Posts from the ‘Puasa Ramadhan’ Category

Hijib Salamah


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma sholi ala Sayidina Muhammadin sholatan tuwasi’u biha alainal Arzaqo wa tuhasinu bhalanal akhlaqo wa ala alihi washobihi wasalim

Salamah mengandung pengertian selamat. Maka siapa saja yang mau mengamalkan hizib Salamah ini secara rutin setelah selesai shalat Maghrib dan shalat Subuh maka Insya Allah, Allah akan menjaganya dari berbagai macam bala dan bencana baik yang datang dari golongan jin, syaitan maupun manusia. Karena dirinya dijaga selalu oleh Allah. Agar pembaca tidak penasaran berikut ini kami cantumkan amalan hizib Salamah, berikut arti, kegunaan dan juga lakunya :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِِ الرَّحِيمْ تَحَصَّنْتُ بِذِى اْلعِزَّتِىْ َوْالمُلْكِ وَالْمَلَكُوْتِ وَاعْتَصَمْتُ بِذِى اْلقُدْرَةِ وَاْلقَهَّارِ وَاْلجَبَرُوْتِ وَتَوَكَّلْتُ عَلَى اْلحَيِّ اْلقَيُّوْمِ الَّذِىْ لاَ يَنَامُ وَلاَ يَمُوْتُ دَخَلْتُ ِفىْ حِرْنِ اللهِ َودَخَلْتُ فِىْ حِفْظِ اللهِ وَدَخَلْتُ فِىْ َامَانِ اللهِ نَصْرٌ مِنَ اللهِ وَفَـتْحٌ قَرِيْبٌ وَبَشِّـرِ اْلمُؤْمِنِيْنَ بِحَقِّ كهيعص كُفِيْتُ َوبِحَقِّ حمعسـق حُمِيْتُ وَبِلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ اْلعَلِىِّ الْعَظِيمْ، نُصِرْتُ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ َوعَلَى َالِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ.

BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM.

TAHOSH-SHONTU BIDZIL ‘IZZATI WAL MULKI WAL MALAKUUTI WA’TASHOMTU BIDZIL QUDROTI WAL QOHHAARI WAL JABARUUTI WA’TAWAKKALTU ‘ALAL HAYYIL QOYYUUMIL LADZI LAAYANAAMU WALAA YAMUUTU DAKHOLTU FII HIRNILLAAHI WADAKHOLTU FII HIFDHILLAAHI WADAKHOLTU FII’ AMAANILLAAHI NASHRUN MINALLAAHI WA FATHUN QORIIBUN WABASY-SYIRIL MU’MINIINA BIHAQQI KAAF HAA YAA ‘AIN SHOOD KUFIITU WABI HAQQI HAA MIM ‘AIN SIIN QOOF HUMIITU WABI LAAHAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘ADZIIM NUSHIRTU LAA ILAAHA ILLALLAAH MUHAMMAD RASULULLOHI WA SHOLLALLAHU ‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN WA ‘ALAA ALIHI WASHOHBIHII WASSALAM.

Artinya :
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku peliharakan diri dengan kemuliaan raja diatas raja. Dan aku jagakan diri dengan kekuasaan dan keperkasaan-Nya. Dan aku serahkan diri kepada Dzat yang Maha Hidup dan yang berdiri yaitu yang tidak tidur dan tidak mati. Aku masuk dalam penjagaan Allah. Dan aku masuk dalam pengawasan Allah. Dan aku masuk dalam kedamaian Allah. Pertolongan Allah itu akan terbuka dengan dekat kepada manusia yang mu’min. Dengan haqnya Kaaf Haa Yaa Aiin Shood cukupkan aku. Dengan haknya Haa Min Ain Syin Qoof jagakan aku. Dan tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah. Tolonglah aku. Tidak ada Tuhan selain Allah Muhammad Rasululloh. Semoga melimpahkan sholawat dan salam kepada pimpinan kami Muhammad dan kepada keluarganya dan kepada sahabatnya.

Caramengamalkannya :
– Di puasai puasa biasa selama 3 hari dan sebelumnya mandi keramas terlebih dahulu pada hari pertama puasa.

- Selama puasa pada tengah malam Shalat ADAB, dilanjutkan Hadiah kepada :

اِلىَ حَضَرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَاَزْوَاجِهِ وَاَوْلاَدِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ شَيْئٌ ِللهِ لَهُمْ اَلْفَاِتحَةْ…….

- ILAA HADROTIN NABIYYIL MUSHTHOFAA MUHAMMAD SHOLALLAAHU ‘ALAIHI WASSALAM WA ‘ALA AALIHI, WA ASH-HABIHI, WA AZWAAJIHI, WA AULADIHI, WA DURRIYYATIHI SYAIUN LILLAAHI LAHUMUL FATIHAH…….

ثُمَّ اِلَى حَضَرَةِ اْلأَرْوَاحِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالْمَلاَئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالْعُلَمَاءِ اْلعَالِمِيْنَ خُصُوْصًا اِلَى حَضَرَةِ مَنْ اَجَازَنِىْ اِلَى ُمْنَتهَى شَيْئٌ ِللهِ لَهُمْ اَلْفَاتِحَةْ…….

- TSUMMA ILAA HADROTIN SULTANUL AULIYA SYAIKH ABDUL QODIR JAELANI QodasSallahu Sirrohul Aziz FATIHAH………
dan membaca amalannya sebanyak yang Anda mampu.
– Selama puasa setelah selesai shalat lima waktu amalannya dibaca sebanyak 7 x. Dan setelah selesai puasanya setelah selesai shalat Maghrib dan shalat Subuh amalannya cukup dibaca 1 x saja secara istiqomah

 

 

Terbukanya Pintu Yang Engkau Ketuk


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Keadaan ‘susah’ dan ‘senang’ dalam kacamata para Salik (orang yang berjalan menuju Allah) adalah sama, yaitu berupa ‘ujian’. Bahkan ujian dalam masa ‘senang’ menurut mereka lebih berat daripada ujian pada masa ‘susah’.

Manusia yang hatinya senang sebenarnya tengah menanggung tanggung jawab yang berat, yang kerap kali dilupakannya. Kesenangan itu sering kali dianggap sebagai hasil jerih-payahnya sendiri. Bila ia tidak bersyukur kepada Allah yang telah melimpahkan kesenangan kepadanya, maka sebenarnya ia berada dalam bahaya yang besar. Sebenarnya, rasa syukur kepada Allah dapat disalurkan dalam bentuk memberikan kesenangan pada orang lain yang sedang kesusahan, misalnya dengan memberikan sedekah dalam bentuk uang, membrikan makanan kepada fakir miskin, memberikan kebutuhan sandang berupa pakaian kepada yang membutuhkannya, dan lain sebagainya. Apabila ia bersyukur dengan apa yang ditunjukkan oleh agama, niscaya hartanya akan diberkati Allah dan kenikmatan yang telah diperolehnya akan terus mengalir dalam bentuk rezeki yang melimpah.

Bagi mereka yang mengalami kesusahan, Allah memberikan ujian berupa kesabaran, karena semua kesulitan adalah kehendak Allah. Bila Allah menginginkan mereka menjadi kaya, dalam sekedip mata Allah akan mengubah hidup mereka menjadi kaya. Tetapi di balik takdir-Nya yang berlawanan itu sebenarnya terkandung hikmah yang tak seorang pun dapat mengetahuinya, selain Allah. Maka hendaklah mereka menerima takdir itu dengan hati yang lapang.

Mereka yang ditimpa kesusahan seharusnya tidak boleh pasrah menerima ujian itu. Mereka harus banyak mengingat Allah lebih banyak dari mereka yang diberi kenikmatan oleh Allah. Mereka akan selalu berdoa dan memohon kepada Allah. Mereka akan bertahan berdiri di pintu Tuhannya. Semua ini akan membimbingnya untuk memperoleh pahala berlipat ganda di akhirat.

Kadangkala permintaan mereka dikabulkan oleh Allah. Allah akan memberikan apa yang dimintanya untuk dunianya. Dalam hal ini, mereka telah mendapat faedah dunia dan akhirat. Pintu yang tertutup bila terus menerus diketuk dan dirayu oleh sang penghuni, akhirnya akan terbuka. Namun, untuk membuka pintu itu diperlukan kesabaran yang panjang.

Cara ini merupakan pendidikan Allah kepada hamba-Nya, agar selalu meminta pertolongan kepada-Nya, tidak kepada yang lain karena Dialah Yang Memberi dan Menahan. Bila ada sesuatu hendak diberikan Allah kepada hamba-Nya, tak ada seorangpun yang mampu menahannya, begitu pula sebaliknya. Pandangan ini biarlah selalu berkobar di dalam hati hamba-Nya. Janganlah mereka lupa diri apabila Allah telah memberi kenikmatan, tidak lagi menengadahkan tangan kepada-Nya, tidak lagi ingin mengetuk pintu-Nya. Hamba yang melupakan Allah di tengah kenikmatan yang telah diperolehnya adalah hamba yang tidak tahu berterima kasih atas nikmat yang telah diberikan kepadanya. Akhirnya, Allah akan murka kepadanya. Bila Allah telah murka maka rugilah ia, serugi-ruginya.

Marhaban Ya Ramadhan


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Alhamdulillah Bulan ramadhan Yang kita tunggu kedatangannya sebentar lagi menghampiri diri kita yang sudah merindukannya, Mohon Maaf atas segala bentuk kesalahan Kami Keluarga Besar Tarekat Qodiriyah dalam segala Hal yang di luar pengetahuan kami sebagai Hamba-Nya. Hal-hal yang Menjadikan kita agar segala amal kita di bulan ini hingga akhir agar hadiah-hadiah yang sangat banyak diberikan Allah Swt seperti malam Lailatul Qodar, Rahmat, Mahgfirah, Ridho dan Cinta-Nya dapat kita peroleh di dalam bulan Ramadhan adalah dengan cara  Sbb :

1. Gembira dan senang dengan datang nya bulan Ramadhan, sebagaimana firman ALLAH Subhana wa Ta`ala :

“Katakanlah (wahai Muhammad ShalALLAHu`alaihiwasalam) dengan datang nya Anugerah ALLAH dan RahmatNYA. Maka dengan itu hendak nya mereka bergembira.”

(Yunus ayat 58)

Dan juga Sabda RasuluLlah ShalALLAHu`alaihiwasalam :

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan menjaga nya dengan segenap kemampuan nya, maka diampunilah seluruh dosa nya yang telah lalu.”

(Hadiths riwayat Bukhari dan Muslim)

Dan diriwayatkan oleh Salman RadiALLAHu`anh, bahwa RasuluLlah ShalALLAHu`alaihiwasalam menyampaikan ceramah nya pada kami di hari terakhir bulan Sya`ban :

“Wahai para manusia sekalian, telah menyelimuti kalian bulan Agung yang penuh keberkahan, bulan yang pada nya suatu malam yang lebih mulia dari 1,000 bulan, ALLAH menjadikan puasa di bulan ini merupakan hal yang fardhu (wajib), dan menjadikan Qiyam (tarawih) merupakan hal yang sunnah, barangsiapa yang beribadah dengan satu macam kebaikan maka sama saja pahala nya dengan menjalankan ibadah yang fardhu, barangsiapa yang beribadah dengan hal yang fardhu maka seakan ia telah mengerjakan 70X hal fardhu tersebut, inilah (Ramadhan) merupakan bulan kesabaran, dan balasan atas kesabaran adalah Syurga, inilah bulan kita saling membantu satu sama lain, inilah bulan dimana ALLAH menumpahkan rezekiNYA bagi orang mukmin.”

(Hadiths riwayat Imam Ibn Khuzaimah dalam shahih nya)

2. Menjaga diri dan berhati-hati dari hal-hal yang membuat kita terhalangi dan terusir dari kemuliaan Ramadhan, diantara nya adalah :

  • Menjaga lidah kita dari berdusta dan menjaga pula perbuatan kita dalam kedustaan dan penipuan,
  • juga ucapan-ucapan buruk dan perbuatan buruk
  • dari berbuka puasa dengan makanan haram dan syubhat,
  • dari perbuatan yang menjatuhkan pahala puasa seperti memandang aurat yang bukan muhrim nya,
  • dari berdusta dan membicarakan aib orang lain,
  • dari memutuskan hubungan silaturahmi,
  • dari minum arak, ganja dan narkotika,
  • dari dengki dan kebencian terhadap sesama muslimin, dan dari berbuat durhaka pada kedua orang tua.

Dan berhati-hatilah wahai mukimin dari berbuka puasa tanpa sebab yang jelas, Sabda RasuluLlah ShalALLAHu`alaihiwasalam :

“Barangsiapa yang berbuka di hari Ramadhan tanpa sebab sakit, atau safar, atau udzur syar`i lain nya, maka tiadalah ia akan bisa membayar nya walaupun ia berpuasa sepanjang masa.”

(Hadiths riwayat Tirmidzi, Nasa`i, Abu Daud, Ibn Maajah, Ibn Khuzaimah dan Imam Baihaqi)

Maka berhati-hatilah wahai mukmin dalam menjaga keadaan puasamu, dan jangan pula kau berbuka puasa sebelum yakin telah tiba waktu nya, karena sunnah untuk bersegera dalam buka puasa adalah setelah yakin sepenuh nya telah masuk waktu berbuka puasa.

3. Yang terakhir adalah bersungguh-sungguh dalam menghadapi hujan anugerah di bulan mulia ini, dan bersungguh-sungguh mendapatkan anugerah berlipat ganda nya berbagai pahala dan di bentangkan nya kesempatan untuk meraih derajat yang agung. Telah bersabda RasuluLlah ShalALLAHu`alaihiwasalam :

“Sesungguh nya ALLAH telah mewajibkan bagi kalian berpuasa di siang hari nya dan telah pulah mensunnahkan bagi kalian mendirikan shalat sunnah di malam hari nya (tarawih), barangsiapa yang melakukan kedua nya dengan keimanan dan kesungguhan, maka ia akan lepas dari seluruh dosa nya sebagaimana saat ia baru dilahirkan oleh ibu nya.”

(Hadiths riwayat Imam Nasa`i)

Maka seyogya nya kita memperbanyak berbagai amal ibadah di bulan mulia ini, terutama menjaga shalat lima waktu dengan berjamaah, dan ketahuilah bahwa menjamu orang lain berbuka puasa merupakan hal yang agung pahala nya, sabda RasuluLlah ShalALLAHu`alaihiwasalam :

“Barangsiapa yang menyediakan buka puasa bagi yang berpuasa dibulan Ramadhan, maka diampuni seluruh dosa nya, dan kebebasan bagi nya dari api neraka, dan ia mendapatkan pahala puasa tersebut.”

(Hadiths riwayat Ibn Khuzaimah dalam shahih nya)

Sabda RasuluLlah ShalALLAHu`alaihiwasalam :

“Barangsiapa yang menyediakan buka puasa bagi orang yang berpuasa Ramadhan dengan makanan dan minuman yang halal, maka akan bershalawatlah para Malaikat bagi nya sepanjang waktu Ramadhan, dan akan bershalawatlah pada nya Malaikat Jibril dimalam Lailatulqadr.”

(Hadiths riwayat Imam Thabrani)

Sabda Baginda RasuluLlah ShalallaHu`alaihiwasalam :

“Diberikan untuk ummatku dibulan Ramadhan lima hal yang tidak diberikan pada para Nabi sebelumku, yaitu saat malam pertama bulan Ramadhan, ALLAH memandangi mereka dengan iba dan kasih sayangNYA, dan barangsiapa yang dipandangi ALLAH dengan iba dan kasih sayangNYA maka tidak akan pernah diseksa selama-selama nya, yang kedua adalah aroma tidak sedap dari mulut mereka di sore hari nya lebih indah dihadapan ALLAH daripada wangi nya Misk (bau tidak sedap orang yang berpuasa akan menyusahkan mereka dan akan membuat mereka merasa terhina, namun balasan untuk keredhaan mereka karena hal yang tidak mereka sukai dan perasaan terhina itu adalah justeru di sisi ALLAH hal itu sangatlah mulia), yang ketiga adalah sungguh para malaikat memohonkan pengampunan dosa bagi mereka sepanjang siang dan malam, yang keempat adalah ALLAH memerintah kepada Syurga seraya berfirman : “Bersiaplah engkau (wahai Syurga), dan bersoleklah untuk menyambut hamba-hambaKU, AKU iba melihat mereka, barangkali mereka mesti beristirehat karena kepayahan menghadapi kehidupan mereka didunia untuk menuju Istana-IstanaKU dan Megah nya KedermawananKU”, yang kelima adalah ketika malam terakhir dibulan Ramadhan maka diampunilah bagi mereka seluruh nya, maka bertanyalah seorang sahabat : “Apakah itu hadiah orang yang mendapatkan Lailatulqadr Wahai Rasulullah?”, maka Rasulullah ShalALLAHu`alaihiwasalam bersabda : “Tidak, bukankah bila kau melihat para buruh bila selesai dari pekerjaan nya harus segera dilunasi upah nya?”

(Hadiths riwayat Imam Baihaqi)

Maka ketahuilah bahwa RasuluLlah ShalALLAHu`alaihiwasalam bersungguh-sungguh dalam beribadah pada bulan Ramadhan, lebih dari kesungguhan nya di bulan lain, dan RasuluLlah ShalALLAHu`alaihiwasalam sangat teramat bersungguh-sungguh dalam beribadah di 10 malam terakhir bulan Ramadhan lebih dari kesungguhan nya di hari-hari Ramadhan lain nya.

Menurut istilah syara’ (terminologi) berarti menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat tertentu.

Dasar wajib puasa:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa, (Al-Baqoroh 183)

Puasa diwajibkan pada bulan Sya’ban tahun kedua hijriyyah.

Hikmah puasa : menahan hawa nafsu, mengurangi syahwat, memberikan pelajaran bagi si kaya untuk merasakan lapar sehingga menumbuhkan rasa kasih sayang kepada fakir miskin, dan menjaga dari maksiat.

Syarat sah puasa:

1. Islam
2. Berakal
3. Bersih dari haid dan nifas
4. Mengetahui waktu diperbolehkan untuk berpuasa.

Berarti tidak sah puasa orang kafir, orang gila walaupun sebentar, perempuan haid atau nifas dan puasa di waktu yang diharamkan berpuasa, seperti hari raya atau hari tasyriq.

Adapun perempuan yang terputus haid atau nifasnya sebelum fajar maka puasanya tetap sah dengan syarat telah niat, sekalipun belum mandi sampai pagi.

Syarat wajib puasa:

1. Islam

Puasa tidak wajib bagi orang kafir dalam hukum dunia, namun di akhirat mereka tetap dituntut dan diadzab karena meninggalkan puasa selain diadzab karena kekafirannya.

Sedangkan orang murtad tetap wajib puasa dan mengqodho’ kewajiban-kewajiban yang ditinggalkannya selama murtad.

2. Mukallaf (baligh dan berakal).

Anak yang belum baligh atau orang gila tidak wajib puasa, namun orang tua wajib menyuruh anaknya berpuasa pada usia 7 tahun jika telah mampu dan wajib memukulnya jika meninggalkan puasa pada usia 10 tahun.

3. Mampu mengerjakan puasa (bukan orang lansia atau orang sakit).

Lansia yang tidak mampu berpuasa atau orang sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh menurut medis wajib mengganti puasanya dengan membayar fidyah yaitu satu mud (7,5 ons) makanan pokok untuk setiap harinya.

4. Mukim (bukan musafir sejauh ± 82 km dan keluar dari batas daerahnya sebelum fajar).

Rukun-rukun puasa:

1. Niat,

Niat untuk puasa wajib, mulai terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar di setiap harinya. Sedangkan niat untuk puasa sunnah, sampai tergelincirnya matahari (waktu duhur) dengan syarat:

a. diniatkan sebelum masuk waktu dhuhur

b. tidak mengerjakan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum dan lain-lain sebelum niat.

Niat puasa Ramadhan yang sempurna:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَان هذِهِ السَّنَة ِللهِ تَعَالَى

Saya niat mengerjakan kewajiban puasa bulan Ramadhan esok hari pada tahun ini karena Allah SWT.

1. Menghindari perkara yang membatalkan puasa. Kecuali jika lupa atau dipaksa atau karena kebodohan yang ditolerir oleh syari’at (jahil ma’dzur).

Jahil ma’dzur/kebodohan yang ditolerir syariat ada dua:

a. hidup jauh dari ulama’.

b. baru masuk islam.

Hal-hal yang membatalkan puasa :

1. Masuknya sesuatu ke dalam rongga terbuka yang tembus ke bagian dalam tubuh seperti mulut, hidung, telinga dan lain-lain jika ada unsur kesengajaan, mengetahui keharamannya dan atas kehendak sendiri. Namun jika dalam keadaan lupa, tidak mengetahui keharamannya karena bodoh yang ditolerir atau dipaksa, maka puasanya tetap sah.
1. Murtad, sekalipun masuk islam seketika.
2. Haid, nifas dan melahirkan sekalipun sebentar.
3. Gila meskipun sebentar.
4. Pingsan dan mabuk sehari penuh. Jika masih ada kesadaran sekalipun sebentar, tetap sah.
5. Bersetubuh dengan sengaja dan mengetahui keharamannya.
6. Mengeluarkan mani dengan sengaja, seperti dengan tangan atau dengan menyentuh istrinya tanpa penghalang.
7. Muntah dengan sengaja.

Masalah masalah yang berkaitan dengan puasa:

1. Apabila seseorang berhubungan dengan istrinya pada siang hari Ramadhan dengan sengaja, tanpa terpaksa dan mengetahui keharamannya maka puasanya batal, berdosa, wajib menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sampai maghrib dan wajib mengqodhoi puasa serta wajib membayar kaffaroh [denda] yaitu:

- membebaskan budak perempuan yang islam

- jika tidak mampu, wajib berpuasa dua bulan berturut turut,

- jika tidak mampu maka wajib memberi makanan pada 60 orang miskin masing-masing berupa 1 mud (7,5 ons) dari makanan pokok. Denda ini wajib dikeluarkan hanya bagi laki laki.

2. Hukum menelan dahak :

* Jika telah mencapai batas luar tenggorokan, maka haram menelan dan membatalkan puasa.
* Jika masih di batas dalam tenggorokan, maka boleh dan tidak membatalkan puasa.

Yang dimaksud batas luar menurut pendapat Imam Nawawi (mu’tamad) adalah makhroj huruf kha’ (ح), dan dibawahnya adalah batas dalam. Sedangkan menurut sebagian ulama’ batas luar adalah makhroj huruf kho’(خ), dan di bawahnya adalah batas dalam.

3. Menelan ludah tidak membatalkan puasa dengan syarat:

- Murni (tidak tercampur benda lain)

- Suci

- Berasal dari sumbernya yaitu lidah dan mulut, sedangkan menelan ludah yang berada pada bibir luar membatalkan puasa karena sudah di luar mulut.

4. Hukum masuknya air mandi ke dalam rongga dengan tanpa sengaja:

- Jika sebab mandi sunnah seperti mandi untuk sholat jum’at atau mandi wajib seperti mandi janabat maka tidak membatalkan puasa kecuali jika sengaja atau menyelam.

- Jika bukan mandi sunnah atau wajib seperti mandi untuk membersihkan badan maka puasanya batal baik disengaja atau tidak.

5. Hukum air kumur yang tertelan tanpa sengaja:

* Jika berkumur untuk kesunnahan seperti dalam wudhu’ tidak membatalkan puasa asalkan tidak terlalu ke dalam (mubalaghoh)
* Jika berkumur biasa, bukan untuk kesunnahan maka puasanya batal secara mutlak, baik terlalu ke dalam (mubalaghoh) atau tidak.

6. Orang yang muntah atau mulutnya berdarah wajib berkumur dengan mubalaghoh (membersihkan hingga ke pangkal tenggorokan) agar semua bagian mulutnya suci.

Apabila ia menelan ludah tanpa mensucikan mulutnya terlebih dahulu maka puasanya batal sekalipun ludahnya nampak bersih.

7. Orang yang sengaja membatalkan puasanya atau tidak berniat di malam hari, wajib menahan diri di siang hari Ramadhan dari perkara yang membatalkan puasa (seperti orang puasa) sampai maghrib dan setelah Ramadhan wajib mengqodhoi puasanya.

8. Berbagai konsekuensi bagi orang yang tidak berpuasa atau membatalkan puasa Ramadhan:

1. Wajib qodho’ dan membayar denda :

* Jika membatalkan puasa demi orang lain. Seperti perempuan mengandung dan menyusui yang tidak puasa karena kuatir pada kesehatan anaknya saja.
* Mengakhirkan qodho’ hingga datang Ramadhan lagi tanpa ada udzur.

2. Wajib qodho’ tanpa denda.

Berlaku bagi orang yang tidak berniat puasa di malam hari, orang yang membatalkan puasanya dengan selain jima’ (bersetubuh) dan perempuan hamil atau menyusui yang tidak puasa karena kuatir pada kesehatan dirinya saja atau kesehatan dirinya dan anaknya.

3. Wajib denda tanpa qodho’.

Berlaku bagi orang lanjut usia dan orang sakit yang tidak punya harapan sembuh, jika keduanya tidak mampu berpuasa.

4. Tidak wajib qodho’ dan tidak wajib denda.

Berlaku bagi orang yang gila tanpa disengaja.

Yang dimaksud denda di sini adalah 1 mud (7,5 ons) makanan pokok daerah setempat untuk setiap harinya.

Hal-hal yang disunnahkan dalam puasa Ramadhan:

1. Menyegerakan berbuka puasa.

2. Sahur, sekalipun dengan seteguk air.

3. Mengakhirkan sahur, dimulai dari tengah malam.

4. Berbuka dengan kurma. Disunnahkan dengan bilangan ganjil. Bila tak ada kurma, maka air zam-zam. Bila tak ada, cukup dengan air putih. Bila tak ada, dengan apa saja yang berasa manis alami. Bila tak ada juga, berbuka dengan makanan atau minuman yang diberi pemanis.

5. Membaca doa berbuka yaitu:
اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلىَ رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ اْلعُرُوقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ .اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي أَعَانَنِي فَصُمْتُ وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ اَللّهُمَّ اِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ اَنْ تَغْفِرَ لِي .

6. Memberi makanan berbuka kepada orang berpuasa.

7. Mandi janabat sebelum terbitnya fajar bagi orang yang junub di malam hari.

8. Mandi setiap malam di bulan Ramadhan

9. Menekuni sholat tarawih dan witir.

10. Memperbanyak bacaan Al Quran dengan berusaha memahami artinya.

11. Memperbanyak amalan sunnah dan amal sholeh.

12. Meninggalkan caci maki.

13. Berusaha makan dari yang halal

14. Bersungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir, dan lain-lain

Hal-hal yang dimakruhkan dalam puasa Ramadhan:
1. Mencicipi makanan.

2. Bekam [mengeluarkan darah].

3. Banyak tidur dan terlalu kenyang.
4. Mandi dengan menyelam.

5. Memakai siwak setelah masuk waktu duhur.

Hal hal yang membatalkan pahala puasa:
1. Ghibah (gosip)

2. Adu domba

3. Berbohong
4. Memandang dengan syahwat

5. Sumpah palsu.

6. Berkata jorok atau jelek

Rasulullah SAW bersabda :
خمس يفطّرن الصائم الكذب والغيبة والنميمة واليمين الكاذبة والنظر بشهوة

“ Lima perkara yang membatalkan (pahala) puasa : berbohong, ghibah, adu domba, sumpah palsu dan melihat dengan syahwat “ (H.R. Anas)

والحمد لله رب العالمين …آمين

Habib Anis bin Alwi bin Ali Al-Habsyi



Bismillahir Rahmnir Rahiim

Habib Anis lahir di Garut Jawa Barat, Indonesia pada tanggal 5 Mei 1928. Ayah beliau adalah Habib Alwi. Sedangkan ibu beliau adalah syarifah Khadijah. Ketika beliau berumur 9 tahun, keluarga beliau pindah ke Solo. Setelah berpindah-pindah rumah di kota Solo, ayah beliau menetap di kampung Gurawan, Pasar Kliwon Solo.
Sejak kecil, Habib Anis dididik oleh ayah sendiri, juga bersekolah di madrasah Ar-Ribathah, yang juga berada di samping sekolahannya. Pada usia 22 tahun, beliau menikahi Syarifah Syifa binti Thaha Assagaf, setahun kemudian lahirlah Habib Ali.
Tepat pada tahun itu juga, beliau menggantikan peran ayah beliau, Habib Alwi yang meninggal di Palembang. Habib Ali bin Alwi Al Habsyi adik beliau menyebut Habib Anis waktu itu seperti “anak muda yang berpakaian tua”.
Habib Anis merintis kemaqamannya sendiri dengan kesabaran dan istiqamah, sehingga besar sampai sekarang. Selain kegiatan di Masjid seperti pembacaan Maulid simthud-Durar dan haul Habib Ali Al-Habsyi setiap bulan Maulud, juga ada khataman Bukhari pada bulan sya’ban, khataman Ar-Ramadhan pada bulan Ramadhan. Sedangkan sehari-hari beliau mengajar di zawiyah pada tengah hari.
Pada waktu muda, Habib Anis adalah pedagang batik, dan memiliki kios di pasar Klewer Solo. Kios tersebut ditunggui Habib Ali adik beliau. Namun ketika kegiatan di masjid Ar-Riyadh semakin banyak, usaha perdagangan batik dihentikan. Habib Anis duduk tekun sebagai ulama.
Dari perkawinan dengan Syarifah Syifa Assagaf, Habib Anis dikaruniai enam putera yaitu Habib Ali, Habib Husein, Habib Ahmad, Habib Alwi, Habib Hasan, dan Habib AbdiLlah. Semua putera beliau tinggal di sekitar Gurawan.
Dalam masyarakat Solo, Habib Anis dikenal bergaul lintas sektoral dan lintas agama. Dan beliau netral dalam dunia politik.
Dalam sehari-hari Habib Anis sangat santun dan berbicara dengan bahasa jawa halus kepada orang jawa, berbicara bahasa sunda tinggi dengan orang sunda, berbahasa indonesia baik dengan orang luar jawa dan sunda, serta berbahasa arab Hadrami kepada sesama Habib.
Penampilan beliau rapi, senyumnya manis menawan, karena beliau memang sumeh (murah senyum) dan memiliki tahi lalat di dagu kanannya. Beberapa kalangan menyebutnya The smilling Habib.
Habib Anis sangat menghormati tamu, bahkan tamu tersebut merupakan doping semangat hidup beliau. Beliau tidak membeda-bedakan apahkah tamu tersebut berpangakat atau tidak, semua dijamunya dengan layak. Semua diperlakukan dengan hormat.
Seorang tukang becak (Pak Zen) 83 tahun yang sering mangkal di Masjid Ar-Riyadh mengatakan, Habib Anis itu ulama yang loman (pemurah, suka memberi). Ibu Nur Aini penjual warung angkringan depan Masjid Ar-Riyadh menuturkan, “Habib Anis itu bagi saya orangnya sangat sabar, santun, ucapannya halus. Dan tidak peranah menyakiti hati orang lain apalagi membuatnya marah”.
Saat ‘Idul Adha Habib Anis membagi-bagikan daging korban secara merata melalui RT sekitar Masjid Ar-Riyadh dan tidak membedakan Muslim atau non Muslim. Kalau dagingnya sisa, baru diberikan ke daerah lainnya.
Jika ada tetangga beliau atau handai taulan yang meninggal atau sakit, Habib Anis tetap berusaha menyempatkan diri berkunjung atau bersilautrahmi. Tukang becak yang mangkal di depan Masjid Wiropaten tempat Habib Anis melaksanakan shalat jum’at selalu mendapatkan uang sedekah dari beliau. Menjelang hari raya Idul Fitri Habib Anis juga sering memberikan sarung secara Cuma-Cuma kepada para tetangga, muslim maupun non muslim. “Beri mereka sarung meskipun saat ini mereka belum masuk islam. Insya Allah suatu saat nanti dia akan teringat dan masuk islam.” Demikian salah satu ucapan Habib Anis yang ditirukan Habib Hasan salah seorang puteranya.
Meskipun Habib Anis bin Alwi bin Ali al Habsyi telah meninggalkan kita, namun kenangan dan penghormatan kepada beliau terus saja mengalir disampaikan oleh para habib atau para muhibbin. Habib Husein Mulachela keponakan Habib Anis mengatakan, pada saat meninggalnya Habib Anis dia dan isterinya tidak mendapatkan tiket pesawat, dan baru keesok harinya datang ke Solo melalui bandara Adi Sumarmo Yogyakarta. Selama semalam menunggu, mereka seperti mencium bau minyak wangi Habib Anis di kamarnya. “Aroma itu saya kenal betul karena Habib Anis membuat minyak wangi sendiri, sehingga aromanya khas.”
Dalam salah satu tausiyah, Habib JIndan mengatakan, “Seperti saat ini kkita sedang mengenang seorang manusia yang sangat dimuliakan, yaitu Nabi Muhammad SAW. Kita juga mengenang orang shalih yang telah meningalkan kita pada tanggal 6 Nopember 2006 yaitu guru kita Habib Anis bin alwi bin Ali Al-Habsyi.
Ketika kita hadir pada saat pemakaman Habib Anis, jenazah yang diangkat tampak seperti pengantin yang sedang diarak ke pelaminannya yang baru. Bagi Habib Anis, kita melihat semasa hidup berjuang untuk berdakwah di masjid Ar-Riyadh dan kini setelah meninggal menempati Riyadhul Janah, taman-taman surga. Ketika takziyah pada pemakaman Habib Anis kita seolah-olah mengarak pengantin menuju Riyadhul Jannah, taman-taman surga Allah. Inilah tempat yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang beriman, bertaqwa dan shalih. Kita sekarang seperti para sahabat Habib Ali Al-habsyi, penggubah maulid Simtuh-durar yang mengatakan bahwa, keteka mereka hidup di dunia, mereka seolah-olah tidak merasakan hidup di dunia tetapi hidup di surga. Sebab setiap hari diceritakan tentang akhirat, tentang ketentraman bathin di surga. Dan mereka baru menyadari baha mereka hidup di dunia yang penuh cobaan.
Kita selama ini hidup bersama Habib Anis, bertemu dalam majlis maulid, berjumpa dalam kesempatan rauhah dan berbagai kesempatan lainnya. Dalam berbagai kesempatan itu kita mendengar penuturan yang lembut dan menentramkan, sehingga sepertinya kita di surga. Dan kita merasakan bahwa kita hidup di dunia yang fana ketika menyaksikan bahwa beliau meninggal dunia. Namun begitu, kenangan beliau tetap terbayang di mata kita, kecintaan beliau tetap menyelimuti kita.
Habib AbduLlah Al-hadad ketika menyaksikan kepergian para guru beliau, mengatakan, “Kami kehilangan kebaikan para guru kami ketika mereka meninggal dunia. Segala kegembiraan kami telah lenyap, tempat yang biasa mereka duduki telah kosong, Allah telah mengambil milik-Nya Kami sedih dan kami menangis atas kepergian mereka. Ah…andai kematian hanya menimpa orang-orang yang jahat, dan orang-orang yang baik dibiarkan hidup oleh Allah. Aku akan tetap menangisi mereka selama aku hidup dan aku rindu kepada mereka. Aku akan selalu kasmaran untuk menatap wajah mereka. Aku akan megupayakan hidupku semampukun untuk selalu mengikuti jalan hidup para guruku, meneladani salafushalihin, menempuh jalan leluhurku.”
Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assagaf yang berada di Jeddah bercerita, “Ayahku Habib Ahmad bin AbduRrahman berkata kepadaku, ‘ya…Abdulkadir engkau lihat aku, ketahuilah jangan engkau menyimpang dari jalan orang tuamu’”. Ketika Habib Ahmad bin AbduRrahman meninggal dunia, Habib AbdulKadir tetap menempuh jalan orang tuanya dan dia tidak menyipang sedikitpun jalan yang telah ditempuh oleh Habib Ahmad bin AbduRrahman.
Begitu juga Almarhum Habib Anis, tidak sedikitpun menyimpang dari yang ditempuh oleh ayah beliau, Habib Alwi. Hal serupa terjadi pada Habib Alwi , yang tetap menapaki jalan yang ditempuh oleh ayah beliau Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi Dan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi sama juga menempu jalan orang tua, guru dan teladan beliau hingga sampai Nabi Muhammad SAW”……
Sedangkan Habib Novel bin Muhammad Alaydrus, murid senior sekaligus cucu menantu Habib Anis mengatakan, maqam tinggi yang dimiliki Habib Anis didapatkan bukan karena berandai-andai atau duduk – duduk saja. Semua itu beliau peroleh setelah bertahun-tahun menanamkan cinta kepada Allah SWT, para shalihin dan kepada kaum muslimin umumnya. Semoga beliau dalam kuburnya melihat kehadiran kita di majlis ini, bahwa kita sebagai anak didiknya meneruskan perjuangan dakwahnya. Dalam Al-Qur’an disebutkan, ‘Dan sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih sayang’. Artinya kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih Allah menanamkan kepada makhluk-makhluk rasa kasih sayang kepadanya, cinta kepadanya, sebagaimana disabdakan RasuluLlah SAW dalam hadits yang diriwayatkan imam Bukhari, “Jika Allah mencintai hambanya maka Allah akan memanggil Jibril, menyampaikan bahwa Allah mencintai si Fulan. Mulai saat itu Jibril akan mencintai Fulan, sampai kapanpun. Jibril kemudian memanggil ahli langit untuk menyaksikan bahwa Allah mencintai Fulan. Maka ia memerintahkan mereka semua utuk eneicintai Fulan. Dengan begitu para penghuni langit mencintai Fulan. Setelah itu Allah letakkan di atas bumi ini rasa cinta untuk menerima orang yang dicintai Allah tersebut, dapat dekat dengan orang itu.” Dan insya Allah Habib Anis termasuk diantara orang-orang tersebut.”
Ada empat hal yang selalu disampaikan oleh Habib Anis kepada jama’ah yang hadir di majlis beliau, “Pertama, Kalau engkau ingin mengetahui diriku, lihatlah rumahku dan masjidku. Masjid ini tempat aku beribadah mengabdi kepada Allah. Kedua, zawiyah, di situlah aku menggembleng akhlak jama’ah sesuai akhlak Nabi Muhammad SAW. Ketiga, kusediakan buku-buku lengkap di perpustakaan, tempat untuk menuntut ilmu. Dan keempat, aku bangun bangunan megah. Di situ ada pertokoan, karena setiap muslim hendaknya bekerja. Hendaklah ia berusaha untuk mengembangkan dakwah Nabi Muhammad SAW”…….

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 258 other followers

%d bloggers like this: