Posts from the ‘Kisah’ Category

HABIB ABDURRAHMAN BIN ABDULLAH AL HABSYI, CIKINI, JAKARTA


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma soli ala Sayidina Muhammadin Wa Ala Ahli Bait  
Air yang tak diketahui asal muasal sumbernya itu tak lain merupakan kehendak Allah SWT untuk mensyiarkan dan mengkhabarkan kepada khalayak luas perihal keberadaan salah seorang kekasih-Nya di tempat itu.
HABIB ABDURRAHMAN BIN ABDULLAH AL HABSYI, CIKINI, JAKARTA

Tak sulit untuk mencari tahu ihwal HABIB ALI BIN ABDURRAHMAN AL HABSYI atau HABIB ALI kwitang. Nama besarnya termasyhur, sosoknya sangat dihormati, sejarah hidupnya tercatat diberbagai tulisan, makamnya terus didatangi peziarah dari seluruh pelosok, foto-fotonya pun terpampang di rumah – rumah para pecintanya. Masyarakat amat mengenal sosok Habib Ali lewat sepak terjang dakwahnya yang memunculkan pengaruh luas dimasanya,sementara keberkahan dakwahnya itupun masih terasa kuat hingga sekarang.

Bila Nama Habib Ali Kwitang adalah nama yang amat familiar, tidak demikian halnya dengan sosok ayah Habib Ali sendiri, yaitu Habib Abdurrahman. Nama Habib Abdurrahman, atau lengkapnya Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi, belakangan ini memang sering disebut-sebut dalam pemberitaan di berbagai media, baik cetak maupun elektronik, terkait dengan berita adanya rencana pemindahan makamnya yang berada dibilangan Cikini, Jakarta Pusat. Namun begitu, sejarah hidup Habib Abdurrahman tidak cukup banyak diketahui. Selain karena data sejarah hidupnya memang dapat dikatakan minim, ketokohan Habib Abdurrahman memang tidak termasyhur putranya sendiri.

Betapapun, bila mengingat sebuah pepatah yang berbunyi”buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. tentunya sosok ayah Habib Ali Kwitang ini adalah pribadi yang tak dapat dikesampingkan begitu saja. Ditengah minimnya data, tulisan tentang Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi (selanjutnya disebut Habib Abdurrahman Cikini) ini memang tidak banyak mengungkap sosok dan perjalanan hidupnya, tapi lebih mengetengahkan latar belakang keluarganya.

GENERASI PERTAMA 

Habib Abdurrahman Cikini lahir dari keluarga Al Habsyi pada cabang keluarga Al Hadi bin Ahmad Shahib Syi’ib. Ia generasi pertama dari garis keturunan keluarga yang terlahir di Nusantara atau generasi kedua yang telah menetap di negeri ini. Nasab lengkapnya adalah Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurrahman bin Husein bin Abdurrahman bin Al Hadi bin Ahmad Shahib Syi’ib bin Muhammad Al Ashghar bin Alwi bin Abubakar Al Habsyi.

Sebuah sumber tulisan memang menyebutkan bahwa kakeknya yang bernama Muhammad bin Husein adalah yang pertama kali datang dari Hadhramaut menetap di Pontianak, dan kemudian menikah dengan seorang putri dari keluarga kesultanan pontianak. Atau itu artinya, Habib Abdurrahman Cikini adalah generasi kedua yang terlahir di Nusantara atau Generasi ketiga yang sudah menetap disini. Tulisan lainnya bahkan ada yang menyebutkan bahwa kakeknya itu ikut mendirikan kesultanan Hasyimiyah Pontianak bersama keluarga Al Qadri. Berdasarkan penelusuran data-data yang dilakukan, tampaknya data – data yang dilakukan, tampaknya terdapat distorsi informasi seputar hal itu.

Dalam catatan pada kitab rujukan nasab alawiyyin susunan Habib Ali bin Ja’far Assegaf ditulsikan, berdasarkan keterangan Habib Ali Kwitang yang mendapat informasi dari Habib Alwi (tinggal di Surabaya, mindhol sepupu dua kali Habib Ali Kwitang)bin Abdul Qadir bin Ali bin Muhammad bin Husein Al Habsyi, disebutkan, Habib Muhammad bin Husein wafat di Tarbeh, Hadhramaut. Kitab Habib Ali bin Ja’far juga menuliskan dengan jelas bahwa Habib Abdullah (Ayah Habib Abdurrahman Cikini)adalah seorang wulaiti,atau kelahiran Hadhramut,tepatnya di tarbeh, berdasarkan berbagai keterangan diatas, jelaslah Habib Abdurrahman Cikini adalah generasi pertama dari garis keturunan keluarganya yang dilahirkan di Nusantara.

Sementara itu informasi yang menyebutkan bahwa Habib Muhammad bin Husein ikut mendirikan Kesultanan Al Kadriyah Al Hasyimiyah di Pontianak jelas tidak tepat, baik dari sisi sejarah berdirinya kesultanan Pontianak sendiri maupun dari fakta historis bahwa Habib Muhammad wafat di Tarbeh. Hingga kini pun tak didapat keterangan bahwa Habib Muhammad sempat menginjakkan kaki di Nusantara.

HUBUNGAN DENGAN PONTIANAK
Dengan menganalisis masa hidup dan lokasi wafatnya tokoh-tokoh tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang datang pertama kali ke Nusantara adalah putra Habib Muhammad Al Habsyi, yaitu Habib Abdullah Al Habsyi, Ayah Habib Abdurrahman cikini. Sedangkan berdasarkan tahun berkuasanya para sultan pontianak yang kemudian disesuaikan dengan fakta tahun 1969 sebagai tahun kelahiran Habib Ali Kwitang (yang disebutkan setidaknya terlahir setelah 10 tahun pernikahan orang tuanya), kemungkinan besar Habib Abdullah datang ke Pontianak dimasa pemerintahan Sultan Syarif Utsman Al Qadri (berkuasa dari tahun 1819 hingga 1855M).

Sultan Syarif Utsman Al Qadri adalah sultan Pontianak yang ketiga. ia putra Sultan Syarif Abdurrahman Al Qadri, pendiri kota dan Kesultanan Pontianak,atau Sultan Pontianak yang pertama. Adapun Sultan Syarif Qasim Al Qadri, Kakak Sultan Syarif Utsman Al Qadri.

Sedangkan adanya keterangan yang menyiratkan pertalian hubungan pernikahan antara Habib Muhammad dan Keluarga Kesultanan Pontianak, sebenarnya, bukan pada pribadi Habib Muhammad atau Habib Abdullah, melainkan pada Saudara Habib Abdurrahman Cikini, Yaitu Habib Alwi, yang menikahi Syarifah Zahra binti Pangeran Abdurrahman bin Pangeran Hamid (Dimakamkan di Masjid Rawa Angke, Jakarta)bin Sultan Syarif Abdurrahman Al Qadri, dan beroleh putra Ahmad dan Ali.

Bukan hanya dengan kerabat Kesultanan Pontianak, dengan kesultanan Kubu, Kalimantan Barat, pun hubungan kekerabatan terjalin, saat Habib Alwi juga menikahi Syarifah Nur Putri Sultan Abdurrahman Alaydrus, Sultan Kubu yang ketiga. Dari Pernikahannya ini, Habib Alwi mendapat putra Abdullah dan Abdurrahman. Adapun anak keturunan Habib Alwi yang ada di Trengganu, lewat putranya yang bernama Ahmad, adalah dari istrinya Syarifah Fathimah binti Ahmad Alaydrus.

Habib Alwi bin Abdullah Al-Habsyi tersebut bersama kelima saudaranya (Umar, Husein, Shalih, Alwiyah, dan Nur) adalah Putra – Putri Habib Abdullah dari Ibu yang berasal dari keturunan Bansir. Habib Alwi, yang kemudian wafat di Makkah, hingga sekarang memiliki anak keturunan tersebar, diantaranya, di Pontianak dan di Trengganu, Malaysia. Adapun Umar, Husein,Shalih, keturunannya tak berlanjut.

Mengenai nama Bansir, yang berasal dari kata Ba Nashir, itu adalah nama sebuah fam dari satu keluarga masyayikh Hadhramaut yang kemudian hijrah ke Pontianak. karena sudah membaur sedemikan lama, nama Bansir akhirnya menjadi nama kampung disana, sehingga bernama Kampung Bansir. Anggota keluarga Bansir yang pertama kali memasuki kampung itu adalah Syaikh Umar bin Ahmad (w.Senin, 19 Jumadil Akhirah 1227 H/Oktober 1773M, dan yang kemudian dikenal sebagai tokoh yang membuka Kampung Bansir tersebut adalah Putranya, Syaikh Ahmad bin Umar Bansir. Habib Abdullah sendiri kemudian menikahi putri syaikh ahmad yang bernama Aisyah. Dari Syaikhah Aisyah inilah keenam Saudara Habib Abdurrahman Cikini (dari lain ibu) dilahirkan.

BUKAN “MBAH ALI KWITANG”
Selain pernah menetap di Pontianak, Habib Abdullah, yang semasa hidupnya memiliki aktivitas perdagangan antar pulau, juga pernah menetap disemarang. Tak diketahui dengan pasti di negeri mana di Nusantara ini ia menetap terlebih dahulu, apakah di Pontianak ataukah di Semarang. Atau, boleh jadi pula di Negeri lainnya, karena tak ada keterangan yang memastikan hal tersebut. Namun dari keterangan yang disebutkan Buku Sumur Yang Tak Pernah Kering bahwa ia menikah pertama kali disemarang, mungkin saja ia tinggal pertama kali di kota itu. Sebuah Naskah juga menyebutkan, Ibu Habib Abdurrahma Cikini adalah seorang syarifah dari keluarga Assegaf di Semarang. Dan memang, Habib Abdurrahman Cikini sendiri diketahui sebagai Putra kelahiran semarang.

Habib Ali bin Ja’far Assegaf kemudian menuliskan, Habib Abdullah wafat di tengah lautan diantara Pontianak dan Sambas, dan diberi tambahan keterangan dengan kata-kata qutila zhulman, atau terbunuh secara zhalim, sementara pada catatan lainnya disebutkan. Ia Wafat di laut Kayong(daerah Sukadana, Kalimantan Barat) pada 1249 H, atau bertepatan dengan tahun 1833 M.

Keterangan yang disebutkan terakhir tampaknya lebih mendekati kebenaran, sebab wilayah Sukadana berseberangan langsung dengan kota Semarang di Pulau Jawa dan Kota Semarang merupakan kota kelahiran Habib Abdurrahman Cikini. Hal ini juga selaras dengan keterangan padaBuku Sumur yang Tak Pernah Kering bahwa Habib Abdullah wafat saat berlayar dari Pontianak ke Semarang. Pada Catatan itu juga disebutkan, ia wafat saat berperang dengan Lanun, sebutan orang Pontianak terhadap para perompak laut. Keterangan ini juga dapat menjadi penjelasan atas kata kata qutila zhulman yang disebutkan pada kitab Habib Ali bin Ja’far.

Satu hal yang jelas keliru dari penyebutan sosok Habib Abdurrahman Cikini adalah penyebutan namanya di banyak media saat ini yang menyebutkan dengan nama “MBAH ALI KWITANG”. Kekeliruan dalam rangkaian kata pada sebutan nama itu jelas amat fatal dan amat mengaburkan identitas dirinya.Istilah “MBAH” tidak dikenal dalam kata sapaan masyarakat Jakarta, Nama “ALI” bukan nama dirinya, melainkan nama putranya, dan makam Habib Abdurrahman terletak di CIkini, bukan di “KWITANG”.

Entah dari mana asal muasal penyebutan yang salah kaprah itu. Tampaknya, ketika satu pihak menyebutkannya dengan sebutan itu, pihak lain pun ikut ikutan menyebutkannya demikian. Maka kemudian jadilah sebutan itu sebagai sebuah kekeliruan berantai yang terus berlanjut dan seakan lebih populer dari identitas nama Habib Abdurrahman CIkini yang sebenarnya. Pihak keluarga, penduduk sekitar,dan seluruh peziarah yang pernah menziarahi sedari dulu pun tak pernah mendengar Habib Abdurrahman Cikini disebut dengan sebutan seperti itu.

BERSAMA HABIB SYECH DAN RADEN SALEH
Diantara jejak – jejak sejarah kehidupan Habib Abdurrahman Cikini yang didapat dari dari sejumlah sumber tertulis adalah bahwa ia sahabat Habib Syech bin Ahmad Bafaqih,Botoputih, Surabaya. Hal tersebut diantaranya dicatat dalam catatan kaki Ustadz Dhiya’ Shihab pada Kitab Syams azh Zhahirah. Begitu pula L.W.C Van Den Berg dalam bukunya Le Hadhramout Et.Les Colonies Arabes menyebutkan bahwa Habib Syech pernah menetap di Batavia selama kurang lebih 10 tahun. Selama menetap di Batavia itulah tampaknya persahabatan diantara keduanya terbangun erat.

Dikisahkan, setelah lama tak mendapatkan putra, istri Habib Abdurrahman, seorang wanita asli Jakarta dari wilayah Jatinegara, Nyai Salmah, suatu malam bermimpi. Dalam mimpinya tersebut, Nyai Salmah menggali sumur, dan tiba- tiba dari dalam sumur itu keluarlah air yang melimpah tuah hingga membanjiri area tanah sekelilingnya

Mimpi itu kemudian disampaikannya kepada suaminya. Sang suami pun segera menemui Habib Syech bin Ahmad Bafaqih untuk menanyakan perihal mimpi itu. Habib Syech kemudian menjelaskan, mimpi itu merupakan isyarat bahwa pasangan Habib Abdurrahman dan Nyai Salmah akan mendapatkan seorang putra yang shalih ilmunya melimpah ruah keberkahannya. Tidak seberapa lama, Nyai Salmah pun mengandung. Ahad 20 Jumadil Ula 1286 H atau bertepatan dengan 20 April 1869 M, Terlahirlah seorang putra yang ia beri nama “Ali”.

Semua orang pun kemudian menyaksikan kebenaran ucapan Habib Syech. Putra pasangan shalih dan shalihah itu, yaitu Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi, dikemudian hari menjadi seorang shalih dan alim yang banyak menebar manfaat dan kemaslahatan bagi umat di masa hidupnya, bahkan setelah wafatnya.

Habib Abdurrahman Cikini juga mempunyai seorang putra lainnya, Habib AbduL Qadir. Lewat putranya ini Habib Abdurrahman Cikini menjalin pertalian kekeluargaan dengan Habib Utsman bin Yahya, melalui hubungan pernikahan antara Habib Abdul Qadir dan salah seorang putri sang Mufti Betawi.

Dari kedua putranya itu, hanya dari Habib Ali Nasab keturunannya berlanjut, karena Habib Abdul Qadir hanya memiliki tiga orang putri dan tidak berputra. Tahun 1296H/ 1881 M, Habib Abdurrahman Cikini wafat. Saat itu, Habib Ali masih amat belia, yaitu baru berusia 12 tahun. Sebelum wafat, ia sempat berwasiat kepada istrinya agar putranya (Habib Ali) disekolahkan ke Hadhramaut dan Makkah. Wasiat tersebut dilaksanakan oleh Nyai Salmah dengan sepenuh hati dan sepenuh keyakinan akan adanya kebaikan di balik itu semua.

Nyai Salmah, yang bukan tergolong orang berada, demi mewujudkan harapan almarhum suaminya, kemudian menjual gelang, yang merupakan satu-satunya perhiasan yang dimilikinya, untuk biaya perjalanan Habib Ali ke Hadhramaut. Demikian sekilas persinggungan perjalanan hidup Habib Abdurrahman Cikini dengan sahabatnya, Habib Syech bin Ahmad Bafaqih Surabaya, yang tahun wafatnya hanya berselang dua tahun setelah wafatnya Habib Abdurrahman Cikini. Makamnya, di Botoputih, Surabaya, hingga saat ini terus didatangi para peziarah dari berbagai pelosok daerah.

Selain dengan Habib Syech bin Ahmad Bafaqih, Habib Abdurrahman CIkini juga bersahabat dengan Raden Saleh, seorang pelukis termasyhur. Kedekatannya dengan Raden Saleh bukan hal yang aneh. Disamping sama-sama kelhiran semarang. Raden Saleh wafat satu tahun lebih dulu dari wafatnya Habib Abdurrahman Cikini dan kemudian dimakamkan di daerah Bogor, Jawa Barat.

MENGAWAL AQIDAH UMAT
Dikemudian hari, sebagaimana di sebutkan dalam SUMUR YANG TAK PERNAH KERING,Habib Abdurrahman Cikini juga menjalin hubungan kekeluargaan dengan Raden Saleh dengan menjadi iparnya. Namun dari pernikahannya dengan salah satu saudara perempuan Raden Saleh ini. Habib Abdurrahman Cikini tak beroleh keturunan.

Ditanah pekarangan rumah sahabatnya inilah, yang berada didaerah cikini, Jasad Mulia Habib Abdurrahman dikebumikan. Meski kepemilikan tanah tersebut telah pindah tangan beberapa kali, keberadaan Makamnya tetap dilestarikan. Diatas makamnya tersebut bahkan kemudian didirikan sebuah bangunan sederhana yang dimaksudkan sebagai qubah makamnya. Meski tak seramai makam putranya sendiri, dari waktu ke waktu makamnya kerap diziarahi orang.

Sejarah memang tak meninggalkan catatan yang cukup memadai untuk memaparkan lebih jauh ihwal sosok dan sejarah hidup Habib Abdurrahman Cikini. Namun demikian, makamnya, yang sejak dulu terus diziarahi, kedekatannya dengan orang seperti Habib Syech bin Ahmad Bafaqih Botoputih, Surabaya, perhatiannya yang mendalam terhadapa masa depan putranya, yaitu Habib Ali, terutama dalam hal bekal keilmuan,serta jalinan kekeluargaan yang ia miliki, cukup menjadi indikasi bahwa ia sosok yang shalih yang memiliki perhatian mendalam pada ilmu-ilmu agama dan memiliki kedudukan terpandang dimasanya.

Hingga beberapa waktu yang lalu, masyarakat dikejutkan oleh berita diberbagai media perihal rencana pemindahan makam Habib Abdurrahman Cikini. Tak ayal, pro dan kontrapun mencuat kepermukaan.Menyusul mencuatnya berita rencana pemindahan makamnya, keluar pula dengan begitu derasnya air jernih dari sekitar makamnya.

Masyarakat pun berduyun – duyun mendatangi makam tersebut. tak sedikit diantara mereka yang mendatanginya untuk keperluan mengambil air tersebut. Terlepas benar atau tidak, mereka yang meyakini bahwa air itu memiliki khasiat yang istimewa terus berdatangan siang dan malam. Beberapa hari setelah diturunkannya tulisan ini,kabarnya, berdasarkan pembicaraan bersama pihak keluarga ahli waris Habib Abdurrahman Cikini, rencana pemindahan Makam pun urung dilakukan.

Umat tentu bersuka cita mendengar kabar tersebut. Pemindahan makam memang bukan hal yang mustahil dan bukan pula diharamkan secara mutlak, namun demikian dibutuhkan beberapa persyaratan ketat yang harus terpenuhi.Betapapun, demi kemaslahatan bersama, segala sesuatunya memang dapat dibicarakan lewat jalan musyawarah demi tercapainya mufakat. Mengenai air yang keluar dari sekitar makam Habib Abdurrahman Cikini, pengawalan atas aqidah umat mutlak diperlukan, agar mereka tak keliru dalam memandang keberadaan air tersebut, sementara pihak menilai, air yang tak dikethui asal muasal sumbernya itu tak lain merupakan kehendak Allah SWT untuk mensyiarkan dan menkhabarkan kepada khalayak luas perihal keberadaan seorang kekasihNya di tempat itu.
Dikutip dari : MAJALAH ALKISAH

Sayyid Ahmad Siddiq al-Ghumari


Bismillahir Rahmair Rahiim

Beliau ialah al Hafiz al ‘Allamah al Imam al Mujtahid al Muhaqqiq al Mudaqqiq Abul Faidh Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Siddiq bin Ahmad bin Muhammad bin al-Qasim bin Muhammad bin Muhammad bin Abdul Mukmin bin Ali bin al Hasan bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdullah bin Isa bin Sa’id bin Mas’ud bin al Fudhoil bin Ali bin Umar bin al ‘Arabi bin ‘Allal (Ali menurut bahasa Maghribi) bin Musa bin Ahmad bin Daud bin Maulana Idris al Asghor bin Maulana Idris al Akbar bin Abdullah al Kamil bin al Hasan al Muthanna bin Imam al Hasan al Mujtaba bin Amirul Mukminin Sayyiduna Ali dan Sayyidah Fatimah al Zahra’ binti Sayyiduna Muhammad Rasulullah s.a.w. Sayyid Ahmad al Ghumari menyebut susunan garis keturunan ini dalam kitab yang berjudul al Tasawwur wat Tasdiq bi Akhbar Syeikh Sayyid Muhammad al Siddiq dengan berkata: Adapun uraian keturunan ini, ia merupakan perkara tetap yang dibuktikan melalui jalan kesaksian, kemasyhuran dan mutawatir di kalangan orang ramai seperti mana yang termaktub di dalam sijil-sijil pernikahan, jual beli dan pemberian yang dilaburkan buat kawasan pemakaman nenek moyang kami serta sumber-sumber lain yang menyebut tentang perkara ini dari kurun kesepuluh Hijrah sehingga sekarang.

Kelahiran

Dilahirkan di desa Bani Sa’ad, wilayah Ghumarah, utara Maghrib Aqso, Morocco pada hari Jumaat, 27 Ramadhan 1320 Hijrah (1902). Selepas 2 hari kelahiran beliau, ayahandanya membawa beliau pulang ke wilayah Tonjah (Tangiers).

Latar belakang keluarga

Sayyid Ahmad al Ghumari merupakan anak sulung daripada 7 orang adik beradik. Bukan sekadar sulung daripada sudut susunan keluarga, bahkan sulung daripada sudut keilmuan sehingga adik-adiknya berguru dengan beliau. Bahkan adik-adik beliau akan membentangkan setiap karya mereka kepadanya untuk disemak, diedit dan dikomentar. Ayahanda beliau, Sayyid Muhammad Siddiq al Ghumari merupakan tokoh ulama’ yang hebat sehingga menjadi rujukan para ulama’ dari seluruh Morocco. Beliau juga merupakan pengasas Madrasah Siddiqiyyah yang menjadi gedung penyumbang para ulama’ di dunia umumnya dan Morocco khasnya. Datuk beliau sebelah ibu, Sayyid Ibnu ‘Ajibah al Hasani merupakan seorang ulama’ yang tidak asing lagi. Beliau merupakan penulis kitab tafsir al-Quran yang berjudul Bahrul Madid fi Tafsir al-Quran al Majid dan kitab tasawwuf yang berjudul Iqozul Himam yang merupakan uraian terhadap kitab Hikam Ibnu ‘Atoillah karangan Imam al ‘Allamah al Faqih Sayyid Ahmad bin ‘Atoillah al Sakandari. Adik-adik beliau, Sayyid Abdullah, Sayyid Abdul Aziz, Sayyid Abdul Hayy, Sayyid al Hasan, Sayyid Ibrahim dan Sayyid Muhammad Zamzami merupakan tokoh-tokoh muhaqqiqin. Di kalangan mereka ada yang mencapai martabat al Hafiz dalam bidang hadith. Begitu juga di kalangan mereka terdapat pakar-pakar yang menjadi rujukan dalam bidang Tafsir, Fiqh, Usul Fiqh, Bahasa Arab, Tasawwuf dan bidang ilmu yang lain. Namun keluarga al Ghumari merupakan keluarga ulama’ yang menonjol dalam bidang Hadith serta keluarga yang melahirkan tokoh-tokoh ulama’ yang mencapai taraf Mujtahid.

Latar belakang pendidikan

Sayyid Ahmad al Ghumari memulakan pendidikan seawal usia lima tahun. Ayahandanya memasukkan beliau ke pondok dengan tujuan untuk menghafal al-Quran. Di samping itu, beliau turut menghafal beberapa matan ilmu seperti Muqaddimah al-Ajurumiyyah dan lain-lain lagi. Setelah itu, beliau mula menumpukan perhatian terhadap subjek-subjek yang lain seperti Nahu, Sorf, Fiqh Maliki, Tauhid dan Hadith. Ayahandanya begitu mengambil berat tentang pendidikan beliau di mana ayahandanya memberi galakan supaya beliau bersungguh-sungguh dan berpenat lelah dalam menuntut ilmu. Ketika mana ayahandanya memerintahkan para pelajar Madrasah Siddiqiyyah supaya menghafal al-Quran, lantas beliau mengarang sebuah kitab yang berjudul Riyadh al Tanzih fi Fadhoil al Quran wa Hamilih untuk menjelaskan tentang kelebihan-kelebihan al Quran dan golongan yang menghafalnya. Perkara ini beliau lakukan ketika masih lagi berusia belasan tahun. Dalam tempoh ini juga, beliau cenderung untuk mempelajari ilmu Hadith dan bergelumang dengan perkara-perkara yang berkaitan dengannya lantas beliau mula membaca dan mengkaji kitab-kitab Hadith khususnya kitab al Targhib wa al Tarhib dan kitab al Jami’ al Soghir berserta huraiannya yang berjudul al Taisir. Ketika berusia 20 tahun, dengan perintah ayahandanya beliau pun merantau ke Mesir untuk melanjutkan pengajian di al Azhar al Syarif. Di Mesir, beliau menumpukan sepenuh perhatian untuk mempelajari Fiqh Maliki dan Syafie. Antara subjek-subjek yang beliau pelajari: 1) Nahu: Matan al Ajurumiyyah berserta huraiannya yang bertajuk Syarah al Kafrowi. Beliau turut mempelajari matan Alfiyyah Ibnu Malik berserta huraiannya yang berjudul Syarah Ibnu ‘Aqil dan Syarah al Asymuni. 2) Tauhid: Kitab Jauharah al Tauhid. 3) Fiqh: Kitab al Tahrir karangan Syeikhul Islam Zakaria al Ansori dalam Fiqh Syafie dan kitab Syarah al Hidayah dalam Fiqh Hanafi. 4) Hadith: Sohih al Bukhari, al Adab al Mufrad, Musnad al Imam al Syafie, Musalsal Awwaliyyah dan Musalsal Yaum ‘Asyura. 5) Usul Fiqh: Kitab Minhaj al Usul ila ‘Ilmi al Usul berserta huraiannya yang berjudul Nihayah al Sul. Dan beberapa subjek lagi yang merangkumi pelbagai bidang ilmu sama ada ilmu-ilmu berbentuk naqliyyah mahu pun ‘aqliyyah. Sayyid Ahmad al Ghumari merupakan seorang pelajar yang pintar dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu sehingga kepintaran dan kesungguhan beliau menimbulkan kekaguman para gurunya. Ini kerana beliau berjaya menghabiskan subjek-subjek tersebut dalam masa yang singkat.

Guru-guru beliau

Sayyid Ahmad al Ghumari memiliki guru yang ramai dari beberapa buah negara Islam seperti Mesir, Halab, Damsyik dan Sudan. Beliau menyebut nama-nama mereka secara khusus di dalam kitab yang berjudul al Bahsul ‘Amiiq fi Marwiyyat Ibni al Siddiq. Di antaranya ialah:

1) Ayahanda beliau sendiri al Imam al ‘Allamah Sayyid Muhammad bin Siddiq al Ghumari al Idrisi al Hasani.

2) Syeikh al ‘Arabi bin Ahmad Bu Durrah, murid ayahandanya.

3) Al ‘Allamah al Muhaddith Sayyid Muhammad bin Ja’afar al Kittani.

4) Al ‘Allamah Syeikh Muhammad Imam bin Ibrahim al Saqa al Syafie.

5) Al ‘Allamah al Faqih al Usuli al Mufassir Syeikh Muhammad Bakhit al Muti’e, mufti Kerajaan Mesir.

6) Al ‘Allamah Muhaddith al Haramain Syeikh Umar Hamdan al Mahrasi dan lain-lain lagi.

Bergelumang dengan ilmu Hadith

Setelah menamatkan pengajian, beliau mula menumpukan sepenuh perhatian untuk mengkaji bidang Hadith secara riwayat dan dirayah. Lantas beliau mengurung dirinya di rumah dengan tujuan untuk mengkaji hadith dengan lebih mendalam dan teliti. Beliau tidak keluar dari rumahnya melainkan untuk menunaikan sembahyang lima waktu dan tidak tidur pada waktu malam kecuali seketika selepas menunaikan sembahyang sunat Dhuha. Beliau berterusan dalam keadaan sebegini sehingga 2 tahun lamanya. Dalam tempoh ini, beliau menghafal hadith, mengkaji dan mentakhrijnya. Apabila tamat tempoh ini, beliau merantau pula ke Damsyik bersama-sama ayahandanya dan terus pulang ke Morocco. Beliau menetap selama lebih kurang empat tahun di Morocco. Dalam tempoh ini, beliau meneruskan kesungguhan dalam mengkaji ilmu Hadith di samping menghafal, mentakhrij, menulis dan mengajar. Dalam tempoh ini juga, beliau mula mengajar kitab Nailul Autor dan al Syamail al Muhammadiyyah yang mana kedua-duanya merupakan kitab hadith. Setelah itu, beliau kembali merantau ke Mesir bersama dua orang adiknya Sayyid Abdullah dan Sayyid Muhammad Zamzami. Di Mesir, beliau menjadi tempat rujukan para ulama’ walaupun beliau masih lagi berusia muda. Di samping menulis, beliau diminta untuk membacakan kitab Fathul Bari dan Muqaddimah Ibnu Solah. Beliau turut mengadakan majlis imla’ yang bertempat di Masjid Imam Husain dan Masjid al Kokhya. Pada tahun 1354 (1936), beliau pulang ke Morocco disebabkan kewafatan ayahandanya. Lantas beliau mengambil alih tempat ayahandanya bagi meneruskan kelangsungan Madrasah Siddiqiyyah. Maka beliau mula mengajar kitab-kitab yang berkaitan dengan ilmu Hadith dan mengadakan majlis-majlis imla’. Sayyid Ahmad al Ghumari sering menyeru orang ramai agar kembali berpegang dengan Sunnah Nabawiyyah dan beliau menentang dengan keras sebarang peniruan dan penyeruan serta ikutan terhadap golongan kafir lebih-lebih lagi Morocco ketika itu telah mula dimasuki pengaruh Eropah yang membawa unsur-unsur yang negatif.

Seorang mujahid

Sayyid Ahmad al Ghumari bukan saja terkenal sebagai seorang ilmuwan dan tokoh dalam bidang hadith bahkan beliau adalah seorang tokoh mujahid yang berjuang bermati-matian menentang penjajah dan penjajahan. Lantas kerana itu, beliau telah dipenjara selama beberapa tahun. Setelah dibebaskan dari penjara, beliau berterusan dikenakan tekanan oleh pihak penjajah sehingga akhirnya beliau memutuskan untuk merantau meninggalkan Morocco dan memilih untuk menetap di Mesir sehingga ke akhir hayat.

Karya-karya

Sayyid Ahmad al Ghumari merupakan seorang ulama’ yang banyak menulis sehingga diberi gelaran sebagai ‘al Suyuti pada zamannya’. Karangan beliau mencecah sebanyak 169 buah. Beliau menulis dalam pelbagai bidang ilmu seperti ‘Aqidah, Fiqh, Tafsir, Hadith, Tasawwuf, Sejarah, Biografi dan sebagainya. Karya-karya beliau ada yang telah dicetak dan ada yang masih dalam bentuk tulisan tangan. Antara karya-karya beliau:

1) Ibraz al Wahm al Maknun min Kalam Ibni Khaldun.

2) Ithaf al Adib bima fi Ta’liq ‘Ilam al Arib.

3) Ithaf al Huffaz al Maharah bi Asanid al Usul al ‘Asyarah.

4) Al Ajwibah al Sorifah ‘an Isykal Hadith al Toifah.

5) Ihya’ al Maqbur bi Adillah Bina’ al Masajid wal Qubab ‘ala al Qubur.

6) Azhaar al Raudhatain fiman yu’ta Ajrahu Marratain.

7) Al Azhar al Mutakathifah fil Alfaz al Mutaradifah.

8)Al Isti’azah wal Hasbalah mimman Sohhaha Hadith al Basmalah.

9) Al Isti’adhoh bi Hadith Wudhu’ al Mustahadhah.

10) Al Istinfar li Ghazwi al Tasyabbuh bil Kuffar.

11) Al Asrar al ‘Ajibah fi Syarh Azkar Ibn ‘Ajibah.

12) Al Ifdhol wal Minnah bi Ru’yah al Nisa’ Lillah fil Jannah.

13) Iqomah al Dalil ‘ala Hurmah al Tamsil.

14) Al Iqlid bi Tanzil Kitabillah ‘ala Ahli al Taqlid.

15) Al Iqna’ bi Sihhah al Solah Khalfa al Mizya’ dan lain-lain lagi.

Karya-karya Sayyid Ahmad al Ghumari merupakan himpunan karya yang bermutu tinggi. Di dalamnya terhimpun dalil-dalil, hujah-hujah, fakta-fakta serta keterangan-keterangan yang membuktikan keluasan ilmu beliau di dalam pelbagai lapangan ilmu ditambah dengan beberapa pandangan yang dilontarkan hasil ijtihad beliau sendiri. Ini merupakan suatu perkara yang tidak mustahil kerana beliau sendiri telah mencapai taraf mujtahid. Dikatakan beliau mula berijtihad setelah berjaya membaca 7 buah kitab dalam pelbagai mazhab yang mana kitab-kitab tersebut ada yang mencecah berjilid-jilid banyaknya. Ini merupakan suatu perkara yang mengkagumkan!

Kewafatan

Setelah pulang dari Sudan, beliau ditimpa sakit teruk yang berterusan. Akhirnya pada hari Ahad, awal bulan Jamadil Akhir 1380 (1962) beliau menghembuskan nafas terakhir dalam usia 60 tahun. Jenazah beliau disemadikan di Kaherah, Mesir. Semoga Allah merahmati Sayyid Ahmad al Ghumari serta membalas jasa-jasa beliau dalam mempertahankan Sunnah Nabawiyyah dengan sebaik-baik pembalasan. Amin.

Tawassul Nabi Nuh Kepada Rasulullah Muhammad Saw


Bismillahir rahmanir rahiim

Pada bulan Juli 1951 sebuah tim yang terdiri
dari ahli-ahli Rusia melakukan penelitian terhadap
Lembah Kaat. Sepertinya mereka tertarik untuk menemukan
sebuah tambang baru di daerah tersebut.
Dalam penelitiannya mereka menemukan beberapa
potong kayu di daerah tersebut berserakan.

Mereka kemudian mulai menggali tempat tersebut
dengan tujuan untuk menemukan sesuatu yang berharga.
Tetapi alangkah terkejutnya mereka ketika menemukan
kumpulan potongan-potongan kayu tertimbun di situ.
Salah seorang ahli yang ikut serta memperkirakan,
setelah meneliti beberapa lapisanya, bahwa kayu-kayu
tersebut bukanlah kayu yang biasa, dan menyimpan rahasia
yang sangat besar di dalamnya.
Mereka mengekskavasi tempat tersebut dengan penuh keingintahuan.
Mereka menemukan cukup banyak potongan-potongan
kayu di daerah penggalian tersebut, dan
di samping itu mereka juga menemukan hal-hal
lain yang sangat menarik. Mereka juga menemukan
sepotong kayu panjang yang berbentuk persegi.
Mereka sangatlah terkejut setelah mendapati
bahwa potongan kayu yang berukuran 14 X 10 inchi
tersebut ternyata kondisinya jauh lebih baik
dibandingkan potongan-potongan kayu yang lain.
Setelah waktu penelitian yang memakan waktu yang
cukup lama, hingga akhir tahun 1952, mereka
mengambil kesimpulan bahwa potongan kayu tersebut
merupakan potongan dari bahtera Nabi Nuh a.s.
yang terdampar di puncak Gunung Calff (Judy).
Dan potongan (pelat) kayu tersebut,
di mana terdapat beberapa ukiran dari
huruf kuno, merupakan bagian dari bahtera tersebut.
Setelah terbukti bahwa potongan kayu
tersebut merupakan potongan kayu dari
bahtera Nabi Nuh a.s., timbullah pertanyaan
tentang kalimat apakah yang tertera di
potongan kayu tersebut. Sebuah dewan yang
terdiri dari kalangan pakar dibentuk oleh
Pemerintah Rusia di bawah Departemen Riset
mereka untuk mencaritahu makna dari tulisan
tersebut. Dewan tersebut memulai kerjanya pada
tanggal 27 Februari 1953.
Berikut adalah nama-nama dari anggota dewan tersebut:
1. Prof. Solomon, Universitas Moskow
2. Prof. Ifa Han Kheeno, Lu Lu Han College , China
3. Mr. Mishaou Lu Farug, Pakar fosil
4. Mr. Taumol Goru, Pengajar Cafezud College
5. Prof. De Pakan, Institut Lenin
6. Mr. M. Ahmad Colad, Asosiasi Riset Zitcomen
7. Mayor Cottor, Stalin College
Kemudian ketujuh orang pakar ini setelah
menghabiskan waktu selama delapan bulan
akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa
bahan kayu tersebut sama dengan bahan kayu
yang digunakan untuk membangun bahtera Nabi
Nuh a.s., dan bahwa Nabi Nuh a.s. telah meletakkan
pelat kayu tersebut di kapalnya demi keselamatan dari
bahtera tersebut dan untuk mendapatkan ridho Illahi.
Terletak di tengah-tengah dari pelat tersebut adalah
sebuah gambar yang berbentuk telapak tangan dimana juga terukir
beberapa kata dari bahasa Saamaani.
Mr. N.F. Max, Pakar Bahasa Kuno, dari Mancester, Inggris telah
menerjemahkan kalimat yang tertera di pelat tersebut menjadi:
“Ya Allah, penolongku! Jagalah tanganku dengan kebaikan dan bimbingan
dari dzatMu Yang Suci, yaitu Muhammad, Ali, Fatima, Shabbar dan Shabbir.
Karena mereka adalah yang teragung dan termulia.
Dunia ini diciptakan untuk mereka maka tolonglah aku demi nama mereka.”
Semuanya sangatlah terkejut setelah mengetahui arti
tulisan tersebut. Terutama yang membikin mereka
sangatlah bingung adalah kenapa pelat kayu tersebut
setelah lewat beberapa abad tetap dalam keadaan utuh dan tidak rusak sedikitpun.
Pelat kayu tersebut saat ini masih disimpan dengan
rapih di Pusat Penelitian Fosil Moskow di Rusia.
Jika anda sekalian mempunyai waktu untuk mengunjungi
Moskow, maka mampirlah di tempat tersebut, karena pelat
kayu tersebut akan menguatkan keyakinan anda terhadap kedudukan Ahlul Bayt a.s.
Terjemahan kalimat tersebut telah dipublikasikan antara lain di:
1. Weekly – Mirror, Inggris 28Desember 1953
2. Star of Britain , London , Manchester 23 Januari 1954
3. Manchester Sunlight, 23Januari 1954
4. London Weekly Mirror, 1Februari 1954
5. Bathraf Najaf , Iraq 2 Februari 1954
6. Al-Huda, Kairo 31 Maret 1954
7. Ellia – Light, Knowledge & Truth, Lahore 10 Juli 1969

Ibnu Kaldun


Bismillahir rahmanir rahiim

lbnu Khaldun seorang filsuf sejarah yg berbakat dan cendekiawan terbesar pada zamannya salah seorang pemikir terkermuka yg pemah dilahirkan. Sebelum Khaldun sejarah hanya berkisar pada pencatatan sederhana dari kejadian-kejadian tanpa ada pembedaan antara yg fakta dan hasil rekaan. Sebagai pendiri ilmu pengetahuan sosiologi lbn Khaldun secara khas membedakan cara memperlakukan sejarah sebagai ilmu serta memberikan alasan-alasan utk mendukung kejadian-kejadian yg nyata. Seorang kritikus Barat terkemuka mengatakan “Tak ada satu pun dalam perbendaharaan sastra Kristen dari masa Abad Pertengahan yg pantas disejajarkan dgn sejarahnya lbn Khaldun dan tak satu pun sejarawan Kristen yg menulis sebuah versi dgn begitu gamblang dan tepat mengenai negara Islam.” Nenek moyang lbn Khaldun mungkin berasal dari golongan Arab Yaman di Hadramaut tapi ia dilahirkan di Tunis pada tanggal 27 Mei 1332 M. Di situlah keluarganya menetap setelah pindah dari Spanyol Moor. Khaldun memiliki karier bermacam-macam pada masa mudanya. Secara aktif dia ambil bagian dalam kancah politik yg penuh intrik di kerajaan-kerajaan kecil di Afrika Utara. Secara bergantian dialaminya masa-masa menyenangkan atau pun celaka krn ulah penguasa dan ada saat-saat di mana terpaksa ia bersembunyi di Granada yg jauh. Semangat revolusionernya tumbuh krn kemuakan akan politik yg kotor pada masa-masa itu sehingga membuatnya mundur sebentar selama kurang lbh empat tahun di pinggiran Kota Tunis. Di tempat itu ia menyelesaikan Muqaddimah tahun 1377 M. Kemudian pindah ke Tunis utk menyelesaikan karyanya yg monumental Kitab al-l’bar dgn perolehan bahan-bahan dari perpustakaan kerajaan. Setelah menjalani hidup penuh petualangan di Afrika Utara pemikir besar ini kemudian berlayar ke negeri Mesir tahun 1382 M. Sebelum ia menginjakkan kaki di tanah Mesir ternyata karyanya sudah sampai terlebih dahulu di sana karenanya ia disambut meriah oleh kalangan sastrawan di Kairo. Tidak lama kemudian datang undangan utk berceramah di Masjid al-Azhar yg tersohor itu lalu diterima oleh Raja Mesir dan mengangkatnya sebagai Hakim Maliki. Tapi jabatan ini menimbulkan intrik dan persaingan di Istana sehingga terpaksa dilepaskan. Namun Raja mengangkatnya lagi sampai enam kali meskipun tiap kali ia harus tergeser. Di negerinya yg baru itu lbn Khaldun memperoleh kesempatan utk bertemu dgn Tamerlane setelah Syria diserbu dan diadakan perjanjian perdamaian dgn Raja Mesir. Timurlenk terkesan sekali akan kepandaian dari kefasihan lbn Khaldun tokoh yg naeninggal tahun 1406 M. lbn Khaldun telah memperoleh tempat tersendiri di antara para ahli filsafat sejarah. Sebelum dia sejarah hanyalah sekadar deretan peristiwa yg dicatat secara kasar tanpa membedakan mana yg fakta dan mana pula yg bukan fakta. lbn Khaldun sangat menonjol di antara sejarawan lainnya krn memperlakukan sejarah sebagai ilmu tidak hanya sebagai dongeng. Dia menulis sejarah dgn metodenya yg baru utk menerangkan memberi alasan dan mengembangkannya sebagai sebuah filsafat sosial. Ketika menerangkan tentang seni menulis sejarah lbn Khaldun berkata dalam bukunya Muqaddimah “Hanya dgn penelitian yg saksama dan penerapan yg terjaga baik kita bisa menemukan kebenaran serta menjaga diri kita sendiri dari kekhilafan dan kesalahan. Kenyataannya jikalau kita hanya ingin memuaskan diri kita dgn membuat reproduksi dari catatan yg diwariskan melalui adat isdadat atau tradisi tanpa mempertimbangkan aturan-aturan yg muncul krn pengalaman prinsip-prinsip yg mendasar dari seni memerintah alam kejadian-kejadian dan budaya di suatu tempat atau pun hal-hal yg membentuk ciri masyarakat jikalau kita tidak mau menimbang berbagai peristiwa yg terjadi jauh di masa lalu dgn perisdwa-peristiwa yg terjadi di depan mata kita; jikalau kita tidak mau membandingkan yg lalu dgn saat ini maka akan sulit bagi kita utk bisa menghindari kesalahan dan tersesat dari jalan kebenaran.” Sebagai pelopor sosiologi sejarah filsafat dan ekonomi politik karya-karyanya memiliki keaslian yg menakjubkan. “Kitab al-l’bar” termasuk al-Taarif adl buku sejarahnya yg monumental berisi Muqaddimah serta otobiografinya. Bukunya dibagi dalam tiga bagian. Bagian pertamanya terkenal dgn sebutan Mukaddimah. Bagian ini membicarakan perihal masyarakat asal-usulnya kedaulatan lahirnya kota-kota dan desa-desa perdagangan cara orang mencari nafkah dan ilmu pengetahuan. Bagian ini merupakan bagian yg terbaik dari bukunya di mana si penulis sampai pada puncak kreativitasnya meninjau subyek-subyek yg berbeda seperti ekonomi politik sosiologi dan sejarah secara orisinil dan memikat. Beberapa hal yg dibicarakan dalam Muqadimah juga dibicarakan oleh pendahulu-pendahulunya. Akan tetapi lbn Khaldun membicarakannya dgn bentuk-bentuk yg lbh logis buat teori-teorinya. Pernyataan Farabi mengenai asal-usul kota dan desa-desa hanya merupakan teori belaka sedangkan lbn Khaldun melihatnya dari sudut pandangan sosial. Menurut lbn Khaldun ilmu pengetahuan al-Umran atau sosiologi tidak pernah ada sebelumnya. Sosiologi hanya dibicarakan secara tidak mendalam dalam “Politik “-nya Aristoteles. Tulisan yg menarik dalam Mukadimah adl teori tentang al-Asabiyah yg membicarakan perihal keningratan serta pengaruh-pengaruh garis keturunan di antara suku-suku nomad . Bagian ketiga membicarakan negara dan kedaulatan serta merupakan isi terbaik dari buku ini. Dalam bagian ini si pengarang mengemukakan teori-teori politiknya yg maju yg mempengaruhi karya-karya para pemikir politik terkemuka sesudahnya seperti Machiavelli dan Vico. Karya Machiavelli Pangeran yg ditulis ketika masa pergolakan di Italia seratus tahun kemudian mirip sekali dgn Mukadimah. Dan mungkin sekali penulis Italia tersebut telah meminjam beberapa gagasan dari buku lbn Khaldun. Prof. Gumplowicz mengatakan “Pada tingkat apa pun prioritas haruslah diberikan pada ahli sosiologi Arab ini yakni yg berkenaan dgn pikiran yg diketengahkan Machiavelli kepada penguasa-penguasa dalam bukunya Pangeran seratus tahun kemudian. Colosia berkata “Jikalau orang Florence ini memberikan instruksi kepada kita mengenai seni memerintah rakyat dia melakukannya sebagai seorang politikus yg berpandangan jauh. Tetapi orang Tunisia itu mampu menembus ke dalam fenomena sosial sebagai filsuf dan ahli ekonomi yg dalam ilmunya. Inilah sebuah fakta yg mendorong kita utk melihat karya-karyanya sebagai seni yg berpandangan jauh dan kritis sesuatu yg sama sekali tidak pernah dikenal pada masa hidupnya itu.” Kesukaan lbn Khaldun utk selalu mengadakan penyelidikan itu diimbangi dgn bakatnya yg luar biasa. la menyimpulkan perihal “kualitas seorang penguasa” dgn kata-kata sebagai berikut “Penguasa itu ada utk kebaikan rakyatnya. Kebutuhan akan adanya penguasa itu timbul dari kenyataan bahwa manusia haruslah hidup bersama dan tanpa seorang yg menjaga ketertiban maka masyarakat akan pecah berantakan.” Bagian kedua Kitab-al-l’bar terdiri dari empat jilid yakni yg kedua ketiga keempat dan kelima membicarakan sejarah bangsa Arab dan orang-orang Muslim lainnya dan juga dinasti-dinasti pada masa itu termasuk dinasti-dinasti Syria Persia Seljuk Turki Yahudi Yunani Romawi dan Prancis. Karya sejarahnya yg sebenarnya mulai dari jilid kedua yg membicarakan orang-orang Yahudi Yunani Romawi dan Persia pada masa pra-lslam. Kedatangan Islam kehidupan Nabi dan sejarah Khalifah ar-Rasyidun ditulis pada suplemen khusus jilid kedua. Jilid ketiga membahas secara mendetail kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah. Yang keempat berisi sejarah kaum Fadmiyah di Mesir dan orang-orang Moor di Spanyol sampai pada masa kekuasaan Seljuk Perang Sabil dan sejarah dinasti Mamluk di Mesir sampai pada akhir abad ke-8 Hijriyah. Sumber-sumber yg dipakai dalarn jilid ini mungkin bisa dilacak sampai pada karya-karya sejarah lbn Hasham Mas’udi dan Tabari. Bagian ketiga Kitab-al-1′bar terdiri dari dua jilid yakni yg keenam dan ketujuh dgn jelas membicarakan sejarah bangsa Barbar dan suku-suku tetangganya serta berisi pula otobiografi si pengarang yg dinamakan Al-Taafi. Sejarah kaum Barbar menggambarkan secara terinci asal-usul mereka kebesaran kerajaan dan dinasti-dinasti di Afrika Utara. Dengan bekal pengetahuan yg diperoleh dari tangan pertama mengenai daerah tersebut serta penduduknya si pengarang telah berhasil membicarakan pokok-pokok telaahnya itu dgn begitu hebat. Pembicaraannya sangat tepat dan faktual. lbn Khaldun telah memperkcil kehebatan prestasi orang Arab baik dalam wilayah taklukannya maupun dalam ilmu pengetahuan. Di pihak lain dia besarkan “mutu” orang Barbar. Bagian keenam merupakan bagian terbesar dari jilid yg ketujuh membicarakan sejarah kaum Barbar. Kitab-al-l’bar ditutup dgn beberapa bab mengenai kehidupan si pengarang dan dikenal dgn nama al-Taarfi . Ada kutipan lain dari al-Taarfi yg tersimpan baik di Mesir. Kutipan ini menceritakan kejadian-kejadian dalam hidupnya sampai beberapa bulan sebelum ajalnya tiba. lbn Khaldun telah menerapkan suatu metode yg lbh ilmiah dalam penyusunan otobiografi terpisah dalam bab-bab tapi saling berhubungan satu sama lain. Sebelum dia otobiografi biasanya ditulis dalam bentuk buku harian berisi peristiwa-peristiwa yg tidak ada hubungannya satu sama lainnya. lbn Khaldun adl yg pertama kali menulis otobiografi yg panjang tetapi sistematik. Para pendahulunya seperti al-Khatib dan al-Suyuti menulis otobiografinya secara pendek bersifat formal dan hambar. Sedang milik lbn Khaldun merupakan sebuah pengakuan jujur mengenai perbuatan-perbuatan maupun kesalahan-kesalahan dari sebuah pribadi yg dinamik yg diketengahkan dgn bahasa yg amat menarik. Si pengarang telah menggambarkan kariernya dgn keterusterangan yg istimewa dan penuh kebebasan. Inilah yg menyebabkan mengapa otobiografinya menjadi karya paling menarik serta mengesankan. Kekhilafan moral bukanlah hal yg luar biasa dalam pribadi-pribadi yg besar dan krn itu jika dilihat prestasi mereka secara keseluruhan tidaklah berarti. Al-Taarif mungkin bisa dgn leluasa dibandingkan dgn otobiografinya Benvenutti Cellini seniman Italia terkernuka. Keduanya sama-sama terbuka. Baru pada abad ke-19 setelah buku-bukunya diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa Eropa baru memberi kemungkinan kepada orang Barat utk mengakui kebesaran sejarawan ini dan menghargai orisinalitas pikiran-pikirannya. Dr. Boer menulis “lbn Khaldun tak pelak lagi adl orang pertama yg mencoba menerangkan dgn lengkap evolusi dan kemajuan suatu kemasyarakatan dgn alasan adanya sebab-sebab dan faktor-faktor tertentu iklim alat produksi dan lain sebagainya serta akibat-akibatnya pada pembentukan cara berpikir manusianya dan pembentukan masyarakatnya. Dalam derap majunya peradaban dia mendapatkan keharmonisan yg terorganisasikan dalam dirinya sendiri.” Dengan demildan Barat yg di-”buka” sangatlah berutang budi pada orang Tunisia yg cendekia ini krn bimbingan yg diberikannya dalam bidang sosiologi itu. Juga ekonomi serta sejarah telah membuka jalan bagi perkembangan berikutnya dari ilmu-ilmu tersebut.

Perangko ibnu kaldun

Masjid Huai-Sheng China


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Bangunan unik nan megah, tempat bernuansa spiritual. Inilah dua hal yang dirasakan setiap pengunjung masjid ”Huai-Sheng” di China. Masjid ini satu-satunya peninggalan yang mengindikasikan bahwa Islam memiliki jejaknya di negeri ini semenjak awal.

Masjid yang terletakdi kota Guangzhow, Selatan China ini, sehari-hari menampug sejumlah besar umat Islam yang menunaikan shalat wajib.

Pada hari Jum’at, jumlah kaum muslimin asli China dan Asing yang shalat jum’at terhitung dua ribu (2000) jama’ah.

Arti nama masjid Huai-Sheng ini adalah “Masjid Rindu Nabi Muhammad”. Dinamakan demikian karena para pendatang Arab muslim yang datang di China rentang waktunya masih dekat dengan masa Nabi. Boleh jadi para pendatang Arab muslim itu masuk Islam pada zaman Nabi masih hidup, untuk mengobati rasa rindu mereka terhadap Nabi, maka masjid yang mereka dirikan diberi nama demikian.

Masjid ini sebagaimana masjid-masjid di China lainnya tidak hanya dibuka pada waktu shalat dan untuk mendengarkan ceramah saja. Bahkan masjid digunakan juga untuk prosesi akad nikah, mengurus jenazah, mendamaikan orang yang berseteru, menolong orang yang membutuhkan, merencanakan lomba olah raga antar umat Islam beragam kegiatan ini berjalan beriring.

Peninggalan Islam China Tertua

Tercatat bahwa masjid Huai-Sheng ini merupakan masjid pusat di Guangzhow. Masjid ini merupakan bangunan nuansa klasik yang menunjukkan tampilan yang indah dan unik. Di sekitar masjid ini terdapat tempat-tempat penjualan makanan, menjual makanan “Islami” seperti sayur-mayur dan daging. Kebanyakan orang Arab yang berdomisili di China membeli daging “Halal” di tempat ini.

Nilai masjid ini nampak dari keagungan sejarahnya dan kemegahan bangunannya dengan ciri khas bangunan Arab-China Menara bertingkat, tingginya 36 meter dari permukaan bumi… ia nampak cahaya yang membelah awan.

Dindingnya terdiri dari dua tingkatan, dalam dan luar. Menara memiliki jendela kecil, sebagai bagian dari fentilasi udara. Jika Anda naik sampai atas, Anda akan melihat kota Guangzhow seluruhnya.

Menara masjid khas Islami, meskipun usia pembangunannya telah sangat berumur, namun menara ini masih terlihat gemerlap dan megah.

Banyak sejarawan meyakini bahwa masjid ini adalah masjid tertua di China. Tercatat masjid Huai-Sheng di bangun pada masa keluarga Tsung (tahun 618-907M).

Masjid ini dibangun oleh komunitas Arab Islam yang datang di China pada tahun 627M.

Prasasti Bertuliskan Arab

Di masjid Huai-Sheng terdapat prasasti bertuliskan Arab, yang menunjukkan bahwa bangunan masjid itu didirikan oleh Sayyid Waqqash, ketika ia datang di China. Akan tetapi Waqqash yang diyakini umat Islam China ini bukanlah Sahabat Nabi yang mulya, karena dalam sejarah Arab sendiri tidak tercatat ada Sahabat Nabi yang berkunjung ke China.

China termasuk negara awal yang di datangi Islam. Lebih dari seribu tiga ratus tahun (1300) Islam tersebar di China sehingga Islam menjadi keyakinan yang menyatu dengan puluhan minoritas di China.

Tercatat lebih dari seribu tiga ratus tahun itu, umat Islam China dari berbagai komunitas telah membangun masjid besar dan kecil. Data statistik menunjukkan jumlah masjid di China sampai sekarang sebanyak tiga puluh ribu (30 000) masjid. Sebagian menunjukkan sejarahnya yang gemilang, sebagian memperlihatkan kemegahan arsiteknya.

Jumlah penduduk China adalah terbesar di dunia, ketika Islam memberi pengaruh di negeri tirai bambu ini dengan izin Allah, maka China akan menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan ke-Islamannya di dunia.

Meski saat ini sebagian besar muslim ‘taat’ adalah generasi berusia tua, kita do’akan semoga generasi mudanya segera menemukan kembali identitas ke-Islamanya. Amin Ya Rabbal Alamin

Habib Alwi bin Thahir Al-Haddad


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Jika berbicara tentang sesuatu persoalan, beliau memaparkan segala seginya dan menguatkannya dengan dalil-dalil aqli dan naqli. Beliau seorang yang memiliki ghirah (kecemburuan) terhadap Islam dan menjadi pembelanya. Di samping itu, beliau juga pembela keluarga Rasulullah SAW. aktif berhubungan dengan para ahli ilmu di berbagai tempat di seluruh dunia Islam, dan selalu menghindari pertentangan-pertentangan mazhab.Nama lengkapnya ialah Habib Alwi bin Thahir Al-Haddad bin Abdullah bin Thaha Abdullah bin Umar bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ahmad bin Abi Bakar Abu Thahir Al-Alawi asy-Syarif al-Huseini. Sampai nasabnya kepada Sayidina Ali bin Abi Thalib yang kahwin dengan Sayidatina Fatimah binti Nabi Muhammad SAW. Habib Alwi bin Thahir Al-Haddad lahir di Bandar Qaidun, Hadhramaut, Yaman pada 14 Syawal 1301 H/ 7 Ogos 1884 M.

Pendidikannya

Habib Alwi bin Thahir Al-Haddad sedari kecil telah bercita-cita menjadi ulama. Ini didukung oleh kecerdasan dan keteguhannya dalam menuntut ilmu, dan selalu menyertai ulama-ulama besar sehingga dapat mencapai puncak keilmuannya dan menghimpunkan berbagai ilmu naqli dan aqli yang membuatnya melebihi rekan-rekan seangkatannya. Bahkan, Sayid Alwi mampu melakukan istinbat dan ijtihad yang cermat dan tidak dapat dicapai oleh sebagian orang.

Guru-gurunya di Hadhramaut ialah Habib Ahmad bin al-Hasan al-Attas al-Alawi, Habib Thahir bin Umar al-Haddad, dan Habib Muhammad bin Thahir al-Haddad. Banyak bidang ilmu tradisi yang beliau peroleh daripada keluarganya sendiri yang berketurunan Nabi Muhammad SAW.

Sayid Alwi sangat menggemari pelajaran Hadits. Berkali-kali Sayid Alwi al-Haddad menamatkan kitab As-Sittah, Riyadh ash-Shalihin, Bulugh al-Maram, Jami’ ash-Shaghir. Untuk memperdalam ilmu hadits Sayid Alwi al-Haddad mempelajari kitab-kitab mengenai sanad hadits seperti ad-Dhawabidh al-Jaliyah fi al-Asanid al-‘Aliyah karya Syeikh al-Allamah al-Musnid Syamsuddin Abdullah bin Fathi al-Farghali al-Hamisyi. Demikian juga kitab ats-tsabat yang berjudul as-Samth al-Majid karya Syeikh al-Allamah al-Musnid Shafiyuddin Ahmad bin Muhammad al-Qasyasy al-Madani. Sayid Alwi al-Haddad telah berhasil memperoleh ilmu dan ijazah daripada para gurunya serta dengan sanad-sanad yang bersambung sampai Rasulullah SAW.

Selain guru tersebut, Sayid Alwi al-Haddad juga memperoleh ilmu daripada ayah saudaranya Imam Habib Abdullah bin Thaha al-Haddad, juga dengan Habib Thahir bin Abi Bakri al-Haddad. Guru-guru beliau yang lain adalah al-Mu’ammar Sirajuddin Umar bin Utsman bin Muhammad Ba Utsman al-Amudi ash-Shiddiqi al-Bakari. Sayid Alwi al-Haddad juga sempat mendengar riwayat hadits dari Sayid ‘Abdur Rahman bin Sulaiman al-Ahdal yang wafat tahun 1250 H/1834 M.

Diriwayatkan bahawa Sayid Alwi al-Haddad ialah seorang yang sangat cergas. Sedikit saja belajar namun penguasaan akan ilmu pengetahuannya langsung meningkat. Pada umur 12 tahun, Sayid Alwi al-Haddad menghatamkan Ihya ‘Ulumidin karya Imam al-Ghazali. Dalam usia 17 tahun ia telah mengajar dan mengajar kitab yang besar-besar dan ilmu yang berat-berat seperti ilmu tafsir, hadits, fiqh, usul fiqh, tarikh, falak, nahwu, shorof, balaghah, filsafat dan tasawuf.

Beliau juga memiliki karangan-karangan yang banyak dan kajian-kajian di berbagai surat kabar dalam bermacam-macam persoalan kemasyarakatan, politik, aqidah, sejarah dan fatwa yang mencapai 13000 masalah.

Sebagai ulama dan mufti, ia kerap diminta untuk berpidato dan memberikan ceramah pada pertemuan-pertemuan umum. Ceramah yang disampaikannya di depan Jong Islamieten Bond (Perkumpulan Pemuda Muslimin) telah diterbitkan dalam dua bahasa: Indonesia dan Arab. Pemimpin Sarekat Islam yang terkenal, Haji Oemar Said Cokroaminoto sering berhubungan dengannya. Ketika dia sedang mengarang buku tentang sejarah Nabi dalam bahasa Indonesia, dia menunjukkan kepada Sayid Alwi yang kemudian memeriksanya dan memberikan kata pengantar untuk buku itu. Pertama kali buku itu dapat diterbitkan atas biaya seorang dermawan dan kemudian buku itu dapat diterbitkan untuk yang kedua kalinya.

Karya-Karyanya

Sayid Alwi memiliki karangan-karangan yang banyak yang akan kami sebutkan berikut ini agar dapat diketahui betapa luas pengetahuannya. Beberapa diantara karangannya adalah:

1. Anwar al-Quran al- Mahiyah li Talamat Mutanabi’ Qadyani (dua jilid).
2. Al-Qaul al-Fashl fi ma li al-Arab wa Bani Hasyim min al-Fadhal. Kitab ini terdiri daripada dua jilid. Kandungannya merupakan sanggahan terhadap fahaman pembaharuan Islam yang dibawa oleh Syeikh Ahmad bin Muhammad as-Surkati as-Sudani.
3. Al-Khulashah al-Wafiyah fi al-Asanid al-’Aliyah. Kitab ini menggunakan nama keseluruhan guru Saiyid Alwi al-Haddad tentang qiraat dan ijazah.
4. ‘Iqd al-Yaqut fi Tarikh Hadhramaut.
5. Kitab as-Sirah an-Nabawiyah asy-Syarifah.
6. Dalil Khaidh fi ‘Ilm al-Faraidh.
7. Thabaqat al-’Alawiyin (sepuluh jilid).
8. Mu’jam asy-Syuyukh.
9. ‘Uqud al-Almas bi Manaqib al-Habib Ahmad bin Hasan al-’Athas.
10. Kumpulan Fatwa (berisi sekitar 12000 fatwa)
11. Kitab tentang hukum-hukum nikah dan qadha dalam bahasa Melayu (diterbitkan dalam dua jilid)
Sekiranya kita sempat membaca keseluruhan karya Saiyid Alwi al-Haddad yang tersebut di atas, dapat disimpulkan bahawa sangat luas pengetahuan yang beliau bahaskan. Saiyid Alwi al-Haddad diakui sebagai seorang tokoh besar dalam bidang sejarah, ahli dalam bidang ilmu rijal al-hadis.

Lebih khusus lagi sangat mahir tentang cabang-cabang keturunan ‘al-’Alawiyin’ atau keturunan Nabi Muhammad s.a.w.. Setahu saya memang tidak ramai ulama yang berkemampuan membicarakan perkara ini selain Saiyid Alwi al-Haddad. Boleh dikatakan tidak ada ulama dunia Melayu menulisnya secara lengkap. Sekiranya ada juga ia dilakukan oleh orang Arab keturunan Nabi Muhammad s.a.w. seperti yang pernah dilakukan Saiyid Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya al-Alawi, Mufti Betawi.

Saiyid Alwi al-Haddad ialah seorang ulama yang berpendirian keras dan tegas mempertahankan hukum syarak. Gaya berhujah dan penulisan banyak persamaan dengan yang pernah dilakukan oleh Saiyid Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya al-Alawi, Mufti Betawi. Saiyid Alwi al-Haddad selain menyanggah pendapat dan pegangan Syeikh Ahmad bin Muhammad as-Surkati yang lebih keras dibantahnya ialah A. Hassan bin Ahmad Bandung.

Bukan Saiyid Alwi al-Haddad saja yang menolak pegangan A. Hassan bin Ahmad Bandung tetapi perkara yang sama juga pernah dilakukan oleh Haji Abu Bakar bin Haji Hasan Muar. Sanggahan Haji Abu Bakar Muar terhadap A. Hassan Bandung berjudul Majlis Uraian Muar-Johor. Di bawahnya dijelaskan judul, “Pada menjawab dan membatalkan Al-Fatwa pengarang Persatuan Islam Bandung yang mengatakan babi itu najis dimakan bukan najis disentuh dan mulut anjing pun belum tentu najisnya.” Sebenarnya apabila kita meninjau sejarah pergolakan Kaum Tua dan Kaum Muda dalam tahun 1930-an itu dapat disimpulkan bahawa semua golongan ‘Kaum Tua’ menolak pemikiran A. Hassan Bandung itu khususnya Kerajaan Johor yang muftinya ketika itu Saiyid Alwi al-Haddad yang mengharamkan karya-karya A. Hassan Bandung di Johor.

Mengembara

Sayid Alwi al-Haddad mengembara ke pelbagai negara untuk berdakwah dan mengajar, di antaranya Somalia, Kenya, Mekah, Indonesia, Malaysia dan lain-lain. Di Jakarta, Sayid Alwi al-Haddad pernah mengajar di Madrasah Jam’iyah al-Khair yang didirikan oleh keturunan Sayid di Indonesia. Madrasah Jam’iyah al-Khair ialah sekolah Islam yang mengikut sistem pendidikan moden yang pertama di Indonesia, Sayid Alwi al-Haddad pula termasuk salah seorang guru yang pertama sekolah. Jabatan pertama Sayid Alwi adalah Wakil Mudir sekolah. Sementara itu, Mudirnya ialah Sayid Umar bin Saqaf as-Saqaf.

Para guru didatangkan dari pelbagai negara. Antara mereka ialah Ustadz Hasyimi yang berasal dari Tunis, Syeikh Ahmad bin Muhammad as-Surkati yang berasal dari Sudan (mengajar di Madrasah Jam’iyah al-Khair tahun 1911 – 1914), Syeikh Muhammad Thaiyib al-Maghribi yang berasal dari Maghribi, Syeikh Muhammad Abdul Hamid yang berasal dari Mekah.

Sayid Alwi bin Thahir termasuk salah seorang pendiri ar-Rabithah al-Alawiyyah di Indonesia. Selain mengajar di Jakarta beliau juga pernah mengajar di Bogor dan tempat-tempat lain di Jawa.

Murid-Muridnya
Muridnya sangat ramai. Antara tokoh dan ulama besar yang pernah menjadi murid Saiyid Alwi al-Haddad ialah:

1. Saiyid Alwi bin Syaikh Bilfaqih al-Alawi.
2. Saiyid Alwi bin Abbas al-Maliki.
3. Saiyid Salim Aali Jindan.
4. Saiyid Abu Bakar al-Habsyi
5. Saiyid Muhammad bin Ahmad al-Haddad.
7. Saiyid Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih.
8. Saiyid Husein bin Abdullah bin Husein al-Attas.
9. Syeikh Hasan Muhammad al-Masyath al-Makki.
10. Kiyai Haji Abdullah bin Nuh.

Menjadi Mufti Johor

Akhirnya Kesultanan Johor di Malaysia memilihnya untuk menjabat sebagai mufti di sana. Beliau menjabat sebagai mufti Kerajaan Johor dari tahun 1934 hingga tahun 1961. Sayid Alwi menjadi mufti Johor menggantikan Allahyarham Dato’ Sayid Abdul Qader bin Mohsen Al-Attas.

Wafatnya

Beliau wafat pada 14 November 1962 (1382 H) dan dikebumikan di Tanah Perkuburan Mahmoodiah Johor Bahru. Beliau mempunyai keturunan yang kemudian pindah ke Jazirah Arab bahagian selatan, di antaranya adalah puteranya Sayid Thahir dan Sayid Hamid

Habib Ahmad Bin alwi Al hadad (Habib Kuncung)


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Di Belakang  Mall Kalibata terdapat maqom Seorang waliyulloh, Habib Ahmad Bin alwi Al hadad yang dikenal dengan Habib Kuncung. Beliau adalah seorang ulama yang memilki prilaku ganjil (khoriqul a’dah) yaitu diluar kebiasaan manusia umumnya.beliau adalah waliyullah yang sengaja ditutup kewaliannya agar orang biasa tidak menyadari kelebihannya karena di kawatirkan umat nabi Muhammad terlalu mencintainya dan agar tidak terlena dengan karamah nya tersebut maka allah swt menutup karamahnya tersebut dan hanya orang-orang tertentu yang dapat melihat semua karomah Beliau.Habib Kuncung juga terkenal sebagai ahli Darkah maksudnya disaat sesorang dalam kesulitan dan sangat memerlukan bantuan beliau muncul dengan tiba – tiba .Lahir di Gurfha HadroMaut Tarim tanggal 26 sya’ban Tahun 1254 H, beliau berguru kepada Ayahandanya sendiri Habib alwi Al Hadad dan juga belajar kepada Al A’lamah Habib Ali bin Husein Al Hadad, Habib Abdurrahman Bin Abdulloh Al Habsyi dan Habib Abdulloh bin Muchsin al athos. Sebagaimana kebiasaan Ulama-ulama dari Hadromaut untuk melakukan perjalanan Ritual Dakwah ke berbagai negara termasuk ke Indonesia. Habib ahmad bin Alwi al hadad melakukan ritual dakwah ke Indonesia pertama kali singgah di Kupang dan menurut cerita Beliau Menetap beberapa tahun disana dan menikah dengan wanita bernama Syarifah Raguan Al Habsyi dan di karunai anak bernama Habib Muhammad Bin Ahmad Al Hadad. Selanjutnya Habib Ahmad bin Alwi al hadad melanjutkan dakwahnya ke pulau jawa dan menetap di Kali Bata hingga wafatnya.

Gelar Habib Kuncung yang diberikan kepada Habib Ahmad bin Alwi Al hadad yang saya tahu karena kebiasaan Beliau mengenakan Kopiah yang menjulang keatas (Muncung), dan Prilaku beliau yang terlihat aneh dari kebiasaan orang pada umumnya terutama dalam hal berpakaian. Habib Kuncung Wafat dalam usia 93 tahun tepatnya tanggal 29 sya,ban 1345 H atau sekitar tahun 1926 M dan di Maqomkan di Pemakaman Keluarga Al Hadad di Kalibata jakarta selatan.

maoqom Habib ahmad bin alwi al hadad

MAQOM HABIB AHMAD BIN ALWI AL HADAD KALIBATA JAKSEL

Hingga kini Maqom Beliau selalu Ramai di kunjungi oleh para Peziarah dari berbagai daerah di Nusantara terutama pada perayaan Maulid yang diadakan setiap minggu pertama Bulan Robiul awal ba’da asyar.

Kesultanan Banten


Bismillahir Rahmanir Rahiim

(1568-1813)

KESULTANAN yang pada masa jayanya meliputi daerah yang sekarang dikenal dengan daerah Serang, Pandeglang, Lebak, dan Tangerang. Sejak abad ke-16 sampai abad ke-19 Banten mempunyai arti dan peranan yang penting dalam penyebaran dan pengembangan Islam di Nusantara, khususnya di daerah Jawa Barat, Jakarta, Lampung, dan Sumatra Selatan. Kota Banten terletak di pesisir Selat Sunda dan merupakan pintu gerbang lintas pulau Sumatra dan Jawa. Posisi Banten yang sangat strategis ini menarik perhatian penguasa di Demak untuk menguasainya. Pada tahun 1525-1526 Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati berhasi menguasai Banten.

Puing Keraton SurosowanSebelum Banten berwujud sebagai suatu kesultanan, wilayah ini termasuk bagian dari kerajaan Sunda (Pajajaran). Agama resmi kerajaan ketika itu adalah agama Hindu. Pada awal abad ke-16, yang berkuasa di Banten adalah Prabu Pucuk Umum dengan pusat pemerintahan Kadipaten di Banten Girang (Banten Hulu). Surosowan (Banten Lor) hanya berfungsi sebagai pelabuhan. Menurut berita Joade Barros (1516), salah seorang pelaut Portugis, di antara pelabuhan-pelabuhan yang tersebar di wilayah Pajajaran, Pelabuhan Sunda Kelapa dan Banten merupakan pelabuhan yang besar dan ramai dikunjungi pedagang-pedagang dalam dan luar negri. Dari sanalah sebagian lada dan hasil negri lainnya diekspor. Oleh karena itu, Banten pada masa lalu adalah potret sebuah kota metropolitan dan menjadi pusat perkembangan pemerintahan Kesultanan Banten yang sempat mengalami masa keemasan selama kurang lebih tiga abad.

Menurut Babad Pajajaran, proses awal masuknya Islam di Banten mulai ketika Prabu Siliwangi, salah seorang raja Pajajaran, sering melihat cahaya yang menya-nyala di langit. Untuk mencari keterangan tentang arti cahaya itu, ia mengutus Prabu Kian Santang, penasihat kerajaan Pajajaran, untuk mencari berita mengenai hal ini. Akhirnya Prabu Kian Santang sampai ke Mekah. Di sana ia memperoleh berita bahwa cahaya yang dimaksud adalah nur Islam dan cahaya kenabian. Ia kemudian memeluk agama Islam dan kembali ke Pajajaran untuk mengislamkan masyarakat. Upaya yang dilakukan Kian Santang hanya berhasil mengislamkan sebagian masyarakat, sedangkan yang lainnya menyingkirkan diri. Akibatnya, Pajajaran menjadi berantakan. Legenda yang dituturkan dalam Babad Pajajaran ini merupakan sebuah refleksi akan adanya pergeseran kekuasaan dari raja pra-Islam kepada penguasa baru Islam.

Sumber lain menyebutkan bahwa ketika Raden Trenggono dinobatkan sebagai sultan Demak yang ketiga (1524) dengan gelar Sultan Trenggono, ia semakin gigih berupaya menghancurkan Portugis di Nusantara. Di lain pihak, Pajajaran justeru menjalin perjanjian persahabatan dengan Portugis sehingga mendorong hasrat Sultan Trenggono untuk segera menghancurkan Pajajaran. Untuk itu, ia menugaskan Fatahillah, panglima perang Demak, menyerbu Banten (bagian dari wilayah Pajajaran) bersama dua ribu pasukannya. Dalam perjalanan menuju Banten, mereka singgah untuk menemui mertuanya, Syarif Hidayatullah, di Cirebon. Pasukan Demak dan pasukan Cirebon bergabung menuju Banten di bawah pimpinan Syarif Hidayatullah, Fatahillah, Dipati Keling, dan Dipati Cangkuang. Sementara itu, di Banten sendiri terjadi pemberontakan di bawah pimpinan Maulana Hasanuddin melawan penguasa Pajajaran.

Gabungan pasukan Demak dengan Cirebon bersama laskar-marinir Maulana Hasanuddin tidak banyak mengalami kesulitan dalam menguasai Banten. Dengan demikian, pada tahun 1526 Maulana Hasanuddin dan Syarif Hidayatullah berhasil merebut Banten dari Pajajaran. Pusat pemerintahan yang semula berkedudukan di Banten Girang dipindahkan ke Surosowan, dekat pantai. Dilihat dari sudut ekonomi dan politik, pemindahan pusat  pemerintahan ini dimaksudkan untuk memudahkan hubungan antara pesisir Sumatra sebelah barat melalui Selat Sunda dan Selat Malaka. Situasi ini berkaitan pula dengan situasi dan kondisi politik di Asia Tenggara. Pada masa itu, Malaka telah jatuh di bawah kekuasaan Portugis, sehingga pedagang-pedagang yang enggan berhubungan dengan Portugis mengalihkan jalur perdagangannya ke Selat Sunda. Sejak saat itulah semakin ramai kapal-kapal dagang mengunjungi Banten. Kota Surosowan (Banten Lor) didirikan sebagai ibu kota Kesultanan Banten atas petunjuk Syarif Hidayatullah kepada putranya, Maulana Hasanuddin, yang kelak menjadi sultan Banten yang pertama.

Benteng SpeelwijkAtas petunjuk Sultan Demak, pada tahun 1526 Maulana Hasanuddin diangkat sebagai bupati Kadipaten Banten. Pada tahun 1552 Kadipaten Banten diubah menjadi negara bagian Demak dengan tetap mempertahankan Maulana Hasanuddin sebagai sultannya. Ketika Kesultanan Demak runtuh dan diganti Pajang (1568), Maulana Hasanuddin memproklamasikan Banten menjadi negara merdeka, lepas dari pengaruh Demak.

Sultan Maulana Hasanuddin memerintah Banten selama 18 tahun (1552-1570). Ia telah memberikan andil terbesarnya dalam meletakkan fondasi Islam di Nusantara sebagai salah seorang pendiri Kesultanan Banten. Hal ini telah dibuktikan dengan kehadiran bangunan peribadatan berupa masjid dan sarana pendidikan islam seperti pesnatren. Di samping itu, ia juga mengirim mubaligh ke berbagai daerah yang telah dikuasainya.

Usaha yang telah dirintis oleh Sultan Maulana Hasanuddin dalam menyebarluaskan Islam dan membangun Kesultanan Banten kemudian dilanjutkan oleh sultan-sultan berikutnya. Akan tetapi, pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, Kesultanan Banten mengalami kehancuran akibat ulah anak kandungnya sendiri, yaitu Sultan Haji, yang bekerjasama dengan kompeni Belanda. Ketika itu Sultan Haji diserahi amanah oleh ayahnya sebagai Sultan Muda yang berkedudukan di Surosowan. Akibat kerjasama kompeni Belanda dengan Sultan Haji, akhirnya terjadilah perang dahsyat antara Banten dan kompeni Belanda. Perang berakhir dengan hancurnya Keraton Surosowan yang pertama.

Meskipun keraton tersebut dibangun kembali oleh Sultan Haji melalui seorang arsitek Belanda dengan megahnya, namun pemberontakan demi pemberontakan dari rakyat Banten tidak pernah surut. Sultan Ageng Tirtayasa memimpin Perang gerilya bersama anaknya, Pangeran Purbaya, dan Syekh Yusuf, seorang ulama dari Makassar dan sekaligus menantunya. Sejak itu, Kesultanan Banten tidak pernah sepi dari peperangan dan pemberontakan melawan kompeni hingga akhirnya Keraton Surosowan hancur untuk yang kedua kalinya pada masa Sultan Aliuddin II (1803-1808). Ketika itu ia melawan Herman Willem Daendels.

Setelah Kesultanan Banten dihapus oleh Belanda, perjuangan melawan penjajah dilanjutkan oleh rakyat Banten yang dipimpin oleh para ulama dengan menggelorakan semangat perang sabil. Keadaan ini berlangsung sampai Negara Republik Indonesia diproklamasikan kemerdekannya. Hal ini terlihat dari berbagai pemberontakan yang dipimpin oleh para kiai dan didukung oleh rakyat, antara lain peristiwa “Geger Cilegon” pada tahun 1886 di bawah pimpinan KH Wasyid (w. 28 Juli 1888) dan “Pemberontakan Petani Banten” pada tahun 1888.

Keberadaan dan kejayaan kesultanan Banten pada masa lalu dapat dilihat dari peninggalan sejarah seperti Masjid Agung Banten yang didirikan pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin. Seperti masjid-masjid lainnya, bangunan masjid ini pun berdenah segi empat, namun kelihatan antik dan unik. Bila diamati secara jelas, arsitekturnya merupakan perpaduan antara arsitektur asing dan Jawa. Hal ini dapat dilihat dari tiang penyangga bangunan yang jumlahnya empat buah di bagian tengah; mimbar kuno yang berukir indah; atap masjid yang terbuat dari genteng tanah liat, melingkar berbetuk bujur sangkar yang disebut kubah berupa atap tumpang bertingkat lima. Di dalam serambi kiri yang terletak di sebelah utara masjid terdapat makam beberapa sultan Banten beserta keluarga dan kerabatnya. Di halaman selatan masjid terdapat bangunan Tiamah, merupakan bangunan tambahan yang didirikan oleh Hendrik Lucasz Cardeel, seorang arsitek berkebangsaan Belanda yang memluk agama Islam dengan gelar Pangeran Wiraguna. Dahulu, gedung Tiamah ini digunakan sebagai majelis taklim serta tempat para ulama dan umara Banten mendiskusikan soal-soal agama. Sekarang gedung tersebut digunakan sebagai tempat penyimpanan benda-benda purbakala. Selain itu, di Kasunyatan terdapat pula Masjid Kasunyatan yang umurnya lebih tua dari Masjid Agung. Di masjid inilah tinggal dan mengajar Kiai Dukuh yang kemudian bergelar Pangeran Kasunyatan, guru Maulana Yusuf, sultan Banten yang kedua.

Masjid Agung Banten

Bangunan lain yang membuktikan keberadaan Kesultanan Banten masa lampau adalah bekas Keraton Surosowan atau gedung kedaton Pakuwan. Letaknya berdekatan dengan Masjid Agung Banten. Keraton Surosowan yang hanya tinggal puing-puing dikelilingi oleh tembok tembok yang tebal, luasnya kurang lebih 4 ha, berbentuk empat persegi panjang. Benteng tersebut sekarang masih tegak berdiri, di samping beberapa bagian kecil yang telah runtuh. Dalam situs (lahan) kepurbakalaan Banten masih ada beberapa unsur, antara lain Menara Banten, Masjid Pacinan, Benteng Speelwijk, Meriam Kiamuk, Watu Gilang dan pelabuhan perahu Karangantu.

Habib Muhammad bin Husein bin Ali Ba’abud


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Pembuka Pesantren di Lawang

Habib Muhammad, begitu ia biasa disapa, dikenal sebagai guru para Habib di daerah Malang dan sekitarnya. Beliaulah yang yang mendirikan pesantren Darun Nasyiien pada tahun 1940.
Semua orang pasti mengenal Pesantren Darun Nasyiien yang didirikannya di Lawang, Malang. Pondok Pesantren ini adalah pesantren kaum habaib yang pertama di Indonesia. Kalaupun sudah banyak lembaga pendidikan para habib yang berdiri sebelumnya, biasanya hanya berbentuk madrasah, bukan pesantren.

Sudah tak terhitung lagi banyaknya alumnus Darun Nasyiien yang menjadi ulama di seluruh Indonesia. Rata-rata mereka selalu mengibarkan bendera Ahlussunnah Wal Jamaah ala Thariqah Alawiyin di tempat mereka berada.

Nama Habib Muhammad bin Husein bin Ali Ba’abud juga tak pernah hilang dari hati kaum muslimin kota Malang sampai saat ini. Masa Kecil di Surabaya Habib Muhammad bin Husein dilahirkan di daerah Ampel Masjid Surabaya. Tepatnya di sebuah rumah keluarga, sekitar 20 meter dari Masjid Ampel, pada malam Rabu 9 Dzulhijjah 1327 H.

Menurut cerita ayahandanya (Habib Husein), saat akan melahirkan, ibunda beliau (Syarifah Ni’mah) mengalami kesukaran hingga membuatnya pingsan. Habib Husein bergegas mendatangi rumah Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya.

Habib Abu Bakar lalu memberikan air untuk diminumkan pada istrinya. Tak lama sesudah diminumkannya air tersebut, dengan kekuasaan Allah, Syarifah Ni’mah melahirkan dengan selamat. Habib Abu Bakar berpesan untuk dilaksanakan aqiqah dengan dua ekor kambing, diiringi pesan agar tidak usah mengundang seseorang pada waktu walimah, kecuali sanak keluarga Syarifah Ni’mah.Acara walimah tersebut dihadiri Habib Abu Bakar. Beliau pulalah yang memberi nama Muhammad, disertai pembacaan do’a-do’a dan Fatihah.

Saat berumur 7 tahun, Habib Muhammad berkhitan. Setelah dikhitan, Habib Husein memasukkan putranya itu ke Madrasah al-Mu’allim Abdullah al-Maskati al-Kabir, sesuai dengan isyarat dari Habib Abu Bakar. Akan tetapi anaknya merasa tidak mendapat banyak dari madrasah tersebut. Tidak lama setelah belajar, Habib Husein memasukkannya ke Madrasah Al-Khairiyah, juga di kawasan Ampel.

Pelajaran di Madrasah Al-Khoiriyah waktu itu juga tidak seperti yang diharapkan, disebabkan tidak adanya kemampuan yang cukup dari para pengajarnya. Habib Muhammad pun merasa kurang mendapat pelajaran. Tapi setelah berada di kelas empat, terbukalah mata hatinya, terutama setelah datangnya para tenaga pengajar dari Tarim-Hadramaut.

Di antara para guru itu adalah Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih dan Habib Hasan bin Abdulloh al-Kaf. Juga terdapat guru-guru lain yang mempunyai kemampuan cukup, seperti Habib Abdurrohman bin Nahsan bin Syahab, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor. Habib Muhammad merasakan futuh, barakah dan manfaat dari do’a-do’a Habib Muhammad al-Muhdlor di dalam majelis rouhah (pengajian)-nya.

Di tengah masa belajar itu beliau seringkali menggantikan para gurunya mengajar, bilamana mereka berudzur datang. Sampai akhirnya nasib baik itu datang padanya setelah menempuh pendidikan hampir enam tahun lamanya. Pada akhir tahun pendidikan, para pelajar yang lulus menerima ijazah kelulusan. Ijazah itu dibagikan langsung oleh Habib Muhammad al-Muhdlor.

Ternyata Habib Muhammad menempati peringkat pertama, dari seluruh pelajar yang lulus waktu itu. Bersamaan dengan itu, Habib Muhammad al-Muhdlor menghadiahkan sebuah jam kantong merk Sima kepadanya. Kebahagiaan semakin bertambah ketika Habib Muhammad al-Muhdlor mengusap-usap kepala dan dadanya sambil terus mendo’akannya.

Dalam waktu bersamaan, Habib Agil bin Ahmad bin Agil (pengurus madrasah) memberitahukan bahwa Habib Muhammad pada tahun itu akan diangkat menjadi guru di Madrasah Al-Khoiriyah, tempatnya belajar selama ini. Disamping mengajar pagi dan sore di Madrasah Al-Khoiriyah, Habib Muhammad juga banyak memberikan ceramah agama di berbagai tempat. Ia juga rajin menerjemahkan ceramah-ceramah para mubaligh Islam yang datang dari luar negeri, seperti Syeikh Abdul Alim ash-Shiddiqi dari India, dsb.

Adapun guru-gurunya yang lain di Madrasah Khairiyah adalah Habib Husein bin Ali Ba’abud, Habib Ali bin Ahmad Babgey, Syekh Abdullah bin Muhammad Ba-Mazru, Sayid Abdurrahman Binahsan bin Syihab, Habib Hasan bin Abdullah Al-Kaf, Sayid Jafar bin Zeid Aidid dan lain-lain.

Pada tahun 1348 H, tepatnya Kamis sore 22 Robi’utsani, ayahanda beliau menikahkannya dengan Syarifah Aisyah binti Sayid Husein bin Muhammad Bilfaqih. Bertindak sebagai wali nikah adalah saudara kandung istrinya, Saiyid Syeikh bin Husein Bilfaqih yang telah mewakilkan aqad kepada Qodli Arab di Surabaya masa itu, yaitu Habib Ahmad bin Hasan bin Smith. Walimatul ursy di rumah istrinya, Nyamplungan Gg IV Surabaya.

Pernikahannya dengan Syarifah Aisyah mengaruniainya enam putra dan delapan putri. Mereka adalah Syifa’, Muznah, Ali, Khodijah, Sidah, Hasyim, Fathimah, Abdulloh, Abdurrahman, Alwi, Maryam, Alwiyah, Nur dan Ibrahim.

Pada bulan Jumadil Akhir 1359 H bertepatan dengan Juli 1940, Habib Muhammad beserta keluarganya pindah ke Lawang, Malang. Di kota kecamatan inilah beliau mendirikan madrasah dan pondok pesantren Darun Nasyiien, yang pembukaan resminya jatuh pada bulan Rojab 1359 H (5 Agustus 1940 M). Pembukaan pondok pertama kali itupun mendapat perhatian yang luar biasa dari masyarakat dan ulama tanah Jawa. Bahkan sebagian sengaja datang dari luar Jawa.

Setelah beberapa bulan setelah tinggal di Lawang, ayahanda dari Surabaya (Habib Husein) turut pindah ke Lawang dan tinggal bersamanya. Ketika penjajah Jepang datang, Habib Muhammad sempat berpindah-pindah tinggal. Mulai dari Karangploso, Simping, hingga Bambangan, yang kesemuanya masih di sekitar Lawang.

Kegiatan mengajarnya juga sempat berhenti sekitar 17 hari, karena Jepang pada waktu itu memerintahkan untuk menutup seluruh madrasah dan sekolah di seluruh daerah jajahannya. Ketika Belanda datang kembali untuk menjajah yang kedua kalinya, terpaksa madrasah ditutup lagi selama tiga bulan, mengingat keamanan yang dirasa membahayakan pada waktu itu.

Barulah sejak 1 April 1951, Habib Muhammad sekeluarga kembali ke Jl. Pandowo sampai akhir hayatnya. Tepatnya di rumah nomor 20, yang di belakangnya terdapat pondok pesantren, beserta kamar-kamar santri, musholla Baitur Rohmah dan ruang-ruang kelas yang cukup baik. Saat itu yang dipercaya sebagai panitia pembangunan sekaligus arsitekturnya adalah putra sulung beliau, Habib Ali bin Muhammad Ba’abud.

Banyak orang shalih yang telah berkunjung ke rumah dan Pondok Darun Nasyiien, diantara mereka adalah Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi, Habib Salim bin Ahmad bin Jindan (Jakarta), Habib Zein bin Abdillah bin Muhsin Alattas (Bogor), Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul), Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi (Solo), Habib Alwi bin Abdillah Al-Habsyi (Kalimantan), Habib Husein bin Abdillah Al-Hamid (Tuban), Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Probolinggo), Habib Abdullah bin Umar Alaydrus (Surabaya), Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf (Jeddah), Habib Salim bin Abdillah Assyathiri (Tarim), Sayid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki (Mekkah) dan masih banyak lagi habaib serta ulama dari berbagai daerah untuk bersilaturahim.

Habib Muhammad berpulang ke rahmatullah pada hari Rabu pukul 10.20 tanggal 18 Dzulhijjah 1413 h, bertepatan dengan 9 Juni 1993. Jenazah almarhum diantar oleh banyak orang ke pemakaman Bambangan, Lawang dan dimakamkan berdampingan dengan sang ayahanda dan kakak beliau. Rohimahullohu rohmatal abror. Wa askannahul jannata darul qoror. Tajri min tahtihal anhar. Aamiin ya Allohu ya Ghofuru ya Ghoffar.

Penulis Kitab Maulid Nabi Muhammad Saw


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Dalam kitab Kasyf al-Dzunnun dikemukakan bahwa orang pertama yang menulis kitab perilaku kehidupan Nabi Muhammad saw dan uraian tentang kelahirannya ialah Muhammad bin Ishaq, wafat tahun 151 hijriyah. Dengan indah dan cemerlang ia menguraikan riwayat maulid Nabi saw serta menjelaskan berbagai manfaat yang dapat dipetik oleh kaum muslimin dari peringatan-peringatan maulid dalam bentuk walimah, sedekah dan bentuk kebajikan lain. Penulisan riwayat kehidupan Nabi saw kemudian diteruskan lagi pada zaman berikutnya oleh Ibnu Hisyam, wafat tahun 213 hijriyah.

Tidak diragukan lagi, dengan diterima dan dibenarkan penulisan kitab sejarah perilaku kehidupan Nabi saw oleh para ulama dan para pemuka masyarakat Islam itu, kaum muslimin tidak kehilangan informasi sejarah mengenai kehidupan dan perjuangan Nabi saw sejak beliau lahir hingga wafat. Tujuan memelihara kelestarian data sejarah itu disambut baik oleh para ulama, dan ini berarti bahwa para ulama membenarkan diadakannya peringatan maulid Nabi saw, sekurang-kurangnya setahun sekali pada bulan Rabiul Awal.

Imam Nawawi bahkan mensunnahkan peringatan maulid Nabi saw. Pendapat itu diperkuat oleh Imam al-Asqalany. Dengan dalil-dalil yang meyakinkan, Imam al-Asqalany memastikan bahwa menyambut hari maulid Nabi saw dan mengagungkan kemuliaan beliau mendatangkan ganjaran dan pahala bagi kaum muslimin yang menyelenggarakannya.

Imam Taqiyuddin al-Subki, telah menulis sebuah kitab khusus mengenai kemuliaan dan keagungan Nabi saw, bahkan ia menetapkan bahwa siapa yang datang menghadiri pertemuan untuk mendengarkan pembacaan riwayat maulid dan kemuliaan serta keagungan Nabi saw, akan memperoleh berkah dan ganjaran pahala.

Imam Ibnu Hajar al-Haitsami, menulis kitab khusus mengenai kemuliaan dan keagungan Nabi Muhammad saw. Ia memandang hari maulid Nabi saw sebagai hari raya besar yang penuh berkah dan kebajikan. Demikian juga Imam al-Thufi al-Hanbali yang terkenal dengan nama Ibnu al-Buqy, ia menulis sajak dan syair-syair bertema memuji kemuliaan dan keagungan Nabi Muhammad saw yang tidak dimiliki oleh manusia lain manapun juga. Tiap hari maulid para pemuka kaum muslimin berkumpul di rumahnya, kemudian minta kepada salah seorang di antara mereka supaya mendendangkan syair-syair al-Buqy.

Imam al-Jauzy al-Hanbali, mengatakan manfaat istimewa yang terkandung di dalam peringatan maulid Nabi saw ialah adanya rasa ketentraman dan keselamatan, di samping kegembiraan yang mengantarkan umat Islam kepada tujuan luhur. Dijelaskan pula bahwa orang-orang pada zaman Abbasiyah dahulu merayakan hari maulid Nabi saw dengan berbuat kebajikan menurut kemampuan masing-masing, seperti mengeluarkan sedekah dan lain sebagainya.

Imam al-Mujtahid Ibnu Taimiyah mengatakan, ‘Kemuliaan hari maulid Nabi saw dan diperingatinya secara berkala sebagaimana yang dilakukan oleh kaum muslimin, mendatangkan pahala besar, mengingat maksud dan tujuan yang sangat baik, yaitu menghormati dan memuliakan kebesaran Rasulullah saw.’

Menurut Ibnu Batutah dalam catatan pengembaraannya menceritakan kesaksiannya sendiri tentang kegiatan dan bentuk-bentuk perayaan maulid Nabi saw yang dilakukan oleh Sultan Tunisia Abu al-Hasan pada tahun 750 hijriyah. Ibnu Batutah berkata, bahwa sultan tersebut pada hari maulid Nabi saw menyelenggarakan pertemuan umum dengan rakyatnya dan disediakan hidangan secukupnya[1]. Beribu-ribu dinar dikeluarkan oleh sultan untuk menyediakan berbagai jenis makanan bagi penduduk. Ia mendirikan kemah raksasa sebagai tempat pertemuan umum itu. Dalam pertemuan itu dibacakan syair-syair yang berisi pujian kepada Nabi saw dan diuraikan pula riwayat kehidupan beliau saw.

Selain ulama zaman dahulu, pada zaman-zaman berikutnya hingga zaman belakangan ini, masih tetap banyak ulama yang menulis kitab-kitab maulid Nabi saw, di antaranya Sayid Muhammad Shalih al-Sahrawardi, yang menulis kitab maulid berjudul Tuhfah al-Abrar Fi Tarikh Masyru’iyat al-Hafl Bi Yaumi Maulid Nabi al-Mukhtar. Dalam kitab maulid ini penulis mengemukakan dalil-dalil meyakinkan tentang sahnya peringatan maulid Nabi saw sebagai ibadah yang sangat ditekankan (sunnah muakkadah) supaya kaum muslimin melaksanakannya dengan baik.

Di Indonesia, beredar pula kitab-kitab maulid yang sering dibaca oleh kaum muslimin seperti kitab maulid al-Barjanzi, maulid al-Diba’i, maulid al-Azab dan maulid Burdah. Di samping itu terdapat juga kitab-kitab maulid yang ditulis oleh ulama-ulama dari kalangan Alawiyin, seperti kitab maulid al-Habsyi, al-Masyhur, al-Atthas, al-Aidid dan lainnya. Di antara kiitab-kitab yang ditulis berkenaan dengan maulid Nabi saw :

1. Al-Imam al-Muhaddis al-Hafiz Abdul Rahman bin Ali yang terkenal dengan Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi (wafat tahun 597H), dan maulidnya yang masyhur dinamakan al-Arus.

2. Al-Imam al-Muhaddis al-Musnid al-Hafiz Abu al-Khattab Umar bin Ali bin Muhammad yang terkenal dengan Ibn Dahya al-Kalbi (wafat tahun 633H). Beliau mengarang maulid yang dinamakan al-Tanwir Fi Maulid al-Basyir al-Nadzir.

3. Al-Imam Syeikh al-Qurra’ Wa Imam al-Qiraat al-Hafiz al-Muhaddis al-Musnid al-Jami’ Abu al-Khair Syamsuddin Muhammad bin Abdullah al-Juzuri al-Syafi’e (wafat tahun 660H). Maulidnya dalam bentuk manuskrip berjudul Urfu al-Ta’rif bi al-Maulid al-Syarif.

4. Al-Imam al-Mufti al-Muarrikh al-Muhaddis al-Hafiz ‘Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir, penyusun tafsir dan kitab sejarah yang terkenal (wafat tahun 774H). Ibn Katsir menyusun kitab maulid Nabi saw yang telah ditahqiq oleh Dr. Solahuddin al-Munjid. Kemudian kitab maulid ini disyarahkan oleh al-’Allamah al-Faqih al-Sayyid Muhammad bin Salim Bin Hafidz, mufti Tarim, dan diberi komentar pula oleh al-Muhaddis al-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, yang telah diterbitkan di Siria pada tahun 1387 hijriyah.

5. Al-Imam al-Kabir al-Syahir, Hafiz al-Islam Wa ‘Umdatuh al-Anam, Wa Marja’i al-Muhaddisin al-A’lam, al-Hafiz Abdul Rahim ibn Husain bin Abdul Rahman al-Misri, yang terkenal dengan al-Hafiz al-Iraqi (725 – 808 H). Kitab maulidnya dinamakan al-Maurid al-Hana.

6. Al-Imam al-Muhaddis al-Hafiz Muhammad bin Abi Bakr bin Abdillah al-Qisi al–Dimasyqi al-Syafie, yang terkenal dengan al-Hafiz Ibn Nasiruddin al-Dimasyqi (777-842 H). Beliau adalah ulama yang sejalan dengan Ibnu Taimiyah. Beliau telah menulis beberapa kitab maulid, antaranya:

- Jami’ al-Atsar Fi Maulid al-Nabi al-Mukhtar (3 Jilid)
– Al-Lafdzu al-Ra’iq Fi Maulid Khair al-Khalaiq.
– Maurid al-Sabiy Fi Maulid al-Hadi.

7. Al-Imam al-Muarrikh al-Kabir Wa al-Hafiz al-Syahir Muhammad bin Abdul Rahman al-Qahiri yang terkenal dengan al-Hafiz al-Sakhawi (831-902H) yang mengarang kitab al-Diya’ al-Lami’. Beliau telah menyusun kitab maulid nabi dan dinamakan al-Fakhr al-’Alawi Fi al-Maulid al-Nabawi.

8. Al-Allamah al-Faqih al-Sayyid Ali Zainal Abidin al-Samhudi al-Hasani, pakar sejarah dari Madinah al-Munawarrah (wafat tahun 911H). Kitab maulidnya dinamakan Al-Mawarid al-Haniyah Fi Maulid Khair al-Bariyyah.

9. Al-Hafiz Wajihuddin Abdul Rahman bin Ali bin Muhammad al-Syaibani al-Yamani al-Zabidi al-Syafie, yang terkenal dengan Ibn Dibai’e. beliau dilahirkan pada bulan Muharram 866H, dan meninggal dunia pada hari Jumaat, 12 Rejab 944H. Beliau menyusun kitab maulid yang amat masyhur dan dibaca di seluruh dunia (maulid Dibai’e). Maulid ini juga telah ditahqiq dan diberi komentar serta ditakhrijkan hadisnya oleh al-Muhaddis as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki.

10. Al-’Allamah al-Faqih al-Hujjah Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitsami (wafat tahun 974H). Beliau merupakan mufti Mazhab Syafie di Makkah al-Mukarramah. Beliau telah mengarang kitab maulid yang dinamakan Itmam al-Ni’mah ‘Ala al-’Alam Bi Maulid Saiyidi Waladi Adam. Selain itu beliau juga menulis satu lagi maulid yang ringkas, yang telah diterbitkan di Mesir dengan nama al-Ni’mat al-Kubra ‘Ala al’Alam Fi Maulid Saiyidi Waladi Adam.
Al-Syeikh Ibrahim al-Bajuri pula telah mensyarahkannya dalam bentuk hasyiah yang dinamakan Tuhfah al-Basyar ‘Ala Maulid Ibn Hajar

11. Al-’Allamah al-Faqih al-Syaikh Muhammad bin Ahmad al-Sarbini al-Khatib (wafat tahun 977H). Maulidnya dalam bentuk manuskrip sebanyak 50 halaman, dengan tulisan yang kecil tetapi boleh dibaca.

12. Al-’Allamah al-Muhaddis al-Musnid al-Faqih al-Syaikh Nuruddin Ali bin Sultan Al-Harawi, yang terkenal dengan al-Mula Ali al-Qari (wafat tahun 1014H) yang mensyarahkan kitab al-Misykat. Beliau telah mengarang maulid dengan judul al-Maulid al-Rawi Fi al-Maulidi al-Nabawi. Kitab ini juga telah ditahqiq dan diberi komentar oleh al-Muhaddis al-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki.

13. Al-’Allamah al-Muhaddis al-Musnid al-Sayyid Ja’far bin Hasan bin Abdil Karim al-Barzanji, Mufti Mazhab al-Syafi’e di Madinah al-Munawarah. Beliau merupakan penyusun maulid yang termasyhur yang digelar Maulid al-Barzanji. Sebahagian ulama menyatakan nama asli kitab tersebut ialah Iqd al-Jauhar Fi Maulid al-Nabiy al-Azhar.

14. Al-’Allamah Abu al-Barakat Ahmad bin Muhammad bin Ahmad al-’Adawi yang terkenal dengan al-Dardiri (wafat tahun 1201H). Maulidnya yang ringkas telah dicetak di Mesir dan terdapat hasyiah yang luas dari Syeikh al-Islam di Mesir, al-Allamah al-Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-Bajuri (wafat tahun 1277H)

15. Al-Imam al-’Arif Billah al-Muhaddis al-Musnid al-Sayyid al-Syarif Muhammad bin Ja’far al-Kattani al-Hasani (wafat tahun 1345H). Maulidnya berjudul al-Yumnu Wa al-Is’ad Bi Maulid Khar al-’Ibad dalam 60 halaman, telah diterbitkan di Maghribi pada tahun 1345H.

16. Al-’Allamah al-Muhaqqiq al-Syeikh Yusuf al-Nabhani (wafat tahun 1350H). Maulidnya dalam bentuk susunan bait dinamakan Jawahir al-Nazm al-Badi’ Fi Maulid al-Syafi’, diterbitkan di Beirut.

Hanni's Eyes

It's good fun, this life thing.

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 272 other followers

%d bloggers like this: