Posts from the ‘Penyebaran Agama Islam’ Category

Habib Abdullah bin Umar Asy Syatiri


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri adalah
ulama pelopor yang telah mengabdikan dirinya di Ribath Tarim dan
berhasil melahirkan ribuan alumnus yang kini menyebar di berbagai
negeri Islam. Rubath Tarim adalah ma’had yang telah mencetak banyak
ulama besar. Hampir tidak ada negeri muslim yang mendapatkann manfaat
dan cahaya ilmu Rubath Tarim dan kini cabangnya di mana-mana.


Rubath Tarim terletak di jantung kota Tarim. Didirikan pada tahun 1304
H oleh para tokoh habaib dari keluarga Al-Haddad, Al-Junaid, Al-Siri.
Di samping masyaikh dari keluarga Arfan.

Sedangkan yang pertama kali
mewakafkan sebagian besar tanahnya adalah Al-Habib Ahmad bin Umar
Asy-Syathiri, saudara Al-Habib Abdullah Asy-Syathiri dan ayah Al-Habib
Muhammad bin Ahmad Asy-Syathiri. Rubath Tarim didirikan karena para
santri yang datang dari tempat yang jauh ternyata sulit untuk
mendapatkan tempat tinggal, maka para tokoh habaib saat itu sepakat
untuk mendirikan Rubath Tarim sebagai tempat menimba ilmu pengetahuan
Islam, bahasa arab dan sebagainya, disamping sebagai tempat tinggal
para santri yang datang dari tempat yang jauh. Maka datanglah para
penuntut ilmu dari dalam dan luar Tarim, dari dalam dan luar Hadramaut
diantaranya dari Indonesia, Malaysia, negeri-negeri Afrika,
Negara-negara Teluk dan lain-lain.


Sejak didirikan pada tahun 1304 H (1886 M), Rubath Tarim dipimpin oleh
Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur hingga tahun 1314 H (1896
M). Kemudiam kepemimpinan berpindah kepada Al-Habib Abdullah bin Umar
Asy-Syathiri. Di tempat inilah beliau menghabiskan usianya demi
menyebarkan ilmu-ilmu ke-Islaman dan melayani kaum muslimin. Sejak
menjadi pengasuh Rubath Tarim beliau telah mewakafkan seluruh
kehidupannya untuk berjihad, berdakwah, mengajar, dan menjelaskan
berbagai persoalan agama.


Perjalanan panjang Rubath Tarim memang tidak dapat di pisahkan dari
kehidupan Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri. Beliau dilahirkan di
kota ilmu , Tarim pada bulan Ramadhan 1290 H (1873 M), beliau tumbuh
dengan baik dalam lingkungan yang penuh dengan didikan agama. Di masa
kanak-kanak beliau belajar Al-Qur’an kepada dua orang guru Syaikh
Muhammad bin Sulaiman Bahami dan anaknya, Syaikh Abdurrahman Baharmi,
kemudian beliau mengikuti pelajaran di Madrasah Al-Habib Abdullah bin
Syaikh Al-Idrus pada saat itu yang mengajar di tempat tersebut adalah
Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Kaff dan Al-Habib Syaikh bin Idrus
Al-Idrus. Kepada merekalah beliau belajar kitab-kitab dasar dalam ilmu
fiqih dan tasawwuf selain menghafal beberapa juz Al-Qur’an.

Ada beberapa faktor baik intenal maupun
eksternal yang menyebabkan beliau memiliki banyak kelebihan, baik dalam
ilmu maupun lainnya, sejak kecil hingga dewasanya, selain bakat dan
potensinya dalam hal kecerdasan, kecenderungannya yang untuk menjadi
ulama dan tokoh telah nampak sejak kanak-kanak, dukungan yang
sepenuhnya dari orangtua juga menjadi faktor penting yang tak dapat
diabaikan.


Ayahnya senantiasa mencukupi kebutuhannya sejak kecil hingga lanjut
usia. Mengenai hal tersebut Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar
mengisahkan, suatu ketika seseorang memuji beliau baik ilmunya maupun
amalnya di hadapan Al-Habib Abdullah sendiri dan ayahnya Al-Habib Umar
Asy-Syathiri. Maka ayahnya yang alim itu juga berkata ,”Aku mencukupi
kebutuhannya. Aku hanya makan gandum yang sederhana, sedangkan ia aku
beri makan gandum yang bagus,”. Al-Habib Ali Bungur dalam kitabnya
mengatakan, barangkali maksud ayah Al-Habib Abdullah bin Umar
Asy-Syathiri berbuat demikian adalah untuk meningkatkan akhlaknya atau
karena ia khawatir anaknya terkena a’in (pengaruh mata, yakni yang
jahat) karena di usia muda itu telah nampak kepemimpinannya dalam
masalah agama, dengan mengkonsumsi makanan yang lebih baik, diharapkan
daya tahannya lebih kuat.

Menziarahi Peninggalan Salaf

Sejak
kecil beliau senang menziarahi peninggalan-peninggalan salaf, ayahnya
pernah berkata kepada Al-Habib Ali Bungur, ”ketika kami (ia dan
anaknya) mengunjungi Huraidhah,wadi ‘Amad dan Du’an untuk pertama
kalinya, yang saya katakan kepada penduduknya adalah, “Tolong beri
tahukan kami semua peninggalan salaf di sini. Karena, apabila kami
telah pulang ke Tarim dan orang menyebut tentang suatu peninggalan yang
ia (anaknya, Al-Habib Abdullah) belum kunjungi saya khawatir ia akan
sangat menyesal, saya tahu ia sangat gemar pada sirah para salaf dan
peninggalan mereka”.


Di waktu kecil itu pula, apabila terjadi suatu kejadian yang remeh pada
diri Habib Abdullah tetapi tak di sukai ayahnya, sang ayah
mengharuskannya membaca Al-Qur’an hingga khatam sebelum memulai
pelajaran selanjutnya, meski pun pemikiran dan kesiapannya untuk
menerima pengetahuan masih terbatas.


Setelah ilmu-ilmu dasar dikuasainya beliau benar-benar memfokuskan
kegiatannya untuk mendapatkan ilmu yang lebih banyak dan lebih luas
lagi. Beliau selalu mengikuti Mufti Hadramaut saat itu, Al-Habib
Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur, juga gurunya yang selalu
menyebarkan dakwah Al-Habib Alwi bin Abdurrahman bin Abu Bakar
Al-Masyhur dan para ulama Tarim lainnya. Kepada mereka beliau belajar
kitab-kitab tafsir, hadits, fiqih, nahwu, tasawuf dan lain-lain, juga
gurunya yang selalu menyebarkan dakwah Al-Habib Alwi bin Abdurrahman
bin Abu Bakar Al-Masyhur dan para ulama Tarim lainnya. Kepada mereka
beliau belajar kitab-kitab tafsir, hadits, fiqih, nahwu, tasawuf dan
lain sebagainya.


Sebagaimana kebiasaan dan kecenderungan para ulama pada umumnya
Al-Habib Abdullah Asy-Syathiri pun tak puas bila hanya belajar ke
kotanya. Maka berangkatlah beliau ke Sewun, lalu tinggal di Rubath kota
ini selama empat bulan. Di kota ini diantaranya beliau belajar kepada
Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi, penyusun kitab Mualid
Simthud Durrar, selain menimba ilmu kepada sejumlah ulama Sewun lain
dan orang-orang shalih, beliau juga mengambil ilmu dari Al-Habib Ahmad
bin Hasan Al-Attas dan Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi.


Dengan perjalanannya ke Haramain tahun 1310 H (1892 M) jumlah gurunya
semakin bertambah banyak. Setelah menunaikan haji dan menziarahi
datuknya Rasulullah SAW , beliau sangat bersungguh-sungguh dalam
menuntut ilmu. Kesungguhannya sulit di cari bandingannya. Dalam sehari
semalam beliau ber-talaqqi (belajar secara langsung dan pribadi dengan
menghadap guru) dalam tiga belas pelajaran. Setiap sebelum menghadap
masing-masing gurunya, beliau muthala’ah (kaji) dulu setiap pelajaran
itu sendiri.


Guru-gurunya yang sangat berpengaruh di Makkah di antaranya Al-Habib
Husein bin Muhammad Al-Habsyi, Syaikh Muhammad bin Said Babsheil,
Syaikh Umar bin Abu bakar Bajunaid dan Sayyid Bakri bin Muhammad
Syatha, pengarang kitab I’anah ath-Thalibin yang merupakan syarah kitab
Fath Al-Mu’in. Tetapi yang menjadi Syaikh fath (guru pembuka)-nya
adalah Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husein Al-Masyhur, gurunya
ketika di Tarim. Tak terhitung lagi banyaknya kitab yang beliau
pelajari pada gurunya ini dalam ilmu fiqih dan yang lainnya.


Selama tiga tahun beberapa bulan beliau berada di Makkah. Pada tahun
1314 H (1896 M) beliau kembali ke negerinya, Tarim dengan membawa bekal
ilmu dan tersinari cahaya Tanah Suci, kemudian beliaupun mengajar di
Rubath Tarim sampai wafatnya Al-habib Abdurrahman bin Muhammad
Al-Masyhur tahun 1320 H (1902 M).


Setelah Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur wafat beliau
menjadi pengajar pengajian umum setelah wafatnya Al-Habib Ali bin
Muhammad Al-Masyhur pada 21 Rabiuts Tsani 1274 H (1932 M). Di Rubath
Tarim beliau benar-benar memainkan perannya sebagai pengajar,
pembimbing, dan penasehat terbaik dan itu berlangsung semenjak ayahnya
masih hidup hingga sesudah ayahnya wafat pada bulan Dzulqa’idah tahun
1350 H (1932 M). Selama kurang lebih 50 tahun pengabdiannya
murid-muridnya tak terhitung lagi banyaknya, baik dari Hadramaut maupun
dari luar, peran dan jasanya tak terbatas di lingkungan Rubath Tarim
saja, melainkan juga meluas keseluruh Tarim, bahkan ke kota-kota dan
wilayah-wilayah lain di Hadramaut. Beliau menjadi marji’ (rujukan)
dalam berbagai persoalan, tidak terhitung lagi ishlah yang dilakukannya
kepada pihak-pihak yang bertentangan.


Seiring dengan kekokohannya yang semakin diakui beliau diserahi amanah
untuk menangani pengawasan Rubath, pengurusan masalah santri dan
pengarahan halaqah. Di tengah kesibukannya itu beliau menyempatkan diri
memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Setiap malam Jum’at antara
Magrib dan Isya beliau berdakwah kepada mereka di masjid jami’ Tarim.
Itu berlangsung sejak tahun 1341 H setelah wafatnya sang guru Al-Habib
Alwi bin Abdurrahman Al-Masyhur. Di masa Al-Habib Alwi masih hidup pun
beliau sering menggantikannya apabila gurunya sedang tidak berada di
tempat atau mempunyai halangan.


Hubungan beliau dengan gurunya ini sangat erat banyak kisah menarik di
antara mereka, antara lain ketika sang guru hendak menghembuskan nafas
terakhir, sebagaimana yang di kisahkan dalam lawami’ An-Nur, halaman 18
: Sebagaimana diketahui para wali Allah ketika menjelang wafat biasanya
menyerahkan urusan atau tugas yang diembannya kepada seseorang yang
memenuhi syarat. Terkadang anaknya sendiri yang menerima kepercayaan
itu mungkin pula muridnya bahkan terkadang gurunya yang masih hidup
yang menerimanya.


Pada sore hari menjelang malam wafatnya Al-Habib Alwi bin Abdurrahman
Al-Masyhur, beliau sedang memberikan pelajaran sebagaimana biasanya di
Rubath , ketika salah seorang murid membaca beliau terlihat mengantuk,
maka murid yang membaca itu sebentar-bentar berhenti membaca, tetapi
beliau malah membentaknya agar ia meneruskan membacanya, Karena murid
itu berkali-kali diam maka beliaupun menyuruh murid yang lain untuk
membaca. Hanya sebentar beliau mengantuk tiba-tiba beliau mengangkat
kepalanya dan berteriak dengan keras, ”Semoga Allah merahmati Al-Habib
Alwi Al-Masyhur.”. Kalimat demikian mengisyaratkan bahwa Al-Habib Alwi
akan atau telah wafat. Kemudian beliau meminta murid-murid untuk tidak
membicarakan atau memberitahukan kepada orang lain sampai berita itu
diumumkan sebagaimana kebiasaan di sana .


Kemudian beliau keluar ruangan seraya menyuruh murid-muridnya
melanjutkan pelajarannya. Beliau menuju rumah Al-Habib Alwi Al-Masyhur,
pada saat itu habib dalam keadaan menjelang wafat, didampingi putranya,
Habib Abu bakar. Setiap kali sadar dari pingsannya, ia bertanya,
”Apakah Abdullah Asy-Syathiri telah datang ? Apakah ia sudah sampai ?”
kalimat itu yang terus diulanginya.

Maka berkatalah putranya, ”Apakah ayah ingin kami mengirim orang untuk menjemputnya?”

Al-Habib Alwi menjawab, ’Tidak.”

Pada
saat yang dinantikan itu tiba-tiba Al-Habib Abdullah datang, maka
Al-Habib Alwi pun bergembira dan berseri-seri wajahnya. Hubungan bathin
segera tersambung diantara mereka. Mereka berpelukan, berjabat tangan
dan seolah ada sesuatu yang dititipkan kepada Al-Habib Abdullah
Asy-Syathiri. Kemudian ruh Al-Habib Alwi pun kembali kepada Tuhan-Nya.
Tampaknya sebelum itu hanya menunggu kehadiran pemilik amanah yang akan
ia serahi kepercayaan itu. Itulah salah satu kisahnya dangan gurunya
itu.

Ungkapan Duka para Penyair


Al-Habib Abdullah terus menyuarakan dakwahnya dan mengajar dengan
istiqomah hingga Allah memanggilnya pada malam sabtu tanggal 29 jumadil
Ula tahun 1361 H (13 juni 1942). Jasadnya dikebumikan dipemakaman
zanbal, Tarim. Tak terhitung banyaknya tokoh yang menghadiri
pemakamannya, berbagai ratsa’ (ungkapan duka) dibuat para penyair atas
wafatnya sang habib. Semuanya termuat dalam salah satu kitab
manaqibnya, Nafh ath-Thib al-‘Athiri min Manaqib al-Imam al-Habib
Abdullah asy-Syathiri, yang disusun dan dihimpun oleh muridnya,
Al-‘Alim Al-‘Allamah Al-Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz, ayahanda
Al-Habib Umar bin Hafidz.


Sepeninggal Al-Habib Abdullah Asy-Syathiri Rubath Tarim diasuh oleh
putra-putranya, pertama-tama yang menggantikannya adalah putranya yang
bernama Al-Habib Muhammad Al-Mahdi Al-Kabir yang mampu mengemban tugas
itu dengan sangat baik. Ia menjadi pengasuh sekaligus menjadi guru
besar di ma’ad ini, setelah itu adiknya Al-Habib Abu bakar bin Abdullah
asy-Syathiri, yang sebelumnya selalu membantu kakaknya mengajar.


Kemudian kepemimpinan Rubath Tarim berada di tangan Al-Habib Hasan
Asy-Syathiri dan kini yang memimpin putra Al-Habib Abdullah yang
lainnya, yaitu Al-Habib Salim bin Abdullah Asy-Syathiri yang sekarang
menjadi salah seorang tokoh terkemuka di Tarim, Al-Habib Abdullah patut
tersenyum bahagia karena para penerusnya terus bermunculan dari masa ke
masa baik dari kalangan keluarga maupun yang lainnya.

Habib Abdul Qodir Bil Faqih


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Image Hosted by ImageShack.us
Habib Abdullah (kiri) dan ayahanda beliau habib Abdul Qodir Bil Faqih (tengah)

Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawy

Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawy dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut, pada hari Selasa 15 Safar tahun 1316 H/1896 M. Saat bersamaan menjelang kelahirannya, salah seorang ulama besar, Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf, bermimpi bertemu Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir Jailani. Dalam mimpi itu Syekh Abdul Qadir Jailani menitipkan kitab suci Al-Quranul Karim kepada Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf agar diberikan kepada Habib Ahmad bin Muhammad Bilfagih.
Pagi harinya Habib Syaikhan menceritakan mimpinya kepada Habib Ahmad. Habib Ahmad mendengarkan cerita dari Habib Syaikhan, kemudian berkata, ”Alhamdulillah, tadi malam aku dianugerahi Allah SWT seorang putra. Dan itulah isyarat takwil mimpimu bertemu Syekh Abdul Qadir Jailani yang menitipkan Al-Quranul Karim agar disampaikan kepadaku. Oleh karena itu, putraku ini kuberi nama Abdul Qadir, dengan harapan, Allah SWT memberikan nama maqam dan kewalian-Nya sebagaimana Syekh Abdul Qadir Jailani.”
Demikianlah, kemudian Habib Ahmad memberi nama Abdul Qadir karena mengharap berkah (tafa’ul) agar ilmu dan maqam Abdul Qadir seperti Syekh Abdul Qadir Jaelani.
Sejak kecil, ia sangat rajin dan tekun dalam mencari ilmu. Sebagai murid, ia dikenal sangat cerdas dan tangkas dalam menerima pelajaran. Pada masa mudanya, ia dikenal sebagai orang yang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu dan menaruh penghormatan yang tinggi kepada guru-gurunya. Tidaklah dinamakan mengagungkan ilmu bila tidak memuliakan ahli ilmu, demikian filosofi yang terpatri dalam kalbu Habib Abdul Qadir.
Pernah suatu ketika di saat menuntut ilmu pada seorang mahaguru, ia ditegur dan diperingatkan, padahal Habib Abdul Qadir waktu itu pada pihak yang benar. Setelah memahami dan mengerti bahwa sang murid berada di pihak yang benar, sang guru minta maaf. Namun, Habib Abdul Qadir berkata, ”Meskipun saya benar, andaikan Paduka memukul muka hamba dengan tangan Paduka, tak ada rasa tidak menerima sedikit pun dalam diri hamba ini.” Itulah salah satu contoh keteladanan yang tinggi bagaimana seorang murid harus bersopan-santun pada gurunya.
Guru-guru Habib Abdul Qadir, antara lain, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiry, Habib Alwy bin Abdurrahman Al-Masyhur, Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Syekh Segaf bin Hasan Alaydrus, Syekh Imam Muhammad bin Abdul Qadir Al-Kattany, Syekh Umar bin Harridan Al-Magroby, Habib Ali bin Zain Al-Hadi, Habib Ahmad bin Hasan Alatas, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy, Syekh Abubakar bin Ahmad Al-Khatib, Syekh Abdurrahman Bahurmuz.
Dalam usia yang masih anak-anak, ia telah hafal Al-Quran. Tahun 1331 H/1912 M, ia telah mendapat ijazah dan berhak memberikan fatwa agama, antara lain di bidang hukum, dakwah, pendidikan, dan sosial. Ini merupakan anugerah Allah SWT yang telah diberikan kepada hamba pilihan-Nya.
Maka tidak berlebihan bila salah seorang gurunya, Habib Alwi bin Abdullah bin Syihab, menyatakan, ”Ilmu fiqih Marga Bilfagih setara dengan ilmu fiqih Imam Adzro’iy, sedangkan dalam bidang tasawuf serta kesusastraan bagai lautan tak bertepi.”
Sebelum meninggalkan kota Tarim untuk berdakwah, di tanah kelahirannya ia sempat mendirikan organisasi pendidikan sosial Jami’yyatul Ukhuwwah wal Mu’awanah dan Jami’yyah An-Nasr Wal Fudho’il tahun 1919 M.
Sebelum berhijrah ke Indonesia, Habib Abdul Qadir menyempatkan diri beribadah haji dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan dan singgah di beberapa kota dan negara, seperti Aden, Pakistan, India, Malaysia, dan Singapura. Di setiap kota yang disinggahi, ia selalu membina umat, baik secara umum maupun khusus, dalam lembaga pendidikan dan majelis taklim.
Tiba di Indonesia tepatnya di kota Surabaya tahun 1919 M/1338 H dan langsung diangkat sebagai direktur Madrasah Al-Khairiyah. Selanjutnya, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Madrasah Ar-Rabithah di kota Solo tahun 1351 H/1931 M.
Selepas bermukim dan menunaikan ibadah haji di Makkah, sekembalinya ke Indonesia tanggal 12 Februari 1945 ia mendirikan Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah dan Perguruan Islam Tinggi di kota Malang. Ia pernah diangkat sebagai dosen mata kuliah tafsir pada IAIN Malang pada 1330 H/1960 M.
Keistimewaan Habib Abdul Qadir adalah, ia ahli ilmu alat, nahwu, sharaf, manthiq, ilmu kalam, serta ma’any, bayan, dan badi (tiga yang terakhir merupakan bagian ilmu sastra). Dalam bidang hadits, penguasaannya adalah bidang riwayat maupun dirayah, dan hafal ribuan hadits. Di samping itu, ia banyak mendapat hadits Al-Musalsal, yakni riwayat hadits yang tersambung langsung kepada Rasulullah SAW. Ini diperolehnya melalui saling tukar isnad (saling menukar periwayatan hadits) dengan Sayid Alwy bin Abas Al-Maliky saat berkunjung ke Makkah.
Sebagai seorang ulama yang menaruh perhatian besar dalam dunia pendidikan, ia juga giat mendirikan taklim di beberapa daerah, seperti Lembaga Pendidikan Guru Agama di Sawangan, Bogor, dan Madrasah Darussalam Tegal, Jawa Tengah.
Banyak santrinya yang di kemudian hari juga meneruskan jejaknya sebagai muballigh dan ulama, seperti Habib Ahmad Al-Habsy (Ponpes Ar-Riyadh Palembang), Habib Muhammad Ba’abud (Ponpes Darul Nasyi’in Malang), Habib Syekh bin Ali Al Jufri (Ponpes Al-Khairat Jakarta Timur), K.H. Alawy Muhammad (Ponpes At-Taroqy Sampang, Madura). Perlu disebutkan, Prof. Dr. Quraisy Shihab dan Prof. Dr. Alwi Shihab pun alumnus pesantren ini.
Habib Abdul Qadir wafat pada 21 Jumadil Akhir 1382 H/19 November 1962 dalam usia 62 tahun. Kala saat-saat terakhirnya, ia berkata kepada putra tunggalnya, Habib Abdullah, ”… Lihatlah, wahai anakku. Ini kakekmu, Muhammad SAW, datang. Dan ini ibumu, Sayyidatunal Fatimah, datang….” Ribuan umat berdatangan untuk meyampaikan penghormatan terakhir kepada sang permata ilmu yang mumpuni itu. Setelah disemayamkan di Masjid Jami’ Malang, ia dimakamkan di kompleks makam Kasin, Malang, Jawa Timur.

Habib Alwi bin Ali Al Habsy


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Betapa sedihnya Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi. Pemuda berusia 22 tahun itu ditinggal mati ayahnya, Habib Ali bin Muhammad Al- Habsyi, Sohibul Simtud Duror, pada tahun 13331 H / 1913 M. kota Seiyun, Hadramaut, yaman, itu terasa asing bagi ayah satu anak ini, Habib Alwi adalah anak bungsu, paling disayang Habib Ali. Begitu juga, Habib Alwi pun begitu menyayangi ayahnya, sehingga dirinya bagaikan layangan yang putus benangnya.

Hababah Khodijah, kakak sulungnya, yang terpaut 20 tahun, merasakan kesedihan adiknya yang telah diasuhnya sejak kecil. Daripada hidup resah dan gelisah, oleh putrid Habib Ali Al-Habsyi, Habib Alwi disarankan untuk berwisata hati ke Jawa, menemui kakaknya yang lain, Habib Ahmad bin Ali Al-Habsyi di Betawi.
Habib Alwi pergi ke Jawa ditemani Salmin Douman, antri senior Habib Ali Al-Habsyi, sekaligus sebagai pengawal. Beliau meninggalkan istri yang masih mengandung di Seiyun, yang tak lama kemudian melahirkan, dan anaknya diberi nama Ahmad bin Alwi Al-Habsyi.

Kabar kedatangan Habib Alwi telah menyebar di Jawa, karena itulah banyak murid ayahnya ( Habib Ali Al-Habsyi ) di Jawa menyambutnya, dan menanti kedatangannya di kota masing-masing.

Pertama kali Habib Alwi tinggal di Betawi beberapa saat. Kemudian beliau ke Garut, Jawa Barat, menikah lagi. Dari wanita ini lahir Habib Anis dan dua adik perempuan. Lalu, beliau pindah ke Semarang, Jawa Tengah. Disana beliau menikah lagi, dianugerahi banyak anak, dan yang sekarang masih hidup adalah Habib Abdullah dan Fathimah.

Selanjutnya beliau pindah lagi ke Jatiwangi, Jawa Barat, dan menikah lagi dengan wanita setempat. Dari perkawinan itu, beliau memilki enam anak, tiga lelaki dan tiga perempuan. Di antaranya adalah Habib Ali bin Alwi Al-Habsyi serta Habib Fadhil bin Alwi yang meninggal pada akhir Agustus 2006.

Akhirnya, Habib Alwi pindah ke Solo, Jawa Tengah. Pertama kali, Habib Alwi sekeluarga tinggal di Kampung Gading, di tempat seorang raden dari Kasunan Surakarta. Kemudian beliau mendapatkan tanah wakaf dari Habib Muhammad Al-Aydrus ( kakek Habib Musthafa bin Abdullah Al-Aydrus, Pemimpim Majlis Dzikir Ratib Syamsisy Syumus ), seorang juragan tenun dari kota Solo, di Kampung Gurawan.

Wakaf itu dengan ketentuan : didirikan masjid, rumah, dan halaman di antara masjid dan rumah. Masjid tersebut didirikan pada tahun 1354 H / 1934 M. Habib Ja’far Syaikhan Assegaf mencatat tahun selesainya pembangunan Masjid Riyadh itu dengan sebuah ayat 14 surah Shaf ( 61 ) di dalam al-Qur’an, yang huruf-hurufnya berjumlah 1354. ayat tersebut, menurut Habib Ja’far yang meninggal di Pasuruan 1374 H / 1954 M ini, sebagai pertanda bahwa Habib Alwi akan terkenal dan menjadi khalifah pengganti ayahnya, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.
Sementara rumah di Gurawan No.6 itu lebih dahulu berdiri dan halaman yang ada kini disambung dengan masjid dan rumah menjadi ruang Zawiyah ( pesantren ) dan sering digunakan untuk kegiatan haul, Maulid, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya. Struktur ruang Zawiyah ini seperti Raudhah, taman surga di dinia, yaitu ruang antara kamar Nabi saw dan masjid Nabawi. Sekarang bangunan bertambah dengan bangunan empat lantai yang menghdap ke Jln. Kapten Mulyadi 228, yang oleh sementara kalangan disebut Gedung Al-Habsyi.

Tentang rumah Habib Alwi di Solo, Syekh Umar bin Ahmad Baraja’, seorang giru di Gresik, pernah berujar, rumahnya di Solo seakan Ka’bah, yang dikinjungi banyak orang dari berbagai daerah. Ucapan ulama ini benar. Sekarang, setiap hari rumah dan masjidnya dikinjungi para habib dan muhibbin dari berbagai kota untuk tabarukan atau mengaji.

Habib Alwi telah memantapkan kemaqamannya di Solo. Masjid Riyadh dan Zawiyahnya semakin ramai dikunjungi orang. Beliau tidak saja mengajar dan menyelemggarakan kegiatan keagamaan sebagaimana dulu ayahnya di Seiyun, Hadramaut. Namun beliau juga memberikan terapi jiwa kepada orang-orang yang hatinya mendapat penyakit.

Ketika di Surabaya, bertempat di rumah Salim bin Ubaid, diceritakan Habib Alwi didatangi seseorang dari keluarga Chaneman, yang mengeluhkan keadaan penyakit ayahnya dan minta doa’ dari Habib Alwi. Beliau mendoa’kan dan menganjurkannya untuk memakai cincin yang terbuat dari tanduk kanan kerbau yang berkulit merah. “Insya Allah. Penyakitmu akan sembuh.” Katanya waktu itu.

Tahun 1952, Habib Alwi melawat ke kota-kota di Jawa Timur. Kunjungannya disertai Sayyid Muhammad bin Abdullah Al-Aydrus, Habib Abdul Qadir bin Umar Mulchela ( ayah Habib Husein Mulachela ), Syekh Hadi bin Muhammad Makarim, Ahmad bin Abdul Deqil dan Habib Abdul Qadir bin Husein Assegaf ( ayah Habib tayfiq Assegaf, Pasuruan ), yang kemudian mencatatnya dalam sebuah buku yang diterjemahkan Habib Novel bin Muhammad Al-Aydrus berjudul Menjemput Amanah.

Perjalanan rombongan Habib Alwi ke Jawa Timur itu berangkat tahun 1952. tujuan utama perjalanan tersebut adalah mengunjungi Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf ( 1285-1376 H / 1865-1956 M ) di Gresik. Namun beliau juga bertemu Habib Husein bin Muhammad Al-Haddad ( 1303-1376 H / 1883-1956 M ) di Jombang, Habib Ja’far bin Syeikhan ( 1289-1374 H / 1878-1954 M ) di Pasuruan dan ulama lainnya.

Setahun setelah kepergiannya ke Jawa Timur, pada tahun 1953 Habib Alwi pergi ke kota Palembang untuk menghadiri pernikahan kerabatnya. Namun, di kota itu, beliau menderita sakit beberapa saat. Seperti tahu bahwa saat kematiannya semakin dekat, beliau memanggil Habib Anis, anak lelaki tertua yang berada di Solo. Dalam pertemuan itu beliau menyerahkan jubahnya dan berwasiat untuk meneruskan kepemimpinannya di Masjid dan Zawiyah Riyadh di Solo. Habib Anis, yang kala itu berusia 23 tahun, dan baru berputra satu orang, yaitu Habib Husein, harus mengikuti amanah ayahnya.

“Sebetulnya waktu itu Habib Anis belum siap untuk menggantikan peran ayahnya. Tetapi karena menjunjung amanah, wasiat itu diterimanya. Jadi dia adalah anak muda yang berpakaian tua.” Tutur Habib Ali Al-Habsyi, adik Habib Anis dari lain ibu.

Akhirnya Habib Alwi meninggal pada bulan Rabi’ul awal 1373 H / 27 November 1953. pihak keluarga membuka tas-tas yang dibawa oleh Habib Alwi ketika berangkat ke Palembang. Ternyata satu koper ketika dibuka berisi peralatan merawat mayat, seperti kain mori, wangi-wangian, abun dan lainnya. Agaknya Habib Alwi telah diberi tanda oleh Allah swt bahwa akhir hidupnya sudah semakin dekat.

Namun ada masalah dengan soal pemakaman, Habib Alwi berwasiat supaya dimakamkan di sebelah selatan Masjid Riyadh Solo.sedang waktu itu tidak ada penerbangan komersil dari Palembang ke Solo. Karena itulah, pihak keluarga menghubungi AURI untuk memberikan fasilitas penerbangan pesawat buat membawa jenazah Habib Alwi ke Solo. Ternyata banyak murid Habib Alwi yang bertugas di Angkatan Udara, sehingga beliau mendapatkan fasilitas angkutan udara. Karena itu jenazah disholatkan di tiga tempat : Palembang, Jakarta dan Solo.
Ada peristiwa unik yang mungkin baru pertama kali di Indonesia, bahkan di Dunia. Para kerabat dan Kru pesawat terbang AURI membacakan Tahlil di udara.

Masalah lain timbul lagi. Pada tahun itu, sulit mendapatkan izin memakamkan seseorang di lahan pribadi, seperti halaman Masjid Riyadh. Namun berkat kegigihan Yuslam Badres, yang kala itu menjadi anggota DPRD kota Solo, izin pun bisa didapat, khusus dari gubernur Jawa tengah, sehingga jenazah Habib Alwi dikubur di selatan Masjid Riyadh.

Makamnya sekarang banyak di ziarahi para Habib dan Mihibbin yang datang dari berbagai kota. Beliau dikenang serbagai ulama yang penuh teladan, tangannya tidak lepas dari tasbih, juga dikenal sangat menghormati tamu yang datang kepadanya. Habib Alwi pin tidak pernah disusahkan oleh harta benda. Meski tidak kaya, ketika mengadakan acara haul atau Maulidan, ada saja uang yang didapatnya. Allah swt telah mencukupi rezekinya dari tempat yang tidak terduga.

Syaikh Abdur Rauf al-Fansuri as-Singkili


Bismillahir Rahmaniir Rahiim

Gambar Sheikh Abdur Rauf al-Fansuri as-Singkili atau dikenali Teuku
Syiah Kuala guru kepada Tok Pulau Manis dan Tok Sheikh Ulakan

SYAIKH ABDUR RAUF FANSURI pentafsir al-Quran pertama dalam bahasa Melayu

MENGENAI ulama ini sangat banyak ditulis orang, namun tulisan ini terlebih dahulu mengemukakan kelainan penulisan yang bersumber daripada orientalis yang diikuti oleh hampir semua penulis dunia Melayu, iaitu tentang namanya yang dikemukakan sebagai Abdur Rauf Singkil atau al-Sinkili. Walhal daripada Syeikh Abdur Rauf sendiri belum ditemui penambahan perkataan Sinkili di hujung namanya, yang ada hanyalah ‘al-Fanshuri’.

Penambahan nama ‘al-Fanshuri’ bukan ‘as-Sinkili’ di hujung nama untuk Syeikh Abdur Rauf bin Ali yang tersebut dilanjutkan oleh semua ulama Melayu, yang dimulai oleh muridnya Baba Daud bin Ismail ar-Rumi ketika beliau menyelesaikan Turjumanul Mustafid atau Tafsir al-Baidhawi, demikian juga pada salasilah Tarekat Syathariyah dan Tarekat Qadiriyahnya.

Hal yang sama dilanjutkan pula oleh murid Baba Daud bin Ismail ar-Rumi bernama Syeikh Faqih Jalaluddin bin Kamaluddin al-Asyi dalam Manzharul Ajlanya. Malahan juga sama dengan yang ditulis oleh Syeikh Muhammad Zain bin Faqih Jalaluddin al-Asyi di dalam Bidayatul Hidayahnya. Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani dalam Manhalush Shafi juga menyebut nama Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri.

Demikian halnya dengan Syeikh Abdus Shamad al-Palimbani di dalam Siyarus Salikin. Demikian halnya dengan Syeikh Zainal Abidin bin Muhammad al-Fathani di dalam Aqidatun Najin dan juga Syeikh Ahmad al-Fathani pada kenyataannya sewaktu mentashhih kitab Turjumanul Mustafid/Tafsir al-Baidhawi.

Barangkali tulisan terawal di kalangan ulama yang menyebut ulama ini berasal dari Singkel ialah Syeikh Abdur Rauf bin Makhalid Khalifah al-Qadiri al-Bantani dalam karyanya berjudul Mukhtashar Tashnif Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fanshuri. Di antara tulisannya, “… dan berkata orang yang arif, iaitu Syeikh Abdur Rauf anak Ali, Singkil nama negerinya”.

Pada halaman terakhir manuskrip tertulis, “Ini kami mengambil risalah ini karangan Syaikhu Masyaikh segala Jawi Syeikh Abdur Rauf Aceh, Singkil nama kampungnya ….”

Namun dalam tulisan ini, penulis tetap mengikut tulisan ulama-ulama kita, iaitu menyebut nama lengkapnya Syeikh Aminuddin Abdur Rauf bin Ali al-Fanshuri. Nama Aminuddin yang biasa dipakai pada awal namanya, namun jika dihilangkan tidaklah cacat kerena untuk memendekkan kalimat.

ASAL USUL DAN PENDIDIKAN

Menurut pendapat A. Hasymi, ada dua orang ulama yang bersaudara keturunan Parsi, iaitu Ali al-Fansuri dan Hamzah al-Fansuri. Datuk nenek kedua-duanya diberi kepercayaan oleh kerajaan memimpin pusat pendidikan yang bernama Daya Blang Pria. Ulama tersebut bernama Syeikh al-Fansuri.

Bahawa pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayat Syah Said Mukammil, 997-1011 H/1589-1604 M, dua orang keturunan Syeikh al-Fansuri itu mendirikan dua pusat pendidikan Islam di pantai barat Tanah Aceh, iaitu Syeikh Ali al-Fansuri mendirikan Dayah Lipat Kajang di Simpang Kanan. Adiknya Syeikh Hamzah al-Fansuri mendirikan Dayah Obah di Simpang Kiri Rundeng.

Pada 1001H/1592M, Syeikh Ali al-Fansuri dikurniakan seorang putera yang diberi nama Abdur Rauf. Ada pendapat lain menyebut bahawa Abdur Rauf lahir dalam tahun 1024H/1615M. Pendapat tersebut berbeza dengan pendapat Dada Meuraxa, menurutnya Abdur Rauf lahir di Singkel (Aceh Selatan), ibunya berasal dari Barus. Katanya, dalam sejarah abad ke-16 terdapat dua ulama yang serupa namanya, Syeikh Abdur Rauf dari Singkel dan Syeikh Abdur Rauf dari Barus.

Hamka dalam bukunya yang bercorak menyerang Ir. Mangaraja Onggang Parlindungan berjudul Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao telah memansuhkan pendapatnya sendiri yang sebelumnya mengatakan bahawa yang bernama Syeikh Abdur Rauf itu adalah dua, dalam buku tersebut beliau mengatakan hanya seorang.

Walau bagaimana pun kalimat di bawah ini mencerminkan bahawa beliau masih belum tahqiq atau ragu-ragu. Katanya, “Tetapi saya akan kembali pula mengatakan dua kalau ada orang yang dapat mengemukakan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan”.

Pendapat Dada Meuraxa dan Ir. Mangaraja Onggang Parlindungan yang menyebut Syeikh Abdur Rauf ada dua orang disokong kuat oleh Abdullah Abbas Nasution dalam bukunya Sejarah Islam Sedunia 14 Abad Silam.

Dengan bersyukur kepada Allah, penulis menemukan bukti bahawa di Aceh pada zaman yang sama memang terdapat dua orang yang bernama Syeikh Abdur Rauf. Penulis juga menemukan sebuah manuskrip berjudul Durratun Nakhirah Tanbihan li Durril Fakhirah karya Syeikh Sirajuddin bin Jalaluddin yang diselesaikan pada 1238 H/1822 M. Di dalam kitab tersebut diceritakan dua orang yang bernama Abdur Rauf, iaitu yang seorang Abdur Rauf saja dan yang seorang lagi Abdur Rauf Hitam.

Menurut jalan cerita kitab itu, yang Abdur Rauf saja iaitulah Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Kedua-dua Abdur Rauf itu menerima wasiat daripada Syeikh Muhammad az-Zainusy Syakhiyah sewaktu mereka masuk ke dalam kubah Syeikh Syazili di Mokha.

Jadi berdasarkan kepada kitab yang tersebut bererti Syeikh Abdur Rauf memang ada dua orang. Walaupun dalam kitab tersebut tidak memberi maklumat secara jelas bahawa mereka berasal dari Aceh, namun secara logiknya dapat diterima bahawa mereka memang datang dari negeri yang sama.

Secara umumnya, mereka sama-sama berasal dari Sumatera. Penulis tidak bermaksud mencampuri pertikaian-pertikaian pendapat yang tersebut, tetapi dua orang yang bernama Abdur Rauf itu, penulis ungkapkan adalah menceritakan suatu penemuan penulis yang terbaru. Sekaligus adalah merupakan jawaban terhadap tulisan Almarhum Buya Hamka yang masih mencari-cari tentang Syeikh Abdur Rauf satu atau dua orang itu.

Syeikh Abdur Rauf Hitam tidak dibicarakan dengan panjang di sini, yang dibicarakan ialah Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri, penyusun Turjumanul Mustafid iaitulah terjemahan dan tafsir al-Quran yang pertama dalam bahasa Melayu.

Hampir semua karya beliau sudah penulis pegang dan baca, baik yang manuskrip mahupun cetakan. Ada pun karya ulama bernama Syeikh Abdur Rauf Hitam belum lagi penulis menemuinya. Oleh itu tidak perlu dibicarakan mengenai beliau dalam artikel ini.

Mengenai para gurunya, Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri mencatatkan dalam karyanya, Umdatul Muhtajin, secara keseluruhannya, termasuk salasilah Tarekat Syathariyah dan Tarekat Qadiriyah, telah penulis tulis dalam buku Khazanah Karya Pusaka Asia Tenggara jilid 1. Namun begitu, baik pada manuskrip ‘Umdatul Muhtajin mahupun Kifayatul Muhtajin koleksi Pusat Manuskrip Melayu Perpustakaan Negara Malaysia (PNM) terdapat ketinggalan beberapa nama jika dibandingkan dengan salasilah Tarekat Syathariyah Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani.

Pada salasilah Tarekat Syathariyah Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri, tidak tersebut nama Syeikh Abdullah asy-Syathari. Seharusnya guru Imam Qadi Syathari ialah Syeikh Abdullah asy-Syathari, dan guru Syeikh Abdullah asy-Syathari ialah Syeikh Muhammad Arif. Demikian menurut salasilah Tarekat Syathariyah Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani.

Pada salasilah Tarekat Syathariyah Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri langsung saja sesudah Syeikh Qadi Syathari berguru kepada Syeikh Muhammad Arif.

Orang-orang anti tarekat selalu berpendapat bahawa salasilah tarekat ada yang terputus-putus artinya seseorang guru tarekat meninggal dunia, muridnya pula belum lahir. Hal ini berlaku seperti Syeikh Hasan al-Kharqani tidak pernah berjumpa dengan Abi Yazid al-Bistami. Demikian juga Abi Yazid al-Bistami tidak pernah berjumpa dengan Imam Ja’far Shadiq.

Pandangan yang keliru dan salah itu perlu dijawab, jawabannya ialah bahwa kedua-dua tempat pada salasilah itu tidak terputus, dengan hujah-hujah sebagai yang berikut, bahawa yang tersebut ini memang ada golongan tarekat yang lebih suka menyebut bahawa penerimaan itu adalah secara rohaniah.

Namun secara arif, pengkaji-pengkaji dan pengamal-pengamal tarekat mempunyai hujah-hujah lain, iaitu sebenarnya Syeikh Hasan al-Kharqani sebelum menerima secara rohaniah daripada Syeikh Abi Yazid al-Bistami. Beliau terlebih dahulu belajar dengan Syeikh Abi Muzhaffar at-Thusi. Syeikh Abi Muzhaffar at-Thusi belajar pula kepada Khawajah Abi Yazid al-Asyqi. Khawajah Abi Yazid al-Asyqi belajar kepada Muhammad al-Maghribi. Khawajah Muhammad al-Maghribi inilah yang sebenarnya menerima tawajuh tarekat daripada Syeikh Abi Yazid al-Bistami.

Adapun perantaraan Syeikh Abi Yazid al-Bistami dengan Imam Ja’tar Shadiq pula, ialah Syeikh Abi Yazid al-Bistami berguru kepada Imam Ali Ridha. Imam Ali Ridha belajar kepada ayahnya Imam Musa al-Kazhim, Imam Musa al-Kazhim belajar pula kepada ayahnya Imam Ja’far as-Shadiq.

Dengan keterangan di atas tidak ragu lagi bahawa tarekat-tarekat yang diterima oleh Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri dari guru-gurunya selama berada di Mekah, Madinah dan Timur Tengah adalah sah ditinjau dari segi salasilah menurut istilah tasauf atau sanad dalam ilmu hadis.

Dari keseluruhan gurunya yang cukup ramai, yang paling banyak beliau sebut ialah Syeikh Ahmad al-Qusyasyi dan Syeikh Ibrahim al-Kurani.

MURID-MURID DAN KETURUNAN

Murid Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri sangat ramai, tetapi yang dapat dipastikan ada beberapa ulama besar yang sangat terkenal menyebarkan Islam di beberapa tempat di seluruh dunia Melayu. Antara mereka ialah, Baba Daud bin Agha Ismail bin Agha Mustata al-Jawi ar-Rumi. Beliau ini berasal daripada keturunan ulama Rom yang berpindah ke Turki, keturunannya pula pindah ke Aceh sehingga menjadi ulama yang tersebut ini. Keturunan beliau pula ada yang berpindah ke Pattani, sehingga menurunkan ulama terkenal iaitu Syeikh Daud bin Ismail al-Fathani.

Setelah berkhidmat di Mekah dikirim oleh saudara sepupu dan gurunya Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani ke Kota Bharu, Kelantan untuk memimpin Matba’ah al-Miriyah al-Kainah al-Kalantaniyah. Lalu beliau berpindah ke Kota Bharu, Kelantan, beliau dikenal dengan gelaran ‘Tok Daud Katib’.

Ada pun Baba Daud bin Ismail al-Jawi ar-Rumi di atas beliau inilah yang menyempurnakan karya gurunya Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri yang berjudul Turjumanul al-Mutafid atau yang lebih terkenal dengan Tafsir al-Baidhawi Melayu, iaitu terjemah dan tafsir al-Quran 30 juzuk yang pertama dalam bahasa Melayu.

Naskhah asli tulisan tangan Baba Daud bin Ismail al-Jawi ar-Rumi itu dimiliki oleh keturunannya Tok Daud Katib, lalu naskhah itu diserahkan kepada guru dan saudara sepupunya Syeikh Ahmad al-Fathani.

Dari naskhah yang asli itulah diproses oleh Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani, Syeikh Daud bin Ismail al-Fathani dan Syeikh Idris bin Husein Kelantan sehingga terjadi cetakan pertama di Turki, di Mekah dan Mesir pada peringkat awal. Nama ketiga-tiga ulama itu yang dinyatakan sebagai Mushahhih (Pentashhih) pada setiap cetakan tafsir itu kekal diletakkan di halaman terakhir pada semua cetakan tafsir itu.

Turjumanul Mustafid yang diterbitkan sampai sekarang adalah merupakan lanjutan daripada cetakan yang dilakukan oleh Syeikh Ahmad al-Fathani dan dua orang muridnya itu (keterangan lanjut mengenai ini lihat buku Khazanah Karya Pusaka Asia Tenggara, jilid 1, 1990:157-172).

Murid Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri yang lain pula ialah Syeikh Burhanuddin Ulakan. Beliau inilah yang disebut sebagai orang yang pertama sebagai penyebar Islam di Minangkabau (Sumatera Barat) melalui kaedah pengajaran Tarekat Syathariyah.

Di Jawa Barat, Indonesia terkenal seorang murid Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri yang dianggap sebagai seorang Wali Allah. Beliau ialah Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan. Sepanjang catatan sejarah, beliau dianggap orang pertama membawa Tarekat Syathariyah ke Jawa Barat dan selanjutnya berkembang hingga ke seluruh tanah Jawa.

Adapun mengenai Syeikh Yusuf Tajul Mankatsi yang berasal dari tanah Bugis ada riwayat menyebut bahawa beliau juga murid Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Riwayat lain menyebut bahawa Syeikh Yusuf Tajul Mankatsi itu adalah sahabat Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri, sama-sama belajar kepada Syeikh Ahmad al-Qusyasyi dan Syeikh Ibrahim al-Kurani.

Walau bagaimanapun, selembar salasilah yang ada pada penulis, yang ditemui di Kalimantan Barat, menyebut Syeikh Yusuf Tajul Mankatsi menerima Tarekat Syathariyah kepada Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri itu. Memang diakui bahawa Syeikh Yusuf Tajul Mankatsi ialah orang pertama menyebarkan Tarekat Syathariyah di Tanah Bugis atau seluruh Sulawesi Selatan.

Bahkan dianggap juga beliau sebagai orang pertama menyebarkan pelbagai tarekat lainnya, di antaranya Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah. Tetapi berdasarkan manuskrip Mukhtashar Tashnif Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fanshuri oleh Syeikh Abdur Rauf bin Makhalid Khali-fah al-Qadiri al-Bantani bahawa Syeikh Yusuf al-Mankatsi adalah cucu murid kepada Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri, tertulis, “… kerana kata ini daripada Syeikh Yusuf (al-Mankatsi/al-Maqasari) turun daripada Syeikh Muhyuddin Karang (Pamijahan), turun daripada Syeikh Abdur Rauf al-Asyi”.

Murid Syeikh Abdur Rauf bin Alial-Fansuri di Semenanjung Tanah Melayu (Malaysia) pula, yang paling terkenal ialah Syeikh Abdul Malik bin Abdullah Terengganu atau lebih popular dengan gelar Tok Pulau Manis yang mengarang berbagai-bagai kitab di antaranya Kitab Kifayah.’

Ada yang meriwayatkan bahawa Syeikh Abdur Rahman Pauh Bok al-Fathanipernah belajar kepada Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Tetapi dalam penelitian penulis tidaklah demikian. Yang betul ialah ayah Syeikh Abdur Rahman Pauh Bok itu, iaitu Syeikh Abdul Mubin bin Jailan al-Fathani dipercayai adalah sahabat Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri kerana sama-sama belajar kepada Syeikh Ahmad al-Qusyasyi dan Syeikh Ibrahim al-Kurani. Sebagai pengenalan awal penyelidikan murid-murid Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri di sini setakat ini dulu dan penyelidikan lanjut masih sedang dijalankan.

KARYA-KARYA

Syeikh Abdul Rauf bin Ali al-Fansuri termasuk dalam golongan ulama dunia Melayu yang produktif dalam bidang karangan dalam bahasa Melayu. Karya beliau telah penulis senaraikan dalam buku Khazanah Karya Pusaka Asia Tenggara, jilid 1, sebanyak 25 buah.

Setelah buku tersebut diterbitkan, diketahui pula karya beliau yang belum termasuk dalam senarai yang tersebut. Karya-karya tersebut ialah: Aghmadhus Sail. Kitab ini baru ditemui hanya sebuah saja, iaitu yang diamanahkan kepada Muzium Islam Pusat Islam Kuala Lumpur. Kandungan kitab ini mengenai ilmu tauhid. Judul yang lain juga baru diketahui pula ialah Kanzul Insaniyi, telah menjadi koleksi Pusat Manuskrip Melayu PNM, nombor kelas MS1530.

Karya Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri yang baru menjadi koleksi Pusat Manuskrip Melayu PNM pula ialah Durratul Baidha’ Tanbihan lin Nisa’ nombor kelas MS 1625.

Oleh itu, terdapat tiga karya Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri yang baru diketahui, dengan disebutkan tiga buah kitab yang tersebut bererti ada 27 buah karya beliau yang telah dikenalpasti kerana Hujjatul Balighah ternyata bukan karya Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri, judul itu terpaksa digugurkan dari senarai yang telah lalu.

PENUTUP

Demikianlah satu tinjauan mengenai Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri ulama Asia Tenggara yang berasal dari Aceh Selatan atau menurut pendapat yang lain berasal dari Mandailing (daerah Batak) yang telah menggunakan masa hidup mulai tahun 1001/1592 M.

Namun menurut pendapat lain 1024H/1615 M, dan juga ada pendapat lain mengatakan 1620 M, hingga wafat tahun 1693 M. Setelah wafat lebih terkenal dengan sebutan Teuku Syiah Kuala.

Kerajaan Samudera Pasai Aceh


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Berdasarkan berita Marcopolo (th 1292) dan Ibnu Batutah (abad 13). Pada tahun 1267 telah berdiri kerajaan Islam pertama di Indonesia, yaitu kerajaan Samudra Pasai. Hal ini juga dibuktikan dengan adanya Batu nisan makam Sultan Malik Al Saleh (th 1297) Raja pertama Samudra Pasai.

Kesultanan Samudera Pasai, juga dikenal dengan Samudera, Pasai, atau Samudera Darussalam, adalah kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe, Aceh Utara sekarang. Kerajaan Samudra Pasai berdiri sekitar abad 13 oleh Nazimuddin Al Kamil, seorang laksamana laut Mesir. Pada Tahun 1283 Pasai dapat ditaklukannnya, kemudian mengangkat Marah Silu menjadi Raja Pasai pertama dengan gelar Sultan Malik Al Saleh (1285 – 1297). Makam Nahrasyiah Tri Ibnu Battutah, musafir Islam terkenal asal Maroko, mencatat hal yang sangat berkesan bagi dirinya saat mengunjungi sebuah kerajaan di pesisir pantai timur Sumatera sekitar tahun 1345 Masehi. Setelah berlayar selama 25 hari dari Barhnakar (sekarang masuk wilayah Myanmar), Battutah mendarat di sebuah tempat yang sangat subur. Perdagangan di daerah itu sangat maju, ditandai dengan penggunaan mata uang emas. Ia semakin takjub karena ketika turun ke kota ia mendapati sebuah kota besar yang sangat indah dengan dikelilingi dinding dan menara kayu.

Kota perdagangan di pesisir itu adalah ibu kota Kerajaan Samudera Pasai. Samudera Pasai (atau Pase jika mengikuti sebutan masyarakat setempat) bukan hanya tercatat sebagai kerajaan yang sangat berpengaruh dalam pengembangan Islam di Nusantara. Pada masa pemerintahan Sultan Malikul Dhahir, Samudera Pasai berkembang menjadi pusat perdagangan internasional. Pelabuhannya diramaikan oleh pedagang-pedagang dari Asia, Afrika, Cina, dan Eropa.

Kejayaan Samudera Pasai yang berada di daerah Samudera Geudong, Aceh Utara, diawali dengan penyatuan sejumlah kerajaan kecil di daerah Peurelak, seperti Rimba Jreum dan Seumerlang. Sultan Malikussaleh adalah salah seorang keturunan kerajaan itu yang menaklukkan beberapa kerajaan kecil dan mendirikan Kerajaan Samudera pada tahun 1270 Masehi.Makam Abdullah ibnu Muhammad ibnu Abdul Kadir.

Ia menikah dengan Ganggang Sari, seorang putri dari kerajaan Islam Peureulak. Dari pernikahan itu, lahirlah dua putranya yang bernama Malikul Dhahir dan Malikul Mansyur. Setelah keduanya beranjak dewasa, Malikussaleh menyerahkan takhta kepada anak sulungnya Malikul Dhahir. Ia mendirikan kerajaan baru bernama Pasai. Ketika Malikussaleh mangkat, Malikul Dhahir menggabungkan kedua kerajaan itu menjadi Samudera Pasai.

Dalam kisah perjalanannya ke Pasai, Ibnu Battutah menggambarkan Sultan Malikul Dhahir sebagai raja yang sangat saleh, pemurah, rendah hati, dan mempunyai perhatian kepada fakir miskin. Meskipun ia telah menaklukkan banyak kerajaan, Malikul Dhahir tidak pernah bersikap jemawa. Kerendahan hatinya itu ditunjukkan sang raja saat menyambut rombongan Ibnu Battutah. Para tamunya dipersilakan duduk di atas hamparan kain, sedangkan ia langsung duduk di tanah tanpa beralas apa-apa.

Dengan cermin pribadinya yang begitu rendah hati, raja yang memerintah Samudera Pasai dalam kurun waktu 1297-1326 M ini, pada batu nisannya dipahat sebuah syair dalam bahasa Arab, yang artinya, ini adalah makam yang mulia Malikul Dhahir, cahaya dunia sinar agama.

Tercatat, selama abad 13 sampai awal abad 16, Samudera Pasai dikenal sebagai salah satu kota di wilayah Selat Malaka dengan bandar pelabuhan yang sangat sibuk. Bersamaan dengan Pidie, Pasai menjadi pusat perdagangan internasional dengan lada sebagai salah satu komoditas ekspor utama.

Saat itu Pasai diperkirakan mengekspor lada sekitar 8.000- 10.000 bahara setiap tahunnya, selain komoditas lain seperti sutra, kapur barus, dan emas yang didatangkan dari daerah pedalaman. Bukan hanya perdagangan ekspor impor yang maju. Sebagai bandar dagang yang maju, Samudera Pasai mengeluarkan mata uang sebagai alat pembayaran. Salah satunya yang terbuat dari emas dikenal sebagai uang dirham.

Hubungan dagang dengan pedagang-pedagang Pulau Jawa juga terjalin. Produksi beras dari Jawa ditukar dengan lada. Pedagang-pedagang Jawa mendapat kedudukan yang istimewa di pelabuhan Samudera Pasai. Mereka dibebaskan dari pembayaran cukai.


Perdagangan

Selain sebagai pusat perdagangan, Pasai juga menjadi pusat perkembangan Islam di Nusantara. Kebanyakan mubalig Islam yang datang ke Jawa dan daerah lain berasal dari Pasai.

Eratnya pengaruh Kerajaan Samudera Pasai dengan perkembangan Islam di Jawa juga terlihat dari sejarah dan latar belakang para Wali Songo. Sunan Kalijaga memperistri anak Maulana Ishak, Sultan Pasai. Sunan Gunung Jati alias Fatahillah yang gigih melawan penjajahan Portugis lahir dan besar di Pasai. Laksamana Cheng Ho tercatat juga pernah berkunjung ke Pasai.

Situs Kerajaan Islam Samudera Pasai ini sempat sangat terkenal di tahun 1980-an, sebelum konflik di Aceh semakin memanas dan menyurutkan para peziarah. Menurut Yakub, juru kunci makam Sultan Malikus saleh, nama besar sang sultan turut mengundang rasa keingintahuan para peziarah dari Malaysia, India, sampai Pakistan. “Negara-negara itu dulunya menjalin hubungan dagang dengan Pasai,” tutur Yakub.

Sejarah Pasai yang begitu panjang masih bisa ditelusuri lewat sejumlah situs makam para pendiri kerajaan dan
keturunannya di makam raja-raja itu. Makam itu menjadi saksi satu-satunya karena peninggalan lain seperti istana sudah tidak ada. Makam Sultan Malikussaleh dan cucunya, Ratu Nahrisyah, adalah dua kompleks situs yang tergolong masih terawat. makam Malikal Zahir.

Menurut Snouck Hurgronje, hubungan langsung Arab dengan Indonesia baru berlangsung abad 17 pada masa kerajaan Samudra Pasai, Banten, Demak dan Mataram Baru.

Samudra Pasai sebelum menjadi kerajaan Islam merupakan kota pelabuhan yang berada dalam kekuasaan Majapahit, yang pada masa itu sedang mengalami kemunduran. Setelah dikuasai oleh pembesar Islam, para pedagang dari Tuban, Palembang, malaka, India, Cina dan lain-lain datang berdagang di Samudra Pasai. Menurut Ibnu Batutah: Samudera Pasai merupakan pelabuhan terpenting dan Istana Raja telah disusun dan diatur secara indah berdasarkan pola budaya Indonesia dan Islam.

Kehidupan masyarakat Samudera Pasai diwarnai oleh agama dan kebudayaan Islam. Pemerintahnya bersifat Theokrasi (berdasarkan ajaran Islam) rakyatnya sebagian besar memeluk agama Islam. Raja raja Pasai membina persahabatan dengan Campa, India, Tiongkok, Majapahit dan Malaka. Pada tahun 1297 Malik Al saleh meninggal, dan digantikan oleh putranya Sultan Muhammad (th 1297 – 1326)
lebih dikenal dengan nama Malik Al Tahir, penggantinya Sultan Ahmad (th 1326 – 1348), juga pakai nama Malik Al Tahir, penggantinya Zainal Abidin.

Raja Zainal Abidin pada tahun 1511 terpaksa melarikan diri dan meninggalkan tahtanya berlindung di Majapahit, karena masih saudara raja Majapahit. Hal ini berarti hubungan kekerabatan Raja Samudra Pasai dengan Raja Majapahit terbina sangat baik, menurut berita Cina disebutkan pertengahan abad 15, Samudra Pasai masih mengirimkan utusannya ke Cina sebagai tanda persahabatan.makam Naina Hisana bin Naina.

Fatahilah, ulama terkemuka Pasai menikah dengan adik Sultan Trenggono(raja Demak/adik Patih Unus/anak Raden Patah). Fatahilah berhasil merebut Sunda Kelapa (22 Juni 1522) berganti nama menjadi Jayakarta, juga Cirebon dan Banten.

Syaikh Muim al-Wahhab Rokan


Bismillahir rahmanir rahiim

Setelah kewafatan Tuan Guru pertama Syeikh Abd al-Wahhab Rokan, Besilam dipimpin secara turun temurun oleh kalangan keluarga Syeikh Abd al-Wahhab Rokan, mereka adalah:1. Syeikh Abd al-Wahhab Rokan Al-Khalidi Naqsyabandi 2. Syeikh Yahya Afandi al-Wahhab 3. Syeikh ‘Abd Manaf Yahya al-Wahhab 4. Syeikh ‘Abd Jabbar al-Wahhab 5. Syeikh Muhammad Daud al-Wahhab 6. Syeikh Faqih Yazid (Tambah) al-Wahhab 7. Syeikh Muim al-Wahhab 8. Syeikh Madayan al-Wahhab 9. Syeikh Faqih Saufi Al-Bakri al-Wahhab 10. Syeikh Anas Mudawwar Muhammad Daud al-Wahhab11. Syeikh Hasyim Al-Syarwani Muim al-Wahhab(system bani abdul wahab)
Dalam catatan sejarah, empat belas anak laki-laki Syeikh Abd al-Wahhab Rokan tersebut menjadi ulama belaka. Salah seorang antara mereka ialah Syeikh Muim al-Wahhab yang mempunyai pengaruh di Besilam dan Rantau Kwala Simpang. Hampir-hampir tidak terdapat seorangpun yang berasal dari dua tempat ini yang tidak mendengar sebutan nama beliau. Beliau diakui oleh masyarakat Rantau Kwala Simpang sebagai ulama, guru sekaligus pendakwah yang disegani. Dalam satu riwayat disebutkan bahawa beliau seorang yang hampir mirip dengan bapanya, baik dalam bentuk dan personalitinya. Syeikh Muim al-Wahhab merupakan anak Syeikh Abd al-Wahhab Rokan yang menghasilkan banyak karya-karya.
Sungguhpun antara anak dan cucu Syeikh Abd al-Wahhab Rokan terdapat beberapa orang yang masyhur namanya, saya tinggalkan saja kerana sudah cukup diwakili oleh Syeikh Muim yang kemasyhurannya sangat diketahui ramai pada zamannya.Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia bijak mati mengukir nama dalam suratan sejarah. Sejuta murid yang tidak dapat meneruskan perjuangan seorang guru adalah kurang bermanfaat. Cukup seorang murid sahaja, sekiranya ilmu dapat disebarkan dan sambung menyambung daripadanya kepada penerus berikutnya. Dalam sejarah, ramai ulama yang dapat memenuhi kategori dalam kalimat selayang pandang di atas, termasuk Syeikh Muim al-Wahhab, Tuan Guru ke-7 Besilam Babussalam Langkat yang akan diperkenalkan dalam halaman ini.

Tempat dan tarikh lahir Syeikh Muim.
Nama penuh tokoh kajian ini ialah Syeikh Muim ibn Abd al-Wahhab Rokan al-Khalidi al-Naqsyabandi ibn Abd Manaf ibn Muhammad Yasin ibn Tuanku Maulana Abdullah Tembusai ibn Pak Edek bergelar Raja Narawangsa ibn Bendahara Gombak seorang pembesar di negeri Tembusai. Adapun laqab atau gelaran beliau adalah Syeikh Muim al-Wahhab. Beliau biasa di panggil dengan Syeikh Muim atau guru Muim atau guru Jempol.Beliau dilahirkan pada hari Isnin 30 Sya’ban 1330H/1910M di kampung Besilam (Babussalam) Langkat pada zaman Kekuasaan Sultan Mahmud ibn Abd al-Aziz ibn Sultan Musa al-Muazzam Syah, Raja negeri Langkat. Syeikh Muim adalah yang mula-mula dilahirkan di Madrasah Kecil tempat kediaman bapanya. Dicatatkan, beliau meninggal dunia pada hari Isnin, 11 Rabi’ul Awal 1401 H di Besilam dan dikebumikan di tempat kelahirannya tersebut.Dari segi salasilah, nasab Syeikh Muim berketurunan ulama dan dari kerabat diraja. Ayah beliau adalah Syeikh Abd al-Wahhab Rokan al-Khalidi al-Naqsyabandi seorang wali kenamaan, pemimpin tarekat Naqsyabandiyah yang lebih terkenal dengan panggilan Tuan Guru Besilam Langkat. Sedangkan moyangnya Maulana Tuanku Abdullah Tembusai adalah seorang ulama besar dan kerabat diraja yang sangat berpengaruh pada zamannya. Sementara ibu beliau, Maryam bte Imam Yaman (Khalifa Anbiya) Tanah Putih daripada isterinya Latibah bte Nakhoda Muda Kampar di antara orang besar negeri Kampar.
Syeikh Muim dilahirkan pada zaman kegemilangan ilmu pengetahuan. Pada masa tersebut ramai ulama-ulama kenamaan yang cukup disegani yang mengajar pelbagai ilmu pengetahuan kepada murid-murid yang datang dari pelbagai pelosok negeri ke Besilam. Dalam perjalanan waktu, Syeikh Muim tumbuh sebagai anak yang sihat, pintar dan memiliki semangat dan kreativiti untuk menuntut ilmu pengetahuan. Sejak kecil Syeikh Muim tekun belajar al-Qur’an dan belajar ilmu pengetahuan serta berbagai-bagai ilmu lain lagi kepada ulama-ulama pada masa itu.Keluarga dan salasilah keturunannya
Setelah ditemui beberapa manuskrip dan cerita orang tua-tua yang dikumpulkan daripada pelbagai kampung di Besilam dan Rantau Kwala Simpang maka dapatlah ditulis salasilah beliau berdasarkan data dan fakta yang lebih meyakinkan dan terpercaya.Menurut riwayat, Syeikh Abd al-Wahhab Rokan memperoleh dua orang anak daripada isterinya Maryam bte Imam Yaman, iaitu Muim dan Maimun (meninggal pada masa kecil). Maryam kemudian lebih dikenali dengan nama Maryam kecil yang berasal dari Tanah Putih Riau.Dalam catatannya, Syeikh Muim menulis bahawa beliau berkahwin dengan Maryam pada pagi hari jumaat hb 14 Rabi’ul Awal 1350H/1930M. Sedangkan majlis perkahwinan dilaksanakan pada hb 31 Rabi’ul Akhir 1350. Maryam adalah anak daripada Ahmad Bungsu Kubu dan Nuriyah Abd al-Rahman Kubu. Perkahwinan Syeikh Muim dan Maryam memperoleh 8 orang anak, iaitu:1. Muhammad 2. Marfu’atul Asma’ 3. Musayyab 4. Hasyim al-Syarwani (Tuan Guru sekarang) 5. Na’imah 6. Mubarak 7. Nasyah al-Timyani 8. Nailan al-Najahah
Pada hb 1 Julai 1955M, Syeikh Muim berkahwin untuk kedua kalinya dengan Azizah bte Ahmad Bungsu, iaitu adik daripada Maryam Ahmad isteri pertamanya. Dari perkahwinan ini Syeikh Muim memperoleh 8 orang anak, iaitu:1. Muhammad Yaqdum 2. Al-Bazzar 3. Muhammad Kamal 4. ‘Abd Aziz Ibraz 5. Laila Banit 6. Yusra Hanim 7. Irfansyah 8. Arifatul Aini
Di dalam buku catatan pada bahagian sya’ir dan qashidah, Syeikh Muim menulis sebahagian salasilah keturunannya dalam gaya bahasa Arab yang indah:

معم عبد الوهاب وبعض نسله:معم عبد الوهاب الركاني له من الاولاد عشر يعني:محمد, مرفوعة الأسماء مسيب, هاشم وهو الشروانينعيمة, وبعدها مبارك قد مات, ثم نشأة التميانينيل النجاحة كذاك يقدم أخو البزار أصغر الولدانيفكلهم من مريم الصبور أما سوى هذين الأخرينأمهما عزيزة لقد أتت بديلة عن أختها تثنيفمن محمد إلى مبارك ولدوا في باب السلام الأمنيكذاك يقدم وغيرهؤلا فإنهم قد ولدوا في التميانيجاءت بنتان منها في بوكت جولع وولد منها في كمفغ كرانيوبحفيدتين قد ظفرت بفضل ربي الكريم أعطانيهما ألفة هانم من مرفوعة وخيرة من محمد بنت ابنيلله در كلهم جميعا عصمهم عن رجس كل شيطانوبالإيمان الكامل ثبتهم حفظهم عن البلا و المحنوصلى رب دائما و سلم على النبي الهاشمي العدنانيو على جميع الأل و الأصحاب وتابعيهم في مدى الأ
Maksudnya: Muim Abd al-Wahhab dan beberapa keturunannya: Muim Abd al-Wahhab Rokan memiliki 10 anak, iaitu Muhammad, Marfu’atul Asma, Musayyab, Hasyim al-Syarwani, Na’imah dan Mubarak (meninggal pada waktu kecil). Kemudian Nasyah at-Timyani, Nailan Najahah, Yaqdum dan terakhir adalah al-Bazzar. Kesemuanaya dari isteriku Maryam yang sabar. Adapun dua yang terakhir dilahirkan oleh isteriku Azizah, isteri keduaku setelah meninggal kakaknya Maryam. Maka dari Muhammad sehingga Mubarak, mereka dilahirkan di Babussalam yang aman, begitu juga dengan Yaqdum. Selain dari mereka dilahirkan di Tamiang (Aceh). Dua anak perempuan Maryam (Nasyah dan Nailan) di lahirkan di Bukit Juling Kampung Karani. Allah telah menganugerahiku dua orang cucu: Ulfah daripada marfu’ah dan Khairah binti Muhammad anakku. Bagi Allah adalah mutiara seluruhnya, Allah menjaga mereka dari pada kekejian syaitan. Allah memelihara mereka dengan iman yang sempurna, dan Allah menjaga mereka dari bala’ dan fitnah. Shalawat dan salam atas nabi bani Hasyim al-Adnani, seluruh keluarga dan sahabat serta seluruh pengikut-pengikutnya.
Dalam mukadimah dari buku “Salasilah Syeikh Abd al-Wahhab Rokan” yang disusunnya, Syeikh Muim mengatakan, “
Maka ini satu susunan yang sengaja disusun oleh Muim Abd al-Wahhab Rokan dari hal silsilah keturunan (terombo) bagi Syeikh Abd al-Wahhab al-Khalidi al-Naqsyabandi ke atas dan ke bawah menurut yang diperoleh dan yang dapat diusahakan. Mengenangkan supaya jangan nanti zuriyat dan dzawi al-Arham bagi beliau (r.a) di belakang hari semena-mena tidak tahu mana-mana kaum kerabat dan famili, dan untuk supaya senang dalam hubungan silaturrahmi (saling kenal-mengenal) dan lain-lain yang diperlukan. Sekian muqaddimah ini ana gariskan, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi pertolongan dan hidayah sampai siap buku silsilah ini dikerjakan. Wa Allah ‘ala ma aktasibu wakil, wa Huwa bi al-ijabah jadir ”
Manuskrip naskah salasilah Syeikh Muim ini diperoleh dari al-Ustaz Mukhtar Gaffar ibn Lebai Jakfar. Tidak diketahui secara pasti tahun berapa salasilah tersebut ditulis. Akan tetapi melihat kandungan syair tersebut, diperkirakan ditulis pada (1968M) setelah kelahiran al-Bazzar, anak daripada isteri beliau Azizah Ahmad. Kemudian Syeikh Muim menulis ulang salasilahnya tersebut pada tahun 1394H/1974M di Besilam.

Latar belakang pendidikannya.
Seperti lazimnya kanak-kanak kecil pada masa itu, Syeikh Muim menerima pengajaran agama daripada orang tuanya. Selain beberapa ulama di kampungnya yang membimbingnya. Pada mulanya beliau belajar atau mengaji alif hingga yā secara talqin (secara lisan) yang diajarkan langsung oleh ayahnya sendiri Syeikh Abd al-Wahhab Rokan, kemudian dilanjutkan oleh ibunya Maryam bte Imam Yaman. Berkat bimbingan kedua orang tuanya, ditambah dengan kecerdasan otak dan kerajinannya, Syeikh Muim dapat menamatkan kitab Ejaan dengan cepatnya.
Pada tahun 1338H/1918M atau ketika Syeikh berumur 7 tahun, beliau di serahkan oleh orang tuanya kepada anaknya yang lain lagi iaitu abang Muim sendiri Saidi Syeikh Harun Kamaludin dan tinggal di rumah isterinya Zubaidah (Daeng Siti Khalijah). Di tempat ini Muim belajar al-Qur’an sampai tamat. Setelah dua tahun belajar al-Qur’an, Syeikh Muim dikembalikan oleh gurunya Zubaidah kepada ayahnya Syeikh Abd al-Wahhab Rokan, selanjutnya Syeikh Muim diserahkan kembali oleh ayahnya kepada menantunya guru Maimun Hasan al-Wahhab iaitu suami daripada anaknya Zamrud. Di rumah guru Hasan inilah Muim belajar berhitung, tauhid, fikah, faraidh dan tajwid dengan menggunakan kitab-kitab Melayu.Pendidikan formal Syeikh Muim dimulai di Maktab Musawiyah Babussalam (sekolah Agama) dan Syeikh Muim duduk di kelas IV (1340 H/1920 M). Pada masa itu Syeikh Muim berumur 10 tahun. Di lembaga pendidikan inilah Syeikh Muim mulai bergelut dengan kedalaman khazanah Islam di bawah bimbingan para gurunya. Di tempat ini Syeikh Muim mulai belajar ilmu nahw, sarf, lughah (bahasa), tarjamah al-Qur’an dan lain-lain lagi dengan gurunya al-Haj ‘Abd Rasyid Thaib al-Minangkabawi.Setelah 4 tahun belajar di lembaga pendidikan Musawiyah tersebut, Syeikh Muim melanjutkan ke peringkat berikutnya iaitu kelas takhassus (setingkat universiti). Pada masa itu Syeikh Muim berumur 15 tahun. Dalam peringkat ini Shaykh Muim belajar pelbagai ilmu kepada al-Haj Muhammad Syahiri al-Yuni Batubara, seperti nahw, sarf, fiqh, tafsir, hadith, bayan, mantiq dan lain-lain lagi.Pada tahun 1926M atau 40 hari setelah kewafatan ayah beliau, Syeikh Muim pindah dari rumah guru Hasan ke rumah abangnya Syeikh Yahya Afandi al-Wahhab, yang ketika itu sebagai Tuan Guru II menggantikan bapanya Syeikh Abd al-Wahhab Rokan. Oleh Syeikh Yahya, Syeikh Muim ditempatkan di rumah anaknya Arba’iyah Yahya kepada daripada al-Haj Muhammad Syahiri al-Yuni Batubara. Maka tinggallah Syeikh Muim pada masa itu serumah dengan gurunya tersebut.
Semenjak saat itu Syeikh Muim dalam pemeliharan abangnya Syeikh Haji Yahya sehingga wafat abangnya tersebut. Pernah beberapa kali Syeikh Yahya mendatangi adiknya tersebut dengan maksud ingin menikahkannya. Akan tetapi beliau belum berkehendak dalam hal itu, kemudian beliau menjawah: “kalaulah abang Haji masih mau memelihara saya, biarlah saya belajar dulu”. Mendengar jawapan adiknya tersebut, Syeikh Yahya berjanji akan menghantarkannya ke Mekkah al-Mukarramah untuk belajar pada tahun hadapannya bersama anaknya Ridhwan Yahya. Akan tetapi Allah (s.w.t.) berkehendak lain, tiga bulan setelah percakapan tersebut Syeikh Haji Yahya meninggal dunia (1350H/1930M).
Walaupun perasaan sedih sangat sukar dihilangkan, namun Syeikh Muim tiada kehilangan pedoman. Meskipun tidak pernah mendapat pendidikan di Mekah ataupun di Mesir sebagaimana abang-abangnya, Syeikh Muim tidaklah berkecil hati. Baginya, kemampuan seseorang bukan bergantung dari jauhnya tempat belajar, melainkan bagaimana orang tersebut boleh memanfaatkan pengetahuan dan ilmunya bagi kemaslahatan masyarakat. Beliau telah mengorbankan waktunya untuk menuntut ilmu pengetahuan, sehingga Syeikh Muim dapat dikategorikan sebagai ulama yang memiliki pelbagai ilmu pengetahuan keislaman.Minatnya terhadap ilmu-ilmu keagamaan telah terserlah sejak zaman kanak-kanak lagi. Syeikh Muim memiliki otak yang cerdas. Semenjak belajar di maktab Musawiyah beliau sentiasa menunjukkan perestasi cemerlang. Beliau adalah pelajar terbaik dan sentiasa mendapatkan peringkat pertama dalam setiap peperiksaan. Bahkan dalam usianya yang masih muda (16 tahun), beliau telahpun dipercayakan menjadi guru di maktab tersebut. Dalam usianya 18 tahun (1928/…M), beliau digelar dengan guru “Jempol” atau guru yang sangat cemerlang dalam pengajaran.dalam perjalanan, waktu Syeikh Muimpun semakin dewasa dan mengalami perubahan berkaitan dengan intelektualiti dan spiritual. Perkembangan dan perubahan yang berlaku pada diri Syeikh Muim tidak terlepas dari proses pencerahan yang diberikan para gurunya. Tidak sia-sia, perjuangannya menuntut ilmu telah mengangkat dirinya menjadi salah seorang ulama yang disegani dan dihormati di kalangan ulama lain lagi di Langkat mahupun di Aceh Tamiang.Dalam buku catatan yang ditulis oleh Syeikh Muim, disebutkan senarai nama-nama ulama yang menjadi guru beliau berikut kitab-kitab pelajarannya:1. Shaykh Abd al-Wahhab Rokan Al-Khalidi Naqsyabandi Syeikh Muim memulai mengaji Hijai/al-Qacidah al- Baghdādiyyah 2. Maryam Imam Yaman. Meneruskan belajar Al-Qasidah al-Baghdādiyyah 3. Khalifah Shaleh Batubara. Guru pembimbing dalam menghafal surat yasin dan lain-lain lagi. 4. Zubaidah/isteri Saidi Syeikh Harun. Syeikh Muim belajar al-Qur’an sampai tamat dan belajar kitab jawi kecil 5. Guru Hasan Muhammad. Syeikh Muim belajar pelbagai ilmu antaranya al-fiqh, al-tauhid, al-faraidh dan membaiki baca al-Qur’an. 6. Al-Haj ‘Abd Rasyid al-Minangkabawi. Kepada ulama asal Minangkabaw ini, Syeikh Muim belajar al-nahw, al-sarf, al-lughah (bahasa), dan tarjamah al-Qur’an al-Karim. 7. Engku Manaf. Syeikh Muim belajar Kitab al-Mukhtasar atau al-Nahw 8. Syeikh Faqih Juned Harun. Syeikh Muim belajar I’rāb al-Ajrumiyyah 9. Al-Haj Muhammad Said Kubu. Guru di Maktab Musawiyah 10. Faqih Tambah Al-Wahhab. Guru di Maktab Musawiyah 11. Al-Haj Muhammad Syahiri Al-Yuni Batubara. Kepada ulama asal Batubara ini Syeikh Muim belajar pelbagai ilmu, antaranya al-nahw, al-sarf, al-fiqh, al-tafsir, al-hadith, al-bayan, mantiq dan lain-lain lagi. 12. Guru Sabar (Mubar) Barus. Syeikh Muim belajar matematika, bahasa Indonesia dan ilmu guru. 13. Faqih Na’im al-Wahhab. Syeikh Muim belajar Kitab al-Mizan Al-Dzahabi dan al-cArudh 14. Kadi al-Haj Muhammad Nur Langkat. Kepada ulama ini Syeikh Muim belajar al-Mantiq, al-Sawi al-Bayan, al-Syarqawi dan al-Fiqh. 15. Syeikh Abdullah Afifuddin al-Langkati. Kepada ulama terkenal Langkat ini, Syeikh Muim belajar tafsir jalalayn. 16. Al-Hajah Halimah al-Sakdiyyah. Kepada ahli qiraah ini (kemanakan Syeikh Muim), beliau belajar qira’ah al-Nafic dan Abu Umaru. 17. Al-Haj Muhammad Salim Langkat. Syeikh Muim belajaru bahasa Arab Mesir 18. ‘Abd Rasyid Tambusai. Syeikh Muim belajar Barzanji Marhaban. 19. ‘Abd Wahid Jumail. Syeikh Muim belajar huruf latin. 20. Guru Untak. Guru di Maktab Musawiyah. 21. Abu Bakar. Guru di Maktab Musawiyah. 22. Awak Marhawi. Syeikh Muim belajar bahasa Belanda.
Di dalam buku catatan pada bahagian culum Shatta, Syeikh Muim menulis kitab-kitab yang pernah dipelajarinya selain yang tersebut di atas.A. Tauhid 1. Miftah al-Jannah 2 . Al-Durr al-Thamin 3 . Matn al-Sanusi, 4. Kifayat al-cAwwam.B. Fikah 1. Masail al-Muhtadi 2. Bidayat al-Mubtadi 3. Muslim al-Mubtadi 4. Matlac al- Badrayn 5. Matn Ghayah al-Taqrib 6. Fath al-Qarib 7. Fath al-Mucin 8. Al-Diyanah wa al-TahdzibC. Tasawwuf 1. Siyar al-SalikinD. Akhlaq 1. Tafsir al-KhalaqE. Tajwid 1. Tuhfat al- IkhwanF. Mi’raj 1. Kifayat al-MuhtajG. Lughah 1. Al-Mufradat 2. Al-mutala cah al-Rasyidah 3. Al-Qiracah al-Rasyidah 4. Al-Tariqah al-MubtakirahH. Nahwu 1. Al-Kafrawi 2. Syeikh Khalid 3. Al-Azhari 4. Tashil Nail al- Amani 5. Al-cImrathi 6. Mutammimah 7. Al-Fawaqih 8. Al-Kawakib 9. Al-alfiyyah 10. Al-Usmawi I. Bayan 1. Majmuk Musytamil J. Sharf 1. Madkhal 2. Matn al-Bina 3. Matn al-cAzi 4. Al-Kailani 5. Lamiyat al-Af calK. Ushul Fiqh 1. Al-WaraqatL. Mantiq 1. Idhah al-MubhamM. Ma’ani 1. Jauhar al-Maknun
Mengenai Tarekat Naqasyabandiyah al-Khalidiyah, Syeikh Muim menerima baiah daripada Syeikh Yahya Afandi al-Wahhab (1927M). Pada waktu yang lain, beliau juga mempelajari Tarekat Syadzaliyah daripada Syeikh Muhammad Daud al-Wahhab, kedua-duanya abang daripada Syeikh Muim sendiri. Selain itu beliau belajar Ratib Saman daripada Khalifah Abdullah Umar Tambusai, dan bersuluk pertama 10 hari kepada al-Haj Muhammad Said al-Kalantani (1945 M).Adapun gelar “Syeikh” beliau terima pertama kali pada hb 19 ramadhan (1959 M) yang di berikan oleh Syeikh Mursyid Faqih Juned Harun al-Khalidi di Tanjung Karang Aceh Tamiang. Dan untuk kedua kalinya, gelar tersebut diterimanya ketika masa pertabalan beliau menjadi Tuan Guru Besilam ke-7, menggantikan Tuan Guru sebelumnya Syeikh Faqih Tambah al-Wahhab (1972 M).2.5 Sifat-sifatnya Syeikh Muim berperawakan sedang, zuhud dan wara’, lemah-lembut namun tegas dalam mengambil suatu keputusan. Beliau seorang yang sangat amanah, sentiasa mencatat segala yang berkaitan dengan kepercayaan yang dibebankan kepadanya dan dilaksanakan dengan sejujur-jujurnya. Beliau adalah tokoh yang luas pergaulannya. Beliau bukan sahaja dekenali di Besilam tetapi juga di Aceh Tamiang dan beberapa daerah di Sumatera Utara dan Riau. Syeikh Muim dikenali sebagai seorang yang sangat disiplin dalam menjalankan peraturan-peraturan. Beliau bersikap adil dalam mengambil suatu keputusan, menghukum siapa sahaja yang bersalah tidak membezakan antara keluarga dan bukan keluarga meskipun anak sekalipun kalau bersalah akan dihukum.Ziarah ke kubur merupakan kebiasaan yang beliau lakukan setiap subuh. Berkebun pada pagi dan petang merupakan kegiatan yang sentiasa beliau lakukan. Beliau gemar bersedekah baik kepada anak-anak mahupun orang tua-tua.Di riwayatkan, bahawa beliau seorang yang qana’ah (cukup seadanya sahaja). Sebelum meninggalnya, Azizah Ahmad isteri beliau pernah menuturkan: “Atok (Syeikh Muim) tidak begitu suka dengan makanan-makanan yang enak, terkadang beliau menangis melihat makanan yang enak karena teringat akan keadaan faqir miskin dan orang-orang terlantar”.Beliau melayani yang bodoh sama dengan beliau melayani yang cerdik, beliau menghormati kanak-kanak sama dengan beliau menghormati orang-orang dewasa. Beliau tidak pernah menghampakan pemberian dan jemputan dari siapa sahaja. Dan jika diberi, maka pemberian-pemberian itu akan dibahagikan pula kepada orang-orang sekelilingnya. Inilah sifat-sifat dan cara-cara hidup beliau yang membuat setiap orang yang berhubung dengan beliau menyimpan kenangan-kenangan yang indah terhadapnya.Dicatatkan bahawa Syeikh Muim adalah di antara ulama Besilam yang kuat melakukan ibadah, selain aktif beramal dengan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah, beliau aktif mengajar, mengarang, tilawah al-Qur’an, pelbagai wirid dan zikir sama ada siang mahu pun malam. Demikian beberapa sifat beliau yang dapat ditulis.
Bidang ketokohan Dari tujuh puluh satu tahun perjalanan hidup Syeikh Muim (1910-1981M), minimum ada dua main stream aktiviti hidupnya. Pertama adalah aktivitinya sebagai seorang intelektual dalam bidang fikah, dan kedua adalah aktivitinya yang sangat signifikan dalam tarekat. Bagi Syeikh Muim ilmu yang diraihnya dari guru-gurunya adalah bekal dalam menggali dalam khazanah Islam. Sedangkan yang didapatnya di lapangan (Besilam) sebagai tempat pusat penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah adalah bekal utamanya dalam mengorganisasi penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah ke segala penjuru negeri di Sumatera.Kita akan mencuba melihat dua bidang yang digeluti oleh Syeikh tersebut, dalam rangka pengabdian diri untuk kepentingan dakwah Islam.a. Sebagai seorang FaqihDilihat dari kegiatan-kegiatan pendidikan, guru-guru yang mengajarnya serta kitab-kitab pelajarannya, jelas Syeikh Muim adalah seorang faqih yang mengambil berat tentang syariat Islam dan amalannya. Tetapi perlu dijelaskan bahawa akidahnya, sebagaimana yang jelas daripada tulisan-tulisannya sendiri adalah akidah Sunni.Besilam adalah sebuah Kampung yang kaya dengan khazanah intelektual Islam. Dalam dunia fikah, Kampung yang diasaskan Syaikh Abd al-Wahhab Rokan ini, telah banyak melahirkan para Fuqoha dan guru-guru ugama yang cukup disegani di Sumatera Utara, Riau, Aceh bahkan Malaysia pada masa itu.Di kampung halaman tempat lahir dan dibesarkannya Syeikh Muim ini, terdapat sebuah tradisi “pertabalan faqih”.Gelar ini diberikan kepada yang memiliki kategori kealiman dalam ilmu fikah, dan telah menamatkan beberapa buah kitab pelajaran. Pertabalan tersebut diumumkan dihadapan orang-orang ramai di masjid atau Madrasah Besar Tuan Guru Besilam, oleh maha guru Saidi Syeikh Harun. Dalam sejarahnya, Saidi Syeikh Harun ini telah melantik beberapa orang faqih. antaranya adalah faqih Na’im, faqih Nu’man, faqih Sa’id, faqih Tambah. Generasi berikutnya, muncullah nama-nama seperti faqih Khaliq, faqih Abban, faqih Saufi.Mengenai Syeikh Muim sendiri, meskipun beliau tidak mengikuti pengajaran oleh Saidi Syeikh Harun, tetapi kedudukannya dari sudut ilmu pengetahuan adalah setaraf dengan fuqaha dan ulama-ulama lainnya yang berada di Langkat dan Sumatera utara pada zaman itu.Al-Haj Madyan Abd Jalil mengatakan bahawa Syeikh Muim adalah seorang yang ‘alim dalam ilmu fikah dan al-Qur’an. Dari fakta dan data yang diperoleh, baik dari kitab-kitab yang dipelajarinya dan ulama-ulama yang mengajarinya bahkan beliau mengarang kitab fikah ighatsatul Muqallidin, maka Syeikh Muim dapat dikatagorikan seorang faqih yang mumpuni dalam bidangnya. Syeikh Muim adalah menganut Sunni Syafi’i. Beliau aktif dalam menulis, tidak kurang dari 11 tulisan dalam pelbagai ilmu yang beliau hasilkan. Beliau juga aktif dalam mengajar, lebih dari separoh hidupnya beliau habiskan untuk mengajar, sehingga beliau memiliki murid yang tersebar di pelbagai daerah di Sumatera Utara, Riau dan Aceh.Karya-karya tulisnya, Disiplin ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh setiap pengarang pada umumnya diwariskan kepada pengikutnya dan berlanjut dari satu generasi kepada generasi sesudahnya.
Syeikh Muim adalah seorang ulama yang rajin menulis. Setiap ilmu yang beliau pelajari dan miliki, beliau himpunkan dalam banyak catatan-catatannya, untuk dapat dibaca dan dipelajari serta difahami oleh setiap masyarakat Islam khasnya masyarakat Besilam dan Aceh Tamiang.Manuskrip karya-karya Syeikh Muim yang telah dijumpai:1. Kitab fikah Ighatsatul Muqallidin. Kitab ini terdiri daripada tujuh jilid, kandungannya membicarakan perkara-perkara asas dalam fikah, antaranya adalah: tentang thaharah, air, istinja’, najis, wudhu’, al-muharramat (perempuan-perempuan yang haram dikahwini), al-mashu ‘ala al-huffain, mandi, tayammum. Dalam kitab al-Shalat dibahas tentang syarat-syarat wajib sembahyang, syarat-syarat sah sembahyang, rukun-rukun sembahyang, sunan-sunan sembanhyang, sebab sujud sahwi, sujud syukur. Di dalamnya di bahas juga tentang sembahyang berjama’ah dan faedah-faedah sembahyang jama’ah. Kandungan berikutnya adalah pembahasan tentang zakat, syahid dan janazah serta perkara-perkara yang berkaitan dengan ketiganya serta perkara-perkara lainnya yang berkaiatan dengan hokum-hukum fiqh.
2. Kitab tajwid, kandungannya membahas ilmu tajwid.
3. Khutbah jum’at. Judul-judul yang terdapat dalam Majmu’ Khutbah ,karya Syeikh Muim di antaranya membicarakan tentang bulan Sya’ban, Rabi’ul Awal, khutbah Aidil Fithri, khutbah Aidil Adha, keutamaan sembahyang berjama’ah, ibadah haji dan keutamaan ilmu pengetahuan.
4. Majmu’ al-Syatwiyah, kandungan buku ini berisikan tentang lagu dan sya’ir yang bercorak pujian-pujian kepada Allah, selawat dan lain-lain sejenisnya, antaranya Babussalam Kampung Halamanku, Babussalam jaya, Maulid al-Rasul, Nur Tajalli, al-Jihad Fi Sabilillah.
5. Al-Muallifat al-Qasimiyyh Ldhobthi Ilmu al-’am al-Umumiyyah, kandungan kitab ini membicarakan tentang tauhid, fikih dan tasawwuf. Di dalam kitab ini juga ditemukan syair dan lagu-lagu karangan beliau serta beberapa perkara-perkara lainnya, seperti khutbah jumat, doa’doa dan lain-lainnya. Buku setebal 177 muka surat ini beliau tulis pada 13 Rejab 1393H/12 Ogos 1973M di Babussalam dan diselesaikan pada hari Isnin 7 Zulhijjah1393H/1 Januari 1974M di Babussalam.
6. Al-Hal al-Nasyiah al-Mutaraddifah, kandungannya berupa al-Tafsir, al-Hadit dan Nahwu. Kitab setebal 176 muka surat ini juga menyinggung tentang politik, peraturan-peraturan di rumah suluk, hri-hri besar dalam Islam dan hari-hari besar i luar Islam. Di dlamnya terdapat ilmu perubatan berdsarkan ayat-ayat al-quran al-karim serta perkara-perkara lainnya. Permulaan buku ini ditulis pada hari khamis 7 shafar 1397H/27 Januari 1977 di Babusslam dan diselesaikan pada hari rabu 9 zulqadah 1398H/11 Oktober 1978M di babussalam.
7. Daftar al-Naql min al-kutub al-Syatwiyah fi al-din. Kandungan kitab setebal 22 muka surat ini membicarakan tentang kata-kata yang mengandung hikmah dan istilah-istilah dalam bahasa arab, di dalamnya juga dibincangkan tentang tanda-tanda hari kiamat. Kitab ini beliau tulis di Babusslam pada 7 shafar 1396H/7 Februari 1976M, dan diselesaikan pada hari khamis 29 jumadil Awal 1399H/26 April 1979M di Babusslam.
8. Al-Thariqah, buku ini mengandung senarai nama-nama orang yang mengambil tarekat (naqsyabandiyah) kepada beliau. Buku ini ditulis pada hari ahad 6 ramadhan 1397H/21 Ogos 1977M di Babusslam. Buku ini merupakan jilid ke dua sedangkan jilid pertama belum lagi ditemukan.
9. Al-Tarasul, kandungan buku ini adalah tentang surat menyurat. Jilid pertama belum lagi ditemukan. Jilid kedua mulai tulis pada hari rabu 9 Syawal 1400H/20 Ogos 1980M di Babusslam.
10. Sebuah kitab yang berisikan beberapa al-Fan atau bahagian. Al-Fan al-awwal fi al-Ad’iyah wa al-Aurad (bahagian pertama membicarkan tentang doa-doa dan wirid-wirid). Al-Fan al-Tsaniah fi al-Tafsir wa al-Hadist (bahagian kedua pada ilmu tafsir dan hadits). Al-Fan al-Tsalisah fi al-Syi’r wa al-Qashidah (bahagian ketiga pada menyatakan syi’r dan qashidah). Al-Fan al-rabi’ah fi ‘Ulum Syatta (bahagian keempat pada bermacam pengetahuan). Di dalam kitab ini juga ditulis tentang kamus bahasa melayu Babusslam.
11. catatan harian berjumlah 12 jilid.
12. Riwayat Hidup Syeikh Muim.
13. Silsilah keturunan Syeikh Abd al-Wahhab Rokan dan Syeikh Muim al-Wahhab.
14. Pelbagai catatan lainnya, seperti catatan tentang murid-murid atau khalifah- khalifah Syeikh Muim, anak-anak angkat dan lain-lainnya.
Tempat MengajarTidak seperti kebanyakan ulama yang lain di zamanya, pada masa tinggal di Besilam, beliau tidak hanya aktif mengajar di madrasahnya sahaja, malah beliau aktif mengajar di masjid dan rumahnya serta di beberapa wilayah yang jauh daripada tempat tinggal beliau. Dan aktiviti dakwah beliau semakin banyak pada masa beliau hijrah dan tinggal di Aceh Tamiang. Beliau aktif berdakwah di 4 (empat) kecamatan yang terdiri dari 14 Desa.Berikut senarai nama-nama desa tempat dakwah Syeikh Muim yang berada di empat kecamatan di Kabupaten Aceh Tamiang:
1. Kecamatan Kejuruan Muda, terdiri dari 3 desa, iaitu Rantau Pertamina, desa Rantau Pauh dan desa Alur Manis.
2. Kecamatan Kota Kwala Simpang, terdiri dari 2 desa, iaitu Kampung Durian dan Kota Lintang.
3. Kecamatan Karang Baru, terdiri dari 4 desa, iaitu Kampung Kesehatan, Kampung Suka Jadi, Tanjung Karang dan Tanah Terban.
4. Kecamatan Manyak Payet, terdiri dari 5 desa, iaitu Kampung Johar, desa Rantau Pane, desa Rantau Panjang, desa Medang Ara dan Opak.
Ramai murid Syeikh Muim yang menjadi ulama dan tokoh yang bertebaran di pelbagai negeri. Mereka adalah generasi penerus penyebaran Islam. Sama ada murid-murid Syeikh Muim sendiri atau pun murid-murid beliau di Maktab Musawiyah ataupun murid-murid Sekolah Rendah Agama Islam (SRAI) yang beliau asaskan menurunkan murid yang ramai pula, sambung bersambung sampai sekarang ini. Bererti pahala amal jariyah untuk Syeikh Muim berjalan terus kerana ilmu bermanfaat yang disebarkan dan madrasah tempat belajar ilmu yang melahirkan para ulama dan tokoh.Murid-murid Syeikh Muim pernah meriwayatkan bahawa orang yang pernah belajar dengan Syeikh Muim semuanya mendapat kedudukan dalam masyarakat. Apabila seseorang murid itu lebih berkhidmat kepada beliau maka ternyata akan lebih pula ilmu yang diperolehnya. Demikian juga kedudukan dalam masyarakat. Yang dimaksudkan berkhidmat di sini ialah ada yang pernah mengambil air untuk sembahyang atau untuk mandi dan air bagi keperluan bersucinya sesudah buang air besar.Di antara murid-murid Syeikh Muim yang menjadi ulama dan mempunyai kedudukan dalam masyarakat adalah: Syeikh al-Haj Abd Muthalib, beliau adalah seorang Syeikh atau Mursyid tarekat di Rokan Hulu, Muara Musu, Riau. Khalifah ke-3 Syeikh Muim ini telahpun berhasil mendirikan sebuah persulukan “Serambi Babussalam” di tempat asalnya tersebut.Khalifah (Syeikh) Mudo ibn Adam adalah di antara murid beliau yang lain lagi. Walaupun umurnya hampir mencapai 90 tahun akan tetapi semangatnya tidak pernah pudar. Beliau telahpun berhasil membangun dua rumah suluk yang beliau namakan “Madrasah Darussalam”, yang pertama di Batang Ibul Desa Bangko Kiri Kec. Bangko Pusako Rokan Hilir, Riau. Kedua di Desa Sungai Masah Kec. Bangko Rokan Hilir, Riau.Murid Syeikh Muim yang lainnya adalah Shaykh al-Haj Junaid al-Bagdadi Sirait. Beliau adalah khalifah ke-12 Syeikh Muim yang mempunyai kedudukan mulia di masyaraktnya. Sebagaimana murid-murid yang lain, Syeikh Junaid juga mempunyai rumah persulukan “Istiqomah” di Desa Maligas Tongah Kec. Tanah Jawa Kab. Simalungun Sumatera Utara.Di antara murid Syeikh Muim yang masih ditemui adalah Khalifah Abd al-Wahhab Ghaffar. Beliau adalah orang kepercayaan Syeikh Hasyim al-Syarwani dalam memimpin persulukan terbesar di Nusantara bahkan Asia yang berada di Besilam Langkat. Meskipun umurnya sudah mencapai 81 tahun tetapi beliau sangat tekun beribadah. Orang-orang suluk sangat hormat kepadanya. Dalam setiap pertemuan dengannnya, penulis sentiasa mendapatinya berada dalam khalwatnya. Syeikh al-Haj Wan Nurdin ibn al-Haj Nasaruddin adalah murid Syeikh Muim yang paling ternama dan cukup disegani baik oleh kalangan masyarakat awam mahupun kerajaan Rokan Hilir Riau. Beliau cukup berhasil dalam membangun dan membina rumah persulukannya di tempat asalnya Muara Rumbang Kec. Rembah Hilir Kab. Rokan Hilir, Riau. Ada seorang murid yang tidak mungkin terlupakan dalam deretan murid-murid Syeikh Muim. Beliau adalah di antara tokoh masyarakat yang cukup dihormati oleh masyarakat Besilam Babussalam, Pak Malik, begitu beliau dipanggil. Nama penuhnya adalah Khalifah al-Haj Abd Malik Said ibn Faqih Tuah. Beliau adalah pemegang kunci sekaligus menerima para tetamu yang datang untuk berziarah ke makam Syeikh Abd al-Wahhab Rokan. Semua murid Syeikh Muim mengatakan bahawa guru mereka tersebut adalah seorang Syeikh yang alim, seorang mursyid yang wara’ lagi zuhud, bahkan Syeikh Junaid mengatakan gurunya tersebuat adalah seorang Wali Allah. Syeikh Muim terkadang mengetahui apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang suluk, padahal beliau (Syeikh Muim) jauh dari mereka, demikian al-Junaid menambahkan.. Sebagai seorang sufi seperti telah disebutkan di atas bahawa Besilam adalah pusat penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah yang banyak melahirkan khalifah-khalifah dan mursyid-mursyid kenamaan. Syeikh Muim adalah di antara mursyid Tarekat tersebut. Kepemimpinannya telah membawa nuansa baru, terutama kemampuan dalam menjalankan peraturan-peraturan yang berlaku dalam ajaran tarekat. Beliau terkenal tegas dalam menjalankan disiplin, terutama yang berlaku dalam rumah suluk sebagai tempat riyadha para salikin. Beliau tidak segan-segan menindak atau mengusir si salik dari rumah suluk jika kedapatan bersalah.
Syeikh Muim adalah mursyid Tarekat Naqsyabandiyah yang salasilah pengambilan tarekatnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Kelebihannya dalam tarekat ini ialah beliau menerima baiat dan bersuluk dari dua Syeikh mursyid, yakni Syeikh Faqih Junaid di Rantau Kwala Simpang dan Syeikh Abd Manan Seregar Murid dan Khalifah Syeikh Abd al-Wahhab Rokan. Kiprahnya dalam mengembangkan tarekat ini di wilayah Sumatera dinilai cukup berhasil.Dalam Salasilah Tarekat Naqsyabandiyah, Syeikh Muim adalah salasilah yang ke 34 dari guru tarekat Naqsyabandiyah. Puncak tertinggi dari salasilah itu adalah nabi Muhammad s.a.w. kemudian Abu Bakr a.s. yang disusul Salman al-Farisi. Sedangkan salasilah di atas Syeikh Muim adalah Syeikh Abd Manan Seregar kemudian Syeikh Abd al-Wahhab Rokan Al-Khalidi Naqsyabandi.Berikut adalah salasilah tarikat naqsyabandiyah yang sampai kepada Syeikh Muim al-Wahhab:
1. Nabi Muhammad (s.a.w.)
2. Saidina Abu Bakr al-Siddiq (r.a.)
3. Saidi Syekh Salman al-Farisi (r.a.)
4. Saidi Syekh Qasim bin Muhammad
5. Saidi Syekh Ja’far Shadiq
6. Saidi Syekh Yazid al-Busthami
7. Saidi Syekh Hasan Ali Ja’far al-kharqani
8. Saidi Syekh Ali bin al-Fadhl bin Muhammad al-Thusi al-Farmadi
9. Saidi Syekh Ya’kub Yusuf al-Hamdani bin Ayyub bin Yusuf bin Husin
10.Saidi Syekh ‘Abd Khaliq al-Fajduani bin al-Imam ‘Abd Jamil
11. Saidi Syekh Arif al-Riyukuri
12. Saidi Syekh Mahmud al-Anjiru al-Faghnawi
13. Saidi Syekh Ali al-Ramituni
14. Saidi Syekh Muhammad Baba al-Samasi
15. Saidi Syekh Amir Kulal bin Sayyid Hamzah
16. Saidi Syekh Bahauddin Naqsyabandi
17. Saidi Syekh Muhammad Bukhari
18. Saidi Syekh Yarki Hishari
19. Saidi Syekh Abdlah Samarkandi (Ubaidillah)
20. Saidi Syekh Muhammad Zahid
21. Saidi Syekh Muhammad Darwis
22. Saidi Syekh Khawajaki
23. Saidi Syekh Muhammad Baqi
24. Saidi Syekh Ahmad Faruqi
25. Saidi Syekh Muhammad Ma’sum
26. Saidi Syekh ‘Abdlah Hindi
27. Saidi Syekh Dhiyaul Haqqi
28. Saidi Syekh Isma’il Jamil al-Minangkabawi
29. Saidi Syekh ‘Abdulah Afandi
30. Saidi Syekh Syeikh Sulaiman
31. Saidi Syekh Sulaiman Zuhdi
32. Saidi Syekh Abd al-Wahhab Rokan al-Khalidi Naqsyabandi
33. Saidi Syekh Abd Manan Seregar
34. Saidi Syeikh Muim al-Wahhab al-Khalidi al-Naqsyabandi

Hijrah ke Aceh Tamiang, Syeikh Muim adalah di antara ulama yang turut mewarnai perjalanan sejarah perlawanan terhadap penjajah, khasnya di Langkat. Meskipun tidak terlibat langsung pada masa perjuangan fisik, Syeikh Muim aktif berjuang menentang penjajah dengan apa yang boleh dilakukan. Perjuangan beliau dalam menentang penjajah akan dibincangkan pada bab berikutnya.Pada saat Kerajaan Langkat mendapat ancamana keaamanan dari penjajah Belanda, iaitu ketika secara mengejutkan Belanda sudah sampai di Tandam Hilir, suatu tempat berjarak 40 km dari Besilam. Syeikh Muim mengambil langkah baru mencari tempat pengunsian (hijrah). Rantau Kwala Simpang Aceh Tamiang adalah daerah alternative dan memiliki ruang gerak yang relatif bebas dalam meneruskan perjuangan kemerdekaan dan dakwah Islam. Kesempatan ini telah digunakan Syeikh Muim untuk melakukan perjalanan hijrah ke sana.Penghijrahan Syeikh Muim bersama-sama keluarganya dari Besilam ke Rantau Tamiang dilakukan pada tahun 1946 M. Syeikh Muim memulai hidup baru dan selanjutnya Syeikh Muim aktif berdakwah di sana sehingga tahun 1972 M. Adapun partai Masyumi yang diasaskannya, beliau serahkan kepada ‘Abd Manan Anis yang menjadi ketua dua pada masa itu.
Kesimpulan,walaupun Syeikh Muim al-Wahhab tidak meninggalkan hasil-hasil karya yag besar dalam mana-mana bidang pengajian Islamiah, namun jasa beliau yang paling besar ialah kejayaannya melahirkan satu angkatan ulama/khalifah yang berkualiti di pertengahan abad dua puluh. Beliau juga telah berjaya membawa kemuncak pengajian Madrasah Musawiyah di Langkat dan Sekolah Rendah Agama Islam di Rantau Kwala Simpang Aceh Tamiang. Keahlian beliau dalam bidang al-Qur’an dan fikah merupakan legenda sehingga zaman ini.Tidak seperti kebanyakan ulama yang lain di zamanya, Syeikh Muim tidak hanya aktif di sekitar masjid atau madrasahnya sahaja, malah aktif dalam bidang kegiatan kemasyarakatan.Semoga Allah (s.w.t) membalas segala jasa dan pengorbanan Syeikh Muim sepanjang hayatnya dalam usaha menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat. Beliau telah mewakafkan dirinya dalam jalan dakwah dan melakukan perkara yang tidak mampu dilakukan oleh sebahagian besar ulama yang sezaman dengannya. Mengharungi liku-liku hidup selaku pejuang agama yang mempunyai keikhlasan sejati.Demikian pembacaan penulis terhadap usaha dan karya Syeikh Muim ini. Segala yang kami tuangkan dalam tulisan ini adalah merupakan sebuah pandangan sederhana yang ingin berpihak kepada kebenaran dan menjauhi dari sikap berat sebelah. Apapun hasilnya, Allah (s.w.t) maha tahu terhadap mereka yang tulus membela agama-Nya dan Dia maha tahu pahala apa yang layak diberikan-Nya.

Nukilan Bumi Besilam

Dicatat oleh Kh.Janggut , at 7:10 PM, in


Babussalam
Di Bumi sumatra Utara lebih tepatnya di daerah langkat, terdapat sebuah kampung yang bernama Kampung Basilam.Secara etimologis, “besilam” berarti pintu kesejahteraan. Menurut cerita, kampung ini pertama sekali dibangun oleh Almarhum Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan Guru Babussalam.

Beliau adalah seorang Ulama dan pemimpin Tarekat Naqsabandiyah.Di Kampung ini terdapat makam beliau yaitu Syekh Abdul Wahab Rokan yang dikenal juga dengan Syekh Basilam yang merupakan murid dari Syekh Sulaiman Zuhdi di Jabal Qubais Mekkah.Tampak sekilas, kampung Basilam mirip dengan sebuah pesantren yang terpencil, teduh, asri,dan damai. terlihat ada Mesjid utama dan sebuah bangunan berkubah lengkung disebelah masjid, sebuah bagunan utama dari kayu hitam yang besar dengan gaya rumah panggung, serta beberapa bangunan tambahan lainnya. Selain terdapat makam beliau, dikampung ini juga merupakan pusat penyebaran Tharikat Naqsybandiah Babussalam yang sekarang dipimpin oleh tuan Guru Syekh H. Hasyim Al-Syarwani, atau lebih dikenal Tuan Guru Hasyim.

Tuan Guru Syekh H.Hasyim Al-Syirwani (Berjubah Putih)
Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda, “Al Ulama Warosatun An biya”, ulama adalah pewaris dari para nabi.Berada di dekat makam orang-orang yang shaleh mempunyai pengaruh yang baik terhadap diri kita,salah satu caranya yaitu dengan menziarahinya.Ziarah kubur memiliki banyak hikmah dan manfaat, diantara yang terpenting adalah:Ia akan mengingatkan akherat dan kematian sehingga dapat memberikan pelajaran dan ibrah bagi orang yang berziarah. Dan itu semua tentu akan memberikan dampak positif dalam kehidupan, mewariskan sikap zuhud terhadap dunia dan materi.
Berikut saya masukkan sejarah Syekh Abdul Wahab Rokan yang saya ambil dari beberapa sumber.Nama lengkap Syeikh Abdul Wahhab bin `Abdul Manaf bin Muhammad Yasin bin Maulana Tuanku Haji Abdullah Tembusai. Lahir 10 Rabiulakhir 1242 H/11 November 1826 M). Wafat di Babussalam, Langkat, pada hari Jumaat, 21 Jamadilawal 1345 H/26 Disember 1926 M. Moyangnya Maulana Tuanku Haji Abdullah Tembusai adalah seorang ulama besar dan golongan raja-raja yang sangat berpengaruh pada zamannya.
Ayahnya bernama Abdul Manaf bin Muhammad Yasin bin Maulana Tuanku Haji Abdullah Tambusei, seorang ulama besar yang ‘abid dan cukup terkemuka pada saat itu.14 Sedangkan ibunya bernama Arbaiyah binti Datuk Dagi bin Tengku Perdana Menteri bin Sultan Ibrahim yang memiliki pertalian darah dengan Sultan Langkat.15 Syekh Abdul Wahab meninggal pada usia 115 tahun pada 21 Jumadil Awal 1345 H atau 27 Desember 1926 M.
Makam Syekh Abdul Wahab Rokan
Masa remaja Syekh Abdul Wahab, lebih banyak dipenuhi dengan mencari dan menambah ilmu pengetahuan. Pada awalnya ia belajar dengan Tuan Baqi di tanah kelahirannya Kampung Danau Runda, Kampar, Riau. Kemudian ia menamatkan pelajaran Alquran pada H.M. Sholeh, seorang ulama besar yang berasal dari Minangkabau.Setelah menamatkan pelajarannya dalam bidang al-Quran, Syekh Abdul Wahab melanjutkan studinya ke daerah Tambusei dan belajar pada Maulana Syekh Abdullah Halim serta Syekh Muhammad Shaleh Tembusei. Dari kedua Syekh inilah, ia mempelajari berbagai ilmu seperti tauhid, tafsir dan fiqh. Disamping itu ia juga mempelajari “ilmu alat” seperti nahwu, sharaf, balaghah, manthiq dan ‘arudh. Diantara Kitab yang menjadi rujukan adalah Fathul Qorib, Minhaj al-Thalibin dan Iqna’. Karena kepiawaiannya dalam menyerap serta penguasaannya dalam ilmu-ilmu yang disampaikan oleh guru-gurunya, ia kemudian diberi gelar “Faqih Muhammad”, orang yang ahli dalam bidang ilmu fiqh.Syekh Abdul Wahab kemudian melanjutkan pelajarannya ke Semenanjung Melayu dan berguru pada Syekh Muhammad Yusuf Minangkabau. Ia menyerap ilmu pengetahuan dari Syekh Muhammad Yusuf selama kira-kita dua tahun, sambil tetap berdagang di Malaka.16 Hasrat belajarnya yang tinggi, membuat ia tidak puas hanya belajar sampai di Malaka. Ia seterusnya menempuh perjalanan panjang ke Mekah dan menimba ilmu pengetahuan selama enam tahun pada guru-guru ternama pada saat itu. Di sini pulalah ia memperdalam ilmu tasawuf dan tarekat pada Syekh Sulaiman Zuhdi sampai akhirnya ia memperoleh ijazah sebagai “Khalifah Besar Thariqat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah”.17
Komplek Makam Syekh Abdul Wahab Rokan

Syekh Abdul Wahab dalam penelusuran awal yang penulis lakukan, juga memperdalam Tarekat Syaziliyah. Hal ini terbukti dari pencantuman namanya sendiri ketika ia menulis buku 44 Wasiat yakni “Wasiat Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi Naqsyabandi as-Syazali…”. Selain itu, pada butir kedua dari 44 Wasiat, ia mengatakan “apabila kamu sudah baligh berakal hendaklah menerima Thariqat Syazaliyah atau Thariqat Naqsyabandiyah supaya sejalan kamu dengan aku”.18 Hanya saja sampai saat ini, penulis belum memperoleh data kapan, dimana dan pada siapa Syekh Abdul Wahab mempelajari Tarekat Syaziliyah ini.Pada saat belajar di Mekah, Syekh Abdul Wahab dan murid-murid yang lain pernah diminta untuk membersihkan wc dan kamar mandi guru mereka. Saat itu, kebanyakan dari kawan-kawan seperguruannya melakukan tugas ini dengan ketidakseriusan bahkan ada yang enggan. Lain halnya dengan Syekh Abdul Wahab. Ia melaksanakan perintah gurunya dengan sepenuh hati. Setelah semua rampung, Sang Guru lalu mengumpulkan semua murid-muridnya dan memberikan pujian kepada Syekh Abdul Wahab sambil mendoakan, mudah-mudahan tangan yang telah membersihkan kotoran ini akan dicium dan dihormati oleh termasuk para raja.19 Pintu Gerbang Selamat Datang Ke Perkampungan Besilam
Salah satu kekhasan Syekh Abdul Wahab dibanding dengan sufi-sufi lainnya adalah bahwa ia telah meninggalkan lokasi perkampungan bagi anak cucu dan murid-muridnya. Daerah yang bernama “Babussalam” ini di bangun pada 12 Syawal 1300 H (1883 M) yang merupakan wakaf muridnya sendiri Sultan Musa al-Muazzamsyah, Raja Langkat pada masa itu. Disinilah ia menetap, mengajarkan Tarekat Naqsyabandiyah sampai akhir hayatnya.Di sela-sela kesibukannya sebagai pimpinan Tarekat Naqsyabandiyah, Syekh Abdul Wahab masih menyempatkan diri untuk menuliskan pemikiran sufistiknya, baik dalam bentuk khutbah-khutbah, wasiat, maupun syair-syair yang ditulis dalam aksara Arab Melayu. Tercatat ada dua belas khutbah yang ia tulis dan masih terus diajarkan pada jamaah di Babussalam. Sebagian khutbah-khutbah tersebut -enam buah diantaranya- diberi judul dengan nama-nama bulan dalam tahun Hijriyah yakni Khutbah Muharram, Khutbah Rajab, Khutbah Sya’ban, Khutbah Ramadhan, Khutbah Syawal, dan Khutbah Dzulqa’dah. Dua khutbah lain tentang dua hari raya yakni Khutbah Idul Fitri dan Khutbah Idul Adha. Sedangkan empat khutbah lagi masing-masing berjudul Khutbah Kelebihan Jumat, Khutbah Nabi Sulaiman, Khutbah Ular Hitam, dan Khutbah Dosa Sosial.Wasiat atau yang lebih dikenal dengan nama “44 Wasiat Tuan Guru” adalah kumpulan pesan-pesan Syekh Abdul Wahab kepada seluruh jamaah tarekat, khususnya kepada anak cucu / dzuriyat-nya. Wasiat ini ditulisnya pada hari Jumat tanggal 13 Muharram 1300 H pukul 02.00 WIB 20 kira-kira sepuluh bulan sebelum dibangunnya Kampung Babussalam.
Karya tulis Syekh Abdul Wahab dalam bentuk syair, terbagi pada tiga bagian yakni Munajat, Syair Burung Garuda dan Syair Sindiran. Syair Munajat yang berisi pujian dan doa kepada Allah, sampai hari ini masih terus dilantunkan di Madrasah Besar Babussalam oleh setiap muazzin sebelum azan dikumandangkan. Dalam Munajat ini, terlihat bagaimana keindahan syair Syekh Abdul Wahab dalam menyusun secara lengkap silsilah Tarekat Naqsyabandiyah yang diterimanya secara turun temurun yang terus bersambung kepada Rasulullah Saw. Sedangkan Syair Burung Garuda berisi kumpulan petuah dan nasehat yang diperuntukkan khusus bagi anak dan remaja. Sayangnya, sampai saat ini Syair Burung Garuda tidak diperoleh naskahnya lagi. Sementara itu, naskah asli Syair Sindiran telah diedit dan dicetak ulang dalam Aksara Melayu (Indonesia) oleh Syekh Haji Tajudin bin Syekh Muhammad Daud al-Wahab Rokan pada tahun 1986.
Dalam praktiknya, tarekat yang diajarkan oleh Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan mengandung dua sistem, yakni pengikut yang hanya mengambil tarekat dan pengikut yang mengambil tarekat sekaligus melaksanakan suluk (pengasingan diri).Pengikut dari golongan pertama mengambil tarekat dari mursyid (syekh) dan diharuskan melaksanakan zikir qalbi (menyebut nama Allah dalam hati) setiap hari sekurang-kurangnya 5.000 kali. Mereka dibenarkan ikut ber-khatam tawajjuh (menamatkan Al-Quran) di Madrasah Besar Babussalam sewaktu-waktu. Bersamaan dengan itu, ia sudah terikat dengan aturan dan adab tarekat.Pengikut golongan kedua tidak saja melaksanakan zikir qalbi dan ikut ber-khatam tawajjuh, tetapi juga melaksanakan suluk. Suluk hampir sama dengan ber-khalwat, yakni menyepi dan mengasingkan diri dari masyarakat ramai di sebuah bangunan yang dinamai rumah suluk (tempat latihan rohani). Suluk ini ada kalanya dijalani selama 10 hari, 20 hari atau 40 hari. Tujuan suluk adalah untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dan menjauhkan diri dari segala sesuatu yang dapat membimbangkan dari mengingat Allah. Persulukan dimulai sesudah melaksanakan khatam tawajjuh, selesai shalat Ashar.
Walaupun Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan bukanlah sosok yang terkenal dalam pergerakan melawan imperialisme Belanda, tapi ia aktif dalam mengarahkan strategi perjuangan non fisik sebagai upaya melawan sistem kolonialisme. Beliau mengirim utusan ke Jakarta untuk bertemu dengan H.O.S. Tjokroaminoto dan mendirikan cabang Syarikat Islam di Babussalam di bawah pimpinan H. Idris Kelantan. Nama Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan sendiri tercantum sebagai penasihat organisasi.Beliau juga pernah ikut terlibat langsung dalam peperangan melawan Belanda di Aceh pada tahun 1308 H. Menurut cerita dari pihak Belanda yang pada saat itu sempat mengambil fotonya, Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan mampu terbang di angkasa, menyerang dengan gagah perkasa, dan tidak dapat ditembak dengan senapan atau meriam.Setelah menetap di Langkat, pihak Belanda sendiri memberikan penghargaan kepada Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan atas jasa-jasanya dalam membangun Kampung Besilam (Babussalam) dan menyebarkan kebenaran kepada penduduk.
Terlepas dari motif di belakangnya, pada tanggal 1 Jumadil Akhir 1341 H (1923), Asisten Residen Van Arken bersama Sultan Langkat menghadiahi beliau bintang kehormatan dari emas. Bintang emas itu dilekatkan ke dadanya lewat satu upacara besar yang disaksikan ribuan hadirin.Setelah bintang itu diterimanya, Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan duduk menghadap kiblat dan menyampaikan pesan agar kiranya Ratu Belanda mau masuk agama Islam. Bintang tanda jasa itu sendiri dikembalikannya kepada Sultan Langkat yang memang dikenal sangat dekat dengan Belanda. Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan meminta maaf seraya mengatakan bahwa penghargaan itu tidak cukup menggembirakan karena merupakan cemeti yang keras bagi badannya yang sudah uzur, yang seharusnya dituntut lebih bersungguh-sungguh dalam menjunjung tinggi perintah Tuhan. Kepada khalayak ia berseru: “Orang Belanda saja sudah menghargai kita dalam menjalankan agama Islam, jadi kita sendiri pun harus lebih taat beribadah dan menjauhi larangan-Nya”.
Sebagai seorang yang sangat dipuja pengikutnya, Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan cukup dikeramatkan oleh penduduk setempat. Sejumlah cerita keramat tentang beliau yang cukup populer di kalangan masyarakat Langkat bisa dilihat sebagai berikut.Tatkala diadakan gotong-royong membangun anak sungai di Kampung Babussalam, nasi bungkus yang rencananya akan dibagikan kepada peserta gotong-royong kurang jumlahnya. Nasi yang tersedia hanya 40 bungkus, sementara para pekerja berjumlah ratusan. Melihat hal itu, Tuan Syekh menyuruh petugas mengumpulkan kembali nasi yang sudah sempat dibagikan dalam sebuah bakul. Kemudian ia menutupi bakul itu dengan selendangnya dan berdoa. Beberapa saat sesudah itu, disuruhnya para petugas membagikan kembali nasi bungkus itu, dan ternyata jumlahnya berlebih.Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan juga dikenal mampu mendorong perahu-perahu dengan mudah, padahal perahu-perahu itu sangatlah berat dan tak mampu didorong oleh seorang saja.Kisah lain, pada suatu masa pihak Belanda merasa curiga karena ia tidak pernah kekurangan uang. Lantas mereka menuduhnya telah membuat uang palsu.
Beliau merasa sangat tersinggung, sehingga ia meninggalkan Kampung Babussalam dan pindah ke Sumujung, Malaysia. Sebagai informasi, pada saat itulah kesempatan beliau mengembangkan tarekat Naqsabandiyah di Malaysia, di mana sebagian pengikutnya adalah rombongan tour yang sedang kami handle saat ini. Nah, selama kepergiannya itu, konon sumber-sumber minyak BPM Batavsche Petroleum Matschapij (sekarang Pertamina) di Langkat menjadi kering. Kepah dan ikan di lautan sekitar Langkat juga menghilang sehingga menimbulkan kecemasan kepada para penguasa Langkat. Akhirnya ia dijemput dan dimohon untuk menetap kembali di Babussalam. Setelah itu, sumber minyak pun mengalir dan ikan-ikan bertambah banyak di lautan. Kaum buruh dan nelayan senang sekali.
Sesudah beliau wafat, banyak orang yang berziarah dan bernazar ke kuburnya. Konon pula, ada pengunjung yang ingin meminta anak laki-laki setelah ia mempunyai 8 anak perempuan. Tak lama kemudian ia mendapatkan anak laki-laki. Banyak lagi cerita-cerita keramat di seputar sosok Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan dan kuburannya.Setahun sekali, bertepatan dengan hari wafat Tuanku Guru Abdul Wahab Rokan tanggal 27 Desember 1926, diadakan acara haul besar peringatan wafat Tuan Guru Pertama.

Saat inilah datang ribuan murid dan peziarah dari seluruh pelosok Asia dan Indonesia ke Basilam. Di hari pertama dan kedua haul, pada malam hari seusai shalat isya, para khalifah (sebutan pengikutnya) dan peziarah melakukan dzikir di depan makam Tuan Guru pertama Abdul Wahab Rokan. Peziarah datang ke sini selain untuk mengikuti acara dzikir bersama di makam Tuan Guru Pertama, juga bersilaturahmi dengan penerus Tuan Guru Basilam. Di saat inilah, kampung Besilam yang biasanya teduh dan tenang mendadak menjadi sibuk karena datangnya ratusan bis ke mari membawa ribuan wisatawan, khalifah, dan peziarah..

Syaikh Abdul Wahab Bugis


Bismillahir Rahmaniir Rahiim

Dijelaskan bahwa dalam catatan sejarah, Syekh Abdul Wahab bertemu dengan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari di Madinah, dalam majelis ilmu gurunya (yang kemudian juga menjadi guru Syekh Muhammad Arsyad), Syekhul Islam, Imamul Haramain Alimul Allamah Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi. Jika Syekh Muhammad Arsyad (dan Syekh Abdus Samad al-Palimbani) lebih banyak menggunakan waktu mereka untuk menuntut ilmu di kota Mekkah (selama 30 tahun) dan Madinah (selama 5 tahun), maka Abdul Wahab (bersama dengan Syekh Abdurrahman Misri) lebih banyak memanfaatkan waktu mereka untuk menuntut ilmu di Mesir.

Pigur Syekh Abdul Wahab Bugis

Berdasarkan pendapat dari Karel S. Steenbrink sebenarnya riwayat hidup seorang tokoh dapat dilacak melalui dua sumber utama. Pertama sumber intern, yakni sumber yang berasal dari tokoh itu sendiri, misalnya karya tulis, biografi tentang sejarah hidupnya atau sumber tertulis lainnya. Kedua, sumber ekstern, yakni tulisan-tulisan yang mengetengahkan tentang riwayat hidup dan perjuangan dari seorang tokoh (1985: 91). Dalam konteks ini pendekatan pertama yang bersifat intern tidak bisa diterapkan, karena sampai sekarang tidak pernah ditemukan satupun karya tulis, buku, risalah, atau kitab karangan Syekh Abdul Wahab Bugis yang bisa dibaca dan ditelaah. Sedangkan pendekatan kedua yang bersifat ekstern yang mengetengahkan tentang riwayat hidup dan perjuangannya juga sangat terbatas dan sedikit sekali, bahkan hampir-hampir tidak ada. Sehingga wajar, walaupun Azyumardi Azra memasukkan Syekh Abdul Wahab Bugis sebagai salah seorang tokoh penting dalam konsep jaringan ulamanya, namun pengungkapan data, riwayat hidup, karier, dan perjuangannya sendiri hampir tidak ada (1994: 243).

Sebagaimana dikatakan, tulisan yang mengetengahkan riwayat hidup tokoh yang satu ini memang sangat sedikit, bahkan hampir-hampir tidak ada. Namun menilik dari namanya, Syekh Abdul Wahab Bugis –selanjutnya ditulis Abdul Wahab– orang sudah bisa menduga bahwa sebenarnya ia bukanlah asli orang Banjar, karena memang ia berasal dari Bugis, Makasar, Sulawesi Selatan. Tepatnya, menurut Abu Daudi (1996: 28), Abdul Wahab adalah seorang berdarah bangsawan, ia keturunan seorang raja yang berasal dari daerah Sadenreng Pangkajene, dan dilahirkan di sana. Sebagai seorang yang berdarah bangsawan ia diberi gelar Sadenring Bunga Wariyah. Jadi nama lengkapnya adalah Abdul Wahab Bugis Sadenreng Bunga Wariyah.

Pangkajene, daerah tempat kelahiran Abdul Wahab sekarang ini adalah adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) Sulawesi Selatan, ibukotanya adalah Tomapoa. Terletak di sebelah atau bagian barat dari propinsi Sulawesi Selatan. Di samping di kenal sebagai daerah pertanian yang subur dengan tanah pegunungan dan dataran rendahnya, daerah ini dikenal pula sebagai daerah perikanan. Salah satu peninggalan sejarah yang terkenal di daerah ini adalah Arojong Pangkajene (Depag RI, 1996: 786).

Tidak diketahui secara pasti kapan ia dilahirkan. Perkiraan penulis ia dilahirkan antara tahun 1725-1735, mengingat usianya yang lebih muda dibandingkan dengan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang dilahirkan pada tahun 1710 M.

Kedatangan Abdul Wahab ke Tanah Banjar seiring dengan kepulangan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari setelah menuntut ilmu di Mekkah dan Madinah selama lebih kurang 35 tahun, yakni pada tahun 1772 M. Pada saat itu yang memerintah di kerajaan Banjar adalah Pangeran Nata Dilaga bin Sultan Tamjidullah, sebagai wali putera mendiang Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah (1761-1787 M), yang kemudian sejak tahun 1781-1801 secara resmi memerintah sebagai raja Banjar dan bergelar Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah.

Abdul Wahab mengikuti Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari setelah dinikahkan dengan Syarifah (Abu Daudi, 1996: 78). Walaupun kemudian diketahui bahwa Syarifah sendiri telah dinikahkan dengan Usman dan telah mendapatkan satu orang anak, bernama Muhammad As’ad. Tetapi setelah diteliti oleh Syekh Muhammad Arsyad berdasarkan hitungan Ilmu Falak maka dapat disimpulkan bahwa pernikahan Abdul Wahab dengan Syarifah yang dilakukan oleh Syekh Muhammad Arsyad dengan kedudukan Wali Mujbir di Mekkah lebih terdahulu waktunya daripada pernikahan Syarifah dengan Usman melalui Wali Hakim di Martapura. Karena itulah akhirnya pernikahan Usman dan Syarifah difasakh atau dibatalkan, dan ditetapkan bahwa Abdul Wahab-lah yang menjadi suami Syarifah.

Keputusan ini kemudian ditaati oleh keduabelah pihak, dan menurut cerita Usman akhirnya merantau ke daerah Palembang Sumatera Selatan, serta merintis terbentuknya sebuah desa di sana yang diberi nama Martapura. Karena itu boleh jadi di Indonesia, daerah yang bernama Martapura hanya ada dua, yakni Martapura di Kalimantan Selatan atau Martapura di Palembang (Sumatera Selatan).

Hasil perkawinannya dengan Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad ini melahirkan dua orang anak, masing-masing bernama Fatimah dan Muhammad Yasin. Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis kemudian dikawinkan dengan H.M. Said Bugis dan melahirkan dua orang anak, yakni Abdul Gani dan Halimah, sedangkan Muhammad Yasin tidak memiliki keturunan. Abdul Gani anak Fatimah kemudian kawin dengan Saudah binti H. Muhammad As’ad dan juga melahirkan dua orang anak, namun keduanya meninggal dunia. Sementara, Halimahpun juga tidak memiliki keturunan. Abdul Ghani kemudian kawin lagi dengan seorang wanita dari Mukah Sarawak dan mendapatkan lagi dua orang anak, yakni Muhammad Sa’id dan Sa’diyah. Muhammad Said kemudian kawin dan mendapatkan dua orang anak, bernama Adnan dan Jannah. Sedangkan Sa’diyah memiliki anak bernama Sailis, yang menurut cerita kemudian tinggal di Sekadu, Pontianak.

Tekad Abdul Wahab yang bulat untuk memperjuangkan dakwah Islam dan mengamalkan ilmu yang telah didapat ketika belajar di Mesir dan di Madinah, serta ikrar yang ia ucapkan bersama teman-temannya tatkala ingin kembali ke tanah air, semakin menguatkan keinginannya untuk mengabdikan ilmu dan baktinya di Tanah Banjar.

Pendidikan dan Ketokohan

Abdul Wahab dikenal sebagai salah seorang tokoh “empat serangkai”, yakni Syekh Abdurrahman al-Misri, Syekh Abdus Samad al-Palimbani, dan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, yang memiliki akhlak dan kepribadian sebagaimana akhlak dan kepribadian yang dimiliki oleh tokoh empat serangkai lainnya, sebagaimana digambarkan oleh Abu Daudi mereka adalah empat serangkai yang seiring sejalan, yang mendapat pendidikan dari guru yang sama, yang sama-sama mengutamakan ilmu dan amal, dan empat serangkai yang sama-sama pulang bersama serta mengemban tugas yang serupa. Ia adalah sahabat sekaligus menantu dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Jika Syekh Muhammad Arsyad dan Syekh Abdus Samad al-Palimbani lebih banyak menghabiskan waktu mereka menuntut ilmu di kota Mekkah, maka Abdul Wahab bersama dengan sahabatnya Syekh Abdurrahman Misri lebih banyak menghabiskan waktu mereka menuntut ilmu di kota Mesir. Sehingga dalam tulisan Abu Daudi, Abdul Wahab tercatat sebagai salah seorang murid dari Syekhul Islam, Imamul Haramain Alimul Allamah Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi (Abu Daudi, 1996: 28, 31). Syekh Sulaiman al-Kurdi ini kemudian juga menjadi guru dari Syekh Muhammad Arsyad dan Syekh Abdusshamad al-Palimbani. Itulah sebabnya ia mengiringi gurunya itu ke kota Madinah ketika gurunya itu hendak mengajar, mengembangkan pengetahuan agama dan Ilmu Adab serta mengadakan pengajian umum.

Di kota Madinah inilah kemudian empat serangkai bertemu dan selanjutnya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Abdus Samad al-Palimbani pun mengikuti majelis pengajian Syekh Muhammad Sulaiman al-Kurdi, yang kemudian memicu lahirnya tulisan Syekh Muhammad Arsyad yang berjudul “Risalah Fatawa Sulaiman Kurdi”. Risalah ini berupa naskah yang isinya menerangkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari kepada Syekh Muhammad Sulaiman al-Kurdi tentang keadaan atau tindakan Sultan Banjar yang memungut pajak dan mengenakan hukuman denda bagi mereka yang meninggalkan shalat Jum’at dengan sengaja, serta berbagai masalah lainnya. Risalah ini ditulis dalam bahasa Arab, dan belum pernah diterbitkan, namun naskah asli tulisan beliau sampai sekarang masih ada dan tetap tersimpan dengan baik pada salah seorang zuriat beliau di desa Dalam Pagar Martapura.

Kemudian atas anjuran dari Syekh Muhammad Sulaiman al-Kurdi pula, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Syekh Abdus Samad al-Palimbani yang haus ilmu pengetahuan yang semula berniat dan berencana untuk menambah ilmu ke Mesir tidak jadi berangkat ke sana, sebab ilmu pengetahuan yang mereka miliki telah dianggap cukup, untuk selanjutnya mereka disarankan segera pulang ke tanah air guna mengamalkan dan mengembangkan ilmu yang telah didapat (Abu Daudi, 1996: 29).

Bandingkan dengan pendapat Azyumardi Azra (1994: 253), yang menyatakan bahwa Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Syekh Abdus Samad al-Palimbani meminta izin dan restu kepada guru mereka Syekh Athaillah bin Ahmad al-Misri untuk menuntut ilmu ke Mesir, namun oleh Syekh Athaillah mereka disarankan untuk pulang ke tanah air mengamalkan ilmu yang telah didapat, sebab Syekh Athaillah percaya mereka (empat serangkai) telah memiliki pengetahuan yang lebih dari cukup, sehingga akhirnya mereka tidak jadi menuntut ilmu ke Mesir, tetapi tetap ke sana untuk berkunjung. Sebagai tanda kunjungan akhirnya nama Syekh Abdurrahman al-Batawi ditambah dengan al-Misri.

Menurut riwayat, selama di kota Madinah, “empat serangkai” juga belajar ilmu tasawuf kepada Syekh Muhammad bin Abdul Karim Samman al-Madani, seorang ulama besar dan Wali Quthub di Madinah, sehingga akhirnya mereka berempat mendapat gelar dan ijazah khalifah dalam tarekat Sammaniyah Khalwatiyah.

Di samping tercatat sebagai murid dari Syekh Muhammad bin Abdul Karim Samman al-Madani (seorang ulama besar dan Wali Quthub di Madinah) dan Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi, Abdul Wahab juga berguru kepada:

1. Abdul al-Mun’im al-Damanhuri, Ibrahim bin Muhammad al-Ra’is al-Zamzami al-Makki (1698-1780 M) yang terkenal sebagai ahli Ilmu Falak (Astronomi)

2. Muhammad Khalil bin Ali bin Muhammad bin Murad al-Husaini (1759-1791 M) yang terkenal sebagai ahli sejarah dan penulis kamus biografi Silk al-Durar

3. Muhammad bin Ahmad al-Jauhari al-Mishri (1720-1772 M) yang terkenal sebagai seorang ahli hadits

4. Athaillah bin Ahmad al-Azhari, al-Mashri al-Makki, yang juga terkenal sebagai seorang ahli hadits ternama serta dianggap sebagai isnad unggul dalam telaah hadits.

Dengan demikian jelas, bahwa guru-guru terkemuka Abdul Wahab di atas juga merupakan guru-guru dari tokoh empat serangkai yang lainnya.

Perjuangan Dakwah

Di samping Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari sebagai motor penggerak utama kegiatan dakwah Islam di Tanah Banjar, Abdul Wahab juga memiliki peranan yang penting dalam mengembangkan Islam di Tanah Banjar, mengingat kedudukan dan figur Abdul Wahab sebagai seorang ulama yang dikenal alim dan sekian lama menuntut ilmu di Mesir dan daerah Timur Tengah.

Perjuangan utama Abdul Wahab Di Tanah Banjar sendiri adalah membantu Syekh Muhammad Arsyad mendakwahkan Islam di wilayah kerajaan Banjar yang waktu itu belum begitu berkembang. Mulai dari mengajarkan Islam kepada keluarga kerajaan, mendidik kader-kader dakwah, sampai dengan membangun desa Dalam Pagar, yang kemudian berkembang menjadi pusat penyebaran dan pengajaran Islam di Kalimantan.

Pertama, mengajarkan agama Islam kepada kaum bangsawan dan keluarga kerajaan Banjar. Hal ini terlihat dari awal kedatangan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Abdul Wahab Bugis di tanah Banjar (Martapura) pada bulan Ramadhan tahun 1208 H/1772 M yang disambut meriah oleh seluruh komponen masyarakat Banjar, tidak hanya masyarakat biasa akan tetapi juga kaum bangsawan dari kerajaan Banjar. Mengingat Syekh Muhammad Arsyad sendiri sudah dianggap dan diakui sebagai bubuhan kerajaan, terlebih-lebih lagi manakala mengetahui status Abdul Wahab yang juga seorang bangsawan, sehingga oleh pihak kerajaan ia diberikan tempat untuk tinggal dalam istana. Menjadi guru agama di Istana dan mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada bubuhan kerajaan.

Kedua, membantu Syekh Muhammad Arsyad membuka perkampungan Dalam Pagar yang telah dihadiahkan oleh kerajaan Banjar kepada beliau sebagai tanah lungguh. Mengingat tekad kuat dan ikrar setia yang disampaikan oleh Abdul Wahab untuk mensyiarkan agama Islam di tanah air, sesuai dengan pesan guru mereka ketika masih di kota Madinah, ia juga aktif mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada masyarakat luas yang datang berbondong-bondong ke Dalam Pagar yang sudah dikenal dan menjadi pusat pendidikan serta penyiaran agama Islam pada masa itu.

Ketiga, di samping itu Abdul Wahab sebagai menantu dan sekaligus sahabat Syekh Muhammad Arsyad yang juga memiliki pengetahuan agama yang luas dan alim, diduga sedikit banyak beliau ikut menyumbangkan ilmu, pendapat, dan pandangannya –sumbang saran– terhadap berbagai masalah-masalah keagamaan yang terjadi di Tanah Banjar. Dengan kata lain Abdul Wahab merupakan teman diskusi atau mudzakarah agama Syekh Muhammad Arsyad. Hal ini terlihat dari adanya istilah-istilah tertentu dalam Bahasa Bugis –walaupun dalam jumlah yang sangat kecil, dan untuk hal ini lebih jauh perlu dilakukan penelitian dan pengkajian kembali melalui pendekatan Linguistik– pada penulisan dan penyusunan risalah atau kitab-kitab yang ditulis oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, terutama Kitab Sabilal Muhtadin.

Mengingat kedudukan dan kedekatannya, sumbangan pemikiran Abdul Wahab terhadap sejumlah karya tulis Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dapat saja terjadi, mengingat bahwa:

1. Abdul Wahab adalah salah seorang ahli Fiqih dan murid dari Imam Haramain, Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi dan Syekh Athaillah bin Ahmad al-Misri, yang lama menuntut ilmu di Mesir dan Haramain, beliau adalah seorang yang alim, sahabat sekaligus menantu yang berjuang berdampingan bersama Syekh Muhammad Arsyad, mewujudkan ikrar yang telah ditetapkan ketika berkumpul bersama-sama (dengan tokoh empat serangkai lainnya) sesudah menuntut ilmu di Madinah, dan akan pulang ke tanah air.

2. Abdul Wahab adalah salah seorang tokoh dari “empat serangkai” yang mendapatkan ijazah khalifah dalam tarekat Sammaniyah ketika keempatnya belajar dan mengkaji ilmu tasawuf atau tarekat di Madinah kepada Syekh Muhammad bin Abdul Karim Samman al-Madani.

3. Abdul Wahab dianggap sebagai tokoh penting dalam jaringan ulama Nusantara pada abad ke-18 dan ke-19 karena keterlibatannya secara sosial maupun intelektual dalam jaringan ulama tersebut. Ketokohannya diakui dan dapat dilihat dari gelar syekh yang beliau sandang. Sebab gelar syekh dalam khazanah masyarakat Banjar mengisyaratkan kealiman penyandangnya, sekaligus pula menjadi penanda bahwa yang bersangkutan pernah atau lama mengkaji ilmu di Tanah Haramain (Mekkah atau Madinah). Karena itulah di samping diangkat menjadi guru di istana kerajaan Banjar oleh sultan, dalam kehidupan masyarakat luas pun ia dihormati dan dijadikan sebagai guru rohani mereka.

Keempat, untuk mendidik dan membina kader-kader penerus dakwah Islam, Syekh Muhammad Arsyad telah membuka daerah Dalam Pagar, mendirikan surau, rumah tempat tinggal sekaligus mandarasah yang menjadi tempat untuk belajar masyarakat, mengkaji dan menimba ilmu, sekaligus tempat untuk mendidik kader-kader dakwah. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari bersama Abdul Wahab telah membangun sebuah pusat pendidikan Islam yang serupa ciri-cirinya dengan surau di Padang Sumatera Barat, rangkang, meunasah dan dayah di Aceh, atau pesantren di Jawa.

Bangunan tersebut terdiri dari ruangan-ruangan untuk belajar, pondokan tempat tinggal para santri, rumah tempat tinggal Tuan Guru atau kyai, dan perpustakaan. Oleh Humaidy lembaga pendidikan Islam ini, sebagaimana istilah yang biasa dipakai di kawasan dunia Melayu, seperti Riau, Palembang, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Fattani (Thailand) disebut punduk. Sehingga Dalam Pagar akhirnya berhasil menjadi locus dan kawah candradimuka paling penting untuk mendidik serta mengkader para murid yang kemudian hari menjadi ulama terkemuka di kalangan masyarakat Kalimantan.

Tentu di masa-masa sulit seperti ini beliau berdua dengan anak menantu dan sekaligus sahabatnya, Abdul Wahab Bugis saling membantu, mengisi, dan membina kader-kader dakwah yang banyak jumlahnya tersebut. Hasilnya, di samping berhasil menjadikan anak cucu mereka –Fatimah dan Muhammad Yasin bin Syekh Abdul Wahab Bugis serta Muhammad As’ad bin Usman (mufti pertama di kerajaan Banjar)– sebagai ulama, membentuk kader-kader masyarakat yang kelak menjadi ulama terkemuka, mereka berdua juga berhasil membentuk masyarakat Islam Banjar yang memiliki kesadaran untuk berpegang pada ajaran agama Islam melalu dakwah bil-lisan, bil-kitabah, dan bil-hal, serta diteruskan kemudian oleh generasi-generasi dan kader-kader yang telah dibina melalui upaya pengiriman juru dakwah ke berbagai daerah yang masyarakatnya sangat memerlukan pembinaan agama, dari sini akhirnya dakwah terus berkembang dan ajaran Islam semakin tersebar luas ke tengah-tengah masyarakat Banjar.

Perkembangan dakwah Islam yang begitu menggembirakan, pada akhirnya memicu simpatik Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidillah untuk memberikan keleluasaan kepada Syekh Muhammad Arsyad untuk lebih memantapkan dan mengembangkan Islam di Tanah Banjar secara melembaga, agar agama Islam benar-benar menjadi way of life, keyakinan dan pegangan masyarakat Banjar khususnya, dan Kalimantan umumnya.

Sultan Banjar berkeinginan pula untuk menertibkan dan menyempurnakan peraturan yang telah dibuat berdasarkan hukum Islam, wadah atau badan yang menjaga agar kemurnian hukum dapat diterapkan, dan yang lebih penting lagi adalah agar roda pemerintahan di kerajaan benar-benar dapat dilaksanakan dengan baik sesuai dengan tuntunan agama. Sehingga bermula dari sinilah kemudian timbul lembaga-lembaga dan jabatan-jabatan keislaman dalam pemerintahan, semacam Mahkamah Syar’iyah, yakni Mufti dan Qadli.

Mufti adalah suatu lembaga yang bertugas memberikan nasihat atau fatwa kepada sultan masalah-masalah keagamaan, jabatan mufti kerjaan Banjar yang pertama dipegang oleh H. Muhammad As’ad bin Usman (cucu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari). Sedangkan qadli adalah mereka yang mengurusi dan menyelesaikan segala urusan hukum Islam, terhadap masalah perdata, pernikahan, dan waris, jabatan qadli yang pertama dipegang oleh H. Abu Su’ud bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Sampai akhirnya Syariat Islam diterapkan sebagai hukum resmi yang mengatur kehidupan masyarakat Islam di tanah Banjar pada masa pemerintahan Sultan Adam al-Watsiq Billah bin Sultan Sulaiman al-Mu’tamidillah (1825-1857 M), yang dikenal dengan nama Undang-Undang Sultan Adam (UUSA). Dibentuk dan diberlakukannya UUSA ini bertujuan untuk mengatur agar kehidupan beragama masyarakat menjadi lebih baik, mengatur agar akidah masyarakat lebih sempurna, mencegah terjadinya persengketaan, dan untuk memudahkan para hakim dalam menetapkan status hukum suatu perkara.

UUSA ini antara lain berisikan, Pasal 1 sampai dengan pasal 2 berbicara tentang dasar negara yakni Islam yang Ahlu Sunnah wal Jamaah, pasal 4 sampai dengan pasal 22 menerangkan peraturan dalam peradilan berdasarkan mazhab Syafi’i, pasal 23 sampai pasal 27 berbicara tentang hukum tanah garapan, penjualan tanah, penggadaian, peminjaman dan penyewaan tanah yang harus dilakukan secara tertulis, serangkap di tangan hakim dan serangkap lagi di tangan yang berkepentingan. Gugatan terhadap tanah yang terjadi sebelum diberlakukan undang-undang dapat diajukan sebelum duapuluh tahun semenjak undang-undang ditetapkan, sedang tanah atau kebun yang terjual atau telah dibagi kepada ahli waris, dapat digugat selama sepuluh tahun dari tahun penjualan atau pembagian sampai undang-undang diberlakukan. Orang yang menang dalam perkara tidak boleh mengambil sewa selama berada di tangan tergugat.

Di samping alasan-alasan di atas yang mendasari aktivitas dan perjuangan dakwah Abdul Wahab di Tanah Banjar, sebagai seorang ulama yang alim, ahli Ilmu Fikih dan menguasai Ilmu Tasawuf, menurut asumsi penulis Abdul Wahab juga salah seorang ulama penyebar tarekat Sammaniyah (Pembahasan tentang peranan Syekh Abdul Wahab Bugis sebagai salah seorang pembawa dan penyebar tarekat Sammaniyah yang bercorak Khalwatiyah, di samping Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Syekh Muhammad Nafis al-Banjari lebih jauh dapat dilihat dalam tulisan saya yang berjudul: “Melacak Jejak Pembawa Tarekat Sammaniyah di Tanah Banjar”, Jurnal Khazanah, Volume II Nomor 05, September-Oktober 2003). Sehingga dalam konteks ini memungkinkan sekali jika ia menggunakan pendekatan dakwah sufistik dalam aktivitas dakwahnya, di samping pendekatan dakwah syariah.

Dimaksud dengan dakwah sufistik adalah usaha dakwah yang dilakukan oleh seorang muslim untuk mempengaruhi orang lain, baik secara individu maupun kolektif (jamaah) agar mereka mau mengikuti dan menjalankan ajaran Islam secara sadar, usaha ini dilakukan dengan pendekatan tasawuf, yakni pendekatan dakwah yang lebih menekankan pada aspek batin penerima atau objek dakwah (mad’u) daripada aspek lahiriyahnya.

Dengan kata lain pendekatan dakwah sufistik adalah dakwah dengan menggunakan materi-materi sufisme, yang di dalamnya terdapat aspek-aspek yang berhubungan dengan akhlak, baik akhlak kepada Allah, kepada Rasul-Nya, kepada sesama manusia, bahkan akhlak terhadap semua makhluk ciptaan Allah seperti tawadlu’, ikhlas, tasamuh, kasih sayang terhadap sesama, dan lain-lain, sehingga pada akhirnya dalam diri mad’u timbul kesadaran untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallah) sedekat-dekatnya agar memperoleh rahmat serta kasih sayang-Nya (Rosyidi, 2004: 46).

Apatah lagi, pada masa itu tasawuf dan berbagai tarekat yang ada telah memainkan peranan penting dalam perkembangan dan Islamisasi di Indonesia sejak abad XI Masehi. Di mana berlangsungnya Islamisasi di Asia Tenggara (termasuk di Indonesia), berbarengan dengan masa-masa merebaknya tasawuf abad pertengahan, dan pertumbuhan tarekat-tarekat, antara lain ajaran Ibn al-‘Arabi (w. 1240 M), ‘Abd al-Qadir al-Jailani (w. 1166 M) yang ajarannya menjadi dasar Tarekat Qadiriyah, ‘Abd al-Qahir al-Suhrawardi (w. 1167 M), Najm al-Din al-Kubra (w. 1221 M) dengan tarekatnya Kubrawiyah, Abu al-Hasan al-Syadzili (w. 1258 M) dengan tarekatnya Syadziliyah, Baha’u al-Din al-Naqsyabandi (w. 1389 M) dengan tarekatnya Naqsabandiyah, ‘Abd Allah al-Syattar (w. 1428 M) dengan tarekatnya Syattariyah, dan sebagainya (Martin, 1985: 188). Sehingga tasawuf merupakan sesuatu yang sangat diminati, tak terkecuali pula halnya dengan masyarakat Banjar yang telah memiliki bibit-bibit ketasawufan tersebut. Lebih dari itu, Islam yang masuk yang berkembang di Indonesia sendiri menurut para ahli adalah Islam yang bercorak tasawuf (Yunasir, 1987: 94).

Sayangnya, perjuangan dakwah Abdul Wahab tidak begitu panjang, ia meninggal terlebih dahulu dan lebih muda setelah sekian lama berjuang bahu-membahu mendakwahkan Islam bersama dengan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, yakni lebih kurang 10-15 tahunan.

Tidak diketahui secara pasti memang kapan tahun meninggalnya, namun diperkirakan antara tahun 1782-1790 M, dalam usian enampuluh tahunan. Tahun ini penulis dasarkan pada catatan tahun pertama kali kedatangannya (1772 M) dan tahun pemindahan makamnya. Di mana semula ia dikuburkan di pemakaman Bumi Kencana Martapura, namun oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari kemudian, bersamaan dengan pemindahan makam Tuan Bidur, Tuan Bajut (isteri dari Syekh Muhammad Arsyad), dan Aisyah (anaknya Tuan Bajut), makamnya kemudian dipindahkan ke desa Karangtangah (sekarang masuk wilayah desa Tungkaran Kecamatan Martapura) pada pada hari Selasa, 2 Rabiul Awal 1208 H (1793 M). Karena itu bisa diperkirakan bahwa, dihitung dari tahun pertama kedatangan hingga wafatnya, Abdul Wahab telah bahu-membahu dan memperjuangkan dakwah Islam mendampingi Syekh Muhammad Arsyad di tanah Banjar sekitar 10-15 tahun.

Ada pula yang menyatakan bahwa, Abdul Wahab setelah lama berkiprah di Tanah dan kerajaan Banjar serta sesudah kedua anaknya yakni Fatimah dan Muhammad Yasin dewasa, ia kemudian pulang dan meninggal di kampung halamannya Pangkajene, Sulawesi Selatan (Zamam, 1978: 13).

Namun, Berdasarkan catatan pemindahan makamnya yang sampai sekarang masih disimpan oleh Abu Daudi, dapat disimpulkan bahwa Syekh Abdul Wahab Bugis sebenarnya tidak pulang ke daerah asalnya tetapi meninggal lebih muda dari Syekh Muhammad Arsyad. Karena itu data ini lebih kuat dari yang dikatakan oleh Zafri Zamzam bahwa Syekh Abdul Wahab Bugis pulang ke daerah asal beliau (Pangkajene) dan meninggal di sana.

Demikianlah, Syekh Abdul Wahab Bugis telah membaktikan ilmu, waktu, dan hidupnya untuk memperjuangan dakwah Islam di Tanah Banjar. Seyogianya peranan, jasa dan perjuangannya itu menjadi cermin bagi generasi sekarang untuk meninggalkan amal shalih yang sama, sehingga berguna bagi generasi selanjutnya untuk membangun dan mengembangkan masyarakatnya.

Penutup

Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa Abdul Wahab Bugis, kawan seperguruan, sahabat, dan sekaligus menantu dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari juga memiliki peran dan jasa yang besar dalam mendakwahkan Islam di Bumi Kalimantan. Mulai dari mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan pada keluarga atau bubuhan bangsawan di kerajaan Banjar sampai membangun tanah lungguh desa Dalam Pagar menjadi locus utama dakwah Islam, pendidikan, dan pengkaderan kader-kader yang kelak menjadi pejuang dakwah diberbagai daerah yang menjadi sebarannya di Kalimantan.

Mengingat ketokohan, akhlak, dan keilmuan yang dimilikinya yang memang diakui, serta melalui kebersamaan sebagaimana yang telah diikrarkan, bahu-membahu, dan ikhlas berjuang bersama Syekh Muhammad Arsyad, Abdul Wahab berhasil menempatkan posisi dirinya sebagai ulama pejuang dalam rangka menjadikan Islam sebagai pola kehidupan masyarakat Banjar, baik bidang kenegaraan maupun bidang sosial kemasyarakatan.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Yunasir, Pengantar Ilmu Tasawuf, Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta, 1987.

Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Mizan, Bandung, 1994.

Basuni, Ahmad, Nur Islam di Kalimantan Selatan, Bina Ilmu, Surabaya, 1996.

Bruinessen, Martin van, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat : Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, Mizan, Bandung, 1999.

Daudi, Abu, Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Tuan Haji Besar. Sekretariat Madrasah Sullamul Ulum Dalam Pagar Martapura, 1996.

Departemen Agama RI, Ensiklopedi Islam, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1999.

Halidi, Yusuf, Ulama Besar Kalimantan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Bina Ilmu, Surabaya, 1984.

Humaidy, “Tragedi Datu Abulung : Manipulasi Kuasa Atas Agama”, Kandil, edisi 2 Tahun I, September 2003.

Jamalie, Zulfa, “Melacak Jejak Pembawa Tarekat Sammaniyah di Tanah Banjar”, Jurnal Khazanah, Volume II Nomor 05, September-Oktober 2003.

Marwan, Muhammad, Manakib Datu Suban dan Para Datu, Toko Buku Sahabat, Kandangan, 2001.

Masdari dan Zulfa Jamalie (ed.), Khazanah Intelektual Islam Ulama Banjar, Pusat Pengakjian Islam Kalimantan (PPIK) IAIN Antasari, Banjarmasin, 2003.

Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, INIS, Jakarta, 1994.

Rosyidi, Dakwah Sufistik Kang Jalal : Menentramkan Jiwa Mencerahkan Pikiran, Khazanah Populer Paramadina, Jakarta, 2004.

Sasono, Adi dkk, Solusi Islam Atas Problematika Umat, Gema Insani Press, Jakarta, 1998.

Steenbrink, Karel S. Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19, Bulan Bintang, Jakarta, 1985.

Zamzam, Zafry, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari sebagai Ulama Juru Dakwah dalam Sejarah Penyiaran Islam di Kalimantan Abad ke-13H/18 M dan Pengaruhnya di Asia Tenggara, Percetakan Karya, Banjarmasin, 1974.

KH Muhammad Saleh Semarang


Bismillahir Rahmanir Rahiim

ADA orang meriwayatkan bahawa tiga orang ulama yang berasal dari Pulau Jawa adalah sangat masyhur, sama ada tentang pencapaian keilmuan, ramai murid menjadi ulama,  maupun nyata karamah dan barakah. Tiga orang ulama yang bersahabat, yang dimaksudkan ialah Syeikh Muhammad Nawawi al-Bantani @ Imam Nawawi ats-Tsani (lahir 1230 H/1814 M, wafat 1314 H/1896 M), Muhammad Khalil bin Kiyai Abdul Lathif (lahir 1235 H/1820 M) dan Kiyai Haji Saleh Darat yang lahir di Kedung Cemlung, Jepara, tahun 1235 H/1820 M, wafat di Semarang, hari Jumaat, 29 Ramadhan 1321 H/18 Disember 1903 M) ulama yang diriwayatkan ini.

Ketiga-tiga ulama yang berasal dari Jawa itu juga hidup sezaman dan seperguruan di Mekah dengan beberapa ulama yang berasal dari Patani seumpama Syeikh Muhammad Zain bin Mustafa al-Fathani (lahir 1233 H/1817 M, wafat 1325 H/1908 M), Syeikh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani (lahir 1234 H/1818 M, wafat 1312 H/1895 M) dan lain-lain. Mereka juga seperguruan di Mekah dengan Syeikh Amrullah (datuk kepada Prof. Dr. Hamka) yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat.

PENDIDIKAN
Ayahnya adalah seorang ulama besar dan pejuang Islam yang pernah bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro dalam perjuangan jihad melawan penjajah Belanda. Beliau ialah Kiyai Haji Umar. Oleh itu Saleh Darat memperoleh ilmu asas daripada ayahnya sendiri. Sesudah itu beliau belajar kepada Kiyai Haji Syahid, ulama besar di Waturoyo, Pati, Jawa Tengah. Kemudian, dibawa ayahnya ke Semarang untuk belajar kepada beberapa ulama, di antara mereka ialah Kiyai Haji Muhammad Saleh Asnawi Kudus, Kiyai Haji Ishaq Damaran, Kiyai Haji Abu Abdillah Muhammad Hadi Banguni (Mufti Semarang), Kiyai Haji Ahmad Bafaqih Ba’alawi, dan Kiyai Haji Abdul Ghani Bima.

Ayahnya Kiyai Haji Umar sangat berhajat menjadikan anaknya itu seorang ulama yang berpengetahuan sekali gus berpengalaman. Ke arah ilmu pengetahuan telah dilaluinya di pendidikan pengajian pondok. Untuk memperoleh pengalaman pula mestilah melalui pelbagai saluran. Seseorang yang berpengetahuan tanpa pengalaman adalah kaku. Sebaliknya seseorang yang berpengalaman tanpa pengetahuan yang cukup adalah ibarat tumbuh-tumbuhan hidup di tanah yang gersang. Seseorang yang berjaya menghimpunkan pengetahuan dan pengalaman hidup yang demikianlah yang diperlukan oleh masyarakat Islam sepanjang zaman. Oleh hal-hal yang tersebut itu, ayahnya telah mengajak Saleh Darat merantau ke Singapura. Beberapa tahun kemudian, bersama ayahnya, beliau berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji.

Bertawakal
Ayahnya wafat di Mekah. Saleh Darat mengambil keputusan dengan bertawakal kepada Allah untuk tinggal di Mekah kerana mendalami pelbagai ilmu kepada beberapa orang ulama di Mekah pada zaman itu. Di antara gurunya ialah: Syeikh Muhammad al-Muqri, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki, Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Ahmad Nahrawi, Sayid Muhammad Saleh bin Sayid Abdur Rahman az-Zawawi, Syeikh Zahid, Syeikh Umar asy-Syami, Syeikh Yusuf al-Mishri dan Syeikh Jamal Mufti Hanafi.

Setelah beberapa tahun belajar, di antara gurunya yang tersebut memberi izin beliau mengajar di Mekah sehingga ramai pelajar yang datang dari dunia Melayu menjadi muridnya. Di antara muridnya sewaktu beliau mengajar di Mekah ialah Kiyai Haji Hasyim, Kiyai Haji Bisri Syansuri, dan ramai lagi.

Beberapa ulama yang tersebut itu, iaitu Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki, Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syeikh Umar asy-Syami adalah ulama-ulama yang mengajar di Masjid al-Haram, Mekah dalam tempoh masa yang sangat lama, sejak ulama yang sebaya dengan Syeikh Nawawi al-Bantani, Kiyai Haji Saleh Darat, Syeikh Muhammad Zain al-Fathani dan lain-lain, hinggalah ulama-ulama peringkat Syeikh Ahmad al-Fathani. Kiyai Saleh Darat sebaya umurnya dengan ayah Syeikh Ahmad al-Fathani, namun sama-sama seperguruan dengan ulama-ulama Arab yang tersebut di atas.

PONDOK PESANTREN
Setelah menetap di Mekah beberapa tahun belajar dan mengajar, Kiyai Saleh Darat terpanggil pulang ke Semarang kerana bertanggungjawab dan ingin berkhidmat terhadap tanah tumpah darah sendiri. `Hubbul wathan minal iman’ yang maksudnya, `kasih terhadap tanah air sebahagian daripada iman’ itulah yang menyebabkannya mesti pulang ke Semarang. Sebagaimana tradisi ulama dunia Melayu terutama ulama Jawa dan Patani pada zaman itu, bahawa setelah pulang dari Mekah mestilah mengasaskan pusat pengajian pondok. Kiyai Saleh mengasaskan pondok pesantren di daerah Darat yang terletak di pesisir pantai kota Semarang. Sejak itulah beliau dipanggil orang dengan gelaran Kiyai Saleh Darat Semarang.

Terkenal
Dengan mengasaskan pondok pesantren itu nama Kiyai Haji Saleh Darat menjadi lebih terkenal di seluruh Jawa terutama Jawa Tengah. Ramai murid beliau yang menjadi ulama dan tokoh yang terkenal, di antara mereka ialah: Kiyai Haji Hasyim Asy’ari (ulama besar di Jawa, beliau termasuk salah seorang pengasas Nahdhatul Ulama), Kiyai Haji Muhammad Mahfuz at-Tarmasi (seorang ulama besar dalam Mazhab Syafie yang sangat ahli dalam bidang ilmu-ilmu hadis), Kiyai Haji Ahmad Dahlan (pengasas organisasi Muhammadiyah), Kiyai Haji Idris (pengasas Pondok Pesantren Jamsaren, Solo), Kiyai Haji Sya’ban (ulama ahli falak di Semarang) dan Kiyai Haji Dalhar (pengasas Pondok Pesantren Watucongol, Muntilan, Magelang). Raden Ajeng Kartini yang menjadi simbol kebangkitan kaum perempuan Indonesia juga adalah murid Kiyai Saleh Darat.

Tiga orang di antara murid beliau adalah disahkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, iaitu; Kiyai Haji Ahmad Dahlan (1868 M – 1934 M), dengan Surat Keputusan Pemerintah RI, No. 657, 27 Disember 1961, dianugerahi Gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Hadhratusy Syeikh Kiyai Haji Hasyim Asy’ari (1875 M – 1947 M), dengan Surat Keputusan Presiden RI, No. 294, 17 November 1964 dianugerahi Gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan Raden Ajeng Kartini (1879 M – 1904 M), dengan Surat Keputusan Presiden RI, No. 108, 12 Mei 1964 dianugerahi Gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Murid Kiyai Haji Saleh Darat yang sangat terkenal di peringkat antarabangsa kerana karangannya menjadi rujukan ialah Kiyai Haji Muhammad Mahfuz at-Tarmasi atau menggunakan nama lengkap Syeikh Muhammad Mahfuz bin Abdullah at-Tarmasi (1285 H/1868 M – 1358 H/1939 M). Dua buah karyanya yang besar dan sangat terkenal dalam bahasa Arab ialah Muhibah Zawin Nazhar syarah Kitab Ba Fadhal merupakan kitab fikah Mazhab Syafie yang ditulis dalam empat jilid tebal. Dan sebuah lagi Manhaj Zawin Nazhar merupakan syarah kitab hadis membicarakan ilmu mushthalah dan lain-lain yang ada hubungan dengan hadis.

PENULISAN
Di antara karangan Kiyai Haji Syeikh Saleh Darat as-Samarani yang telah diketahui adalah seperti berikut:

1. Kitab Majmu’ah asy-Syari’ah al-Kafiyah li al-’Awam, kandungannya membicarakan ilmu-ilmu syariat untuk orang awam
2. Kitab Munjiyat, kandungannya tentang tasawuf, merupakan petikan perkara-perkara yang penting dari kitab Ihya’ `Ulum ad-Din karangan Imam al-Ghazali
3. Kitab al-Hikam, kandungannya juga tentang tasawuf, merupakan petikan perkara-perkara yang penting daripada Kitab Hikam karangan Syeikh Ibnu `Athaullah al-Askandari.
4. Kitab Latha’if at-Thaharah, kandungannya membicarakan tentang hukum bersuci
5. Kitab Manasik al-Hajj, kandungannya membicarakan tatacara mengerjakan haji
6. Kitab ash-Shalah, kandungannya membicarakan tatacara mengerjakan sembahyang
7. Tarjamah Sabil al-`Abid `ala Jauharah at-Tauhid, kandungannya membicarakan akidah Ahli Sunnah wal Jamaah, mengikut pegangan Imam Abul Hasan al-Asy`ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi.
8. Mursyid al-Wajiz, kandungannya membicarakan tasawuf atau akhlak.
9. Minhaj al-Atqiya’, kandungannya juga membicarakan tasawuf atau akhlak.
10. Kitab Hadis al-Mi’raj, kandungannya membicarakan perjalanan Nabi Muhammad s.a.w. dari Mekah ke Baitul Maqdis dan selanjutnya hingga ke Mustawa menerima perintah sembahyang lima kali sehari semalam. Kitab ini sama kandungannya dengan Kifayah al-Muhtaj karangan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani.
11. Kitab Faidhir Rahman, kandungannya merupakan terjemahan dan tafsir al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Kitab ini merupakan terjemahan dan tafsir al-Quran yang pertama dalam bahasa Jawa di dunia Melayu. Menurut riwayat, satu naskhah kitab tafsir tersebut pernah dihadiahkan kepada Raden Ajeng Kartini ketika berkahwin dengan R.M. Joyodiningrat (Bupati Rembang).
12. Kitab Asrar as-Shalah, kandungannya membicarakan rahsia-rahsia sembahyang.

Hampir semua karya Kiyai Haji Saleh Darat ditulis dalam bahasa Jawa dan menggunakan huruf Arab (Pegon atau Jawi); hanya sebahagian kecil yang ditulis dalam bahasa Arab. Di tangan saya hanya terdapat sebuah yang ditulis dalam bahasa Melayu. Yang ditulis dalam bahasa Melayu menggunakan nama Syeikh Muhammad Shalih bin Umar as-Samarani. Sebahagian besar kitab-kitab yang tersebut sampai sekarang terus diulang cetak oleh beberapa percetakan milik orang Arab di Surabaya dan Semarang. Ini kerana ia masih banyak diajarkan di beberapa pondok pesantren di pelbagai pelosok Jawa Tengah.

Ada orang berpendapat bahawa orang yang paling berjasa menghidupkan dan menyebarluaskan tulisan Pegon (tulisan Arab bahasa Jawa) ada tiga orang, ialah Syeikh Nawawi al-Bantani, Kiyai Khalil al-Maduri dan Kiyai Haji Saleh Darat Semarang. Pada pandangan saya, Kiyai Haji Saleh Darat adalah yang lebih dapat diakui, kerana apabila kita pelajari karya-karya Syeikh Nawawi al-Bantani semuanya dalam bahasa Arab bukan dalam bahasa Jawa. Kiyai Khalil al-Maduri pula hingga kini saya belum mempunyai karya beliau sama ada dalam bahasa Jawa, atau pun bahasa Melayu maupun dalam bahasa Arab.

Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Beliau dilahirkan di desa Lok Gabang pada hari kamis dinihari 15 Shofar 1122 H, bertepatan 19 Maret 1710 M. Anak pertama dari keluarga muslim yang taat beragama , yaitu Abdullah dan Siti Aminah. Sejak masa kecilnya Allah SWT telah menampakkan kelebihan pada dirinya yang membedakannya dengan kawan sebayanya. Dimana dia sangat patuh dan ta’zim kepada kedua orang tuanya, serta jujur dan santun dalam pergaulan bersama teman-temannya. Allah SWT juga menganugrahkan kepadanya kecerdasan berpikir serta bakat seni, khususnya di bidang lukis dan khat (kaligrafi).

Pada suatu hari, tatkala Sultan Kerajaan Banjar (Sultan Tahmidullah) mengadakan kunjungan ke kampung-kampung, dan sampailah ke kampung Lok Gabang alangkah terkesimanya Sang Sultan manakala melihat lukisan yang indah dan menawan hatinya. Maka ditanyakanlah siapa pelukisnya, maka dijawab orang bahwa Muhammad Arsyad lah sang pelukis. Mengetahui kecerdasan dan bakat sang pelukis, terbesitlah di hati sultan keinginan untuk mengasuh dan mendidik Muh. Arsyad kecil di istana yang ketika itu baru berusia ± 7 tahun.

Sultanpun mengutarakan goresan hatinya kepada kedua orang tua Muh. Arsyad. Pada mulanya Abdullah dan istrinya merasa enggan melepas anaknya yang tercinta. Tapi demi masa depan sang buah hati yang diharapkan menjadi anak yang berbakti kepada agama, negara dan orang tua, maka diterimalah tawaran sultan tersebut. Kepandaian Muh. Arsyad dalam membawa diri, sifatnya yang rendah hati, kesederhanaan hidup serta keluhuran budi pekertinya menjadikan segenap warga istana sayang dan hormat kepadanya. Bahkan sultanpun memperlakukannya seperti anak kandung sendiri.

Setelah dewasa beliau dikawinkan dengan seorang perempuan yang solehah bernama tuan “BAJUT”, seorang perempuan yang ta’at lagi berbakti pada suami sehingga terjalinlah hubungan saling pengertian dan hidup bahagia, seiring sejalan, seia sekata, bersama-sama meraih ridho Allah semata. Ketika istrinya mengandung anak yang pertama, terlintaslah di hati Muh. Arsyad suatu keinginan yang kuat untuk menuntut ilmu di tanah suci Mekkah. Maka disampaikannyalah hasrat hatinya kepada sang istri tercinta.

Meskipun dengan berat hati mengingat usia pernikahan mereka yang masih muda, akhirnya Siti Aminah mengamini niat suci sang suami dan mendukungnya dalam meraih cita-cita. Maka, setelah mendapat restu dari sultan berangkatlah Muh. Arsyad ke Tanah Suci mewujudkan cita-citanya.Deraian air mata dan untaian do’a mengiringi kepergiannya.

Di Tanah Suci, Muh. Arsyad mengaji kepada masyaikh terkemuka pada masa itu. Diantara guru beliau adalah Syekh ‘Athoillah bin Ahmad al Mishry, al Faqih Syekh Muhammad bin Sulaiman al Kurdi dan al ‘Arif Billah Syekh Muhammad bin Abd. Karim al Samman al Hasani al Madani.

Syekh yang disebutkan terakhir adalah guru Muh. Arsyad di bidang tasawuf, dimana di bawah bimbingannyalah Muh. Arsyad melakukan suluk dan khalwat, sehingga mendapat ijazah darinya dengan kedudukan sebagai khalifah.

Menurut riwayat, Khalifah al Sayyid Muhammad al Samman di Indonesia pada masa itu, hanya empat orang, yaitu Syekh Muh. Arsyad al Banjari, Syekh Abd. Shomad al Palembani (Palembang), Syekh Abd. Wahab Bugis dan Syekh Abd. Rahman Mesri (Betawi). Mereka berempat dikenal dengan “Empat Serangkai dari Tanah Jawi” yang sama-sama menuntut ilmu di al Haramain al Syarifain.

Setelah lebih kurang 35 tahun menuntut ilmu, timbullah kerinduan akan kampung halaman. Terbayang di pelupuk mata indahnya tepian mandi yang diarak barisan pepohonan aren yang menjulang. Terngiang kicauan burung pipit di pematang dan desiran angin membelai hijaunya rumput. Terkenang akan kesabaran dan ketegaran sang istri yang setia menanti tanpa tahu sampai kapan penentiannya akan berakhir. Pada Bulan Ramadhan 1186 H bertepatan 1772 M, sampailah Muh. Arsyad di kampung halamannya Martapura pusat Kerajaan Banjar pada masa itu.

Sultan Tamjidillah (Raja Banjar) menyambut kedatangan beliau dengan upacara adat kebesaran. Segenap rakyatpun mengelu-elukannya sebagai seorang ulama “Matahari Agama” yang cahayanya diharapkan menyinari seluruh Kerajaan Banjar. Aktivitas beliau sepulangnya dari Tanah Suci dicurahkan untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Baik kepada keluarga, kerabat ataupun masyarakat pada umumnya. Bahkan, sultanpun termasuk salah seorang muridnya sehingga jadilah dia raja yang ‘alim lagi wara’.

Dalam menyampaikan ilmunya Syekh Muh. Arsyad mempunyai beberapa metode, di mana antara satu dengan yang lain saling menunjang. Adapun metode-metode tersebut, yaitu:

Bil-hal
Keteladanan yang baik (uswatun hasanah)yang direfleksikan dalam tingkah-laku, gerak-gerik dan tutur-kata sehari-hari dan disaksikan secara langsung oleh murid-murid beliau.

Bil-lisan
Dengan mengadakan pengajaran dan pengajian yang bisa diikuti siapa saja, baik keluarga, kerabat, sahabat dan handai taulan.

Bil-kitabah
Menggunakan bakat yang beliau miliki di bidang tulis-menulis, sehingga lahirlah lewat ketajaman penanya kitab-kitab yang menjadi pegangan umat. Buah tangannya yang paling monumental adalah kitab Sabilal Muhtadin Littafaqquh Fiddin, yang kemasyhurannya sampai ke Malaysia, Brunei dan Pattani (Thailand selatan).

Setelah ± 40 tahun mengembangkan dan menyiarkan Islam di wilayah Kerajaan Banjar, akhirnya pada hari selasa, 6 Syawwal 1227 H (1812 M) Allah SWT memanggil Syekh Muh. Arsyad ke hadirat-Nya. Usia beliau 105 tahun dan dimakamkan di desa Kalampayan, sehingga beliau juga dikenal dengan sebutan Datuk Kalampayan.

//

//

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 260 other followers

%d bloggers like this: