Posts from the ‘FIKIH’ Category

Tawakal


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allah SWT berfirman, “Barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah maka Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Thalaq 3).

Allah SWT juga berfirman, “Hanya kepada Allah hendaklah orang-orang yang beriman mneyerahkan diri”. (QS. Ali Imran 160).

Di dalam ayat yang lain Allah SWT juga berfirman, “Hanya kepada Allah hendaklah kamu sekalian menyerahkan diri jika kamu sekalian adalah orang – orang yang beriman”.

Dari AbduLlah bin Mas’ud diceritakan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Diperlihatkan kepada saya berbagaia umat yang berkumpul. Kemudian saya melihat umatku memenuhi lembah dan gunung. Mereka jumlahnya banyak dan kehebatannya mengagumkan saya. Setelah itu saya ditanya, ‘Apakah engkau rela ?’. Saya menjawab ‘ya’. Bersama mereka terdapat 70 ribu orang yang masuk surga tanpa hisab. Mereka tidak menipu, mereka tidak menghambur-hamburkan harta, dan mereka tidak mencuri. Kepada Tuhannya mereka menyerahkan diri”.

‘Ukasyah bin muhsin Al-Asadi kemudian berdiri seraya berkata, “Wahai RasuluLlah, berdoalah kepada Allah SWT agar saya dijadikan diantara mereka.”

Yaa Allah jadikanlah ‘Ukasyah termasuk diantara mereka”. Doa RasuluLlah. Yang lainnya juga berdiri seraya mengatakan, “Berdoalah kepada Allah agar saya juga dijadikan diantara mereka”.

“’Ukasyah telah mendahuluimu”. Jawab RasuluLlah.

Abu Ali Muhammad Ar-Rudzabaari mengatakan bahwa saya peranah meminta sesuatu kepada Umar bin Sinan.

“Berceritalah kepadaku tentang Sahal bin AbdulLah,” Pintaku.

“Sahal telah mengatakan bahwa tanda orang yang bertawakal ada tiga, yaitu tidak meminta, tidak menolak, dan tidak memakan”.

Abu Musa Ad-Dubaili mengatakan tentang abu Yazid Al-Bustami yang pernah dimintai keterangan tentang tawakal.

“apa tawakal itu ?”

“Menurutmu sendiri apa ?”

“Seandainya ada hewan yang galak dan ular berbisa berada di sebelah kanan dan kiri kakimu, engkau tidak akan berubah”.

“Ya, jawabanmu mendekati benar.” Jelas Abu Yazid. “Hanya saja seandainya ahli surga diberikan kenikmatan di dalam surga dan ahli neraka disiksa di dalam neraka lantas engkau membedakan antara keduanya, maka engkau tidak termasuk kelompok orang bertawakal”.

Menurut Sahal bin AbduLlah , permulaan tempat dalam penyerahan diri kepada Allah adalah seorang hamba harus berada di hadapan Allah SWT seperti orang meninggal dunia yang berada di hadapan orang yan  memandikannya. Dia dapat membolak balik  sekehendak hatinya. Tidak ada gerakan dan tidak ada pengaturan. Menurut Hamdun Al-Qashar yang dimaksud tawakal adalah berpegang teguh kepada Allah SWT.

Seorang laki-laki bertanya kepada Hatim Al-Asham, “Dari mana engkau makan ?”. Dia menjawab dengan mengutip firman Allah, “Kepunyaan Allah perbendaharaan langit dan bumi tetapi orang-orang munafik tidak mengerti”. (QS. Al-Munafikuun 7).

Perlu diketahui bahwa tempat tawakal adalah berada di dalam hati. Gerakan yang dilakukan dengan anggota lahir tidak meniadakan tawakal yang dilakukan dengan anggota hati. Terlebih lagi seorang hamba yang menyatakan bahwa ketentuan hidup adalah semata-mata dari Allah SWT. Apabila ada sesuatu yang sulit, maka itu karena ketentuanNya. Apabila sesuatu itu relevan, maka itu karena kemudahanNya.

Anas bin Malik mengatakan, “seorang laki-laki datang keada RasuluLlah SAW dengan membawa unta, dia bertanya, “Yaa RasuluLlah apakah unta ini saya tinggalkan dan saya bertawakal ?”. Beliau menjawab, “Ikatlah dan bertawakalah”.

Menurut Ibrahim Al-Khawash, barang siapa yang tawakalnya benar terhadap dirinya sendiri, maka tawakalnya juga benar terhadap orang lain. Bisyr Al-hafi mengatakan, “Salah seorang ulama mengatakan, ‘Saya bertawakal kepada Allah SWT sedangkan orang lain berbohong kepadaNya. Seandainya ia bertawakal kepada Allah SWT, maka pasti ia rela terhadap apa ytang dikerjakan (dikehendaki) oleh Allah SWT.”

Yahya bin Muadz pernah ditanya, “Kapan seorang laki-laki dianggap tawakal ?”.

“Apabila ia rela kepada Allah SWT”.

Ibrahim AL-Khawas mengatakan, “Suatu hari saya berjalan di daerah padang pasir. Tiba-tiba ada suara menanggilku. Saya menoleh ke belakang, ternyata ada seorang arab dusun berjalan seraya mengatakan, “Ya Ibrahim, tawakal itu ada di hadapan kami. Oleh karena itu tinggalah bersama kami sehingga tawakalmu menjadi benar. Apakah engkau tidak tahu bahwa engkau sangat berharap ingin memasuki kota yang terdapat berbagai makanaan dan mengantarkanmu kepada pemukiman. Potonglah harapan untuk tinggal di kota itu dan bertawakalah”.

Ibnu Atha’ pernah ditanya tentang hakikat tawakal. Dia menjawab, Keragu-raguan tidak akan muncul dalam dirimu yang menyebabkan engkau sangat susah. Oleh karena itu engkau selalu memperoleh hakikat ketenangan menuju pada kebenaran yang engkau tempuh.”

Menurut Ibnu Nashr As-Siraj Arth-Thuusi bahwa syarat tawakal sebagaimana yang diungkapkan oleh Asbu Thurab An-Naskhsyabi adalah melepaskan anggota tubuh dalam penghambaan, mengantungkan hati dengan ketuhanan, dan bersikap merasa cukup. Apabila dia diberikan sesuatu maka ia bersyukur. Apabila tidak, maka ia bersabar. Menurut Dzunun Al-Mishri yang dimaksud tawakal adalah meninggalkan hal-hal yang diatur oleh nafsu dan melepaskan diri dari daya upaya dan kekuatan. Seorang hamba kana selalu memperkuat tawakalnya apabila megerti bahwa Allah SWT selalu mengetahui dan melihat segala sesuatu.

Abu Ja’far bin Farj mengatakan, “Saya pernah melihat seorang laki-laki yang mengetahui unta A’isyah karena ia sangat cerdik. Ia dipukul dengan cambuk. Saya bertaya kepadanya , “Dalam keadaan bagaiamana sakitnya pukulan lebih mudah diketahui ?”. Dia menjawab, Apabla kita dipukul karena dia, maka tentu dia mengetahuinya”.

Husin bin Manshur pernah bertanya kepada Ibrahim Al-Khawash, “Apa yang pernah egkau kerjakan dalam perjalanan dan meninggalkan padang pasir ?”

“Saya bertawakal dengan memperbaiki diriku sendiri”.

Husin bin Manshur mengatakan, “Apakah engkau telah melenyapkan umurmu di dalam umur bathinmu ?”

Manurut Abu Nashr As-Siraj, Ath-Thuusi yang dimaksud tawakal sebagaimana yang diungkapkan oleh Abu Bakar Ad-Daqaq adalah menolak kehidupan pada masa sekarang dan menghilangkan cita-cita pada masa yang akan datang. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Sahal bin AbdulLah bahwa yang dimaksud tawakal adalah melepaskan segala apa yag dikehendaki dengan menyandarkan diri kepada Allah SWT. Menurut Abu Ya’qub Ishaq An-Nahr Jauzi, yang dimaksud tawakal adalah menyerahkan diri kepada Allah SWT, dengan sebenarnya sebagaimana yang terjadi pada Nabi Ibrahim pada saat Allah SWT berfirman, kepada Malaikat Jibril; AS “Ibrahim telah berpisah (bercerai) denganmu. Dirinya telah hilang bersama Allah SWT oleh karena itu tidak ada yang mengetahui orang yang bersama Allah kecuali Allah SWT”.

Dzunun Al-Mishri pernah ditanya oleh sesorang, “Apa yang dimaksud dengan tawakal. ?”

Dijawab, “Melepaskan hal-hal yang bersifat dipertuan dan meninggalkan berbagai sebab”.

“Berilah saya tambahan penjelasan.”

“Mempertemukan diri dengan hal-hal yang bersifat ibadah dan mengeluarkannya dari hal-hal yang bersifat rububiyah”.

Hamdun Al-Qashar  juga pernah ditanya tentang tawakal, dia menjawab, “Apabila engkau mempunyai sepuluh ribu dirham, maka engkau berkewajiban menanggung hutang yang jika engkau meninggal dunia, engkau tidak akan aman dari hutang yang menjadi tanggunganmu. Apabila engkau mempunyai hutang 10 dirham,dan masih belum membayar, maka engkau jangan berputus asa dan memohonlah kepada Allah SWT agar segera terlunasi. “ Begitu juga AbduLlah Al- Quraisyi pernah ditanya oleh seseorang tentang tawakal, dia menjawab, “Selalu berhubungan dengan Allah SWT dalam segala hal”. Orang itu mengatakan, ‘berilah diriku tambahan penjelasan”. Dia menjawab, “Meninggalkan segala sebab yang akan menimbulkan sebab lain, sehingga Dzat Yang Maha Pengatur dapat meluruskannya.”

Menurut Ahmad bin Isa Al-Kharaz, yang dimaksud tawakal adalah gelisah tanpa tenang dan tenang tanpa gelisah. Menurut yang lain, yang dimaksud tawakal adalah keseimbangan, baik ketika mendapatkan rejeki yang banyak maupun sedikit. Menurut Ahmad bin Masruk, yang dimaksud tawakal adalah tunduk dalam melaksanakan keputusan dan hukum. Menurut Abu Utsman Sa’id Al-Hairi yang dimaksud tawakal adalah merasa cukup terhadap apa yang diberikan Allah SWT dengan berpegang teguh kepada-Nya. Sedangkan menurut Husain bin Manshur yang dimaksud orang yang benar-benar tawakal adalah orang yang tidak makan di suatu tempat yang sebenarnya dia lebih berhak.

Umar bin Sinan mengatakn, “Ibrahim Al-Khawas ketika lewat bertemu kami, kami mengatakan, ‘ceritakanlah kepada kami sesuatu yang mengagumkan sebagaimana yag engkau lihat di dalam perjalananmu.’ Dia mengatakan, “Saya bertemu Nabi Khidir AS dia bertanya kepadaku tentang pergaulan dengan orang lain. Saya takut ketawakalanku akan menjadi rusak dengan ketenanganku. Oleh karena itu saya berpisah dengannya”. Dalam cerita yang lain disebutkan, Sahal bin AbduLlah pernah ditanya tentang tawakal, dia menjawab, ”Hati yang hidup dan selalu bersama Allah SWT tanpa ketergantungan”.

Saya (Syaikh Al Qusyairi) telah mendengar Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan., “penyerahan diri kepada Allah SWT  memiliki tiga tingkat, yaitu tawakal, taslim, dan tafwidh. Orang yang bertawakal adalah orang yang merasa tenang dengan janji Allah SWT. Orang yang taslim adalah orang yang  merasa cukup dengan ilmu-Nya. Sedangkan orang yang tafwidh adalah orang yang rela dengan hukum-Nya. Oleh karena itu tawakal adalah permulaan, taslim adalah pertengahan, dan tafwidh adalah akhir”. Ustadz Abu Ali juga pernah ditanya tentang tawakal dan beliau menjawab,” makan tanpa loba”.

Yahya bin Mu’adz mengatakan, “Pakaian bulu domba ibarat kedai, pembicaraan tentang zuhud ibarat perusahaan (pekerjaan), kedatangan khalifah ibarat sesuatu yang nampak. Semua saling bergantung. “ dalam suatu cerita, seorang laki-laki datang kepada As-Syibli. Dai mengeluh karena terlalu banyak keluarga. Syibli megatakan, “pulanglah ke rumahmu,. Barang siapa yang rizkinya tidak diserahkan kepada Allah SWT, maka singkirkanlah dia darimu”.

Sahal bin AbduLlah mengatakan, “Barang siapa mencela gerakan ibadah, maka ia mencela sunah. Barang siapa mencela tawakal, maka ia mencela iman”.

Ibrahim Al-Khawas mengatakan, “Suatu hari saya berada di jalan Makkah. Saya melihat orang yag kasar.

‘Apakah engkau jin atau manusia ?’ tanyaku.

‘Saya adalah jin’

‘Engkau hendak ke mana ?’

‘Saya hendak ke Makkah’.

‘Apa engkau tidak membawa bekal ?’

‘Ya saya bepergian bersama orang yang tawakal’.

‘Apakah tawakal itu ?’

‘Berpegang teguh kepada Allah SWT.’

Ubrahim Al-Khawash selali mempertajam tawakalnya. Dia membawa jarum, benang, wadah air kecil, dan potongan kain. Dia ditanya, “Wahai Abu Ishaq, kenapa engkau membawa ini, sedangkan engkau tidak  membawa apa-apa’.

Dia menjawab, “Ini merupakan perumpamaan tawakal yang tidak akan rusak karena Allah SWT memberikan bagian kepada kita. Orang fakir hanya membawa satu pakaian. Terkadang pakaian itu robek. Apabilaia tidak membawa jarum dan benang, maka auratnya akan kelihatan dan shalatnya akan batal. Apabila ia tidak membawa wadah air kecil, maka bersucinya akan batal. Apabila engkau melihat orang fakir tanpa membawa wadah air kecil , jarum dan benang, maka perhatikanlah ketika ia shalat”.

Syaikh AL-Qusyairy berkata, “Saya pernah mendengar Syaikh Abu ALi Ad-Daqaq berkata, ‘tawakal adalah sifat orang mukmin, taslim adalah isfat para wali, dan tafwidh adalah sifat orang-orang yang bersatu dengan Allah SWT. Demikian juga , tawakal adalah sifat orang awam, taslim adalah sifat orang khawash, dan tafwidh adalah sifat orang khawashl khawas.” Oleh karena itu dia mengatakan, tawakal adalah sifat para Nabi, Taslim adalah sifat Nabi Ibrahim, dan tafwidh adalah sifat Nabi Muhammad SAW.

Abu Ja’far Al- Hadad mengatakan, “Saya pernah tinggal / hidup kurang lebih selama sepuluh tahun. Saya selalu bertawakal, bekerja di pasar setiap hari. Mengambil upah dan tidak pernah masuk WC umum. Selain itu saya selalu berkumpul orang-orang fakir di daerah Syuniziyah dan selalu memperhatikan keadaanku”.

Hasan bin Abi Sinan mengatakan, Saya telah melaksanakan empat kali haji dengan jalan kaki dan selalu bertawakal. Suatu saat kakiku tertusuk duri. Saya ingat bahwa diriiku dimaksudkan untuk bertawakal. Duri itu kemudian saya cabut dan saya masukkan ke dalam tanah kemudian saya berjalan seperti semula.” Abu Hamzah juga pernah mengatakan, “Saya merasa malu kepada Allah SWT memasuki daerah padang pasir dalam keadaan kenyang. Saya mempercayakan diriku bertawakal agar perjalananku tidak membawa bekal kenyang yang sedang saya persiapkan.”

Hamdun Al-Qashar pernah ditanya tentang tawakal, dia menjawab, “Tawakal memiliki kedudukan/derajad tinggi  yang belum pernah saya capai. Bagaimana tawakal akan dibicarakan oleh orang yang keadaan imannya belum sempurna ?”

Menurut sebagian ulama, orang yang bertawakal adalah ibarat anak kecil yang tidak megerti apa-apa. Dia hanya tinggal di tetek (susu) ibunya. Demikian juga orang yang bertawakal. Dia tidak akan medapatkan petunjuk kecuali kembali kepada Allah SWT.

Sebagian ulama mengatakan, “Saya pernah berada di daerah padang pasir. Kafilah telah datang. Saya melihat seseorang di depanku. Saya dengan segera menuju ke arah orang itu. Tiab-tiba ada seorang perempuan membawa tongkat. Dia berjalan dengan sangat memprihatinkan. Saya menduga dia adalah buta. Saya masukkan tanganku ke dalam saku dan saya mengeluarkan 20 dirham seraya mengatakan, “Ambilah dan tinggalah di sini sampai kafilah itu datang, kemudian sewalah kafilah itu. Nanti malam datanglah kepadaku agar saya mengatur  (menyelesaikan urusanmu). Dia mengatakan dengan menggunakan isyarat tanganya, ‘seperti ini keadaannya di udara’. Ternyata di telapak tangannya terdapat beberapa dinar. Dia mengatakan lagi, ‘Engkau mengambil beberapa dirham dari saku, sedang saya mengambil beberapa dinar dari Yang Maha Samar (Allah SWT)’”.

Abu Slaiman Ad-Daraani pernah melihat seorang laki-laki di Makkah. Dia tidak memperoleh apa-apa kecuali setengah air zamzam. Kemudian hari telah berlalu, suatu hari Abu Sulaiman bertanya kepadanya, “Apakah engkau tahu bagaimmana seandainya zamzam itu berubah apa yang engkau minum?’.Orang laki-laki itu berdiri dan menghadapkan kepalanya. Dia menjawab, ‘Mudah-mudahan Allah SWT memberikan balasan kebaikan kepadamu yang telah memberikan petunjuk kepadaku. Sesungguhnya saya adalah orang yang mneyembah zamzam selama tiga hari dan itu telah berlalu”’.

Ibrahim Al-Khawash berkisah, di pertengahan jalan di Syam saya melihat seorang pemuda yang baik budi pekertinya. Dia bertanya kepada saya, “Apakah kamu mempunyai teman ?”

“Saya sedang lapar” jawab saya.

“Jika engkau lapar, saya sangat lapar” katanya.

Selama tiga hari kami bersama-sama, setelah itu kami mendapatkan jalan keluar.

“Mari kita pergi”. Ajak saya.

“Saya tidak ingin mengambil jalan tengah”.

“Wahai pemuda berhati-hatilah”.

“Wahai Ibrahim jangan sombong, sesungguhnya Allah SWT adalah Dzat Yang Maha melihat . apa hakmu dan dimana tawakalmu “. Kemudian ia melanjutkan, “Saya memperkecil tawakal untuk menghilangkan berbagai kesulitan yang menimpamu. Janganlah kau cela dirimu sendiri, kecuali kepada orang yang serba berkecukupan”.

Menurt satu pendapat, yang di maksud tawakal adalah menghilangkan keragu-raguan dan menyerahkan diri kepada Allah SWT. Dalam satu cerita disebutkan, sekelompok orang datang kepada Syaikh Junaid, mereka bertanya, “Di mana kami harus mencari rizki ?”

“Asalkan engkau tahu di manapun engkau boleh mencari rizki”

“kami memohon kepada Allah SWT mengenai hal itu”.

“Jiak kalian mengetahui bahwa Allah SWT melupakanmu maka ingatlah kepadaNya”.

“kami akan masuk rumah dan bertawakal”.

“Cobaan itu adalah kebimbangan”

“Bagaimana dengan daya upaya ?”

“Daya upaya harus ditinggalkan”. Jawab Syaikh Junaid.

Abu Sulaiman Ad-Daraani mengatakan kepada Ahmad bin Abul Hawari, “Wahai Ahmad, jalan munuju akhirat adalah banyak. Gurumu adalah orang yang mengetahui beberapa jalan itu kecuali tawakal. Oleh karena itu saya tidak pernah mencium baunya.

Menurut satu pendapat, yang dmaksud tawakal adalah menurut terhadap apa-apa yang telah diautur oleh Allah SWT dan menghindarkan diri dari apa-apa ang diatur oleh manusia. Menurut yang lain, yang dimaksud tawakal adalah hati yang sunyi dari pemikiran tentang hal-hal yang bertentangan dalam mencari rizki.

Hrist Al-Muhasibi pernah ditanya tentang tawakal, “Apaka tawakal itu akan diikuti oleh loba ?” dia menjawab, tawakal akan diikuti oleh beberapa pikiran melalui jalan karakter, tidak dirusak oleh sesuatu , dan sangat kuat untuk tidak menggantungkan diri kepada orang lain”.

Menurut satu cerita dituturkan bahwa Ahmad An-Nuri dalam keadaan lapar di padang pasir. Dia dipanggil oleh suatu suara, “Mana yang paling engkau sukai antara sebab dan cukup dan cukup itu sendiri ?” Dia menjawab, “Cukup, tidak ada yang melebihi darinya”. Setelah itu dia tidak makan selama tuju belas hari. Abu Ali Ar-Rudzabaari pernah mengatakan, “Apabila setelah lima hari tidak makan, orang fakir mengatakan, ‘saya lapar’, maka bawalah ia ke pasar dan suruhlah ia bekerja”’.

Menurut sautu ungkapan, Abu Thurab An-Nakhsyabi pernah melihat orang sufi yang mengulurkan tangannya pada buah semangka untuk dimakan setelah tiga hari ia belum mendapatkan makanan. Abu Thurab mengatakan kepadanya,”predikat tawasul tidak layak kau sandang, untuk itu pergilah ke pasar (untuk bekerja)

Abu Ya’qub Al-Atha Al Bashri bercerita : Pernah suatu kali saya datang ke tanah haram selama 10 hari. Saya dalam keadaan lemah, sedangkan nafsuku berbisik kepadaku. Setelah itu saya keluar ke padang pasir dengan maksud agar memperoleh sesuatu yang dapat menghilangkan kelamahanku.  Di sana saya melihat buah saljanah yang terbuang, kemudian saya ambil. Hatiku sangat berduka cita, seakan-akan ada orang yang mengatakan kepadaku, ‘Engkau datang selama sepuluh hari yang pada akhirnya hanyan mendapatkan bagian buah saljana itu.” Buah itu saya lemparkan dan saya masuk ke masjid kemudian saya duduk. Ternyata di masjid saya duduk berdampingan dengan seorang laki-laki non arab, dia duduk di sampingku dan meletakkan laci.

“Ini untukmu” Katanya.

“Bagaimana engkau memberikan keistimewaan kepadaku ?”

“Kami berada di tengah laut selama sepuluh hari. Saya berada di atas kapal yang hampir tenggelam. Setiap hari dari kelompok kami bernadzar, apabila Allah SWT menyelamatkan kami semua, maka kami akan memeberikan sedekah. Sedangkan saya bernadzar apabila Allah SWT menyelamatkan diriku maka saya akan memberikan sedekah dengan benda ini kepada orang yang pertama saya jumpai dari orang-orang yang berdampingan, dan engkau adalah orang pertama yang saya jumpai. “

“Bukalah”. Pintaku kepadanya. Dia lantas membukanya, di dalamnya terdapat ka’ak yang terpupuk, buah badam yang terkupas, dan gula manis yang penuh. Setelah itu saya genggam, saya pegang dengan tangan kanan dan satu genggam saya pegang dengan tangan kiri.”

“Berikanlah sisa ini kepada putera-puteramu sebagai hadiah dariku untuk mereka”. Kataku kemudian.

Setelah itu saya bergumam pada diri sendiri, “Rezekimu datang dengan mudah kepadamu sejak sepuluh hari yang engkau sendiri mencari di padang pasir”.

Abu Bakar Ar-Razi mengatakan bahwa dia berada di samping Mimsyad Ad-Dinawari.setelah itu pembicaraan tentang hutang digulirkan oleh Mimsyad. Dia mengatakan,”Saya mempunyai hutang sehingga hatiku merasa tidak tenang. Suatu saat saya bermimpi seakan-akan ada yang mengatakan “Wahai orang yang kikir, engkau telah mengambil hak kami sejumlah ini…, engkau mengambil dan kami memberi. Engkau masih belum membayarnya, baik kepada penjual sayur, penjagal maupun kepada orang lain. “

Diriwayatkan dari Banan Al-Hammal dia berkata : Saya berada di tengah jalan Makah. Saya datang dari Mesir dengan memabwa bekal. Seorang perempuan datang kepadaku seraya mengatakan, “Wahai Banan, engkau adalah tukang pikul yang sedang memikul bekal di atas punggungmu. Engkau menduga bahwa Allah SWT tidak akan memberikan rizki kepadamu. “

“Saya telah membuang bekalku dan saya tidak makan, meskipun saya memperoleh makanan sampai tiga kali”.

Setelah itu saya menemukan gelang kaki di tengah jalan. Saya bergumam pada diri sendiri, ‘Gelang ini akan saya bawa sehingga pemiliknya datang kepadaku. Apabila ia memberikan hadiah kepadaku, akan saya tolak.’

Tiba – tiba saya berjumpa dengan perempuan itu lagi.

“Engkau adalah pedagang, engkau telah mengatakan ‘Sehingga pemiliknya datang’”. Untuk itu barang ini akan saya ambil,” Setelah berkata, ia melemparkan beberapa dirham seraya mengatakan, ‘Pergunakanlah, engkau dapat memanfaatkan dirham itu menuju tempat yang dekat dari Makkah. “

Dalam irwayat lain disebutkan bahwa Banan Al-Hammal membutuhkan seorang pelayan perempuan yang dapat melayaninya.  Dia menyebarkan informasi kepada saudara-saudaranya. Mereka berkumpul dan bersepakat menetapkan harga. Mereka mengatakan bahwa suatu saat sekelompok orang akan datang dan kami akan membelinya apabila cocok. Ketika sekelompok orang itu datang, mereka sepakat untuk membeli satu pelayan perempuan.

“Perempuan ini cocok”. Guamam mereka. “Berapa harga perempuan ini ?’ Tanya mereka kepada pemiliknya.

“Pelayan perempuan ini tidak untuk dijual”.

Mereka akhirnya mendesak untuk menjual perempuan itu.

“Pelayan perempuan ini untuk Banan”. Jawab seseorang yang membawa perempuan itu. “Perempuan ini adalah hadiah dari seorang perempuan dari Samarqand. Oleh karenanya pelayan perempuan ini saya bawa untuk diberikan kepada orang yang dimaksud dan hal itu perlu saya ceritakan”. Lanjutnya.

Hasan Al-Khayyat bercerita : saya berada di samping Bisyir Al-Hafi. Suatu saat sekelompok orang datang kepadanya. Mereka memberi salam kepadanya.

“Dari mana kalian ?” tanya Bisyir

“Kami dari Syam. Kami datang ke sini untuk memberikan salam kepada tuan kemudian melaksanakan ibadah haji”.

“Mudah-mudahan Allah SWT mengampuni kalian”.

“Bisakah tuan keluar melaksanakan ibadah haji bersama kami ?” pinta mereka.

“Boleh, dengan tifga syarat, yaitu kita tidak boleh membawa sesuatu, kita tidak boleh meminta sesuatu kepada orang lain, dan apabila ada orang yang memberikan sesuatu kepada kita, kita tidak boleh menerimanya”.

“Apabila kita tidak membawa sesuatu, maka kita akan tetap baik. Apabila kita tidak meminta, maka kita pun akan tetap baik. Akan tetapi apabila kita tidak mau menerima pemberian orang lain, tentu kuta tidak akan mampu”. Jawab mereka

“Kita harus bertawakal di atas bekal haji”. Jawab Bisyir. Kemudian ia menoleh kepada Hasan Al-Khayyat seraya mengatakan, “Wahai Hasan, orang fakir terbagi menjadi tiga, Pertama orang fakir yang tidak meminta. Apabila diberi ia tidak akan menerimanya. Orang fakir ini termasuk golongan ruhaniawan. Kedua, orang fakir yang tidak meminta, apabila diberi ia akan menerimanya. Orang fakir ini akan diberikan beberapa kenikmatan dan ketenangan dihadapan Tuhan. Ketiga, orang fakir yang meminta, apabila diberi ia akan menerimanya sekedar cukup, orang fakir ini tebusannya adalah sedekah”.

Hubaib Al-Ajami pernah ditanya “Kenapa engkau meninggalkan dagangan ?”

“Saya telah menemukan penjamin seperti orang kepercayaan,” jawabnya. Menurut satu cerita, ada seorang laki-laki di perjalanan. Ia membawa roti. Dia mengatakan, “Jika saya makan maka saya akan mati”. Setelah itu Allah SWT menyerahkan urusan itu kepada malaikat. Allah SWT berfirman kepadanya, “Apabila orang itu makan, maka berilah ia rizki. Apabila ia tidak makan, maka jangan kau berikan dia rizki yang lain.” Makanan itu masih tetap utuh disamping orang tersebut sampai ia meninggal dunia.

Menurut satu pendapat, barang siapa yang terlibat di medan tafwidh (penyerahan diri secara total – di atas tawakal), maka apa yang dimaksudkan akan tercapai sebagaimana pengantin perempuan yang dibawa kepada suaminya. Perbedaan antara tadhyi’ (membinasakan diri atau sikap pasrah yang dapat menyebabkan binasa) dengan tafwidh (penyerahan diri  kepada Allah SWT) terletak pada kualitas iman dan keyakinan dalam pemasrahan diri kepada Allah SWT. Tadhyi’ di hadapan Allah SWT sangat tercela. Sedangkan tafwidh di hadapan-Nya sangat terpuji. Menurut AbduLlah bin Mubarak, barang siapa yang mengambil uang haram, maka dia bukan orang yang tawakal.

Abu Said Al-kharraz mengatakan, “saya pernah satu kali masuk di padang pasir tanpa membawa bekal. Di sana saya mendapatkan kesulitan. Setelah itu, saya melihat marhalah (tanda jarak perjalanan) dari tempat yang jauh. Saya merasa bahagia karena sudah hampir sampai. Kemudian saya berfikir bahwa diri ini menempati satu tempat yang membutuhkan orang lain. Saya tidak berani menempuh marhalah itu kecuali membawa bekal. Dalam keadaan seperti itu saya terpaksa menggali lobang di atas pasir. Di dalam lobang itu saya dapat melindungi tubuhku sampai pada dadaku. Di tengah malam penduduk mendengar suara keras “Wahai penduduk marhalah sesungguhnya Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Penolong yang telah menahan dirinya di atas pasir ini. Oleh karenanya temuilah dia.” Setelah itu sekelompok orang datang kepadaku. Mereka mengeluarkan diriku dan membawaku ke sebuah desa”.

Abu Hamzah Al-Kharrasani mengatakan bahwa dalam satu tahun ada dua orang lewat di atas sumur.  Salah satunya mengatakan kepada yang lain, “ke sinilah, kita harus menutup sumur ini agar tidak ada orang yang terjatuh.” Mereka lalu datang dengan memabwa kayu dan tumpukan debu serta menutup atas (atap) sumur tersebut. Abu Hamzah Al-Kharrasani ingin memanggil, tetapi tidak jadi melakukannya. Lantas ia mengatakan kepada diri sendiri, “Saya hanya ingin memanggil Dzat Yang lebih dekat dari pada kedua orang tersebut”.

Selang beberapa waktu, ada sesuatu yang datang dan membuka atas (atap) sumur tersebut serta mendekatkan kakinya, seakan-akan ia mengatakan dengan suara menggerutu, “menggantunglah kepadaku”. Ia tahu bahwa suara itu keluar darinya. Setelah itu ia menggantungkan kepadanya sehingga ia dapat keluar. Ternyata sesuatu itu adalah hewan yang buas. Kemudian hewan itu pergi. Tiba-tiba ada suara mengatakan kepada Abu Hamzah, apakah seperti ini tidak lebih baik. Kami telah menyelamatkan dirimu dari kebinasaan dengan kebinasaan”. Setelah itu Abu Hamzah berjalan sambil mendendangkan syair :

Kutampakkan kepada-Mu rasa takut yang telah ku sembunyikan.

Hatiku menampakkan sesuatu yang diucapkan oleh mataku.

Rasa maluku telah melarangku dari-Mu untuk menyembunyikan keinginan.

Dan Engkau memberikan pemahaman  dengan terungkapnya sesuatu.

Engkau telah mempermudah urusanku lantas Engkau tumpahkan kedua orang yang menyaksikan kesamaranku.

Oleh karena itu.

Kelemah lembutan akan diperoleh dengan kelemah lembutan.

Engkau telah memperlihatkan diriku sesuatu yang samar.

Seakan-akan Engkau memberikan kabar kepadaku

Dengan sesuatu yang samar.

Bahwa Engkau berada dalam kebahagiaan.

Saya dapat melihat-Mu dariku.

Karena kehebatanku takut kepada-Mu.

Engkau menggembirakan diriku

Dengan lemah lembut dan cinta kasih.

Kau hidupkan orang yang cinta.

Sedangkan Engkau mencintai kematian.

Alangkah herannya hakikat kehidupan.

Yang terpaut dengan kematian.

Hudzaifah Al-Mar’asyi pernah ditanya ketika sedang melayani dan berguru kepada Ibrahim bin Adham.

“Apa yang paling mengagumkan yang pernah engkau lihat ?”

Dia menjawab bahwa beberapa hari yang lalu kami berada di jalan Makkah dan kami tidak menemukan makanan. Kami memasuki Kuffah dan tinggal di Masjid Khurrab. Setelah itu Ibrahim bin Adham melihatku seraya mengatakan “Ya Hudzaifah, saya melihatmu nampak lapar”.

“Itu hanya pandangan guru”.

“Ambilkan pena dan kertas untukku”.

Hidzaifah pergi kemudian kembali seraya menyerahkan pena dan kertas kepada Ibrahim yang langsung ditulisnya dengan kalimat, “BismiLlahiRrahmaaniRrahiim, Engkaulah Dzat yang dituju dalam segala hal dan Engkaulah Dzat yang dijadikan petunjuk dalam setiap arti”. Kemudian tulisan disambung dengan beberapa syair :

Saya adalah orang yang memuji.

Saya adalah orang yang bersyukur

Saya adalah orang yang ingat.

Saya adalah orang yang lapar.

Saya adalah orang yang kehilangan.

Saya adalah orang yang talanjang.

Terhadap yang enam itu (syair di atas)

Saya menjamin separuhnya.

Jadilah Engkau Yang menjamin separuhnya lagi.

Wahai Dzat Pencipta.

Memuji kepada selain-Mu.

Adalah jilatan api neraka.

Yang telah Kau panaskan.

Selamatkanlah orang yang selalu menyembah-Mu.

Dari masuk neraka.

Neraka di sampingku.

Seperti sebuah pertanyaan.

Apakah Engkau tahu

Bahwa Engkau tidak memaksaku masuk neraka.

Setelah itu Ibrahim memberikan ruq’ah (semacam bungkusan berisi uang logam atau papan tulis) kepada Hudzaifah. Dia mengatakan, “Keluarlah, hatimu jangan kau gantungkan kepada selain Allah SWT. Dan berikanlah ini kepada orang yang pertama yang engkau jumpai.”

Hudzaifah merasa bahagia atas peristiwa tersebut. Orang  pertama yang ia jumpai adalah orang yang berada di atas keledai. Ia berikan ruq’ah itu kepadanya. Orang itu mengambilnya lantas menangis. Ia bertanya kepada Hudzaifah, “Apa yang sedang dikerjakan oleh pemilik ruq’ah ini “”

“Dia berada di Masjid Fulani”.

Orang itu memberikan kantong kepada Hudzaifah yang berisi enam ratus dinar. Setelah itu Hudzaifah berjumpa dengan laki-laki lain dan bertanya, “Siapapemilik keledai ini ?” tanya Hudzaifah

“Orang nasrani”. Jawabnya.

Lantas Hudzaifah mendatangi Ibrahim bin Adham. Ia  menceritakan kejadian tersebut. Ibrahim lalu berpesan, “Jangan kau sentuh keledai itu. Sebentar lagi orangnya akan datang”.

Selang beberapa waktu orang nasrani itu datang sambil menundukkan kepalanya. Ia menghadap Ibrahim lalu duduk bersimpuh di hadapannya dan menyatakan keislamannya.

Syukur

Allah SWT berfirman, “Jika kamu sekalian bersyukur, maka Aku (Allah) akan memberikan tambahan nikmat kepada kamu sekalian”.

Dari Yahya bin Ya’la dari Abu Khubab dari Atha’ diceritakan bahwa ia bertemu Aisyah RA bersama Ubaid bin Umair, lalu mengatakan, “Berikanlah kami berita tentang sesuatu yang paling mengagumkan dari RasuluLlah SAW yang pernah engkau lihat”.

Aisyah menangis lantas menjawab, “Keadaan RasuluLlah yang mana yang tidak mengagumkan ? di waktu malam Beliau datang kepadaku. Beliau masuk ke tempat tidur bersamaku sehingga kulitku bersentuhan dengan kulitnya. Beliau mengatakan, Wahahai putri Abu Bakar, tinggalkanlah diriku, saya sedang beribadah kepada Tuhanku”.

“Saya ingin lebih dekat denganmu”. Pintaku. Wanita agung ini lantas minta izin untuk mengambil gerabah air. Beliau berwudhu dan menuangkan air begitu banyak. Setelah itu RasuluLlah SAW berdiri dan mengerjakan shalat. Beliau menangis sehingga air matanya bercucuran sampai ke dadanya. Beliau ruku’, sujud, dan mengangkat kepala dan masih dalam keadaan menangis. Beliau selalu seperti itu sampai Bilal datang, kemudian menyerukan azan untuk mengerjakan shalat. Aku  bertanya kepada RasuluLlah SAW, “Ya RasuluLlah SAW, apa yang membuatmu menangis, padahal Allah SWT telah mengampuni dosamu baik yang telah lalu maupun yang akan datang ?”

Beliau menjawab, “Apakah saya tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur. Kenapa saya tidak berbuat yang demikian, sedangkan Allah SWT menurunkan kepadaku ayat :

Inna fii khalqissamaawaati……sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, perbedaan siang dan malam , kapal yang berlayar di lautan (membawa) barang yang berfaedah bagi manusia, hujan yang diturunkan dari langit, lalu dihidupkan-Nya dengan air tersebut bumi yang telah mati, berkeliaran di atasnya tiap-tiap yang melata, angin yang bertiup dan awan yang terbentang antara langit dan bumi, sesungguhnya semua itu merupakan ayat-ayat bagi orang yang berfikir. (QS Al-Baqarah 164).

Atas pandangan ini dapat   ditarik pengertian bahwa Allah SWT selalu bersyukur, artinya Allah SWT akan membalas hamba-Nya yang bersyukur. Pembalasan ini dinamakan syukur sebagaimana firman Allah SWT :

Dan pembalasan orang yang berbuat jahat adalah kejahatan yang setimpal. (QS. Asy-Syura 40)

Menurut satu pendapat, bersyukurnya Allah SWT adalah memberikan pahala atas perbuatan pelakunya sebagaimana ungkapan bahwa hewan yang bersyukur adalah hewan yang gemuk karena selalu diberi makan. Hal ini dapat dikatakan bahwasanya hakikat syukur adalah memuji yang memberikan kenikmatan dengan mengingat kebaikannya. Bersyukurnya hamba kepada Allah SWT adalah memuji-Nya dengan mengingat kebaikan-Nya. Sedangkan syukurnya Allah SWT kepada hambanya bearti Allah SWT memuji kepadanya dengan mengingat kebaikannya. Perbuatan baik hamba adalah ta’at kepada Allah SWT sedangkann perbuatan baik Allah SWT terhadap hambanya adalah memberikan kenikmatan dengan memberikan pertolongan sebagai tanda syukur. Hakikat syukur bagi hamba adalah ucapan lisan dan pengakuan hati terhadap kenikmatan yang telah diberikan oleh Tuhan.

Syukur terbagi menjadi tiga, Pertama syukur dengan lisan. Yakni mengakui kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah SWT dengan sikap merendahkan diri. Kedua, syukur dengan badan, yakni bersikap selalu sepakat dan melayani (mengabdi) kepada Allah SWT dengan konsisten menjaga keagungan-Nya. Syukur lisan adalah syukurnya orang berilmu, ini dapat direalisasikan dengan bentuk ucapan. Syukur dengan badan adalah syukurnya ahli ibadah. Ini dapat direalisasikan dengan bentuuk perbuatan. Syukur dengan hati adalah syukurnya orang ahli ma’rifat. Ini dapat direalisasikan dengan semua hal ihwal hanya untuk Allah secara konsisten.

Menurut Abu Bakar Al-Waraq, yang dimaksud mensyukuri nikmat adalah memperhatikan pemberian dan menjaga kehormatan. Menurut Hamdun Al-Qashar yang dimaksud mensyukuri nikmat adalah memperhatikan dirinya meskipun tidak diundang. Menurut Al-Junaid, yang dimaksud syukur adalah sebab, karena dia mencari dirinya yang telah memperoleh kelebihan. Dia selalu menghadap Allah SWT karena memperoleh bagian dirinya. Menurut Abu Utsman, yang dimaksud syukur adalah mengetahui kelemahan syukur itu sendiri.

Ada yang berpendapat, bahwa syukur di atas syukur adalah lebih sempurna dari syukur itu sendiri. Artinya kita harus memperhatikan syukur karena merasa telah mendapatkan pertolongan dari Allah SWT berupa kenikmatan. Kita bersyukur di atas syukur dan bersyukur di atas syukurnya syukur sampai kepada sesuatu  yang tidak ada puncaknya. Menurut yang lain, yang dimaksud syukur adalah menyandarkan berbagai kenikmatan kepada Allah SWT dengan sikap merendah diri. Menurut Al-Junaid yang dimaksud syukur adalah tidak menganggap dirinya sendiri sebagai pemilik kenikmatan. Sedangkan menurut Ruwaim, yang dimaksud syukur adalah melepaskan kemampuan, merasa semua itu adalah pemberian Allah bukan atas usahanya sendiri.

Menurut satu pendapat, yang dimaksud syakir orang yang bersyukur adalah orang yang mensyukuri sesuatu yang ada. Sedangkan  yang dimaksud syakur (orang yang ahli bersyukur) adalah orang yang ahli mensyukuri sesuatu yang tidak ada. Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud syakir adalah orang yang mensyukuri pemberian, sedangkan yang dimaksud syakur adalah orang yang mensyukuri penolakan. Menurut sebagian ulama, yang dimaksud syakir adlah orang yang mensyukuri pencegahan. Menurut sebagian yang lain lagi, yang dimaksud syakir adalah orang yang mensyukuri pemberian, dan yang dimaksud syakur adalah orang yang mensyukuri cobaan. Menurut sebagian ulama, yang dimaksud syakir adalah orang yang mensyukuri kemurahan, sedang yang dimaksud syakur adalah orang yang mensyukuri penangguhan.

Al-Junaid berkata, “saya bermain di depan Syaikh Sarry As-Saqathi ketika aku berumur  tujuh tahun. Di hadapannya terdapat sekelompok orang yang sedang membicarakan syukur. Dia mengatakan kepadaku, “Wahai anak kecil, apa itu syukur ?” Saya menjawab, ‘Tidak mempergunakan nikmat untuk bermaksiyat kepada Allah SWT. Beliau mengatakan, “Lisanmu hampir saja mendapatkan bagian dari Allah SWT”. Kemudian Al-Junaid berkata, ‘saya selalu menangis apabila mengingat kata-kata yang diucapkan oleh Sariy’”.

Menurut As-Syibly, yang dimaksud syukur adalah memperhatikan Dzat yang memberikan kenikmatan, bukan kepada kenikmatan-Nya. Menurut satu pendapat, yang dimaksud syukur adalah mengatur sesuatu yang telah ada mencari sesuatu yang belum ada. Menurut Abu Utsman, yang dimaksud syukur orang awam adalah orang yang bersyukur kepada yang memberikan makanan dan pakain. Sedangkan yang dimaksud syukurnya orang khawash adalah orang yang bersyukur kepada sesuatu yang terlintas di dalam hati.

Menurut satu ungkapan, Nabi Dawud AS pernah mengatakan, “Yaa Tuhan, bagaimana saya bersyukur kepada-Mu sedangkan syukurku kepada-Mu adalah ni’mat darimu.” Maka Allah SWT menurunkan wahyu kepadanya :”Dawud sekarang Engkau telah bersyukur kepada-Ku”.

Demikian juga yang terjadi pada Nabi Musa AS ketika bermunajat kepada Allah, “Yaa Allah Engkau telah menciptakan Nabi Adam dengan kekuasaan-Mu dan berbuat demikian…demikian…. Bagaimana tentang syukurku ?” Allah SWT berfirman, “Adam mengetahui hal-hal itu dari-Ku. Oleh karena itu kema’rifatannya merupakan syukur kepada-Ku”.

Menurut satu cerita, seorang laki-laki  memasuki rumah Sahal bin AbduLlah. Dia mengadukan sesuatu kepadanya, “Sesungguhnya seorang pencuri telah memasuki rumahku dan mengambil barang daganganku.” Setelah itu pencuri mengatakan, “Bersyukurlah kepada Allah SWT. Seandainya ada pencuri memasuki hatimu, sedang ia adalah setan kemudian ia merusak tauhidmu, apa yang harus kau kerjakan ?”

Menurut satu pendapat, yang dimaksud syukur kedua mata adalah menutupi cacatnya teman yang pernah kita lihat. Sedangkan yang dimaksud syukurnya kedua telinga adalah menutupi cacatnya teman yang pernah kita dengar. Menurut yang lain, yang dimaksud syukur adalah merasa senang dengan pemberian yang belum pernah didapatkan.

Al-Junaid mengatakan, Syaikh Sariy apabila hendak menolongku dia bertanya kepadaku. Suatu hari ia bertanya kepadaku, “Wahai Abul Qasim, apa syukur itu ?”

“Jangan meminta pertolongan agar mendapatkan kenikmatan dari Allah SWT” .

“Dari mana hal itu kau peroleh ?”

“Dari tempat-tempat pengajianmu”

Menurut satu pendapat, Hasan bin Ali pernah metapkan syukur sebagai rukun. Dia juga pernah mengatakan, “Ya Tuhan Engkau telah memberikan kenikmatan kepadaku, tetapi Engkau tidak mendapati diriku sebagai orang yang bersyukur. Engkau telah memeberikan cobaan kepadaku, namun Engkau tidak mendapati diriku sebagai orang yang sabar. Engkau tidak pernah menghilangkan kenikmatan hanya disebabkan tidak adanya syukur dan Engkau tidak pernah menimpakan kesusahan disebabkan tidak adanya sabar. Ya Tuhan tiada Dzat Yang Maha Mulia kecuali kemuliaan-Mu”.

Sebagian ulama mengatakan, “apabila engkau perpendek tanganmu untuk menghindari balasan, maka panjangkanlah lisanmu dengan bersyukur”.

Menurut satu pendapat, ada empat perbuatan yang tidak menghasilkan buah. Pertama, orang tuli yang berbicara. Kedua, orang yang memberikan kenikmatan kepada orang yang tidak pernah bersyukur. Tiga, orang yang menanam biji-bijian di tanah yang keras. Ke empat, orang yang menyalakan lampu di tengah sinar matahari”.

Ketika Nabi Idris AS diberi ampunan, Beliau bertanya tentag kehidupan. Beliau kemudian balik ditanya oleh malaikat, “Untuk apa?”.

“Untuk mensyukurinya, karena sebelumnya saya tidak pernah berbuat untuk mendapatkan ampunan”.

Setelah itu Malaikat menurunkan sayapnya dan membawa Nabi Idris AS ke langit.

Dalam cerita yang lain dijelaskan salah seorang dari para Nabi menemukan batu kecil yang mengeluarkan air begitu banyak. Dia sangat mengaguminya. Maka kemudian Allah SWT memberikan kemampuan kepada batu tersebut untuk berbicara.

“Saya pernah mendengar Allah SWT berfirman, “Takutlah kepada api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan”. (QS. Al-baqarah 24).

“Saya (batu) menangis karena takut kepada Allah SWT”. Kata sang batu.

Nabi tersebut kemudian mendoakan agar Allah SWT menyelamatkan batu itu. Setelah itu Allah SWT menurunkan wahyu kepada sang Nabi, “Aku telah menyelamatkan batu itu dari api neraka”.

Sang Nabi kemudian pergi. Dan setelah kembali dia melihat air masih memancar dari batu tersebut, karenanya sang Nabi merasa heran. Allah SWT kembali memberikan kemampuan kepada batu tersebut untuk berbicara. Maka Nabi lantas bertanya, “Mengapa engkau masih menangis ?”

“Allah SWT telah mengampuniku.” Jawab sang batu.

Nabi itu kemudian berkata seraya pergi, “Yang pertama ia menangis karena berduka cita dan takut, sedangkan yang kedua ia menangis karena bersyukur dan bahagia”.

Menurut satu pendapat, yang dimaksud orang yang mensyukuri kelebihan adalah orang yang mendapatkan kenikmatan. Allah SWT berfirman, “Jika kamu bersyukur maka Aku Allah akan memberikan tambahan kepada kamu sekalian”. (QS Ibrahim 7).

Sedangkan yang dimaksud orang yang bersabar adalah orang yang mendapatkan cobaan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Anfal 46).

Sekelompok orang datang kepada Umar bin Abdul Aziz. Diantara mereka terdapat seorang pemuda yang sedang berpidato. Umar bin Abdul Aziz berkata, “Hindarilah kesombongan”.

Dijawab, “Seandainya urusan ini dikaitkan dengan umur, maka tentu diantara orang-orang Islam terdapat orang yang lebih berhak memegang jabatan khalifah,” Jawab sang pemuda.

“Bicaralah”.

“Kami bukan utusan raghbah (para pecinta) dan bukan pula termasuk rahbah (orang-orang yang takut kepada Allah). Yang dimaksud raghbah adalah orang-orang yang mendapatkan keutamaan, sedang yang dimaksud rahbah adalah orang yang mendapatkan keadilan.”

“Siapa kalian sebenarnya? “. Tanya khalifah Umar bin Abdul Aziz.

“Kami adalah utusan syukur. Kami datang ke sini untuk bersyukur dan berpaling”.

Menurut satu pendapat, Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Musa AS “Kasihanilah hamba-hamba-Ku yang mendapatkan cobaan dan keselamatan”.

“Bagaimana halnya dengan orang-orang yang selamat ?” Tanya Musa AS.

karena sedikitnya mereka bersyukur terhadap keselamatan yang telah Kuberikan .”Jawab Allah.

Menurut pendapat yang lain, memuji ditujukan kepada jiwa, sedangkan syukur ditujukan kepada kenikmatan panca indera. Menurut sebagian ulama, memuji adalah permulaan dan bersyukur adalah tebusan. Dalam hadits sahih disebutkan bahwasanya permulaan orang yang dipanggil ke surga adalah orang-orang yang memuji Allah SWT dalam segala hal. Menurut sebagian yang lain memuji Allah SWT ditujukan kepada sesuatu yang diberikan, sedangkan syukur ditujukan kepada sesuatu yang dikerjakan.

Qana’ah


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allah SWT berfirman,”Barang siapa yang mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan ia beriman, niscaya kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik”.(QS.An-Nahl 98)

Kebanyakan ahli tafsir mengatakan, “kehidupan yang baik di dunia adalah qana’ah”.

Dari Jabir bin Abdullah. Dia mengatakan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Qana’ah adalah harta simpanan yang tidak akan pernah habis”.

Abu Hurairah RA. Menyampaikan sabda RasuluLlah SAW yang Menyatakan : Jadilah orang yang wara’ maka engkau akan menjadi orang paling ahli ibadah. Jadilah orang qana’ah maka engkau akan menjadi orang yang paling ahli bersyukur. Cintailah orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, maka engkau akan menjadi orang mukmin yang paling baik. Berbuatlah baik kepada tetanggamu, maka engkau akan menjadi orang Islam yang baik. Sedikitkan tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.

Menurut suatu pendapat, orang-orang fakir diibaratkan orang-orang yang telah meninggal dunia, kecuali orang-orang yang telah dihidupkan oleh Allah SAWdengan kemuliaan qana’ah.

Menurut Bisyir Al-Hafi, qana’ah ibarat raja yang tidak mau bertempat tinggal kecuali di hati orang mukmin. Menurut Abu Sulaiman Ad-Daraani qana’ah karena ridha kedudukannya sama dengan wara’ karena zuhud. Qana’ah adalah permulaan ridha sedangkan permulaan wara’ adalah zuhud. Menurut pendapat yang lain, qana’ah adalah sikap tenang karena tidak ada sesuatu yang dibiasakan.

Abu Bakar Al-Maraghi mengatakan, “Orang yang berakal sehat adalah orang yang mengatur dunia dengan sikap qana’ah. Dan memperlambat diri, mengatur urusan akhirat dengan siakp loba dan mempercepat, mengatur urusan agama dengan ilmu dan ijtihad”. Menurut AbdiLlah ibn Khafif qana’ah adalah meninggalkan angan-angan terhadap sesuatu  yang tidak ada dan menganggap cukup dengan sesuatu yang ada.

Yang dimaksud firman Allah SWT yang menyatakan bahwa “Dia akan memberikan rizki kepada meraka dengan rizki yang baik” (QS.AL-Haj 58). Yang dimaksud ayat ini adalah qana’ah. Menurut Muhammad bin Ali At-Tirmidzi, yang dimaksud qana’ah adalah jiwa yang rela tehadap pembagian irzki yang telah ditentukan. Menurut satu pendapat, qana’ah adalah menganggap cukup dengan sesuatu yang ada dan itdak berkeinginan terhadap sesuatu yang tidak ada hasilnya. Wahab mengatakan, “kekayaan dan kemuliaan akan berkeliling mencari teman. Apabila mereka telah menemukan qana’ah, maka mereka akan menetap”. Menurut pendapat yang lain, baang siapa yang qana’ahnya gemuk, maka ia akan mencari makanan yang ada lemaknya. Barang siapa yang mengembalikan diri sendiri kepada Allah (qana’ah) maka dalam segala halnia akan diberi rizki”.

Dalam suatu cerita dijelaskan bahwa Abu Hazib berjalan bertamu di rumah qashab (seorang penjagal dengan membawa daging yang gemuk. Qashhab mengatakan, “ambilah wahai Abu Hazm karena dagng ini gemuk”.

“Saya tidak membawa uang”. Jawab Abu Hazib

“Diriku lebih tahu daripada kamu”. Kata qashab.

Sebagian ualama pernah ditanya, “Siapa orang yang paling qana’ah” ? kemudian dijawab, “orang yang selalu memberikan pertolongan, meskipun kekayaannya  sedikit”. Di dalam kitab zabur diungkapkan bahwa orang yang qana’ah adalah orang yang kaya meskipun serba kelaparan.  Menurut saut pendapat, Allah SWT meletakkan lima hal ke dalam lima tempat. Pertama, kemuliaan dalam taat. Kedua, kehinaan dalam maksiyat. Ke tiga, kehebatan dalam melaksanakan shalat malam. Keempat, kebijaksanaan dalam hati yang kosong. Kelima, kekayaan dalam qana’ah.

Ibrahim Al-Maratsani mengatakan, “Balaslah lobamu dengan qana’ah sebagaimana engkau membalas musuhmu dengan qishash”. Dzunun Al-Mishri mengatakan, “”Barang siapa menerima ketenangan dari ahsil pekerjaan maka ia telah memberikan kenikmatan kepada semua orang”. Muhammad AL-Kattani njuga mengatakan, “Barang siapa yang menjual loba dengan  qana’ah maka ia akan memperoleh kemuliaan dan harga diri”. Sebagian ulama mengatakan, “Barang siapa yang kedua matanya memandang kekayaan orang lain, maka ia akan selalu berduka cita”. Oleh karena itu para ulama berkata :

Sebaik-baiknya pemuda

Adalah orang yang telah memperole apa-apa

Dari hari ke hari. Dia adalah orang yang kaya

Karena memperoleh kemuliaan dan kelaparan

Yang dimaksud firman Allah Ta’ala Sesungguhnya orang-orang yang baik berada di syurga Na’im (QS. Al-Infithar 13), artinya adalah qana’ah di dunia.

Sedangkan yang dimaksud dengan ayat Sesungguhnya orang –orang yang jahat berada di neraka jahanam (QS. Al-Infithar 14), artinya adalah loba di dunia.

Menurut satu pendapat, yang dimaksud dengan firman Allah Tahukan kamu apakah kesulitan itu, ialah memerdekakan budak (QS. Al-Balad 12-13) Artinya memerdekakan budak dari rendahnya loba.

Menurut sebagian yang lain, yang dimaksud firman Allah Ta’ala Allah hanya menghendaki agar menghilangkan kotoran (dosa) dari kamu sekalian wahai ahlul bayt (QS. AL-Ahzab 33) Artinya adalah kikir dan loba.

Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud firman Allah Berilah diriku ini kerajaan yang tak pantas bagi orang setelahku. (QS. Shad 35), yaitu kedudukan qana’ah sehingga saya tidak mendapatkan kesulitan dan selalu rela terhadap keputusan-Mu.

Sedangkan menurut sebagian ulama yang lain, yang dimaksud firman Allah Ta’ala Saya (Sulaiman) pasti akan menyikasanya dengan siksaan yag pedih (QS. An-Naml 21), maksudnya adalah –saya pasti akan menmghilangkan qana’ah darinya dan mengujinya dengan loba. Artinya saya akan memohon kepada Allah SAW agar mengabulkan permohonan saya itu.

Abu Yazid Al-Bustami pernah ditanya, “Sebab apa engkau meperoleh kemuliaan setinggi ini ?”

Beliau menjawab, “Saya mengumpulkan seb-sebab kehidupan dunia, kemudian saya lepaskan dengan tali qana’ah. Saya letakkan dalam meriam kebenaran, dan saya lemparkan ke dalam sungai keputus asaan, sehingga hati saya menjadi tenang”.

Muhammad bin Farhan berada di Samura. Dia mengatakan bahwa ia telah mendengar Khali Abdul Wahab mengatakan, “Saya duduk di samping Junaid pada suatu musim. Di sekelilingnya terdapat rombongan orang ‘ajam dan orang-orang tua. Di antara mereka ada seseorang membewa lima ratus dinar dan meletakkannya di hadapan Al-Junaid.

‘bagi-baikanlah dinar-dinar itu kepada orang-orang yang fakir’. Kata pemilik uang terseburt.

‘Apakah engkau memiliki yang lain ?’ tanya Al-Junaid.

‘Ya saya masih memiliki beberapa dinar yang lain’.

‘Apakah engkau hendak memiliki selain barang itu ?’

‘Ya’

‘Kalau begitu ambilah kembali dinar itu karena engkau tentu lebih butuh daripada kami’. Tetapi dia (orang yang hendak bersedekah) tidak mau menerimanya’”.

Ibadah


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Sesungguhnya ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar sentral, yaitu: hubb (cinta), khauf (takut) dan raja’ (harapan). Rasa cinta harus dibarengi dengan sikap rasa rendah diri, sedangkan khauf harus dibarengi dengan raja’. Dalam setiap ibadah harus terkumpul unsur-unsur ini.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman tentang sifat hamba-hambaNya yang mukmin:

“Dia mencintai mereka dan mereka mencintaiNya.” (Al-Ma’idah: 54)

“Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)

Dia Subhannahu wa Ta’ala berfirman menyifati para rasul dan nabiNya: “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami.” (Al-Anbiya’: 90)

Sebagian salaf berkata: “Siapa yang menyembah Allah dengan rasa hubb (cinta) saja maka ia zindiq. Zindiq adalah istilah untuk setiap munafik, orang yang sesat dan mulhid (pen).[1]

Siapa yang menyembahNya dengan raja’ (harapan) saja maka ia adalah murji’. Murji’ adalah orang Murji’ah, yaitu golongan yang mengatakan bahwa amal bukan bagian dari iman. Iman hanya dengan hati (pen.).[2]

Dan siapa yang menyembahNya hanya dengan khauf (takut) saja, maka ia adalah haruriy. Haruriy adalah orang dari golongan Khawarij, yang pertama kali muncul di Harurro’, dekat Kufah, yang berkeyakinan bahwa orang mukmin yang berdosa adalah kafir (pen).[3]

Siapa yang menyembahNya dengan hubb, khauf dan raja’ maka ia adalah mukmin muwahhid.” Hal ini disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Risalah Ubudiyah.

Beliau juga berkata: “Dien Allah adalah menyembahNya, ta’at dan tunduk kepadaNya. Asal makna ibadah adalah adz-dzull (hina). Akan tetapi ibadah yang diperintahkan mengandung makna dzull dan hubb. Yakni mengandung makna dzull yang paling dalam dengan hubb yang paling tinggi kepadanya. Siapa yang tunduk kepada seseorang dengan perasaan benci kepadanya, maka ia bukanlah menghamba (menyembah) kepadanya.

Dan jika ia menyukai sesuatu tetapi tidak tunduk kepadanya, maka ia pun tidak menghamba (menyembah) kepadanya. Sebagaimana seorang ayah mencintai anak atau rekannya. Karena itu tidak cukup salah satu dari keduanya dalam beribadah kepada Allah, tetapi hendaknya Allah lebih dicintainya dari segala sesuatu dan Allah lebih diagungkan dari segala sesuatu. Tidak ada yang berhak mendapat mahabbah (cinta) dan khudhu’ (ketundukan) yang sempurna selain Allah. Majmu’ah Tauhid Najdiyah, 542.[4]

Inilah pilar-pilar kehambaan yang merupakan poros segala amal ibadah. Ibnu Qayyim berkata dalam Nuniyah-nya: “Ibadah kepada Ar-Rahman adalah cinta yang dalam kepadaNya, beserta kepatuhan penyembahNya. Dua hal ini adalah ibarat dua kutub. Di atas keduanyalah orbit ibadah beredar. Ia tidak beredar sampai kedua kutub itu berdiri tegak. Sumbunya adalah perintah, perintah rasulNya. Bukan hawa nafsu dan syetan.”

Ibnu Qayyim menyerupakan beredarnya ibadah di atas rasa cinta dan tunduk bagi yang dicintai, yaitu Allah Subhannahu wa Ta’ala dengan beredarnya orbit di atas dua kutubnya. Beliau juga menyebutkan bahwa beredarnya orbit ibadah adalah berdasarkan perintah rasul dan syari’atnya, bukan berdasarkan hawa nafsu dan setan. Karena hal yang demikian bukanlah ibadah. Apa yang disyari’atkan baginda Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam itulah yang memutar orbit ibadah. Ia tidak diputar oleh bid’ah, nafsu dan khurafat.

Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Turmudzi menunjukkan bahwa do’a merupakan jenis ibadah yang paling  penting. Karena shalat tidak boleh ditujukan kepada Rasul atau wali. Demikian pula do’a.1.Orang yang mengatakan “ya Rasululloh” atau “Hai orang yang ghaib, berilah aku pertolongan dan anugrah”, berarti berdo’a kepada selain Allah, meskipun niatrnya bahwa yang memberi pertolongan itu Allah.Demikian pula orang yang berkata,”saya shalat untuk Rasul atau wali” meskipun dalam hatinya untuk Allah, shalat seperti itu tidak akan diterima, karena ucapannya berlawanan dengan  hatinya. Ucapan harus sesuai dengan niat dan keyakinan. Bila tidak demikian maka perbuatannya termasuk syirik yang tidak diampuni selain dengan taubat.2.Apabila ia mengatakan yang diniatkan adalah Nabi atau wali itu sebagai perantara kepada Allah, seperti menghadap raja, perlu seorang perantara maka yang demikian itu merupakan menyamakan (tasybih) Allah dengan makhluk yang dhalim. Tasybih seperti itu akan menyeretnya kepada kekufuran. Padahal Allah telah berfirman yang menyatakan kesuciannya daripada penyamaan dengan makhlukNya baik dalam dzat, sifat maupun titahNya.Firmannya : “

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (As-Syura : 11).

3.Orang-orang musyrik pada zaman Nabi Shallallahu’alaihi wasallam meyakini bahwa Allah pencipta dan pemberi rizki, tetapi mereka berdo’a kepada wali-wali (pelindung) mereka yang berwujud patung.Mereka beranggapan bahwa patung-patung itu menjadi perantara yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah. Ternyata Allah tidak mentolerir perbuatan mereka itu bahkan mengkafirkan mereka dengan firmanNya : “

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah berkata: kami tidak menyembah mereka kecuali hanya agar mereka dapat mendekatkan diri kami kepada Allah sedekat-dekatnya. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh Allah tidak memberikan petunjuk kepda orang-orang yang dusta dan sangat ingkar.” (Az-Zumar ; 3).

Allah itu dekat dan mendengar, tidak perlu perantara. Firmannya :”

“Apabila hambaKu bertanya kepadamu tentang diriKu,  maka sesungguhnyaAku dekat.” (Al-Baqarah : 186).

4.ang-orang musyrik apabila berada dalam bahaya berdo’a hanya kepada Allah saja, tetapi setelah selamat dari bahaya mereka berdo’a kepada pelindung-pelindungnya berupa patung-patung, sehingga Allah menyebut mereka sebagai orang kafir.Firmannya : “

“Dan apabila gelombang dari segenap penjuru menimpanya dan mereka yakin bahwa mereka dalam kepungan bahaya, mereka berdo’a kepada Allah dengan ikhlas semata-mata kepadanya. Mereka berkata :sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.”(Yunus : 22).

Maka kenapa sejumlah orang Islam berdo’a kepada para rasul dan orang-orang shaleh (selain Allah). Mereka meminta pertolongan daripadanya, baik di waktu susah maupun gembira. Apakah mereka tidak membaca firman Allah : “

“Siapa gerangan yang lebih sesat daripada orang yang berdo’a kepada selain Allah, yaitu kepada orang yang tidak dapat memberikan pertolongan sampai hari kiamat, sedangkan mereka sendiri lalai akan do’a mereka. Dan apabila mereka dikumpulkan pada hari kiamat, niscaya sesembahan mereka akan menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan mereka.” (Al-Ahqaf : 5-6).

5.Banyak orang yang menyangka bahwa kaum musyrikin yang disebut dalam Al-Qur’an itu adalah orang yang menyembah patung yang terbuat dari batu. Anggapan itu keliru, sebab patung-patung itu dahulunya adalah nama-nama orang shaleh. Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu mengenai firman Allah dalam surat Nuh : “

“Dan mereka berkata : jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhanmu dan  jangan pula meninggalkan WADD, SUWA, YAGHUTS, YA’UQ dan NASR. (Nuh : 23).

Ibnu Abbas mengatakan bahwa nama-nama tersebut adalah nama-nama orang-orang shaleh umat nabi Nuh u. Setelah mereka mati, setan membisikkan kepada para pengikutnya agar di tempat duduk mereka, didirikan monumen-monumen yang diberi nama dengan nama mereka. Mereka melaksanakannya namun patung-patung itu belum sampai disembah. Setelah pembuat patung-patung itu mati dan generasi berikutnya tidak lagi mengetahui asal-usulnya, patung-patung itu ahirnya disembah. 6.Allah membantah orang-orang yang berdo’a kepada para Nabi dan wali: “

“Katakanlah, panggillah mereka yang kamu anggap tuhan selain Allah. Mereka tidak mempunyai kekuasaan untuk menolak bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu sendiri justru mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat dengan Allah dan juga mengahrapkan rahmatNya serta takut akan Adzabnya. Sungguh adzab Tuhanmu itu sesuatu yang patut ditakuti.” (Al-isra’ : 56-57).

Imam ibnu Katsir menafsirkan bahwa ayat ini turun mengenai sekelompok manusia yang menyembah jin dan berdo’a kepadanya. Jin tersebut kemudian masuk Islam. Ada juga yang mengatakan bahwa ayat ini turun mengenai orang-orang yang berdo’a kepada Isa Al-Masih dan malaikat. Dari keterangan-keterangan di atas telah jelas bahwa ayat ini membantah dan mengingkari orang-orang yang berdo’a kepada selain Allah, meskipun kepada  Nabi atau wali. 7.Ada orang yang menyangka bahwa minta tolong (istighatsah) kepada selain Allah itu boleh dengan alasan bahwa yang memberi pertolongan sebanarnya adalah Allah, seperti istighatsah kepada Rasul dan wali-wali. Ini dikatakan boleh, seperti ada orang yang berkata : saya disembuhkan oleh obat dan dokter. Pendapat ini salah dan dibantah oleh firman Allah yang mengisahkan do’a Nabi Ibrahim : “

“ Allah lah yang menciptakan aku maka  Dialah yang memberikan petunjuk kepadaku. Dialah yang memberi makan dan minum aku, dan apabila aku sakit Dialah yang  menyembuhkanku.” (Asy-syuaraa’ : 78-80).

Ayat ini menerangkan bahwa pemberi petunjuk, rezki dan kesembuhan adalah Allah saja bukan yang lain, sedangkan obat  hanyalah sebagai sebab saja dan tidak menyembuhkan. 8.Banyak orang yang tidak dapat membedakan antara istighatsah kepada orang hidup dan istighatsah kepada orang mati. Firman Allah : “

“Tidaklah sama orang yang hidup dengan orang yang mati.” (Fathir : 22).

“Nabi Musa dimintaitolong oleh seorang dari golongannya untuk mengalahkan musuh orang itu.” (Al-Qashah : 15). Ayat ini  menceritakan tentang seorang yang minta tolong kepada Musa agar melindunginya dari musuhnya dan Musa pun menolongnya:”

“Dan Musa meninjunya sehingga matilah musuh itu.” (Al-Qashash : 15)

Adapun orang  mati tidak boleh kita meminta tolong kepadanya karena ia tidak dapat mendengar do’a kita. Andaikata mendengar pun ia tidak akan dapat memenuhi permintaan kita karena ia tidak dapat melakukannya. Firman Allah : “

“Apabila kamu berdo’a kepada mereka, mereka tidak dapat mendengar do’a kamu dan  seandainya mereka dapat mendengar, mereka tidak dapat memenuhi permintaanmu. Dan pada hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu.” (Fathir : 14).

“dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah itu tidak dapat membuat sesuatu apapun sedang  mereka sendiri dibuat orang. Mereka itu benda mati, tidak hidup dan mereka itu tidak dapat mengetahui kapan akan dibangkitkan.” (An-Nahl : 20-21). 8.Dalam hadits-hadits shahih terdapat keterangan bahwa menusia pada hari kiamat nanti mendatangi para Nabi untuk minta syafaat, sampai mereka mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam untuk meminta syafaat agar segera dibebaskan. Nabi Muhammad menjawab : ya, memang saya dapat memberi syafaat, kemudian beliau sujud di bawah Arsy dan memohon kepada Allah agar mereka segera dibebaskan dan dipercepat proses penghisabannya. Syafaat ini adalah permintaan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam dan waktu itu beliau dalam keadaan hidup dimana beliau dapat berbicara dengan mereka lalu beliau memohonkan syafaat. Itulah yang diperbuat Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam.9.Argumen yang paling tepat untuk membedakan antara memohon kepada orang mati dan orang hidup adalah apa  yang dikatakan Umar bin Khatthab pada waktu terjadi kekeringan dimana beliau meminta kepada Al-Abbas paman Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam untuk mendo’akan mereka, dan Umar tidak pernah minta tolong kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam setelah beliau wafat.10.Ada sejumlah ulama yang menyangka bahwa tawassul itu sama dengan istighatsah, padahal perbedaan antara keduanya besar sekali. Tawassul adalah berdo’a kepada Allah melalui perantara seperti, wahai Allah, dengan perantaraan cintaku  kepadamu dan cintaku kepada Rasulmu bebaskanlah kami. Do’a dengan cara tawassul seperti ini boleh. Istighatsah adalah berdo’a kepada selain Allah seperti, wahai Rasululloh, bebaskanlah kami. Ini tidak boleh, bahkan termasuk syirik besar berdasarkan firman Allah : “

“Dan janganlah kamu berdo’a kepada selain Allah, yang tidak  memberi manfaat  dan  tidak pula memberi madharat kepadamu, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang zalim (musyrik).” (Yunus : 106).

Keutamaan menuntut Ilmu


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam).” [1]

Hadits yang mulia ini menunjukkan agungnya kedudukan ilmu agama dan keutamaan yang besar bagi orang yang mempelajarinya, sehingga Imam an-Nawawi dalam kitabnya Riyadhush Shalihin [2], pada pembahasan “Keutamaan Ilmu” mencantumkan hadits ini sebagai hadits yang pertama.

Imam an-Nawawi berkata: “Hadits ini menunjukkan keutamaan ilmu (agama) dan keutamaan mempelajarinya, serta anjuran untuk menuntut ilmu.” [3]

Imam Ibnu Hajar al-’Asqalaani berkata: “Dalam hadits ini terdapat keterangan yang jelas tentang keutamaan orang-orang yang berilmu di atas semua manusia, dan keutamaan mempelajari ilmu agama di atas ilmu-ilmu lainnya.” [4]

Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini adalah:

1. Ilmu yang disebutkan keutamaannya dan dipuji oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya adalah ilmu agama. [5]
2. Salah satu ciri utama orang yang akan mendapatkan taufik dan kebaikan dari Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan orang tersebut berusaha mempelajari dan memahami petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam agama Islam. [6]
3. Orang yang tidak memiliki keinginan untuk mempelajari ilmu agama akan terhalangi untuk mendapatkan kebaikan dari Allah Ta’ala. [7]
4. Yang dimaksud dengan pemahaman agama dalam hadits ini adalah ilmu/pengetahuan tentang hukum-hukum agama yang mewariskan amalan shaleh, karena ilmu yang tidak dibarengi dengan amalan shaleh bukanlah merupakan ciri kebaikan. [8]
5. Memahami petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar merupakan penuntun bagi manusia untuk mencapai derajat takwa kepada Allah Ta’ala. [9]
6. Pemahaman yang benar tentang agama Islam hanyalah bersumber dari Allah semata, oleh karena itu hendaknya seorang muslim disamping giat menuntut ilmu, selalu berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala agar dianugerahkan pemahaman yang benar dalam agama. [10]

***

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.A.
Artikel http://www.muslim.or.id

Footnote:

[1] HSR al-Bukhari (no. 2948) dan Muslim (no. 1037).

[2] 2/463- Bahjatun Naazhiriin.

[3] Syarah Shahih Muslim (7/128).

[4] Fathul Baari (1/165).

[5] Lihat keterangan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaiman dalam kitab al-Ilmu (hal. 9).

[6] Lihat kitab Miftaahu Daaris Sa’aadah (1/60).

[7] Lihat kitab Fathul Baari (1/165) dan Miftaahu Daaris Sa’aadah (1/60).

[8] Lihat kitab Miftaahu Daaris Sa’aadah (1/60).

[9] Lihat kitab Syarah Shahih Muslim (7/128) dan Faidhul Qadiir (3/510).

[10] Lihat Bahjatun Naazhiriin (2/463).

MengQada Sholat


Bismilahir Rahiim Rahiim

MengQada Sholat Yang DiFardhukan

1)Tersebut didalam “KITABUL FIQH ALA MAZAHIBIL ARBAAH” (Kitab fiqh bagi 4 mazhab) bagi Syeikh Abdul Rahman AL-JAZAIRI dalam bahasa Arab. Juzu 1 (Kitabus Solah) dari 7 juzu .

MengQada solat yg difardukan yang mana telah luput(ditinggalkan), Wajib diQada dengan segera. Sama ada luput dengan uzur atau luput dengan ketiadaan uzur. Tidak harus melambatkan Qada melainkan dengan ada keuzuran seperti bekerja mencari rezeki dan mencari ilmu yang wajib atasnya(fardhu ain). Dan tidaklah terangkat(hilang) dosa tinggal solat dengan hanya bertaubat sahaja. Tidaklah bermakna solat yg ditinggalkan dahulu itu tidak perlu diambil kira. Cuma menuju kehadapan sahaja. Lalu bersungguh-sungguhlahlah dia melaksanakan solat sunat dan ibadah sunat.

Dari sudut Mazhab Syafi’e

HARAM atas orang yang ada diatasnya sembahyang Qada yang mana wajib atasnya mengQada sembahyang itu dengan segera bahawa dia menyibukkan diri dengan sembahyang sunat Mutlak (apa jua sembahyang sunat), sama ada solat sunat Rawatib atau yang lainnya (sembahyang raya,terawih) hinggalah lepas tanggungannya daripada sembahyang Qada.

Dari sudut Mazhab Hambali

Haramlah diatas orang yang diatasnya itu ada sembahyang Qada bahawa dia sembahyang solat MUTLAK. Kalaulah solat ia,tidak akan terikat (tidak sah). Jika solat yang berkait seperti Solat Rawatib dan Witir maka harus baginya. Akan tetapi yang terutama baginya tinggalkan sembahyang sunat, buat sembahyang Qada.

Dari sudut Mazhab Maliki

HARAM diatas orang yang diatasnya ada sembahyang Qada bahawa ia sembahyang sesuatu daripada sembahyang sunat melainkan Sunat Fajar(subuh),Witir dan Sunat Raya. Maka apabila dia sembahyang sunat selain dari yang ini seperti sunat Tarawih adalah ia diberi pahala dari sudut diri sembahyang(suatu ketaatan) dan BERDOSA dari sudut arah melambatkan Qada. Maliki meringankan sedikit bagi Sunat Tahiyatul Masjid dan sunat Rawatib.

Dari Sudut Mazhab Hanafi

Menyibukkan sembahyang sunat tidak menafikan segera sembahyang Qada. Hanya sesungguhnya yang terutamanya perlu sibuk dengan Sembahyang Qada yang luput dan tinggalkan solat sunat melainkan sunat Rawatib,Dhuha,Tasbih,Tahiyatul Masjid,4 rakaat selepas zohor dan 6 rakaat selepas maghrib.

Pesan Guruku, yang dikatakan boleh sembahyang sunat oleh Mazhab yang selain Syafi’e ialah jika ia dibuat bersama dengan sembahyang Qada . Jika sunat Tarawih 20 rakaat,perlu sembahyang Qada juga 20 rakaat. Mana munasabah jika Tarawih 20 rakaat,sembahyang Qada 2 rakaat sahaja bahkan ada juga yang tidak membuat sembahyang Qada.

2) Tersebut juga didalam kitab “KASYFUL LISAM” diterjemah dari versi arab oleh Alalim Alalamah Syeikh Zainul Abidin Ibnu Muhammad Fathani, dan pengarang asalnya memindah masalah2 itu daripada kitab2 yang besar seperti TUHFAH bagi Ibnu Hajar, NIHAYAH bagi Ramli, dan SYARAH MINHAJ bagi Mahalli. Didalam juzu 2 (ms 22, 7 baris dari pihak bawah) dicetak di Darul Ihya Al-Kitab, Kaherah,Mesir.

Masalah – Ditanya tentang seseorang yang ada atasnya beberapa sembahyang fardhu yang luput dengan tiada uzur, maka bercita-cita ia hendak Qada selepas bulan Ramadhan dan ia hendak mengerjakan didalam bulan Ramadhan itu Sunat Tarawih. Adakah boleh ia lambatkan Qada’ nya sebab azamnya hendak Qada selepas Ramadhan.

Jawabnya – Wajib mengQada’kan solat dengan segera dan tiada harus ia berbuat TARAWIH dan sunat lainnya. Kecuali sebab tinggal solat itu dengan uzur. Jika ditinggalkan tanpa uzur(sengaja) tidak boleh dilambatkan Qada’nya, perlu disegerakan.

3)Tersebut juga didalam kitab Al-Hujaj Al-Qath’iyyah Fii Shihhah Al-Mu’taqadaat Wa Al-Amaliyyaat Al-Nahdhiyyah dalam bahasa arab dan FIQH TRADISIONALIS(bahasa indon) oleh KH Muhyiddn Abdusshomad, pengasuh Pesantren Nurul Islam(NURIS) Antirogo Jember.

Sila rujuk Hadis dari:

Diriwayatkan dari Anas RA, ia berkata Rasulullah SAW telah bersabda, “Apabila salah seorang dari kamu tertidur atau lupa sehingga meninggalkan solat, maka solatlah kamu ketika ingat.Kerana Allah SWT berfirman “tegakkan Solat untuk mengingati-KU”.”Kitab SHAHIH MUSLIM (no hadis 1104)

Dalam hadis lain,Dari Anas bin Malik, dari Rasulullah SAW bersabda “barangsiapa yang lupa(sehingga) sehingga meninggalkan solat, maka hendaklah ia mengerjakan solat itu manakala ia telah ingat”. Kitab SHAHIH AL-BUKHARI (no hadis 562)

Dua hadis diatas menjelaskan bahawa yang wajib mengQada’kan solat hanya orang yang meninggalkan solat kerana tidak sengaja. Sedangkan orang yang meninggalkan solat tanpa ada uzur seakan-akan tidak wajib mengganti solatnya.Tetapi sebenarnya maksud Hadis tersebut tidak seperti itu. Orang yang sengaja tidak melaksanakan solat juga berkewajipan untuk mengQada’kan solatnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh IMAM NAWAWI dalam kitabnya:

“Sabda NABI SAW, “Barangsiapa yang lupa melakukan solat,maka hendaklah mengerjakannya manakala ia ingat”. Hadis ini menunjukkan kewajipan mengQada’kan solat yang ditinggalkan,baik kerana ada uzur misalnya tidur atau lupa atau tanpa keuzuran. Hadis ini (sengaja) membatasi dengan kata “nisyan(lupa)” kerana ada tujuan dan maksud tertentu. Iaitu untuk memberitahu bahawa jika orang yang meninggalkan solat kerana uzur masih wajib mengQada’kan solatnya, maka apatah lagi orang yang meninggalkan solatnya tanpa alasan yang dibenarkan, tentu mereka lebih wajib mengQada’kan solatnya. Masalah dalam Hadis ini termasuk pada perbahasan “menyebut sesuatu yang lebih rendah, tapi dimaksudkan sebagai peringatan kepada perkara yang lebih tinggi (al-tanbih bi al-adna ‘ala al-a’la). SYARAH AL-NAWAWI ALA MUSLIM, juzu 5,ms 183

Disamping itu,solat merupakan kewajipan seorang muslim kepada Allah SWT. Apabila tidak dilaksanakan,berarti seseorang mempunyai kewajipan hutang yang harus dibayarkan kepada ALLAH SWT. Sebagaimana Hadis Nabi SAW.

Dari Ibnu Abbas RA, beliau berkata “suatu hari seorang laki-laki mendatangi Rasulullah SAW. Dia bertanya, “Wahai Rasulullah,ibu saya telah meninggal dunia dan dia mempunyai hutang puasa.Apakah boleh saya menggantikannya?. Rasulullah SAW menjawab, “Ya Boleh,sebab hutang kepada ALLAH SWT lebih berhak untuk dilunaskan”. Kitab SHAHIH AL-BUKHARI (no hadis 1817)

Dapat kita ketahui bahawa betapa solat 5 waktu itu Wajib dikerjakan. Dalam keadaan apapun ia ditinggalkan, maka harus diganti. Bahkan jika ditinggalkan dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan, ia wajib segera menggantikan solat yang ditinggalkan itu, dan lagi tidak dibenarkan mengerjakan perbuatan lain, meskipun perbuatan sunat sebelum habis mengQada’kan solat yang ditinggalkannya..

Shalat Berjama’ah


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Shalat berjama’ah memiliki adab dan hukum-hukum yang terkait dan berhubungan dengannya. Semua ini karena arti penting dan kedudukannya dalam islam. Padahal pada kenyataannya banyak kaum muslimin yang belum mengetahui hal ini, sehingga banyak dijumpai mereka shalat berjama’ah tanpa memperhatikan adab dan hokum yang terkait. Akhirnya mereka terjerumus kedalam kesalahan dan dosa bahkan dalam kebid’ahan.

Batasan minimal peserta shalat berjama’ah.

Batasan minimal untuk shalat jama’ah adalah dua orang, seorang imam dan seorang makmum. Jumlah ini telah disepakati para ulama, sehingga Ibnu Qudamah menyatakan: “Shalat jama’ah dapat dilakukan oleh dua orang atau lebih. Kami belum menemukan perbedaan pendapat dalam masalah ini”[1].

Demikian juga Ibnu Hubairah menyatakan: “Para ulama bersepakat batasan minimal shalat jama’ah adalah dua orang, yaitu imam dan seorang makmum yang berdiri disebelah kanannya”.[2]

Shalat berjama’ah sah walaupun makmumnya seorang anak kecil atau wanita, berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu yang berbunyi:

بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ فَقُمْتُ أُصَلِّي مَعَهُ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَأَخَذَ بِرَأْسِي فَأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ

“Aku tidur dirumah bibiku, lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bangun mengerjakan shalat malam. Lalu aku turut shalat bersamanya dan berdiri disamping kirinya. Kemudian beliau meraih kepalaku dan memindahkanku kesamping kanannya”[3]

Demikian juga hadits Anas bin Malik Radhiallahu’anhu :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِ وَبِأُمِّهِ قَالَ فَأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ وَأَقَامَ الْمَرْأَةَ خَلْفَنَا

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam shalat mengimami dia dan ibunya. Anas berkata: “Beliau menempatkanku disebelah kanannya dan wanita (ibunya) dibelakang kami”[4]

Semakin banyak jumlah makmum semakin besar pahalanya dan semakin Allah sukai, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ وَمَا كَانُوا أَكْثَرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Shalat besama orang lain lebih baik dari shalat sendirian. Shalat bersama dua orang lebih baik dari shalat bersama seorang. Semakin banyak (yang shalat) semakim disukai Allah Ta’ala”[5]

Hadits ini jelas menunjukkan semakin banyak jumlah jama’ahnya semakin lebih utama dan lebih disukai Allah Ta’ala.

Demikian juga seorang anak kecil yang telah mumayiz boleh menjadi imam menurut pendapat yang rojih. Hal ini berdasarkan hadits Amru bin Salamah Radhiallahu’anhu yang berbunyi:

فَلَمَّا كَانَتْ وَقْعَةُ أَهْلِ الْفَتْحِ بَادَرَ كُلُّ قَوْمٍ بِإِسْلَامِهِمْ وَبَدَرَ أَبِي قَوْمِي بِإِسْلَامِهِمْ فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ جِئْتُكُمْ وَاللَّهِ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقًّا فَقَالَ صَلُّوا صَلَاةَ كَذَا فِي حِينِ كَذَا وَصَلُّوا صَلَاةَ كَذَا فِي حِينِ كَذَا فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآنًا مِنِّي فَقَدَّمُونِي بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَأَنَا ابْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعِ سِنِينَ

“Ketika terjadi penaklukan kota Makkah, setiap kaum datang menyatakan keislaman mereka. Bapakku datang menyatakan keislaman kaumku. Ketika beliau pulang beliau berkata: “Demi Allah Aku membawakan kepada kalian kebenaran dari sisi Rasulullah”. Lalu berkata: “Shalatlah kalian shalat ini pada waktu ini dan shalatlah ini pada waktu ini. Jika telah masuk waktu shalat, hnedaklah salah seorang kalian beradzan dan orang yang paling banyak hafalan qur’annya yang mengimami. Lalu mereka mencari (imam). Ternyata tidak ada seorangpun yang lebih banyak dariku hafalan Al Qur’annya. Lalu mereka menunjukku sebagai imam dan aku pada waktu itu berusia enam atau tujuh tahun”[6]

Kapan dikatakan mendapati shalat berjama’ah?

Gambaran permasalahan ini adalah seorang datang kemasjid untuk shalat berjama’ah. Kemudian mendapati imam ber-tasyahud akhir, lalu ber-takbiratul ihram. Apakah masbuq tersebut dikatakan mendapatkan pahala berjama’ah bersama imam ataukah dianggap sebagai shalat sendirian (munfarid)?.

Dalam permasalahan ini para ulama berbeda pendapat dalam tiga pendapat:

Pertama: Shalat jama’ah didapatkan dengan takbir sebelum imam salam.

Ini pendapat madzhab Hanafiyah dan Syafiiyah.

Berdalil dengan hadits Abu Hurairah Radhiallahu’anhu dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam beliau bersabda:

إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا تَأْتُوهَا تَسْعَوْنَ وَأْتُوهَا تَمْشُونَ عَلَيْكُمْالسَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

“Jika shalat telah diiqamati, maka janganlahmendatanginya denga nberlari, datangilah dengan berjalan. Kalian harus tenang. Apa yang kalian dapati maka shalatlah dan yang terlewatkan sempurnakanlah”[7]

Dalam hadits ini dinyatakan orang yang mendapatkan imam dalam keadaan sujud atau duduk tasyahud akhir sebagai orang yang mendapatkan, lalu menyempurnakan yang terlewatkan, sehingga orang yang bertakbir ihrom sebelum imam salam dikatakan mendapati shalat jama’ah.

Kedua: Membedakan antara jum’at dan jama’ah. Jika shalat jum’at melihat kepada raka’at dan jama’ah melihat kepada takbir.

Bermakna dalam shalat jum’at seseorang dikatakan mendapati shalat jum’at bersama imam bila mendapati satu raka’at bersama imam. Dikatakan mendapatkan jama’ah bila bertakbir sebelum imam mengucapkan salam. Ini pendapat yang masyhur dari madzhab syafi’i.[8]

Ketiga: Dikatakan mendapati shalat berjama’ah bila mendapati satu rakaat bersama imam.

Ini pendapat madzhab Malikiyah, Imam Ghazaaliy dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Muhammad bin Abdil Wahab dan Abdurrahman bin Naashir As Sa’di telah merajihkannya.[9]

Berdalil dengan hadits Abu Hurairah Radhiallahu’anhu dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam beliau berkata:

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ الصَّلَاةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ

“Siapa yang mendapatkan raka’at dari shalat maka telah mendapatkan shalat”[10] dan hadits Ibnu Umar yang berbunyi:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ أَوْ غَيْرِهَا فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ

“Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat jum’at atau selainnya maka telah mendapatkan shalat”.[11]
Sedangkan rakaat dilihat dari ruku’nya sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah yang marfu’ :

إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ وَنَحْنُ سُجُودٌ فَاسْجُدُوا وَلَا تَعُدُّوهَا شَيْئًا وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ

“Jika kalian berangkat shalat dan menemukan kami sedang sujud maka bersujudlah dan jangan dihitung sebagai rakaat. Barang siapa yang mendapatkan raka’at maka telah mendapatkan shalat”[12]

Mereka menyatakan: “Orang yang mendapatkan satu rakaat dari shalat jum’at atau selainnya maka mendapatkan shalat. Demikian juga Shalat jama’ah tidak dianggap mendapatinya kecuali dengan mendapat satu raka’at”.[13]

Pendapat ini dirajihkan Syaikhul Islam dalam pernyataan beliau: “Yang benar adalah pendapat ini, karena hal berikut:

1. Menurut syari’at, dalam hal ini takbir tidaklah berkaitan dengan hukum apapun, tidak berkaitan dengan waktu dan tidak pula dengan jum’at atau jama’ah atau yang lainnya. Takbir disini adalah sifat yang tidak terkait dengan hukum apapun (Washfun Mulgha) dalam tinjauan syari’at. Maka dari itu tidak boleh menggunakannya sebagai hujjah.
2. Syari’at hanya mengaitkan status dapat tidaknya shalat berjama’ah dengan mendapati raka’at. Pengaitannya dengan takbir akan meniadakannya.
3. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengaitkan dapatnya shalat berjama’ah bersama imam dengan raka’at. Ini adalah nash permasalahan.
4. Jum’at tidak didapati seseorang kecuali mendapati raka’at, demikianlah fatwa sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam diantaranya; Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Anas dan yang lainnya. Tidak diketahui ada sahabat yang menyelisihi meeka dalam hal ini. Bahkan sebagian ulama menyatakan hal ini merupakan ijma’ sahabat. Pemisahan hukum jum’at dengan jama’ah disini tidak benar. Oleh karena itu Abu Hanifah meninggalkan ushulnya dan membedakan keduanya. Tapi hadits dan atsar sahabat membatalkan pendapat beliau.
5. Bila tidak mendapati satu raka’atpun bersama imam, maka tidaklah dianggap mendapati jama’ah. Karena ia menyelesaikan seluruh bagian shalatnya dengan sendirian. Ia tidak terhitung mendapati satupun bagian shalat bersama imam, seluruh bagian shalat dia kerjakan sendirian.[14]

Pendapat ini adalah pendapat yang rajih, Wallahu a’lam bish Shawaab.

Hukum Berjama’ah Dalam Shalat Nafilah.[15]

Shalat nafilah (shalat tathawu’) sangat penting bagi seorang muslim, bahkan ia merupakan pelengkap dan penyempurna shalat fardhu. Melihat pentingnya permasalahan ini perlu diketahui secara jelas hukum seputar jama’ah dalam shalat nafilah.

Nafilah bila ditinjau dari pensyari’atan jama’ah padanya terbagi menjadi dua;

A. Shalat nafilah yang disyari’atkan padanya jama’ah

Shalat nafilah yang disunnahkan berjama’ah adalah:

1. Shalat Kusuf (Shalat gerhana matahari).
Shalat ini disunnahkan berjama’ah dengan kesepakatan para fuqaaha’. Sedangkan shalat gerhana bulan terdapat perselisihan para ulama padanya. Imam Abu Hanifah dan Malik menyatakan tidak disunnahkan, sedangkan imam Syafi’I dan Ahmad menyatakan sunnahnya.

2. Shalat Istisqa’
Disunnahkan berjamaah menurut madzhab Malikiyah, Syafiiyah, Hambaliyah dan dua murid Abu Hanifah yaitu Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat tidak disunnahkannya berjama’ah.

3. Shalat Ied
Disunnahkan berjamaah secara ijma’ kaum muslimin.

4. Shalat Tarawih

B. Shalat nafilah yang tidak disyari’atkan berjama’ah.

Shalat yang disyariatkan melakukannya sendirian tidak berjama’ah sangat banyak sekali, diantaranya shalat rawatib, shalat sunnah mutlaqoh dan yang disunnahkan di setiap malam dan siang.

Tentang hukum melakukan shalat-shalat tersebut berjama’ah terjadi peselisihan diantara para ulama. Madzhab Syafiiyah dan Hambaliyah memperbolehkan berjama’ah, Madzhab Hanafiyah memakruhkannya dan madzhab Malikiyah membolehkan berjama’ah kecuali sunnah rawatib sebelum subuh. Mereka nyatakan hal itu menyelisihi yang lebih utama, selebihnya boleh dengan syarat jama’ahnya tidak banyak dan tidak ditempat yang terkenal, karena takut terjadi riya’ dan munculnya anggapan bahwa hak itu wajib.

Akan tetapi yang benar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam , beliau pernah melakukan kedua-duanya. Pernah meklakukan shalat sunnah tersebut dengan berjama’ah dan sendirian. Sebagaimana riwayat berikut ini:

a.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ جَدَّتَهُ مُلَيْكَةَ دَعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِطَعَامٍ صَنَعَتْهُ فَأَكَلَ مِنْهُ ثُمَّ قَالَ قُومُوا فَأُصَلِّيَ لَكُمْ قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ فَقُمْتُ إِلَى حَصِيرٍ لَنَا قَدْ اسْوَدَّ مِنْ طُولِ مَا لُبِسَ فَقَامَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَفَفْتُ أَنَا وَالْيَتِيمُ وَرَاءَهُ وَالْعَجُوزُ مِنْ وَرَائِنَا فَصَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ انْصَرَفَ

“Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu beliau menyatakan bahwa neneknya yang bernama Mualikah mengundang Rasulullah makan-makan yang dibuatnya. Lalu Rasulullah memakannya dan berkata: “bangkitlah kalian, aku akan shalat berjama’ah bersama kalian”. Anas berkata: aku mengambil tikarkami yang telah berwarna hitam karena lamanya pemakaian dan rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam bangkit. Aku dan seorang anak yatim membuat shof dibelakang beliau, sedang orang-orang tua wanita berdiri dibelakang kami. Rasulullah shalat dua raka’at kemudian pergi”[16]

b.

عَنْ عِتْبَانَ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ فِي مَنْزِلِهِ فَقَالَ أَيْنَ تُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ لَكَ مِنْ بَيْتِكَ قَالَ فَأَشَرْتُ لَهُ إِلَى مَكَانٍ فَكَبَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَفَفْنَا خَلْفَهُ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ

“Dari Utbaan bin Maalik bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mendatanginya di rumahnya, lalu berkata: “Dimana dari rumahmu ini yang kamu suka aku shalat untuk mu”. Lalu aku tunjukkan satu tempat. Kemudian beliau bertakbir dan kami membuat shof dibelakangnya. Beliau shalat dua raka’at”[17]

Demikian juga Syaikh Shalih As Sadlaan me-rajih-kan pendapat kebolehannya dengan syarat, sebagaimana pernyataan beliau: “Yang benar dari yang telah kami sampaikan, nafilah boleh dilakukan dengan berjama’ah. Baik nafilahnya adalah sunnah rawatib atau sunnah mustahabbah atau tathawu’ mutlaq. Tapi dengan syarat tidak menjadikannya satu kebiasaan, tidak ditampakkan secara terang-terangan dan dilakukan karena satu sebab seperti diminta tuan rumah atau kerena berbarengan dalam menunaikan sunah, seperti tamu ketika bertamu, seandainya dia dan tuan rumahnya shalat witir berjama’ah, dengan syarat tidak timbul kebid’ahan atau perkara yang tidak dibolehkan oleh Syari’at. Jika terjadi satu dari yang telah disebutkan maka tidak disyari’atkan berjama’ah”.[18]

Kesimpulannya dibolehkan melaksanakan shalat sunnah berjama’ah selama tidak menimbulkan kebid’ahan atau pelanggaran syari’at dan dibutuhkan untuk itu. Wallahu a’lam.

Udzur Yang Memperbolehkan Tidak Menghadiri Shalat Berjama’ah

Diperbolehkan tidak menghadiri shalat berjama’ah dengan sebab-sebab tertentu. Diantara sebab-sebab tersebut:

1. Dingin dan hujan.

Berdasarkan hadits dari Nafi’, beliau berkata:

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ أَذَّنَ بِالصَّلَاةِ فِي لَيْلَةٍ ذَاتِ بَرْدٍ وَرِيحٍ ثُمَّ قَالَ أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَالِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ ذَاتُ بَرْدٍ وَمَطَرٍ يَقُولُ أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَالِ

“Sesungguhnya Ibnu Umar beradzan untuk shalat pada malam yang dingin dan berangin kencang, kemudian berkata: “Ala Shollu Fi Rihaalikum (Shalatlah kalian di rumah kalian)”. Lalu beliau berkata: “Sesuangguhnya Raasululloh memerintahkan muadzin jika malam dingin dan berhujan mengatakan: “Ala Shollu Firihaal”.(Mutafaqun Alaihi).

2. Sakit yang memberatkan penderitanya menghadiri jama’ah.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala :

وَمَاجَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ

“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu“ (QS. Al Hajj 78)

dan Sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam ketika sakit dan tidak bisa mengimami shalat beberapa hari:

مُرُوْا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ لِلنَّاسِ

“Perintahkanlah Abu Bakr agar mengimami manusia”[19]

Ibnu Hazm berkata: “Ini tidak diperselisihkan”[20]

3. Kondisi tidak aman yang dapat membahayakan diri, harta dan kehormatannya.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala :

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al Baqarah 286(

dan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

“Barang siapa yang mendengar adzan lalu tidak datang maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur”[21]

Dalam riwayat Al Baihaqi ada tambahan tafsir udzur disini dengan sakit atau rasa takut (situasi tidak aman). [22]

4. Saat makanan telah dihidangkan dan menahan hajat kecil atau besar.

Berdasarkan hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ

“Tidak boleh shalat saat makanan dihidangkan dan tidak pula ketika menahan buang hajat kecil dan besar”[23]

5. Ketiduran

Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :

إِنَّهُ لَيْسَ فِي النَّوْمِ تَفْرِيطٌ إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلَاةَ حَتَّى يَجِيءَ وَقْتُ الصَّلَاةِالْأُخْرَى فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَلْيُصَلِّهَا حِينَ يَنْتَبِهُ لَهَا

“Bukanlah ketiduran tafrith (tercela), akan tetapi tafrith hanya pada orang yang tidak shalat sampai datang waktu shalat yang lainnya. Barang siapa yang berbuat demikian maka hendaklah shalat ketika sadar” [24]

Demikianlah sebagian perkara yang penting yang berhubungan dengan shalat jama’ah. Semoga bermanfaat.

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

[1] Al Mughni, 3/7.

[2] Al Ifshah An Ma’aanish Shihaah, 1/155, dinukil dari Shalatul Jam’ah karya Prof. DR. Shalih bin Ghaanim Assadlaan hal 47. lihat juga pernyataan kesepakatan ini dalam Raudhatun Nadiyah karya Shidiq Hasan Khan, 1/308.

[3] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al Jum’ah, Bab Ma Ja’a fil Witri, no 937

[4] Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya kitab Al Masaajid wa Mawaadhi’ Shalat, bab Jawaazu Al Jama’ah fin Nafilah wash Shalat Ala Hashiir Wa Khamrah no. 1056.

[5] Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya, kitab Ash Shalat bab Fi Fadhli Shalatul Jama’ah no.467, An-Nasaa’i dalam sunannya kitab Al Imamah bab Al jama’ah idza kaana Itsnaini no.834, Ahmad dalam Musnad-nya no.20312 dan Al Haakim dalam Mustadrak-nya 3/269. Hadits ini di-shahih-kan Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, 2/366-367, no. 1477.

[6] Diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al Maghaaziy no. 3963.

[7] Diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam Shahih-nya

[8] Lihat Majmu’ Fatawa, 23/331.

[9] Lihat Shalatul Jama’ah hal 50. tentang tarjih mereka ini dapat dilihat dalam kitab Adaab Al Masyi Ila Shalat hal 29 dan Al Mukhtaraat Al Jaliyah Fil Masaail Al Fiqhiyah (dalam Al Majmu’ah Al Kaamilah Li Mualafat Syeikh Abdurrahman bin Naashir Assa’diy, 2/109).

[10] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya kitab Mawaaqitus Shalat bab Man Adraka Minas Shalat Rakaat no.546 dan Muslim dalam Shahih-nya kitab Al Masaajid wa Mawaadhi’ Shalat, Bab Man Adraka Minas Shalat Rakaat Faqad Adraaka Shalat no. 954

[11] Diriwayatkan oleh An Nasaa’i dalam Sunan-nya kitab Al Mawaaqit Bab Man Adraka Rak’atan Minas Shalat no. 554, Ibnu Maajah dalam Sunan-nya, kitab Iqamatush Shalat Was Sunnah Fiha, bab Ma Ja’a Fiman Adraka Minal Jum’at Rak’atan no.1113 dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya 3/173.

[12] Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam sunannya kitab Ash Shalat Bab Fi Rajuli Yudrikul Imam Sajidan Kaifa Yasna’ no. 759

[13] Lihat Shalatul Jama’ah hal 51.

[14] Majmu’ Fatawa, 23/331-332 dengan sedikit pemotongan.

[15] Diringkas dari Shalatul Jama’ah, karya Syaikh Shalih As Sadlaan hal 74-78 dengan beberapa perubahan.

[16] Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahih-nya kitab Al Masaajid wa Mawaadhi’ Shalat bab Jawaazu Al Jama’ah Fin Nafilah was Shalat Ala Hashiir wa Khomrah no. 1053

[17] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya kitab Ash Shalat bab Idza Dahola Baitan Haitsu Syaa no. 406.

[18] Shalatul Jama’ah hal 77-78.

[19] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya

[20] Al Muhalla, 4/351.

[21] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, kitab Al Masaajid wal Jama’ah, bab At Taghlidz fi At Takhalluf ‘Anil Jama’ah no. 785. hadits ini di-shahih-kan Al Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Maajah no. 631.

[22] Dibawakan oleh penulis kitab Shalat Jama’ah hal 199 dan dinisbatkan kepada Sunan Al Kubra Al Baihaqi, 1/185.

[23] Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya kitab Al Masaajid wa Mawaadhi Shalat bab Karahatus Shalat Bi Hadhratith Tho’aam no. 869.

[24] Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya kitab Al Masaajid wa Mawaadhi Shalat, bab Qadha’ Shalat Fawaait no. 1099.

Sabar Itu Indah


flower

Bismilahir Rahmanir Rahiim

Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)

Pengertian Sabar

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Macam-Macam Sabar

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:

1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah
3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Sebab Meraih Kemuliaan

Di dalam Taisir Lathifil Mannaan Syaikh As Sa’di rahimahullah menyebutkan sebab-sebab untuk menggapai berbagai cita-cita yang tinggi. Beliau menyebutkan bahwa sebab terbesar untuk bisa meraih itu semua adalah iman dan amal shalih.

Di samping itu, ada sebab-sebab lain yang merupakan bagian dari kedua perkara ini. Di antaranya adalah kesabaran. Sabar adalah sebab untuk bisa mendapatkan berbagai kebaikan dan menolak berbagai keburukan. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah ta’ala, “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah [2]: 45).

Yaitu mintalah pertolongan kepada Allah dengan bekal sabar dan shalat dalam menangani semua urusan kalian. Begitu pula sabar menjadi sebab hamba bisa meraih kenikmatan abadi yaitu surga. Allah ta’ala berfirman kepada penduduk surga, “Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.” (QS. Ar Ra’d [13] : 24).

Allah juga berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan kedudukan-kedudukan tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran mereka.” (QS. Al Furqaan [25] : 75).

Selain itu Allah pun menjadikan sabar dan yakin sebagai sebab untuk mencapai kedudukan tertinggi yaitu kepemimpinan dalam hal agama. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala, “Dan Kami menjadikan di antara mereka (Bani Isra’il) para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan titah Kami, karena mereka mau bersabar dan meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah [32]: 24) (Lihat Taisir Lathifil Mannaan, hal. 375)

Sabar Dalam Ketaatan

Sabar Dalam Menuntut Ilmu

Syaikh Nu’man mengatakan, “Betapa banyak gangguan yang harus dihadapi oleh seseorang yang berusaha menuntut ilmu. Maka dia harus bersabar untuk menahan rasa lapar, kekurangan harta, jauh dari keluarga dan tanah airnya. Sehingga dia harus bersabar dalam upaya menimba ilmu dengan cara menghadiri pengajian-pengajian, mencatat dan memperhatikan penjelasan serta mengulang-ulang pelajaran dan lain sebagainya.

Semoga Allah merahmati Yahya bin Abi Katsir yang pernah mengatakan, “Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan banyak mengistirahatkan badan”, sebagaimana tercantum dalam shahih Imam Muslim. Terkadang seseorang harus menerima gangguan dari orang-orang yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang hubungannya jauh darinya, hanya karena kegiatannya menuntut ilmu. Tidak ada yang bisa bertahan kecuali orang-orang yang mendapatkan anugerah ketegaran dari Allah.” (Taisirul wushul, hal. 12-13)

Sabar Dalam Mengamalkan Ilmu

Syaikh Nu’man mengatakan, “Dan orang yang ingin beramal dengan ilmunya juga harus bersabar dalam menghadapi gangguan yang ada di hadapannya. Apabila dia melaksanakan ibadah kepada Allah menuruti syari’at yang diajarkan Rasulullah niscaya akan ada ahlul bida’ wal ahwaa’ yang menghalangi di hadapannya, demikian pula orang-orang bodoh yang tidak kenal agama kecuali ajaran warisan nenek moyang mereka.

Sehingga gangguan berupa ucapan harus diterimanya, dan terkadang berbentuk gangguan fisik, bahkan terkadang dengan kedua-keduanya. Dan kita sekarang ini berada di zaman di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita, Dialah sebaik-baik penolong” (Taisirul wushul, hal. 13)

Sabar Dalam Berdakwah

Syaikh Nu’man mengatakan, “Begitu pula orang yang berdakwah mengajak kepada agama Allah harus bersabar menghadapi gangguan yang timbul karena sebab dakwahnya, karena di saat itu dia tengah menempati posisi sebagaimana para Rasul. Waraqah bin Naufal mengatakan kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah ada seorang pun yang datang dengan membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa melainkan pasti akan disakiti orang.”

Sehingga jika dia mengajak kepada tauhid didapatinya para da’i pengajak kesyirikan tegak di hadapannya, begitu pula para pengikut dan orang-orang yang mengenyangkan perut mereka dengan cara itu. Sedangkan apabila dia mengajak kepada ajaran As Sunnah maka akan ditemuinya para pembela bid’ah dan hawa nafsu. Begitu pula jika dia memerangi kemaksiatan dan berbagai kemungkaran niscaya akan ditemuinya para pemuja syahwat, kefasikan dan dosa besar serta orang-orang yang turut bergabung dengan kelompok mereka.

Mereka semua akan berusaha menghalang-halangi dakwahnya karena dia telah menghalangi mereka dari kesyirikan, bid’ah dan kemaksiatan yang selama ini mereka tekuni.” (Taisirul wushul, hal. 13-14)

Sabar dan Kemenangan

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Allah ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan sungguh telah didustakan para Rasul sebelummu, maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan terhadap mereka dan mereka juga disakiti sampai tibalah pertolongan Kami.” (QS. Al An’aam [6]: 34).

Semakin besar gangguan yang diterima niscaya semakin dekat pula datangnya kemenangan. Dan bukanlah pertolongan/kemenangan itu terbatas hanya pada saat seseorang (da’i) masih hidup saja sehingga dia bisa menyaksikan buah dakwahnya terwujud. Akan tetapi yang dimaksud pertolongan itu terkadang muncul di saat sesudah kematiannya. Yaitu ketika Allah menundukkan hati-hati umat manusia sehingga menerima dakwahnya serta berpegang teguh dengannya. Sesungguhnya hal itu termasuk pertolongan yang didapatkan oleh da’i ini meskipun dia sudah mati.

Maka wajib bagi para da’i untuk bersabar dalam melancarkan dakwahnya dan tetap konsisten dalam menjalankannya. Hendaknya dia bersabar dalam menjalani agama Allah yang sedang didakwahkannya dan juga hendaknya dia bersabar dalam menghadapi rintangan dan gangguan yang menghalangi dakwahnya. Lihatlah para Rasul shalawatullaahi wa salaamuhu ‘alaihim. Mereka juga disakiti dengan ucapan dan perbuatan sekaligus.

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Demikianlah, tidaklah ada seorang Rasul pun yang datang sebelum mereka melainkan mereka (kaumnya) mengatakan, ‘Dia adalah tukang sihir atau orang gila’.” (QS. Adz Dzariyaat [51]: 52). Begitu juga Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan demikianlah Kami menjadikan bagi setiap Nabi ada musuh yang berasal dari kalangan orang-orang pendosa.” (QS. Al Furqaan [25]: 31). Namun, hendaknya para da’i tabah dan bersabar dalam menghadapi itu semua…” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Sabar di atas Islam

Ingatlah bagaimana kisah Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu yang tetap berpegang teguh dengan Islam meskipun harus merasakan siksaan ditindih batu besar oleh majikannya di atas padang pasir yang panas (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122). Ingatlah bagaimana siksaan tidak berperikemanusiaan yang dialami oleh Ammar bin Yasir dan keluarganya. Ibunya Sumayyah disiksa dengan cara yang sangat keji sehingga mati sebagai muslimah pertama yang syahid di jalan Allah. (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122-123)

Lihatlah keteguhan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu yang dipaksa oleh ibunya untuk meninggalkan Islam sampai-sampai ibunya bersumpah mogok makan dan minum bahkan tidak mau mengajaknya bicara sampai mati. Namun dengan tegas Sa’ad bin Abi Waqqash mengatakan, “Wahai Ibu, demi Allah, andaikata ibu memiliki seratus nyawa kemudian satu persatu keluar, sedetikpun ananda tidak akan meninggalkan agama ini…” (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 133) Inilah akidah, inilah kekuatan iman, yang sanggup bertahan dan kokoh menjulang walaupun diterpa oleh berbagai badai dan topan kehidupan.

Saudaraku, ketahuilah sesungguhnya cobaan yang menimpa kita pada hari ini, baik yang berupa kehilangan harta, kehilangan jiwa dari saudara yang tercinta, kehilangan tempat tinggal atau kekurangan bahan makanan, itu semua jauh lebih ringan daripada cobaan yang dialami oleh salafush shalih dan para ulama pembela dakwah tauhid di masa silam.

Mereka disakiti, diperangi, didustakan, dituduh yang bukan-bukan, bahkan ada juga yang dikucilkan. Ada yang tertimpa kemiskinan harta, bahkan ada juga yang sampai meninggal di dalam penjara, namun sama sekali itu semua tidaklah menggoyahkan pilar keimanan mereka.

Ingatlah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai seorang muslim.” (QS. Ali ‘Imran [3] : 102).

Ingatlah juga janji Allah yang artinya, “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya akan Allah berikan jalan keluar dan Allah akan berikan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath Thalaq [65] : 2-3).

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran. Bersama kesempitan pasti akan ada jalan keluar. Bersama kesusahan pasti akan ada kemudahan.” (HR. Abdu bin Humaid di dalam Musnadnya [636] (Lihat Durrah Salafiyah, hal. 148) dan Al Haakim dalam Mustadrak ‘ala Shahihain, III/624). (Syarh Arba’in Ibnu ‘Utsaimin, hal. 200)

Sabar Menjauhi Maksiat

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Bersabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah, sehingga dia berusaha menjauhi kemaksiatan, karena bahaya dunia, alam kubur dan akhirat siap menimpanya apabila dia melakukannya. Dan tidaklah umat-umat terdahulu binasa kecuali karena disebabkan kemaksiatan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam muhkam al-Qur’an.

Di antara mereka ada yang ditenggelamkan oleh Allah ke dalam lautan, ada pula yang binasa karena disambar petir, ada pula yang dimusnahkan dengan suara yang mengguntur, dan ada juga di antara mereka yang dibenamkan oleh Allah ke dalam perut bumi, dan ada juga di antara mereka yang di rubah bentuk fisiknya (dikutuk).”

Pentahqiq kitab tersebut memberikan catatan, “Syaikh memberikan isyarat terhadap sebuah ayat, “Maka masing-masing (mereka itu) kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al ‘Ankabuut [29] : 40).

“Bukankah itu semua terjadi hanya karena satu sebab saja yaitu maksiat kepada Allah tabaaraka wa ta’ala. Karena hak Allah adalah untuk ditaati tidak boleh didurhakai, maka kemaksiatan kepada Allah merupakan kejahatan yang sangat mungkar yang akan menimbulkan kemurkaan, kemarahan serta mengakibatkan turunnya siksa-Nya yang sangat pedih. Jadi, salah satu macam kesabaran adalah bersabar untuk menahan diri dari perbuatan maksiat kepada Allah. Janganlah mendekatinya.

Dan apabila seseorang sudah terlanjur terjatuh di dalamnya hendaklah dia segera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, meminta ampunan dan menyesalinya di hadapan Allah. Dan hendaknya dia mengikuti kejelekan-kejelekannya dengan berbuat kebaikan-kebaikan. Sebagaimana difirmankan Allah ‘azza wa jalla, “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan kejelekan-kejelekan.” (QS. Huud [11] : 114). Dan juga sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya.” (HR. Ahmad, dll, dihasankan Al Albani dalam Misykatul Mashaabih 5043)…” (Thariqul wushul, hal. 15-17)

Sabar Menerima Takdir

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adalah Bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hamba-Nya. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya. Maka bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam semesta…” (Thariqul wushul, hal. 15-17)

Sabar dan Tauhid

Syaikh Al Imam Al Mujaddid Al Mushlih Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu ta’ala membuat sebuah bab di dalam Kitab Tauhid beliau yang berjudul, “Bab Minal iman billah, ash-shabru ‘ala aqdarillah” (Bab Bersabar dalam menghadapi takdir Allah termasuk cabang keimanan kepada Allah)

Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullahu ta’ala mengatakan dalam penjelasannya tentang bab yang sangat berfaedah ini, “Sabar tergolong perkara yang menempati kedudukan agung (di dalam agama). Ia termasuk salah satu bagian ibadah yang sangat mulia. Ia menempati relung-relung hati, gerak-gerik lisan dan tindakan anggota badan. Sedangkan hakikat penghambaan yang sejati tidak akan terealisasi tanpa kesabaran.

Hal ini dikarenakan ibadah merupakan perintah syari’at (untuk mengerjakan sesuatu), atau berupa larangan syari’at (untuk tidak mengerjakan sesuatu), atau bisa juga berupa ujian dalam bentuk musibah yang ditimpakan Allah kepada seorang hamba supaya dia mau bersabar ketika menghadapinya.

Hakikat penghambaan adalah tunduk melaksanakan perintah syari’at serta menjauhi larangan syari’at dan bersabar menghadapi musibah-musibah. Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh Allah jalla wa ‘ala untuk menempa hamba-hamba-Nya. Dengan demikian ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan melalui sarana keputusan takdir.

Adapun ujian dengan dibebani ajaran-ajaran agama adalah sebagaimana tercermin dalam firman Allah jalla wa ‘ala kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah hadits qudsi riwayat Muslim dari ‘Iyaadh bin Hamaar. Dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Allah ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengutusmu dalam rangka menguji dirimu. Dan Aku menguji (manusia) dengan dirimu’.”

Maka hakikat pengutusan Nabi ‘alaihish shalaatu was salaam adalah menjadi ujian. Sedangkan adanya ujian jelas membutuhkan sikap sabar dalam menghadapinya. Ujian yang ada dengan diutusnya beliau sebagai rasul ialah dengan bentuk perintah dan larangan.

Untuk melaksanakan berbagai kewajiban tentu saja dibutuhkan bekal kesabaran. Untuk meninggalkan berbagai larangan dibutuhkan bekal kesabaran. Begitu pula saat menghadapi keputusan takdir kauni (yang menyakitkan) tentu juga diperlukan bekal kesabaran. Oleh sebab itulah sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya sabar terbagi tiga; sabar dalam berbuat taat, sabar dalam menahan diri dari maksiat dan sabar tatkala menerima takdir Allah yang terasa menyakitkan.”

Karena amat sedikitnya dijumpai orang yang sanggup bersabar tatkala tertimpa musibah maka Syaikh pun membuat sebuah bab tersendiri, semoga Allah merahmati beliau. Hal itu beliau lakukan dalam rangka menjelaskan bahwasanya sabar termasuk bagian dari kesempurnaan tauhid. Sabar termasuk kewajiban yang harus ditunaikan oleh hamba, sehingga ia pun bersabar menanggung ketentuan takdir Allah.

Ungkapan rasa marah dan tak mau sabar itulah yang banyak muncul dalam diri orang-orang tatkala mereka mendapatkan ujian berupa ditimpakannya musibah. Dengan alasan itulah beliau membuat bab ini, untuk menerangkan bahwa sabar adalah hal yang wajib dilakukan tatkala tertimpa takdir yang terasa menyakitkan. Dengan hal itu beliau juga ingin memberikan penegasan bahwa bersabar dalam rangka menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan hukumnya juga wajib.

Secara bahasa sabar artinya tertahan. Orang Arab mengatakan, “Qutila fulan shabran” (artinya si polan dibunuh dalam keadaan “shabr”) yaitu tatkala dia berada dalam tahanan atau sedang diikat lalu dibunuh, tanpa ada perlawanan atau peperangan. Dan demikianlah inti makna kesabaran yang dipakai dalam pengertian syar’i.

Ia disebut sebagai sabar karena di dalamnya terkandung penahanan lisan untuk tidak berkeluh kesah, menahan hati untuk tidak merasa marah dan menahan anggota badan untuk tidak mengekspresikan kemarahan dalam bentuk menampar-nampar pipi, merobek-robek kain dan semacamnya. Maka menurut istilah syari’at sabar artinya: Menahan lisan dari mengeluh, menahan hati dari marah dan menahan anggota badan dari menampakkan kemarahan dengan cara merobek-robek sesuatu dan tindakan lain semacamnya.

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Di dalam al-Qur’an kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih. Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan”

Perkataan beliau “Bab Minal imaan, ash shabru ‘ala aqdaarillah” artinya: salah satu ciri karakteristik iman kepada Allah adalah bersabar tatkala menghadapi takdir-takdir Allah. Keimanan itu mempunyai cabang-cabang. Sebagaimana kekufuran juga bercabang-cabang.

Maka dengan perkataan “Minal imaan ash shabru” beliau ingin memberikan penegasan bahwa sabar termasuk salah satu cabang keimanan. Beliau juga memberikan penegasan melalui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yang menunjukkan bahwa niyaahah (meratapi mayit) itu juga termasuk salah satu cabang kekufuran. Sehingga setiap cabang kekafiran itu harus dihadapi dengan cabang keimanan. Meratapi mayit adalah sebuah cabang kekafiran maka dia harus dihadapi dengan sebuah cabang keimanan yaitu bersabar terhadap takdir Allah yang terasa menyakitkan” (At Tamhiid, hal.389-391)

Fathimah Putri Rasulullah saw dengan Jilbab


bintang

Bismillahir rahmanir rahiim

Adakah kaum muslimin dan muslimah yang tak mengenal sosok Fathimah binti Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam? Rasanya tak mungkin! Beliau radiyallahu’anha satu-satunya putri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang hidup mendampingi beliau hingga wafatnya beliau ke Rafiqil a’la.
1. Fathimah az-Zahra radiyallahu’anha adalah ratu bagi para wanita di surga (Sayyidah nisa ahlil jannah). Pemahaman beliau tentang arti jilbab yang sesungguhnya sangat layak untuk disimak dan direnungi oleh para muslimah yang sangat merindukan surga dan keridhaan RabbNya. Sudah sempurnakah kita menutup aurat kita seperti apa yang difahami Shahabiyah?

Wahai saudariku muslimah yang merindukan surga Firdaus al-A’la…Shahabiyah yang mulia ini memandang buruk terhadap apa yang di lakukan wanita terhadap pakaian yang mereka kenakan yang masih menampakkan gambaran bentuk tubuhnya. Apa yang beliau tidak sukai itu beliau sampaikan kepada Asma radiayallahu’anha sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Ummu Ja’far bahwasanya Fatimah binti Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berkata:

“Wahai Asma’! Sesungguhnya aku memandang buruk apa yang dilakukan oleh kaum wanita yang mengenakan baju yang dapat menggambarkan tubuhnya.” Asma’ berkata : ‘”Wahai putri Rasulullah maukah kuperlihatkan kepadamu sesuatu yang pernah aku lihat di negeri Habasyah?” Lalu Asma’ membawakan beberapa pelepah daun kurma yang masih basah, kemudian ia bentuk menjadi pakaian lantas dipakai. Fatimah pun berkomentar: “Betapa baiknya dan betapa eloknya baju ini, sehingga wanita dapat dikenali (dibedakan) dari laki-laki dengan pakaian itu. Jika aku nanti sudah mati, maka mandikanlah aku wahai Asma’ bersama Ali (dengan pakaian penutup seperti itu ) dan jangan ada seorangpun yang menengokku!” Tatkala Fatimah meninggal dunia, maka Ali bersama Asma’ yang memandikannya sebagaimana yang dipesankan. ”2

Syaikh Albani rahimahullah berkata : Perhatikanlah sikap Fatimah radiyallahu anha yang merupakan bagian dari tulang rusuk Nabi shalallahu alaihi wassalam bagaimana ia memandang buruk bilamana sebuah pakaian itu dapat mensifati atau menggambarkan tubuh seorang wanita meskipun sudah mati, apalagi jika masih hidup, tentunya jauh lebih buruk. Oleh karena itu hendaklah kaum muslimah zaman ini merenungkan hal ini, terutama kaum muslimah yang masih mengenakan pakaian yang sempit dan ketat yang dapat menggambarkan bulatnya buah dada, pinggang, betis dan anggota badan mereka yang lain. Selanjutnya hendaklah mereka beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya”3

Wahai ukhti muslimah yang dirahmati Allah,…benarlah apa yang dikatakan oleh Syaikh Albani rahimahullah. Fitnah yang melanda kaum muslimah begitu deras dan hebat.Jika Fathimah radiyallahu’ anha saja tidak rela jasadnya tergambar bentuk tubuhnya tentulah dapat kita fahami bagaimana beliau mengenakan jilbab di masa hidupnya. Karena beliau sangat memahami perintah jilbab dengan pemahaman yang benar dan sempurna. Pemahaman beliau yang sangat mendalam ini jelas tersirat dari ketidaksukaannya yang beliau pandang sebagai suatu keburukan apabila seorang wanita memakai pakaian yang dapat menggambarkan lekuk tubuhnya.

Lalu bandingkanlah dengan apa yang dikenakan oleh sebagian kaum muslimah dewasa ini sangat jauh dari apa yang disyariatkan oleh Rabb mereka. Jauh panggang dari api.Mereka menisbahkan pakaian wanita dengan kerudung ala kadarnya yang sekedar menutupi leher-leher mereka tidak sampai menutupi dada dengan nama pakaian islami atau jilbab. Dan ironisnya yang memakainyapun merasa bahwa apa yang mereka pakai itu sudah benar karena melihat para artis di TV mengenakan yang demikian itu jadilah pakaian trendy ini menyebar begitu cepat dan menjadi pakaian pilihan utama mereka. Bahkan tentu terkadang kita melihat saudari kita yang memakai busana muslimah yang justru menambah fitnah karena nampak jelasnya lekuk tubuh mereka dengan penutup kepala yang melilit di leher (sehingga jenjang atau tidaknya bentuk leher terlihat sangat jelas) dan hanya sampai di bagian pundak saja tidak sampai ke dada disambung dengan pakaian ketat yang menggambarkan bentuk payudara mereka kemudian celana ketat yang menambah jelas lekukan tubuh mereka. Ada juga yang memakai abaya (gamis/pakaian terusan) memilih ukuran yang ketat daripada ukuran besar dan lapang dengan alasan agar nampak cantik dan modis! Sebagian adapula yang memakai penutup kepala dengan menyanggul rambut-rambut mereka hingga ketika mereka berjalan dapat dilihat dengan jelas ikatan rambut tersebut, karena sangat kecilnya penutup kepala yang mereka pakai maka merekapun mengikat rambut tersebut agar tidak menyembul keluar. Bukankah apa yang mereka pakai itu semua justru yang semestinya mereka jauhi karena Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah bersabda :

“Pada akhir ummatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat bongkol (punuk) onta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka itu adalah kaum wanita yang terkutuk.”4

Di dalam hadits lain terdapat tambahan :

“Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan memperoleh baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium dari perjalanan (jarak) sekian dan sekian.”5

Kemudian lihatlah penjelasan dari Ibnu Abdil Barr rahimahullah ia berkata:

“Yang dimaksud Nabi shalallahu alaihi wassalam adalah kaum wanita yang mengenakan pakaian yang tipis, yang dapat mensifati (menggambarkan) bentuk tubuhnya dan tidak dapat menutup atau menyembunyikannya. Mereka itu tetap berpakaian namanya, akan tetapi hakekatnya telanjang.”6

Dari Ummu Alqamah bin Abu Alqamah bahwa ia berkata :

“Saya pernah melihat Hafshah bin Abdurrahman bin Abu Bakar mengunjungi ‘Aisyah dengan mengenakan khimar(kerudung) tipis yang dapat menggambarkan pelipisnya, lalu ‘Aisyah pun tak berkenan melihatnya dan berkata : “Apakah kamu tidak tahu apa yang telah diturunkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surat An Nuur?!” Kemudian ‘Aisyah mengambilkan khimar untuk dipakaikan kepadanya.7

Syaikh Albani menjelaskan perkataan Aisyah radiyallahu anha : Apakah kamu tidak tahu tentang apa yang diturunkan oleh Allah dalam surat An-Nuur? Mengisyaratkan bahwa wanita yang menutupi tubuhnya dengan pakaian yang tipis pada hakikatnya ia belum menutupi tubuhnya dan juga belum melaksanakan firman Allah Subahnahu wa ta’ala yang ditunjukkan oleh Aisyah radiyallahu anha yaitu “Dan hendaklah kaum wanita menutupkan khimar/kerudung pada bagian dada mereka”8

Tidakkah kita melihat perbedaan yang sangat jauh antara generasi Shahabiyah dengan kita? Mereka benar-benar menjadikan jilbab sebagai penutup tubuh dan aurat sebagai bentuk ketaatan pada perintahNya sedangkan kita justru sebaliknya menjadikan jilbab sebagai pembuka fitnah kecuali wanita-wanita yang dirahmati Allah. Jilbab yang difahami shahabiyah sebagai pakaian yang lapang (lebar) yang menutupi tubuh dari atas kepala hingga ujung kaki sedangkan kaum muslimah sekarang menganggap jilbab adalah secarik kain yang digunakan untuk menutupi rambut mereka saja sedangkan bagian-bagian lainnya mereka tutupi dengan bahan yang ala kadarnya yang tidak bisa dikatakan menutupi aurat apalagi menutupi lekuk tubuh mereka. Kepada Allahlah kita memohon pertolongan semoga kaum kita mau kembali kepada Rabb mereka dan berusaha untuk menunaikan apa yang diperintahkan Allah dan rasulNya secara sempurna dan menyeluruh. Sebagaimana firmanNya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu(Al-Baqarah :208).

Wallahu’alam bish-shawwab.

Sumber Rujukan :

1. Jilbab Wanita Muslimah menurut Al-Qur’an dan Sunnah, Syaikh Nashiruddin Al-Albani,Pustaka Tibyan,Solo.
2. Ringkasan Shahih Muslim, Imam Al-mundziri, Pustaka Amani, Jakarta.
3. Mengenal Shahabiyah Nabi Shalallahu alaihi wassalam, Mahmud al-Istanbuli, Pustaka Tibyan, Solo

Zakat Fitrah


Ta’rif dan Hukumnya

* Zakat atau sedekah fitrah adalah zakat yang disebabkan datangnya Idul Fitri setelah Ramadhan. Diwajibkan pada tahun kedua hijriyah –bersamaan dengan kewajiban puasa– dan berbeda dengan zakat-zakat yang lainnya karena zakat ini wajib atas setiap orang, bukan atas kekayaan.
* Jumhurul ulama bersepakat bahwa zakat fitrah itu hukumnya wajib, seperti dalam hadits Ibnu Umar bahwa, “Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitrah dari bulan Ramadhan satu sha’ kurma dan gandum atas setiap orang merdeka atau budak sahaya, laki-laki dan wanita umat Islam ini.” (Al-Jama’ah). Demikianlah pendapat empat madzhab.
* Rasulullah saw. telah menjelaskan hikmah zakat fitrah, yaitu sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia yang sangat sulit dihindari saat sedang berpuasa. Zakat fitrah juga menjadi makanan fakir miskin pada Hari Raya sehingga mereka semua dapat merayakan Idul Fitri dengan senang dan bahagia.

Siapa yang diwajibkan?

* Zakat ini diwajibkan kepada setiap muslim, baik merdeka atau budak, laki-laki atau wanita, besar atau kecil, kaya atau miskin. Seorang laki-laki mengeluarkan zakat untuk dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya. Seorang isteri mengeluarkan zakat untuk dirinya atau oleh suaminya. Tidak wajib dibayarkan untuk bayi yang masih dalam kandungan, meskipun disunnahkan menurut Ahmad bin Hanbal.
* Jumhurul ulama mensyaratkan zakat itu kepada seorang muslim yang memiliki kelebihan makanan pada Hari Ied itu sebesar zakat fitrah yang menjadi kewajibannya. Hutang yang belum jatuh tempo tidak boleh menggeser kewajiban zakat, berbeda dengan hutang yang sudah jatuh tempo (yang harus dibayar seketika itu).

Besar Zakat Fitrah

* Tiga ulama (Malik, Syafi’i, dan Ahmad) telah bersepakat bersama jumhurul ulama bahwa zakat fitrah itu sebesar satu sha’ kurma, gandum, atau makanan lain yang menjadi makanan pokok negeri yang bersangkutan. Seperti yang ada dalam hadits di atas juga hadits Abu Said Al-Khudri, “Kami pernah membayar zakat fitrah dan Rasulullah saw. bersama kami, berupa satu sha’ makanan, atau kurma, atau gandum. Seperti itu kami membayar zakat, sampai di zaman Muawiyah datang di Madinah yang mengatakan, ‘Sekarang saya berpendapat bahwa dua mud gandum Syam itu sama dengan satu sha’ kurma.’ Lalu pendapat ini dipakai kaum muslimin saat itu.” (Al-Jama’ah). Madzhab Hanafi berpendapat bahwa zakat fitrah itu sebesar satu sha’ dari semua jenis makanan.
* Satu sha’ adalah empat sendokan dengan dua telapak tangan orang dewasa standar atau empat mud. Karena satu mud itu juga sebesar sendokan dengan dua telapak tangan orang dewasa standar, jika dikonversi sekitar 2.176 gr.
* Zakat fitrah dikeluarkan dari makanan pokok mayoritas penduduk di suatu negeri, atau dari mayoritas makanan pokok muzakki jika lebih baik dari pada makanan pokok negeri mustahik. Demikianlah pendapat jumhurul ulama.
* Diperbolehkan membayar dengan nilai uang satu sha’ jika lebih bermanfaat bagi fakir miskin. Demikianlah pendapat madzhab Hanafi, yang diriwayatkan pula dari Umar bin Abdul Aziz dan Hasan Al Bashri, pendapat yang lebih mudah dikerjakan pada masa sekarang ini.

Waktu Membayarkannya

* Zakat fitrah wajib dibayar oleh orang yang bertemu dengan terbenamnya matahari di hari terakhir bulan Ramadhan. Ini menurut madzhab Syafi’i. Atau yang bertemu dengan terbit fajar Hari Ied, menurut madzhab Hanafi dan Maliki.
* Wajib mengeluarkan zakat fitrah sebelum shalat Ied, seperti dalam hadits Ibnu Abbas. Diperbolehkan membayarnya lebih awal sejak masuk bulan Ramadhan, menurut madzhab Syafi’i. Dan yang utama mengakhirkannya satu atau dua hari menjelang Iedul Fitri. Demikianlah pendapat yang dipegang oleh madzhab Maliki. Diperbolehkan mendahulukannya sampai awal tahun menurut madzhab Hanafi, beralasan bahwa namanya tetap zakat. Dan menurut madzhab Hanbali diperbolehkan mensegerakannya mulai dari separuh kedua bulan Ramadhan.

Kepada Siapa Zakat Ini Dibagikan?

* Para ulama bersepakat bahwa zakat fitrah ini dibagikan kepada fakir miskin kaum muslimin. Abu Hanifah memperbolehkan pembagianya kepada fakir miskin ahli dzimmah (orang kafir yang hidup di dalam perlindungan pemerintahan Islam).
* Prinsipnya bahwa zakat fitrah itu diwajibkan untuk dibagkan kepada fakir miskin, sehingga tidak diberikan kepada delapan ashnaf lainnya. Kecuali jika ada kemaslahatan atau kebutuhan lain. Zakat ini juga hanya dibagikan di negeri zakat itu diambil, kecuali jika di negeri itu tidak ada fakir miskin, diperbolehkan untuk memindahkannya ke negara lain.
* Zakat fitrah tidak boleh dibagikan kepada orang yang tidak boleh menerima zakat mal seperti orang murtad, fasik yang mengganggu kaum muslimin, anak, orang tua, atau isteri.

Tentang Pernikahan


nikah

Bismilahir Rahmanir Rahiim

Aqad Nikah
Dalam aqad nikah ada beberapa syarat, rukun dan kewajiban yang harus dipenuhi, yaitu adanya:

1. Rasa suka sama suka dari kedua calon mempelai
2. Izin dari wali
3. Saksi-saksi (minimal dua saksi yang adil)
4. Mahar
5. Ijab Qabul

• Wali
Yang dikatakan wali adalah orang yang paling dekat dengan si wanita. Dan orang paling berhak untuk menikahkan wanita merdeka adalah ayahnya, lalu kakeknya, dan seterusnya ke atas. Boleh juga anaknya dan cucunya, kemudian saudara seayah seibu, kemudian saudara seayah, kemudian paman. [1]

Ibnu Baththal rahimahullaah berkata, “Mereka (para ulama) ikhtilaf tentang wali. Jumhur ulama di antaranya adalah Imam Malik, ats-Tsauri, al-Laits, Imam asy-Syafi’i, dan selainnya berkata, “Wali dalam pernikahan adalah ‘ashabah (dari pihak bapak), sedangkan paman dari saudara ibu, ayahnya ibu, dan saudara-saudara dari pihak ibu tidak memiliki hak wali.” [2]

Disyaratkan adanya wali bagi wanita. Islam mensyaratkan adanya wali bagi wanita sebagai penghormatan bagi wanita, memuliakan dan menjaga masa depan mereka. Walinya lebih mengetahui daripada wanita tersebut. Jadi bagi wanita, wajib ada wali yang membimbing urusannya, mengurus aqad nikahnya. Tidak boleh bagi seorang wanita menikah tanpa wali, dan apabila ini terjadi maka tidak sah pernikahannya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa saja wanita yang menikah tanpa seizin walinya, maka nikahnya bathil (tidak sah), pernikahannya bathil, pernikahannya bathil. Jika seseorang menggaulinya, maka wanita itu berhak mendapatkan mahar dengan sebab menghalalkan kemaluannya. Jika mereka berselisih, maka sulthan (penguasa) adalah wali bagi wanita yang tidak mempunyai wali.” [3]

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak sah nikah melainkan dengan wali.” [4]

Juga sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Tidak sah nikah kecuali dengan adanya wali dan dua saksi yang adil.” [5]

Tentang wali ini berlaku bagi gadis maupun janda. Artinya, apabila seorang gadis atau janda menikah tanpa wali, maka nikahnya tidak sah.

Tidak sahnya nikah tanpa wali tersebut berdasarkan hadits-hadits di atas yang shahih dan juga berdasarkan dalil dari Al-Qur’anul Karim.

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan apabila kamu menceraikan isteri-isteri (kamu), lalu sampai masa ‘iddahnya, maka jangan kamu (para wali) halangi mereka menikah (lagi) dengan calon suaminya, apabila telah terjalin kecocokan di antara mereka dengan cara yang baik. Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman kepada Allah dan hari Akhir. Itu lebih suci bagimu dan lebih bersih. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” [Al-Baqarah : 232]

Ayat di atas memiliki asbaabun nuzul (sebab turunnya ayat), yaitu satu riwayat berikut ini. Tentang firman Allah: “Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka,” al-Hasan al-Bashri rahimahullaah berkata, Telah menceritakan kepadaku Ma’qil bin Yasar, sesungguhnya ayat ini turun berkenaan dengan dirinya. Ia berkata,

“Aku pernah menikahkan saudara perempuanku dengan seorang laki-laki, kemudian laki-laki itu menceraikannya. Sehingga ketika masa ‘iddahnya telah berlalu, laki-laki itu (mantan suami) datang untuk meminangnya kembali. Aku katakan kepadanya, ‘Aku telah menikahkan dan mengawinkanmu (dengannya) dan aku pun memuliakanmu, lalu engkau menceraikannya. Sekarang engkau datang untuk meminangnya?! Tidak! Demi Allah, dia tidak boleh kembali kepadamu selamanya! Sedangkan ia adalah laki-laki yang baik, dan wanita itu pun menghendaki rujuk (kembali) padanya. Maka Allah menurunkan ayat ini: ‘Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka.’ Maka aku berkata, ‘Sekarang aku akan melakukannya (mewalikan dan menikahkannya) wahai Rasulullah.’” Kemudian Ma‘qil menikahkan saudara perempuannya kepada laki-laki itu.[6]

Hadits Ma’qil bin Yasar ini adalah hadits yang shahih lagi mulia. Hadits ini merupakan sekuat-kuat hujjah dan dalil tentang disyaratkannya wali dalam akad nikah. Artinya, tidak sah nikah tanpa wali, baik gadis maupun janda. Dalam hadits ini, Ma’qil bin Yasar yang berkedudukan sebagai wali telah menghalangi pernikahan antara saudara perempuannya yang akan ruju’ dengan mantan suaminya, padahal keduanya sudah sama-sama ridha. Lalu Allah Ta’ala menurunkan ayat yang mulia ini (yaitu surat al-Baqarah ayat 232) agar para wali jangan menghalangi pernikahan mereka. Jika wali bukan syarat, bisa saja keduanya menikah, baik dihalangi atau pun tidak. Kesimpulannya, wali sebagai syarat sahnya nikah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullaah berkata, “Para ulama berselisih tentang disyaratkannya wali dalam pernikahan. Jumhur berpendapat demikian. Mereka berpendapat bahwa pada prinsipnya wanita tidak dapat menikahkan dirinya sendiri. Mereka berdalil dengan hadits-hadits yang telah disebutkan di atas tentang perwalian. Jika tidak, niscaya penolakannya (untuk menikahkan wanita yang berada di bawah perwaliannya) tidak ada artinya. Seandainya wanita tadi mempunyai hak menikahkan dirinya, niscaya ia tidak membutuhkan saudara laki-lakinya. Ibnu Mundzir menyebutkan bahwa tidak ada seorang Shahabat pun yang menyelisihi hal itu.” [7]

Imam asy-Syafi’i rahimahullaah berkata, “Siapa pun wanita yang menikah tanpa izin walinya, maka tidak ada nikah baginya (tidak sah). Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Maka nikahnya bathil (tidak sah).’”[8]

Imam Ibnu Hazm rahimahullaah berkata, “Tidak halal bagi wanita untuk menikah, baik janda maupun gadis, melainkan dengan izin walinya: ayahnya, saudara laki-lakinya, kakeknya, pamannya, atau anak laki-laki pamannya…” [9]

Imam Ibnu Qudamah rahimahullaah berkata, “Nikah tidak sah kecuali dengan wali. Wanita tidak berhak menikahkan dirinya sendiri, tidak pula selain (wali)nya. Juga tidak boleh mewakilkan kepada selain walinya untuk menikahkannya. Jika ia melakukannya, maka nikahnya tidak sah. Menurut Abu Hanifah, wanita boleh melakukannya. Akan tetapi kita memiliki dalil bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Pernikahan tidak sah, melainkan dengan adanya wali.”

• Keharusan Meminta Persetujuan Wanita Sebelum Pernikahan
Apabila pernikahan tidak sah, kecuali dengan adanya wali, maka merupakan kewajiban juga meminta persetujuan dari wanita yang berada di bawah perwaliannya. Apabila wanita tersebut seorang janda, maka diminta persetujuannya (pendapatnya). Sedangkan jika wanita tersebut seorang gadis, maka diminta juga ijinnya dan diamnya merupakan tanda ia setuju.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Seorang janda tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta perintahnya. Sedangkan seorang gadis tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta ijinnya.” Para Shahabat berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah ijinnya?” Beliau menjawab, “Jika ia diam saja.” [11]

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma bahwasanya ada seorang gadis yang mendatangi Rasulullah shal-lallaahu ‘alaihi wa sallam dan mengadu bahwa ayahnya telah menikahkannya, sedangkan ia tidak ridha. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan pilihan kepadanya (apakah ia ingin meneruskan pernikahannya, ataukah ia ingin membatalkannya). [12]

• Mahar
“Dan berikanlah mahar (maskawin) kepada perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian yang penuh kerelaan.” [An-Nisaa’ : 4]

Mahar adalah sesuatu yang diberikan kepada isteri berupa harta atau selainnya dengan sebab pernikahan.

Mahar (atau diistilahkan dengan mas kawin) adalah hak seorang wanita yang harus dibayar oleh laki-laki yang akan menikahinya. Mahar merupakan milik seorang isteri dan tidak boleh seorang pun mengambilnya, baik ayah maupun yang lainnya, kecuali dengan keridhaannya.

Syari’at Islam yang mulia melarang bermahal-mahal dalam menentukan mahar, bahkan dianjurkan untuk meringankan mahar agar mempermudah proses pernikahan.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Di antara kebaikan wanita adalah mudah meminangnya, mudah maharnya dan mudah rahimnya.” [13]

‘Urwah berkata, “Yaitu mudah rahimnya untuk melahirkan.”

‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah.’” [14]

Seandainya seseorang tidak memiliki sesuatu untuk membayar mahar, maka ia boleh membayar mahar dengan mengajarkan ayat Al-Qur’an yang dihafalnya. [15]

• Khutbah Nikah
Menurut Sunnah, sebelum dilangsungkan akad nikah diadakan khutbah terlebih dahulu, yang dinamakan Khutbatun Nikah atau Khutbatul Hajat. [16] Adapun teks Khutbah Nikah adalah sebagai berikut:

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul-Nya.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” [Ali ‘Imran : 102]

“Wahai manusia! Bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada Allah yang dengan Nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguh-nya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” [An-Nisaa' : 1]

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, nis-caya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan meng-ampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang besar.” [Al-Ahzaab : 70-71]

Amma ba’du: [17]

[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]
__________
Foote Note
[1]. Al-Mughni (IX/129-134), cet. Darul Hadits.
[2]. Fat-hul Baari (IX/187).
[3]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2083), at-Tirmidzi (no. 1102), Ibnu Majah (no. 1879), Ahmad (VI/47, 165), ad-Darimi (II/137), Ibnul Jarud (no. 700), Ibnu Hibban no. 1248-al-Mawaarid), al-Hakim (II/168) dan al-Baihaqi (VII/105) dan lainnya, dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha. Hadits ini dishahihkan Syaikh al-Albani dalam kitabnya Irwaa-ul Ghaliil (no. 1840), Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1524) dan Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 880).
[4]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2085), at-Tirmidzi (no. 1101), Ibnu Majah (no. 1879), Ahmad (IV/394, 413), ad-Darimi (II/137), Ibnu Hibban (no. 1243 al-Mawaarid), al-Hakim (II/170, 171) dan al-Baihaqi (VII/107) dari Shahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallaahu ‘anhu.
[5]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq (VI/196, no. 10473), ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (XVIII/142, no. 299) dan al-Baihaqi (VII/125), dari Shahabat ‘Imran bin Hushain. Hadits ini dishahihkan Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 7557). Hadits-hadits tentang syarat sahnya nikah wajib adanya wali adalah hadits-hadits yang shahih. Tentang takhrijnya dapat dilihat dalam kitab Irwaa-ul Ghaliil fii Takhriij Ahaadiits Manaris Sabil (VI/235-251, 258-261, no. 1839, 1840, 1844, 1845, 1858, 1860).
[6]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (5130), Abu Dawud (2089), at-Tirmidzi (2981), dan lainnya, dari Shahabat Ma’qil bin Yasar radhiyallaahu ‘anhu.
[7]. Fat-hul Baari (IX/187).
[8]. Al-Umm (VI/35), cet. III/Darul Wafaa’, tahqiq Dr. Rif’at ‘Abdul Muththalib, th. 1425 H.
[9]. l-Muhalla (IX/451).
[10]. Dinukil secara ringkas dari kitab al-Mughni (IX/119), cet. Darul Hadits-Kairo, th. 1425 H, tahqiq Dr. Muhammad Syarafuddin dan Dr. As-Sayyid Muhammad as-Sayyid.
[11]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5136), Muslim (no. 1419), Abu Dawud (no. 2092), at-Tirmidzi (no. 1107), Ibnu Majah (no. 1871) dan an-Nasa-i (VI/86).
[12]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2096), Ibnu Majah (no. 1875). Lihat Shahih Ibni Majah (no. 1520) dan al-Wajiiz (hal. 280-281).
[13]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/77, 91), Ibnu Hibban (no. 1256 al-Mawaarid) dan al-Hakim (II/181). Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Irwaa-ul Ghaliil (VI/350).
[14]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2117), Ibnu Hibban (no. 1262 al-Mawaarid) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath (I/221, no. 724), dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallaahu ‘anhu. Dishahihkan Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Shahiihul Jaami’ (no. 3300).
[15]. Berdasarkan hadits yang diriwauyatkan oleh al-Bukhari (no. 5087) dan Muslim (no. 1425).
[16]. Lihat kitab Khutbatul Haajah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Maktabah al-Ma’arif, th. 1421 H, dan Syarah Khutbah Haajah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, takhrij wa ta’liq Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Daarul Adh-ha, th. 1409 H.
[17]. Khutbah ini dinamakan khutbatul haajah (ÎõØúÈóÉõ ÇáúÍóÇÌóÉö), yaitu khutbah pembuka yang biasa dipergunakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk mengawali setiap majelisnya. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan khutbah ini kepada para Shahabatnya radhiyallaahu ‘anhum. Khutbah ini diriwayatkan dari enam Shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/392-393), Abu Dawud (no. 1097 dan 2118), an-Nasa-i (III/104-105), at-Tirmidzi (no. 1105), Ibnu Majah (no. 1892), al-Hakim (II/182-183), ath-Thayalisi (no. 336), Abu Ya’la (no. 5211), ad-Darimi (II/142) dan al-Baihaqi (III/214 dan VII/146), dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu. Hadits ini shahih.
Hadits ini ada beberapa syawahid (penguat) dari beberapa Shahabat, yaitu:
1. Shahabat Abu Musa al-Asy’ari (Majma’uz Zawaa-id IV/288).
2. Shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas (Muslim no. 868, al-Baihaqi III/214).
3. Shahabat Jabir bin ‘Abdillah (Ahmad II/37, Muslim no. 867 dan al-Baihaqi III/214).
4. Shahabat Nubaith bin Syarith (al-Baihaqi III/215).
5. Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha.
Lihat Khutbatul Haajah Allatii Kaana Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam Yu’allimuhaa Ash-haabahu, karya Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, cet. IV/ al-Maktab al-Islami, th. 1400 H dan cet. I/ Maktabah al-Ma’arif, th. 1421 H.

Di setiap khutbahnya, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam selalu memulai dengan memuji dan menyanjung Allah Ta’ala serta ber-tasyahhud (mengucapkan dua kalimat syahadat) sebagaimana yang diriwayatkan oleh para Shahabat:
1. Dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallaahu ‘anha, ia berkata: “… Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian beliau bersabda: Amma ba’du….” (HR. Al-Bukhari, no. 86, 184 dan 922)
2. ‘Amr bin Taghlib, dengan lafazh yang sama dengan hadits Asma’. (HR. Al-Bukhari, no. 923)
3. ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha berkata: “…Tatkala selesai shalat Shubuh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menghadap kepada para Shahabat, beliau bertasyahhud (mengucapkan kalimat syahadat) kemudian bersabda: Amma ba’du…” (HR. Al-Bukhari, no. 924)
4. Abu Humaid as-Sa’idi berkata: “Bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiri khutbah pada waktu petang sesudah shalat (‘Ashar), lalu beliau bertasyahhud dan menyanjung serta memuji Allah yang memang hanya Dia-lah yang berhak mendapatkan sanjungan dan pujian, kemudian bersabda: Amma ba’du…” (HR. Al-Bukhari no. 925).

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Setiap khutbah yang tidak dimulai dengan tasyahhud, maka khutbah itu seperti tangan yang berpenyakit lepra/kusta.” (HR. Abu Dawud no. 4841; Ahmad II/ 302, 343; Ibnu Hibban, no. 1994-al-Mawaarid; dan selainnya. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 169).

Menurut Syaikh al-Albani, yang dimaksud dengan tasyahhud di hadits ini adalah khutbatul haajah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para Shahabat radhiyallaahu ‘anhum, yaitu: “Innalhamdalillaah…” (Hadits Ibnu Mas’ud).

Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah: “Khutbah ini adalah Sunnah, dilakukan ketika mengajarkan Al-Qur-an, As-Sunnah, fiqih, menasihati orang dan semacamnya…. Sesungguhnya hadits Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu, tidak mengkhususkan untuk khutbah nikah saja, tetapi khutbah ini pada setiap ada keperluan untuk berbicara kepada hamba-hamba Allah, sebagian kepada se-bagian yang lainnya…” (Majmuu’ Fataawaa Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah, XVIII/286-287)

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah berkata, “…Sesungguhnya khutbah ini dibaca sebagai pembuka setiap khutbah, apakah khutbah nikah, atau khutbah Jum’at, atau yang lainnya (seperti ceramah, mengajar dan yang lainnya-pent.), tidak khusus untuk khutbah nikah saja, sebagaimana disangka oleh sebagian orang…” (Khutbatul Hajah (hal. 36), cet. I/ Maktabah al-Ma’arif).

Kemudian beliau melanjutkan: “Khutbatul haajah ini hukumnya sunnah bukan wajib, dan saya membawakan hal ini untuk menghidup-kan Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang ditinggalkan oleh kaum Muslimin dan tidak dipraktekkan oleh para khatib, penceramah, guru, pengajar dan selain mereka. Mereka harus berusaha untuk menghafalnya dan mempraktekkannya ketika memulai khutbah, ceramah, makalah, atau pun mengajar. Semoga Allah merealisasikan tujuan mereka.” (Khutbatul Haajah (hal. 40) cet. I/ Maktabah al-Ma’arif, dan an-Nashiihah (hal. 81-82) cet. I/ Daar Ibnu ‘Affan/th. 1420 H.)

Hanni's Eyes

It's good fun, this life thing.

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 274 other followers

%d bloggers like this: