Category Archives: I’Tikaf 10 Hari Di Bulan Ramadhan

Amal Di Bulan Ramadhan


Bismillahir rahmanir Rahiim

Allahumma soli ala Sayyidina Muhammad Wa ala Ali Muhammad

Suatu kali sahabat Muhajirin mengadu kepada Nabi SAW bahwa Sahabat Anshar enak sekali, karena mereka telah diberikan kelebihan harta yang dapat mereka sedekahkan sementara mereka tidak bisa karena tidak ada harta yang bisa dijadikan untuk bersedekah, karena harta mereka telah ditinggalkan di Mekkah saat hijrah.

Akhirnya Nabi SAW memberikan solusi bahwa dalam setiap tasbih adalah sedekah, dalam setiap tahlil, tahmid dan takbir adalah sedekah, membantu orang lain adalah sedekah dan lain-lainnya. Bahkan dalam hadits lainnya Nabi saw menyebutkan bahwa pada setiap persendian tubuh manusia juga dapat dijadikan sedekah.. Mendengar jawaban itu para sahabat senang, bahwa mereka bisa bersedekah tanpa mengeluarkan harta. Namun pada hari selanjutnya mereka datang lagi kepada Nabi saw, bahwa kaum Anshar juga melakukan apa yang mereka lakukan seperti yang disampaikan oleh nabi saw.. Akhirnya nabi saw bersabda sambil membaca ayat Allah: “Itulah keutamaan yang Allah berikan kepada masing-masing hamba yang dikehendaki.

Berbahagialah orang yang dilapangkan hartanya untuk bisa bersedekah pada setiap saat, terutama pada saat bulan Ramadhan sehingga pahalanya berlipat ganda dan Berbahagialah orang yang ahli dalam bersedekah sehingga kelak akan menjadi penghalang dirinya dari api neraka dan menjadi bagian masuk ke surga atas izin Allah.

 

Allah SWT berfirman:

 

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

 

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepadaNya-lah kamu dikembalikan.” (Al-Baqarah:245)

 

Rasulullah Saw. bersabda:

 

عَنْ أَنَسٍ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الصَّوْمِ أَفْضَلُ بَعْدَ رَمَضَانَ فَقَالَ شَعْبَانُ لِتَعْظِيمِ رَمَضَانَ قِيلَ فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ

 

“Dari Anas berkata: Nabi saw ditanya puasa apakah yang paling utama setelah Ramadhan? beliau bersabda: Puasa Sya’ban untuk mengagungkan bulan Ramadhan. dikatakan: Sedekah apakah yang paling utama? beliau bersabda: sedekah pada bulan Ramadhan” (Tirmidzi).

 

Hadits ini menunjukkan keutamaan sedekah di bulan Ramadhan. Sedangkan yang dimaksud dengan sedekah pada hadits di atas bisa beragam; sedekah dalam artian zakat yang merupakan kewajiban setiap muslim yang memiliki harta berlebih dan telah mencapai haul serta nishabnya; atau juga sedekah yang berarti infak dalam bentuk harta namun sifatnya sunnah; dan dapat juga diartikan dengan sedekah sunnah namun bentuknya lebih umum, tidak hanya bersifat materi namun juga perkataan, perbuatan, gerak, dan lain sebagainya. Dan termasuk di dalamnya adalah memberi makan (ifthar) atau sahur kepada orang yang berpuasa. Seperti yang termaktub dalam hadits, bahwa Nabi saw bersabda:

 

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

 

“Barang siapa memberi buka puasa pada orang yang berpuasa maka baginya semisal pahala mereka tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala mereka.” (At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Darimi).

Menjadikan waktu bersedekah dan berzakat pada bulan Ramadhan karena itu adalah waktu yang utama, saat kedermawanan dan mulia. Nabi saw adalah manusia yang paling dermawan, tetapi beliau menjadi lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan, tatkala Jibril menjumpai beliau untuk bertadarus Al-Qur’an.

Sedekah di bulan Ramadhan lebih utama dibandingkan di luar Ramadhan, karena Nabi saw menyebutnya dengan bulan muwasah (saling tolong menolong dan peduli). Nabi saw sangat dermawan di bulan Ramadhan, tepatnya ketika malaikat Jibril menemuinya. Rasulullah saw lebih dermawan terhadap hartanya daripada angin yang berhembus.

Adapun manfaat dan keutamaan sedekah:

1. Sedekah dapat mengantarkan ke surga. Allah berfirman:

 

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

 

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara sembunyi dan terang-terangan, Maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah:274).

 

2. Sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah, akan dilipatgandakan sampai 700 kali lipat. Allah SWT berfirman:

 

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

 

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah:261)

 

3. Bersedekah termasuk sifat orang yang bertaqwa. Allah SWT berfirman:

 

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ . الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

 

 

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (Ali Imran:133-134)

 

4. Harta yang disedekahkan akan diganti oleh Allah. Allah SWT berfirman:

 

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

 

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (Saba’:39)

 

5. Sedekah yang paling utama ialah saat harta masih dibutuhkan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah :

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ حَرِيصٌ تَأْمُلُ الْغِنَى وَتَخْشَى الْفَقْرَ وَلَا تُمْهِلْ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلَانٍ كَذَا وَلِفُلَانٍ كَذَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ

 

“Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw. : Ya Rasulullah, sedekah apakah yang paling utama? Beliau bersabda: (Sedekah yang ketika) engkau bersedekah itu dalam keadaan sehat lagi pula masih sayang (kepada apa yang engkau sedekahkan itu), dimana engkau dalam keadaan khawatir jatuh miskin dan sedang memikirkan kekayaan. Janganlah engkau menunda-nunda (bersedekah) hingga ruh telah sampai di tenggorokan (sekarat) lalu engkau berwasiat: Ini untuk si Fulan sekian dan untuk si Fulan sekian, padahal (pada saat itu hartamu) sudah pindah hak kepada Fulan (ahli waris).” (Bukhari)

 

6. Orang yang bersedekah dengan maksud untuk melapangkan hidup orang mukmin di dunia, kelak di akhirat akan dilapangkan oleh Allah. Rasulullah saw. bersabda :

 

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

 

“Barangsiapa melapangkan seorang mukmin dari salah satu kesusahan dunia, maka Allah akan melapangkannya dari salah satu kesusahan-kesusahan hari kiamat, dan barangsiapa meringankan penderitaan seseorang, maka Allah akan meringankan penderitaannya di dunia dan akhirat, dan barangsiapa menutupi (cacat) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (cacatnya) di dunia dan akhirat, dan Allah akan selalu memberi pertolongan kepada seseorang selama orang tersebut suka membantu saudaranya..” (Muslim)

 

7. Harta yang dikeluarkan sedekahnya tidak akan berkurang, bahkan akan ditambah oleh Allah. Rasulullah saw bersabda :

 

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

 

“Harta itu tidak akan berkurang karena disedekahkan, Allah tidak akan menambah seorang hamba yang suka memaafkan kecuali kemuliaan, dan tidaklah seorang itu berlaku tawadhu karena Allah kecuali Allah akan meninggikan derajatnya.” (Muslim)

 

8. Orang yang suka bersedekah dengan ikhlas akan mendapat naungan pada hari kiamat di padang mahsyar. Rasulullah saw bersabda :

 

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ …. وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ

 

“Ada tujuh golongan yang nanti pada hari kiamat akan mendapat naungan dari Allah di saat itu tidak ada naungan kecuali ha-nya naungan-Nya, yaitu: … Seorang yang bersedekah kemudian merahasiakannya, sampai-sampai (ibarat) tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya……” (Bukhari)

Rahasia Lailatul Qadar Menurut Ihya’ ‘Ulumiddin


Bismillahir Rahmanir Rahiim
Dan Malam Al-Qadar adalah malam yang terbuka padanya sesuatu dari alam malakut. Dan itulah yang dimaksudkan dengan firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya Kami turunkan pada Malam Al-Qadar.” (Al-Qadr : 1)

Barangsiapa menjadikan di antara hati dan dadanya tempat penampung makanan, maka dia terhijab daripada-Nya. Dan barangsiapa mengosongkan perutnya, maka yang demikian itu belum mencukupi untuk mengangkatkan hijab, sebelum kosong cita-citanya daripada selain Allah ‘Azza wa Jalla. Dan itulah urusan seluruhnya. Dan pangkal semuanya itu adalah dengan menyedikitkan makanan.

Begitulah kata-kata Hujjatul Islam Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’nya.

HURAIAN

Alam malakut secara ringkasnya ialah alam ghaib yang antara penghuninya ialah para malaikat. Alam ini terhijab daripada pandangan bangsa jin dan manusia, sebagaimana alam jin terhijab kepada pandangan manusia. Menurut Imam Al-Ghazali, sebahagian daripada alam malakut ini terbuka pada Malam Al-Qadar.

Sabda baginda Rasulullah saw :

“Jikalau tidaklah kerana syaitan-syaitan itu berkeliling atas hati anak Adam, niscaya anak-anak Adam melihat ke alam malakut yang tinggi.” (Ahmad)

Sebelum melanjutkan uraian ini, hendaklah kita fahami bahawa “mendapat” Lailatul Qadar itu sekurang-kurangnya ada 4 jenis :

1. Dapat tahu bila Malam Al-Qadar berlaku

2. Dapat kelebihan Malam Al-Qadar

3. Dapat tahu bila Malam Al-Qadar dan dapat kelebihannya.

4. Dapat tahu, dapat kelebihannya dan dapat ‘menyaksikan’ Malam Al-Qadar itu.

Dapat tahu Malam Al-Qadar adalah dengan terjumpa perkara yang pelik-pelik. Antara kejadian yang biasa dikisahkan orang adalah seperti terlihat begitu banyak tahi bintang berguguran, air tasik tidak berkocak, pokok-pokok merendahkan diri, kecerahan di mana-mana, orang yang kacak berserban dan berjubah putih lagi bercahaya tubuhnya, alam terlalu sunyi, tercium bau yang sangat wangi dan pelbagai lagi.

Ada kemungkinan dengan menemui hal-hal sebegini bermaksud malam itulah Malam Al-Qadar, dan ada kemungkinan juga bukan Malam Al-Qadar. Namun ‘dapat Lailatul Qadar’ pada pandangan kebanyakan orang adalah dengan dapat melihat atau mengalami perkara yang ajaib-ajaib seperti yang disebutkan tadi. Perkara-perkara sebegitulah yang dicari-cari dan dikejar-kejar oleh mereka. Jika berjaya melihat atau mengalami sesuatu yang luar biasa pada malam itu, bukan main puas hati dan kadang-kadang sampai ke tahap berbangga dengan orang lain yang gagal memperolehinya. Padahal “dapat Lailatul Qadar’ seperti itu bukanlah ‘dapat lailatul Qadar’ sebagaimana yang dimaksudkan oleh Rasulullah saw.

Jenis kedua – dapat kelebihan Malam Al-Qadar. Jenis inilah yang dikehendaki oleh Rasulullah saw, iaitu dengan meningkatkan keimanan dan membanyakkan amal pada malam-malam Ramadhan, dan kebetulan perlakuan itu bertepatan dengan malam yang berlakunya Malam Al-Qadar. Dapat kelebihan Malam Al-Qadar tanpa mengetahui yang malam itu adalah Malam Al-Qadar, adalah jauh lebih baik daripada dapat tahu malam itu Malam Al-Qadar tetapi tidak menghabiskan masa untuk meningkatkan keimanan dan membanyakkan amal padanya.

“Adalah Rasulullah saw apabila masuk sepuluh (hari) yang akhir, maka (baginda) melipatkan tikar (menyimpan tempat tidurnya), mengikatkan pinggang dan telah membiasakan diri dan keluarganya sebegitu.” (Bukhari, Muslim)

Jenis ketiga – inilah yang lebih baik, iaitu dengan mengerjakan amal pada malam itu dan mengetahui yang malam itulah Malam Al-Qadar.

Jenis keempat? Ikuti uraian di bawah.

Imam al-Ghazali dan orang-orang soleh lain pada zamannya punya banyak pengalaman tentang Lailatul Qadar. Oleh itu Imam Al-Ghazali memberikan tips kepada kita untuk bertemu dengan Malam Al-Qadar. Tips yang diutarakan olehnya di sini adalah dengan menyedikitkan makanan melalui istilah yang digunakannya iaitu “mengosongkan perutnya”. Sesiapa yang banyak makan pada malam itu sebagaimana istilah yang digunakannya iaitu “menjadikan di antara hati dan dadanya tempat penampung makanan”, nescaya orang itu terhijab/ terdinding daripada mendapat Lailatul Qadar.

Kata Al-Ghazali : “Bahawa tidak membanyakkan makanan yang halal ketika berbuka, di mana rongganya penuh melimpah. Maka tidak adalah karung yang lebih dimarahi Allah ‘Azza wa Jalla daripada perut yang penuh dengan (makanan) yang halal.”

Berdasarkan petuah ini, maka para pencari Lailatul Qadar hendaklah makan sekadarnya sahaja pada waktu malam bulan Ramadhan, dari waktu berbuka hinggalah ke sahur. Antara amalan yang tidak sesuai pada pandangan Imam Al-Ghazali adalah sengaja berbuka puasa dengan pelbagai jenis makanan pada setiap hari. Perlakuan ini tidak ubah seperti mengumpulkan sarapan, minum pagi, makan tengah hari, minum petang dan makan malam untuk di makan sekaligus pada waktu Maghrib.

Al-Ghazali juga memperingatkan kita agar tidak memuaskan nafsu makan dengan memakan makanan yang tidak kita makan pada bulan-bulan lain. Maksudnya pada setiap hari ada saja makanan dan  yang sukar kita temui pada hari-hari biasa, tetapi kita mencarinya pada bulan Ramadhan.

Tidak mengapa jika sesekali kita melebihkan jua untuk menggembirakan sedikit hati kita terutamanya kanak-kanak, para muallaf, orang yang sedang kita dakwahkan dan orang yang baru belajar-belajar hendak memperbaiki keagamaannya.

Hal-hal yang disebutkan inilah yang dimaksudkan oleh Al-Ghazali dengan kata-katanya : “Bagaimanakah dapat memperolehi faedah daripada puasa, memaksakan (menyusahkan) musuh Allah (syaitan) dan menghancurkan hawa nafsu, apabila diperoleh oleh orang yang berpuasa ketika berbuka apa yang tidak diperolehnya pada siang hari? Kadang-kadang bertambah lagi dengan pelbagai macam warna makanan, sehingga berjalanlah kebiasaan dengan menyimpan segala macam makanan itu untuk bulan Ramadhan. Maka dimakanlah segala makanan itu dalam bulan Ramadhan, apa yang tidak dimakan dalam bulan-bulan (lain) ini.”

Katanya lagi : “Maka jiwa dan rahsia puasa ialah melemahkan kekuatan yang menjadi jalan syaitan dalam mengembalikan kepada kejahatan. Dan yang demikian itu tidak akan berhasil selain dengan menyedikitkan makanan, iaitu dengan memakan makanan yang dimakan setiap malam kalau tidak berpuasa. Apabila dikumpulkan apa yang dimakan pada pagi hari kepada apa yang dimakan pada malam, maka tidaklah bermanfaat dengan puasanya itu.”

Bayangkan, dari pagi hingga ke petang kita kosongkan perut. Semakin lama semakin lapar. Pada waktu berbuka, tahap kelaparan dan keinginan kita mencapai kemuncaknya, lebih hebat daripada kelaparan dan keinginan pada hari-hari biasa. Tiba-tiba dalam keadaan sebegitu, kita lambakkan dengan pelbagai makanan dan minuman yang lazat-lazat di depan mata. Akibatnya, lebih kuatlah rasa lapar dan melonjaklah nafsu makan. Akhirnya, kita makan dengan lebih bernafsu lagi berbanding makan pada hari-hari yang tidak berpuasa. Ke mana perginya puasa dan Ramadhan yang berperanan sebagai penunduk hawa nafsu?

Inilah maksud kata-kata Imam Al-Ghazali : “Apabila perut ditolak (dikosongkan) daripada makanan sejak pagi sampai ke petang, sehingga perut itu bergolak keinginannya dan bertambah kuat kegemarannya (keinginannya untuk makan), kemudian disuguhkan (dihidangkan) dengan makanan yang lazat-lazat dan kenyang, nescaya bertambahlah kelazatan dan berlipatgandalah kekuatannya, serta membangkitkan nafsu syahwat itu, apa yang diharapkannya tadi tenang, jikalau dibiarkan atas kebiasaannya.”

Berbalik kepada Malam Al-Qadar. Dikatakan tadi malam yang sangat istimewa itu terhijab daripada kita hasil banyaknya makan pada waktu malam. Terhijab yang dimaksudkan di sini ada dua jenis :

1. Terhijab daripada ‘menyaksikan’ malam itu kerana penuhnya makanan membenakkan mata hati. Umumnya mata hati yang benak tidak akan mampu melihat alam malakut ataupun kesan-kesannya.

2. Terhijab daripada membanyakkan amal pada malam itu kerana perut yang kenyang mewariskan lemah badan, mengantuk dan malas. Malam istimewa itu pun berlalu begitu sahaja kerana pengisian kita dipenuhi dengan banyak berehat dan tidur.

Alangkah ruginya jika kita sendiri yang menghijab Lailatul Qadar itu, padahal kita sering mendakwa kita rindu, ternanti-nanti dan tercari-cari malam berlangsungnya.

Oleh itu, tindakan yang mesti kita ambil untuk 10 malam terakhir Ramadhan, dan sepatutnya pada seluruh Ramadhan, adalah dengan menyedikitkan makan. Bagaimana itu? Mestikah kita berlapar siang dan berlapar pula pada malamnya? Tidak! Pada waktu malam, makan dan minumlah sekadar untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga, bukannya sampai kenyang dan puas. InsyaAllah dengan kaedah ini, semakin cerah peluang kita untuk bertemu dengan Malam Al-Qadar, menghidupkannya, malah ‘menyaksikannya’.

Al-Ghazali mengatakan : “Maka semoga syaitan tidak mengelilingi hatinya (hati manusia dan jin), lalu dapat ia memandang ke alam tinggi.”

Namun begitu, dengan menyedikitkan makanan sahaja belum memadai. Kata Al-Ghazali : “Barangsiapa menjadikan di antara hati dan dadanya tempat penampung makanan, maka dia terhijab daripada-Nya. Dan barangsiapa mengosongkan perutnya, maka yang demikian itu belum mencukupi untuk mengangkatkan hijab, SEBELUM KOSONG CITA-CITANYA DARIPADA SELAIN ALLAH ‘AZZA WA JALLA. Dan itulah urusan seluruhnya. Dan PANGKAL SEMUANYA ITU adalah dengan menyedikitkan makanan.”

Dengan tasawuf, Ramadhan anda akan lebih bererti lagi bermanfaat untuk dunia dan akhirat.

WaAllahua’lam.

Shiratul-mustaqim


Bismillahir Rahmnir Rahiim

Allah menyebutkan Ash-Shiratul-mustaqim dalam bentuk tunggal dan diketahui secara jelas, karena ada lam ta’rif dan karena ada keterangan tambahan, yang menunjukkan kejelasan dan kekhususannya, yang berarti jalan itu hanya satu. Sedangkan jalan orang-orang yang mendapat murka dan sesat dibuat banyak. Firman-Nya,

“Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus,maka ikutilah ia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya.”(Al-An’am: 153).

Allah menunggalkan lafazh ash-shirath dan sabilihi, membanyakkan lafazh as-subula, sehingga jelas perbedaan di antara keduanya. Ibnu Mas’ud berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menorehkan satu garis di hadapan kami, seraya bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’. Kemudian beliau menorehkan beberapa garis lain di kiri kanan beliau, seraya bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan yang lain. Pada masing-masing jalan ini ada syetan yang mengajak kepadanya’. Kemudian beliau membaca ayat, ‘Dan bahwa…’.”

Pasalnya, jalan yang menghantarkan kepada Allah hanya ada satu,yaitu jalan yang karenanya Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab. Tak seorang pun bisa sampai kepada Allah kecuali lewat jalan ini. Andaikan manusia melalui berbagai macam jalan dan membuka berbagai macam pintu, maka jalan itu adalah jalan buntu dan pintu. itu terkunci.

Ash-Shirathul-mustaqim adalah jalan Allah. Sebagaimana yang pernah kami singgung, Allah mengabarkan bahwa ash-shirath itu ada pada Allah dan Allah ada pada ash-shirathul-mustaqim. Yang demikian ini disebutkan di dua tempat dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Rabbku di atas jalan yang lurus.” (Hud: 56).

“Dan Allah membuat perumpamaan: Dua orang lelaki, yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu pun dan dia menjadi beban ataspenanggungnya,kemana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus?” (An-Nahl: 76).

Inilah perumpamaan yang diberikan Allah terhadap para berhala yang tidak dapat mendengar, tidak dapat berbicara dan tidak berakal, yang justru menjadi beban bagi penyembahnya. Berhala membutuhkan penyembahnya agar dia membawa, memindahkan dan meletakkannya di tempat tertentu serta mengabdi kepadanya. Bagaimana mungkin mereka mempersamakan berhala ini dengan Allah yang menyuruh kepada keadilan dan tauhid, Allah yang berkuasa dan berbicara, yang Maha-kaya, yang ada di atas ash-shirathul-mustaqim dalam perkataan dan perbuatan-Nya? Perkataan Allah benar, lurus, berisi nasihat dan petunjuk, perbuatan-Nya penuh hikmah, rahmat, bermaslahat dan adil.

Inilah pendapat yang paling benar tentang hal ini, dan sayangnya jarang disebutkan para mufassir atau pun ulama lainnya. Biasanya mereka lebih mem-prioritaskan pendapat pribadi, baru kemudian menyebutkan dua ayat ini, seperti yang dilakukan Al-Baghawy. Sementara Al-Kalby berpendapat, “Artinya Dia menunjukkan kalian kepada jalan yang lurus.”

Kami katakan, petunjuk-Nya kepada jalan yang lurus merupakan keharusan keberadaan Allah di atas ash-shirathul-mustaqim. Petunjuk-Nya dengan perbuatan dan perkataan-Nya, dan Dia berada di atas ash-shirathulmustaqim dalam perbuatan dan perkataan-Nya. Jadi pendapat ini tidak bertentangan dengan pendapat orang yang mengatakan bahwa Dia berada di atas ash-shirathul-mustaqim.

Jika ada yang mengatakan, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sal-lam menyuruh kepada keadilan”, berarti beliau berada di atas ash-shirathulmustaqim.

Hal ini dapat kami tanggapi sebagai berikut: Inilah yang memang sebenarnya dan tidak bertentangan dengan pendapat di atas. Allah berada di atas ash-shirathul-mustaqim, begitu pula Rasul-Nya. Beliau tidak menyuruh dan tidak berbuat kecuali menurut ketentuan dari Allah. Berdasarkan pengertian inilah perumpamaan dibuat untuk menggambarkan pemimpin orang-orang kafir, yaitu berhala yang bisu, yang tidak mampu berbuat apa pun untuk menunjukkan kepada hidayah dan kebaikan. Sedangkan pemimpin orang-orang yang baik, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruh kepada keadilan, yang berarti beliau berada di atas ash-shirathul-mustaqim.

Karena orang yang mencari ash-shirathul-mustaqim masih mencari sesuatu yang lain, maka banyak orang yang justru menyimpang dari jalan lurus itu. Karena jiwa manusia diciptakan dalam keadaan takut jika sendirian dan lebih suka mempunyai teman karib, maka Allah juga mengingatkan tentang teman karib saat melewati jalan ini. Orang-orang yang layak dijadikan teman karib adalah para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin. Mereka inilah orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah. Dengan begitu rasa takut dari gangguan orang-orang di sekitarnya karena dia sendi-rian saat meniti jalan, menjadi sirna. Dia tidak risau karena harus berbeda dengan orang-orang yang menyimpang dari jalan tersebut. Mereka adalah golongan minoritas dari segi kualitas, sekalipun mereka merupakan golongan mayoritas dari segi kuantitas, seperti yang dikatakan sebagian salaf, “Ikutilah jalan kebenaran dan jangan takut karena minimnya orang-orang yang mengikuti jalan ini. Jauhilah jalan kebatilan dan jangan tertipu karena banyaknya orang-orang yang mengikutinya.” Jika engkau meniti jalan kebenaran, teguhkan hatimu dan tegarkan langkah kakimu, jangan menoleh ke arah mereka sekalipun mereka memanggil-manggilmu, karena jika sekali saja engkau menoleh, tentu mereka akan menghambat perjalananmu.

Karena memohon petunjuk jalan yang lurus merupakan permohonan yang paling tinggi nilainya, maka Allah mengajarkan kepada hamba-hamba-Nya bagaimana cara berdoa kepada-Nya dan memerintahkan agar mereka mengawalinya dengan pujian dan pengagungan kepada-Nya,kemudian menyebutkan ibadah dan pengesaan-Nya. Jadi ada dua macam tawassul dalam doa:

1. Tawassul dengan asma’ dan sifat-sifat-Nya serta memuji-Nya.

2. Tawassul dengan beribadah dan mengesakan-Nya.

Surat Al-Fatihah juga memadukan dua tawassul ini. Setelah dua tawassul ini digunakan, bisa disusul dengan permohonan yang paling penting,yaitu hidayah. Siapa pun yang berdoa dengan cara ini, maka doanya layak dikabulkan.

Kisah Doa Yang Tertolak


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Suatu hari Ibrahim bin Adham radhiyallahu ‘anhu berada di sebuah pasar Kota Bashrah, Irak. Masyarakat Bashrah mendatangi beliau dan bertanya :

“Duhai Abu Ishaq, mengapa do’a-do’a kami tidak terkabul?”

Ibrahim bin Adham radhiyallahu ‘anhu berkata :

Do’a kalian tidak terkabul karena hati kalian telah mati dan penyebab matinya hati kalian adalah sepuluh hal :

Pertama, kalian mengenal Allah, tetapi tidak memenuhi hak-hak-Nya.

Kedua, kalian mengaku cinta kepada Rasulullah SAW, tetapi tidak mengikuti sunnah-sunnahnya.

Ketiga, kalian membaca Al-Qur’an, tetapi tidak mengamalkan isinya.

Keempat, kalian menikmati berbagai karunia Allah, tetapi tidak bersyukur kepada-Nya.

Kelima, kalian nyatakan setan sebagai musuh, tetapi tidak menentangnya.

Keenam, kalian nyatakan Surga itu benar-benar ada, tetapi tidak beramal untuk memperolehnya.

Ketujuh, kalian nyatakan bahwa Neraka itu ada, tetapi tidak berusaha untuk menghindarinya.

Kedelapan, kalian nyatakan kematian itu pasti datang, tetapi tidak bersiap-siap untuk menyambutnya.

Kesembilan, sejak bangun tidur kalian sibuk meneliti dan memperbincangkan aib (keburukan) orang lain dan melupakan aib (keburukan) kalian sendiri.

Kesepuluh, kalian kuburkan mereka yang meninggal di antara kalian, tetapi tidak pernah memetik pelajaran darinya.

Al’Fatihah dan Maknanya


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Mengingat kesempurnaan manusia itu hanya tercapai dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih seperti yang terkandung di dalam surat Al-Ashr, maka Allah bersumpah bahwa setiap orang akan merugi,kecuali siapa yang mampu menyempurnakan kekuatan ilmiahnya dengan iman dan kekuatan amaliahnya dengan amal shalih serta menyempurnakan kekuatan selainnya dengan nasihat kepada kebenaran dan kesabaran menghadapinya. Yang paling penting adalah iman dan amal, yang tidak bisa berkembang kecuali dengan sabar dan nasihat.

Selayaknya bagi manusia untuk meluangkan sedikit waktunya, agar dia mendapatkan tuntutan yang bernilai tinggi dan membebaskan dirinya dari kerugian. Caranya ialah dengan memahami Al-Qur’an dan mengeluarkan kandungannya. Karena hanya inilah yang bisa mencukupi ke-maslahatan hamba di dunia dan di akhirat serta yang bisa menghantarkan mereka ke jalan lurus.

Berkat pertolongan Allah, kami bisa menjabarkan makna Al-Fatihah,menjelaskan berbagai macam isi yang terkandung di dalam surat ini,berupa berbagai macam tuntutan, bantahan terhadap golongan-golongan yang sesat dan ahli bid’ah, etape orang-orang yang berjalan kepada Allah,kedudukan orang-orang yang berilmu, perbedaan antara sarana dan tujuan. Tidak ada sesuatu pun yang bisa mewakili kedudukan surat Al-Fatihah ini. Karena itu Allah tidak menurunkan di dalam Taurat,Injil maupun Jabur, yang menyerupai Al-Fatihah.

Surat Al-Fatihah mencakup berbagai macam induk tuntutan yang tinggi. Ia mencakup pengenalan terhadap sesembahan yang memiliki tiga nama, yaitu Allah, Ar-Rabb dan Ar-Rahman. Tiga asma ini merupakan rujukan Asma’ul-Husna dan sifat-sifat yang tinggi serta menjadi porosnya. Surat Al-Fatihah menjelaskan ilahiyah, Rububiyah dan Rahmah. Iyyakana’budu merupakan bangunan di atas Ilahiyah, Iyyaka nasta’in di atas Rububiyah, dan mengharapkan petunjuk kepada jalan yang lurus merupakan sifat rahmat. Al-Hamdu mencakup tiga hal: Yang terpuji dalam Ilahiyah-Nya, yang terpuji dalam Rububiyah-Nya dan yang terpuji dalam rahmat-Nya.

Surat Al-Fatihah juga mencakup penetapan hari pembalasan, pembalasan amal hamba, yang baik dan yang buruk, keesaan Allah dalam hukum, yang berlaku untuk semua makhluk, hikmah-Nya yang adil, yang semua ini terkandung dalam maliki yaumiddin.

Surat Al-Fatihah juga mencakup penetapan nubuwah, yang bisa dilihat dari beberapa segi:

1. Keberadaan Allah sebagai Rabbul-‘alamin. Dengan kata lain, tidak layak bagi Allah untuk membiarkan hamba-hamba-Nya dalam keadaan sia-sia dan telantar, tidak memperkenalkan apa yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat mereka, serta apa yang mendatangkan mudharat di dunia dan di akhirat.

2. Bisa disimpulkan dari asma-Nya, Allah, yang berarti disembah dan dipertuhankan.Hamba tidak mempunyai cara untuk bisa mengenal sesembahannya kecuali lewat para rasul.

3. Bisa disimpulkan dari asma-Nya, Ar-Rahman. Rahmat Allah mencegah-Nya untuk menelantarkan hamba-Nya dan tidak memperkenalkan kesempurnaan yang harus mereka cari. Dzat yang diberi asma Ar-Rahman tentu memiliki tanggung jawab untuk mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab. Tanggung jawab ini lebih besar daripada tanggung jawab untuk menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman dan mengeluarkan biji-bijian. Konsekuensi rahmat untuk menghidupkan hati dan ruh, lebih besar daripada konsekuensi menghidupkan badan.

4. Bisa disimpulkan dari penyebutan yaumid-din, yaitu hari di mana Allah akan memberikan pembalasan terhadap amal hamba. Dia memberikan pahala kepada mereka atas kebaikan, dan menyiksa mereka atas keburukan dan kedurhakaan. Tentu saja Allah tidak akan menyiksa seseorang sebelum ditegakkan hujjah atas dirinya. Hujjah ini tegak lewat para rasul dan kitab-kitab-Nya.

5. Bisa disimpulkan dari iyyaka na’budu. Beribadah kepada Allah tidak boleh dilakukan kecuali dengan cara yang diridhai dan dicintai-Nya. Beribadah kepada-Nya berarti bersyukur, mencintai dan takut kepada- Nya, berdasarkan fitrah, sejalan dengan akal yang sehat. Cara beribadah ini tidak bisa diketahui kecuali lewat para rasul dan berdasarkan penjelasan mereka.

6. Bisa disimpulkan dari ihdinash-shirathal-mustaqim. Hidayah adalah keterangan dan bukti, kemudian berupa taufik dan ilham. Bukti dan keterangan tidak diakui kecuali yang datang dari para rasul. Jika ada bukti dan keterangan serta pengakuan, tentu akan ada hidayah dan taufik, iman tumbuh di dalam hati, dicintai dan berpengaruh di dalamnya. Hidayah dan taufik berdiri sendiri, yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan bukti dan keterangan. Keduanya mencakup pengakuan kebe-naran yang belum kita ketahui, baik secara rinci maupun global. Dari sini dapat diketahui keterpaksaan hamba untuk memanjatkan permo-honan ini jika dia dalam keadaan terdesak, serta menunjukkan keba-tilan orang yang berkata, “Jika kita sudah mendapat petunjuk, lalu untuk apa kita memohon hidayah?” Kebenaran yang belum kita ketahui jauh lebih banyak dari yang sudah diketahui. Apa yang tidak ingin kita kerjakan karena menganggapnya remeh atau malas, sebenarnya  serupa dengan apa yang kita inginkan atau bahkan lebih banyak. Sementara kita membutuhkan hidayah yang sempurna. Siapa yang menganggap hal-hal ini sudah sempurna di dalam dirinya, maka permohonan hidayah ini merupakan permohonan yang bersifat peneguhan dan berkesinambungan. Memohon hidayah mencakup permohonan untuk mendapatkan segala kebaikan dan keselamatan dari kejahatan.

7. Dengan cara mengetahui apa yang diminta, yaitu jalan yang lurus. Tapi jalan itu tidak bisa disebut jalan kecuali jika mencakup lima hal: Lurus, menghantarkan ke tujuan, dekat, cukup untuk dilalui dan merupakan satusatunya jalan yang menghantarkan ke tujuan. Satu cirinya yang lurus, karena garis lurus merupakan jarak yang paling dekat di antara dua titik, sehingga ada jaminan untuk menghantarkan ke tujuan.
Sebelumnya

8. Bisa disimpulkan dari orang-orang yang diberi nikmat dan perbedaan mereka dari golongan yang mendapat murka dan golongan yang sesat. Ditilik dari pengetahuan tentang kebenaran dan pengamalannya, maka manusia bisa dibagi menjadi tiga golongan ini (golongan yang diberi nikmat, yang mendapat murka dan yang sesat). Hamba ada yang mengetahui kebenaran dan ada yang tidak mengetahuinya. Yang mengetahui kebenaran ada yang mengamalkan kewajibannya dan ada yang menentangnya. Inilah macam-macam orang mukallaf. Orang yang mengetahui kebenaran dan mengamalkannya adalah orang yang mendapat rahmat, dialah yang mensucikan dirinya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih, dan dialah yang beruntung. Orang yang mengetahui kebenaran namun mengikuti hawa nafsunya, maka dia adalah orang yang mendapat murka. Sedangkan orang yang tidak mengetahui kebenaran adalah orang yang sesat. Orang yang mendapat murka adalah orang yang tersesat dari hidayah amal. Orang yang tersesat mendapat murka karena kesesatannya dari ilmu yang harus diketahuinya dan amal yang harus dikerjakannya. Masing-masing di antara keduanya sesat dan mendapat murka. Tapi orang yang tidak beramal berdasarkan kebenaran setelah dia mengetahui kebenaran itu, jauh lebih layak mendapat murka. Karena itu orang-orang Yahudi lebih layak mendapat murka. Sedangkan orang yang tidak mengetahui kebenaran lebih pas disebut orang yang sesat, dan inilah sifat yang layak diberikan kepada orang-orang Nashara, sebagaimana firman-Nya,

“Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus’. “(Al-Maidah: 77).

Penggal pertama tertuju kepada orang-orang Yahudi dan penggal kedua tertuju kepada orang-orang Nashara. Di dalam riwayat At-Tirmidzy dan Shahih Ibnu Hibban, dari hadits Ady bin Hatim, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,“Orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang mendapat murka dan orang-orang Nashara adalah orang-orang yang sesat.” Nikmat dikaitkan secara jelas kepada Allah.

Sedangkan pelaku kemurkaan disamarkan. Hal ini bisa dilihat dari beberapa pertimbangan:

1. Nikmat itu merupakan gambaran kebaikan dan karunia, sedangkan kemurkaan berasal dari pintu pembalasan dan keadilan. Sementara rahmat mengalahkan kemurkaan.Tentang pengkhususan nikmat yang diberikan kepada orang-orang yang mengikuti jalan lurus, maka itu adalah nikmat yang mutlak dan yang mendatangkan keberuntungan yang abadi. Sedangkan nikmat itu secara tak terbatas diberikan kepa

da orang Mukmin dan juga orang kafir. Jadi setiap makhluk ada dalam nikmat-Nya. Di sinilah letak rincian perselisihan tentang pertanyaan,”Apakah Allah memberikan kepada orang kafir ataukah tidak?” Nikmat yang tak terbatas hanya bagi orang yang beriman, dan ketidakterbatasan nikmat itu bagi orang Mukmin dan juga bagi orang kafir. Inilah makna firman-Nya,

“Dan, jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah kalian dapat menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangatzhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Ibrahim: 34).

2.. Allahlah satu-satunya yang memberikan nikmat, sebagaimana firman-Nya,

“Dan, apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allahlah (datangnya).” (An-Nahl: 53).

Sedangkan kemurkaan kepada musuh-musuh-Nya, maka bukan Allah saja yang murka, tapi para malaikat, nabi, rasul dan para wali-Nya juga murka kepada musuh-musuh Allah.

3. Ditiadakannya pelaku kemurkaan menunjukkan keremehan orang yang mendapat murka dan kehinaan keadaannya. Hal ini berbeda dengan disebutkannya pemberi nikmat, yang menunjukkan kemuliaan orang yang mendapat nikmat.

Perhatikanlah secara seksama rahasia penyebutan sebab dan balasan bagi tiga golongan ini dengan lafazh yang ringkas. Pemberian nikmat kepada mereka mencakup nikmat hidayah, berupa ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih atau petunjuk dan agama yang benar, di samping kesempurnaan nikmat pahala. Lafazh an’amta ‘alaihim mencakup dua perkara ini.

Penyebutan murka Allah terhadap orang-orang yang dimurkai, juga mencakup dua perkara:

- Pembalasan dengan disertai kemurkaan, yang berarti ada siksa dan pelecehan.

- Sebab yang membuat mereka mendapat murka-Nya.

Allah terlalu pengasih untuk murka tanpa ada ke jahatan dan kesesatan yang dilakukan manusia. Seakan-akan murka Allah itu memang layak diberikan kepada mereka karena kesesatan mereka. Penyebutan orang-orang yang sesat juga mengharuskan murka Allah dan siksa-Nya terhadap mereka. Dengan kata lain, siapa yang sesat layak mendapat siksa, sebagai konsekuensi dari kesesatannya.

Perhatikanlah kontradiksi antara hidayah dan nikmat dengan murka dan kesesatan. Allah menyebutkan orang-orang yang mendapat murka dan yang sesat pada sisi yang berseberangan dengan orang-orang yang mendapat petunjuk dan mendapat nikmat. Yang pertama seperti firman Allah,

“Dan, barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit”. (Thaha: 124).

Yang kedua seperti firman Allah,

“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabbnya dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (Al-Baqarah: 5).

Tentang PUASA


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Puasa yang ditentukan oleh syari’at adalah menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh, sejak masuk subuh hingga masuk waktu maghrib. Puasa dari segi ruhani bermakna membersihkan semua panca indera dan pikiran dari hal hal yang haram, selain menahan diri dari perkara perkara yang membatalkan yang telah ditetapkan dalam puasa syari’at itu.

Bila seseorang berpuasa hendaknya mampu mengharmonikan kondisi lahir dan bathinnya, seperti perutnya yang dikosongkan dari makanan dan minuman.

Puasa dari segi ruhani akan batal, bila niat dan tujuannya tergelincir kepada sesuatu yang haram, walau hanya sedikit. Puasa menurut syari’at berkaitan dengan waktu, tetapi puasa secara ruhani tidak pernah mengenal waktu, terus menerus berlangsung sepanjang hayat di dunia dan di akhirat. Inilah puasa yang hakiki, seperti yang dikenal oleh orang-orang yang hati dan jiwanya bersih. Puasa adalah pembersihan di atas pembersihan.

Janganlah kita berpuasa jika dalam puasa itu kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga, tanpa mendapat pahala atau kedekatan dengan Allah. Orang awam atau orang kebanyakan akan segera berbuka bila waktu berbuka telah tiba. Tetapi orang yang ruhaninya ikut berpuasa, tidak akan pernah berhenti berpuasa secara ruhani, walaupun secara fisik ia juga berbuka sepertti yang dilakukan oleh kebanyakan orang, apabila telah datang waktu berbuka. Inilah orang yang membersihkan panca indera dan fikirannya dari perbuatan perbuatan maksiat dan dosa, dan menahan tangan dan lidahnya dari perbuatan atau kata kata yang menyakitkan hati orang lain. Puasa adalah ibadah yang dilakukan untuk Allah. Dan Dialah yang memberi ganjaran kepada orang-orang yang berpuasa, seperti yang termaktub dalam  sebuah hadits Qudsi, yuang artinya, Hamba-Ku telah berpuasa karena Aku, maka Akulah sendiri yang akan memberikan ganjarannya. Tentu itu adalah suatu keutamaan dari Allah Swt. Untuk orang orang yang berpuasa wajib, terlebih lagi jika puasa itu adalah puasa tatawwu’.

Kemudian orang yang berpuasa itu akan menerima dua kegembiraan, sebagaimana bunyi Hadis Nabi Saw, yaitu kegembiraan ketika ia  berbuka puasa dan kegembiraan ketika ia menemui Tuhannya. Bunyi sabda ini sangat tepat, karena orang yang tidak kuat imannya, akan kesulitan melaksanakan puasanya dengan baik.

Puasa Orang Awam

Orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kenikmatan. Pertama, kenikmatan ketika berbuka. Kedua, kenikmatan ketika melihat.

Orang awam mengatakan bahwa kenikmatan pertama itu berupa kenikmatan menyantap makanan dan minuman ketika waktu berbuka tiba, yakni setelah ia menahan lapar sepanjang hari. Sedangkan kenikmatan ‘melihat’ bagi mereka ialah kenikmatan yang diperoleh ketika melihat tanda tanda bulan Syawal setelah berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan, yang artinya tak lama lagi mereka akan merayakan hari lebaran.

Bagi orang arif yang lebih mengutamakan maksud batin dari puasa, menganggap bahwa kenikmatan berbuka puasa akan terasa ketika ia memasuki surga dan menikmati segala yang ada di dalamnya. Sedangkan maksud kenikmatan ‘ketika melihat’ adalah kenikmatan yang diperoleh bila mereka dapat melihat Allah dengan mata hati.

Selain kedua jenis puasa yang telah diuraikan di atas, ada pula puasa yang lebih tinggi martabatnya dari pada keduanya, yaitu puasa hakiki atau puasa yang sebenarnya. Puasaa ini adalah puasa dengan menahan hati dari menyembah, memuja dan memuji ghayrullah (selain Allah). Puasa ini dilakukan dengan menahan mata hati dari memandang ghayrullah, baik yang lahir maupun yang bathin.

Seperti puasa wajib yang harus dikerjakan oleh seorang Mukmin, puasa hakiki pun harus dilaksanakan oleh orang yang telah sampai kepada tingkatan hakikat yang dicarinya. Jika puasa wajib ditinggalkan, berdosalah ia, karena seolah olah ia telah meninggalkan salah satu dari rukun Islam yang lima. Demikian pula dengan puasa yang hakiki. Puasa ini harus pula dilaksanakan sesuai dengan kemampuannya. Dan puasa ini tidak boleh ditinggalkan atau dibatalkan. Demikianlah maksud puasa hakiki.

Puasa Hakiki

Dalam puasa hakiki, hati dibutakan dari pandangan terhadap ghayrullah dan tertuju hanya kepada Allah serta cinta kepada-Nya. Allah menciptakan segala sesuatu untuk insan dan insan diciptakan Allah untuk dirinya sendiri. Insan adalah rahasia Allah dan Allah rahasia bagi insan. Rahasia itu berupa Nur (cahaya) Allah. Nur itu adalah titik tengah (centre) hati yang diciptakan dari sesuatu yang unik dan gaib. Hanya ruh yang tahu semua rahasia itu. Ruh juga menjadi penghubung rahasia antara Khaliq dan makhluk. Rahasia itu tidak cinta dan tidak tertarik kepada apa dan siapa juga, kecuali Allah Swt.

Betapa ia akan mencintai dan terpikat kepada yang lain selain Tuhan ? Padahal, semua yang selain Allah itu akan binasa dan bersifat sementara atau tidak kekal. Pantaskah seseorang meletakkan cinta dan rindunya kepada sesuatu yang akan binasa dan tidak kekal ?! Bukankah cinta itu suci, dan wajarlah bila cinta itu diletakkan ketempat yang suci seperti itu dan tidak ada yang suci dan kekal selain kesucian Allah Swt. Karena itu, wajar bila manusia yang memahami akan kesucian yang kekal ini memberikan cintanya yang suci hanya kepada Allah Swt. Yang kekal dan Abadi Zat-Nya. Karena itu ruh yang telah mengenal hakikat itu akan memberikan cintanya kepada Zat Allah, dan tidak ingin lagi berpisah dengan-Nya, seperti firman Allah :

“Bahwasanya Rabb kamu ialah Rabb Yang Esa, maka luruskanlah dirimu kepada-Nya ! (Fussilat :6)

Luruskanlah jalan dan pandanganmu hanya kepada-Nya, tidak kepada yang lain selain Dia. Itulah yang diperintahkan Allah kepada manusia. Karena itu pula, tak seorang pun yang patut dipuja dan dipuji, yang patut dicintai dan dirindukan, kecuali Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Tidak ada tujuan akhir yang dituju, kecuali Allah. Jika ada setitik zarah pun cinta terhadap ghayrullah yang masuk ke dalam hatimu, maka batallah puasa hakiki itu. Jika puasa hakiki batal. Kita mengulang puasa hakiki itu, dan menyalakan kembali niat dan harapan kepada Allah di dunia dan akhirat, karena puasa yang dilakukan itu tujuannya untuk Allah dan hanya Allah yang akan memberi ganjaran.

Puasa Adalah Anugerah Allah Swt

Puasa adalah semacam Anugerah/ hadiah yang diberikan Allah kepada setiap umat manusia di muka bumi ini. Setiap manusia diperintahkan Allah untuk menjalankannya. Tetapi, dalam puasa terdapat dua jenis hukum puasa, yaitu puasa wajib dan puasa sunnah. Bagi umat Islam, puasa Ramadhan adalah wajib hukumnya yang dilakukan setiap tahun, yakni ketika datang bulan Ramadhan.

Maksud berpuasa adalah untuk mensucikan diri dan membrsihkan batin dari kotoran yang ditinggalkan oleh hawa nafsu. Berkaitan dengan amalan puasa, Islam memerintahkan manusia agar mengikut sertakan seluruh anggota Jawarih-nya, yakni anggota badannya untuk berpuasa. Artinya, Islam memerintahkan agar seluruh anggota badan manusia mening galkan semua kebiasaan yang cenderung memperturutkan hawa nafsu dengan cara membersihkan diri dari perbuatan perbuatan tercela, dan menunjukkan jalan yang terpuji agar setelah itu ia terbiasa pula dengan kelakuan-kelakuan yang baik-baik pula.

Salah satu cara untuk membersihkan diri dari kotoran dunia adalah dengan menahan makan dan minum tanpa terbatas waktu. Manusia harus menahan diri dari keinginan untuk makan dan minum pada waktu-waktu yang telah ditentukan, yakni waktu siang. Pada waktu-waktu itulah manusia menjadi sangat lapar dan dahaga. Bila perintah Allah telah mengisi perut manusia, maka wajarlah anggota-anggota yang lain mengekang aktivitas-aktivitas yang biasanya dipimpin oleh hawa nafsu.

Mata, misalnya, yang biasa suka melihat hal-hal yang haram dan terlarang, hendaklah dipuasakan dari aktivitas biasanya, dan dididik agar menundukkan diri kepada perintah Tuhan yang menciptakannya. Maka beralihlah ia kepada memandang segala yang mendatangkan keridhaan Tuhannya mengikuti puasa perutnya, supaya mudah mudahan aktivitas aktivitas biasanya bertukar dari yang buruk kepada yang baik. Telinga demikian pula, kalau kebiasaannya suka mendengar hal-hal yang terlarang, yang memang sukar dalam kehidupan di dunia ini  untuk terlepas dari perkara-perkara yang buruk yang menimpanya, kini dipertukarkan tabiatnya kepada mendengar yang baik-baik yang akan meraih pahala, bukan mengumpulkan dosa dan celaka.

Begitu pula dengan anggota-anggota yang lain, seperti kaki, tangan, hidung dan sebagainya, semuanya dalam waktu perut berpuasa, seharusnya dia juga ikut berpuasa dari tabiat tabiatnya yang buruk, dan dipinta diberlakukan hanya hal-hal yang baik dan perkara-perkara yang terpuji yang diridhoi Tuhan Penciptanya.

Bila perut selalu kenyang, maka pada kebiasaannya tuntutan hawa nafsu menjadi kuat. Dan kehendak hawa nafsu itu, memang jarang ada orang yang dapat menolaknya. Sekali tuntutan itu didapatinya, maka tidak henti-hentinya dia akan memaksa diri untuk terus mengikuti permintaannya. Samalah seperti anak kecil  yang terus  dimanjakan ayah atau ibunya, maka jika tuntutannya tidak dipenuhi, dia akan terus menerus menuntut sampai dapat. Bahkan dia akan menggunakan senjata apa saja yang dapat memaksa sang ayah atau ibu untuk memberi apa yang dipintanya. Dia akan menangis, mengancam. Membuat apa saja asalkan akhirnya ayah atau ibunya akan memberikan apa yang dipintanya itu.

Dan sebenarnya, apabila keazaman yang kuat dari seseorang hamba untuk melaksanakan puasa itu, biar dia pada perut ataupun anggota-anggota jawarihnya yang lain, Insya Allah dia akan mendapat taufiq dari Tuhan, dan dia akan dapat menjalankan  seperti yang dikehendaki dengan baik dan sempurna, karena semua itu adalah dengan takdir  Tuhan, sang hamba mestilah menunjukkan kesungguhannya untuk mengikuti perintah, baik yang wajib maupun  yang sunnah.

Sebab itu pula, pada bulan  Ramadhan, orang-orang yang tidak membiasakan diri untuk mengunjungi masjid dapat duduk beramai-ramai di dalam masjid mengerjakan Shalat Tarawih dan Witir dan sabar mengaminkan do’a–do’a yang panjang sehingga duduknya disitu mengambil masa berjam jam. Ada yang sanggup duduk lagi untuk mengikuti Tadarus (baca beramai ramai) Al-Qur’an. Tetapi Kemanakah mereka sekalian itu setelah selesai bulan Ramadhan ? Tidak kelihatan lagi, kecuali  mereka yang ditemani taufiq itu terus menerus bersamanya.

Beginilah tujuan dan kewajiban puasa itu, yaitu untuk menghijrahkan diri dan kebiasaannya yang buruk berubah kepada kebiasaan yang baik, padahal yang pertama itu menambah kesalahan dan kekurangan diri dalam pandangan Allah Swt., manakala yang kedua ialah untuk membersihkan diri dari kebiasaan yang tidak baik  itu kepada yang baik untuk menambah kesucian diri dan kepatuhan kepada Allah, seperti yang dikehendaki oleh Tuhan Maha Penciptanya, sehingga puasa yang dikerjakan oleh sang hamba itu menjadi benteng bagi dirinya dari api neraka, sebagaimana bunyi hadits – hadits Qudsi dalam perkara ini, wallahu-a’lam.

Puasa Melemahkan Hawa Nafsu

Allah mencintai hamba-Nya yang meninggalkan hawa nafsunya, dan mengasingkan diri dari makhluk-Nya, semata mata karena ingin mengubah diri menjadi lebih baik. Mereka mencari Allah dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya dalam keadaan taqarrub dengan mengerjakan shalat dan berpuasa, serta menghabiskan waktunya dengan bermujaha dah kepada Allah. Mereka tidak pernah lepas untuk membenamkan  dirinya dalam taqarrub, sehingga niscaya mereka telah berada dihadapan pintu istana Tuhan. Mereka mengetuk pintu itu. Dan terbukalah pintu itu. Kini mereka disambut oleh Tuan, pemilik istana yang agung, dengan penuh kasih sayang. Demikianlah Syekh ‘Abdul Qadir al-Jilani menggambarkan orang yang memilih jalan menuju kepada Allah daripada mereka yang menurutkan hawa nafsunya.

Kita hendaknya menahan diri dari nafsu amarah dan serakah, dan menahan diri dan tabiat tabiat buruk. Kita harus dapat mengendalikan diri untuk tidak memakan sebutir nasipun tanpa kebenaran Allah, yakni jangan menjamah makanan, kecuali makanan yang telah pasti kehalalannya. Karena makanan semacam itulah yang dibenarkan Allah, sedangkan  yang lainnya tidak. Lebih baik kita memperbanyak puasa, supaya perut kita terbiasa dengan merasakan lapar. Bila kita telah terbiasa merasakan lapar, mudahlah bagi kita untuk mengerjakan ibadah tanpa gangguan sedikitpun. Itulah suluk yang dilakukan para sholihin dan syiar orang orang yang berjalan menuju Allah.

WabiillahiTaufik Wal’hidayah wal’inayaha wal’Maghfirah Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabaraakatuh


Masalah Zakat


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Zakat terbagi menjadi dua jenis. Pertama , zakat yang di tentukan oleh syari’at agama Islam. Kedua, zakat menurut pandangan ahli tariqah.

Zakat yang ditentukan oleh syari’at ialah zakat yang dikeluarkan untuk harta kekayaan yang diperoleh secara halal di dunia, yang berasal dari kelebihan harta dalam keluarga, dan dibagikan kepada mereka yang memerlukan dan asnaf – asnaf zakat. Dan yang berhak menerimanya fakir miskin dan orang orang terlantar lainnya yang membutuhkan.

Zakat dari sudut pandang thariqat ialah sebagian dari harta ruhani yang diperoleh seseorang dan dibagikan kepada mereka yang memerlukannya, yaitu fakir miskin dalam bidang ruhani. Allah Swt berfirman :
“ Sesungguhnya zakat –zakat itu hanyalah untuk orang orang fakir, orang – orang miskin, pengurus – pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan hamba abdi (budak), orang – orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang – orang yang sedang dalam perjalanan,  sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (at – Taubah : 60)

Apa saja yang diberikan dengan tujuan untuk berzakat, pada hakikatnya terlebih dahulu jatuh di “tangan” Allah Swt. Sebelum zakat itu sampai ke tangan penerimanya. Karena itu, sebenarnya zakat diperintahkan kepada kita agar kita membantu fakir miskin karena Allah sendiri adalah Maha Pemberi segala keperluan, termasuk para fakir miskin itu. Tetapi rahasia sebenarnya yang ada dibalik itu, ialah untuk menjadikan niat pemberi zakat itu diterima oleh Allah Swt.

Menghadiahkan Pahala untuk Orang Lain

Mereka yang dekat dengan Allah membagi-bagikan ganjaran ruhaninya, hasil ibadah dan amal salehnya dengan niat untuk menghadiahkan pahala amalan salehnya itu kepada orang–orang yang berdosa. Allah dengan Rahmat-Nya mengampuni dosa-dosa hamba–hamba-Nya yamg berdosa dari hasil pembagian sebagian pahala dan ganjaran yang diperoleh hamba–hamba- Nya yang saleh.

Tegasnya, orang – orang Sufi dalam kategori ini sangat merahmati orang-orang awam yang lalai dan selalu mensia-siakan dirinya. Orang seperti ini berada dalam bahaya yang besar, namun mereka tidak sadar, dan terus hidup dalam kelalaian.

Karena itulah kaum Sufi menaruh iba terhadap orang orang yang berdosa ini, sehingga semua amalan baik dan bakti yang dikerjakannya tidak bertujuan untuk meraih pahala yang banyak untuk dirinya sendiri di hari pembalasan. Bahkan, dia menghadiahkan semua pahalanya untuk orang–orang yang lalai dan berdosa tersebut. Mereka dianggap miskin, tidak mempunyai amalan baik yang akan membentengi mereka dari api neraka dan azab siksa di akhirat. Karena itulah mereka dizakati dari amalan–amalan yang dibuat oleh orang–orang Sufi agar timbangannya nanti menjadi berat.

Orang–orang Sufi ini mengosongkan dirinya dari harta benda keduniaan. Bahkan, semua pahala yang diraih dari amalan–amalan  kebajikannya pun sudah dihadiahkan kepada orang lain. Jadi, mereka tidak lagi memiliki sesuatu apa pun. Ketaatannya di dunia bukan karena harta dan pangkat, melainkan untuk kehidupannya di akhirat kelak ; bukan karena menginginkan  balasan atau pahala yang banyak, melainkan untuk Allah dan semata–mata karena Allah. Ia adalah hamba, dan Dia adalah Tuannya. Dan seorang hamba harus menuruti semua perintah ‘Tuannya’ , karena menunjukkan kepatuhan adalah hal–hal yang mutlak, bukan karena mencari keuntungan dengan balasan pahala atau sebagainya. Orang yang membelanjakan seluruh hartanya dan tidak mengharapkan balasan apa–apapun, termasuk orang–orang yang dilindungi dan dijaga Allah di dunia dan di akhirat.

Seorang Waliyullah perempuan yang bernama Rabi’ah al-‘Adawiyah pernah berdo’a kepada Allah, yang lebih kurang bunyinya sebagai berikut : ”Wahai Tuhanku ! Berikanlah semua bagianku (hartaku) di dunia ini kepada orang – orang kafir, dan sekiranya ada ganjaran bagiku di akhirat nanti, berikanlah semua ganjaranku itu kepada hamba-Mu. Itu saja yang hamba minta dari-Mu, karena manusia dan apa yang dimilikinya, yang sementara itu, sebenarnya adalah milik – Mu jua.”

Itulah yang diminta seorang ‘Abid yang Sufi, yang merindukan Tuhannya, bukan harta kekayaan dan kemewahan Zahrah al-hayah ad-dunya yang dimintanya untuk mengecap kehidupan yang mewah dan bersenang-senang di dunia ini. Tetapi bila ia memintanya, nicaya Allah akan memberikan apa yang diinginkannya. Dan bukan pula pahala dan ganjaran akhirat yang banyak diharapkannya. Malah yang ada untuknya pun, semuanya sudah dihadiahkan kepada yang lain. Yang dikejar dan dicita-citakannya tidak lain adalah kecintaan dan maghfirah-Nya, perlindungan-Nya, perhatian-Nya, kedekatan dengan-Nya, dan akhirnya ia melihat Wajah-Nya. Itulah puncak karunia Allah Swt ! Karena itu, hari mereka tidak pernah berhenti untuk merindukan-Nya.

Setiap yang diberikan manusia di jalan Allah, yang dilakukan dengan tujuan untuk mencari keridhaan Allah, usaha yang dilakukannya itu tidak mungkin sia–sia belaka. Malah ia akan diganti dengan sekurang–kurangnya sepuluh kali dari pahala kita. Bahkan, jika ia benar–benar ikhlas, pahalanya akan dilipatgandakan lagi hingga mencapai tujuh ratus kali lipat atau lebih dari itu. Allah bersifat murah hati, sedangkan kita, memberipun tidak. Nikmat dan karunia-Nya untuk kita sangat berlimpah, terlebih lagi jika kita memberi sesuatu untuk menunjukkan rasa syukur kepada-Nya.

Suka memberi adalah sifat-Nya, dan Dia senang melihat hamba-Nya mencontoh sifat suka memberi yang menjadi sifat-Nya itu. Perbendaharaan Tuhan tidak akan kosong, dan bila Allah memberi, Dia akan memberi dengan tangan-Nya yang terbuka.

Allah Swt. Berfirman :

“Barang siapa yang datang membawa amal yang baik, maka ia akan mendapat pahala sebanyak sepuluh kali lipat dari kita, dan barang siapa yang datang membawa perbuatan yang jahat, dia tidak mendapatkan pembalasan, melainkan yang seimbang dengan kejahatannya, sedangkan mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)” (al-An’am : 160)

Zakat Berfungsi untuk Membersihkan Diri

Satu lagi faedah zakat yaitu pembersihan. Zakat membersihkan harta dan diri kita. Jika diri kita dibersihkan dari sifar – sifat keegoan maka tujuan zakat dari segi ruhani telah tercapai. Memisahkan diri kita dari sebagian kecil apa yang kita sangka milik kita, akan mendatangkan ganjaran yang berlipat ganda di akhirat kelak, Allah menjanjikan :

“Siapakah yang mampu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipaatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dia akan mendapatkan pahala yang banyak.” (al-Hadid :11)

Sebenarnya harta kekayaan di tangan kita itu adalah pinjaman dari Allah. Selama ia ada di tangan kita, kita bisa berbuat apa saja yang kita suka. Tetapi hendaknya kita tidak melupakan haknya dan mengeluiarkan zakat. Dan jangan lupa hak itu bisa dicabut Allah kapan saja. Betapa banyak kita melihat  orang yang kaya raya, yang terus asyik bersuka ria, tetapi sesaat kemudian datang musibah menimpanya sehingga hartanya hilang lenyap, ataupun sudah tidak berguna lagi,  malah dinikmati orang lain. Ataupun harta itu menjadi milik orang lain dilain waktu, dan kita pula yang menanggung akibatnya.

Firman Allah :
Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya” (asy-Syams : 9 )

Pensucian diri dilakukan dengan mengeluarkan zakat, bersedekah, serta berbuat amal–amal jariah. Selain ia membersihkan diri dari daki-daki dunia, ia juga memanjangkan umur dan menyelamatkan dari dari siksa sengsara di akhirat kelak. Betapa beruntungnya pemilik harta yang menyedekahkan hartanya sehingga ia mendapatkan ganjaran–ganjaran yang tidak dapat ditebus dengan uang nanti.

Zakat sebagai Hadiah yang Indah

Zakat ibarat sebuah hadiah yang indah, suatu perbuatan yang baik, yang diambil dari sebagian rezeki yang kita peroleh, baik berupa kebendaan maupun ruhani. Keluarkanlah zakat semata–mata karena Allah kepada hamba–hamba Allah. Meskipun dijanjikan pahala dan ganjaran yang berlipat ganda, janganlah niat kita berzakat itu karena menginginkan pahala. Berzakatlah karena Allah semata–mata, dengan hati yang penuh prihatin, cinta dan kasih sayang terhadap hamba –hamba Allah yang fakir miskin dan memerlukan, bukan mengharapkan sesuatu ganjaran, dan mengharapkan ucapan terima kasih sekalipun dari penerima zakat.

Karena kita mengharapkan sesuatu, sama artinya dengan kita meminta budi kita dibalas. Perbuatan seperti itu tidak bisa dikatakan ‘kita memberi karena Allah’, karena kita telah mengatas namakan Allah dengan sesuatu yang lain. Jelasnya, lidah kita berkata ‘sedekah itu diberikan karena Allah’ tetapii hati kita meminta sesuatu balasan dari penerima sedekah itu, biar apa saja, sampaikan ucapannya ‘terima kasih’, yang mana kalau tidak dikatakan begitu mungkin kita akan bersungut.

Ini gambaran sedekah suka rela. Namun pada zakat yang wajib, masalahnya lebih berat lagi, karena zakat  itu adalah hak Allah yang diamanahkan-Nya pada tangan kita. Sepatutnya, bila ada orang mau menerima zakat itu, dan kitalah yang mengucapkan terima kasih kepadanya, bukan si penerima zakat itu yang mengucapkan terima kasih, karena dia telah mempu meringankan beban amanat yang dipikul, dengan menerima zakat itu.

Walaupun  begitu, orang yang menerimanya wajar pula mengucapkan terima kasih kepada si pemberi, yang sama artinya dia berterima kasih kepada Tuhan, karena Tuhanlah yang menggerakkan diri orang itu untuk memberi kepadanya, tidak kepada yang lain. Harap dipahami permasalahan ini dengan baik.

Firman Allah :

“Hai orang – orang yang beriman ! Janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut – nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima) seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang bertanah di atasnya, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, menjadikan ia bersih (tidak bertanah), lalu mereka tidak mengusai sesuatu pun dan apa yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang – orang yang kafir ” (al – Baqarah : 264)

Wahai manusia! Janganlah mengharapkan sembarang ganjaran kediniaan dari amalan yang kamu lakukan, karena itu akan merusak amalan kamu sehingga ia menjadi sia –sia, tidak dipandang oleh Allah Swt. Tetapi lakukanlah amalan itu karena Allah semata – mata, tidak ditujukan  dengan yang lain, karena amalan yang ditujukan dengan yang lain itu akan ditolak, tidak diterima Allah. Rahasiakanlah amalan kamu itu sehingga jangan ada orang lain yang tahu. Hanya Allah saja yang tahu. Bukankah sudah cukup, jika amalan itu hanya Allah saja yang tahu, tanpa diperlihatkan kepada yang lain, karena amalan yang diperlihatkan itu ialah amalan yang ditujukan  untuk sifat riya’, dan sifat riya’ sungguh merusak amalan manusia !

Firman Allah :

“ Kamu tidak akan sampai kepada ketaatan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan itu, maka sesungguhnya Allah mengetahui “ (Ali Imran :92)

Harta itu adalah harta Allah Swt

Semua harta yang kita miliki, pada hakikatnya adalah milik Allah. Selama berada di tangan kita, harta itu hanyalah pinjaman dari Allah, karena setiap saat Allah dapat mengambilnya kembali. Jadi, sementara  harta itu ada di tangan kita, gunakanlah harta itu di jalan Allah, karena apa yang kita infakkan di jalan-Nya akan menjadi harta yang hakiki. Kita harus ingat bahwa setiap infak yang kita berikan akan mendapat balasan di hari akhirat kelak. Infak inilah yang menjadi bekal yang sangat kita perlukan pada waktu itu. Dan balasan yang diberikan Allah itu akan berlipat ganda hingga sepuluh kali amalan yang telah kita lakukan. Demikianlah seterusnya hingga menjadi lebih banyak dari itu, sesuai dengan kehendak-Nya.

Jelaslah bahwa apa yang kita infakkan, sebenarnya itulah yang menjadi harta kita. Dan apa yang kita pertahankan mungkin suatu saat akan diambil kembali oleh Tuhan yang memberinya atau mungkin akan menjadi hak orang lain. Betapa banyak malapetaka yang menimpa orang–orang kaya yang telah mengabaikan kewajiban atas hartanya. Harta adalah fitnah, sebagaimana yang diberitahukan oleh Allah di dalam firman-Nya :

“Bahwasanya harta kamu dan anak – anak kamu itu adalah fitnah, dan di sisi Allah ada pahala yang besar “ (at – Tagabun : 15)

Jadi, jika harta itu tidak diinfakkan di jalan yang benar, seperti yang diperintahkan Allah, maka harta itu akan menjadi fitnah. Artinya, jika si pemiliknya itu tidak lulus dalam ujian tentang harta yang dimilikinya, maka harta harta itu akan menjadi fitnah yang bisa melumatkan pemiliknya. Fitnah yang dijatuhkan kepada hartawan yang lalim itu mengandung dua  pengertian. Pertama, ada kalanya fitnah itu menimpa dirinya di dunia dengan berbagai cara yang sudah jelas hukumannya. Kedua, jika tidak di dunia, fitnah itu akan menelan pemiliknya di akhirat berupa ular besar yang akan menyulitkannya dengan berbagai macam siksaan, na’uzu billahi min zalik.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa diantara harta kita terdapat hak fakir miskin dan orang orang terlantar yang membutuhkan bantuan kita, khususnya kaum kerabat dan tetangga dekat. Hak fakir miskin  dalam konteks ini bukan berarti zakat yang sudah menjadi kewajiban atas harta kita yang harus dibayarkan. Bahkan selain zakat, adapula kewajiban– kewajiban lain yang harus dikerjakan, yaitu sedelah sukarela untuk membantu orang–orang yang memerlukannya.

Selain itu, apabila harta itu tidak digunakan sesuai dengan kehendak syari’at Islam, maka bila pemiliknya meninggal dunia, harta itu harus pula ditinggalkannya. Akhirnya harta peninggalannya itu akan menjadi hak orang lain, yakni hak para warisnya. Semoga para warisnya memanfaatkannya di jalan yang baik agar pahalanya terus mengalir kepada pemilik asal. Tetapi jika harta itu dibelanjakan di jalan yang penuh dosa dan maksiat yang tidak diridhai Tuhan, maka bencana yang turun karena harta itu akan mengalir pula kepada pewarisnya. Ia akan ditahan dan diminta pertanggungjawaban atas harta yang diwariskannya itu. Itulah ujian dan fitnah yang berat yang akan ditanggung oleh orang yang mewariskan harta itu. Allah telah berfirman :

“………dan Dia akan memberikan kekuasaan kepada kamu di muka bumi ini agar Dia melihat apa yang kamu kerjakan “ (al – A’raf :126)

Itulah peringatan Tuhan kepada hamba-Nya agar mematuhi peringatan itu untuk kebaikan dirinya. Sepintas, berinfak di jalan Allah tampak seperti perbuatan yang merugikan bila dipandang dari ukuran dunia, karena harta itu akan semakin berkurang. Namun, dibalik kerugian itu tersimpan keuntungan yang besar, yang sangat berguna bagi mereka yang rela menyisihkan sebagian hartanya untuk orang–orang yang memerlukannya. Balasan yang akan diterima di akhirat itu tidak dapat disamakan dengan besarnya harta kekayaan di dunia. Kelak harta yang diinfakkan itu akan semakin berkembang, insya Allah, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Saw.  :

Artinya : “Mereka yang menyedekahkan hartanya kepada orang lain, hartanya tidak akan berkurang. Bahkan, harta itu akan bertambah, dan bertambah

Wabillahi’taufik wal’Hidayah wal’inayah Wassallamualaikum Warahmatullahi Wa’baraakatuh Wa’maghfirah