Bismillahir Rahmanir Rahiim

a. Orang – Orang yang tidak ditolak do’anya

Didalam beberapa hadits diterangkan secara konkrit tentang orang-orang yang dikabulkan Allah do’anya (yang tidak tertolak do’anya) diantaranya :

  1. Ibu Bapak untuk kebaikan dan keselamatan anak-anaknya, lebih-lebih ibu. Sering kali seorang ibu melontarkan kata-kata yang bernada do’a, mendo’akan kecelakaan buat anak-anak sehingga sangat besar akibatnya bagi anak.
  2. Orang yang sedang berpuasa diwaktu akan berbuka.
  3. Kepala negara (Pemimpin) yang adil, didasarkan kepada pengorbanan untuk kebahagian dan kemakmuran rakyatnya.
  4. Orang yang teraniaya (madhlum) dalam segala bentuk kedhaliman (kesewenang-wenangan) dan perkosaan.
  5. Musafir dengan niat dan tujuan yang baik, atau orang yang berdo’a dari jauh mendo’akan seseorang.
  6. Anak shaleh yang mendo’akan kedua orang tuanya yang telah meninggal.

b. Cara Allah mengabulkan Do’a

Do’a itu kadang-kadang dikabulkan oleh Allah dengan memberikan apa yang kita mohonkan kepadaNya, dan kadang-kadang dengan menolak suatu bencana yang bakal menimpa kita, atau ditunda pemberiannya hingga diakhirat, itu semua menurut kehendak dan kebijaksanaan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada hamba-Nya.

Bersabda Rasulullah SAW. : “Tidak ada seseorang Muslim di muka bumi ini yang mendo’a memohonkan sesuatu kepada Allah, melainkan Allah mengabulkannya sebagaimana yang dimohonkannya, atau dipalingkan Allah daripadanya sesuatu kecelakaan selama ia tidak mendo’akan sesuatu yang mengandung dosa atau memutuskan silaturrahmi. Maka berkata seseorang ; Kalau begitu baiklah kami memperbanyak do’a. Jawab Nabi : Allah menerima do’a hamba Nya lebih banyak lagi. (H.R. Turmudzi).

Namun yang perlu kita sadari bahwa salah satu yang dapat membinasakan keampuhan do’a hingga akhirnya tidak terkabulkan adalah jika seorang hamba minta cepat-cepat diperkenankan dan menganggap lambat dikabulkannya dengan berkeluh kesah, hingga akhirnya ia tidak berdo’a. Orang seperti ini adalah bagai orang menyemaikan benih atau menanamnya. Setiap saat ia rawat dan siram, lalu karena ia tidak sabar menunggu tumbuh dengan sempurna, ia tinggalkan dan tidak diperlukannya lagi.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW. bersabda : “Salah seorang dari kamu akan dikabulkan do’anya selama ia tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata : “Aku sudah berdo’a akan tetapi tidak dikabulkan”.

Dan Dalam Shahih Muslim, juga dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW. bersabda : “Allah senantiasa memperkenankan do’a seorang hamba selama do’a tersebut tidak mengandung dosa atau memutusukan silaturrahim, dan selama tidak minta cepat-cepat diperkenankan”. Lalu, beliau ditanya orang, “apa maksud minta cepat-cepat ?” Jawab beliau, “Umpamanya seorang berkata dalam do’anya, “Aku telah berdo’a, aku telah berdo’a, tetapi aku belum melihat do’aku diperkenankan, lalu ia putus asa dan berhenti berdo’a”.

Dan dalam Musnad Ahmad disebutkan sebuah hadits diriwayatkan Anas dari Rasulullah SAW. bahwa beliau bersabda : “Senantiasa seorang hamba berada dalam kebaikan selama ia tidak minta cepat-cepat”. para sahbat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana minta cepat-cepat itu?” Jawab beliau : “Yaitu dengan mengatakan “Aku telah berdo’a kepada Tuhanku, tetapi Dia tidak (belum) juga mengabulkan do’aku”.

Doa Dan Ikhtiar

Orang yang berdoa, adalah orang yang memohon sesuatu yang ia hajati serta berhasrat benar untuk memperolehnya. Sesuatu yang dihajati itu adakalanya merupakan hal-hal yang mustahil terjadi dan adakalanya pula berupa hal-hal yang mungkin terjadi.

Hal-hal yang mustahil terjadi, sudah barang tentu tidak boleh kita mohonkan, karena tidak akan diterima dan tidak akan terwujud . Adapun hal-hal yang mungkin terjadi, maka ia mempunyai sebab dan illat akan terjadinya. Akan tetapi dengan tidak berusaha mewujudkan sebab-sebab dan illat-illat itu, samalah halnya dengan seseorang yang hendak sampai ke suatu tujuan, tetapi tidak berusaha melangkahkan kakinya melalui jalan yang harus dilaluinya.

Dengan demikian, semakin  jelaslah bagi kita, bahwa berdoa itu, ialah : “Memohon kepada Allah semoga Ia menyampaikan maksud kita, seraya kita melaksanakan dan mengusahakan dengan segenap tenaga yang ada, akan sebab-sebab terjadinya sesuatu yang kita hajatkan (doakan) itu.”

Doa yang seperti itu, ialah kepercayaan yang sangat teguh, serta harapan yang sangat dalam, bahwa Allah akan menjauhkan segala halangan-halangan yang akan menghalangi tercapainya maksud kita dan hanya Allah yang memberikan petunjuk-petunjuk tentang sebab-sebab yang nyata dan yang tersembunyi yang tidak jelas kelihatan oleh kita.

Demikianlah harus kita perbuat, berdo’a disamping berusaha, selama sebab-sebab masih dapat kita usahakan. Adapun ketika kita telah lemah dan tidak sanggup lagi mengusahakan sebab, barulah kita  berserah  diri  (bertawakkal)  kepada Allah Yang Maha Kuasa.

About these ads