Posts from the ‘Rahasia Jalan Menuju Allah Swt’ Category

Syeikh Ibnu Athoaillah al-Sakandari


 

Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma Soli ala Sayyidina Muhammmad wa ala ali Muhammad

Kelahiran dan keluarganya 


Pengarang kitab al-Hikam yang cukup populer di negeri kita ini adalah Tajuddin, Abu al-Fadl, Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin Athoâillah al-Sakandari al-Judzami al-Maliki al-Syadzili. Ia berasal dari bangsa Arab. Nenek moyangnya berasal dari Judzam yaitu salah satu Kabilah Kahlan yang berujung pada Bani Yaârib bin Qohton, bangsa Arab yang terkenal dengan Arab al-Aaâribah. Kota Iskandariah merupakan kota kelahiran sufi besar ini. Suatu tempat di mana keluarganya tinggal dan kakeknya mengajar. Kendatipun namanya hingga kini demikian harum, namun kapan sufi agung ini dilahirkan tidak ada catatan yang tegas. Dengan menelisik jalan hidupnya DR. Taftazani bisa menengarai bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 658 sampai 679 H.

Ayahnya termasuk semasa dengan Syaikh Abu al-Hasan al-Syadili -pendiri Thariqah al-Syadziliyyah-sebagaimana diceritakan Ibnu Athoâillah dalam kitabnya “Lathoiful Minan “ : “Ayahku bercerita kepadaku, suatu ketika aku menghadap Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili, lalu aku mendengar beliau mengatakan: “Demi Allah… kalian telah menanyai aku tentang suatu masalah yang tidak aku ketahui jawabannya, lalu aku temukan jawabannya tertulis pada pena, tikar dan dinding”.

Keluarga Ibnu Atho’ adalah keluarga yang terdidik dalam lingkungan agama, kakek dari jalur nasab ayahnya adalah seorang ulama fiqih pada masanya. Tajuddin remaja sudah belajar pada ulama tingkat tinggi di Iskandariah seperti al-Faqih Nasiruddin al-Mimbar al-Judzami. Kota Iskandariah pada masa Ibnu Atho’ memang salah satu kota ilmu di semenanjung Mesir, karena Iskandariah banyak dihiasi oleh banyak ulama dalam bidang fiqih, hadits, usul, dan ilmu-ilmu bahasa arab, tentu saja juga memuat banyak tokoh-tokoh tasawwuf dan para Auliya’ Sholihin
Oleh karena itu tidak mengherankan bila Ibnu Atho’illah tumbuh sebagai seorang faqih, sebagaimana harapan dari kakeknya. Namun kefaqihannya terus berlanjt sampai pada tingkatan tasawuf. Hal mana membuat kakeknya secara terang-terangan tidak menyukainya.

Ibnu Atho’ menceritakan dalam kitabnya “Lathoiful minan” : “Bahwa kakeknya adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawwuf, tapi mereka sabar akan serangan dari kakeknya. Di sinilah guru Ibnu Atho’ yaitu Abul Abbas al-Mursy mengatakan: “Kalau anak dari seorang alim fiqih Iskandariah (Ibnu Atho’illah) datang ke sini, tolong beritahu aku”, dan ketika aku datang, al-Mursi mengatakan: “Malaikat jibril telah datang kepada Nabi bersama dengan malaikat penjaga gunung ketika orang quraisy tidak percaya pada Nabi. Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi dan mengatakan: ” Wahai Muhammad.. kalau engkau mau, maka aku akan timpakan dua gunung pada mereka”. Dengan bijak Nabi mengatakan : ” Tidak… aku mengharap agar kelak akan keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak musyrik dari mereka”. Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek yang alim fiqih (kakek Ibnu Atho’illah) demi orang yang alim fiqih ini”.

Pada akhirnya Ibn Atho’ memang lebih terkenal sebagai seorang sufi besar. Namun menarik juga perjalanan hidupnya, dari didikan yang murni fiqh sampai bisa memadukan fiqh dan tasawuf. Oleh karena itu buku-buku biografi menyebutkan riwayat hidup Atho’illah menjadi tiga masa :

Masa pertama 
Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariah sebagai pencari ilmu agama seperti tafsir, hadits, fiqih, usul, nahwu dan lain-lain dari para alim ulama di Iskandariah. Pada periode itu beliau terpengaruh pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawuf karena kefanatikannya pada ilmu fiqih, dalam hal ini Ibnu Atho’illah bercerita: “Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursi, yaitu sebelum aku menjadi murid beliau. Pendapat saya waktu itu bahwa yaang ada hanya ulama ahli dzahir, tapi mereka (ahli tasawuf) mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syariat menentangnya”.

Masa kedua 
Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati ini. Masa ini dimulai semenjak ia bertemu dengan gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi, tahun 674 H, dan berakhir dengan kepindahannya ke Kairo. Dalam masa ini sirnalah keingkarannya ulama’ tasawwuf. Ketika bertemu dengan al-Mursi, ia jatuh kagum dan simpati. Akhirnya ia mengambil Thariqah langsung dari gurunya ini.
Ada cerita menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawuf ini. Suatu ketika Ibn Atho’ mengalami goncangan batin, jiwanya tertekan. Dia bertanya-tanya dalam hatinya : “apakah semestinya aku membenci tasawuf. Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi ?. setelah lama aku merenung, mencerna akhirnya aku beranikan diriku untuk mendekatnya, melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang ia ajarkan sejatinya. Kalau memang ia orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan. Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf.

Lalu aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan tekun tentang masalah-masalah syara’. Tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyat al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku”.
Maka demikianlah, ketika ia sudah mencicipi manisnya tasawuf hatinya semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai ia punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meningalkan aktivitas lain. Namun demikian ia tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru al-Mursi.

Dalam hal ini Ibn Athoilah menceritakan : “Aku menghadap guruku al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir. Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini tiba-tiba beliau mengatakan : €œDi kota Qous aku mempunyai kawan namanya Ibnu Naasyi’. Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa. Dia merasakan sedikit manisnya tariqah kita. Kemudian ia menghadapku dan berkata : “Tuanku… apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan?”. Aku memandangnya sebentar kemudian aku katakan : “Tidak demikian itu tariqah kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai padamu juga€.
Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku beliau berkata: “Beginilah keadaan orang-orang al-Siddiqiyyin. Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka€. Mendengar uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dan alhamdulillah Allah telah menghapus angan kebimbangan yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku. Aku pun rela tenang dengan kedudukan yang diberikan oleh Allah€.

Masa ketiga 
Masa ini dimulai semenjak kepindahan Ibn Atho’ dari Iskandariah ke Kairo. Dan berakhir dengan kepindahannya ke haribaan Yang Maha Asih pada tahun 709 H. Masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan Ibnu Atho’illah dalam ilmu fiqih dan ilmu tasawwuf. Ia membedakan antara Uzlah dan kholwah. Uzlah menurutnya adalah pemutusan (hubungan) maknawi bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara si Salik (orang yang uzlah) selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari perdaya dunia. Ketika seorang sufi sudah mantap dengan uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya ia memasuki tahapan khalwah. Dan khalwah dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan, kholwah adalah perendahan diri dihadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain Allah SWT.
Menurut Ibnu Atho’illah, ruangan yang bagus untuk ber-khalwah adalah yang tingginya, setinggi orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya sepanjang ia sujud. Luasnya seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak ada lubang untuk masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak ada dalam rumah yang banyak penghuninya.
Ibnu Atho’illah sepeninggal gurunya Abu al-Abbas al-Mursi tahum 686 H, menjadi penggantinya dalam mengembangkan Tariqah Syadziliah. Tugas ini ia emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariah. Maka ketika pindah ke Kairo, ia bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar.
Ibnu Hajar berkata: “Ibnu Atho’illah berceramah di Azhar dengan tema yang menenangkan hati dan memadukan perkatan-perkatan orang kebanyakan dengan riwayat-riwayat dari salafus soleh, juga berbagai macam ilmu. Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol kebaikan. Hal senada diucapkan oleh Ibnu Tagri Baradi : “Ibnu Atho’illah adalah orang yang sholeh, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri oleh hadirin yang banyak sekali. Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakekat dan orang orang ahli tariqah”. Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shoghoh. Beliau mempunyai banyak anak didik yang menjadi seorang ahli fiqih dan tasawwuf, seperti Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah Tajuddin al-Subki, pengarang kitab “Tobaqoh al-syafi’iyyah al-Kubro”.
Sebagai seoarang sufi yang alim Ibn Atho’ meninggalkan banyak karangan sebanyak 22 kitab lebih. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitobah.

Karomah Ibn Athoillah
Al-Munawi dalam kitabnya “Al-Kawakib al-durriyyah mengatakan: “Syaikh Kamal Ibnu Humam ketika ziarah ke makam wali besar ini membaca Surat Hud sampai pada ayat yang artinya: “Diantara mereka ada yang celaka dan bahagia…”. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam liang kubur Ibn Athoillah dengan keras: “Wahai Kamal… tidak ada diantara kita yang celaka”. Demi menyaksikan karomah agung seperti ini Ibnu Humam berwasiat supaya dimakamkan dekat dengan Ibnu Atho’illah ketika meninggal kelak.
Di antara karomah pengarang kitab al-Hikam adalah, suatu ketika salah satu murid beliau berangkat haji. Di sana si murid itu melihat Ibn Athoillah sedang thawaf. Dia juga melihat sang guru ada di belakang maqam Ibrahim, di Mas’aa dan Arafah. Ketika pulang, dia bertanya pada teman-temannya apakah sang guru pergi haji atau tidak. Si murid langsung terperanjat ketiak mendengar teman-temannya menjawab “Tidak”. Kurang puas dengan jawaban mereka, dia menghadap sang guru. Kemudian pembimbing spiritual ini bertanya : “Siapa saja yang kamu temui ?” lalu si murid menjawab : “Tuanku… saya melihat tuanku di sana “. Dengan tersenyum al-arif billah ini menerangkan : “Orang besar itu bisa memenuhi dunia. Seandainya saja Wali Qutb di panggil dari liang tanah, dia pasti menjawabnya”.

Ibn Atho’illah wafat
Tahun 709 H adalah tahun kemalangan dunia maya ini. Karena tahun tersebut wali besar yang tetap abadi nama dan kebaikannya ini harus beralih ke alam barzah, lebih mendekat pada Sang Pencipta. Namun demikian madrasah al-Mansuriyyah cukup beruntung karena di situlah jasad mulianya berpisah dengan sang nyawa. Ribuan pelayat dari Kairo dan sekitarnya mengiring kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman al-Qorrofah al-Kubro.

Hijib Salamah


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma sholi ala Sayidina Muhammadin sholatan tuwasi’u biha alainal Arzaqo wa tuhasinu bhalanal akhlaqo wa ala alihi washobihi wasalim

Salamah mengandung pengertian selamat. Maka siapa saja yang mau mengamalkan hizib Salamah ini secara rutin setelah selesai shalat Maghrib dan shalat Subuh maka Insya Allah, Allah akan menjaganya dari berbagai macam bala dan bencana baik yang datang dari golongan jin, syaitan maupun manusia. Karena dirinya dijaga selalu oleh Allah. Agar pembaca tidak penasaran berikut ini kami cantumkan amalan hizib Salamah, berikut arti, kegunaan dan juga lakunya :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِِ الرَّحِيمْ تَحَصَّنْتُ بِذِى اْلعِزَّتِىْ َوْالمُلْكِ وَالْمَلَكُوْتِ وَاعْتَصَمْتُ بِذِى اْلقُدْرَةِ وَاْلقَهَّارِ وَاْلجَبَرُوْتِ وَتَوَكَّلْتُ عَلَى اْلحَيِّ اْلقَيُّوْمِ الَّذِىْ لاَ يَنَامُ وَلاَ يَمُوْتُ دَخَلْتُ ِفىْ حِرْنِ اللهِ َودَخَلْتُ فِىْ حِفْظِ اللهِ وَدَخَلْتُ فِىْ َامَانِ اللهِ نَصْرٌ مِنَ اللهِ وَفَـتْحٌ قَرِيْبٌ وَبَشِّـرِ اْلمُؤْمِنِيْنَ بِحَقِّ كهيعص كُفِيْتُ َوبِحَقِّ حمعسـق حُمِيْتُ وَبِلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ اْلعَلِىِّ الْعَظِيمْ، نُصِرْتُ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ َوعَلَى َالِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ.

BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM.

TAHOSH-SHONTU BIDZIL ‘IZZATI WAL MULKI WAL MALAKUUTI WA’TASHOMTU BIDZIL QUDROTI WAL QOHHAARI WAL JABARUUTI WA’TAWAKKALTU ‘ALAL HAYYIL QOYYUUMIL LADZI LAAYANAAMU WALAA YAMUUTU DAKHOLTU FII HIRNILLAAHI WADAKHOLTU FII HIFDHILLAAHI WADAKHOLTU FII’ AMAANILLAAHI NASHRUN MINALLAAHI WA FATHUN QORIIBUN WABASY-SYIRIL MU’MINIINA BIHAQQI KAAF HAA YAA ‘AIN SHOOD KUFIITU WABI HAQQI HAA MIM ‘AIN SIIN QOOF HUMIITU WABI LAAHAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘ADZIIM NUSHIRTU LAA ILAAHA ILLALLAAH MUHAMMAD RASULULLOHI WA SHOLLALLAHU ‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN WA ‘ALAA ALIHI WASHOHBIHII WASSALAM.

Artinya :
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku peliharakan diri dengan kemuliaan raja diatas raja. Dan aku jagakan diri dengan kekuasaan dan keperkasaan-Nya. Dan aku serahkan diri kepada Dzat yang Maha Hidup dan yang berdiri yaitu yang tidak tidur dan tidak mati. Aku masuk dalam penjagaan Allah. Dan aku masuk dalam pengawasan Allah. Dan aku masuk dalam kedamaian Allah. Pertolongan Allah itu akan terbuka dengan dekat kepada manusia yang mu’min. Dengan haqnya Kaaf Haa Yaa Aiin Shood cukupkan aku. Dengan haknya Haa Min Ain Syin Qoof jagakan aku. Dan tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah. Tolonglah aku. Tidak ada Tuhan selain Allah Muhammad Rasululloh. Semoga melimpahkan sholawat dan salam kepada pimpinan kami Muhammad dan kepada keluarganya dan kepada sahabatnya.

Caramengamalkannya :
– Di puasai puasa biasa selama 3 hari dan sebelumnya mandi keramas terlebih dahulu pada hari pertama puasa.

- Selama puasa pada tengah malam Shalat ADAB, dilanjutkan Hadiah kepada :

اِلىَ حَضَرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَاَزْوَاجِهِ وَاَوْلاَدِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ شَيْئٌ ِللهِ لَهُمْ اَلْفَاِتحَةْ…….

- ILAA HADROTIN NABIYYIL MUSHTHOFAA MUHAMMAD SHOLALLAAHU ‘ALAIHI WASSALAM WA ‘ALA AALIHI, WA ASH-HABIHI, WA AZWAAJIHI, WA AULADIHI, WA DURRIYYATIHI SYAIUN LILLAAHI LAHUMUL FATIHAH…….

ثُمَّ اِلَى حَضَرَةِ اْلأَرْوَاحِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالْمَلاَئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالْعُلَمَاءِ اْلعَالِمِيْنَ خُصُوْصًا اِلَى حَضَرَةِ مَنْ اَجَازَنِىْ اِلَى ُمْنَتهَى شَيْئٌ ِللهِ لَهُمْ اَلْفَاتِحَةْ…….

- TSUMMA ILAA HADROTIN SULTANUL AULIYA SYAIKH ABDUL QODIR JAELANI QodasSallahu Sirrohul Aziz FATIHAH………
dan membaca amalannya sebanyak yang Anda mampu.
– Selama puasa setelah selesai shalat lima waktu amalannya dibaca sebanyak 7 x. Dan setelah selesai puasanya setelah selesai shalat Maghrib dan shalat Subuh amalannya cukup dibaca 1 x saja secara istiqomah

 

 

Karakteristik wanita /istri yang menjadi pendamping hidup idaman pria /suami


Bismillahir Rahmanir Rahiim
 
Allahumma sholi ala Syaidina Muhammad Wa Ali syaidina Muhammad

Selalu memberikan masukan kepada suami
Tidak jarang seorang suami tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya setelah mereka berumah tangga. Oleh karena itu, yang pertama harus dikerjakan seorang istri adalah membantu memperjelas angan-angan dan keinginan yang ada dalam benak suami. Seorang istri harus membantu suaminya mengetahui apa target yang dikejar dalam kehidupannya. Tentu dengan bahasa yang baik dan spoan, tidak seolah-olah menggurui.

Membantu suami merancang target baru
“Jika kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,” (QS al-Insyirah : 7)
Bila suami telah berhasil merealisasikan tujuan yang dikehendakinya, istri harus menyampaikan pada suaminya bahwa keberhasilan suatu tujuan bukan akhir dari segala-galanya. Tapi, keberhasilan suatu target adalah awal langkah mengejar target yang lain. Yang penting disampaikan kepada suami adalah bahwa janganlah takut tidak berhasil mengejar suatu target.

Mendampingi suami hingga berhasil meraih target
Tindakan logis yang dilakukan oleh setiap istri yang berpikir cemerlang sewaktu berada di samping suaminya adalah membantunya dengan kata-kata yang baik, memberikan senyuman yang memotivasi, dan mendorongnya terus-menerus untuk merealisasikan semua target yang diharapkannya. Setiap keberhasilan yang diraih bukanlah milik sendiri, melainkan milik mereka berdua.

Menghidupkan semangat dan harapan suami
Di antara ciri khusus istri cerdas adalah selalu berusaha membangkitkan semangat dan menghidupkan harapan dalam diri suaminya, begitu pula pada anaknya, saudaranya, atau ayahnya sekalipun. Janganlah sekali-kali seorang istri mengatakan bahwa suaminya selalu mengalami kegagalan. Menurut Margaret Colcen, kewajiban terpenting seorang istri adalah memanfaatkan waktu makan bersama untuk berbicara dangan suami tentang harapan, optimisme, dan keberhasilan.

Bunda Khadijah selalu mampu memberikan semangat untuk Muhammad Saw lewat kata-kata dan perilaku yang menarik. Ungkapannya berisi daua hal:
1. Meyakinkan kepada suami bahwa perjuangannya benar dan lurus.
2. Memuji dan menganggap suami mempunyai potensi yang dapat dijadikan modal.
3. Dorongan semangat bahwa usahanya akan berhasil dan menghasilkan.

Jangan lupa, pujian yang tidak berlebihan memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pembangkitan suami.

Mengimbangi kecemasan suami dengan sikap dan tindakan simpatik
Seorang wanita sama sekali tidak dapat membahagiakan suami dan mendorongnya mencapai keberhasilan, kecuali bila ia tetap kreatif dan mampu menghiburnya. Hendaklah seorang istri benar-benar memahami bahwa suaminya sangat membutuhkan pandangan yang mendalam dari istrinya mengenai apa yang dilakukannya.

Harus dipahami oleh seorang istri, kecemasan suami mendorongnya uring-uringan, terkadang marah-marah, dan emosinya cepat meninggi. Hal ini sangat wajar, sebab, suami sedang mencari pelampiasan ketegangan. Sebagai istri yang baik, jangan sekali-kali mengimbanginya dengan emosi dan marah juga. Sikap yang seperti itu, ikut terbawa marah dan emosi, dapat membuat kapal suami yang semakin menghilangkan kekuatan semangat dan kesabarannya. Yang tepat dilakukan oleh seorang istri adalah menyarankannya untuk berdzikir kepada Allah dan sholat. Atau, ajaklah dia tidur, supaya ketegangannya menurun.

Tidak merecoki tekad bulat suami
Tekad seorang suami memerlukan perekat yang kental dari istrinya. Keinginan merecoki tekad suami adalah akibat istri yang tidak membiasakan belajar bersabar. Yang lebih parah, ketakutan kehilangan suami dan perasaan cemburu yang tak beralasan membuat istri menghalangi suaminya uintuk maju.

Pandai melontarkan kritik membangun
Kritik yang diberikan seorang istri adalah bantuan berharga bagi seorang suami. Orang yang paling tahu dan merasakan kekurangan suami adalah istri. Istri adalah orang yang tahu luar dalam suaminya.

Anti campur tangan
Seorang istri cerdas akan menguras pikirannya untuk mencari cara agar suaminya dapat tenang dan konsentrasi pada kegiatannya. Ia akan membiarkan suaminya berbuat dan mengerjakan pekerjannya tanpa ikut campur di dalamnya, jika suaminya menginginkan hal itu.

Rela memberikan waktu luas kepada suami untuk konsentrasi pada tugasnya
Seorang suami yang pandai adalah suami yang dapat memenuhi kewajiban tugas dan hak keluarga. Sedangkan istri yang cerdas adalah istri yang banyak legowo atas hak diri dan lebih mementingkan kemaslahatan keluarga. “Biarlah dia kurang memperhatikanku, asalkan keutauhan dan kemaslahatan keluarga terjaga dengan baik,” moto inilah yang biasa dipegang wanita terpelajar.

Belajar Menjadi Istri Yang Baik
Anda seorang gadis atau sudah bersuami maka tip dibawah ini sangat berguna bagi kaum hawa.
jika anda seorang istri atau akan menjadi seorang istri maka anda harus banyak belajar menjadi istri yg baik karena keharmonisan sebuah rumah tangga ada ditangan sang istri,langkah yg harus anda ambil adalah sebagi berikut :
1. Sang istri harus bersikap baik kepada suami dan jdkan suami raja bagi anda
2. Menjaga kerahasiaan rumah tangga
3. Tidak pernah menceritakan keburukan suami sama tetangga dan teman
4. Selalu bersifat ramah mudah senyum kepada suami
5. menghargai suami meskipun suami anda seorang pekerja murahan/pengangguran
6. Jagan pernah meninggikan suara anda terhadap suami
7. Selalu bersikap sabar
8. Hindarkan dari sifat menggosip
9. setiap suami pulang kerja harus mempersiapkan sekurang2nya sebuah senyuman dan
segelas air putih
10. selalu menerima apa adanya keadaan suami
11. selalu mngucapkan syukur alhamdullilah setiap diberi uang kepada suami berapapun
nilainya
12. Mengukur kemampuan suami
13. Tidak pernah pilih kasih antara keluarga anda dan suami
14. menjaga dan merawat bagian kewanitaan anda
15. selalu siap melayani suami saat suami ngajak berhubungan kapan aja dan jagan pernah mengucapkan kata males dan capek karena bisa-bisa suami anda nyari lawan tempur diluar kecuali anda sakit dan melahirkan.
pecahkan komplik dalam rumah tangga anda secara bersama2-sama dengan suami bukan dengan temen atau tetangga selesaikan secara dingin.

Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi (Shohibul Maulid )


Bismillahir Rahmanir Rahiim
Allahumma soli ala Sayyidina Muhammad wa ala ali Sayyidina Muhammad Wa ala ahli Bait

Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi dilahirkan pada hari Juma’at 24 Syawal 1259 H di Qasam, sebuah kota di negeri Hadhramaut.

Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya; ayahandanya, Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya; As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang solihah yang amat bijaksana.

Pendidikan Ibunda Habib Ali agar mencintai Rasulullah SAW

Di waktu umur Habibana ‘Ali bin Muhammad al-Habsyi 7 tahun, ibunda beliau memanggil beliau dan berkata,

“Yaa ‘Ali, engkau mau dapat ridlo ku tidak di dunia dan akhirat..?” “Iya, ya ummii..” Jawab beliau.

“Kalau engkau mau dapat ridlo dariku, ada syaratnya..!!” Kata ibunda Habib ‘Ali. “Apa syaratnya, ummi..??”

“Hmm.. Engkau harus bertemu dengan datukmu, Rosul Allah SAW.” Jawab ummi beliau.

Habib ‘Ali al-Habsyi yang masih kecil bingung. Dia tidak mengetahui bagaimana cara untuk bertemu dengan datuknya. Mulailah beliau mencari tahu dan belajar dengan guru-gurunya. Pergilah beliau ke salah satu tempat majelis Ulama, kemudian dia berkisah tentang permasalahannya untuk mendapat ridlo ibunya dengan cara seperti tadi. Lalu gurunya berkata,

“Yaa ‘Ali, kalau engkau ingin bertemu dengan Rosul Allah SAW maka engkau harus mencintai Beliau SAW dahulu dan tak akan ada rasa cinta jika engkau tak kenal dengan yang di cinta.”

Belajarlah beliau tentang sejarah Baginda Nabi SAW. Tidak hanya itu, setiap orang alim yang ada selalu di tanya tentang masalah ini. Walhasil, banyaklah guru beliau. Ada yang berkisah kalau guru beliau mencapai ribuan orang.

Nah.. seiring waktu berjalan, bertambahlah umur beliau sampai mencapai usia kurang lebih 20 tahun, beliau akhirnya bermimpi bertemu datuknya SAW. Begitu terbangun dari tidurnya, beliau langsung memberitahu ibunya.

“Yaa ummii… ‘Ali sudah bertemu Baginda Rosul Allah SAW.” Kata al-Habib ‘Ali sambil menangis haru. Tetapi, apa jawab ibunda beliau..!!!??

“Yaa ‘Ali, dimana engkau bertemu Beliau?”

“Di dalam mimpiku, Ummii.” Kata al-Habib ‘Ali.

“Yaa ‘Ali, pergi engkau dari hadapanku. Engkau bukan anakku…!!!!”

Menangislah beliau… Keinginan hati untuk menyenangkan sang ibu pupus sudah.

Dalam kegelisahannya, beliau kembali bertanya kepada guru-gurunya, namun tak satupun dapat menjawabnya. Mengapa ibu beliau justru marah setelah mendapat laporan beliau tentang mimpinya.

Pada suatu malam beliau kembali bermunajah untuk dapat bertemu datuknya SAW. Larut dalam tangisan tengah malam, al-hasil tidurlah beliau. Dan al-Hamdulillah beliau kembali beremu dengan datuknya SAW.

“Yaa Jiddy (Kakek ku), Yaa Rosul Allah SAW.. Anakmu ini ingin menanyakan tentang perihal ummii.” Kata al-Habib ‘Ali kepada Rosul Allah SAW.

“Duhai ‘Ali anakku, sampaikan salamku kepada ibumu..” Jawab Rosul Allah SAW di dalam mimpinya al-Habib ‘Ali.

Begitu bangun, beliau langsung mengetuk pintu kamar umminya sambil menangis tersedu-sedu.

“Duhai Ummii, anakmu telah bertemu lagi dengan Baginda Rosul Allah SAW dan Beliau kirim salam kepada Ummii.” Kata al-Habib ‘Ali.

Tiba-tiba dari kamar, ibunda beliau keluar dan berkata,

“Yaa ‘Ali, kapan dan dimana engkau bertemu datukmu SAW..??” Tanya ibunda al-Habib ‘Ali

“Aku bertemu beliau di dalam mimpiku.” Jawab al-Habib ‘Ali dengan tangisan yang tak putus-putus.

“Pergi dari hadapanku ya ‘Ali…!!! Engkau bukan anakku..!!” Jawabnya. Jawaban sang ibu benar-benar meruntuhkan hati al-Habib ‘Ali. Kemudian pintu kamar ibunda al-Habib ‘Ali al-Habsyi tertutup lagi, meninggalkan beliau seorang diri.

Esok harinya beliau mengadu kembali kepada guru-gurunya namun tak satupun dari mereka yang dapat menenangkan hati beliau. Semakin hari kegelisahannya semakin menjadi-jadi, setiap detik setiap saat beliau terus-terusan mengadu dan bermunajah serta bertawajjuh kepada Allah dan Rosul Allah SAW. Tibalah suatu malam, beliau hanyut jauh ke dalam lautan munajah dan mahabbah yang amat sangat dahsyat kepada Nabi SAW. Kemudian beliau sujud yang sangat lama, tiba-tiba dalam keadaan sujud beliau mendengar suara yang lemah lembut,

“Yaa ‘Ali, angkat kepalamu..!!! Datukmu ada di mata zhohirmu.” Begitu al-Habib ‘Ali al-Habsyi mengangkat kepalanya seraya membuka kedua pelupuk matanya perlahan-lahan, bergetarlah seluruh tubuh Habibana ‘Ali. Beliau menangis dan berkata,

“Marhaba bikum Yaaa Jiddii, Yaa Rosul Allah..”

Ternyata sosok tersebut adalah Rosul Allah SAW berada di hadapan al-Habib ‘Ali. Kemudian Rosul Allah SAW berkata, “Duhai anakku, sampaikan salamku kepada ummi mu dan katakan kepadanya kalau aku menunggunya di sini..!!”

Seolah-olah gempa. Bergetar sekujur tubuh al-Habib ‘Ali al-Habsyi, beliau merangkak ke kamar ibundanya.

“Yaa ‘Ummi, aku telah bertemu kembali dengan Rosul Allah SAW dengan mata zhohirku dan Beliau menunggu Ummi di kamar ‘Ali..”

Ibunda beliau membuka pintu kamarnya seraya berkata, “Ini baru anakku engkau telah mendapat ridlo dari ku.”

Masya Allah.. Inilah didikan dari seorang ibu kepada anaknya untuk mencintai Rosul Allah SAW.

Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Quran dan berhasil menguasai ilmu-ilmu zahir dan batin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu. Oleh karenanya, sejak itu, beliau diizinkan oleh para guru dan pendidiknya untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai, sehingga dengan cepat sekali, dia menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadanya diserahkan tampuk kepimpinan tiap majlis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.

Selanjutnya, beliau melaksanakan tugas-tugas suci yang dipercayakan padanya dengan sebaik-baiknya. Menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu, di samping membangkitkan semangat mereka dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.

Untuk menampung mereka, dibangunnya Masjid “Riyadh” di kota Seiwun (Hadhramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi keperluan mereka, termasuk soal makan-minum, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tenteram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari.

Bimbingan dan asuhan beliau seperti ini telah memberinya hasil kepuasan yang tak terhingga dengan menyaksikan banyak sekali di antara murid-muridnya yang berhasil mencapai apa yang dicitakannya, kemudian meneruskan serta menyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh, bukan sahaja di daerah Hadhramaut, tetapi tersebar luas di beberapa negeri lainnya – di Afrika dan Asia, termasuk di Indonesia.

Di tempat-tempat itu, mereka mendirikan pusat-pusat dakwah dan penyiaran agama, mereka sendiri menjadi perintis dan pejuang yang gigih, sehingga mendapat tempat terhormat dan disegani di kalangan masyarakat setempat. Pertemuan-pertemuan keagamaan diadakan pada berbagai kesempatan. Lembaga-lembaga pendidikan dan majlis-majlis ilmu didirikan di banyak tempat, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan dalam ruang lingkup yang luas sekali.

Beliau meninggal dunia di kota Seiwun, Hadhramaut, pada hari Ahad 20 Rabi’ul Akhir 1333 H dan meninggalkan beberapa orang putera yang telah memperoleh pendidikan sebaik-baiknya dari beliau sendiri, yang meneruskan cita-cita beliau dalam berdakwah dan menyiarkan agama.

Di antara putera-putera beliau yang dikenal di Indonesia ialah puteranya yang bongsu; Al-Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, pendiri Masjid “Riyadh” di kota Solo (Surakarta). Dia dikenal sebagai peribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah-lembut, sopan-santun, serta ramah-tamah terhadap siapa pun terutama kaum yang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan sebagainya. Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tamu dari berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian dan pertemuan-pertemuan keagamaan. Beliau meninggal dunia di kota Palembang pada tanggal 20 Rabi’ul Awal 1373 H dan dimakamkan di kota Surakarta.

Banyak sekali ucapan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang telah dicatat dan dibukukan, di samping tulisan-tulisannya yang berupa pesan-pesan ataupun surat-menyurat dengan para ulama di masa hidupnya, juga dengan keluarga dan sanak kerabat, kawan-kawan serta murid-murid beliau, yang semuanya itu merupakan perbendaharaan ilmu dan hikmah yang tiada habisnya.

Dan di antara karangan beliau yang sangat terkenal dan dibaca pada berbagai kesempatan di mana-mana, termasuk di kota-kota di Indonesia, ialah risalah kecil ini yang berisi kisah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan diberinya judul “Simtud Duror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar (Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama; Akhlak, Sifat dan Riwayat Hidupnya)

.

Dipetik dari: Untaian Mutiara – Terjemahan Simtud Duror oleh Yang Mulia al Habib Anis bin Alwi bin Ali Al-Habsyi (fay)

‘Aqad, ‘Ahad dan Bai’at menurut Al-Qur’an dan Sunnah


Bismillahir rahmanir rahiim

Untuk masalah ‘Aqad kita perhatikan firman Allah dibawah ini :

: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. (Q.S. Al-Maidah: 1)

Perkataan ‘aqad dalam ayat ini bermakna  suatu perjanjian yang melibatkan lebih dari satu golongan. Menurut Imam Raghib, ‘aqad yang dimaksudkan di dalam ayat ini mengandung tiga makna, yaitu :

  • ‘Aqad  di antara Allah dan manusia, yaitu kewajiban-kewajiban yang telah dibebankan kepada manusia.
  • ‘Aqad di antara manusia dan jiwanya.
  • ‘Aqad di antara sesama manusia.

Firman Allah :

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (Q.S. An-Nahl: 91-92)

Di dalam ayat di atas, ‘aqad manusia dengan Allah merupakan ‘aqad yang paling penting sekali. Maksudnya manusia diwajibkan melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya.

Firman Allah :

“Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya).” (Q.S. Al-Ahzab: 23)

Di dalam ayat di atas, ‘aqad manusia dengan Allah disebut ‘ahad. Demikian juga kebanyakan penggunaan ‘ahad di dalam Al-Qur’an berkaitan dengan janji manusia kepada Allah. Perkataan ‘ahad ini juga digunakan dalam konteks jual beli atau bai’at seperti firman Allah :

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (Q.S. At-Taubah: 111)

Oleh karena pentingnya seorang mu’min itu senantiasa berpegang teguh dengan ‘ahadnya kepada Allah, maka Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita sebuah do’a  yang juga merupakan Sayyidul Istighfar : “Allahumma anta Rabbi Laa ilaaha illa anta khalaqtanii wa ana abduka wa ana ‘alaa ahdika wa wa’dika – Mastatho’tu A-‘uudzubika minsyarrimaa shona’tu abuu-ulaka bini’matika ‘alayya wa abuu-‘u bidzambii faghfirlii fainnahu Laa yaghfirudz-dzunuu-ba illa anta” (“Yaa Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan yang berhak kusembah kecuali hanya Engkau sendiri. Telah Engkau jadikan aku dan aku ini adalah hamba-Mu, dan berusaha sekuat tenaga untuk setia memegangangjanji (‘ahad)-Mu.Aku berlindung kepada-Mu daripada kejahatan yang terlanjur yang telah aku lakukan. Aku menyadari akan segala nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan aku tahu pula akan dosaku, maka ampunilah kiranya aku, karena sesungguhnya tiadalah yang mengampuni dosaku itu hanya Engkau.”) (H.R. Bukhari)

‘Aqad manusia sesama manusia merupakan satu perkara yang telah diutamakan sejak awal pertumbuhan Islam yang pertama. Di dalam al-Qur’an Allah telah menetapkan dasar-dasar bagi membina sebuah masyarakat Islam. Di antara dasar yang disebutkan berkenaan ‘ahad adalah ;

“. . . . Dan penuhilah janji (‘ahad) sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.” (Q.S. Al-Israa’: 34)

Memenuhi perjanjian atau ‘ahad bukan saja merupakan tuntutan moral antara individu-individu, tetapi ia juga menjadi dasar semua urusan dalam dan luar bagi ummat Islam dan sistem pemerintahan Islam. Jelas dari dasar ini bahwa pelaksanaan perjanjian antara sesama manusia sebagai individu atau kumpulan adalah penting hingga ia menjadi salah satu dasar bagi pembinaan sebuah negara Islam.

Dalam konteks ‘aqad antara manusia dengan manusia, bai’at adalah satu sumpah setia yang merupakan ‘aqad untuk melakukan ketha’atan. Apabila seseorang itu telah melakukan bai’at kepada seorang pemimpin ia sebenarnya telah membuat satu ‘aqad dengan pemimpin itu. Ini berarti ia telah memberikan urusan dirinya dan muslim lain kepada pemimpin tersebut. Ia juga berjanji tidak akan merebut kekuasaan dari pemimpin tadi, akan senantiasa menaatinya serta melaksanakan semua tugas-tugas yang diberikan oleh pemimpin tadi.

Ta’rif bai’at secara umum adalah “al-‘ahad ‘ala at’-ta’ah” atau satu perjanjian untuk tha’at. Seorang yang memberi bai’at, atau mubayyi’ itu membuat ‘ahad (perjanjian) kepada pemimpin agar pemimpin itu mengurusi urusannya di dalam jama’ah dan ia tidak akan mempertikaikan kedudukan pemimpin  itu. Mubayyi’ itu akan mentaati pemimpin dalam keadaan senang atau susah.

Jika dilihat dari segi hukum syara’ bai’at mengandung tiga perkara :

1)     Bai’at dilakukan menurut batas kemampuan seseorang.

2)     Adalah sunnah bagi seorang pemimpin meminta bai’at dari jama’ahnya.

3)  Apabila seorang muslim telah membuat bai’at, maka wajib baginya untuk memenuhi bai’at tersebut.

Ketiga perkara ini didasarkan kepada keterangan-keterangan berikut : “Dari Abdullah Ibn Umar, katanya : “Apabila kami memberi bai’at kepada Rasulullah SAW, baginda akan mengarahkan kamu menyatakan sebanyak yang kamu mampu.”

Dari Junadah bin Abi Umayyah, katanya : “Kami menziarahi Ubaidah bin as-Samit semasa ia sakit. Kami berkata : “Semoga Allah memberi kesehatan kepadamu. Bolehkah engkau beritahu kami hadits dari Rasulullah SAW yang boleh memberi manfaat kepada engkau. Ia berkata : Rasulullah SAW menyeru kami dan kami memberi bai’at masuk Islam kepadanya, di antara syarat-syarat yang terkandung di dalam bai’at itu adalah kami hendaklah dengar dan taat kepada perintahnya di masa kami kuat dan lemah, di masa kami susah dan senang dan untuk mentaati pemimpin kami serta memberi kepadanya hak-haknya, dan tidak memeranginya kecuali ia melakukan kekufuran yang kami mempunyai bukti-buktinya.”

Riwayat di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW menjemput manusia untuk memberi bai’at kepadanya. Siddiq Hasan Khan, seorang faqih (ahli fiqih) dan muhaddits (ahli hadits) menerangkan riwayat ini sebagai berikut : “Hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa meminta ba’ah dari sahabat itu adalah sunnah dan memberi bai’at kepada orang lain itu juga adalah sunnah, tetapi memenuhi bai’at selepas membuatnya adalah wajib dan memecahkan bai’at adalah maksiat.”

Bai’at hendaklah dilakukan dengan hati yang penuh ikhlas karena ia bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk kepentingan jama’ah. Rasulullah SAW menjelaskan salah satu dari tiga golongan manusia yang Allah tidak berkata-kata padanya di hari  qiamat  adalah : “Seseorang yang memberi bai’at kepada seorang imam semata-mata untuk faedah dunia, jika imam itu memberikan apa yang dikehendakinya, maka ia akan mentaati imam tersebut, tetapi jika imam itu tidak memberi apa yang dikehendakinya maka ia tidak akan memenuhi bai’atnya.” (H.R. Bukhari)

Demikianlah, pentingnya bai’at antara manusia kepada manusia lain menurut syari’at Islam. Siapa yang memecahkan bai’at dalam urusan apapun akan dianggap melakukan maksiat. Besar atau kecil maksiat yang dilakukan bergantung kepada perkara dan syarat-syarat yang dibai’atkan.

Perjanjian di antara manusia dalam apa bentuknya boleh diperbarui. Hal ini sama dengan bai’at yang boleh diulang dari masa ke masa. Tikrar al-Bai’at atau memperba rui bai’at merupakan amalan Rasulullah SAW terhadap sahabatnya.

Dari Salamah Ibn al-Akwa’, katanya : “Kami berbai’at kepada Rasulullah SAW di bawah pohon, beliau berkata : “Ya Salamah ! Tidakkah engkau hendak memberi bai’at ?” Aku menjawab : “Ya Rasulullah, aku pun telah memberi bai’at kepadamu dahulu.” Ia berkata : “Berilah untuk kali kedua.”

Melakukan bai’at berulangkali di dalam jama’ah adalah dibenarkan karena ini adalah berdasarkan kepada sunnah Rasulullah SAW. Tindakan ini baik karena akan selalu memperingatkan anggota jama’ah terhadap tugas-tugas dan tanggung jawabnya di dalam jama’ahnya (organisasi).

Talqin dan Bai’at dalam Pengukuhan

“Talqin” adalah merupakan peringatan guru kepada murid, sedang “bai’at” atau juga disebut ‘ahad dalam hal ini adalah  merupakan ikrar atau janji murid untuk sanggup dan setia dalam ketha’atannya mengamalkan segala kebajikan yang diperintahkan kepadanya.

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani bahwa Rasulullah SAW pernah mentalqinkan sahabat-sahabatnya secara berombongan atau perseorangan. Talqin berombongan pernah diceritakan oleh Syaddad bin ‘Aus ; Bahwa suatu ketika kami berada dekat Rasulullah, beliau bersabda : “ Apa adakah diantara kamu orang asing ? maka jawab saya : Tidak ada “.  Lalu Rasulullah menyuruh menutup pintu dan berkata : Angkat tanganmu dan ucapkanlah Laa Ilaaha Illallah, seterusnya beliau bersabda : Segala puji bagi Allah, wahai Tuhanku Engkau telah mengutus aku dengan kalimat ini dan Engkau menjadikan dengan ucapannya karunia syurga kepadaku dan bahwa Engkau tidak sekali–kali menyalahi janji. Kemudian Rasulullah berkata pula : Belumkah aku memberikan kabar gembira kepadamu bahwa Allah telah mengampuni kamu semua ? Maka bersabdalah Rasulullah SAW : “ Tidak ada segolongan manusiapun yang berkumpul dan melakukan dzikrullah dengan tidak ada niat lain melainkan untuk Allah semata-mata, kecuali nanti akan datang suara dari langit . Bangkitlah kamu semua, dosamu sudah diampuni dan sudah ditukar kejahatan yang lampau dengan kebajikan “.

Oleh karena itu Allah berfirman :

“Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah kamu dengan bai’atmu, yang kamu lakukan itu adalah kejayaan yang agung.” ( Q.S. At-Taubah: 111 ).

Tentang bai’at perseorangan pernah diceritakan oleh Yusuf Al-Kurani dan teman-temannya dengan sanad yang syah bahwa Sayyidina Ali ra bertanya kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku jalan yang sedekat-dekatnya kepada Allah dan yang semudah-mudahnya  dan yang paling utama dapat ditempuh oleh hamba-Nya ? Maka bersabdalah Rasulullah : “ Hendaknya kamu lakukan dzikrullah yang kekal dan ucapan yang paling utama yang pernah kulakukan dan dilakukan  oleh Nabi-Nabi sebelum aku yaitu Laa Ilaaha Illallah. Jika   ditimbang dengan tujuh petala langit dan bumi dalam satu daun timbangan dan kalimat Laa Ilaaha Illallah dalam satu timbangan yang lainnya, maka kalimat Laa Ilaaha Illallah akan lebih berat. Kemudian ia berkata : Wahai ‘Ali tidak akan datang kiamat jika diatas muka bumi ini masih ada orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah. Sayyidina ‘Ali berkata : Bagaimana caranya aku berdzikir  ya Rasulullah ? Nabi menjawab : Pejamkan kedua matamu dan dengar aku mengucapkan tiga kali kemudian engakau ucapkan tiga kali juga sedangkan aku mendengarkannya. Maka berkatalah Rasulullah : Laa Ilaaha Illallah tiga kali, sedangkan kedua matanya dipejamkan, dan suaranya dikeraskan serta ‘Ali mendengarnya. Kemudian ‘Ali mengucapkan : Laa Ilaaha Illallah seperti yang Rasulullah ucapkan sedangkan Rasulullah mendengarkannya “.

Demikian cara talqin dzikir yang disampaikan oleh ‘Ali bin Abi Thalib ra.

Kemudian pengertian “ Pengukuhan “ disini adalah penegasan, pengakuan atau pengesahan yang diiringi dengan Talqin Guru dan Ikrar/Janji ( Bai’at ) murid. Dengan adanya pengukuhan ini akan terjadi ikatan bathin yang kuat antara Murid dengan Guru ( sebagai pemimpin dan pembimbing jama’ah ) yang akhirnya akan melahirkan pribadi yang setia dan tha’at karena Allah swt.

Saidina Umar ra menegaskan : “ Tidak ada Islam tanpa jama’ah, tidak ada Jama’ah tanpa Pemimpin, dan tidak ada Pemimpin tanpa adanya ketha’atan “

Pengukuhan bagi Jama’ah Tarekat Qodiriyah sangat berharga dan berarti, terutama dalam hal memperoses dan membenahi diri dengan menjalankan program-program amalan dan dzikir yang dilaksanakan secara terpadu, terbimbing, dan berkesinambungan, yang akhirnya akan lahir pribadi mu’min yang sejati dengan jiwa tauhid dan ikhlas dalam beribadah kepada Allah swt. Sehingga rahmat dan perlindungan Allah selalu menaunginya, jadilah ia orang yang tenang, damai, yakin dan berani dalam kebenaran.

Prosesi Pengukuhan

Prosesi pengukuhan terdiri dari 3 (tiga) tahapan di antaranya :

Tahap pertama, disebut dengan tahap persiapan sebelum dikukuhkan.

Calon anggota jama’ah yang akan dikukuhkan sebelumnya harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

a.   Terdaftar sebagai anggota jama’ah dan memenuhi syarat-syarat administrasi (untuk pendataan dan ketertiban).

b.   Melaksanakan ibadah-ibadah khususnya shalat lima waktu dan menjalankan amalan dan zikir untuk persiapan pengukuhan.

c.   Bersedia dan siap untuk dikukuhkan tanpa ada unsur paksaan dari pihak manapun (ikhlas dalam pengukuhan).

Tahap kedua, disebut dengan tahap pengukuhan.

Anggota jama’ah yang sudah memenuhi syarat-syarat ditahap pertama maka akan diadakan proses pengukuhan dengan cara sebagai berikut :

a.  Sebelum proses pengukuhan berlangsung guru pembimbing memberikan beberapa arahan dan peringatan (talqin) kepada murid yang akan dikukuhkan tentang segala hal yang menyangkut persoalan pengukuhan.

b.   Kemudian guru pembimbing menanyakan kepada calon anggota jama’ah yang akan dikukuhkan apakah bersedia serta ikhlas untuk menerima pengukuhan. Jika seandainya calon anggota jama’ah bersedia untuk menerima pengukuhan maka guru pembimbing akan menanyakan apakah calon anggota jama’ah juga bersedia untuk berikrar (berbai’at).

c.    Jika hal tersebut sudah diterima oleh calon anggota jama’ah maka guru pembimbing selanjutnya membaca : Surat Al-Fatihah, Shalawat Munjiyat, Zikir Asma Al-Mu’min  dan  Surah Al-Fath ayat 10 yang artinya :

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia (berbai’at) kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (Q.S. Al-Fath : 10)

Selanjutnya calon anggota jama’ah membacakan ikrar (janji) di hadapan guru pembimbing diantaranya yang berisi :

  1. Tidak mensekutukan Allah dengan apapun.
  2. Berusaha menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
  3. Berbakti kepada kedua orang tua, setia dengan guru pembimbing dan mengamalkan ajaran yang diberikan oleh guru pembimbing.
  4. Bersedia menjaga nama baik jama’ah Nur Al-Mu’min kapan dan dimanapun berada.
  5. Bersedia untuk mentaati prinsip-prinsip anggota jama’ah Nur Al-Mu’min.

d.   Setelah pembacaan ikrar (janji) barulah guru pembimbing melaksanakan pengukuhan diantaranya memberikan Amalan Al-Mu’min, Membuka Latifah/Rohani dan selanjutnya memasukkan Washilah atau Thariqat Al-Mu’min sebagai jalan atau kendaraan untuk berjalan menuju Allah, kemudian bersama-sama mengucapkan kalimah Laa Ilaaha Illallah 3 X dan ditutup dengan Muhammadarra suulullahi Shallallahu ’alaihi wasallam.

e.   Setelah pengukuhan dilaksanakan maka guru pembimbing akan menutup dengan do’a, kemudian diakhiri dengan membaca do’a alhir majelis dan  ucapan selamat dari jama’ah yang hadir menyaksikan proses pengukuhan.

Tahap ketiga, disebut dengan tahap setelah pengukuhan.

a.   Setiap anggota jama’ah yang telah dikukuhkan akan mendapat beberapa pedoman atau panduan amalan dan dzikir yang akan dilaksanakan / diamalkan di dalam kehidupannya sebagai ibadah taqarrub kepada Allah.

b.   Amalan-Amalan atau Dzikir-Dzikir yang diberikan wajib dijalankan dengan mengikuti petunjuk atau aturan yang diberikan oleh pembimbing.

c.     Amalan atau Dzikir akan diberikan secara bertahap sesuai dengan tahapan amalan yang dijalankan oleh anggota jama’ah yang telah dikukuhkan

Shalawat


Bismillahir Rahmanir rahiim

Allahumma sholi ala Syaidina Muhammadin Wa’ala ali Syaidina Muhammadin wa’ala Ahli Bait

Agar kita mengetahui dengan terang dan pasti apakah kedudukan “shalawat” adalah bagian daripada keimanan, perhatikanlah ayat-ayat Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an yang disebutkan di bawah ini :

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al-Ahzab: 56)

Sabda Rasulullah SAW : “Bershalawatlah kamu kepada-Ku, karena shalawatmu itu menjadi zakat penghening jiwa pembersih dosa) untukmu.” (H.R. Ibnu Murdaweh, Al-Jami’)

Dari firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW di atas menegaskan dengan setegas-tegasnya bahwa bershalawat untuk Nabi adalah salah satu bagian dari keimanan yang wajib disempurnakan oleh segala kaum Muslimin dengan sepenuh hatinya.

Abu Hurairah ra berkata : “Saya mendengar Nabi SAW bersabda : Janganlah kamu menjadikan rumah-rumahmu sebagai kubur dan janganlah kamu menjadikan kuburku sebagai persidangan hari raya. Bershalawatlah kepadaku, karena shalawatmu sampai kepadaku dimana saja kamu berada.” (H.R. An Nasaiy, Abu Dawud dan Ahmad serta dishahihkan oleh An Nawawi)

Hadits ini menyatakan bahwasanya Nabi menyuruh kita bershalawat untuknya serta menyatakan bahwa shalawat kita itu sampai kepadanya dimana saja kita berada. Selain dari itu Nabi melarang kita mengosongkan rumah kita dari shalawat dan zikir, sebagaimana Nabi melarang kita menjadikan kuburnya tempat berkumpul dan bersuka ria apabila kita menziarahinya, karena shalawat kita sampai kepadanya di mana saja kita membacanya.

Maka sudah terang bahwa shalawat adalah bagian dari agama yang merupakan ibadah, hendaklah kita para ummat melaksanakannya dengan sebaik-baiknya, menurut petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Rasulullah SAW sendiri, ditempat-tempat yang dikehendaki oleh syara’ dan di waktu-waktu yang perlu kita bershalawat, baik yang khusus maupun yang umum. Perintah ayat yang tersebut di atas, dikuatkan lagi oleh dua buah hadits yang telah kita sebutkan diatas, sesudah ayat itu.

Diterangkan oleh Abu Dzar Al Harawy, bahwa perintah shalawat ini terjadi pada tahun kedua Hijriyah. Ada yang berkata pada malam Isra’ dan ada pula yang berkata dalam bulan Sya’ban. Dan oleh karena itulah bulan Sya’ban dinamai dengan “Syahrush Shalati” karena dalam bulan itulah turunnya surah Al-Ahzab ayat 56.
Pengertian Shalawat

“Shalawat”, berarti “doa, memberi berkah, dan ibadah.”

Maka shalawat Allah kepada hamba-Nya dibagi dua : khusus dan umum.

Shalawat khusus, ialah shalawat Allah kepada Rasul-Nya, Nabi-nabi-Nya, istimewa shalawat-Nya kepada Nabi Muhammad SAW.

Shalawat umum ialah shalawat Allah kepada hamba-Nya yang mu’min.

Sesudah itu haruslah diketahui arti perkataan “Shalawat Allah kepada Muhammad SAW”, Rasul-Nya yang penghabisan, ialah “memuji Muhammad, melahirkan keutamaan dan kemuliaannya, serta memuliakan dan mendekatkan Muhammad itu kepada diri-Nya.”

Adapun pengertian kita “bershalawat kepada Nabi”, ialah : “Mengakui kerasulannya serta memohon kepada Allah semoga Allah memberikan keutamaan dan kemuliaannya.”

Maka setelah memperhatikan makna shalawat dan kewajiban kita bershalawat kepada Nabi, kita memperoleh pengertian bahwa kita berkewajiban untuk berusaha mengembangkan cita-cita Muhammad agar agama Islam tersebar merata ke segala pelosok alam.

Karena itu, kita tidak dipandang telah bershalawat dengan sepenuhnya sebelum kita disamping menyebut lafaz shalawat, melancarkan pula usaha-usaha pengembangan agama Islam. Tegasnya, di samping kita mengucapkan shalawat kita wajib untuk berusaha sekuat tenaga sesuai dengan kemampuan kita menyebarkan agama Islam di dunia ini.

Demikian juga pengertian shalawat malaikat kepada Nabi. Yakni, memohon kepada Allah supaya Allah mencurahkan perhatian-Nya kepada Nabi (kepada perkembangan agama), agar meratai alam semesta yang luas ini.

Berkata Al-Hulaimy dalam Asy-Syu’ab : “Makna shalawat kepada Nabi ialah membesarkannya. Karena itu, arti Allahumma shalli ‘ala Muhammadin, ialah Allahumma’adhim Muhammadan (Ya Tuhanku, besarkan dan muliakanlah kiranya akan Muhammad), dengan menambah berkembangnya agama yang dibawanya, dengan meninggalkan sebutannya, dengan mengekalkan syariatnya di dunia dan dengan menerima syafa’atnya terhadap ummatnya, serta memberikan washilah dan maqam mahmuda kepadanya di akhirat.

Tegasnya, pengertian “shallu ‘alaihi (bershawalatlah kepadanya),” ialah : “Ud’u rabbakum bish-shalati ‘alaihi (mohonlah kepada Tuhanmu supaya melimpahkan shalawat kepadanya).”


Fungsi Shalawat

Pengarang Syarah Dalaa’il menukil pernyataan yang diberikan oleh Qadhi ‘Iyadh di dalam kitab Asy-Syifa, mengatakan : “Maksud pembacaan shalawat dalam pembukaan segala sesuatu itu adalah untuk :

a. Bertabarruk (memohon keberkatan), sesuai dengan sabda Nabi SAW : “Setiap perbutan penting yang tidak dimulai dengan menyeut nama Allah dan bershalawat kepadaku, niscaya perbuatan tersebut kurang sempurna.”

Tentang maksud hadits ini, sebagian ahli hadits meriwayatkan sebuah hadits dari salah seorang sahabat, Abu Saad ra, bahwa makna ayat tersebut adalah : “Tiadalah Aku (Allah) disebut, melainkan engkau (Muhammad) pun disebut pula bersama-Ku.”

b. Memenuhi sebagian hak Rasulullah SAW, sebab beliau adalah perantara antara Allah SWT dan hamba-hamba-Nya. Semua nikmat yang diterima oleh mereka, termasuk nikmat terbesar berupa hidayah kepada Islam, adalah dengan perantaraan dan melalui Rasulullah SAW. Di dalam salah satu hadits, Rasulullah SAW bersabda : “Belumlah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.”

c. Memenuhi perintah Allah SWT yang dituangkan-Nya di dalam firman-Nya :

“Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi, dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Perbedaan Pendapat Penambahan Kata Sayyidina pada Shalawat

Al-Madju Al-Lughawiy menyebutkan di dalam kitab Al-Qaulul Badi’ sebagai berikut : “Kebanyakan orang mengucapkan shalawat dengan tambahan kata “Sayyidina” sebelum nama Baginda Nabi SAW, seperti ‘Allahumma shalli ‘alaa Sayyidina Muhammad’.

“Dalam kaitan ini perlu dijelaskan, pembacaan shalawat dengan tambahan kata “Sayyidina” itu tidak dilakukan di dalam shalat, karena mengikuti lafaz yang telah disebutkan dalam hadits-hadits yang sahih. Sedangkan di luar shalat, Rasulullah SAW mengingkari menyebut namanya dengan tambahan “sayyidina” itu. Hal ini mungkin karena dua sebab : pertama karena tawadhu (kerendahan hati) beliau, dan kedua karena beliau tidak mau dipuji atau disanjung secara langsung, atau karena sebab-sebab yang lain. Padahal, Nabi SAW sendiri telah menyatakan di dalam salah satu haditsnya, yang artinya : ‘Aku adalah sayyid (penghulu) manusia.’ Dan sabdanya tentang Hasan, cucunya : ‘Sesungguhnya puteraku ini adalah sayyid’. Dan sabda baginda untuk Saad bin Mu’az ra : ‘Berdirilah untuk Sayyid kalian !’

“Hadits-hadits tersebut di atas menunjukkan dengan jelas tentang kebolehan hal tersebut, sedangkan mengenai larangan atas hal itu justru masih memerlukan dalil.”

Dan Asnawi di dalam kitab Al-Muhimmaat mengemukakan ucapan Syeikh Izzud-din bin Abdus-salam, ia berkata : “Pada prinsipnya pembacaan shalawat di dalam tasyahhud itu hendaklah ditambah dengan lafaz “sayyidina”, demi mengikuti adab dan menjalankan perintah. Atas yang pertama hukumnya mustahab (sunnah).

Rasulullah SAW bersabda : “Katakanlah oleh kalian : Allahumma shalli ‘alaa Muhammad.”

Dan sahabat Ibnu Mas’ud mengemukakan sebuah hadits yang bunyinya : “Perbaguslah shalawat kepada Nabimu.”

Imam Ramli dan Imam Ibnu Hajar sepakat, bahwa penambahan lafaz “sayyidina” dalam shalawat atas Nabi SAW, baik dalam shalat maupun di luar shalat, hukumnya sunnah.

Dan ketika Imam Suyuthi ditanya orang tentang hadits yang artinya : “Janganlah kamu men-sayyid-kanaku dalam shalat !”, beliau menjawab : “Sebenarnya Rasulullah tidak menambahkan kata ‘sayyidina’ ketika mengajarkan shalawat kepada para sahabatnya, disebabkan oleh ketidaksukaan beliau pada kemegahan. Karena itulah dalam salah satu hadits, beliau mengatakan : ‘Aku adalah sayyid (penghulu) manusia, dan tidak angkuh.’

“Tetapi kita, sebagai ummatnya, wajib menghormati dan mengagungkan beliau. Hal itu telah diajarkan Allah kepada kita dalam firman-Nya, yang melarang kita menyebut Rasulullah SAW dengan nama saja, yakni :

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain).” (Q.S. An-Nuur: 63)

Tapi Menurut Pendapat Saya Penambahan Kata Sayyidina, bagi saya sebagai Umah Beliau intinya Penghormatan Kepada Beliau Junjungan Saya Sayyidina Muhammad Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.


Sebab Pahala Shalawat berlipat ganda

Imam Al-Ghazali di dalam kitab Ihya’-nya menga-takan: “Sesungguhnya berlipatgandanya pahala shalawat atas Nabi SAW itu adalah karena shalawat itu bukan hanya mengandung satu kebaikan saja, melainkan mengandung banyak kebaikan, sebab di dalamnya tercakup :

a.      Pembaharuan iman kepada Allah.

b.      Pembaharuan iman kepada Rasul.

c.      PengAgungan terhadap Rasul.

d.      Dengan inayah Allah, memohon kemuliaan baginya.

e.      Pembaharuan iman kepada Hari Akhir dan berbagai kemuliaan.

f.       Dzikrullah.

g.      Menyebut orang-orang yang saleh.

h.      Menampakkah kasih sayang kepada mereka.

i.        Bersungguh-sungguh dan tadharru’ dalam berdoa.

j.        Pengakuan bahwa seluruh urusan itu berada dalam kekuasaan Allah.

Inilah sepuluh kebaikan selain dari kebaikan yang disebutkan dalam syariat, bahwa setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuluh ganjaran, sedang satu kejahatan hanya dibalas dengan satu balasan saja.”

Diantara karunia Allah yang diberikan-Nya kepada Nabi-Nya itu adalah menggabungkan dzikir kepada-Nya, dengan dzikir kepada Nabi-Nya di dalam dua kalimat syahadat. Dan menjadikan ketaatan kepada Nabi sebagai ketaatan kepada-Nya, kecintaan kepada Nabi sebagai kecintaan kepada-Nya, juga mengaitkan pahala shalawat atas Nabi dengan pahala zikrullah Ta’ala, seperti firman Allah :

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu…..“ (Q.S. Al-Baqarah: 152)

Dan di dalam salah satu hadits qudsi disebutkan : “Jika hamba-Ku menyebut-Ku di dalam hatinya, maka Aku pun akan menyebutnya di dalam diri-Ku, dan jika ia menyebut-Ku di khalayak ramai, maka Aku pun akan menyebutnya di khalayak yang lebih baik dari khlayaknya.”

Begitu juga yang dilakukan Allah dalam hak Nabi kita SAW, yaitu membalas satu shalawat seorang hamba dengan sepuluh shalawat, dan satu salam dengan sepuluh salam.


Keutamaan Shalawat

Untuk mengetahui keutamaan apakah yang akan diperoleh orang-orang yang bershalawat kita perhatikan beberapa hadits di bawah ini :

a.  Barangsiapa bershalawat untukku sekali, maka Allah bershalawat untuknya sepuluh kali.” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah)

b. “Bahwasanya bagi Allah Tuhan semesta alam ada beberapa malaikat yang diperintah berjalan di muka bumi untuk memperhatikan keadaan hamba-Nya. Mereka menyampaikan kepadaku akan segala salam yang diucapkan oleh ummatku.” (H.R. Ahmad, An Nasaiy dan Ad Darimy Syarah Al Hishn)

c. “Barangsiapa bershalawat untukku di pagi hari sepuluh kali dan di petang hari sepuluh kali, ia akan mendapatkan syafa’atku pada hari qiamat.” (H.R. At Thabrany Al Jami’)

d. “Manusia yang paling utama terhadap diriku pada hari qiamat, ialah manusia yang paling banyak bershalawat kepadaku.” (H.R. At. Thurmudzy)

Apabila kita kumpulkan beberapa hadits yang menerangkan faedah-faedah shalawat dan kita perhatikan satu persatu, tersimpullah bahwa faedah bershalawat itu diantaranya :

  1. Satu kali shalawat, Allah akan membalas dengan 10 kali shalawat untuknya.
  2. Satu kali shalawat, Allah akan mengangkatnya dengan 10 derajat.
  3. Malaikat juga akan turut membaca shalawat ke atas orang yang membaca shalawat untuk Rasulullah SAW.
  4. Doa yang disertai dengan shalawat akan diperkenankan oleh Allah SWT tetapi doa yang tidak disertai dengan shalawat ianya akan tergantung di antara langit dan bumi.
  5. Akan mendapat tempat yang dekat dengan Rasulullah SAW di hari qiamat nanti.
  6. Akan mendapat syafa’at dari Rasulullah SAW di hari qiamat nanti.
  7. Allah akan memberikan karunia dan rahmat-Nya yang berlimpah-limpah kepada mereka yang bershalawat untuk Nabi SAW.
  8. Dapat membersihkan hati, jiwa dan ruh kotor yang berselaput di dalam dada.
  9. Dapat membuktikan kecintaan dan kasih sayang kita terhadap Rasulullah.
  10. Mewariskan kecintaan Rasulullah terhadap umatnya.
  11. Akan terselamat dan terpelihara dari segala apa yang mendukacitakan dari hal keduniaan maupun akhirat.
  12. Dengan membawa shalawat akan dapat mengingatkan kembali apa-apa yang telah kita lupa.
  13. Akan mendapat nur yang bersinar-sinar di hati bila kita bershalawat 100 kali dengan bersungguh-sungguh.
  14. Mendapat ganjaran pahala seperti memerdekakan seorang hamba bila kita bershalawat sebanyak 10 kali.
  15. Allah akan meluaskan dan melapangkan rezekinya dari sumber-sumber yang tidak diketahui.
  16. Allah akan memberatkan timbangan di hari qiamat nanti.
  17. Mendapat keberkatan dari Allah bagi dirinya dan juga untuk keluarganya.
  18. Mendapat kasih sayang dari hati-hati orang mu’min terhadapnya.
  19. Akan mendapatkan dirinya berada di Telaga Haudh (Telaga Rasulullah SAW) serta dapat pula meminumnya di hari qiamat nanti.
  20. Dapat melepaskan diri seseorang itu dari tergelincir semasa melalui sirat dan ia dengan selamat menuju ke surga.

Waktu Yang Baik Untuk Shalawat

Shalawat atas Nabi SAW itu disunnahkan untuk dibaca pada waktu-waktu yang telah dikemukakan oleh hadits-hadits, seperti :

1)     Sesudah menjawab adzan.

2)     Pada permulaan membaca doa, pertengahannya dan penutupnya.

3)     Pada akhir pembacaan doa qunut.

4)     Pada pertengahan takbir ‘ied.

5)     Ketika masuk dan keluar masjid.

6)     Ketika bertemu dan berpisah.

7)     Ketika berlayar dan datang dari pelayaran.

8)     Ketika bangun untuk melakukan shalat malam.

9)     Ketika selesai mengerjakan shalat.

10) Ketika selesai membaca Al-Qur’an.

11) Ketika mengalami kecemasan dan kesedihan.

12) Ketika membaca hadits, menyampaikan ilmu dan zikir.

13) Dan ketika lupa akan sesuatu

14) Ketika mencium hajar aswad di dalam thawaf.

15) Ketika membaca talbiyah.

16) Ketika telinga berdengung.

17) Sehabis wudhu.

18) Dan ketika menyembelih dan bersin.

Namun ada pula hadits yang melarang membacanya di dua waktu terakhir ini.

Selain itu, waktu-waktu yang khusus untuk dibacakan shalawat padanya berdasarkan nash adalah hari Jum’at dan malam Jum’at, sesuai dengan sabda Nabi SAW : “Perbanyaklah membaca shalawat pada malam Jum’at dan siang Jum’at, sebab pada ketika itu shalawat kamu diperlihatkan kepadaku.” (H.R. Al-Thabrany dari Abu Hurairah ra.)

Dan diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz ra, bahwa ia menulis : “Sebarkanlah ilmu pada hari Jum’at, sebab bencana ilmu itu adalah lupa. Dan perbanyaklah oleh kalian membaca shalawat atas Nabi SAW pada hari Jum’at.”

Dan Imam Syafi’i ra berkata  : “Aku suka membanyakkan membaca shalawat dalam setiap keadaan, pada malam dan siang Jum’at lebih aku sukai, karena ia merupakan hari yang paling baik.”

Wabillahi taufik walhidayah walinayah warahman wassalamualaikum warahmatullahi wabaraakatuh wamaghfirah


istighfar


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Untuk mengetahui kedudukan istighfar (memohon ampun dari dosa) dalam rangkaian pembinaan Iman dan Islam, kita perhatikan firman Allah SWT di bawah ini :
“Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdo`a: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka, (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta`at, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (Q.S. Ali Imran: 15-17)

Ayat ini tegas benar menyatakan sifat-sifat orang yang taqwa kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Mereka senantiasa mempergunakan waktu sahur untuk memohon kepada Allah semoga dosa-dosanya diampuni Allah. Maka dengan ayat ini nyatalah bahwa istighfar (memohon ampun dari segala dosa), termasuk salah satu rangka dari rangkaian Iman dan Islam, yang wajib ditegakkan oleh seluruh ummat. Memang Tuhan telah memerintahkan supaya para hamba beristighfar. Diantaranya perintah-Nya yang tersebut dalam ayat-ayat di bawah ini :

“Dan mohonlah ampunan kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (Q. S. Al-Muzammil: 20)

“maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (Q. S. An-Nashr:3)

Kedua ayat tersebut, menegaskan bahwa di antara tugas yang diperintahkan kepada ummat untuk melaksanakannya dengan sempurna dan sebaik-baiknya, ialah tugas “beristighfar” (memohon ampun kepada Allah dari segala dosa).

Sebenarnya memohon ampun itu adalah suatu hal yang tiada perlu kiranya untuk diperintahkan, karena tiap-tiap orang yang berdosa, dengan sendirinya, harus merasa perlu untuk beristighfar itu. Akan tetapi boleh jadi oleh karena sebahagian manusia mungkin sanksi tentang boleh atau tidaknya beristighfar itu, maka untuk menghilangkan kesanksian itu, Allah memerintahkannya dengan tegas sekali. Karena itu berbahagialah kiranya orang yang dapat mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.

Pengertian Istigfar

Istighfar itu ialah  : “Menundukkan jiwa, hati dan pikiran kepada Allah seraya memohon ampun dari segala dosa.” Demikianlah pengertian istighfar. Maka dengan memperhatikan pengertian istighfar itu, nyatalah bagi kita bahwa hanya semata-mata menyebut dengan lisan kalimah-kalimah Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah tidaklah ada gunanya, jika tidak disertai oleh hati dan pikiran yang bulat hendak beroleh ampunan dari Allah. Oleh karena itu, hendaklah istighfar itu dilakukan bersama-sama oleh lisan yang mengucapkannya dan oleh jiwa yang benar-benar tunduk dan harap akan beroleh ampunan.

Letak Istighfar

Istighfar itu letaknya sesudah bertaubat. Oleh karena itu hendaklah seseorang yang hendak memohon ampun dosanya, melaksanakan lebih dahulu faktor-faktor yang tersebut di bawah ini yaitu :

a.  Mencabut diri dari maksiat (meninggalkan maksiat).

b.  Menyesali perbuatan maksiat yang telah terlanjur dikerjakan.

c.  Bercita-cita tidak akan kembali melakukannya.

Sesudah yang tersebut itu dikerjakan dengan sejujurnya, barulah ia mempergunakan kesempatan istighfar itu. Allah berfirman :
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (Q.S. Thaahaa: 82)

Tempat Dan Waktu Istighfar

Rasulullah SAW telah menunjukkan kepada kita tempat-tempat dan masa-masa beristighfar. Maka seyognyalah kita menjaga tempat-tempat dan masa-masa itu, semoga apabila kita beristighfar, diperkenankan Allah juga hendaknya. Maka tempat-tempat dan masa-masa istighfar itu, ialah sebagai diterangkan di bawah ini :

a. Sepanjang hari, sepanjang malam.

Rasulullah SAW bersabda : “Bertaubatlah kamu kepada Allah, karena sesungguhnya aku sendiri bertaubat kepada-Nya tiap-tiap hari seratus kali.”

b. Sesudah mengerjakan suatu dosa.

Rasulullah SAW bersabda : “Tidaklah ada seseorang hamba yang ddosa, kemudian ia segera berwudhu’ sebaik-baiknya, sesudah itu mengerjakan sembahyang dua rakaat kemudian ia memohon ampun kepada Allah atas perbuatan dosanya itu melainkan Allah akan mengampuninya.” (H. R. Abu Daud)

c. Ketika hendak meninggalkan suatu majelis.

Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa duduk di dalam suatu majelis, dan terjadi di dalamnya kesibukan-kesibukan pembicaraan, lalu sebelum ia bangun hendak meninggalkan majelis itu ia membaca : “Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu anla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaika”. (Maha Suci Engkau wahai Tuhanku, seraya memuji Engkau, aku mengakui bahwa tak ada Tuhan yang sebenarnya berhak disembah kecuali Engkau, aku memohon ampun kepada Engkau dan aku bertobat kepada Engkau), niscaya Allah menutup dosanya yang terjadi di dalam majelis itu.” (H. R. At-Turmudzi)

d. Di kala sahur.

Rasulullah SAW bersabda : “Tuhan kita turun ke langit dunia pada tiap-tiap malam, yaitu waktu sepertiga yang akhir dari malam, seraya berfirman : Siapakah yang akan berdoa niscaya Aku perkenankan dan siapakah yang akan meminta, niscaya Aku memberinya dan siapakah yang akan meminta ampun niscaya Aku ampuni ?” (H. R. Muslim)

e. Di kala hendak tidur.

Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa membaca Astaghfirullaha‘lladzi laa ilaha illa huwa’l haiyu‘l qayyuum wa atuubu ilaihi. (Aku memohon ampun kepada Allah, yang tidak ada Tuhan selain-Nya, lagi berdiri sendiri dan aku bertobat kepada-Nya), tiga kali, niscaya diampunilah segala dosa-dosanya.” (H. R. At Turmudzi)

f. Disaat keluar dari WC.

Disaat  keluar dari WC, Rasulullah SAW selalu membaca Ghufraanaka (Aku memohon ampunan Engkau wahai Tuhanku). (H. R. Ibnu Majah)

g. Pada permulaan wudhu’ atau di pertengahannya.

h. Setelah selesai berwudhu’.

i. Ketika terbenam matahari.

j. Ketika masuk ke dalam masjid.

k. Ketika keluar dari masjid.

l. Sesudah bertakbiratu’l ihram.

m. Ketika ruku’, sujud, i’tidal, duduk antara dua sujud, dan sesudah tasyahud akhir.

n. Sesudah memberi salam di akhir sholat.

o. Ketika sholat jenazah. Yaitu memohon ampun untuk jenazah.

p. Sesudah menguburkan mayat. Yaitu memohon ampun untuk mayat yang telah dikuburkan itu.

Rasulullah SAW bersabda : “Mohonlah ampun kepada Allah untuk saudaramu yang telah dikuburkan ini dan mohonlah pula keteguhan dalam menjawab soal yang ditanyakan kepadanya karena dia sekarang sedang ditanyai.” (H. R. Abu Daud)

q. Ketika berjumpa dengan teman sejawat.

Rasulullah SAW bersabda : “Apabila berjumpa dua orang Muslim, kemudian keduanya berjabat tangan, sama memuji Allah dan sama memohon ampun kepada Allah, niscaya diampuni Tuhan kedua-duanya.”

“Apabila engkau berjumpa dengan seseorang yang baru pulang dari haji, ucapkanlah salam kepadanya dan jabatlah tangannya, kemudian mintalah kepadanya supaya ia memohon ampun untukmu kepada Allah sebelum ia masuk ke rumahnya, maka sesungguhnya permohonannya itu akan dikabulkan Tuhan.” (H. R. Abu Daud)

r. Ketika gerhana matahari.

Rasulullah SAW bersabda : “Maka apabila kamu melihat gerhana, segeralah kamu menyebut nama Allah, berdoa kepada-Nya dan memohon ampun.” (H. R. Bukhary)

s. Di akhir khutbah.

t. Ketika ditimpa kegundahan dan kegelisahan.

Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa membiasakan beristighfar kepada Allah, maka Allah melapangkan kesempatan mereka dan melenyapkan kegelisahan mereka.” (H. R. Abu Daud dan Ibnu Majah)

u. Ketika minta hujan.

Firman Allah SWT :

“maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, –sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun–, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Q.S. Nuh: 10-12)

Kalimah-Kalimah istighfar

Di antara bentuk-bentuk kalimah istighfar yang sering diucapkan sebagai berikut :

a.  Astaghfirullah, Astaghfirullah (Saya memohon ampun kepada Allah, saya memohon ampun kepada Allah)”.

b.  Astaghfirullahal’adhim (Saya mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung)”.

c.  Astaghfirullahal’adhim wa atuubu ilaih (Saya mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung dan bertobat kepada-Nya)”.

d.  Astaghfirullahal’adhim minkulli dzanbin wa atuubu ilaih (Saya mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung dari segala dosa dan bertobat kepada-Nya)”.

e.  Astaghfirullahal’adhim alladzii laa ila ha illa huwal hayyuul qayyuum wa atuubu ilaih (Saya mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung yang tiada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri dan saya bertobat kepada-Nya)”.

f.   Allahummaghfiratuka awsa’u min dzunuubi wa rahmatuka arjaa min ‘amalii (Wahai Tuhanku, ampunan Engkau sesungguhnya lebih luas dari dosa-dosaku, dan rahmat Engkau lebih kuharapkan dari amalku sendiri).”

g.  Rabbighfirlii wa tub ‘alayya innaka antatawwaabur rahiimWahai Tuhanku, ampunilah kiranya aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkaulah Tuhan yang maha menerima taubat lagi maha pengasih).” (

h.  Allahumma anta Rabbi Laa ilaaha illa anta khalaqtanii wa ana abduka wa ana ‘aala ahdika wa wa’dika – Mastatho’tu A-‘uudzubika minsyarrimaa shona’tu abuu-ulaka bini’matika ‘alayya wa abuu-‘u bidzambii faghfirlii fainnahu Laa yaghfirudz-dzunuu-ba illa anta (Wahai Tuhanku, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan yang berhak kusembah kecuali hanya Engkau sendiri. Telah Engkau jadikan aku dan aku ini adalah hamba-Mu, dan aku ini senantiasa di dalam genggaman dan ketetapan-Mu. Tidak adalah kesanggupan sedikit juapun padaku, aku berlindung kepada Engkau dari kejahatan-kejahatan apa yang telah kulakukan. Aku menyadari akan segala nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan aku tahu pula akan dosaku, maka ampunilah kiranya aku, karena sesungguhnya tiadalah yang mengampuni dosaku itu hanya Engkau.”

Kalimat istighfar pada point h disebut oleh Rasulullah sebagai Penghulu Istighfar (Sayyidul Istighfar). Itulah beberapa bentuk kalimat istighfar namun masih banyak lagi yang lainnya.

Keutamaan istighfar

Agar para ummat gemar untuk beristighfar, maka Allah telah menerangkan fadhilah (keutamaan-keutamaan) istighfar itu di dalam beberapa ayat-ayat Al-Qur’an :

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. “ (Q.S. Huud: 3)

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.”
(Q.S. Ali ‘Imran: 135)

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. An Nisaa’: 110).

Dari ayat-ayat tersebut di atas, nyatalah bagi kita bahwa Allah akan memberikan kenikmatan bagi orang-orang yang suka memohon ampun kepada Allah terhadap segala dosanya. Dan diantara sifat-sifat orang Mu’min yang terpuji, yang dapat juga kita kutip dari ayat-ayat itu adalah segera mengingat Allah jika pada suatu waktu terperosok ke dalam perbautan dosa dan tidak membiarkan diri terlalu lama terapung-apung di dalamnya, tetapi segera memohon ampunan kepada-Nya.

Dan dengan ayat-ayat itu Allah menerangkan juga bahwa Dia bersedia menerima permohonan hamba-hamba-Nya itu.

Kita perhatikan pula pesan-pesan Rasulullah SAW yang berkenaan dengan istighfar ini :

a. “Barangsiapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah melepaskan tiap-tiap kegundahan mereka, melepaskan tiap-tiap kesempitan mereka dan memberinya rezki secara tak terduga-duga.” (H. R. Abu Daud).

b. “Bahwasanya orang Mu’min apabila berdosa dengan sesuatu dosa, timbullah suatu titik hitam di hatinya. Jika ia tobat, menjauhkan diri dari dosa itu seraya memohon ampun, maka licinlah hatinya itu kembali. Tetapi jika ia menambah dosa-dosanya, hatinyapun bertambah hitam hingga seluruhnya menjadi gelap. Itulah yang menutupi hati, telah diterangkan Allah di dalam kitab-Nya : Tidak, sekali-kali tidak, sebenarnya hati mereka telah ditutupi oleh dosa-dosa yang mereka lakukan.” (H. R. an Nasaiy)

c. “Bahwasanya hatiku sering benar tertutup : karena itu aku selalu memohon ampun kepada Allah setiap hari seratus kali.” (H. R. Muslim)

d. “Apabila berdosa seseorang hamba, lalu segera mengucapkan : Allahummaghfirlii (Wahai Tuhanku, ampunilah kiranya dosaku), berkatalah Allah : Hambaku telah berdosa, tapi ia tahu bahwa Tuhannya akan menyiksanya lantaran dosa dan memberi ampun terhadap dosanya itu. Hambaku berbuatlah engkau apa yang engkau kehendaki dari amalan-amalan yang baik, Aku telah mengampuni dosamu.” (H. R. Al Bukhary Muslim)

Dari sekumpulan hadits mengenai soal istighfar dapat diambil kesimpulan, bahwa faedah-faedah istighfar adalah sebagai berikut :

  1. Memperoleh keutamaan dari pada Allah dan anugerah-Nya.
  2. Meruntuhkan tipu-daya iblis dan menghancurkan kesesatan-kesesatan yang disuruhkannya.
  3. Menegaskan bahwa tiap-tiap sesuatu itu hanya hasil dari iradat Allah jua.
  4. Menawarkan hati yang gundah karena dosa.
  5. Menghilangkan kesusahan, meluaskan rezeki dan memenuhi hajat.
  6. Memperoleh bagian yang tertentu dari pada Allah, lantaran beristighfar itu.
  7. Mensucikan diri dari kesalahan.
  8. Mencegah malaikat menulis kesalahan. Apabila seseorang hamba berdosa, berhentilah malaikat seketika dari menulis kesalahan itu di dalam buku catatan amalan orang, menanti-nanti kalau-kalau orang itu segera beristighfar ketika itu juga. Maka jika benar yang berdosa itu beristighfar, tiadalah jadi ditulis dosanya itu.
  9. Membersihkan hati dari lalai dan melicinkan hati dari kelupaan.
  10. Mendekatkan diri kepada Allah.
  11. Mewujudkan kemuliaan Allah dan menyeru-Nya dengan nama-nama-Nya yang husna.
  12. Mengkafarahkan sepuluh dosa.
  13. Menjadi sebab diterima tobat dan memperoleh “husnul khatimah”.
  14. Memperoleh keselamatan kesejahteraan.
  15. Istighfar anak kepada orang tuanya akan mengangkat derajat orang tuanya ke dalam surga. Rasulullah SAW bersabda : “Bahwasanya Allah mengangkat derajat seseorang hamba-Nya di dalam surga, maka si hamba itu bertanya : dari manakah saya memperoleh derajat ini, ya Tuhanku ? Allah menjawab : “Derajat ini kamu peroleh dari istighfar yang dilakukan oleh anakmu.” (H.R. Ahmad)

Demikianlah faedah-faedah istighfar yang telah diterangkan oleh beberapa hadits Rasulullah SAW.

Allah SWT berfirman :

“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”. Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.” (Q.S.Thaahaa:123–127)

Disukai mengulang-ulangi istighfar tiga kali, sebagaimana  seperti doa. Diberitakan oleh Ibnu Mas’ud ujarnya : “Adalah Nabi SAW suka sekali mengulang-ulangi istighfar dan doanya, tiga kali tiga kali.” (H. R. Abu Daud)





Doa Dan Doa


Bismillahir Rahmanir Rahiim

a. Orang – Orang yang tidak ditolak do’anya

Didalam beberapa hadits diterangkan secara konkrit tentang orang-orang yang dikabulkan Allah do’anya (yang tidak tertolak do’anya) diantaranya :

  1. Ibu Bapak untuk kebaikan dan keselamatan anak-anaknya, lebih-lebih ibu. Sering kali seorang ibu melontarkan kata-kata yang bernada do’a, mendo’akan kecelakaan buat anak-anak sehingga sangat besar akibatnya bagi anak.
  2. Orang yang sedang berpuasa diwaktu akan berbuka.
  3. Kepala negara (Pemimpin) yang adil, didasarkan kepada pengorbanan untuk kebahagian dan kemakmuran rakyatnya.
  4. Orang yang teraniaya (madhlum) dalam segala bentuk kedhaliman (kesewenang-wenangan) dan perkosaan.
  5. Musafir dengan niat dan tujuan yang baik, atau orang yang berdo’a dari jauh mendo’akan seseorang.
  6. Anak shaleh yang mendo’akan kedua orang tuanya yang telah meninggal.

b. Cara Allah mengabulkan Do’a

Do’a itu kadang-kadang dikabulkan oleh Allah dengan memberikan apa yang kita mohonkan kepadaNya, dan kadang-kadang dengan menolak suatu bencana yang bakal menimpa kita, atau ditunda pemberiannya hingga diakhirat, itu semua menurut kehendak dan kebijaksanaan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada hamba-Nya.

Bersabda Rasulullah SAW. : “Tidak ada seseorang Muslim di muka bumi ini yang mendo’a memohonkan sesuatu kepada Allah, melainkan Allah mengabulkannya sebagaimana yang dimohonkannya, atau dipalingkan Allah daripadanya sesuatu kecelakaan selama ia tidak mendo’akan sesuatu yang mengandung dosa atau memutuskan silaturrahmi. Maka berkata seseorang ; Kalau begitu baiklah kami memperbanyak do’a. Jawab Nabi : Allah menerima do’a hamba Nya lebih banyak lagi. (H.R. Turmudzi).

Namun yang perlu kita sadari bahwa salah satu yang dapat membinasakan keampuhan do’a hingga akhirnya tidak terkabulkan adalah jika seorang hamba minta cepat-cepat diperkenankan dan menganggap lambat dikabulkannya dengan berkeluh kesah, hingga akhirnya ia tidak berdo’a. Orang seperti ini adalah bagai orang menyemaikan benih atau menanamnya. Setiap saat ia rawat dan siram, lalu karena ia tidak sabar menunggu tumbuh dengan sempurna, ia tinggalkan dan tidak diperlukannya lagi.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW. bersabda : “Salah seorang dari kamu akan dikabulkan do’anya selama ia tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata : “Aku sudah berdo’a akan tetapi tidak dikabulkan”.

Dan Dalam Shahih Muslim, juga dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW. bersabda : “Allah senantiasa memperkenankan do’a seorang hamba selama do’a tersebut tidak mengandung dosa atau memutusukan silaturrahim, dan selama tidak minta cepat-cepat diperkenankan”. Lalu, beliau ditanya orang, “apa maksud minta cepat-cepat ?” Jawab beliau, “Umpamanya seorang berkata dalam do’anya, “Aku telah berdo’a, aku telah berdo’a, tetapi aku belum melihat do’aku diperkenankan, lalu ia putus asa dan berhenti berdo’a”.

Dan dalam Musnad Ahmad disebutkan sebuah hadits diriwayatkan Anas dari Rasulullah SAW. bahwa beliau bersabda : “Senantiasa seorang hamba berada dalam kebaikan selama ia tidak minta cepat-cepat”. para sahbat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana minta cepat-cepat itu?” Jawab beliau : “Yaitu dengan mengatakan “Aku telah berdo’a kepada Tuhanku, tetapi Dia tidak (belum) juga mengabulkan do’aku”.

Doa Dan Ikhtiar

Orang yang berdoa, adalah orang yang memohon sesuatu yang ia hajati serta berhasrat benar untuk memperolehnya. Sesuatu yang dihajati itu adakalanya merupakan hal-hal yang mustahil terjadi dan adakalanya pula berupa hal-hal yang mungkin terjadi.

Hal-hal yang mustahil terjadi, sudah barang tentu tidak boleh kita mohonkan, karena tidak akan diterima dan tidak akan terwujud . Adapun hal-hal yang mungkin terjadi, maka ia mempunyai sebab dan illat akan terjadinya. Akan tetapi dengan tidak berusaha mewujudkan sebab-sebab dan illat-illat itu, samalah halnya dengan seseorang yang hendak sampai ke suatu tujuan, tetapi tidak berusaha melangkahkan kakinya melalui jalan yang harus dilaluinya.

Dengan demikian, semakin  jelaslah bagi kita, bahwa berdoa itu, ialah : “Memohon kepada Allah semoga Ia menyampaikan maksud kita, seraya kita melaksanakan dan mengusahakan dengan segenap tenaga yang ada, akan sebab-sebab terjadinya sesuatu yang kita hajatkan (doakan) itu.”

Doa yang seperti itu, ialah kepercayaan yang sangat teguh, serta harapan yang sangat dalam, bahwa Allah akan menjauhkan segala halangan-halangan yang akan menghalangi tercapainya maksud kita dan hanya Allah yang memberikan petunjuk-petunjuk tentang sebab-sebab yang nyata dan yang tersembunyi yang tidak jelas kelihatan oleh kita.

Demikianlah harus kita perbuat, berdo’a disamping berusaha, selama sebab-sebab masih dapat kita usahakan. Adapun ketika kita telah lemah dan tidak sanggup lagi mengusahakan sebab, barulah kita  berserah  diri  (bertawakkal)  kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Washilah


Bismillahir Rahmanir Rahiim

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (Nuurun ‘Alaa-Nuur), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memper-buat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. An-Nur: 35)

Dalam bab ini, kita akan mencoba menguraikan masalah washilah yang merupakan salah satu bagian terpenting dalam agama Islam, agar supaya mendapat gambaran yang sejelas-jelasnya mengenai Ilmu Tasawwuf, khususnya mengenai Ilmu Thariqat dan Sufi. Para ulama memahami washilah  ini berbeda-beda pendapat namun intinya mereka bersepakat bahwa washilah adalah sesuatu yang dibenarkan dan dianjurkan dalam Islam, sebagaimana ditegaskan oleh Allah di   dalam Al-Qur’an Surah Al-Maidah : 35:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (washilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

Pengertian Washilah

1. Washilah menurut bahasa ialah “Sesuatu yang dapat mendekatkan kepada yang lain.”

2. Di dalam kamus dinyatakan : Al-wasilah dan Al-Waasilah.

“Almanzilatu indal maliki” yang berarti “Satu kedudukan di sisi raja”.

Dan diartikan juga dengan “ad-darjatu” (derajat) dan “al-qurbatu” (dekat) “Wa wassala ilalahi tausila (Dia mengerjakan sesuatu amal yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah)”

3. Dalam “Al-Mishbah”, dinyatakan :

“Wassaltu Ilallahi bil’amal (Saya mendekatkan diri kepada Allah dengan amal).”

“Taqarroba ilaihi bi’amalin (Dia mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal).”

4. Didalam tafsir Ibnu Katsir Jilid 2 dijelaskan :

“Wasilah ialah sesuatu yang menyampaikan kepada maksud.”

Dan “nama sebuah tempat kediaman Rasulullah SAW dalam surga, paling dekat dengan ‘Arasy”.

5. Dalam kamus “Al-Munjid” disebutkan washilah berarti sesuatu yang didekatkan kepada yang lain.

Mengenai pengertian kata “washilah” yang tersebut di atas, menurut Muhammad Nasib Ar-Rifa’i dalam kitabnya “At-tawashshul ila haqiqatit-tawashshul” sependapat (ijmak) ahli-ahli bahasa menyatakan demikian.

Adapun tawashshul menurut hukum Islam ialah pendekatan diri kepada Allah, dengan mentaati dan beribadat kepada-Nya, mengikuti Nabi-Nabi dan Rasul-Nya, dengan semua amal yang dikasihi dan diridhoi-Nya.

Ibnu Abbas ra, menegaskan : “Al-washilah hiyal qurbah (Wasilah ialah pendekatan).”

Qatadah menafsirkan Al-Qurbah itu : “Dekatkan diri kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengerjakan apa saja yang disukai-Nya.”

Demikianlah setiap yang diperintahkan Syara’, baik yang wajib maupun yang sunnat adalah tawassul atau washilah menurut Syara’.

Adapun washilah terbagi dua :

1. Washilah yang disyariatkan (masyru’).

2. Washilah yang dilarang (mamnu’).

Adapun washilah yang disyariatkan ialah setiap washilah yang diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasul-Nya, sehingga  dapat mendorong kita untuk melaksanakannya. Dan washilah seperti itu dijelaslah  “sesuatu pendekatan kepada Allah dengan taat dan mengerjakan amal-amal saleh yang disukai dan diridhoi-Nya.”

Washilah yang disyariatkan itu terbagi pula menjadi 3 (tiga) diantaranya :

  1. Washilah seorang Mu’min kepada Allah dengan zat-Nya, Nama-nama-Nya dan Sifat-sifat-Nya yang tinggi.
  2. Washilah seorang Mu’min kepada Allah, dengan amal-amal shalehnya.
  3. Washilah seorang Mu’min kepada Allah dengan do’a saudaranya yang Mu’min.

Dasar Hukum Washilah

Adapun dasar hukum washilah itu antara lain firman Allah SWT dalam al-Qur’an surah al-Maidah 35 :

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”

Dari ayat ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Ayat ini hanya ditujukan kepada orang-orang yang beriman. Jadi ayat ini bukan ditujukan untuk orang-orang yang setengah beriman (ragu-ragu terhadap adanya Tuhan), orang-orang yang musyrik dan orang-orang kafir, sebab mereka ini akan menjadikan jalan (washilah) itu sebagai Tuhan mereka.

2. Untuk mencapai kebahagiaan harus melalui syarat-syarat sebagai berikut :

a.  Dengan selalu bertaqwa kepada Allah SWT dalam segala aspek kehidupan.

b.  Hendaknya mencari jalan (washilah) untuk menuju kepada-Nya.

c.  Berjuang pada jalan-Nya itu.

d.  Jika hal tersebut di atas dijalankan maka akan mendapat keberuntungan atau kemenangan.

Pendapat-pendapat ahli tafsir tentang maksud “washilah” dalam ayat tersebut adalah sebagai berikut :

1. Tafsir Al-Khazin jilid 2 menyatakan :

“Carilah (tuntutlah) “pendekatan” kepada-Nya, dengan mematuhi dan mengamalkan sesuatu yang diridhoi-Nya.”

2. Tafsir Ibnu Katsir jilid 2 menyatakan :

“Kata Soufyan Ats-Tsauri dari Tholhah, ‘Atho’ dan dari Ibnu Abbas, maksud “washilah” itu adalah “pendekatan”.

Pendapat itu diperkuat oleh Mujahid, Abu Wail, Al-Hasan, Qatadah, Abdullah bin Katsir dan Ibnu Zaid, dan lain-lain.

3. Tafsir “Fi Zhilalil Qur’an”, jilid 6 menyatakan :

“Menurut satu riwayat dari Ibnu Abbas, ibtaghu ilaihil washilah berarti “ibtaghu ilahil hajah”, artinya “carilah hajat kepada-Nya.

Al-washilah dalam ayat itu bermakna “al-hajat”.

4. Ar-Roghib dalam “Qamus Qur’annya “Mufrodatul Qur’an” menyatakan :

“Hakikat washilah kepada Allah itu ialah memelihara jalan-Nya dengan ilmu dan ibadah.”

“Si Pulan berwashilah kepada Allah, artinya apabila dia melakukan amal perbuatan yang mendekatkan diri kepada-Nya.”

5. Tafsir “Al-Futuhatul Ilahiyah” jilid 1 menyatakan :

“Sesuatu yang mendekatkan kamu kepada-Nya, dengan mentaati-Nya.”

Imam Syeikh Syarbaini Al-Khatib dalam Tafsirnya “Sirojul Munir”, Imam Zamakhsari dalam tafsirnya “Al-Kasysyaf”, Qadhi Al-Baid-dhowi dalam tafsirnya “Anwarut Tanzil” Fakhrur Razi dalam tafsirnya “Al-Kabir” pada umumnya menyatakan bahwa maksud ayat itu adalah “carilah jalan supaya kamu dapat taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah.”

Jika kita perhatikan pendapat ahli-ahli tafsir itu, dengan seksama, maka maksud ayat 35 surat Al-Maidah itu adalah Allah menyuruh kita mencari jalan (washilah) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dengan mentaati semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Washilah dalam ayat itu mengandung pengertian umum. Kalangan ahli thariqat berpendapat salah satu jalan pendekatan diri kepada Allah itu adalah dengan perantaraan rabhithah (pertalian ruhani dengan Mursyid yang selanjutnya sampai ke ruhani Rasulullah SAW dan akhirnya sampai kepada Allah), karena menurut mereka rabithahlah washilah yang sebaik-baiknya, sebab yang dijadikan rabithah itu Nabi SAW, Syeikh-syeikh atau orang yang menempati kedudukan yang tinggi.

Namun demikian bukanlah kalangan thariqat mengartikan washilah dalam ayat itu adalah rabithah, sebab arti demikian bertentangan dengan penafsiran kitab-kitab Tafsir yang mu’tabar. Cuma dari sekian banyak jalan pendekatan, menurut mereka yang paling baik adalah melalui rabithah.

1. Firman Allah Q.S. Al-A’raf 180 :

“Hanya milik Allah asma’ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa’ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

Ayat itu mengandung perintah supaya kita berdo’a kepada Allah dengan washilah nama-nama-Nya yang Agung atau Ismul A’dham. Dengan berwashilah kepada nama-nama-Nya yang Agung tersebut diharapkan permohonan kita cepat diperkenankan atau dikabulkan oleh Allah SWT.

Abu Yusuf berpendapat tidak wajar seseorang berdo’a kepada Allah tanpa berwashilah kepada nama-nama-Nya yang Agung, dan dengan do’a-do’a yang dibenarkan dan diperintahkan.

Jelaslah bahwa ayat itu menganjurkan supaya kita berdo’a kepada-Nya dengan nama-Nya, Sifat-sifat-Nya dan Zat-Nya.

2. Firman Allah Q.S. Ibrahim 38 – 40 :

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.  Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do`a.  Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do`aku.”

Ayat itu menerangkan satu di antara beberapa contah washilah Nabi Ibrahim as ketika bermohon kepada Allah. Ia memulai do’anya dengan menyebut ketinggian ilmu Allah yang mengetahui segala sesuatu di langit dan di bumi. Allah terpuji pada zat, sifat dan perbuatan-Nya. Allah mendengar do’a hamba-Nya di mana pun mereka berada dan dengan bahasa apa pun mereka pergunakan dan dengan maksud apa pun yang mereka tuju. Dan dia perkenankan do’a itu jika Dia kehendaki.

Nabi Ibrahim as di depan do’anya berwasilah dengan Ilmu Allah, anugerah-Nya, puji-pujianNya dan pendengaran-Nya. Kemudian baru berdo’a meminta supaya ia dan anak cucunya menjadi penegak shalat, meminta ampuni dosanya dan dosa ibu bapanya dan dosa-dosa orang mu’min nanti pada hari kiamat. Ayat itu menjadi dalil kepada kita supaya berwashilah dalam berdo’a.

3. Hadits Abu Daud dan Turmudzi dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya :

“Bahwa Rasulullah SAW, mendengar seorang laki-laki berdoa : “Ya Allah, saya mohon kepada-Mu dengan mengakui bahwa Engkau adalah Allah, tiada Tuhan melainkan Engkau, Tuhan Yang Maha Esa, yang bergabung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tiada  seorangpun yang setara dengan dia.”

Maka beliau bersabda : “Sesungguhnya ananda telah bermohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan namanya yang Agung (Ismul A’dham).”

4. Hadis Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Turmudzi dari Anas bin Malik.

“Bahwa Anas pada suatu hari duduk bersama Rasulullah SAW. Seorang laki-laki sedang shalat dan kemudian berdoa : “Ya Allah saya mohon kepada-Mu, dengan segala jenis puji bagi-Mu, tiada Tuhan melainkan Engkau, Tuhan yang menganugerahi, pencipta langit dan bumi, Wahai Tuhan yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan, Wahai Yang Hidup dan Maha Berdiri Sendiri.”

Maka beliau pun bersabda : “Sesungguhnya dia telah berdoa dengan nama Allah yang mulia, yang apabila berdoa dengan nama yang mulia itu, niscaya diperkenankan, dan apabila meminta dengannya, niscaya akan diberi.”

Dua hadis itu menerangkan bahwa dua orang sahabat telah berdo’a berwashilah kepada nama-nama-Nya yang mulia, dan diakui oleh Nabi SAW, bila berdo’a dengan nama-nama itu niscaya diperkenankan.

5. Hadis riwayat Ahmad, Ibnu Khuzaimah dalam sahihnya, Abu Nu’aim dalam “Amalul Yaumi Wal Lailah”, Al-Baihaqi dalam kitabnya “Ad-Da’awat”, At-Thabrani dalam “Kitabud Du’a”, Ibnu As-Sunni dan Ibnu Majah, menyatakan bahwa Nabi SAW berwashilah dan mengajari kita supaya berwashilah. Beliau berwashilah kepada orang yang meminta-minta, ketika berjalan menuju masjid.

Lafadz do’a Nabi SAW itu menurut Musthafa Abu Saif Al-Hamami seorang tokoh Ulama Al-Azhar dalam kitabnya “Ghautsul ‘Ibad” adalah :

“Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu dengan kebenaran orang-orang yang bermohon kepada-Mu, dan saya bermohon kepada-Mu dengan kebenaran perjalananku ini kepada-Mu, . . . “ dan seterusnya.

6. Hadis Turmudzi dan An-Nasai, Al-Baihaqi dan At-Thabrani, menurut “Ghautsul ‘Ibad” menyatakan :

“Seorang laki-laki yang buta telah mendatangi Nabi SAW, seraya berkata : “Do’akanlah kepada Allah, supaya disembuhkan-Nya butaku ini.”

Laki-laki itu berkata pula : “Do’akanlah!”

Maka beliau menyuruhnya supaya mengambil wudhu dengan sempurna (baik) dan berdo’a kepada Allah dengan mengucapkan : “Ya Allah, sesungguhnya saya mohon kepada-Mu dan menghadapkan diriku kepada-Mu dengan (perantara) Nabi Muhammad SAW yang beroleh rahmat. Ya Muhammad, sesungguhnya saya menghadapkanmu kepada Tuhanku dalam hajatku ini, supaya diperkenankan-Nya. Ya Allah maka syafaatkanlah ia pada hajatku ini.”

Selesai berdo’a sesuai dengan yang diperintahkan Nabi SAW, maka ia pun menjadi sehat dan dapat melihat kembali sebagaimana semula.

Menurut Imam Syaukani dalam kitabnya “Tuhfauz Dzakirin”, hadits yang sama maksudnya dengan itu dikeluarkan oleh Turmudzi (hasan-sahih-gharib), An-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim. Menurut Al-Hakim hadits itu sahih atas dasar syarat Bukhari dan Muslim, dari Utsman bin Hanif.

7. Hadits sahih tentang Umar bin Khatab dan sahabat-sahabat berdo’a kepada Allah ketika shalat istisqa’ (minta hujan), dengan berwashilah kepada paman Nabi SAW, Abbas.

Menurut hadits Bukhari dalam Sahih-nya dari Anas :

“Sesungguhnya Umar bin Khatab, apabila mereka (para sahabat) ditimpa kemarau, ia meminta turunkan hujan dengan washilah Abbas bin Abdul Muthalib, seraya mengucapkan : “Ya Allah, kami telah berwashilah kepada-Mu dengan Nabi kami SAW, lantas Engkau turunkan hujan kepada kami. Dan sesungguhnya sekarang ini kami berwashilah kepada-Mu dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami.”

Kata Anas : “Maka hujan pun turun, menyirami mereka.”

Tiada seorang sahabat pun yang membantah perbuatan Umar itu.

Menurut Ibnu Hajar dalam “Fat-hul Bari”, sesudah Umar berwashilah kepada Abbas, maka Abbas pun berdo’a :

“Ya Allah sesungguhnya bala (ujian) tidak turun melainkan karena dosa, dan ia tidak tersingkap, melainkan karena tobat. Sesungguhnya orang banyak telah menghadapkan aku dengan-Mu, karena kedudukanku di samping Nabi-Mu. Inilah tangan-tangan tertadah kepada-Mu, disebabkan dosa-dosa, kami saling nasehat menasehati supaya tobat kepada-Mu, maka turunkanlah hujan kepada kami.” Maka hujan pun turun seperti gunung (lebat).”

Abbas berwashilah kepada Allah dengan mengakui kesalahan, kemudian tobat daripadanya. Ini termasuk amal saleh.

Abbas berdo’a, orang banyak mengaminkan, dan sebelum meletakkan tangan (selesai do’a), hujan pun turun laksana gunung lari dari langit.

8. Hadis Bukhari dan Muslim, muttafaq ‘alaihi dari Ibnu Umar tentang tiga orang yang terkurung dalam sebuah goa, disebabkan pintunya tertutup oleh sebuah batu besar yang jatuh dari atas sebuah gunung. Ketiganya berdo’a kepada Allah dengan washilah amal saleh masing-masing. Akhirnya batu penghalang itu pun bergeser, dan mereka pun keluar dengan selamat.

Hadits-hadits tersebut menunjukkan berwashilah yang sesuai dengan ajaran syari’at, tidak dilarang dan bahkan sebaliknya, dianjurkan.

9. Abu Yusuf Musthafa Al-Hamami, seorang tokoh Ulama Al-Azhar, Kairo, dalam kitabnya “Ghautsul ‘Ibad”, menerangkan bahwa tentang dibenarkannya berwashilah itu, tidak perlu diragukan, karena diamalkan orang dari Timur ke Barat. Sebab menurut beliau, imam madzhab yang empat membenarkannya, tanpa ikhtilaf. Dan kita tidak dapat keluar dari salah satu pendapat yang empat itu. Seandainya, terdapat kemudharatan, tentu Imam yang empat tidak ijmak dalam masalah ini.

Jika ada yang mengatakan bahwa berwashilah itu, membuat perantara di antaranya dengan Allah, dan hal itu tidak boleh, memudharatkan, maka kami mengatakan, siapa yang mengatakan bahwa washilah seperti itu, memudharatkan ? Bagaimana mungkin memudharatkan, sedangkan Allah memerintahkan kepada kita supaya berwashilah, baik di dunia maupun di akhirat.

Di akhirat nanti, orang berebut-rebut mendatangi Nabi masing-masing, meminta pertolongan dan menjadikannya washilah diantaranya dengan Tuhan-nya.

Adapun di dunia ini, Allah menjadikan para Nabi dan Rasul menjadi perantara (washilah) antara-Nya dengan hamba-Nya yang fakir dan miskin, untuk menyampaikan sebagian rezki-Nya kepada mereka. Allah menjadikan para dokter, perantara diantara-Nya dengan penderita sakit, untuk disembuhkan. Allah menjadikan makanan, perantara di antara-Nya dengan hewan-hewan, untuk dapat hidup, untuk memperoleh kenyang dan menolak kelaparan. Allah jadikan air, perantara diantara-Nya dengan hamba-Nya, untuk memuaskan dahaga. Allah menjadikan pakaian, perantara diantara-Nya dengan hamba-Nya, untuk menutupi tubuh, dijadikan-Nya perkawinan untuk mendapat anak, dijadikan-Nya kapal-kapal untuk alat angkutan di lautan.

Sekiranya tidak dijadikannya air, tentu kita akan mati kehausan, kalau tidak diadakannya pakaian, tentu kita akan mati kepanasan dan kedinginan. Kalau tidak ada tidur tentu kita akan mati kelelahan, kalau tidak karena adanya anak-anak maka manusia tidak akan berkembang. Kalau sekiranya tidak diadakan-Nya kapal-kapal, niscaya kita akan mati tenggelam. Kalau tidak karena usaha dan ikhtiar, tentu kita tidak memperoleh rezki. Demikianlah seterusnya, semua yang ada ini dibina atas dasar perantara-perantara.

Bukan Allah tidak bisa menjadikan anak tanpa kawin, bukan Allah tidak bisa membikin orang sakit menjadi sehat tanpa obat, bukan Allah tidak bisa membuat orang kenyang tanpa makan, semuanya bisa, karena Allah itu Maha Kuasa atas segala-galanya. Tetapi Allah tidak melakukannya secara langsung. Dia buat washilah atau perantaranya.

Bahkan orang mati di akhirat tidak akan masuk surga atau neraka, melainkan dengan washilah amalnya.

Firman Allah Q.S. Al-A’raf 8 dan 9 :

“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.”

Jika kalangan yang melarang washilah, berkata “kenapa orang tidak meminta langsung saja kepada Allah, tanpa washilah”, maka itu masalah lain. Bukan itu yang menjadi pembicaraan.

Allah menjadikan beberapa sebab untuk menyampaikan hajat hamba-Nya, dan memerintahkan supaya penyebab itu dilaksanakan. Maka berdo’a kepada Allah untuk sesuatu hajat, adalah satu faktor penyebab. Dan berwashilah kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh dalam memohon hajat itu, adalah menjadi faktor penyebab kedua.

Maka orang yang bermohon kepada Allah tentang sesuatu hajat, dengan washilah, berarti ia telah mengerjakan dua faktor penyebab, sedangkan orang yang bermohon kepada Allah secara langsung tidak berwashilah, berarti ia hanya mengerjakan satu faktor penyebab. Tentu saja orang yang mengajukan permohonan-Nya dengan dua faktor penyebab lebih utama dari orang yang bermohon dengan hanya melaksanakan satu faktor penyebab.

Oleh sebab itu, berwashilah lebih baik daripada tidak berwhasilah, sebagaimana dilakukan juga oleh Nabi SAW dan sahabat-sahabatnya.

Wabillahi Taufik Walhidayh Walinyah Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabaraakatuh wamaghfirah


Hambatan2 Menuju Allah Swt


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Hendaklah diketahui bahwa perjalanan seseorang hamba yang ingin menuju kehadlirat Allah SWT ia akan menghadapi beberapa rintangan-rintangan atau penghalang-penghalang.

Didalam kitab Ad-Durrunnafis (Permata Yang Indah) karya Syeikh M. Nafis Bin Idris Al-Banjarie yang diterjemahkan oleh K.H. Haderanie H.N, dijelaskan bahwa : “Hal-hal yang dapat merusakkan perjalanan menuju Allah SWT itu  diantaranya :

a.Kasal (Malas), yaitu malas untuk mengerjakan ibadat kepada Allah SWT, padahal sebenarnya anda dapat dan sanggup untuk melakukan ibadat itu.

b.Futur (Bimbang/Lemah pendirian), yaitu tidak memiliki tekad yang kuat karena terpengaruh oleh kehidupan duniawi.

c.Malal (Pembosan), yaitu cepat merasa jemu dan bosan untuk melaksanakan ibadat karena merasa terlalu sering dilakukan padahal tujuan belum juga tercapai.

Timbulnya hal-hal tersebut diatas adalah disebabkan kurang kuatnya rasa keimanan, kurang mantapnya keyakinan, dan banyak terpengaruh oleh hawa nafsunya sendiri.

Selanjutnya hal-hal yang mengakibatkan gagalnya untuk mencapai tujuan, antara lain adanya penyakit “Syirik Khofi” (syirik tersembunyi) atau dengan kata lain timbulnya suatu tanggapan dalam hatinya  bahwa segala amal ibadat yang dilakukannya adalah sepenuhnya dari kemampuannya sendiri, tidak dirasakannya dan diyakininya bahwa apa yang dilakukannya itu semua pada hakikatnya dari pada Allah SWT.

Hal-hal yang tergolong dalam syirik khofi antara lain adalah sebagai berikut  :

1.Riya’, yaitu menampak-nampak kan ibadah atau amalnya kepada orang lain dengan  maksud tertentu yang lain daripada Allah.

2.Sum’ah, yaitu sengaja mencerita-ceritakan tentang amal ibadatnya kepada orang lain bahwa dia beramal dengan ikhlas karena Allah dengan suatu maksud agar orang lain memberikan pujian dan sanjungan kepadanya.

3.‘Ujub (membanggakan diri), yaitu merasa hebat sendiri yang timbul dari dalam hatinya karena banyak amal ibadatnya, tidak dia rasakan bahwa semua itu adalah semata-mata karena karunia dan rahmat Allah.

4.Hajbun (hijab/dinding), yang dimaksud adalah karena terlena dan kagum atas keindahan amalnya, sehingga tertahan pandangan hatinya (syuhudnya) kepada kekaguman itu semata-mata, atau dengan kata lain terpengaruh kepada keindahan amal ibadatnya sendiri, tidak dirasakannya bahwa semua itu adalah karunia dari Allah swt.

Oleh sebab itu agar dapat terlepas dari hal-hal tersebut diatas hal mana dapat membahayakan perjalanan seorang hamba menuju Allah swt, maka tidak ada jalan lain kecuali memantapkan pandangan batin (musyahadah) dengan penuh keyakinan bahwa “ segala apapun yang terjadi pada hakikatnya adalah daripada Allah swt semata ”.

Didalam kitab “Minhajul ‘Abidin” karya Imam Ghazali dijelaskan : ada tujuh rintangan/penghalang yang mesti dilalui seseorang hamba dalam memperoleh yang dicarinya.

Hal pertama yang menggerakkan hamba untuk menempuh jalan ibadah ialah sentuhan samawi dan taufiq, khususnya dari Allah SWT, sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah SAW : “Apabila cahaya telah masuk kedalam qalbu seseorang, qalbu itu akan terbuka dan menjadi lapang” kemudian beliau ditanya : “Wahai Rasulullah, adakah tanda-tanda untuk mengetahui keterbukaan itu ?” Beliau menjawab : “Menjauhi dunia, negeri yang penuh dengan tipu daya ; kembali ke akhirat, negeri abadi; dan bersiap-siap menghadapi maut sebelum ia tiba “.

Dihembuskan kedalam qalbu seseorang hamba Allah bahwa ia mempunyai Rabb yang memberikan berbagai macam nikmat. Dia berkata : “Rabbi menuntutku untuk bersyukur dan mengabdi kepada-Nya. Jika aku lalai, maka Dia akan mencabut nikmat-Nya dariku. Dia telah mengutus seorang rasul kepadaku dengan membawa berbagai mu’jizat dan memberitahukan bahwa aku mempunyai Rabb Yang Maha Mengetahui lagi Berkuasa. IA akan memberi pahala karena mentaati-Nya dan akan menyiksa karena mendurhakai-Nya”. Rabb telah mengeluarkan perintah dan larangan. Dia (hamba) merasa khawatir terhadap dirinya disisi Rabb. Dia tidak menemukan jalan keluar dari kemelut ini kecuali mencari bukti-bukti yang menunjukkan adanya Maha Pencipta dengan  mengetahui ciptaan-Nya. Setelah itu tercapailah keyakinan akan adanya Rabb yang memiliki sifat tersebut.

Inilah rintangan pertama, berupa Ilmu dan Ma’rifat (pengetahuan) yang dijumpainya dipermulaan jalan menuju terbukanya mata hati dengan cara belajar dan bertanya kepada Ulama yang mengerti tentang kehidupan akhirat.

Setelah keyakinan tentang adanya Rabb tercapai, ma’rifat mendorongnya untuk memulai pengabdian. Akan tetapi dia tidak mengetahui bagaimana seharusnya dia beribadah kepada Rabb. Dia mempelajari kewajiban-kewajiban syar’i, baik yang bersifat lahir maupun yang bersifat batin. Ketika ilmu dan ma’rifat telah melengkapi dirinya, maka terdoronglah ia untuk melaksanakan ibadah. Dia menyadari bahwa dirinya adalah seorang yang berdosa sebagaimana halnya kebanyakan orang. Dia berkata : “Bagaimana aku dapat melakukan keta’atan, sedangkan aku selalu bergelimang dalam berbagai maksiat. Aku wajib bertaubat dahulu kepada-Nya agar Dia melepaskan diriku dari cengkraman dosa, dan membersihkan diriku dari segala kekotorannya sehingga aku pantas untuk mengabdi kepada-Nya”. Disini ia berhadapan dengan rintangan kedua yaitu tobat. Setelah menjalani tobat dengan memenuhi segala hak dan persyaratannya, dia kembali memperhatikan jalan. Tiba-tiba dilihatnya beberapa hal yang menghambat jalan untuk beribadah kepada Allah. Ada empat hambatan yang dihadapinya, yaitu : dunia, makhluk, setan dan nafsu. Kini ia menghadapi rintangan ketiga berupa hambatan-hambatan. Dia harus mendobraknya dengan empat perkara pula, yaitu : Melepaskan diri dari dunia, tidak menggantungkan diri kepada makhluk, dan memerangi setan dan hawa nafsunya. Dari empat hambatan tersebut , maka nafsu merupakan penghambat yang paling berat, karena manusia tidak mungkin melepaskan diri darinya atau mengalahkannya seperti mengalahkan setan, lantaran nafsu merupakan kendaraan dan alat. Jika dia menurutinya, maka ia tidak akan mempunyai keinginan untuk melakukan ibadah, karena nafsu merupakan tabiat yang sangat bertentangan dengan kebaikan. Manusia perlu mengendalikan nafsu dengan taqwa, agar selamat dan dapat menggunakannya dalam berbagai kebaikan serta mencegahnya dari segala kejahatan.

Setelah berhasil menerobos rintangan ketiga, kini ia berhadapan dengan rintangan keempat yang membuatnya tidak bergairah (malas) dalam melakukan ibadah kepada Allah swt. Rintangan yang dihadapinya inipun ada empat :

Pertama, rezeki yang dituntut oleh nafsu dan memang merupakan suatu keperluan ;

Kedua, berbagai hal yang ditakuti, diharapkan, diinginkan atau dibencinya, sedangkan dia tidak mengetahui kebaikan dan kerusakannya disitu ;

Ketiga, berbagai bencana dan musibah yang mengepungnya dari segala sudut, apalagi ia telah bertekad untuk tidak bergantung kepada makhluk, memerangi setan dan mengalahkan nafsu.

Keempat, bermacam-macam qadho’ (ketentuan) Allah.

Untuk menerobos keempat penghambat tersebut  diapun memerlukan empat perkara, yaitu :

Pertama, bertawakkal kepada Allah dalam masalah rezeki.

Kedua, menyerahkan masalah bahaya kepada-Nya.

Ketiga, bersabar dalam menghadapi berbagai musibah.

Keempat, ridho menerima qadho (ketentuan) dari Allah.

Setelah berhasil menerobos rintangan keempat, tiba-tiba nafsunya menjadi lesu dan malas, tidak bersemangat dan tidak bergairah untuk melakukan kebaikan sebagaimana mestinya. Nafsunya cendrung lalai dan menganggur, bahkan cendrung kepada hal yang sia-sia dan berlebihan. Disini ia membutuhkan penuntun agar ta’at dan dapat merobohkan benteng perbuatan maksiat, yaitu berupa harapan (raja’) dan takut (khauf) ; harapan akan kemuliaan yang telah dijanjikan, dan takut akan berbagai siksaan dan hinaan yang telah diancamkan. Yang dihadapi kali ini rintangan kelima yaitu rintangan pendorong. Untuk menerobosnya dia memerlukan dua perkara tersebut yaitu : harapan (raja’) dan takut (khauf) seperti tersebut diatas.

Setelah berhasil menerobos rintangan kelima, dia tidak melihat satu rintanganpun. Yang dia dapatkan adalah pendorong dan penggerak, sehingga dia melakukan ibadah dengan penuh gairah dan kerinduan. Kemudian dia merenungi ; tiba-tiba tampak olehnya dua bahaya besar menghadangnya, yaitu riya’ dan ‘ujub (takabbur). Kadang-kadang ketaatannya ingin dilihat orang lain, dan kadang-kadang dia ingin membanggakan serta memuliakan dirinya.

Disini dia berhadapan dengan rintangan keenam, berupa penyakit hati. Untuk menerobosnya, dia harus ikhlas dan ingat bahwa semua ini adalah karunia Allah. Setelah berhasil melaluinya dengan perlindungan dan pertolongan Allah Yang Maha Perkasa, maka tercapailah kesempurnaan ibadah sebagai mana yang diharapkan.

Akan tetapi ketika dia merenung kembali, tiba-tiba didapati dirinya tenggelam didalam lautan nikmat Allah berupa taufiq dan perlindungan. Dia takut kalau-kalau lalai bersyukur, sehingga terjerumus kedalam kekufuran dan turun dari martabat yang tinggi. Disinilah dia berhadapan dengan rintangan terakhir (ketujuh) yaitu pujian dan syukur. Dia baru akan berhasil melewati rintangan itu jika dia memperbanyak memuji Allah dan bersyukur atas nikmat dan karunia yang dilimpahkan-Nya.

Setelah berhasil melewatinya, sampailah dia sekarang kepada maksud dan tujuan. Kini dia hidup dalam kondisi yang paling baik dari sisa-sisa umurnya, dirinya didunia dan qalbunya diakhirat. Hari demi hari dia menantikan kedatangan utusan Allah yaitu malaikat yang akan mencabut nyawanya. Maka muncullah kerinduannya kepada malaikat yang ada dilangit. Tiba-tiba dia mendapatkan utusan Rabb semesta alam itu memberikan khabar gembira kepadanya berupa keridhoan Rabb, bukan kemurkaan-Nya. Utusan itu (malaikat pencabut nyawa) memindahkannya dalam keadaan sebagai diri yang baik  dan manusia yang sempurna dari dunia yang fana ini ke hadlirat Ilahi dan taman surga, lalu diperlihatkan kepada dirinya yang fakir itu keindahan surga dan kerajaan Yang Agung.

Hanni's Eyes

It's good fun, this life thing.

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 274 other followers

%d bloggers like this: