barat nama Ahmad Bakri sangat terkenal sebagai guru tarekat tertinggi dalam ajaran tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah. Mama sempur mempunyai nama lengkap KH. Tubagus Ahmad Bakry. Beliau dilahirkan di desa Citeko kec Plered. Namun tidak diketahui secara pasti kapan beliau dilahirkan. Ayahnya, bernama Tubagus Sayidah. Di samping sebagai ulama, ayahnya juga dikenal sebagai pejuang yang gigih melawan pemerintah kolonial. Layaknya keturunan kiai, pendidikan awal Ahmad Bakri diperolehnya dari ayahnya. Melalui ayahnya, ia mengenal cara membaca al-Qur’an dan ilmu dasar keislaman. Setelah merasa cukup mendidiknya, ayahnya kemudian mengirim Ahmad Bakri ke Makkah. Pada waktu itu, tradisi belajar ke Timur Tengah sangat lazim di kalangan kiai tradisional. Di Mekah ia belajar tafsir kepada Sayyid Ahmad Dahlan, salah seorang ulama besar yang mengajarkan Islam Madzhab Syafi’i. Di sana, ia juga belajar pada ulama Nusantara yang menetap di Mekah, yaitu Syekh Nawawi Banten dan Syekh Mahfudz Termas. Khususnya kepada Syekh Nawawi Banten, beliau belajar fikih. Setelah merasa cukup, beliau kembali ke desa sempur untuk mengamalkan ilmu pengetahuannya kepada masyarakat dan mulai hidup menetap di sempur. Ditanah kelahirannya itu beliau mendirikan sebuah pesantren di Darangdang, Desa Sempur, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta. Pesantren ini dinilai sebagai pesantren tertua di daerah tersebut. Demikianlah untuk selanjutnya ia mengelola pondok pesantren dan menjadi guru penyebar Tarekat Naqsabandiyah di daerah tersebut. Beliau meninggal pada malam Senin, 1 Desember 1975 M bertepatan dengan tanggal 27 Dzul-Qa’dah 1395 H. Menurut beberapa keterangan, beliau meninggal pada usia 128 tahun, dimakamkan di Desa Sempur Kecamatan Plered, sekitar 16 Km dari pusat kota. Pemikiran-pemikirannya. Untuk mengungkap pemikirannya kita dapat melacak sejumlah catatan kecil yang ditulisnya, ceramah-ceramah serta kandungan kitab yang ditulisnya. Dalam Cempaka Dilaga, KH Ahmad Bakri menjelaskan beberapa prinsip hidup yang harus dilakoni oleh umat Islam, yaitu keharusan berbuat baik terhadap tetangga agar kita dapat hidup di dunia dengan aman, terutama aman dalam ibadah dan mengabdi kepada Allah. Di bagian lain kitab ini, ia berpendapat bahwa seorang muslim hendaknya patuh dan menaati pemerintah, selama pemerintah tidak memerintahkan rakyatnya untuk menyalahi perintah Allah atau melarang untuk berbakti kepada Allah SWT. Ajengan Tubagus Ahmad Bakri termasuk ulama yang tidak sepakat dengan ajaran Wahabi yang berkembang di Mekah. Bahkan ia menilai bahwa Muhammad Abdul Wahab, pendiri Wahabi, adalah musuh Rasulullah Saw. Ketidaksepakatan terhadap ajaran tersebut dituangkannya dalam sebuah bukunya yang berjudul Idhah al-Kardtiniyah fi Ma Yata’allaqu bi Dhalat al-Wahabiyah. Selain itu, Ahmad Bakri juga menyinggung persoalan pendidikan. Sebagaimana di ketahui, ia hidup pada masa peperangan dan pada saat itu banyak orang yang ikut berperang melawan penjajah. Disinilah ia menangkap realitas di mana pendidikan begitu terabaikan. Menyikapi kenyataan ini, ia menyatakan perlunya sebagian orang untuk tetap memperhatikan pendidikan dan tidak ikut berperang. Untuk mengukuhkan pendapatnya, ia mengutip ayat al-Qur’an, khususnya surat At-Taubah ayat 22. “Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. Meskipun Ahmad Bakri tidak terlibat langsung dalam kancah politik, namun pandangan-pandangan dan pilihan politiknya diikuti oleh masyarakat setempat. Ia bukanlah tipe propagandis yang kerap memaksakan pendapatnya kepada orang lain. Alih-alih memaksakan keinginannya, malah ia memberikan kebebasan kepada para santrinya untuk menentukan sikap politiknya

Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi (Shohibul Maulid )


Bismillahir Rahmanir Rahiim
Allahumma soli ala Sayyidina Muhammad wa ala ali Sayyidina Muhammad Wa ala ahli Bait

Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi dilahirkan pada hari Juma’at 24 Syawal 1259 H di Qasam, sebuah kota di negeri Hadhramaut.

Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya; ayahandanya, Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya; As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang solihah yang amat bijaksana.

Pendidikan Ibunda Habib Ali agar mencintai Rasulullah SAW

Di waktu umur Habibana ‘Ali bin Muhammad al-Habsyi 7 tahun, ibunda beliau memanggil beliau dan berkata,

“Yaa ‘Ali, engkau mau dapat ridlo ku tidak di dunia dan akhirat..?” “Iya, ya ummii..” Jawab beliau.

“Kalau engkau mau dapat ridlo dariku, ada syaratnya..!!” Kata ibunda Habib ‘Ali. “Apa syaratnya, ummi..??”

“Hmm.. Engkau harus bertemu dengan datukmu, Rosul Allah SAW.” Jawab ummi beliau.

Habib ‘Ali al-Habsyi yang masih kecil bingung. Dia tidak mengetahui bagaimana cara untuk bertemu dengan datuknya. Mulailah beliau mencari tahu dan belajar dengan guru-gurunya. Pergilah beliau ke salah satu tempat majelis Ulama, kemudian dia berkisah tentang permasalahannya untuk mendapat ridlo ibunya dengan cara seperti tadi. Lalu gurunya berkata,

“Yaa ‘Ali, kalau engkau ingin bertemu dengan Rosul Allah SAW maka engkau harus mencintai Beliau SAW dahulu dan tak akan ada rasa cinta jika engkau tak kenal dengan yang di cinta.”

Belajarlah beliau tentang sejarah Baginda Nabi SAW. Tidak hanya itu, setiap orang alim yang ada selalu di tanya tentang masalah ini. Walhasil, banyaklah guru beliau. Ada yang berkisah kalau guru beliau mencapai ribuan orang.

Nah.. seiring waktu berjalan, bertambahlah umur beliau sampai mencapai usia kurang lebih 20 tahun, beliau akhirnya bermimpi bertemu datuknya SAW. Begitu terbangun dari tidurnya, beliau langsung memberitahu ibunya.

“Yaa ummii… ‘Ali sudah bertemu Baginda Rosul Allah SAW.” Kata al-Habib ‘Ali sambil menangis haru. Tetapi, apa jawab ibunda beliau..!!!??

“Yaa ‘Ali, dimana engkau bertemu Beliau?”

“Di dalam mimpiku, Ummii.” Kata al-Habib ‘Ali.

“Yaa ‘Ali, pergi engkau dari hadapanku. Engkau bukan anakku…!!!!”

Menangislah beliau… Keinginan hati untuk menyenangkan sang ibu pupus sudah.

Dalam kegelisahannya, beliau kembali bertanya kepada guru-gurunya, namun tak satupun dapat menjawabnya. Mengapa ibu beliau justru marah setelah mendapat laporan beliau tentang mimpinya.

Pada suatu malam beliau kembali bermunajah untuk dapat bertemu datuknya SAW. Larut dalam tangisan tengah malam, al-hasil tidurlah beliau. Dan al-Hamdulillah beliau kembali beremu dengan datuknya SAW.

“Yaa Jiddy (Kakek ku), Yaa Rosul Allah SAW.. Anakmu ini ingin menanyakan tentang perihal ummii.” Kata al-Habib ‘Ali kepada Rosul Allah SAW.

“Duhai ‘Ali anakku, sampaikan salamku kepada ibumu..” Jawab Rosul Allah SAW di dalam mimpinya al-Habib ‘Ali.

Begitu bangun, beliau langsung mengetuk pintu kamar umminya sambil menangis tersedu-sedu.

“Duhai Ummii, anakmu telah bertemu lagi dengan Baginda Rosul Allah SAW dan Beliau kirim salam kepada Ummii.” Kata al-Habib ‘Ali.

Tiba-tiba dari kamar, ibunda beliau keluar dan berkata,

“Yaa ‘Ali, kapan dan dimana engkau bertemu datukmu SAW..??” Tanya ibunda al-Habib ‘Ali

“Aku bertemu beliau di dalam mimpiku.” Jawab al-Habib ‘Ali dengan tangisan yang tak putus-putus.

“Pergi dari hadapanku ya ‘Ali…!!! Engkau bukan anakku..!!” Jawabnya. Jawaban sang ibu benar-benar meruntuhkan hati al-Habib ‘Ali. Kemudian pintu kamar ibunda al-Habib ‘Ali al-Habsyi tertutup lagi, meninggalkan beliau seorang diri.

Esok harinya beliau mengadu kembali kepada guru-gurunya namun tak satupun dari mereka yang dapat menenangkan hati beliau. Semakin hari kegelisahannya semakin menjadi-jadi, setiap detik setiap saat beliau terus-terusan mengadu dan bermunajah serta bertawajjuh kepada Allah dan Rosul Allah SAW. Tibalah suatu malam, beliau hanyut jauh ke dalam lautan munajah dan mahabbah yang amat sangat dahsyat kepada Nabi SAW. Kemudian beliau sujud yang sangat lama, tiba-tiba dalam keadaan sujud beliau mendengar suara yang lemah lembut,

“Yaa ‘Ali, angkat kepalamu..!!! Datukmu ada di mata zhohirmu.” Begitu al-Habib ‘Ali al-Habsyi mengangkat kepalanya seraya membuka kedua pelupuk matanya perlahan-lahan, bergetarlah seluruh tubuh Habibana ‘Ali. Beliau menangis dan berkata,

“Marhaba bikum Yaaa Jiddii, Yaa Rosul Allah..”

Ternyata sosok tersebut adalah Rosul Allah SAW berada di hadapan al-Habib ‘Ali. Kemudian Rosul Allah SAW berkata, “Duhai anakku, sampaikan salamku kepada ummi mu dan katakan kepadanya kalau aku menunggunya di sini..!!”

Seolah-olah gempa. Bergetar sekujur tubuh al-Habib ‘Ali al-Habsyi, beliau merangkak ke kamar ibundanya.

“Yaa ‘Ummi, aku telah bertemu kembali dengan Rosul Allah SAW dengan mata zhohirku dan Beliau menunggu Ummi di kamar ‘Ali..”

Ibunda beliau membuka pintu kamarnya seraya berkata, “Ini baru anakku engkau telah mendapat ridlo dari ku.”

Masya Allah.. Inilah didikan dari seorang ibu kepada anaknya untuk mencintai Rosul Allah SAW.

Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Quran dan berhasil menguasai ilmu-ilmu zahir dan batin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu. Oleh karenanya, sejak itu, beliau diizinkan oleh para guru dan pendidiknya untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai, sehingga dengan cepat sekali, dia menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadanya diserahkan tampuk kepimpinan tiap majlis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.

Selanjutnya, beliau melaksanakan tugas-tugas suci yang dipercayakan padanya dengan sebaik-baiknya. Menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu, di samping membangkitkan semangat mereka dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.

Untuk menampung mereka, dibangunnya Masjid “Riyadh” di kota Seiwun (Hadhramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi keperluan mereka, termasuk soal makan-minum, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tenteram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari.

Bimbingan dan asuhan beliau seperti ini telah memberinya hasil kepuasan yang tak terhingga dengan menyaksikan banyak sekali di antara murid-muridnya yang berhasil mencapai apa yang dicitakannya, kemudian meneruskan serta menyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh, bukan sahaja di daerah Hadhramaut, tetapi tersebar luas di beberapa negeri lainnya – di Afrika dan Asia, termasuk di Indonesia.

Di tempat-tempat itu, mereka mendirikan pusat-pusat dakwah dan penyiaran agama, mereka sendiri menjadi perintis dan pejuang yang gigih, sehingga mendapat tempat terhormat dan disegani di kalangan masyarakat setempat. Pertemuan-pertemuan keagamaan diadakan pada berbagai kesempatan. Lembaga-lembaga pendidikan dan majlis-majlis ilmu didirikan di banyak tempat, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan dalam ruang lingkup yang luas sekali.

Beliau meninggal dunia di kota Seiwun, Hadhramaut, pada hari Ahad 20 Rabi’ul Akhir 1333 H dan meninggalkan beberapa orang putera yang telah memperoleh pendidikan sebaik-baiknya dari beliau sendiri, yang meneruskan cita-cita beliau dalam berdakwah dan menyiarkan agama.

Di antara putera-putera beliau yang dikenal di Indonesia ialah puteranya yang bongsu; Al-Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, pendiri Masjid “Riyadh” di kota Solo (Surakarta). Dia dikenal sebagai peribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah-lembut, sopan-santun, serta ramah-tamah terhadap siapa pun terutama kaum yang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan sebagainya. Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tamu dari berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian dan pertemuan-pertemuan keagamaan. Beliau meninggal dunia di kota Palembang pada tanggal 20 Rabi’ul Awal 1373 H dan dimakamkan di kota Surakarta.

Banyak sekali ucapan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang telah dicatat dan dibukukan, di samping tulisan-tulisannya yang berupa pesan-pesan ataupun surat-menyurat dengan para ulama di masa hidupnya, juga dengan keluarga dan sanak kerabat, kawan-kawan serta murid-murid beliau, yang semuanya itu merupakan perbendaharaan ilmu dan hikmah yang tiada habisnya.

Dan di antara karangan beliau yang sangat terkenal dan dibaca pada berbagai kesempatan di mana-mana, termasuk di kota-kota di Indonesia, ialah risalah kecil ini yang berisi kisah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan diberinya judul “Simtud Duror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar (Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama; Akhlak, Sifat dan Riwayat Hidupnya)

.

Dipetik dari: Untaian Mutiara – Terjemahan Simtud Duror oleh Yang Mulia al Habib Anis bin Alwi bin Ali Al-Habsyi (fay)

Syeikh Imam Mahmoud Al Kurdy Al Khalwaty


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma soli ala sayyidina Muhammad wa ala Ali Sayyidina Muhammad

Ini kumpulan 50 hikmah Syeikh Imam Mahmoud Al Kurdy Al Khalwaty (wafat th. 1195 H.).

  1. Tempuhlah jalan kebaikan agar engkau selamat dari kesedihan dan marabahaya. dan tahapan suluk ada 3: Islam, Iman dan Ihsan.
  2. Zuhudlah!! maka engkau akan terpuji.
  3. Bermujahadahlah melawan nafsu, maka hatimu akan cerdas menangkap semua rahasia Allah.
  4. Tawakallah!!!! maka engkau akan diterima (di sisi khaliq dan makhluq).
  5. Banyaklah berdzikir kepada Allah!!! engkau akan menyaksikan cahaya ketuhanan
  6. Senantiasalah engkau lapar (tidak banyak makan) dan hindarilah banyak tidur
  7. Diam merupakan sifat orang-orang Ashfiyaa (orang-orang yang berhati bersih) sedangkan jidal (banyak bicara yang tidak ada manfaatnya) merupakan pekerjaan dan prilaku orang-orang bodoh.
  8. Uzlah (membatasi pergaulan hanya kpd orang soleh & lingkungan soleh) bagi para pemula merupakan keselamatan agamanya, Sedangkan bergaul (dengan semua lingkungan) bagi para syekh justru menambah keyakinannya.
  9. Beradab kepada semua orang (khususnya para ulama) sebenrnya beradab kepada Allah
  10. Tamak kepada makhluk berarti ragu kepada Khaliq (Allah)
  11. Hati-hati dari syirik tersembunyi, meskipun engau dalam sendiri (khalwah), karena jika niatmu tidak murni maka itu merupakan musibah dan malapetaka besar.
  12. Qana’ahlah kepada yang sedikit jika engkau berakal, apa-apa yang telah menjadi bagianmu itulah untukmu, dan yang tidak menjadi bagianmu bukanlah untukmu.
  13. Hindarilah mengaku-aku walaupun engkau benar, merupakan suatu etika (adab) menjauhi sifat mengakui suatu maqam (kedudukan akhlak) sebelum dan sesudah mencapainya.
  14. Engkau harus tampakkan kelemahan (dihadapan Allah) jika engkau benar, kerna rahasia apapun tidak ada yang trsembunyi sedang cahaya hak tidak akan padam.
  15. Jujurlah dalam masa pencarian dan jangan kamu terpengaruh oleh perkataan orang, kerna tida ada seorangpun yang selamat dari cacian orang sehingga tuan dari segala tuan yaitu Nabi Muhammad Saw
  16. Bersiap-siaplah dirimu untuk dihisab (oleh Allah) hingga dalam nafas-nafsmu, terlebih lagi makanan, pakaian, pernikah dan harta.
  17. Janganlah engkau samakan dirimu dengan tokoh-tokoh yang sempurna akhlaknya (syuyukh) dan para waliyullah.
  18. Jauhkanlah cinta populeritas dan kemasyhuran, brapa banyak orang-orang terkemuka diuji dengan dua hal itu.
  19. Janganlah engkau terhijab dengan khumul (menyembunyikan kemuliyaan diri) untuk mencapai Allah (wusul), serahkan dirimu kepada Pencipta furu’ dan ushul (cabangd an dasar agama), dan janganlah engkau dipalingkan oleh maqamaat (akhlak mulia) untuk wusul.
  20. Kepasrahan (terhdp segala yg berlaku atasmu kepada Allah) adalah merupakan tingkatan (akhlak-spiritual) yang paling tinggi.
  21. Ketahuilah !!!! masih banyak lagi tokoh-tokoh pilihan yang sempurna akhlak-spritualnya.
  22. Ketika engkau telah sampai (mencapai maqam ruhiyah yang luhur) maka janganlah bermalasan, janganlah lalai dari tipu daya makar nafsumu, dan jangan lupa apa yg telah berlaku dahulu kepada bapakmu Adam AS.
  23. Janganlah engkau terpedaya (gurur) dengan amal-amal taat, kerna amal itu yang penting diterima (yaitu dengan adanya ikhlas), dan janganlah engkau meninggalkan mujahadah (melawan nafsu) walaupun engkau telah menjadi ahlul wusul (orang yang telah beriman dan ma’rifah tinggi).
  24. Ibadah siserta istiqamah itu lebih utama daripada seribu kasyaf dan keramat
  25. Rasa aman dari marah Allah merupakan sebuah kerugian, dan putus asa kepada rahmat Allah merupakan kekufuran.
  26. Orang yang bahagia adalah orang yang beramal disertai takut tidak diterima, sedangkan orang yang menderita adalah orang yang melakukan maksiat dan berkata: Aku pasti diterima…..
  27. Ktika engaku melihat pelaku keburukan menjadi terhormat ketahuilah hal itu adalah sebuah tipu daya (Allah) dan istidraj (tipuan Allah untuk menjatuhkan secara berangsur), sebaliknya, dan ketika engkau melihat ia ditinggalkan (dihinakan) karena keburukannya maka ketahuilah bahwa dia tengah dicintai dan mahkotai (cahaya kebenaran).
  28. Pelanggaran kepada zahir syariat adalah zindiq, sedang bersepakat dengan orang-orang sesat adalah mencelakakan.
  29. Menyombongkan kepada orang yang sombong adalah suatu sedekah
  30. Bergaul dengan orang-orang kaya akan mewariskan ketamakan, Bergaul kepada orang-orang faqir mewariskan sifat qana’ah, dan ziyarah kubur mewariskan hati yang tunduk (khusyu’)
  31. Bergaul kepada Ulama akan menambahkan ilmu pengetahuan, Bergaul dengan orang-orang bodoh akan mengurangi amal baik. Juga janganlah engkau bergaul dengan ahdas (orang-orang yang rendah iman, moral dan ma’rifatnya meskipun tua usianya) dan jangan berkecenderungan bergaul wanita (lawan jenis) bagi penuntut wusul kecuali jika setelah sempurna (akhlaknya).
  32. Engkau harus mampu menanggung segala musibah derita, bersabar atas kepapaan, dan membuang segala kerendahan dari sifatmu seperti hasud, dengki serta dendam.
  33. Pemaaf itu terpuji, pemarah itu tidak disukai dan tergesa-gesa itu sifat orang-orang sengsara jiwa.
  34. Hati-hatilah engkau bersifat uzub dan takabbur, jauhilah sifat dusta dan congkak.
  35. Janganlah engkau bergaul dengan orang yang berbeda dengan jalanmu walaupun ia seorang yang mulia, namun bergaulah dengan orang yang sesuai tujuannya dengan tujuanmu, pilihlah baik-baik teman ukhuwah untuk dirimu dan tinggalkanlah para pengkhianat ukhuwah dengan cara yang baik.
  36. Kurangilah banyak bepergian walaupun dengan menggerakkan pikiran dan khayal kerana hal itu akan menghambat seorang salik (pemula) dari wusul (ma’rifatullah), Namun apabila engkau telah wusul (ahli nihayah) maka (sebaliknya) jangan tinggalkan bepergian.
  37. Janganlah alam/malhluk itu menghijabmu (menghalangi hatimu) dari (mengenal) Penciptanya (Allah).
  38. Bersihkan Tuhanmu (Allah) dari segala (sifat-sifat) yang baharu dan tempat.
  39. Dzikir (lisan) yang disertai hudur (hadirnya hati bersama Allah) dan berfikir (kepada sifat-sifat Allah) akan mengesankan musyahadah kepada zat Allah.
  40. Setia atau memenuhi janji adalah amanah
  41. Dermawan adalah merupakan kondisi jiwa orang-orang yang maqbul (disukai Allah), sedang pelit/kedekut merupakan perbuatan orang-orang yang dibenci Allah.
  42. Syeikh Mahmoud Al Kurdy ra berkata: Janganlah engkau terpedaya dengan pujian orang kepadamu, karena engkaulah yang lebih tahu kepada dirimu sendiri.
  43. Ridha (menyerah) kepada nafsu adalah ciri kebodohan
  44. Ilmu itu lebih utama daripada amal.
  45. Keutamaan itu untuk orang Alim (berilmu) meskipun sedikit amalnya daripada seorang Abid (ahli ibadah) meskipun banyak amalnya dan panjang umurnya
  46. Ilmu itu ada dua macam: Ilmu (yang diperoleh dari) tulisan dan ilmu (yang diperoleh dari) dzauq (kesehatan&kebersihan ruh).
  47. Upaya membersihkan diri dari kotoran moral itu dengan menyerahkan diri (tarbiyah) kepada para syekh (murobbi), dan kegembiraan yang diperoleh ruh karena dapat membersihkan jasad (mampu beramal dampak dari kebersihan ruh).
  48. Perjalan (tarbiyah ruhiyah) tanpa petunjuk (murobbi) akan lama dan panjang.
  49. Syekh adalah orang meningkatkanmu (dekat kepadaNYA) dengan sirnya, membimbing (menuju jalan hak), menyiapkan (untuk menerima rahasiaNYA) dan mebersihkan (dari mencintai selainNYA) hatimu, serta menjernihkannya dari selainNYA.
  50. Seorang murid adalah orang yang menyembelih nafsunya (dengan pedang mujahadah).

15 Kebaikan Wanita


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kebanyakan penduduk neraka adalah wanita :


“Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya)

Padahal pintu-pintu kebaikan dan pintu-pintu surga sangat terbuka buat wanita, dan Allah telah memudahkan wanita untuk masuk ke dalam surga, dan wanita telah mendapatkan KELEBIHAN dan KEISTIMEWAAN:

  1. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 70 orang pria yang sholeh.
  2. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah S.A.W.) di dalam syurga.
  3. Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya adalah syurga.
  4. Daripada Aisyah r.a. “Barang siapa yang diuji dengan se Suatu daripada anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.”
  5. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.
  6. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
  7. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya dan direkannya (serta menjaga sembahyang dan puasanya).
  8. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dia kehendaki.
  9. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah S.W.T. memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (dengan jarak 10,000 tahun perjalanan).
  10. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah S.W.T. menatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.
  11. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah S.W.T. mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah S.W.T.
  12. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia daripada dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.
  13. Apabila telah lahir (anak) lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.
  14. Apabila semalaman (ibu) tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah S.W.T. memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah S.W.T.
  15. Seorang wanita solehah adalah lebih baik daripada 70 orang wali.

Wasiat Imam Al’Ghazali R.a


Bismillahir Rahmanir rahiim
“Kehidupan seorang muslim tidak dapat dicapai dengan sempurna, kecuali mengikuti jalan Allah SWT yang dilalui secara bertahap. Tahapan-tahapan itu antara lain : tobat, sabar, faqir, zuhud, tawakal, cinta, makrifat dan ridha. Karena itu seseorang yang mempelajari tasawuf wajib mendidik jiwa dan akhlaknya. Sementara itu, hati adalah cermin yang sanggup menangkap makrifat. Dan kesanggupan itu terletak pada hati yang suci dan jernih.”

“Berbicara tentang nasihat, kulihat diriku tak pantas untuk memberikannya. Sebab, nasihat seperti zakat, nishabnya adalah kemampuan untuk memetik nasihat itu bagi dirinya sendiri. Seseorang yang belum mencapai nishab, bagaimana ia akan mengeluarkan zakat ? Dan seorang yang tak memiliki cahaya, bagaimana dapat dijadikan sebagai alat penerang oleh orang lain? Bagaimana bayangan akan lurus jika kayunya bengkok ? Allah swt mewahyukan kepada ‘Isa bin Maryam AS :

“Nasihatilah dirimu, jika kau mampu memetik nasihat, maka nasihatilah orang lain. Jika tidak, maka malulah kepada-Ku”.

“Barangsiapa hendak mengetahui aib-aibnya, maka ia dapat menempuh empat jalan berikut :

1. Duduk dihadapan seorang guru yang mampu mengetahui keburukan hati dan berbagai bahaya yang tersembunyi didalamnya. Kemudian ia memasrahkan dirinya kepada sang guru dan mengikuti petunjuknya dalam bermujahadah membersihkan aib itu. Ini adalah keadaan seorang murid dengan syeikhnya dan seorang pelajar dengan gurunya. Sang guru akan menunjukkan aib-aibnya dan cara pengobatannya, tapi di zaman ini guru semacam ini langka.
2. Mencari seorang teman yang jujur, memiliki bashiroh ( mata hati yang tajam ) dan berpegangan pada agama. Ia kemudian menjadikan temannya itu sebagai pengawas yang mengamati keadaan, perbuatan, serta semua aib batin dan zhohirnya, sehingga ia dapat memperingatkannya. Demikian inilah yang dahulu dilakukan oleh orang-orang cerdik, orang-orang terkemuka dan para pemimpin agama.
3. Berusaha mengetahui aib dari ucapan musuh-musuhnya. Sebab pandangan yang penuh kebencian akan berusaha menyingkapkan keburukan seseorang. Bisa jadi manfaat yang diperoleh seseorang dari musuh yang sangat membencinya dan suka mencari-cari kesalahannya adalah lebih banyak dari teman yang suka bermanis muka, memuji dan menyembunyikan aib-aibnya. Namun, sudah menjadi watak manusia untuk mendustakan ucapan musuh-musuhnya dan mengangnya sebagai ungkapan kedengkian. Tetapi, orang yang memiliki mata hati jernih mampu memetik pelajaran dari berbagai keburukan dirinya yang disebutkan oleh musuhnya.
4. Bergaul dengan masyarakat. Setiap kali melihat perilaku tercela seseorang, maka ia segera menuduh dirinya sendiri juga memiliki sifat tercela itu. Kemudian ia tuntut dirinya untuk segera meninggalkannya. Sebab, seorang Mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Ketika melihat aib orang lain ia akan melihat aib-aibnya sendiri.

“Renungkanlah pendeknya umurmu. Andaikata engkau berumur seratus tahun sekalipun, maka umurmu itu pendek jika dibandingkan dengan masa hidupmu kelak di akhirat yang abadi, selama-lamanya.
Coba renungkan, agar dapat beristirahat ( pensiun )selama dua puluh tahun, dalam satu bulan atau setahun engkau sanggup menanggung berbagai beban berat dan kehinaan di dalam mencari dunia. Tetapi mengapa engkau tidak sanggup menanggung beban ibadah selama beberapa hari demi mengharapkan kebahagiaan abadi di Akhirat nanti?
Jangan panjang angan-angan, engkau nanti akan berat untuk beramal. Yakinilah bahwa tak lama lagi engkau akan mati. Katakana dalan hatimu :
Pagi ini aku akan beribadah meskipun berat, siapa tahu nanti malam aku mati. Malam ini aku akan sabar untuk beribadah, siapa tahu besok aku mati.
Sebab, kematian tidak datang pada waktu, keadaan dan tahun tertentu. Yang jelas ia pasti datang. Oleh karena itu, mempersiapkan diri menyambut kedangan maut lebih utama daripada menpersiapkan diri menyambut dunia. Bukankah kau menyadari betapa pendek waktu hidupmu di dunia ini? Bukankah bisa jadi ajalmu hanya tersisa satu tarikan dan hembusan napas atau satu hari?
Setiap hari lakukanlah hal ini dan paksakan dirimu untuk sabar beribadah kepada Allah swt. Andaikata engkau ditakdirkan untuk hidup selama lima puluh tahun dank au biasakan dirimu untuk sabar beribadah, nafsumu tetap akan berontak, tetapi ketika maut menjemput kau akan berbahagia selama-lamanya. Tetapi, ketika engkau tunda-tunda dirimu untuk beramal, dan kematian dating di waktu yang tidak kau perkirakan

 

Dialog Spiritual Haji Seorang Sufi Besar dan Ahli Bait Rasulullah Saw


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma sholi alaa Sayyidina Muhammad  Wa’alaa ali Sayyidina Muhammad Wa’alaa Ahli Bait

Dialog ini terjadi antara Imam Ali Zainal Abidin (sa) dengan Asy-Syibli. Asy-Syibli adalah seorang ulama sufi
besar dan terkenal hingga sekarang, khususnya di kalangan para sufi. Imam Ali Zainal Abidin (sa) adalah putera Al-Husein cucu Rasulullah saw. Dialog ini  terjemahan dari kitab Al-Mustadrak. Berikut ini dialognya:

Saat pulang ke Madinah usai menunaikan ibadah haji, Asy-Syibli datang kepada gurunya Ali Zainal Abidin (ra) untuk menyampaikan pengalamannya selama menunaikan ibadah haji. Dalam pertemuan itu terjadilah dialog antara seorang guru dengan muridnya.

Ali Zainal Abidin (sa): Wahai Syibli, Anda sudah menunaikan ibadah haji?
Asy-Syibli: Ya, sudah yabna Rasulillah (wahai putra Rasulillah)
Ali Zainal Abidin (sa): Apakah Anda sudah berhenti miqat, kemudian menanggalkan semua pakaian terjahit yang dilarang bagi orang yang menunaikan ibadah haji, kemudian Anda mandi sunnah untuk memakai baju ihram?
Asy-Syibli: Ya, semua sudah saya lakukan.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah ketika berhenti di miqat Anda menguatkan niat, dan menanggalkan semua pakaian maksiat kemudian menggantinya dengan pakaian ketaatan?
Asy-Syibli: Tidak.
Ali Zainal Abidin (sa): Pada saat Anda menanggalkan pakaian yang terlarang itu apakah Anda sudah menghilangkan perasaan riya’, munafik, dan semua subhat (yang diragukan hukumnya).
Asy-Syibli: Tidak.
Ali Zainal Abidin (sa): Ketika Anda mandi sunnah dan membersihkan diri sebelum memakai pakaian ihram, apakah Anda juga berniat membersihkan diri dari segala macam noda-noda dosa?
Asy-Syibli: Tidak.
Ali Zainal Abidin (sa): Jika demikian, Anda belum berhenti miqat, belum menanggalkan pakaian yang yang terjahit, dan belum mandi membersihkan diri.
Ali Zainal Abidin (sa): Ketika Anda mandi, berihram dan mengucapkan niat untuk memasuki ibadah haji, apakah Anda sudah menguatkan niat dan tekad hendak membersihkan diri dan mensusikannya dengan pancaran cahaya taubat dengan niat yang tulus karena Allah swt?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah pada saat memakai baju ihram Anda berniat untuk menjauhkan diri dari segala yang diharamkan oleh Allah Azza wa Jalla.
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Apakah ketika berada dalam ibadah haji yang terikat dengan ketentuan-ketentuan haji, Anda telah melepaskan diri dari segala ikatan duniawi dan hanya mengikatkan diri dengan Allah swt?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Kalau begitu, Anda belum membersihkan diri, belum berihram, dan belum mengikat diri Anda dalam menunaikan ibadah haji.
Ali Zainal Abidin (sa): Bukankah Anda telah memasuki miqat, shalat ihram dua rakaat, kemudian mengucapkan talbiyah?
Asy-Syibli: Ya, semua itu sudah saya lakukan.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika memasuki miqat apakah Anda berniat akan melakukan ziarah untuk mencari ridha Allah swt?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Pada saat melaksanakan shalat ihram dua rakaat, apakah Anda berniat untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dengan tekad akan memperbanyak shalat sunnah yang sangat tinggi nilainya?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Jika demikian, Anda belum memasuki miqat, belum mengucapkan talbiyah, dan belum menunaikan shalat ihram dua rakaat.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah Anda telah memasuki Masjidil Haram, memandang Ka’bah dan melakukan shalat disana?
Asy-Syibli: Ya, semua sudah saya lakukan.

Ali Zainal Abidin (sa): Pada saat memasuki Masjidil Haram, apakah Anda bertekad untuk mengharamkan diri Anda dari mengunjing orang-orang islam?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika sampai di kota Mekkah, apakah Anda menguatkan keyakinan bahwa hanya Allah-lah tujuan hidup?
Asy-Syibli: Tidak

Ali Zainal Abidin (sa): Jika demikian, Anda belum memasuki Masjidil Haram, belum memandang Ka’bah, dan belum melakukan shalat di dekat Ka’bah.
Asy-Syibli:

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah Anda sudah melakukan thawaf, dan sudah menyentuh sudut-sudut Ka’bah?
Asy-Syibli: Ya, saya sudah melakukan thawaf.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika thawaf, apakah Anda berniat untuk lari menuju ridha Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu?
Asy-Syibli: Tidak.
Ali Zainal Abidin (sa): Jika demikian, Anda belum melakukan thawaf, dan belum menyentuh sudut-sudut Ka’bah.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah Anda sudah berjabatan tangan dengan hajar Aswad, dan melakukan shalat sunnah di dekat Maqam Ibrahim?
Asy-Syibli: Ya, saya sudah melakukannya.

Ali Zainal Abidin (sa): Mendengar jawaban Asy-Syibli, Ali Zainal Abidin (ra) menangis dan memandangnya seraya berkata:
“Ya sungguh benar, barangsiapa yang berjabatan tangan dengan Hajar Aswad, ia telah berjabatan tangan dengan Allah. Karena itu, ingatlah baik-baik wahai manusia, janganlah sekali-kali kalian berbuat sesuatu yang menghinakan martabatmu, jangan menjatuhkan kehormatanmu dengan perbuatan durhaka dan maksiat kepada Allah Azza wa Jalla, jangan melakukan apa saja yang diharamkan oleh Allah swt sebagaimana yang dilakukan orang-orang yang bergelimang dosa.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika berdiri di Maqam Ibrahim, apakah Anda menguatkan tekad untuk berdiri di jalan kebenaran dan ketaatan kepada Allah swt, dan bertekad untuk meninggalkan semua maksiat?
Asy-Syibli: Tidak, saat itu tekad tersebut belum kusebutkan dalam niatku.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika melakukan shalat dua rakaat di dekat Maqam Ibrahim, apakah Anda berniat untuk mengikuti jejak Nabi Ibrahim (sa), dalam shalat ibadahnya, dan kegigihannya dalam menentang bisikansetan.
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Kalau begitu, Anda belum berjabatan tangan dengan Hajar Aswad, belum berdiri di Maqam Ibrahim, dan belum melakukan shalat di dekat Maqam Ibrahim.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah Anda sudah memperhatikan sumur air Zamzam dan minum airnya?
Asy-Syibli: Ya, saya sudah melakukannya.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika memperhatikan sumur itu, apakah Anda mencurahkan semua perhatian untuk mematuhi semua perintah Allah. Dan apakah saat itu Anda berniat untuk memejamkan mata dari segala kemaksiatan.
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Jika demikian, Anda belum memperhatikan sumur air Zamzam dan belum minum air Zamzam.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah Anda melakukan sa’i antara Shafa dan Marwa?
Asy-Syibli: Ya, saya sudah melakukannya.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah saat itu Anda mencurahkan semua harapan untuk memperoleh rahmat Allah, dan bergetar tubuhmu karena takut akan siksaan-Nya?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Kalau begitu, Anda belum melakukan sa’i antara Shafa dan Marwa.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah Anda sudah pergi ke Mina?
Asy-Syibli: Ya, tentu sudah.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah saat itu Anda telah sunggu-sungguh bertekad agar semua manusia aman dari gangguan lidah, hati dan tangan Anda sendiri?
Asy-Syibli: Tidak.
Ali Zainal Abidin (sa): Kalau begitu, Anda belum pergi ke Mina.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah Anda sudah wuquf di padang Arafah? Sudahkah Anda mendaki Jabal Rahmah? Apakah Anda sudah mengunjungi lembah Namirah dan berdoa di di bukit-bukit Shakharat?
Asy-Syibli: Ya, semuanya sudah saya lakukan.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika berada di Padang Arafah, apakah Anda benar-benar menghayati makrifat akan keagungan Allah? Dan apakah Anda menyadari hakekat ilmu yang dapat mengantarkan diri Anda kepada-Nya? Apakah saat itu Anda menyadari dengan sesungguhnya bahwa Allah Maha Mengetahui segala perbuatan, perasaan dan suara nurani?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika mendaki Jabal Rahmah, apakah Anda tulus ikhlas mengharapkan rahmat Allah untuk setiap mukmin, dan mengharapkan bimbingan untuk setiap muslim?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika berada di lembah Namirah apakah Anda punya tekad untuk tidak menyuruh orang lain berbuat baik sebelum terlebih dahulu Anda menyuruh diri Anda berbuat baik? Apakah Anda bertekad tidak melarang orang lain berbuat maksiat sebelum Anda mencegah diri Anda dari perbuatan tersebut?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika Anda berada di bukit-bukit itu, apakah Anda benar-benar menyadari bahwa tempat itu merupakan saksi atas segala kepatuhan kepada Allah swt. Dan Tahukah Anda bahwa bukit-bukit itu bersama para malaikat mencatatnya atas perintah Allah Penguasa tujuh langit dan bumi?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Kalau begitu Anda belum berwuquf di Arafah, belum mendaki Jabal Rahmah, belum mengunjungi lembah Namirah dan belum berdoa di tempat-tempat itu.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah Anda melewati dua bukit Al-Alamain dan menunaikan shalat dua rakaat sebelumnya? Apakah setelah itu Anda melanjutkan perjalanan menuju Muzdalifah, mengambil batu di sana, kemudian berjalan melewati Masy’aril Haram?
Asy-Syibli: Ya, semuanya sudah saya lakukan.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika Anda melakukan shalat dua rakaat, apakah Anda meniatkan shalat itu sebagai shalat Syukur, shalat untuk menyampaikan rasa terima kasih pada malam tanggal 10 Dzulhijjah, dengan harapan agar tersingkir dari semua kesulitan dan mendapat kemudahan?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika melewati dua bukit itu dengan meluruskan pandangan, tidak menoleh ke kanan dan ke kiri, apakah Anda benar-benar bertekad tidak akan berpaling pada agama lain, tetap teguh dalam agama Islam, agama yang hak yang diridhai oleh Allah swt? Benarkah Anda memperkuat tekad untuk tidak bergeser sedikitpun, baik dalam hati, ucapan, gerakan maupun perbuatan?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika berada di Muzdalifah dan mengambil batu di sana, apakah Anda benar-benar bertekah untuk melempar jauh-jauh segala perbuatan maksiat dari diri Anda, dan berniat untuk mengejar ilmu dan amal yang diridhai oleh Allah swt?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Pada saat Anda melewati Masy’aril Haram, apakah Anda bertekad untuk menjadikan diri Anda sebagai keteladan kesucian agama Islam seperti orang-orang yang bertakwa kepada Allah swt?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Kalau begitu, Anda belum melewati Al-Alamain, belum melakukan shalat dua rakaat, belum berjalan menuju Muzdalifah, belum mengambil batu di tempat itu, dan belum melewati Masy’aril Haram.

Ali Zainal Abidin (sa): Wahai Syibli, apakah Anda telah sampai di Mina, telah melempar Jumrah, telah mencukur rambut, telah menyembelih binatang kurban, telah menunaikan shalat di masjid Khaif; kemudian kembali ke Mekkah dan melakukan thawaf ifadhah?
Asy-Syibli: Ya, saya sudah melakukannya.

Ali Zainal Abidin (ra): Setelah tiba di Mina, apakah Anda menyadari bahwa Anda telah sampai pada tujuan, dan bahwa Allah telah memenuhi semua hajat Anda?
Asy-Syibli: Tidak.
Ali Zainal Abidin (sa): Pada saat melempar Jumrah, apakah Anda bertekad untuk melempar musuh Anda yang sebenarnya yaitu iblis dan memeranginya dengan cara menyempurnakan ibadah haji yang mulia itu?
Asy-Syibli: Tidak

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika Anda mencukur rambut, apakah Anda bertekad untuk mencukur semua kehinaan diri Anda sehingga diri Anda menjadi suci seperti baru lahir perut ibu Anda?
Asy-Syibli: Tidak.
Ali Zainal Abidin (sa): Ketika melakukan shalat di masjid Khaif, apakah Anda benar-benar bertekad untuk tidak merasa takut kepada siapaun kecuali kepada Allah swt dan dosa-dosa yang telah Anda lakukan.
Asy-Syibli: Tidak.
Ali Zainal Abidin (sa): Ketika Anda menyembelih binatang kurban, apakah Anda bertekad untuk memotong belenggu kerakusan diri Anda dan menghayati kehidupan yang suci dari segala noda dan dosa? Dan apakah Anda juga bertekad untuk mengikuti jejak nabi Ibrahim (sa) yang rela melaksanakan perintah Allah sekalipun harus memotong leher puteranya yang dicintai?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika Anda kembali ke Mekkah untuk melakukan thawaf ifadhah, apakah Anda berniat untuk tidak mengharapkan pemberian dari siapapun kecuali dari karunia Allah, tetap patuh kepada-Nya, mencintai-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan selalu mendekatkan diri kepada-Nya?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Jika demikian, Anda belum mencapai Mina, belum melempar Jumrah, belum mencukur rambut, belum menyembelih kurban, belum melaksanakan manasik, belum melaksanakan shalat di masjid Khaif, belum melakukan thawaf ifadhah, dan belum mendekatkan diri kepada Allah swt. Karena itu, kembalilah ke Mekkah, sebab Anda sesungguhnya belum menunaikan ibadah haji.

Mendengar penjelasan Ali Zainal Abidin (sa), Asy-Syibli menangis dan menyesali kekurangannya yang telah dilakukan dalam ibadah haji. Sejak itu ia berusaha keras memperdalam ilmu Islam agar pada tahun berikutnya ia dapat menunaikan ibadah haji secara sempurna. (Al-Mustadrak 10: 166)

‘Aqad, ‘Ahad dan Bai’at menurut Al-Qur’an dan Sunnah


Bismillahir rahmanir rahiim

Untuk masalah ‘Aqad kita perhatikan firman Allah dibawah ini :

: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. (Q.S. Al-Maidah: 1)

Perkataan ‘aqad dalam ayat ini bermakna  suatu perjanjian yang melibatkan lebih dari satu golongan. Menurut Imam Raghib, ‘aqad yang dimaksudkan di dalam ayat ini mengandung tiga makna, yaitu :

  • ‘Aqad  di antara Allah dan manusia, yaitu kewajiban-kewajiban yang telah dibebankan kepada manusia.
  • ‘Aqad di antara manusia dan jiwanya.
  • ‘Aqad di antara sesama manusia.

Firman Allah :

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (Q.S. An-Nahl: 91-92)

Di dalam ayat di atas, ‘aqad manusia dengan Allah merupakan ‘aqad yang paling penting sekali. Maksudnya manusia diwajibkan melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya.

Firman Allah :

“Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya).” (Q.S. Al-Ahzab: 23)

Di dalam ayat di atas, ‘aqad manusia dengan Allah disebut ‘ahad. Demikian juga kebanyakan penggunaan ‘ahad di dalam Al-Qur’an berkaitan dengan janji manusia kepada Allah. Perkataan ‘ahad ini juga digunakan dalam konteks jual beli atau bai’at seperti firman Allah :

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (Q.S. At-Taubah: 111)

Oleh karena pentingnya seorang mu’min itu senantiasa berpegang teguh dengan ‘ahadnya kepada Allah, maka Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita sebuah do’a  yang juga merupakan Sayyidul Istighfar : “Allahumma anta Rabbi Laa ilaaha illa anta khalaqtanii wa ana abduka wa ana ‘alaa ahdika wa wa’dika – Mastatho’tu A-‘uudzubika minsyarrimaa shona’tu abuu-ulaka bini’matika ‘alayya wa abuu-‘u bidzambii faghfirlii fainnahu Laa yaghfirudz-dzunuu-ba illa anta” (“Yaa Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan yang berhak kusembah kecuali hanya Engkau sendiri. Telah Engkau jadikan aku dan aku ini adalah hamba-Mu, dan berusaha sekuat tenaga untuk setia memegangangjanji (‘ahad)-Mu.Aku berlindung kepada-Mu daripada kejahatan yang terlanjur yang telah aku lakukan. Aku menyadari akan segala nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan aku tahu pula akan dosaku, maka ampunilah kiranya aku, karena sesungguhnya tiadalah yang mengampuni dosaku itu hanya Engkau.”) (H.R. Bukhari)

‘Aqad manusia sesama manusia merupakan satu perkara yang telah diutamakan sejak awal pertumbuhan Islam yang pertama. Di dalam al-Qur’an Allah telah menetapkan dasar-dasar bagi membina sebuah masyarakat Islam. Di antara dasar yang disebutkan berkenaan ‘ahad adalah ;

“. . . . Dan penuhilah janji (‘ahad) sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.” (Q.S. Al-Israa’: 34)

Memenuhi perjanjian atau ‘ahad bukan saja merupakan tuntutan moral antara individu-individu, tetapi ia juga menjadi dasar semua urusan dalam dan luar bagi ummat Islam dan sistem pemerintahan Islam. Jelas dari dasar ini bahwa pelaksanaan perjanjian antara sesama manusia sebagai individu atau kumpulan adalah penting hingga ia menjadi salah satu dasar bagi pembinaan sebuah negara Islam.

Dalam konteks ‘aqad antara manusia dengan manusia, bai’at adalah satu sumpah setia yang merupakan ‘aqad untuk melakukan ketha’atan. Apabila seseorang itu telah melakukan bai’at kepada seorang pemimpin ia sebenarnya telah membuat satu ‘aqad dengan pemimpin itu. Ini berarti ia telah memberikan urusan dirinya dan muslim lain kepada pemimpin tersebut. Ia juga berjanji tidak akan merebut kekuasaan dari pemimpin tadi, akan senantiasa menaatinya serta melaksanakan semua tugas-tugas yang diberikan oleh pemimpin tadi.

Ta’rif bai’at secara umum adalah “al-‘ahad ‘ala at’-ta’ah” atau satu perjanjian untuk tha’at. Seorang yang memberi bai’at, atau mubayyi’ itu membuat ‘ahad (perjanjian) kepada pemimpin agar pemimpin itu mengurusi urusannya di dalam jama’ah dan ia tidak akan mempertikaikan kedudukan pemimpin  itu. Mubayyi’ itu akan mentaati pemimpin dalam keadaan senang atau susah.

Jika dilihat dari segi hukum syara’ bai’at mengandung tiga perkara :

1)     Bai’at dilakukan menurut batas kemampuan seseorang.

2)     Adalah sunnah bagi seorang pemimpin meminta bai’at dari jama’ahnya.

3)  Apabila seorang muslim telah membuat bai’at, maka wajib baginya untuk memenuhi bai’at tersebut.

Ketiga perkara ini didasarkan kepada keterangan-keterangan berikut : “Dari Abdullah Ibn Umar, katanya : “Apabila kami memberi bai’at kepada Rasulullah SAW, baginda akan mengarahkan kamu menyatakan sebanyak yang kamu mampu.”

Dari Junadah bin Abi Umayyah, katanya : “Kami menziarahi Ubaidah bin as-Samit semasa ia sakit. Kami berkata : “Semoga Allah memberi kesehatan kepadamu. Bolehkah engkau beritahu kami hadits dari Rasulullah SAW yang boleh memberi manfaat kepada engkau. Ia berkata : Rasulullah SAW menyeru kami dan kami memberi bai’at masuk Islam kepadanya, di antara syarat-syarat yang terkandung di dalam bai’at itu adalah kami hendaklah dengar dan taat kepada perintahnya di masa kami kuat dan lemah, di masa kami susah dan senang dan untuk mentaati pemimpin kami serta memberi kepadanya hak-haknya, dan tidak memeranginya kecuali ia melakukan kekufuran yang kami mempunyai bukti-buktinya.”

Riwayat di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW menjemput manusia untuk memberi bai’at kepadanya. Siddiq Hasan Khan, seorang faqih (ahli fiqih) dan muhaddits (ahli hadits) menerangkan riwayat ini sebagai berikut : “Hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa meminta ba’ah dari sahabat itu adalah sunnah dan memberi bai’at kepada orang lain itu juga adalah sunnah, tetapi memenuhi bai’at selepas membuatnya adalah wajib dan memecahkan bai’at adalah maksiat.”

Bai’at hendaklah dilakukan dengan hati yang penuh ikhlas karena ia bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk kepentingan jama’ah. Rasulullah SAW menjelaskan salah satu dari tiga golongan manusia yang Allah tidak berkata-kata padanya di hari  qiamat  adalah : “Seseorang yang memberi bai’at kepada seorang imam semata-mata untuk faedah dunia, jika imam itu memberikan apa yang dikehendakinya, maka ia akan mentaati imam tersebut, tetapi jika imam itu tidak memberi apa yang dikehendakinya maka ia tidak akan memenuhi bai’atnya.” (H.R. Bukhari)

Demikianlah, pentingnya bai’at antara manusia kepada manusia lain menurut syari’at Islam. Siapa yang memecahkan bai’at dalam urusan apapun akan dianggap melakukan maksiat. Besar atau kecil maksiat yang dilakukan bergantung kepada perkara dan syarat-syarat yang dibai’atkan.

Perjanjian di antara manusia dalam apa bentuknya boleh diperbarui. Hal ini sama dengan bai’at yang boleh diulang dari masa ke masa. Tikrar al-Bai’at atau memperba rui bai’at merupakan amalan Rasulullah SAW terhadap sahabatnya.

Dari Salamah Ibn al-Akwa’, katanya : “Kami berbai’at kepada Rasulullah SAW di bawah pohon, beliau berkata : “Ya Salamah ! Tidakkah engkau hendak memberi bai’at ?” Aku menjawab : “Ya Rasulullah, aku pun telah memberi bai’at kepadamu dahulu.” Ia berkata : “Berilah untuk kali kedua.”

Melakukan bai’at berulangkali di dalam jama’ah adalah dibenarkan karena ini adalah berdasarkan kepada sunnah Rasulullah SAW. Tindakan ini baik karena akan selalu memperingatkan anggota jama’ah terhadap tugas-tugas dan tanggung jawabnya di dalam jama’ahnya (organisasi).

Talqin dan Bai’at dalam Pengukuhan

“Talqin” adalah merupakan peringatan guru kepada murid, sedang “bai’at” atau juga disebut ‘ahad dalam hal ini adalah  merupakan ikrar atau janji murid untuk sanggup dan setia dalam ketha’atannya mengamalkan segala kebajikan yang diperintahkan kepadanya.

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani bahwa Rasulullah SAW pernah mentalqinkan sahabat-sahabatnya secara berombongan atau perseorangan. Talqin berombongan pernah diceritakan oleh Syaddad bin ‘Aus ; Bahwa suatu ketika kami berada dekat Rasulullah, beliau bersabda : “ Apa adakah diantara kamu orang asing ? maka jawab saya : Tidak ada “.  Lalu Rasulullah menyuruh menutup pintu dan berkata : Angkat tanganmu dan ucapkanlah Laa Ilaaha Illallah, seterusnya beliau bersabda : Segala puji bagi Allah, wahai Tuhanku Engkau telah mengutus aku dengan kalimat ini dan Engkau menjadikan dengan ucapannya karunia syurga kepadaku dan bahwa Engkau tidak sekali–kali menyalahi janji. Kemudian Rasulullah berkata pula : Belumkah aku memberikan kabar gembira kepadamu bahwa Allah telah mengampuni kamu semua ? Maka bersabdalah Rasulullah SAW : “ Tidak ada segolongan manusiapun yang berkumpul dan melakukan dzikrullah dengan tidak ada niat lain melainkan untuk Allah semata-mata, kecuali nanti akan datang suara dari langit . Bangkitlah kamu semua, dosamu sudah diampuni dan sudah ditukar kejahatan yang lampau dengan kebajikan “.

Oleh karena itu Allah berfirman :

“Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah kamu dengan bai’atmu, yang kamu lakukan itu adalah kejayaan yang agung.” ( Q.S. At-Taubah: 111 ).

Tentang bai’at perseorangan pernah diceritakan oleh Yusuf Al-Kurani dan teman-temannya dengan sanad yang syah bahwa Sayyidina Ali ra bertanya kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku jalan yang sedekat-dekatnya kepada Allah dan yang semudah-mudahnya  dan yang paling utama dapat ditempuh oleh hamba-Nya ? Maka bersabdalah Rasulullah : “ Hendaknya kamu lakukan dzikrullah yang kekal dan ucapan yang paling utama yang pernah kulakukan dan dilakukan  oleh Nabi-Nabi sebelum aku yaitu Laa Ilaaha Illallah. Jika   ditimbang dengan tujuh petala langit dan bumi dalam satu daun timbangan dan kalimat Laa Ilaaha Illallah dalam satu timbangan yang lainnya, maka kalimat Laa Ilaaha Illallah akan lebih berat. Kemudian ia berkata : Wahai ‘Ali tidak akan datang kiamat jika diatas muka bumi ini masih ada orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah. Sayyidina ‘Ali berkata : Bagaimana caranya aku berdzikir  ya Rasulullah ? Nabi menjawab : Pejamkan kedua matamu dan dengar aku mengucapkan tiga kali kemudian engakau ucapkan tiga kali juga sedangkan aku mendengarkannya. Maka berkatalah Rasulullah : Laa Ilaaha Illallah tiga kali, sedangkan kedua matanya dipejamkan, dan suaranya dikeraskan serta ‘Ali mendengarnya. Kemudian ‘Ali mengucapkan : Laa Ilaaha Illallah seperti yang Rasulullah ucapkan sedangkan Rasulullah mendengarkannya “.

Demikian cara talqin dzikir yang disampaikan oleh ‘Ali bin Abi Thalib ra.

Kemudian pengertian “ Pengukuhan “ disini adalah penegasan, pengakuan atau pengesahan yang diiringi dengan Talqin Guru dan Ikrar/Janji ( Bai’at ) murid. Dengan adanya pengukuhan ini akan terjadi ikatan bathin yang kuat antara Murid dengan Guru ( sebagai pemimpin dan pembimbing jama’ah ) yang akhirnya akan melahirkan pribadi yang setia dan tha’at karena Allah swt.

Saidina Umar ra menegaskan : “ Tidak ada Islam tanpa jama’ah, tidak ada Jama’ah tanpa Pemimpin, dan tidak ada Pemimpin tanpa adanya ketha’atan “

Pengukuhan bagi Jama’ah Tarekat Qodiriyah sangat berharga dan berarti, terutama dalam hal memperoses dan membenahi diri dengan menjalankan program-program amalan dan dzikir yang dilaksanakan secara terpadu, terbimbing, dan berkesinambungan, yang akhirnya akan lahir pribadi mu’min yang sejati dengan jiwa tauhid dan ikhlas dalam beribadah kepada Allah swt. Sehingga rahmat dan perlindungan Allah selalu menaunginya, jadilah ia orang yang tenang, damai, yakin dan berani dalam kebenaran.

Prosesi Pengukuhan

Prosesi pengukuhan terdiri dari 3 (tiga) tahapan di antaranya :

Tahap pertama, disebut dengan tahap persiapan sebelum dikukuhkan.

Calon anggota jama’ah yang akan dikukuhkan sebelumnya harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

a.   Terdaftar sebagai anggota jama’ah dan memenuhi syarat-syarat administrasi (untuk pendataan dan ketertiban).

b.   Melaksanakan ibadah-ibadah khususnya shalat lima waktu dan menjalankan amalan dan zikir untuk persiapan pengukuhan.

c.   Bersedia dan siap untuk dikukuhkan tanpa ada unsur paksaan dari pihak manapun (ikhlas dalam pengukuhan).

Tahap kedua, disebut dengan tahap pengukuhan.

Anggota jama’ah yang sudah memenuhi syarat-syarat ditahap pertama maka akan diadakan proses pengukuhan dengan cara sebagai berikut :

a.  Sebelum proses pengukuhan berlangsung guru pembimbing memberikan beberapa arahan dan peringatan (talqin) kepada murid yang akan dikukuhkan tentang segala hal yang menyangkut persoalan pengukuhan.

b.   Kemudian guru pembimbing menanyakan kepada calon anggota jama’ah yang akan dikukuhkan apakah bersedia serta ikhlas untuk menerima pengukuhan. Jika seandainya calon anggota jama’ah bersedia untuk menerima pengukuhan maka guru pembimbing akan menanyakan apakah calon anggota jama’ah juga bersedia untuk berikrar (berbai’at).

c.    Jika hal tersebut sudah diterima oleh calon anggota jama’ah maka guru pembimbing selanjutnya membaca : Surat Al-Fatihah, Shalawat Munjiyat, Zikir Asma Al-Mu’min  dan  Surah Al-Fath ayat 10 yang artinya :

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia (berbai’at) kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (Q.S. Al-Fath : 10)

Selanjutnya calon anggota jama’ah membacakan ikrar (janji) di hadapan guru pembimbing diantaranya yang berisi :

  1. Tidak mensekutukan Allah dengan apapun.
  2. Berusaha menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
  3. Berbakti kepada kedua orang tua, setia dengan guru pembimbing dan mengamalkan ajaran yang diberikan oleh guru pembimbing.
  4. Bersedia menjaga nama baik jama’ah Nur Al-Mu’min kapan dan dimanapun berada.
  5. Bersedia untuk mentaati prinsip-prinsip anggota jama’ah Nur Al-Mu’min.

d.   Setelah pembacaan ikrar (janji) barulah guru pembimbing melaksanakan pengukuhan diantaranya memberikan Amalan Al-Mu’min, Membuka Latifah/Rohani dan selanjutnya memasukkan Washilah atau Thariqat Al-Mu’min sebagai jalan atau kendaraan untuk berjalan menuju Allah, kemudian bersama-sama mengucapkan kalimah Laa Ilaaha Illallah 3 X dan ditutup dengan Muhammadarra suulullahi Shallallahu ’alaihi wasallam.

e.   Setelah pengukuhan dilaksanakan maka guru pembimbing akan menutup dengan do’a, kemudian diakhiri dengan membaca do’a alhir majelis dan  ucapan selamat dari jama’ah yang hadir menyaksikan proses pengukuhan.

Tahap ketiga, disebut dengan tahap setelah pengukuhan.

a.   Setiap anggota jama’ah yang telah dikukuhkan akan mendapat beberapa pedoman atau panduan amalan dan dzikir yang akan dilaksanakan / diamalkan di dalam kehidupannya sebagai ibadah taqarrub kepada Allah.

b.   Amalan-Amalan atau Dzikir-Dzikir yang diberikan wajib dijalankan dengan mengikuti petunjuk atau aturan yang diberikan oleh pembimbing.

c.     Amalan atau Dzikir akan diberikan secara bertahap sesuai dengan tahapan amalan yang dijalankan oleh anggota jama’ah yang telah dikukuhkan

Doa Dan Doa


Bismillahir Rahmanir Rahiim

a. Orang – Orang yang tidak ditolak do’anya

Didalam beberapa hadits diterangkan secara konkrit tentang orang-orang yang dikabulkan Allah do’anya (yang tidak tertolak do’anya) diantaranya :

  1. Ibu Bapak untuk kebaikan dan keselamatan anak-anaknya, lebih-lebih ibu. Sering kali seorang ibu melontarkan kata-kata yang bernada do’a, mendo’akan kecelakaan buat anak-anak sehingga sangat besar akibatnya bagi anak.
  2. Orang yang sedang berpuasa diwaktu akan berbuka.
  3. Kepala negara (Pemimpin) yang adil, didasarkan kepada pengorbanan untuk kebahagian dan kemakmuran rakyatnya.
  4. Orang yang teraniaya (madhlum) dalam segala bentuk kedhaliman (kesewenang-wenangan) dan perkosaan.
  5. Musafir dengan niat dan tujuan yang baik, atau orang yang berdo’a dari jauh mendo’akan seseorang.
  6. Anak shaleh yang mendo’akan kedua orang tuanya yang telah meninggal.

b. Cara Allah mengabulkan Do’a

Do’a itu kadang-kadang dikabulkan oleh Allah dengan memberikan apa yang kita mohonkan kepadaNya, dan kadang-kadang dengan menolak suatu bencana yang bakal menimpa kita, atau ditunda pemberiannya hingga diakhirat, itu semua menurut kehendak dan kebijaksanaan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada hamba-Nya.

Bersabda Rasulullah SAW. : “Tidak ada seseorang Muslim di muka bumi ini yang mendo’a memohonkan sesuatu kepada Allah, melainkan Allah mengabulkannya sebagaimana yang dimohonkannya, atau dipalingkan Allah daripadanya sesuatu kecelakaan selama ia tidak mendo’akan sesuatu yang mengandung dosa atau memutuskan silaturrahmi. Maka berkata seseorang ; Kalau begitu baiklah kami memperbanyak do’a. Jawab Nabi : Allah menerima do’a hamba Nya lebih banyak lagi. (H.R. Turmudzi).

Namun yang perlu kita sadari bahwa salah satu yang dapat membinasakan keampuhan do’a hingga akhirnya tidak terkabulkan adalah jika seorang hamba minta cepat-cepat diperkenankan dan menganggap lambat dikabulkannya dengan berkeluh kesah, hingga akhirnya ia tidak berdo’a. Orang seperti ini adalah bagai orang menyemaikan benih atau menanamnya. Setiap saat ia rawat dan siram, lalu karena ia tidak sabar menunggu tumbuh dengan sempurna, ia tinggalkan dan tidak diperlukannya lagi.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW. bersabda : “Salah seorang dari kamu akan dikabulkan do’anya selama ia tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata : “Aku sudah berdo’a akan tetapi tidak dikabulkan”.

Dan Dalam Shahih Muslim, juga dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW. bersabda : “Allah senantiasa memperkenankan do’a seorang hamba selama do’a tersebut tidak mengandung dosa atau memutusukan silaturrahim, dan selama tidak minta cepat-cepat diperkenankan”. Lalu, beliau ditanya orang, “apa maksud minta cepat-cepat ?” Jawab beliau, “Umpamanya seorang berkata dalam do’anya, “Aku telah berdo’a, aku telah berdo’a, tetapi aku belum melihat do’aku diperkenankan, lalu ia putus asa dan berhenti berdo’a”.

Dan dalam Musnad Ahmad disebutkan sebuah hadits diriwayatkan Anas dari Rasulullah SAW. bahwa beliau bersabda : “Senantiasa seorang hamba berada dalam kebaikan selama ia tidak minta cepat-cepat”. para sahbat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana minta cepat-cepat itu?” Jawab beliau : “Yaitu dengan mengatakan “Aku telah berdo’a kepada Tuhanku, tetapi Dia tidak (belum) juga mengabulkan do’aku”.

Doa Dan Ikhtiar

Orang yang berdoa, adalah orang yang memohon sesuatu yang ia hajati serta berhasrat benar untuk memperolehnya. Sesuatu yang dihajati itu adakalanya merupakan hal-hal yang mustahil terjadi dan adakalanya pula berupa hal-hal yang mungkin terjadi.

Hal-hal yang mustahil terjadi, sudah barang tentu tidak boleh kita mohonkan, karena tidak akan diterima dan tidak akan terwujud . Adapun hal-hal yang mungkin terjadi, maka ia mempunyai sebab dan illat akan terjadinya. Akan tetapi dengan tidak berusaha mewujudkan sebab-sebab dan illat-illat itu, samalah halnya dengan seseorang yang hendak sampai ke suatu tujuan, tetapi tidak berusaha melangkahkan kakinya melalui jalan yang harus dilaluinya.

Dengan demikian, semakin  jelaslah bagi kita, bahwa berdoa itu, ialah : “Memohon kepada Allah semoga Ia menyampaikan maksud kita, seraya kita melaksanakan dan mengusahakan dengan segenap tenaga yang ada, akan sebab-sebab terjadinya sesuatu yang kita hajatkan (doakan) itu.”

Doa yang seperti itu, ialah kepercayaan yang sangat teguh, serta harapan yang sangat dalam, bahwa Allah akan menjauhkan segala halangan-halangan yang akan menghalangi tercapainya maksud kita dan hanya Allah yang memberikan petunjuk-petunjuk tentang sebab-sebab yang nyata dan yang tersembunyi yang tidak jelas kelihatan oleh kita.

Demikianlah harus kita perbuat, berdo’a disamping berusaha, selama sebab-sebab masih dapat kita usahakan. Adapun ketika kita telah lemah dan tidak sanggup lagi mengusahakan sebab, barulah kita  berserah  diri  (bertawakkal)  kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Hanni's Eyes

It's good fun, this life thing.

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 274 other followers

%d bloggers like this: