Syeikh Imam Mahmoud Al Kurdy Al Khalwaty

Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma soli ala sayyidina Muhammad wa ala Ali Sayyidina Muhammad

Ini kumpulan 50 hikmah Syeikh Imam Mahmoud Al Kurdy Al Khalwaty (wafat th. 1195 H.).

  1. Tempuhlah jalan kebaikan agar engkau selamat dari kesedihan dan marabahaya. dan tahapan suluk ada 3: Islam, Iman dan Ihsan.
  2. Zuhudlah!! maka engkau akan terpuji.
  3. Bermujahadahlah melawan nafsu, maka hatimu akan cerdas menangkap semua rahasia Allah.
  4. Tawakallah!!!! maka engkau akan diterima (di sisi khaliq dan makhluq).
  5. Banyaklah berdzikir kepada Allah!!! engkau akan menyaksikan cahaya ketuhanan
  6. Senantiasalah engkau lapar (tidak banyak makan) dan hindarilah banyak tidur
  7. Diam merupakan sifat orang-orang Ashfiyaa (orang-orang yang berhati bersih) sedangkan jidal (banyak bicara yang tidak ada manfaatnya) merupakan pekerjaan dan prilaku orang-orang bodoh.
  8. Uzlah (membatasi pergaulan hanya kpd orang soleh & lingkungan soleh) bagi para pemula merupakan keselamatan agamanya, Sedangkan bergaul (dengan semua lingkungan) bagi para syekh justru menambah keyakinannya.
  9. Beradab kepada semua orang (khususnya para ulama) sebenrnya beradab kepada Allah
  10. Tamak kepada makhluk berarti ragu kepada Khaliq (Allah)
  11. Hati-hati dari syirik tersembunyi, meskipun engau dalam sendiri (khalwah), karena jika niatmu tidak murni maka itu merupakan musibah dan malapetaka besar.
  12. Qana’ahlah kepada yang sedikit jika engkau berakal, apa-apa yang telah menjadi bagianmu itulah untukmu, dan yang tidak menjadi bagianmu bukanlah untukmu.
  13. Hindarilah mengaku-aku walaupun engkau benar, merupakan suatu etika (adab) menjauhi sifat mengakui suatu maqam (kedudukan akhlak) sebelum dan sesudah mencapainya.
  14. Engkau harus tampakkan kelemahan (dihadapan Allah) jika engkau benar, kerna rahasia apapun tidak ada yang trsembunyi sedang cahaya hak tidak akan padam.
  15. Jujurlah dalam masa pencarian dan jangan kamu terpengaruh oleh perkataan orang, kerna tida ada seorangpun yang selamat dari cacian orang sehingga tuan dari segala tuan yaitu Nabi Muhammad Saw
  16. Bersiap-siaplah dirimu untuk dihisab (oleh Allah) hingga dalam nafas-nafsmu, terlebih lagi makanan, pakaian, pernikah dan harta.
  17. Janganlah engkau samakan dirimu dengan tokoh-tokoh yang sempurna akhlaknya (syuyukh) dan para waliyullah.
  18. Jauhkanlah cinta populeritas dan kemasyhuran, brapa banyak orang-orang terkemuka diuji dengan dua hal itu.
  19. Janganlah engkau terhijab dengan khumul (menyembunyikan kemuliyaan diri) untuk mencapai Allah (wusul), serahkan dirimu kepada Pencipta furu’ dan ushul (cabangd an dasar agama), dan janganlah engkau dipalingkan oleh maqamaat (akhlak mulia) untuk wusul.
  20. Kepasrahan (terhdp segala yg berlaku atasmu kepada Allah) adalah merupakan tingkatan (akhlak-spiritual) yang paling tinggi.
  21. Ketahuilah !!!! masih banyak lagi tokoh-tokoh pilihan yang sempurna akhlak-spritualnya.
  22. Ketika engkau telah sampai (mencapai maqam ruhiyah yang luhur) maka janganlah bermalasan, janganlah lalai dari tipu daya makar nafsumu, dan jangan lupa apa yg telah berlaku dahulu kepada bapakmu Adam AS.
  23. Janganlah engkau terpedaya (gurur) dengan amal-amal taat, kerna amal itu yang penting diterima (yaitu dengan adanya ikhlas), dan janganlah engkau meninggalkan mujahadah (melawan nafsu) walaupun engkau telah menjadi ahlul wusul (orang yang telah beriman dan ma’rifah tinggi).
  24. Ibadah siserta istiqamah itu lebih utama daripada seribu kasyaf dan keramat
  25. Rasa aman dari marah Allah merupakan sebuah kerugian, dan putus asa kepada rahmat Allah merupakan kekufuran.
  26. Orang yang bahagia adalah orang yang beramal disertai takut tidak diterima, sedangkan orang yang menderita adalah orang yang melakukan maksiat dan berkata: Aku pasti diterima…..
  27. Ktika engaku melihat pelaku keburukan menjadi terhormat ketahuilah hal itu adalah sebuah tipu daya (Allah) dan istidraj (tipuan Allah untuk menjatuhkan secara berangsur), sebaliknya, dan ketika engkau melihat ia ditinggalkan (dihinakan) karena keburukannya maka ketahuilah bahwa dia tengah dicintai dan mahkotai (cahaya kebenaran).
  28. Pelanggaran kepada zahir syariat adalah zindiq, sedang bersepakat dengan orang-orang sesat adalah mencelakakan.
  29. Menyombongkan kepada orang yang sombong adalah suatu sedekah
  30. Bergaul dengan orang-orang kaya akan mewariskan ketamakan, Bergaul kepada orang-orang faqir mewariskan sifat qana’ah, dan ziyarah kubur mewariskan hati yang tunduk (khusyu’)
  31. Bergaul kepada Ulama akan menambahkan ilmu pengetahuan, Bergaul dengan orang-orang bodoh akan mengurangi amal baik. Juga janganlah engkau bergaul dengan ahdas (orang-orang yang rendah iman, moral dan ma’rifatnya meskipun tua usianya) dan jangan berkecenderungan bergaul wanita (lawan jenis) bagi penuntut wusul kecuali jika setelah sempurna (akhlaknya).
  32. Engkau harus mampu menanggung segala musibah derita, bersabar atas kepapaan, dan membuang segala kerendahan dari sifatmu seperti hasud, dengki serta dendam.
  33. Pemaaf itu terpuji, pemarah itu tidak disukai dan tergesa-gesa itu sifat orang-orang sengsara jiwa.
  34. Hati-hatilah engkau bersifat uzub dan takabbur, jauhilah sifat dusta dan congkak.
  35. Janganlah engkau bergaul dengan orang yang berbeda dengan jalanmu walaupun ia seorang yang mulia, namun bergaulah dengan orang yang sesuai tujuannya dengan tujuanmu, pilihlah baik-baik teman ukhuwah untuk dirimu dan tinggalkanlah para pengkhianat ukhuwah dengan cara yang baik.
  36. Kurangilah banyak bepergian walaupun dengan menggerakkan pikiran dan khayal kerana hal itu akan menghambat seorang salik (pemula) dari wusul (ma’rifatullah), Namun apabila engkau telah wusul (ahli nihayah) maka (sebaliknya) jangan tinggalkan bepergian.
  37. Janganlah alam/malhluk itu menghijabmu (menghalangi hatimu) dari (mengenal) Penciptanya (Allah).
  38. Bersihkan Tuhanmu (Allah) dari segala (sifat-sifat) yang baharu dan tempat.
  39. Dzikir (lisan) yang disertai hudur (hadirnya hati bersama Allah) dan berfikir (kepada sifat-sifat Allah) akan mengesankan musyahadah kepada zat Allah.
  40. Setia atau memenuhi janji adalah amanah
  41. Dermawan adalah merupakan kondisi jiwa orang-orang yang maqbul (disukai Allah), sedang pelit/kedekut merupakan perbuatan orang-orang yang dibenci Allah.
  42. Syeikh Mahmoud Al Kurdy ra berkata: Janganlah engkau terpedaya dengan pujian orang kepadamu, karena engkaulah yang lebih tahu kepada dirimu sendiri.
  43. Ridha (menyerah) kepada nafsu adalah ciri kebodohan
  44. Ilmu itu lebih utama daripada amal.
  45. Keutamaan itu untuk orang Alim (berilmu) meskipun sedikit amalnya daripada seorang Abid (ahli ibadah) meskipun banyak amalnya dan panjang umurnya
  46. Ilmu itu ada dua macam: Ilmu (yang diperoleh dari) tulisan dan ilmu (yang diperoleh dari) dzauq (kesehatan&kebersihan ruh).
  47. Upaya membersihkan diri dari kotoran moral itu dengan menyerahkan diri (tarbiyah) kepada para syekh (murobbi), dan kegembiraan yang diperoleh ruh karena dapat membersihkan jasad (mampu beramal dampak dari kebersihan ruh).
  48. Perjalan (tarbiyah ruhiyah) tanpa petunjuk (murobbi) akan lama dan panjang.
  49. Syekh adalah orang meningkatkanmu (dekat kepadaNYA) dengan sirnya, membimbing (menuju jalan hak), menyiapkan (untuk menerima rahasiaNYA) dan mebersihkan (dari mencintai selainNYA) hatimu, serta menjernihkannya dari selainNYA.
  50. Seorang murid adalah orang yang menyembelih nafsunya (dengan pedang mujahadah).

Asal-Usul Nama Al-Habsyi

Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma soli ala Syaidina Muhammad Wa ali syaidina Muhammad wa ala Ahli Bait

Yang pertama kali dijuluki (digelari) ” Al-Habsyi ” adalah
Waliyyullah Abi Bakar bin Ali bin Ahmad bin Muhammad Asadillah bin
Hasan Atturabi bin Ali bin Muhammad Al-Faqih Muqaddam bin Ali bin
Muhammad Shahib Marbad.

Soal gelar yang disandangnya ; karena Beliau sering pergi ke kota ”
Habasyah ” di Afrika Beliau pernah tinggal disana selama 20 tahun.
Dengan maksud untuk menyebarkan Agama Islam disana.

Waliyyullah Abi Bakar bin Ali Al-Habsyi dilahirkan di kota Tarim.
Dikaruniai seorang anak lelaki; yang dinamai Alwi. Yang mana Alwi bin
Abi Bakar Al-Habsyi tersebut dikarunisi 5 orang anak lelaki, 3
diantaranya yang menurunkan keturunannya.

Masing-masing ialah :

1. Husein bin Alwi, keturunannya berada di Habasyah (Afrika).
2. Ati bin Alwi, keturunannya berada di kota Aden (Yaman) dan dikota Madinah Al-Munawwarah.

3. Muhammad Al-Ashghor bin Alwi, keturunannya sangat banyak sekali dan
berada dimana-mana termasuk yang berada di Indonesia. Muhammad
Al-Ashghor dikaruniai 2 orang anak lelaki,

3.1.
Abdurrahman, dikaruniai 3 orang anak klaki, keturunannya yang di
Indonesia kebanyakan berada di Palembang, Lambi, Siak, Aceh.
3.2. Ahmad Shahib Syi’ib, dikaruniai 8 orang anak lelaki masing-masing:

3.2.1. Al-Hasan, keturunannya disebut AI-Habsyi Al-Rausyan”.
3.2.2.
Hadi, dari kedua anaknya yang bemama Idrus,keturunannya disebut
AI-Habsyi “AI-Syabsyabah” dan anaknya yang bernama Abdurrahman.adalah
datuk waliyyullah Al-Habib Ali Al-Habsyi Kwitang.
3.2.3. Alwi,
keturunannya disebut AI-Ahmad bin Zain dianurulya datuk waliyyullah
Al-Habib Muhammad bin Idrus AI-Habryl, yang makamnya di Ampel Gubbah
Surabaya.
3.2.4. Husein, salah satu anak cucunya adalah waliyyullah
AI-Habib Alwi bin Ali bin Muhammad Al-Habsyi, makamnya berada di Mesjid
“Al-Riyad” di kota Solo (Surakarta)
3.2.5. Idrus
3.2.6. Hasyim
3.2.7. Syaich
3.2.8. Muhammad

Waliyyullah Abi Bakar bin Ali bin Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi pulang ke Rahmatullah di kota Tarim pada tahun 857 Hijriyyah.

Semoga Allah SWT memasukkan Beliau-Beliau ke dalam Surga dan
menghimpunkannya bersama-sama para Nabi, para syuhada, para Auliya dan
para Sholihin. Amin !.

Wallahualam

HABIB ABDURRAHMAN BIN ABDULLAH AL HABSYI, CIKINI, JAKARTA

Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma soli ala Sayidina Muhammadin Wa Ala Ahli Bait  
Air yang tak diketahui asal muasal sumbernya itu tak lain merupakan kehendak Allah SWT untuk mensyiarkan dan mengkhabarkan kepada khalayak luas perihal keberadaan salah seorang kekasih-Nya di tempat itu.
HABIB ABDURRAHMAN BIN ABDULLAH AL HABSYI, CIKINI, JAKARTA

Tak sulit untuk mencari tahu ihwal HABIB ALI BIN ABDURRAHMAN AL HABSYI atau HABIB ALI kwitang. Nama besarnya termasyhur, sosoknya sangat dihormati, sejarah hidupnya tercatat diberbagai tulisan, makamnya terus didatangi peziarah dari seluruh pelosok, foto-fotonya pun terpampang di rumah – rumah para pecintanya. Masyarakat amat mengenal sosok Habib Ali lewat sepak terjang dakwahnya yang memunculkan pengaruh luas dimasanya,sementara keberkahan dakwahnya itupun masih terasa kuat hingga sekarang.

Bila Nama Habib Ali Kwitang adalah nama yang amat familiar, tidak demikian halnya dengan sosok ayah Habib Ali sendiri, yaitu Habib Abdurrahman. Nama Habib Abdurrahman, atau lengkapnya Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi, belakangan ini memang sering disebut-sebut dalam pemberitaan di berbagai media, baik cetak maupun elektronik, terkait dengan berita adanya rencana pemindahan makamnya yang berada dibilangan Cikini, Jakarta Pusat. Namun begitu, sejarah hidup Habib Abdurrahman tidak cukup banyak diketahui. Selain karena data sejarah hidupnya memang dapat dikatakan minim, ketokohan Habib Abdurrahman memang tidak termasyhur putranya sendiri.

Betapapun, bila mengingat sebuah pepatah yang berbunyi”buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. tentunya sosok ayah Habib Ali Kwitang ini adalah pribadi yang tak dapat dikesampingkan begitu saja. Ditengah minimnya data, tulisan tentang Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi (selanjutnya disebut Habib Abdurrahman Cikini) ini memang tidak banyak mengungkap sosok dan perjalanan hidupnya, tapi lebih mengetengahkan latar belakang keluarganya.

GENERASI PERTAMA 

Habib Abdurrahman Cikini lahir dari keluarga Al Habsyi pada cabang keluarga Al Hadi bin Ahmad Shahib Syi’ib. Ia generasi pertama dari garis keturunan keluarga yang terlahir di Nusantara atau generasi kedua yang telah menetap di negeri ini. Nasab lengkapnya adalah Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurrahman bin Husein bin Abdurrahman bin Al Hadi bin Ahmad Shahib Syi’ib bin Muhammad Al Ashghar bin Alwi bin Abubakar Al Habsyi.

Sebuah sumber tulisan memang menyebutkan bahwa kakeknya yang bernama Muhammad bin Husein adalah yang pertama kali datang dari Hadhramaut menetap di Pontianak, dan kemudian menikah dengan seorang putri dari keluarga kesultanan pontianak. Atau itu artinya, Habib Abdurrahman Cikini adalah generasi kedua yang terlahir di Nusantara atau Generasi ketiga yang sudah menetap disini. Tulisan lainnya bahkan ada yang menyebutkan bahwa kakeknya itu ikut mendirikan kesultanan Hasyimiyah Pontianak bersama keluarga Al Qadri. Berdasarkan penelusuran data-data yang dilakukan, tampaknya data – data yang dilakukan, tampaknya terdapat distorsi informasi seputar hal itu.

Dalam catatan pada kitab rujukan nasab alawiyyin susunan Habib Ali bin Ja’far Assegaf ditulsikan, berdasarkan keterangan Habib Ali Kwitang yang mendapat informasi dari Habib Alwi (tinggal di Surabaya, mindhol sepupu dua kali Habib Ali Kwitang)bin Abdul Qadir bin Ali bin Muhammad bin Husein Al Habsyi, disebutkan, Habib Muhammad bin Husein wafat di Tarbeh, Hadhramaut. Kitab Habib Ali bin Ja’far juga menuliskan dengan jelas bahwa Habib Abdullah (Ayah Habib Abdurrahman Cikini)adalah seorang wulaiti,atau kelahiran Hadhramut,tepatnya di tarbeh, berdasarkan berbagai keterangan diatas, jelaslah Habib Abdurrahman Cikini adalah generasi pertama dari garis keturunan keluarganya yang dilahirkan di Nusantara.

Sementara itu informasi yang menyebutkan bahwa Habib Muhammad bin Husein ikut mendirikan Kesultanan Al Kadriyah Al Hasyimiyah di Pontianak jelas tidak tepat, baik dari sisi sejarah berdirinya kesultanan Pontianak sendiri maupun dari fakta historis bahwa Habib Muhammad wafat di Tarbeh. Hingga kini pun tak didapat keterangan bahwa Habib Muhammad sempat menginjakkan kaki di Nusantara.

HUBUNGAN DENGAN PONTIANAK
Dengan menganalisis masa hidup dan lokasi wafatnya tokoh-tokoh tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang datang pertama kali ke Nusantara adalah putra Habib Muhammad Al Habsyi, yaitu Habib Abdullah Al Habsyi, Ayah Habib Abdurrahman cikini. Sedangkan berdasarkan tahun berkuasanya para sultan pontianak yang kemudian disesuaikan dengan fakta tahun 1969 sebagai tahun kelahiran Habib Ali Kwitang (yang disebutkan setidaknya terlahir setelah 10 tahun pernikahan orang tuanya), kemungkinan besar Habib Abdullah datang ke Pontianak dimasa pemerintahan Sultan Syarif Utsman Al Qadri (berkuasa dari tahun 1819 hingga 1855M).

Sultan Syarif Utsman Al Qadri adalah sultan Pontianak yang ketiga. ia putra Sultan Syarif Abdurrahman Al Qadri, pendiri kota dan Kesultanan Pontianak,atau Sultan Pontianak yang pertama. Adapun Sultan Syarif Qasim Al Qadri, Kakak Sultan Syarif Utsman Al Qadri.

Sedangkan adanya keterangan yang menyiratkan pertalian hubungan pernikahan antara Habib Muhammad dan Keluarga Kesultanan Pontianak, sebenarnya, bukan pada pribadi Habib Muhammad atau Habib Abdullah, melainkan pada Saudara Habib Abdurrahman Cikini, Yaitu Habib Alwi, yang menikahi Syarifah Zahra binti Pangeran Abdurrahman bin Pangeran Hamid (Dimakamkan di Masjid Rawa Angke, Jakarta)bin Sultan Syarif Abdurrahman Al Qadri, dan beroleh putra Ahmad dan Ali.

Bukan hanya dengan kerabat Kesultanan Pontianak, dengan kesultanan Kubu, Kalimantan Barat, pun hubungan kekerabatan terjalin, saat Habib Alwi juga menikahi Syarifah Nur Putri Sultan Abdurrahman Alaydrus, Sultan Kubu yang ketiga. Dari Pernikahannya ini, Habib Alwi mendapat putra Abdullah dan Abdurrahman. Adapun anak keturunan Habib Alwi yang ada di Trengganu, lewat putranya yang bernama Ahmad, adalah dari istrinya Syarifah Fathimah binti Ahmad Alaydrus.

Habib Alwi bin Abdullah Al-Habsyi tersebut bersama kelima saudaranya (Umar, Husein, Shalih, Alwiyah, dan Nur) adalah Putra – Putri Habib Abdullah dari Ibu yang berasal dari keturunan Bansir. Habib Alwi, yang kemudian wafat di Makkah, hingga sekarang memiliki anak keturunan tersebar, diantaranya, di Pontianak dan di Trengganu, Malaysia. Adapun Umar, Husein,Shalih, keturunannya tak berlanjut.

Mengenai nama Bansir, yang berasal dari kata Ba Nashir, itu adalah nama sebuah fam dari satu keluarga masyayikh Hadhramaut yang kemudian hijrah ke Pontianak. karena sudah membaur sedemikan lama, nama Bansir akhirnya menjadi nama kampung disana, sehingga bernama Kampung Bansir. Anggota keluarga Bansir yang pertama kali memasuki kampung itu adalah Syaikh Umar bin Ahmad (w.Senin, 19 Jumadil Akhirah 1227 H/Oktober 1773M, dan yang kemudian dikenal sebagai tokoh yang membuka Kampung Bansir tersebut adalah Putranya, Syaikh Ahmad bin Umar Bansir. Habib Abdullah sendiri kemudian menikahi putri syaikh ahmad yang bernama Aisyah. Dari Syaikhah Aisyah inilah keenam Saudara Habib Abdurrahman Cikini (dari lain ibu) dilahirkan.

BUKAN “MBAH ALI KWITANG”
Selain pernah menetap di Pontianak, Habib Abdullah, yang semasa hidupnya memiliki aktivitas perdagangan antar pulau, juga pernah menetap disemarang. Tak diketahui dengan pasti di negeri mana di Nusantara ini ia menetap terlebih dahulu, apakah di Pontianak ataukah di Semarang. Atau, boleh jadi pula di Negeri lainnya, karena tak ada keterangan yang memastikan hal tersebut. Namun dari keterangan yang disebutkan Buku Sumur Yang Tak Pernah Kering bahwa ia menikah pertama kali disemarang, mungkin saja ia tinggal pertama kali di kota itu. Sebuah Naskah juga menyebutkan, Ibu Habib Abdurrahma Cikini adalah seorang syarifah dari keluarga Assegaf di Semarang. Dan memang, Habib Abdurrahman Cikini sendiri diketahui sebagai Putra kelahiran semarang.

Habib Ali bin Ja’far Assegaf kemudian menuliskan, Habib Abdullah wafat di tengah lautan diantara Pontianak dan Sambas, dan diberi tambahan keterangan dengan kata-kata qutila zhulman, atau terbunuh secara zhalim, sementara pada catatan lainnya disebutkan. Ia Wafat di laut Kayong(daerah Sukadana, Kalimantan Barat) pada 1249 H, atau bertepatan dengan tahun 1833 M.

Keterangan yang disebutkan terakhir tampaknya lebih mendekati kebenaran, sebab wilayah Sukadana berseberangan langsung dengan kota Semarang di Pulau Jawa dan Kota Semarang merupakan kota kelahiran Habib Abdurrahman Cikini. Hal ini juga selaras dengan keterangan padaBuku Sumur yang Tak Pernah Kering bahwa Habib Abdullah wafat saat berlayar dari Pontianak ke Semarang. Pada Catatan itu juga disebutkan, ia wafat saat berperang dengan Lanun, sebutan orang Pontianak terhadap para perompak laut. Keterangan ini juga dapat menjadi penjelasan atas kata kata qutila zhulman yang disebutkan pada kitab Habib Ali bin Ja’far.

Satu hal yang jelas keliru dari penyebutan sosok Habib Abdurrahman Cikini adalah penyebutan namanya di banyak media saat ini yang menyebutkan dengan nama “MBAH ALI KWITANG”. Kekeliruan dalam rangkaian kata pada sebutan nama itu jelas amat fatal dan amat mengaburkan identitas dirinya.Istilah “MBAH” tidak dikenal dalam kata sapaan masyarakat Jakarta, Nama “ALI” bukan nama dirinya, melainkan nama putranya, dan makam Habib Abdurrahman terletak di CIkini, bukan di “KWITANG”.

Entah dari mana asal muasal penyebutan yang salah kaprah itu. Tampaknya, ketika satu pihak menyebutkannya dengan sebutan itu, pihak lain pun ikut ikutan menyebutkannya demikian. Maka kemudian jadilah sebutan itu sebagai sebuah kekeliruan berantai yang terus berlanjut dan seakan lebih populer dari identitas nama Habib Abdurrahman CIkini yang sebenarnya. Pihak keluarga, penduduk sekitar,dan seluruh peziarah yang pernah menziarahi sedari dulu pun tak pernah mendengar Habib Abdurrahman Cikini disebut dengan sebutan seperti itu.

BERSAMA HABIB SYECH DAN RADEN SALEH
Diantara jejak – jejak sejarah kehidupan Habib Abdurrahman Cikini yang didapat dari dari sejumlah sumber tertulis adalah bahwa ia sahabat Habib Syech bin Ahmad Bafaqih,Botoputih, Surabaya. Hal tersebut diantaranya dicatat dalam catatan kaki Ustadz Dhiya’ Shihab pada Kitab Syams azh Zhahirah. Begitu pula L.W.C Van Den Berg dalam bukunya Le Hadhramout Et.Les Colonies Arabes menyebutkan bahwa Habib Syech pernah menetap di Batavia selama kurang lebih 10 tahun. Selama menetap di Batavia itulah tampaknya persahabatan diantara keduanya terbangun erat.

Dikisahkan, setelah lama tak mendapatkan putra, istri Habib Abdurrahman, seorang wanita asli Jakarta dari wilayah Jatinegara, Nyai Salmah, suatu malam bermimpi. Dalam mimpinya tersebut, Nyai Salmah menggali sumur, dan tiba- tiba dari dalam sumur itu keluarlah air yang melimpah tuah hingga membanjiri area tanah sekelilingnya

Mimpi itu kemudian disampaikannya kepada suaminya. Sang suami pun segera menemui Habib Syech bin Ahmad Bafaqih untuk menanyakan perihal mimpi itu. Habib Syech kemudian menjelaskan, mimpi itu merupakan isyarat bahwa pasangan Habib Abdurrahman dan Nyai Salmah akan mendapatkan seorang putra yang shalih ilmunya melimpah ruah keberkahannya. Tidak seberapa lama, Nyai Salmah pun mengandung. Ahad 20 Jumadil Ula 1286 H atau bertepatan dengan 20 April 1869 M, Terlahirlah seorang putra yang ia beri nama “Ali”.

Semua orang pun kemudian menyaksikan kebenaran ucapan Habib Syech. Putra pasangan shalih dan shalihah itu, yaitu Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi, dikemudian hari menjadi seorang shalih dan alim yang banyak menebar manfaat dan kemaslahatan bagi umat di masa hidupnya, bahkan setelah wafatnya.

Habib Abdurrahman Cikini juga mempunyai seorang putra lainnya, Habib AbduL Qadir. Lewat putranya ini Habib Abdurrahman Cikini menjalin pertalian kekeluargaan dengan Habib Utsman bin Yahya, melalui hubungan pernikahan antara Habib Abdul Qadir dan salah seorang putri sang Mufti Betawi.

Dari kedua putranya itu, hanya dari Habib Ali Nasab keturunannya berlanjut, karena Habib Abdul Qadir hanya memiliki tiga orang putri dan tidak berputra. Tahun 1296H/ 1881 M, Habib Abdurrahman Cikini wafat. Saat itu, Habib Ali masih amat belia, yaitu baru berusia 12 tahun. Sebelum wafat, ia sempat berwasiat kepada istrinya agar putranya (Habib Ali) disekolahkan ke Hadhramaut dan Makkah. Wasiat tersebut dilaksanakan oleh Nyai Salmah dengan sepenuh hati dan sepenuh keyakinan akan adanya kebaikan di balik itu semua.

Nyai Salmah, yang bukan tergolong orang berada, demi mewujudkan harapan almarhum suaminya, kemudian menjual gelang, yang merupakan satu-satunya perhiasan yang dimilikinya, untuk biaya perjalanan Habib Ali ke Hadhramaut. Demikian sekilas persinggungan perjalanan hidup Habib Abdurrahman Cikini dengan sahabatnya, Habib Syech bin Ahmad Bafaqih Surabaya, yang tahun wafatnya hanya berselang dua tahun setelah wafatnya Habib Abdurrahman Cikini. Makamnya, di Botoputih, Surabaya, hingga saat ini terus didatangi para peziarah dari berbagai pelosok daerah.

Selain dengan Habib Syech bin Ahmad Bafaqih, Habib Abdurrahman CIkini juga bersahabat dengan Raden Saleh, seorang pelukis termasyhur. Kedekatannya dengan Raden Saleh bukan hal yang aneh. Disamping sama-sama kelhiran semarang. Raden Saleh wafat satu tahun lebih dulu dari wafatnya Habib Abdurrahman Cikini dan kemudian dimakamkan di daerah Bogor, Jawa Barat.

MENGAWAL AQIDAH UMAT
Dikemudian hari, sebagaimana di sebutkan dalam SUMUR YANG TAK PERNAH KERING,Habib Abdurrahman Cikini juga menjalin hubungan kekeluargaan dengan Raden Saleh dengan menjadi iparnya. Namun dari pernikahannya dengan salah satu saudara perempuan Raden Saleh ini. Habib Abdurrahman Cikini tak beroleh keturunan.

Ditanah pekarangan rumah sahabatnya inilah, yang berada didaerah cikini, Jasad Mulia Habib Abdurrahman dikebumikan. Meski kepemilikan tanah tersebut telah pindah tangan beberapa kali, keberadaan Makamnya tetap dilestarikan. Diatas makamnya tersebut bahkan kemudian didirikan sebuah bangunan sederhana yang dimaksudkan sebagai qubah makamnya. Meski tak seramai makam putranya sendiri, dari waktu ke waktu makamnya kerap diziarahi orang.

Sejarah memang tak meninggalkan catatan yang cukup memadai untuk memaparkan lebih jauh ihwal sosok dan sejarah hidup Habib Abdurrahman Cikini. Namun demikian, makamnya, yang sejak dulu terus diziarahi, kedekatannya dengan orang seperti Habib Syech bin Ahmad Bafaqih Botoputih, Surabaya, perhatiannya yang mendalam terhadapa masa depan putranya, yaitu Habib Ali, terutama dalam hal bekal keilmuan,serta jalinan kekeluargaan yang ia miliki, cukup menjadi indikasi bahwa ia sosok yang shalih yang memiliki perhatian mendalam pada ilmu-ilmu agama dan memiliki kedudukan terpandang dimasanya.

Hingga beberapa waktu yang lalu, masyarakat dikejutkan oleh berita diberbagai media perihal rencana pemindahan makam Habib Abdurrahman Cikini. Tak ayal, pro dan kontrapun mencuat kepermukaan.Menyusul mencuatnya berita rencana pemindahan makamnya, keluar pula dengan begitu derasnya air jernih dari sekitar makamnya.

Masyarakat pun berduyun – duyun mendatangi makam tersebut. tak sedikit diantara mereka yang mendatanginya untuk keperluan mengambil air tersebut. Terlepas benar atau tidak, mereka yang meyakini bahwa air itu memiliki khasiat yang istimewa terus berdatangan siang dan malam. Beberapa hari setelah diturunkannya tulisan ini,kabarnya, berdasarkan pembicaraan bersama pihak keluarga ahli waris Habib Abdurrahman Cikini, rencana pemindahan Makam pun urung dilakukan.

Umat tentu bersuka cita mendengar kabar tersebut. Pemindahan makam memang bukan hal yang mustahil dan bukan pula diharamkan secara mutlak, namun demikian dibutuhkan beberapa persyaratan ketat yang harus terpenuhi.Betapapun, demi kemaslahatan bersama, segala sesuatunya memang dapat dibicarakan lewat jalan musyawarah demi tercapainya mufakat. Mengenai air yang keluar dari sekitar makam Habib Abdurrahman Cikini, pengawalan atas aqidah umat mutlak diperlukan, agar mereka tak keliru dalam memandang keberadaan air tersebut, sementara pihak menilai, air yang tak dikethui asal muasal sumbernya itu tak lain merupakan kehendak Allah SWT untuk mensyiarkan dan menkhabarkan kepada khalayak luas perihal keberadaan seorang kekasihNya di tempat itu.
Dikutip dari : MAJALAH ALKISAH

Riwayat Hidup Al-Hasan dan Al-Husain

Bismillahir Rahmanir Rahiim


Beliau dilahirkan pada bulan Ramadhan tahun ke-3 Hijriyah menurut kebanyakan para
ulama sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar. (lihat Fathul Bari juz VII, hal. 464)
Setelah ayah beliau Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu terbunuh, sebagian kaum
muslimin membai’at beliau, tetapi bukan karena wasiat dari Ali. Berkata Syaikh
Muhibbudin al-Khatib bahwa diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya juz
ke-1 hal. 130 -setelah disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib akan terbunuh- mereka
berkata kepadanya: “Tentukanlah penggantimu bagi kami.” Maka beliau menjawab:
“Tidak, tetapi aku tinggalkan kalian pada apa yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam….”
Dan disebutkan oleh beliau (Muhibuddin Al-Khatib) beberapa hadits dalam masalah ini.
(Lihat Ta’liq kitab Al-’Awashim Minal Qawashim, Ibnul Arabi, hal. 198-199). Tetapi
setelah itu Al-Hasan menyerahkan ketaatannya kepada Mu’awiyah untuk mencegah
pertumpahan darah di kalangan kaum muslimin.
Kisah tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab As-Shulh dari Imam AlHasan Al-Bashri, dia berkata: -Demi Allah- Al-Hasan bin Ali telah menghadap
Mu’awiyah beserta beberapa kelompok pasukan berkuda ibarat gunung, maka
berkatalah ‘Amr bin ‘Ash: “Sungguh aku berpendapat bahwa pasukan-pasukan tersebut
tidak akan berpaling melainkan setelah membunuh pasukan yang sebanding
dengannya”. Berkata kepadanya Mu’awiyah -dan dia demi Allah yang terbaik di antara
dua orang-: “Wahai ‘Amr! Jika mereka saling membunuh, maka siapa yang akan
memegang urusan manusia? Siapa yang akan menjaga wanita-wanita mereka? Dan
siapa yang akan menguasai tanah mereka?”
Maka ia mengutus kepadanya (Al-Hasan) dua orang utusan dari Quraisy dari Bani
‘Abdi Syams Abdullah bin Samurah dan Abdullah bin Amirbin Kuraiz, ia berkata:
“Pergilah kalian berdua kepada orang tersebut! Bujuklah dan ucapkan kepadanya serta
mintalah kepadanya (perdamaian -peny.)” Maka keduanya mendatanginya, berbicara
dengannya dan memohon padanya…) kemudian di akhir hadits Al-Hasan bin Ali
meriwayatkan dari Abi Bakrah bahwa dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam di atas mimbar dan Hasan bin Ali di sampingnya beliau sesaat menghadap
kepada manusia dan sesaat melihat kepadanya seraya berkata:
إِ نﱠ اﺑْﻨِﻰ هَﺬَا ﺳَﻴﱢﺪٌ، وَ ﻟَ ﻌَ ﻞﱠ ا ﷲَ أَ نْ
ﻳُ ﺼْ ﻠِ ﺢَ ﺑِ ﻪِ ﺑَ ﻴْ ﻦَ ﻓِ ﺌَ ﺘَ ﻴْ ﻦِ ﻋَ ﻈِ ﻴْ ﻤَ ﺘَ ﻴْ ﻦِ ﻣِ ﻦَ
ا ﻟْ ﻤُ ﺴْ ﻠِ ﻤِ ﻴْ ﻦَ. (رواﻩ اﻟﺒﺨﺎرى ﻣﻊ اﻟﻔﺘﺢ
۷/٦٤۷ رﻗﻢ
٢۷٠٤)
Sesungguhnya anakku ini adalah sayyid, semoga Allah akan mendamaikan dengannya
antara dua kelompok besar dari kalangan kaum muslimin. (HR. Bukhari dengan Fathul
Bari, juz V, hal. 647, hadits no. 2704) 4
Berkata Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah: “….Al-Husein menyalahkan saudaranya AlHasan atas pendapat ini, tetapi beliau tidak mau menerimanya. Dan kebenaran ada pada
Al-Hasan sebagaimana dalil yang akan datang….” (lihat AlBidayah wan Nihayah, juz
VIII hal. 17). Yang dimaksud oleh beliau adalah dalil yang sudah kita sebutkan di atas
yang diriwayatkan dari Abi Bakrah radhiyallahu ‘anhu.
Itulah keutamaan Al-Hasan yang paling besar yang dipuji oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Maka bersatulah kaum muslimin hingga tahun tersebut terkenal
dengan tahun jama’ah.
Yang mengherankan justru kaum Syi’ah Rafidlah menyesali kejadian ini dan
menjuluki Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu sebagai ‘pencoreng wajah- wajah kaum
mukminin’. Sebagian mereka menganggapnya fasik sedangkan sebagian lagi bahkan
mengkafirkannya karena hal itu. Berkata Syaikh Muhibbudin Al-Khatib mengomentari
ucapan Rafidlah ini sebagai berikut: “Padahal termasuk dari dasar-dasar keimanan
Rafidlah -bahkan dasar keimanan yang paling utama- adalah keyakinan mereka bahwa
Al-Hasan, ayah, saudara dan sembilan keturunannya adalah maksum. Dan dari
konsekwensi kemaksuman mereka, bahwa mereka tidak akan berbuat kesalahan. Dan
setiap apa yang bersumber dari mereka berarti hak yang tidak akan terbatalkan.
Sedangkan apa yang bersumber dari Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma yang paling
besar adalah pembai’atan terhadap amiril mukminin Mu’awiyah, maka mestinya mereka
pun masuk dalam bai’at ini dan beriman bahwa ini adalah hak karena ini adalah amalan
seorang yang maksum menurut mereka. (Lihat catatan kaki kitab Al- Awashim minal
Qawashim hal. 197-198). Tetapi kenyataannya mereka menyelisihi imam mereka
sendiri yang maksum bahkan menyalahkannya, menfasikkannya, atau mengkafirkannya.
Sehingga terdapat dua kemungkinan:
Pertama, mereka berdusta atas ucapan mereka tentang kemaksuman dua belas imam,
maka hancurlah agama mereka (agama Itsna ‘Asyariyyah).
Kedua, mereka meyakini kemaksuman Al-Hasan, maka mereka adalah para pengkhianat
yang menyelisihi imam yang maksum dengan permusuhan dan kesombongan serta
kekufuran. Dan tidak ada kemungkinan yang ketiga.
Adapun Ahlus Sunnah yang beriman dengan kenabian “kakek Al-Hasan” shallallahu
‘alaihi wa sallam berpendapat bahwa perdamaian dan bai’at beliau kepada Mu’awiyah
radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu bukti kenabian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan amal terbesar Al-Hasan serta mereka bergembira dengannya kemudian
menganggap AlHasan yang memutihkan wajah kaum mukminin.
Demikianlah khilafah Mu’awiyah berlangsung dengan persatuan kaum muslimin karena
Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebab pengorbanan Al-Hasan bin Ali radhiyallahu
‘anhu yang besar yang dia -demi Allah-lebih berhak terhadap khilafah daripada
Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Bakar Ibnul Arabi
dan para ulama. Semoga Allah meridlai seluruh para shahabat Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. 5
Pada tahun ke 10 masa khilafah Mu’awiyah meninggallah Al-Hasan radhiyallahu `anhu
pada umur 47 tahun. Dan ini yang dianggap shahih oleh Ibnu Katsir, sedangkan yang
masyhur adalah 49 tahun. Wallahu A’lam bish-Shawab. Ketika beliau diperiksa oleh
dokter, maka dia mengatakan bahwa Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu meninggal karena
racun yang memutuskan ususnya. Namun tidak diketahui dalam sejarah siapa yang
membunuhnya.
Adapun ucapan Rafidlah yang menuduh pihak Mu’awiyah sebagai pembunuhnya sama
sekali tidak dapat diterima sebagaimana dikatakan oleh Ibnul ‘Arabi dengan ucapannya:
“Kami mengatakan bahwa hal ini tidak mungkin karena dua hal: pertama, bahwa dia
(Mu’awiyah) sama sekali tidak mengkhawatirkan kejelekan apapun dari Al-Hasan
karena beliau telahmenyerahkan urusannya kepada Mu’awiyah. Yang kedua, hal ini
adalah perkara ghaib yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, maka
bagaimana mungkin menuduhkannya kepada salah seorang makhluk-Nya tanpa bukti
pada zaman yang berjauhan yang kita tidak dapat mudah percaya dengan nukilan
seorang penukil dari kalangan pengikut hawa nafsu (Syi’ ah). Dalam keadaan fitnah dan
Ashabiyyah, setiap orang akan menuduh lawannya dengan tuduhan yang tidak
semestinya, makatidak mungkin diterima kecuali dari seorang yang bersih dan tidak
didengar darinya kecuali keadilan.” (Lihat Al-washim minal Qawashim hal. 213-214)
Demikian pula dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bahwa tuduhan Syi’ah
tersebut tidak benar dan tidak didatangkan dengan bukti syar’i serta tidak pula ada
persaksian yang dapat diterima dan tidak ada pula penukilan yang tegas tentangnya.
(Lihat Minhajus
Sunnah juz 2 hal. 225)
Semoga Allah merahmati Al-Hasan bin Ali dan meridlainya dan melipatgandakan
pahala amal dan jasa-jasanya. Dan semoga Allah menerimanya sebagai syahid. Amiin.
Riwayat Hidup Al-Husein dan Peristiwa Pembunuhannya
Beliau dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun ke-empat Hijriyah. Diriwayatkan bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mentahnik (yakni mengunyahkan kurma
kemudian dimasukkan ke mulut bayi dengan digosokkan ke langit-langitnya -pent.),
mendoakan dan menamakannya Al-Husein. Demikianlah dikatakan oleh Ibnu Katsir
dalam Al-Bidayah wan Nihayah, juz VIII, hal. 152.
Berkata Ibnul Arabi dalam kitabnya Al-Awashim minal Qawashim: “Disebutkan oleh
ahli tarikh bahwa surat-surat berdatangan dari ahli kufah kepada Al-Husein (setelah
meninggalnya Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu). Kemudian Al-Husein mengirim Muslim
Ibnu Aqil, anak pamannya kepada mereka untuk membai’at mereka dan melihat
bagaimana keikutsertaan mereka. Maka Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu memberitahu
beliau (Al-Husein) bahwa mereka dahulu pernah mengkhianati bapak dan saudaranya.
Sedangkan Ibnu Zubair mengisyaratkan kepadanya agar dia berangkat, maka
berangkatlah Al- Husein. Sebelum sampai beliau di Kufah ternyata Muslim Ibnu Aqil
telah terbunuh dan diserahkan kepadanya oleh orang-orang yang memanggilnya. 6
“Cukup bagimu ini sebagai peringatan bagi yang mau mengambil peringatan”
(kelihatannya yang dimaksud adalah ucapan Ibnu Abbas kepada Al-Husein -pent.).
Tetapi beliau radhiyallahu ‘anhu tetap melanjutkan perjalanannya dengan marah karena
dien dalam rangka menegakkan al-haq. Bahkan beliau tidak mendengarkan nasehat
orang yang paling alim pada jamannya yaitu ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dan
menyalahi pendapat syaikh para shahabat yaitu Ibnu Umar. Beliau mengharapkan
permulaan pada akhir (hidup -pent.), mengharapkan kelurusan dalam kebengkokan dan
mengharapkan keelokan pemuda dalam rapuh ketuaan.
Tidak ada yang sepertinya di sekitarnya, tidak pula memiliki pembela-pembela yang
memelihara haknya atau yang bersedia mengorbankan dirinya untuk membelanya.
Akhirnya kita ingin mensucikan bumi dari khamr Yazid, tetapi kita tumpahkan darah
Al-Husein, maka datang
kepada kita musibah yang menghilangkan kebahagiaan jaman. (lihat Al-Awashim minal
Qawashim oleh Abu Bakar Ibnul ‘Arabi dengan tahqiq dan ta’liq Syaikh Muhibbuddin
Al-Khatib, hal. 229-232)
Yang dimaksud oleh beliau dengan ucapannya ‘Kita ingin mensucikan bumi dari khamr
Yazid, tetapi kita tumpahkan darah Al-Husein’ adalah bahwa niat Al-Husein dengan
sebagian kaum muslimin untuk mensucikan bumi dari khamr Yazid yang hal ini masih
merupakan tuduhan-tuduhan dan tanpa bukti, tetapi hasilnya justru kita menodai bumi
dengan darah Al-Husein yang suci. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhibbudin AlKhatib dalam ta’liq-nya terhadap buku Al-Awashim Minal Qawashim.
Ketika Al-Husein ditahan oleh tentara Yazid, Samardi Al-Jausyan mendorong Abdullah
bin Ziyad untuk membunuhnya. Sedangkan Al-Husein meminta untuk dihadapkan
kepada Yazid atau dibawa ke front untuk berjihad melawan orang-orang kafir atau
kembali ke Mekah. Namun mereka tetap membunuh Al-Husein dengan dhalim sehingga
beliau meninggal dengan syahid radhiyallahu ‘anhu. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Al-Husein terbunuh di Karbala di dekat Eufrat
dan jasadnya dikubur di tempat terbunuhnya, sedangkan kepalanya dikirim ke hadapan
Ubaidillah bin Ziyad di Kufah. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam
Shahihnya dan dari
para imam yang lain.
Adapun tentang dibawanya kepala beliau kepada Yazid telah diriwayatkan dalam
beberapa jalan yang munqathi’ (terputus) dan tidak benar sedikitpun tentangnya.
Bahkan dalam riwayat-riwayat tampak sesuatu yang menunjukkan kedustaan dan
pengada-adaan riwayat tersebut.
Disebutkan padanya bahwa Yazid menusuk gigi taringnya dengan besi dan bahwasanya
sebagian para shahabat yang hadir seperti Anas bin Malik, Abi Barzah dan lain-lain
mengingkarinya. Hal ini adalah pengkaburan, karena sesungguhnya yang menusuk
dengan besi adalah ‘Ubaidilah bin Ziyad. Demikian pula dalam kitab-kitab shahih dan
musnad, bahwasanya mereka menempatkan Yazid di tempat ‘Ubaidilah bin Ziyad.
Adapun ‘Ubaidillah, tidak diragukan lagi bahwa dialah yang memerintahkan untuk 7
membunuhnya (Husein) dan memerintahkan untuk membawa kepalanya ke hadapan
dirinya. Dan akhirnya Ibnu Ziyad pun dibunuh karena itu.
Dan lebih jelas lagi bahwasanya para shahabat yang tersebut tadi seperti Anas dan Abi
Barzah tidak berada di Syam, melainkan berada di Iraq ketika itu. Sesungguhnya para
pendusta adalah orang-orang jahil (bodoh), tidak mengerti apa-apa yang menunjukkan
kedustaan mereka.” (Majmu’ Fatawa, juz IV, hal. 507-508)
Adapun yang dirajihkan oleh para ulama tentang kepala Al-Husein bin Ali radhiyallahu
‘anhuma adalah sebagaimana yang disebutkan oleh az- Zubair bin Bukar dalam kitabnya
Ansab Quraisy dan beliau adalah seorang yang paling ‘alim dan paling tsiqah dalam
masalah ini (tentang keturunan Quraisy). Dia menyebutkan bahwa kepala Al-Husein
dibawa ke Madinah An-Nabawiyah dan dikuburkan di sana. Hal ini yang paling cocok,
karena di sana ada kuburan saudaranya Al-Hasan, paman ayahnya Al-Abbas dan anak
Ali dan yang seperti mereka. (Dalam sumber yang sama, juz IV, hal. 509)
Demikianlah Al-Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma terbunuh pada hari Jum’at, pada
hari ‘Asyura, yaitu pada bulan Muharram tahun 61 H dalam usia 54 tahun 6 bulan.
Semoga Allah merahmati Al-Husein dan mengampuni seluruh dosadosanya serta
menerimanya sebagai syahid.
Dan semoga Allah membalas para pembunuhnya dan mengadzab mereka dengan adzab
yang pedih. Amin.
Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Yazid bin Mu’awiyyah
Untuk membahas masalah ini kita nukilkan saja di sini ucapan Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah secara lengkap dari Fatawa-nya sebagai berikut:
Belum terjadi sebelumnya manusia membicarakan masalah Yazid bin Muawiyyah dan
tidak pula membicarakannya termasuk masalah Dien. Hingga terjadilah setelah itu
beberapa perkara, sehingga manusia melaknat terhadap Yazid bin Muawiyyah, bahkan
bisa jadi mereka menginginkan dengan itu laknat kepada yang lainnya. Sedangkan
kebanyakan Ahlus Sunnah tidak suka melaknat orang tertentu. Kemudian suatu kaum
dari golongan yang ikut mendengar yang demikian meyakini bahwa Yazid termasuk
orang-orang shalih yang besar dan Imam-imam yang mendapat petunjuk.
Maka golongan yang melampaui batas terhadap Yazid menjadi dua sisi yang
berlawanan:
Sisi pertama, mereka yang mengucapkan bahwa dia kafir zindiq dan bahwasanya dia
telah membunuh salah seorang anak perempuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
membunuh shahabat-shahabat Anshar, dan anak-anak mereka pada kejadian Al-Hurrah
(pembebasan Madinah) untuk menebus dendam keluarganya yang dibunuh dalam
keadaan kafir seperti kakek ibunya ‘Utbah bin Rab’iah, pamannya Al-Walid dan selain
keduanya. Dan mereka menyebutkan pula bahwa dia terkenal dengan peminum khamr
dan menampakkan maksiat-maksiatnya. 8
Pada sisi lain, ada yang meyakini bahwa dia (Yazid) adalah imam yang adil,
mendapatkan petunjuk dan memberi petunjuk. Dan dia dari kalangan shahabat atau
pembesar shahabat serta salah seorang dari wali-wali Allah. Bahkan sebagian dari
mereka meyakini bahwa dia dari kalangan para nabi. Mereka mengucapkan bahwa
barangsiapa tidak berpendapat terhadap Yazid maka Allah akan menghentikan dia
dalam neraka Jahannam. Mereka meriwayatkan dari Syaikh Hasan bin ‘Adi bahwa dia
adalah wali yang seperti ini dan seperti itu.
Barangsiapa yang berhenti (tidak mau mengatakan demikian), maka dia berhenti dalam
neraka karena ucapan mereka yang demikian terhadap Yazid. Setelahzaman Syaikh
Hasan bertambahlah perkara-perkara batil dalam bentuk syair atau prosa. Mereka
ghuluw kepada Syaikh Hasan dan Yazid dengan perkara-perkara yang menyelisihi apa
yang ada di atasnya Syaikh ‘Adi yang agung -semoga Allah mensucikan ruhnya-. Karena
jalan beliau sebelumnya adalah baik, belum terdapat bid’ah-bid’ah yang seperti itu,
kemudian mereka mendapatkan bencana dari pihak Rafidlah yang memusuhi mereka
dan kemudian membunuh Syaikh Hasan bin ‘Adi sehingga terjadilah fitnah yang tidak
disukai Allah dan Rasul-Nya.
Dua sisi ekstrim terhadap Yazid tersebut menyelishi apa yang disepakati oleh para
ulama dan Ahlul Iman. Karena sesungguhnya Yazid bin Muawiyyah dilahirkan pada
masa khalifah Utsman bin ‘Affan radliallahu ‘anhu dan tidak pernah bertemu Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam serta tidak pula termasuk shahabat dengan kesepakatan para
ulama. Dia tidak pula terkenal dalam masalah Dien dan keshalihan.
Dia termasuk kalangan pemuda-pemuda muslim bukan kafir dan bukan pula zindiq. Dia
memegang kekuasaan setelah ayahnya dengan tidak disukai oleh sebagian kaum
muslimin dan diridlai oleh sebagian yang lain. Dia memiliki keberanian dan
kedermawanan dan tidak pernah menampakkan kemaksiatan-kemaksiatan sebagaimana
dikisahkan oleh musuh-musuhnya.
Namun pada masa pemerintahannya telah terjadi perkara-perkara besar yaitu:
1. Terbunuhnya Al-Husein radhiyallahu ‘anhu sedangkan Yazid tidak memerintahkan
untuk membunuhnya dan tidak pula menampakkan kegembiraan dengan pembunuhan
Husein serta tidak memukul gigi taringnya dengan besi. Dia juga tidak membawa
kepala Husein ke Syam. Dia memerintahkan untuk melarang Husein dengan
melepaskannya dari urusan walaupun dengan memeranginya. Tetapi para utusannya
melebihi dari apa yang diperintahkannya tatkala Samardi Al-Jausyan mendorong
‘Ubaidillah bin Ziyad untuk membunuhnya.Ibnu Ziyad pun menyakitinya dan ketika AlHusein radhiyallahu ‘anhu meminta agar dia dibawa menghadap Yazid, atau diajak ke
front untuk berjihad (memerangi orang-orang kafir bersama tentara Yazid -pent), atau
kembali ke Mekkah, mereka menolaknya dan tetap menawannya.
Atas perintah Umar bin Sa’d, maka mereka membunuh beliau dan sekelompok Ahlul
Bait radhiyallahu ‘anhum dengan dhalim. Terbunuhnya beliau radhiyallahu ‘anhu
termasuk musibah besar, karena sesungguhnyaterbunuhnya Al-Husein -dan ‘Utsman
bin ‘Affan sebelumnya- adalah penyebab fitnah terbesar pada umat ini. Demikian juga
pembunuh keduanya adalah makhluk yang paling jelek di sisi Allah. Ketika keluarga 9
beliau radhiyallahu ‘anhu mendatangi Yazid bin Mua’wiyah, Yazid memuliakan mereka
dan mengantarkan mereka ke Madinah.
Diriwayatkan bahwa Yazid melaknat Ibnu Ziyad atas pembunuhan Husein dan berkata:
“Aku sebenarnya meridlai ketaatan penduduk Irak tanpa pembunuhan Husein.” Tetapi
dia tidak menampakkan pengingkaran terhadap pembunuhnya, tidak membela serta
tidak pula membalasnya, padahal itu adalah wajib bagi dia. Maka akhirnya Ahlul Haq
mencelanya karena meninggalkan kewajibannya, ditambah lagi dengan perkara-perkara
yang lain. Sedangkan musuh-musuh mereka menambahkan kedustaan-kedustaan
atasnya.
2. Ahlil Madinah membatalkan bai’atnya kepada Yazid dan mereka mengeluarkan
utusan-utusan dan penduduknya. Yazid pun mengirimkan tentara kepada mereka,
memerintahkan mereka untuk taat dan jika mereka tidak mentaatinya setelah tiga hari
mereka akan memasuki Madinah dengan pedang dan menghalalkan darah mereka.
Setelah tiga hari, tentara Yazid memasuki Madinah an-Nabawiyah, membunuh mereka,
merampas harta mereka, bahkan menodai kehormatan-kehormatan wanita yang suci,
kemudian mengirimkan tentaranya ke Mekkah yang mulia dan mengepungnya. Yazid
meninggal dunia pada saat pasukannya dalam keadaan mengepung Mekkah dan hal ini
merupakan permusuhan dan kedzaliman yang dikerjakan atas perintahnya.
Oleh karena itu, keyakinan Ahlus Sunnah dan para imam-imam umat ini adalah mereka
tidak melaknat dan tidak mencintainya. Shalih bin Ahmad bin Hanbal berkata: Aku
katakan kepada ayahku: “Sesungguhnya suatu kaum mengatakan bahwa mereka cinta
kepada Yazid.” Maka beliau rahimahullah menjawab: “Wahai anakku, apakah akan
mencintai Yazid seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir?” Aku bertanya:
“Wahai ayahku, mengapa engkau tidak melaknatnya?” Beliau menjawab: “Wahai
anakku, kapan engkau melihat ayahmu melaknat seseorang?” Diriwayatkan pula bahwa
ditanyakan kepadanya: “Apakah engkau menulis hadits dari Yazid bin Mu’awiyyah?”
Dia berkata: “Tidak, dan tidak ada kemulyaan, bukankah dia yang telah melakukan
terhadap ahlul Madinah apa yang dia lakukan?”
Yazid menurut ulama dan Imam-imam kaum muslimin adalah raja dari raja-raja (Islam
-pent). Mereka tidak mencintainya seperti mencintai orang-orang shalih dan wali-wali
Allah dan tidak pula melaknatnya. Karena sesungguhnya mereka tidak suka melaknat
seorang muslim secara khusus (ta ‘yin), berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh
Bukhari dalam Shahih-nya dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu: Bahwa
seseorang yang dipanggil dengan Hammar sering minum khamr. Acap kali dia
didatangkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dicambuknya. Maka
berkatalah seseorang: “Semoga Allah melaknatnya. Betapa sering dia didatangkan
kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Jangan engkau melaknatnya, sesungguhnya dia mencintai Allah dan RasulNya. ” (HR. Bukhari)
Walaupun demikian di kalangan Ahlus Sunnah juga ada yang membolehkan laknat
terhadapnya karena mereka meyakini bahwa Yazid telah melakukan kedhaliman yang
menyebabkan laknat bagi pelakunya. 10
Kelompok yang lain berpendapat untuk mencintainya karena dia seorang muslim yang
memegang pemerintahan di zaman para shahabat dan dibai’at oleh mereka. Serta
mereka berkata: “Tidak benar apa yang dinukil tentangnya padahal dia memiliki
kebaikan-kebaikan,atau dia melakukannya dengan ijtihad.”
Pendapat yang benar adalah apa yang dikatakan oleh para imam (Ahlus Sunnah), bahwa
mereka tidak mengkhususkan kecintaan kepadanya dan tidak pula melaknatnya. Di
samping itu kalaupun dia sebagai orang yang fasiq atau dhalim, Allah masih mungkin
mengampuni orang fasiq dan dhalim. Lebih-lebih lagi kalau dia memiliki kebaikankebaikan yang besar.
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya dari Ummu Harran binti Malhan
radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَ أَ وﱠ لُ ﺟَ ﻴْ ﺶٍ ﻣِ ﻦْ أُﻣﱠﺘِﻰ ﻳَ ﻐْ ﺰُ وْ نَ…
(ﻣَ ﺪِ ﻳْ ﻨَ ﺔَ ﻗَ ﻴْ ﺼَ ﺮَ ﻣَ ﻐْ ﻔُ ﻮْ رٌ ﻟَ ﻬُ ﻢْ. (رواﻩ اﻟﺒﺨﺎرى
Tentara pertama yang memerangi Konstantiniyyah akan diampuni. (HR. Bukhari)
Padahal tentara pertama yang memeranginya adalah di bawah pimpinan Yazid bin
Mu’awiyyah dan pada waktu itu Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bersamanya.
Catatan:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah melanjutkan setelah itu dengan ucapannya: “Kadangkadang sering tertukar antara Yazid bin Mu’ awiyah dengan pamannya Yazid bin Abu
Sufyan. Padahal sesungguhnya Yazid bin Abu Sufyan adalah dari kalangan Shahabat,
bahkan orang-orang pilihan di antara mereka dan dialah keluarga Harb (ayah Abu
Sufyan bin Harb -pent) yang terbaik. Dan beliau adalah salah seorang pemimpin Syam
yang diutus oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu ketika pembebasan negeri
Syam. Abu Bakar ash- Shiddiq pernah berjalan bersamanya ketika mengantarkannya,
sedangkan dia berada di atas kendaraan. Maka berkatalah Yazid bin Abu Sufyan:
“Wahai khalifah Rasulullah, naiklah! (ke atas kendaraan) atau aku yang akan turun.”
Maka berkatalah Abu Bakar: “Aku tidak akan naik dan engkau jangan turun,
sesungguhnya aku mengharapkan hisab dengan langkah-langkahku ini di jalan Allah.
Ketika beliau wafat setelah pembukaan negeri Syam di zaman pemerintahan Umar
radhiyallahu ‘anhu, beliau mengangkat saudaranya yaitu Mu’awiyah untuk
menggantikan kedudukannya.
Kemudian Mu’awiyah mempunyai anak yang bernama Yazid di zaman pemerintahan
‘Utsman ibnu ‘Affan dan dia tetap di Syam sampai terjadi peristiwa yang terjadi. Yang
wajib adalah untuk meringkas yang demikian dan berpaling dari membi-carakan Yazid
bin Mu’awiyah serta bencana yang menimpa kaum muslimin karenanya dan
sesungguhnya yang demikian merupakan bid’ah yang menyelisihi ahlus sunnah wal
jama’ah. Karena dengan sebab itu sebagian orang bodoh meyakini bahwa Yazid bin
Mu`awiyah termasuk kalangan shahabat dan bahwasanya dia termasuk kalangan
tokoh-tokoh orang shalih yang besar atau imam-imam yang adil. Hal ini adalah 11
kesalahan yang nyata.” (Diambil dari Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,
jilid 3, hal. 409-414)
Bid’ah-bid’ah yang Berhubungan dengan
Terbunuhnya Al-Husein
Kemudian muncullah bid’ah-bid’ah yang banyak yang diadakan oleh kebanyakan orangorang terakhir berkenaan dengan perisiwa terbunuhnya Al-Husein, tempatnya,
waktunya dan lain-lain. Mulailah mereka mengada-adakan An-Niyaahah (ratapan) pada
hari terbunuhnya Al-Husein yaitu pada hari ‘Asyura (10 Muharram), penyiksaan diri,
mendhalimi binatang-binatang ternak, mencaci maki para wali Allah (para shahabat)
dan mengada-adakan kedustaan-kedustaan yang diatasnamakan ahlul bait serta
kemungkaran-kemungkaran yang jelas dilarang dalam kitab Allah dan sunnah RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.
Al-Husein radhiyallahu ‘anhu telah dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan
mati syahid pada hari ‘Asyura dan Allah telah menghinakan pembunuhnya serta orang
yang mendukungnya atau ridla dengan pembunuhannya. Dan dia mempunyai teladan
pada orang sebelumnya dari para syuhada, karena sesungguhnya dia dan saudaranya
adalah penghulu para pemuda ahlul jannah. Keduanya telah dibesarkan pada masa
kejayaan Islam dan tidak mendapatkan hijrah, jihad, dan kesabaran atas gangguangangguan di jalan Allah sebagaimana apa yang telah didapati oleh ahlul bait
sebelumnya. Maka Allah mulyakan keduanya dengan syahid untuk menyempurnakan
kemulyaan dan mengangkat derajat keduanya.
Pembunuhan beliau merupakan musibah besar dan Allah subhanahu wa ta’ala telah
mensyari’atkan untuk mengucapkan istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) ketika
musibah dalam ucapannya:
وَ ﺑَ ﺸﱢ ﺮِ اﻟﺼﱠﺎﺑِﺮِﻳﻦَ ا ﻟﱠ ﺬِ ﻳ ﻦَ إِذَا…
أَ ﺻَ ﺎ ﺑَ ﺘْ ﻬُ ﻢْ ﻣُﺼِﻴﺒَﺔٌ ﻗَﺎﻟُﻮا إِﻧﱠﺎ ﻟِ ﻠﱠ ﻪِ
وَإِﻧﱠﺎ إِ ﻟَ ﻴْ ﻪِ رَ ا ﺟِ ﻌُ ﻮ نَ أُ و ﻟَ ﺌِ ﻚَ ﻋَ ﻠَ ﻴْ ﻬِ ﻢْ
ﺻَ ﻠَ ﻮَ ا تٌ ﻣِ ﻦْ رَ ﺑﱢ ﻬِ ﻢْ وَ رَ ﺣْ ﻤَ ﺔٌ وَ أُ و ﻟَ ﺌِ ﻚَ هُ ﻢُ
.اﻟْﻤُﻬْﺘَﺪُونَ
…. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orangyang sabar, (yaitu) orang-orang
yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi
raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat
dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al- Baqarah:
155-157)
Sedangkan mereka yang mengerjakan apa-apa yang dilarang oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam rangka meratapinya seperti memukul pipi, merobek baju, dan
menyeru dengan seruan-seruan jahiliyah, maka balasannya sangat keras sebagaimana
diriwayatkan dalam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, berkata:
Bersabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam: 12
ﻟَ ﻴْ ﺲَ ﻣِﻨﱠﺎ ﻣَ ﻦْ ﻟَ ﻄَ ﻢَ اﻟْﺨُﺪُوْدَ، وَ ﺷَ ﻖﱠ
اﻟْﺠُﻴُﻮْبَ، وَدَﻋَﺎ ﺑِﺪَﻋْﻮَى ا ﻟْ ﺠَ ﺎ هِ ﻠِ ﻴﱠ ﺔِ. (رواﻩ
(اﻟﺒﺨﺎرى وﻣﺴﻠﻢ
Bukan dari golongan kami, siapa yang memukul-mukul pipi, merobek- robek baju, dan
menyeru dengan seruan-seruan jahiliyah. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain, juga dalam Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al- Asy’ari
radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia berkata: “Aku berlepas diri dari orang-orang yang
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri darinya, yaitu bahwasanya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari al-haliqah, ash-shaliqah dan
asy-syaaqqah. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan dalam Shahih Muslim dari Abi Malik Al-Asy’ari bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
أَ رْ ﺑَ ﻊٌ ﻓِﻰ أُﻣﱠﺘِﻰ ﻣِ ﻦْ أَ ﻣْ ﺮِ ا ﻟْ ﺠَ ﺎ هِ ﻠِ ﻴﱠ ﺔِ ﻻَ
ﻳَ ﺘْ ﺮُ آُ ﻮْ ﻧَ ﻬُ ﻦﱠ: ا ﻟْ ﻔَ ﺨْ ﺮُ ﻓِﻰ اْﻷَﺣْﺴَﺎبِ
وَ ا ﻟ ﻄﱠ ﻌْ ﻦُ ﻓِﻰ اْ ﻷَﻧْﺴَﺎبِ وَاْﻹِﺳْﺘِﺴْﻘَﺎءُ
(ﺑِ ﺎ ﻟ ﻨُ ﺠُ ﻮْ مِ وَاﻟﻨﱢﻴَﺎﺣَﺔُ. (رواﻩ ﻣﺴﻠﻢ
Empat perkara yang terdapat pada umatku dari perkara perkara jahiliyah yang mereka
tidak meninggalkannya: bangga dengan kedudukan, mencela nasab (keturunan),
mengharapkan hujan dengan bintang-bintang dan meratapi mayit. (HR. Muslim)
Dan juga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَ إِ نﱠ ا ﻟ ﻨﱠ ﺎ ﺋِ ﺤَ ﺔَ إِذَا ﻟَ ﻢْ ﺗَ ﺘُ ﺐْ ﻗَ ﺒْ ﻞَ…
ا ﻟْ ﻤَ ﻮْ تِ ﺟَ ﺎ ﺋَ ﺖْ ﻳَ ﻮْ مَ ا ﻟْ ﻘِ ﻴَ ﺎ ﻣَ ﺔِ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ
ﺳِ ﺮْ ﺑَ ﺎ لٌ ﻣِ ﻦْ ﻗَ ﻄِ ﺮَ ا نِ ، وَ دَ رْ عٌ ﻣِ ﻦْ ﻟَ ﻬَ ﺐِ
(ا ﻟ ﻨﱠﺎ رِ. (ﺻﺤﻴﺢ رواﻩ أﺣﻤﺪ واﻟﻄﺒﺮاﻧﻰ واﻟﺤﺎآﻢ
Sesungguhnya perempuan tukang ratap jika tidak bertaubat sebelum matinya dia akan
dibangkitkan di hari kiamat sedangkan atasnya pakaian dari timah dan pakaian dada
dari nyala api neraka. (HR. Ahmad, Thabrani dan Hakim)
Hadits-hadits tentang masalah ini bermacam-macam. Demikianlah keadaan orang yang
meratapi mayit dengan memukul-mukul badannya, merobek-robek bajunya dan lainlain. Maka bagaimana jika ditambah lagi bersama dengan itu kezaliman terhadap
orang-orang mukmin (para shahabat), melaknat mereka, mencela mereka, serta
sebaliknya membantu ahlu syiqaq orang-orang munafiq dan ahlul bid’ah dalam
kerusakan dien yang mereka tuju serta kemungkaran lain yang Allah lebih
mengetahuinya. 13
Maraji’:
- Minhajus-Sunnah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
- Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
- Al-’Awashim Minal Qawashim, oleh Qadhi Abu Bakar
- Ibnul Arabi dengan tahqiq dan ta’liq Syaikh Muhibbudin Al-Khatib.
- Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir.
- Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani.
- Shahih Muslim dengan Syarh Nawawi.
- Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-
Albani.
[Sumber: Majalah SALAFY edisi VIII/Rabi'ul Awal/1417/1996 Penulis Ustadz
Muhammad Umar Sewed]

Wanita Yang Pertama Masuk Surga

Bismillahir rahmanir Rahiim

Pada suatu hari Fatimah bertanya Rasulullah, siapakah perempuan pertama yang bakal masuk syurga. Baginda menjawab, seorang wanita yang bernama Muti’ah. Fatimah terkejut, ternyata bukan dia seperti yang dibayangkannya. Mengapa orang lain, pada hal dia adalah puteri Nabi ?

Timbul keinginannya untuk mengetahui siapakah Mutiah itu. Apakah gerangan yang dilakukannya sampai mendapat penghormatan begitu tinggi ? Sesudah meminta izin daripada suaminya, Ali bin Abu Talib , Fatimah berangkat mencari rumah Mutiah. Puteranya yang masih kecil Hasan menangis ingin ikut lalu didukungnya Hasan ke rumah Mutiah.

Fatimah mengetuk pintu rumah Mutiah dan memberi salam. Wa’alaikumussalam ! Siapa di luar? Terdengar jawaban lemah lembut dari dalam. Suara cerah dan merdu.

“! ! ! Saya Fatimah, puteri Rasulullah “. “Alhamdulillah, alangkah bahagianya
saya hari ini, Fatimah sudi berkunjung ke gubuk saya,” terdengar kembali
jawaban dari dalam. Kali ini nyata lebih gembira lagi makin dekat dengan
pintu.”

Sendirian, Fatimah ? “Aku ditemani Hasan”. “Aduh , maaf ya,” suara itu terdengar jadi menyesal. ” Saya belum mendapat izin suami untuk menemui tamu lelaki “.
” Tapi Hasan masih kecil”. ” Meskipun kecil, Hasan lelaki. Esok saja datang
lagi, saya minta izin kepada suami,” sahut Mutiah tidak kurang kecewanya.

Esoknya Fatimah datang dengan membawa Husain sekali.
Selepas memberi salam dan dijawab gembira , Mutiah berkata dari dalam.
” Datang dengan Hasan, Fatimah? Suami saya sudah memberi izin”
‘Ya dengan Hasan dan Husain “
“Ha? Mengapa tidak beritahu dari kemarin ?! ! !
Yang dapat izin cuma Hasan. Husain belum. Saya terpaksa meminta izin dari suami,
” jawab Mutiah.

Hanya esok harinya baru mereka disambut baik oleh Mutiah di rumahnya. Keadaan rumah itu sangat sederhana. Tidak ada satu pun perabot mewah. Namun semuanya teratur rapi membuat tetamu senang berada di rumah itu. Fatimah kagum melihat suasana yang menyenangkan itu. Sehingga Hasan dan Husain yang biasa di rumah orang, kali ini nampak asyik bermain.
” Maaf ya, saya tidak boleh menemani Fatimah duduk. Sebab saya sedang menyiapkan makanan untuk suami saya, “kata Mutiah sambil sibuk di dapur.

Hampir waktu tengahari, masakan itu sudah siap semuanya lalu diletakkan diatas mampan.
Mutiah mengambil rotan dan diletakkan di sebelah hidangan.
Fatimah bertanya kepada Mutiah, ” suamimu kerja di mana?! ! !
“Di ladang”. “Sebagai pengembala?” soal Fatimah.
“Bukan. Bercucuk tanam”.
“Tapi mengapa kau bawakan rotan juga?”tanya Fatimah.
“Rotan itu saya sediakan untuk keperluan lain. Kalau suami saya sedang makan , saya tanyakan apakah masakan saya sedap atau sebaliknya. Kalau suami saya jawab, “sedap”, takkan terjadi apa-apa.Jika tidak sedap, rotan itu saya berikan kepadanya agar dirotan punggung saya sebab ia tidak menyenangkan suami”.

“Atas kehendak suamimu kah kau bawa rotan itu,”tanya Fatimah.
“Oh, sama sekali tidak. Suami saya seorang yang penyayang. Ini semata-mata kehendak saya agar jangan sampai menjadi isteri derhaka kepada suami.”

Fatimah lantas meminta izin pulang. Dalam hati berkata, patut kalau Mutiah menjadi perempuan pertama masuk syurga, lantaran baktinya kepada suami begitu besar! ! ! dan tulus.

Diberitakan dalam berjuta-juta wanita di dunia ini, Muti’ah yang paling awal akan masuk ke dalam syurga. Apakah keistimewaan beliau mengatasi wanita lain?
Hanya Allah yang mengetahuinya. Tapi dari pada sejarah cerita yang di khabarkan, saya membuat andaian, Muti’ah sangat sangat menghormati suaminya. Sangat sangat taat kepada suaminya. Layanan beliau kepada suaminya mungkin yang terbaik mengatasi wanita lain.

Ciri-Ciri Wanita Surga

Bismillahir rahmanir rahiim

Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga. Di antaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (QS. Muhammad : 15)
“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk Surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam Surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek, dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al Waqiah : 10-21)

Di samping mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut, orang-orang yang beriman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala kelak akan mendapatkan pendamping (istri) dari bidadari-bidadari Surga nan rupawan yang banyak dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur’an yang mulia, di antaranya :
“Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al Waqiah : 22-23)
“Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar Rahman : 56)
“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar Rahman : 58)
“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah : 35-37)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menggambarkan keutamaan-keutamaan wanita penduduk Surga dalam sabda beliau :
“ … seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu)
Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga akan memanggil suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan oleh seorangpun. Di antara yang didendangkan oleh mereka : “Kami adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia. Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan.” Dan mereka juga mendendangkan : “Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-wanita yang tinggal, tidak akan pergi.” (Shahih Al Jami’ nomor 1557)

Apakah Ciri-Ciri Wanita Surga?
Apakah hanya orang-orang beriman dari kalangan laki-laki dan bidadari-bidadari saja yang menjadi penduduk Surga? Bagaimana dengan istri-istri kaum Mukminin di dunia, wanita-wanita penduduk bumi?
Istri-istri kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tersebut akan tetap menjadi pendamping suaminya kelak di Surga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk Surga lainnya, tentunya sesuai dengan amalnya selama di dunia.
Tentunya setiap wanita Muslimah ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia miliki. Di antara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah :
1. Bertakwa.
2. Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.
3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.
4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.
5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.
6. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah semata.
7. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.
8. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.
9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.
10. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.
11. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk.
12. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).
13. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.
14. Berbakti kepada kedua orang tua.
15. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.

Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga yang kami sadur dari kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423. Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli Surga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman :
“ … dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An Nisa’ : 13)

Syaikh Jumadil Kubro

Makam Syeh Jumadil Kubro Makam Syaikh Jumadil Kubro

Syeikh Jumadil Kubro merupakan tokoh kunci proses Islamisasi tanah Jawa yang hidup sebelum walisongo. Seorang penyebar Islam pertama yang mampu menembus dinding kebesaran Kerajaan Majapahit. Syeikh Jumadil Kubro bernama lengkap Syeikh Jamaluddin al-Husain al-Akbar. Beliau adalah cucu ke-18 Rasulullah Muhammad SAW dari garis Syyidah Fatimah Az Zahrah al-Battul. Ayahnya bernama Syeikh Jalal yang karena kemuliaan akhlaknya mampu meredam pertikaian Raja Campa dengan rakyatnya. Sehingga, Syeikh Jalal diangkat sebagai raja dan penguasa yang memimpin Negara Campa.Syeikh Jamaluddin tumbuh dan berkembang di bawah asuhan ayahnya sendiri. Setelah dewasa, beliau mengembara ke negeri neneknya di Hadramaut. Di sana beliau belajar dan mendalami beragam ilmu dari beberapa ulama yang terkenal di zamannya. Bahkan keilmuan yang beliau pelajari meliputi Ilmu Syari’ah dan Tasawwuf, di samping ilmu-ilmu yang lain.

Selanjutnya, beliau melanjutkan pengembaraannya dalam rangka mencari ilmu dan terus beribadah ke Mekkah dan Madinah. Tujuannya adalah mendalami beragam keilmuan, terutama ilmu Islam yang sangat variatif. Setelah sekian lama belajar dari berbagai ulama terkemuka, kemudian beliau pergi menuju Gujarat untuk berdakwah dengan jalur perdagangan. Melalui jaringan perdagangan itulah beliau bergumul dengan ulama lainnya yang juga menyebarkan Islam di Jawa.

Kemudian beliau dakwah bersama para ulama’ termasuk para putra-putri dan santrinya menuju tanah Jawa. Mereka menggunakan tiga kendaraan laut, sekaligus terbagi dalam tiga kelompok dakwah. Kelompok pertama dipimpin Syeikh Jumadil Kubro memasuki tanah Jawa melalui Semarang dan singgah beberapa waktu di Demak. Selanjutnya perjalanan menuju Majapahit dan berdiam di sebuah desa kecil bernama Trowulan yang berada di dekat kerajaan Majapahit. Kemudian jamaah tersebut membangun sejumlah padepokan untuk mendidik dan mengajarkan beragam ilmu kepada siapa saja yang  hendak mendalami ilmu keislaman.

Kelompok kedua, terdapat cucunya yang bernama al-Imam Ja’far Ibrahim Ibn Barkat Zainal Abidin dibantu saudaranya yakni MalikIbrahim menuju kota Gresik. Dan kelompok ketiga adalah jamaah yang dipimpin putranya yakni al-Imam al-Qutb Sayyid Ibrahim Asmoro Qondy menuju Tuban. Namanya masyhur dengan sebutan “Pandhito Ratu” karena beliau memperoleh Ilmu Kasyf(transparansi dan keserba jelasan ilmu/ilmu yang sulit dipahami orang awam, beliau diberi kelebihan memahaminya).

Perjalanan dakwah Syeikh Jumadil Kubro berakhir di Trowulan, Mojokerto. Beliau wafat tahun 1376 M, 15 Muharram 797 H. diperkirakan hidup di antara dua Raja Majapahit (awal Raja Tribhuwana Wijaya Tunggadewi dan pertengahan Prabu Hayam Wuruk). Bermula dari usul yang diajukan Syeikh Jumadil Kubro kepada penguasa Islam di Turki (Sultan Muhammad I) untuk menyebarkan Agama Islam si wilayah Kerajaan Majapahit. Pada saat itu wilayah Majapahit sangat kuat pengaruh Agama Hindu di samping keyakinan masyarakat pada arwah leluhur dan benda-benda suci. Keberadaannya di tanah Majapahit hingga ajal menjelang menunjukkan perjuangan Sayyid Jumadil Kubro untuk menegakkan Agama Islam melawan penguasa Majapahit sangatlah besar.

Karena pengaruh beliau dalam memberikan pencerahan bekehidupan yang berperadaban, Syeikh Jumadil Kubro dikenal dekat dengan pejabat Kerajaan Majapahit. Cara dakwah yang pelan tapi pasti, menjadikan beliau amat disegani. Tak heran, bila pemakaman beliau berada di antara beberapa pejabat kerajaan di antaranya adalah makam Tumenggung Satim Singgo Moyo, Kenconowungu, Anjasmoro, Sunana Ngudung (ayah Sunan Kudus), dan beberapa patih dan senopati yang dimakamkan bersamanya.

AL HABIB SYEKH BIN SALIM AL ATHAS ( SUKABUMI )

Bismillahir Rahmanir Rahiim

Habib Syekh bin Salim Al-Athas lahir di Huraidhah, Hadramaut, Yaman, pada hari jum’at bulan Safar, 1311 H, tumbuh dewasa dalam lingkungan keluarga Ba ‘Alawi yang sangat religius. Masa pendidikannya dimulai dari ayahandanya sendiri, habib salim bin Umar bin Syekh Al-Athas ( wafat 1956 ). Sewaktu menginjak usia tujuh tahun, beliau berguru kepada Habib Abdullah bin Alwi Al-Athas, ulama yang lahir di Cirebon, kemudian menetap di huraidhah, dan mendirikan Masjid Ba ‘Alawi, beberapa waktu setelah kembali dari Haidrabad, India.

Habib Syekh bin Salim Al-Athas berguru kepada Habib Abdullah bin Alwi Al-Athas sepanjang siang dan malam, kecuali pada hari Jum’at di masjid Ba ‘Alawi. Di masjid itu pulalah beliau tinggal. Beliau juga memperoleh bimbingan dalam berbagai hal, terutama hal-hal yang berkaitan dengan kemuliaan pribadi. Beliau juga mempelajari beberapa ilmu Qiraat, seni membaca Al-Qur’an, di bawah bimbingan Syekh Sa’id bin Sabbah, yang sangat piawai dalam Qira’at Al-Qur’an. Pada usia 12 tahun beliau telah hafal Al-Qur’an secara sempurna.
Ada kisah menarik tentang kepiawaiannya membaca Al-Qur’an, sebagaimana pernah beliau tunjukkan dalam suatu perayaan khatam Al-Qur’an yang dihadiri berbagai tokoh Alawiyin an para ulama besar. Di antara mereka terdapat Al-’Allamah Al-’Arifbillah Ahmad bin Hasan Al-Athas, ulama yang menguasai 10 jenis qira’at, yang kemudian menjadi guru utamanya.

Sebagai orang yang haus ilmu, beliau berguru kepada beberapa ulama di berbagai tempat. Hampir semua cabang pengetahuan agama dipelajarinya dengan tekun. Beliau banyak menimba berbagai ilmu ushul dan furu’ ( pokok-pokok dan cabang pengetahuan islam ) kepada Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas. Selain itu, beliau juga menuntut berbagai cabang ilmu pengetahuan agama di Mekkah dibawah bimbingan Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, seorang Mufti Mazhab Syafi’I.

Bukan hanya belajar, Habib Syekh bin Salim juga gemar berdiskusi. Beliau sering menghadiri berbagai majelis bimbingan dan pengajaran agama di bawah pimpinan Habib Ahmad bin Hasan Al-Athas. Ulama yang sangat terkenal dengan suara dan lagunya ketika membaca Al-Qur’an.

Adapun Ulama – ulama yang mengajar agama dan tasawuf kepada Habib Syekh bin Salim, antara lain :

• Habib Abdullah bin Alwi bin Hasan Al-Aththas ( penyusun kitab Sabilul Muhtadin )

• Habib Muhammad bin Salim bin Abu Bakar bin Abdullah bin Thalib Al-Aththas.

Ulama-ulama inilah yang bertindak sebagai Syekh Fathu ( pembimbing ilmu fiqih dan tarekat ) bagi Habib syekh bin Salim yang sekaligus juga mengkaji beberapa kitab, seperti Al-Bahjah, Al-Irsyad dan Al- Minhaj.

Beberapa guru Habib Syekh bin Salim yang lain :

• Habib Muhammad bin Alwi bin Syekh Al-Aththas.

• Habib Ahmad bin Abdurrahman As-Saqqaf.

• Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiri.

• Habib Alwi bin Abdullah bin Syahab.

• Habib Alwi bin Abbas Al-Maliki ( Mufti Al-Haramain Makkah )

• Habib Muhammad bin Hadi Assaqqaf dari Seiyun, Hadramaut.

Sebagai ulama tulen, beliau bertekad untuk berdakwah ke berbagai penjuru dunia. Pada tahun 1338 H / 1920 M, ketika usianya 27 tahun, Habib Syekh bin Salim berkunjung ke Indonesia, langsung menuju Tegal, Jawa tengah. Disana beliau menjalin silaturrahmi dengan para ulama, sesepuh dan pembesar setempat. Ketika itu di Indonesia sudah banyak tokoh Alawiyyin yang sudah bermukim.

Beberapa diantaranya, Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Aththas ( Pekalongan ), Habib Abdullah bin Muhsin Al-Aththas ( Bogor ), Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar ( Bondowoso ), Habib Abu Bakar bin Muhammad Assaqqaf ( Gresik ), Habib Alwi bin muhammad bin Thahir Al-Haddad ( Bogor ), Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi ( Kwitang, Jakarta ) dan Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid ( Tanggul, Jember ).

Kedatangan Habib syekh bin Salim Al-Athas menambah semarak perjuangan dan dakwah islam di Indonesia. Beliau menjalin silaturrahmi dengan para ulama tanah air, seperti Prof.Dr. Buya Hamka ( Jakarta ), KH.Hasyim Asy’ari ( Jombang ), KH.Ahmad Sanusi ( Sukabumi ) KH.Bisri Syamsuri ( Jombang ), KH.Ahmad Dahlan ( Jogja ), Prof. Syafi’i Abdul Karim ( Surabaya ), Prof. Hasbie Ash-Shiddiqy ( Jogjakarta ), Dr.Shaleh Su’aedi ( Jakarta ), Sayyid Abu Bakar bin Abdullah bin Muhsin Al-Aththas ( Jakarta ), Sayyid Abdullah bin Salim Al-Aththas ( Jakarta ), Sayyid Alwi bin Abu Bakar bin Yahya ( Solo ), sayyid Idrus bin Umar Al-Masyhur ( Surabaya ), Sayyid Umar Asseqqaf ( Semarang ) dan Sayyid Ahmad bin Ghalib Abu Bakar ( Surabaya ).

Mencermati perjuangan kaum muslimin Indonesia saat itu tak bisa lain bagi Habib Syekh bin Salim kecuali ikut berjuang melawan penjajah Belanda. Tak ayal, gerak-geriknya pun selalu diincar oleh kaum kafir kolonialis itu. Untuk menghindari intel Belanda, beliau menempuh taktik cukup jitu, yaitu berdakwah ambil berniaga. Maka mulailah beliau berjalan kaki keluar masuk kampung menyelusuri Tegal dan sekitarnya. Di kota Bahari inilah beliau menikah dengan seorang putri dari keluarga bangsawan Tegal, Raden Ali. Dan sejak itu di Tegal beliau sangat disegani oleh berbagai lapisan masyarakat.

Dalam kapasitasnya sebagai ulama dan pemimpin masyarakat, Habib Syekh bin salim berusaha mendorong dan menggalang kebersamaan dan kerukunan di antara kaum muslimin dalam bingkai roh kemanusiaan. Beliau juga mengajarkan kitab-kitab klasik yang memuat pokok-pokok dan cabang pengetahuan agama, baik ubudiah ( peribadatan ) maupun muamalah ( kemasyarakatan ). Dalam waktu yang relatif singkat beliau mampu menjalin pergaulan dan persahabatan dengan para ulama dan sesepuh di pelbagai daerah.

Beliau bahkan sempat pula berpartisipasi dalam kancah politik meski dalam waktu yang singkat. Dalam setiap diskusi diskusi, beliau tidak pernah menangkis wacana kaum moderat yang mencuat di tengah masyarakat multi etnik dan kultur- tanpa argumentasi kuat. Beliau senantiasa mencetuskan pemikiran-pemikiran konstruktif, mengonsolidasi segala aspirasi dan perbedaan antar golongan dengan konsep jalan tengah penuh hikmat demi kemaslahatan bersama.

Acapkali beliau menjawab berbagai persoalan dengan kalimat bijak dan sederhana, selaras dengan firman Allah swt, seperti, “Serulah mereka ke jalan tuhanmu dengan hikmah dan anjuran baik”. Juga pesan Rasulullah saw, seperti, “Gembirakanlah dan janganlah buat mereka lari. Permudahlah urusan mereka dan janganlah dipersulit”.

Habib Syekh bin Salim dikenal piawai terutama dalam bidang Fiqih, Sastra dan Tarikh. Kitab-kitab yang diajarkannya, antara lain :

• Al-Umm ( Imam Syafi’i )

• Ar-Risalah ( Imam Syafi’i )

• Al-Muhadzab ( Syekh Abu Ishaq As-Syairazy )

• Tuhfatul Muhtaj dan Fathul Jawwad ( Syekh Ibnu Hajar Al-Haitamy )

• Nihayatul Muhtaj ( Imam Ramli )

• Fathul Wahhab ( Syekh Zakariya Al-Anshary )

• Fathul Mu’in ( Syekh Zainudin Al-Maibari )

• Tafsir Sirajul Munir ( Imam Khatib As-Syabainy )

• Tafsir Al-Jalalain ( Imam Mahali dan Imam Suyuthi )

• Shahih Bukhari dan Shahih Muslim

• Ihya Ulumuddin ( Imam Ghazali )

• Al-Hikam ( Syekh Ibnu ‘Atha’aillah )

• Ar-Risalah ( Syekh AlQusyairy )

• Al-Alfiyyah ( Syekh Ibnu Malik )

• Jauhar Maknun ( Syekh Abdurrahman Al-Ahdhary )

• ‘Uqudul Juman ( Syekh Jalaludin As-Suyuthy )

Gaya Habib Syekh bin Salim berdakwah cukup unik. Beliau selalu memberi hadiah para santri yang hadir pada hari selasa hinggan sabtu berupa uang jalan. Mereka juga mendapat hadiah beberapa kitab. Belum lagi jamuan makan dan minum. Selesai shalat Asar, terutama di bulan Ramadhan, beliau selalu menggelar majlis Rauhah dengan menelaah dan mengkaji ulang pelbagai kitab karangan salafus shalih. Tak mengherankan jika para santrinya sangat banyak. Tidak sedikit anak didiknya yang dibelakang hari menjadi tokoh masyarakat atau mubaligh, terutama di Jawa barat.

Ulama-ulama yang pernah menjadi santrinya, antara lain :

• K.H. Abdullah bin Husein ( Pabuaran, guru para Kiai di Sukabumi )

• K.H. Ajengan Juragan Nuh ( Ulama tertua di Cianjur )

• K.H. Ajengan Abdullah bin Nuh, putra K.H. Juragan Nuh ( pendiri pondok pesantre Al-Ihya, Bogor )

• K.H. Ajengan Muhammad Syuza’i ( Ciharashas, Cianjur )

• K.H. Ajengan Idris Zainudin ( Cipetir, Sukabumi )

• K.H. Ajengan Munawar ( Cilaku, Sukabumi )

• K.H. Ajengan Muhammad Masthuro ( Tipar, Sukabumi ) pendiri Pondok Pesantren
Al-Masturiyah, yang dimakamkan disamping makam Habib Syekh bin Salim Al-Aththas.

• K.H. Ajengan Abdullah Sanusi ( Sukamantri, Sukabumi )

• K.H. Ajengan Abdullah Mahfudz ( Babakan Tipar, Sukabumi )

• K.H. Ajengan Shalahuddin ( Pasir ayam, Cianjur )

• K.H. Ajengan Ahmad Nadziri ( Cijurai, Sukabumi )

• K.H. Ajengan Zubaidi ( Dangdeur, Cijurai )

• K.H. Ajengan Ahmad Zarkasyi Sanusi ( Gunung Puyuh, Sukabumi )

• K.H. Ajengan Badri Sanusi ( Gunung Puyuh, Sukabumi )

• K.H. Ajengan Syafi’i ( Nyalindung, Sukalarang, Sukabumi )

• K.H. Ajengan Ilyas dan para putranya ( Bogor )

• K.H. Ustadz Sholeh ( Ranca, Bali, Cianjur )

• K.H. Ajengan Endang Muhyiddin ( Jambu Dwipa, Cianjur )

• K.H. Ajengan Muhammad Suja’i ( Pakuan, Parung kuda, Sukabumi )

• K.H. Ajengan Aang Syadzili ( cibereum, Sukabumi ).

Habib Syekh bin salim Al-Aththas memang sempat tinggal di Sukabumi. Beliau bahkan dikenal sebagai Mujahid ( Pejuang ) kemerdekaan Republik Indonesia. Sejak 1942, bersama K.H. Ahmad Sanusi ( Sukabumi ) dan para tokoh pejuang lainnya, beliau berjuang melawaqn kolonialis Belanda. Keberadaan beliau di Sukabumi sempat membuat tatanan masyarakat di kota itu jadi lain. Beliau menjadi sandaran bagi umat yang tengah menghadapi berbagai problem hidup. Beliau juga sempat duduk sebagai Rais Mustasyar ( Ketua dewan Pertimbangan ), disamping membantu pembangunan dan kemajuan beberapa Pondok Pesantren di berbagai daerah Sukabumi.sebagai panutan masyarakat, Habib Syekh bin Salim memiliki Ahlak yang luhur dan dermawan, terutama terhadap masyarakat lemah dan miskin. Beliau juga sangat menghormati dan memuliakan ulama dan orang-orang saleh, hingga rumah beliau menjadi ma’wa ( tempat tujuan ) dan persinggahan para tamu dari berbagai lapisan, dari dalam dan luar negeri, khususnya dari Timur tengah, lebih khusus lagi dari Yaman.

Habib Syekh bin Salim Al-Aththas wafat pada hari sabtu, 25 Rajab 1398 H / 1 Juli 1978 M, dalam usia 86 tahun, dikebumikan di Masjid Jami’ Tipar, Sukabumi. Tokoh dan Ulama yang melakukan Takziah ( melayat ). Antara lain : Habib Abdullah bin Husein Asy-Syami Al-Aththas dan Habib Hasan bin Abdullah Asy-Syatiry-yang bertindak sebagai Imam dalam shalat jenazah.

Rahasia Lailatul Qadar Menurut Ihya’ ‘Ulumiddin

Bismillahir Rahmanir Rahiim
Dan Malam Al-Qadar adalah malam yang terbuka padanya sesuatu dari alam malakut. Dan itulah yang dimaksudkan dengan firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya Kami turunkan pada Malam Al-Qadar.” (Al-Qadr : 1)

Barangsiapa menjadikan di antara hati dan dadanya tempat penampung makanan, maka dia terhijab daripada-Nya. Dan barangsiapa mengosongkan perutnya, maka yang demikian itu belum mencukupi untuk mengangkatkan hijab, sebelum kosong cita-citanya daripada selain Allah ‘Azza wa Jalla. Dan itulah urusan seluruhnya. Dan pangkal semuanya itu adalah dengan menyedikitkan makanan.

Begitulah kata-kata Hujjatul Islam Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’nya.

HURAIAN

Alam malakut secara ringkasnya ialah alam ghaib yang antara penghuninya ialah para malaikat. Alam ini terhijab daripada pandangan bangsa jin dan manusia, sebagaimana alam jin terhijab kepada pandangan manusia. Menurut Imam Al-Ghazali, sebahagian daripada alam malakut ini terbuka pada Malam Al-Qadar.

Sabda baginda Rasulullah saw :

“Jikalau tidaklah kerana syaitan-syaitan itu berkeliling atas hati anak Adam, niscaya anak-anak Adam melihat ke alam malakut yang tinggi.” (Ahmad)

Sebelum melanjutkan uraian ini, hendaklah kita fahami bahawa “mendapat” Lailatul Qadar itu sekurang-kurangnya ada 4 jenis :

1. Dapat tahu bila Malam Al-Qadar berlaku

2. Dapat kelebihan Malam Al-Qadar

3. Dapat tahu bila Malam Al-Qadar dan dapat kelebihannya.

4. Dapat tahu, dapat kelebihannya dan dapat ‘menyaksikan’ Malam Al-Qadar itu.

Dapat tahu Malam Al-Qadar adalah dengan terjumpa perkara yang pelik-pelik. Antara kejadian yang biasa dikisahkan orang adalah seperti terlihat begitu banyak tahi bintang berguguran, air tasik tidak berkocak, pokok-pokok merendahkan diri, kecerahan di mana-mana, orang yang kacak berserban dan berjubah putih lagi bercahaya tubuhnya, alam terlalu sunyi, tercium bau yang sangat wangi dan pelbagai lagi.

Ada kemungkinan dengan menemui hal-hal sebegini bermaksud malam itulah Malam Al-Qadar, dan ada kemungkinan juga bukan Malam Al-Qadar. Namun ‘dapat Lailatul Qadar’ pada pandangan kebanyakan orang adalah dengan dapat melihat atau mengalami perkara yang ajaib-ajaib seperti yang disebutkan tadi. Perkara-perkara sebegitulah yang dicari-cari dan dikejar-kejar oleh mereka. Jika berjaya melihat atau mengalami sesuatu yang luar biasa pada malam itu, bukan main puas hati dan kadang-kadang sampai ke tahap berbangga dengan orang lain yang gagal memperolehinya. Padahal “dapat Lailatul Qadar’ seperti itu bukanlah ‘dapat lailatul Qadar’ sebagaimana yang dimaksudkan oleh Rasulullah saw.

Jenis kedua – dapat kelebihan Malam Al-Qadar. Jenis inilah yang dikehendaki oleh Rasulullah saw, iaitu dengan meningkatkan keimanan dan membanyakkan amal pada malam-malam Ramadhan, dan kebetulan perlakuan itu bertepatan dengan malam yang berlakunya Malam Al-Qadar. Dapat kelebihan Malam Al-Qadar tanpa mengetahui yang malam itu adalah Malam Al-Qadar, adalah jauh lebih baik daripada dapat tahu malam itu Malam Al-Qadar tetapi tidak menghabiskan masa untuk meningkatkan keimanan dan membanyakkan amal padanya.

“Adalah Rasulullah saw apabila masuk sepuluh (hari) yang akhir, maka (baginda) melipatkan tikar (menyimpan tempat tidurnya), mengikatkan pinggang dan telah membiasakan diri dan keluarganya sebegitu.” (Bukhari, Muslim)

Jenis ketiga – inilah yang lebih baik, iaitu dengan mengerjakan amal pada malam itu dan mengetahui yang malam itulah Malam Al-Qadar.

Jenis keempat? Ikuti uraian di bawah.

Imam al-Ghazali dan orang-orang soleh lain pada zamannya punya banyak pengalaman tentang Lailatul Qadar. Oleh itu Imam Al-Ghazali memberikan tips kepada kita untuk bertemu dengan Malam Al-Qadar. Tips yang diutarakan olehnya di sini adalah dengan menyedikitkan makanan melalui istilah yang digunakannya iaitu “mengosongkan perutnya”. Sesiapa yang banyak makan pada malam itu sebagaimana istilah yang digunakannya iaitu “menjadikan di antara hati dan dadanya tempat penampung makanan”, nescaya orang itu terhijab/ terdinding daripada mendapat Lailatul Qadar.

Kata Al-Ghazali : “Bahawa tidak membanyakkan makanan yang halal ketika berbuka, di mana rongganya penuh melimpah. Maka tidak adalah karung yang lebih dimarahi Allah ‘Azza wa Jalla daripada perut yang penuh dengan (makanan) yang halal.”

Berdasarkan petuah ini, maka para pencari Lailatul Qadar hendaklah makan sekadarnya sahaja pada waktu malam bulan Ramadhan, dari waktu berbuka hinggalah ke sahur. Antara amalan yang tidak sesuai pada pandangan Imam Al-Ghazali adalah sengaja berbuka puasa dengan pelbagai jenis makanan pada setiap hari. Perlakuan ini tidak ubah seperti mengumpulkan sarapan, minum pagi, makan tengah hari, minum petang dan makan malam untuk di makan sekaligus pada waktu Maghrib.

Al-Ghazali juga memperingatkan kita agar tidak memuaskan nafsu makan dengan memakan makanan yang tidak kita makan pada bulan-bulan lain. Maksudnya pada setiap hari ada saja makanan dan  yang sukar kita temui pada hari-hari biasa, tetapi kita mencarinya pada bulan Ramadhan.

Tidak mengapa jika sesekali kita melebihkan jua untuk menggembirakan sedikit hati kita terutamanya kanak-kanak, para muallaf, orang yang sedang kita dakwahkan dan orang yang baru belajar-belajar hendak memperbaiki keagamaannya.

Hal-hal yang disebutkan inilah yang dimaksudkan oleh Al-Ghazali dengan kata-katanya : “Bagaimanakah dapat memperolehi faedah daripada puasa, memaksakan (menyusahkan) musuh Allah (syaitan) dan menghancurkan hawa nafsu, apabila diperoleh oleh orang yang berpuasa ketika berbuka apa yang tidak diperolehnya pada siang hari? Kadang-kadang bertambah lagi dengan pelbagai macam warna makanan, sehingga berjalanlah kebiasaan dengan menyimpan segala macam makanan itu untuk bulan Ramadhan. Maka dimakanlah segala makanan itu dalam bulan Ramadhan, apa yang tidak dimakan dalam bulan-bulan (lain) ini.”

Katanya lagi : “Maka jiwa dan rahsia puasa ialah melemahkan kekuatan yang menjadi jalan syaitan dalam mengembalikan kepada kejahatan. Dan yang demikian itu tidak akan berhasil selain dengan menyedikitkan makanan, iaitu dengan memakan makanan yang dimakan setiap malam kalau tidak berpuasa. Apabila dikumpulkan apa yang dimakan pada pagi hari kepada apa yang dimakan pada malam, maka tidaklah bermanfaat dengan puasanya itu.”

Bayangkan, dari pagi hingga ke petang kita kosongkan perut. Semakin lama semakin lapar. Pada waktu berbuka, tahap kelaparan dan keinginan kita mencapai kemuncaknya, lebih hebat daripada kelaparan dan keinginan pada hari-hari biasa. Tiba-tiba dalam keadaan sebegitu, kita lambakkan dengan pelbagai makanan dan minuman yang lazat-lazat di depan mata. Akibatnya, lebih kuatlah rasa lapar dan melonjaklah nafsu makan. Akhirnya, kita makan dengan lebih bernafsu lagi berbanding makan pada hari-hari yang tidak berpuasa. Ke mana perginya puasa dan Ramadhan yang berperanan sebagai penunduk hawa nafsu?

Inilah maksud kata-kata Imam Al-Ghazali : “Apabila perut ditolak (dikosongkan) daripada makanan sejak pagi sampai ke petang, sehingga perut itu bergolak keinginannya dan bertambah kuat kegemarannya (keinginannya untuk makan), kemudian disuguhkan (dihidangkan) dengan makanan yang lazat-lazat dan kenyang, nescaya bertambahlah kelazatan dan berlipatgandalah kekuatannya, serta membangkitkan nafsu syahwat itu, apa yang diharapkannya tadi tenang, jikalau dibiarkan atas kebiasaannya.”

Berbalik kepada Malam Al-Qadar. Dikatakan tadi malam yang sangat istimewa itu terhijab daripada kita hasil banyaknya makan pada waktu malam. Terhijab yang dimaksudkan di sini ada dua jenis :

1. Terhijab daripada ‘menyaksikan’ malam itu kerana penuhnya makanan membenakkan mata hati. Umumnya mata hati yang benak tidak akan mampu melihat alam malakut ataupun kesan-kesannya.

2. Terhijab daripada membanyakkan amal pada malam itu kerana perut yang kenyang mewariskan lemah badan, mengantuk dan malas. Malam istimewa itu pun berlalu begitu sahaja kerana pengisian kita dipenuhi dengan banyak berehat dan tidur.

Alangkah ruginya jika kita sendiri yang menghijab Lailatul Qadar itu, padahal kita sering mendakwa kita rindu, ternanti-nanti dan tercari-cari malam berlangsungnya.

Oleh itu, tindakan yang mesti kita ambil untuk 10 malam terakhir Ramadhan, dan sepatutnya pada seluruh Ramadhan, adalah dengan menyedikitkan makan. Bagaimana itu? Mestikah kita berlapar siang dan berlapar pula pada malamnya? Tidak! Pada waktu malam, makan dan minumlah sekadar untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga, bukannya sampai kenyang dan puas. InsyaAllah dengan kaedah ini, semakin cerah peluang kita untuk bertemu dengan Malam Al-Qadar, menghidupkannya, malah ‘menyaksikannya’.

Al-Ghazali mengatakan : “Maka semoga syaitan tidak mengelilingi hatinya (hati manusia dan jin), lalu dapat ia memandang ke alam tinggi.”

Namun begitu, dengan menyedikitkan makanan sahaja belum memadai. Kata Al-Ghazali : “Barangsiapa menjadikan di antara hati dan dadanya tempat penampung makanan, maka dia terhijab daripada-Nya. Dan barangsiapa mengosongkan perutnya, maka yang demikian itu belum mencukupi untuk mengangkatkan hijab, SEBELUM KOSONG CITA-CITANYA DARIPADA SELAIN ALLAH ‘AZZA WA JALLA. Dan itulah urusan seluruhnya. Dan PANGKAL SEMUANYA ITU adalah dengan menyedikitkan makanan.”

Dengan tasawuf, Ramadhan anda akan lebih bererti lagi bermanfaat untuk dunia dan akhirat.

WaAllahua’lam.

Syaikh Abdul Qadir Jailani Qsa

PERMULAAN PENCIPTAAN

Semoga Allah s.w.t memberikan kamu kejayaan di dalam amalan-amalan kamu yang disukai-Nya dan Semoga kamu memperolehi keredaan-Nya. Fikirkan, tekankan kepada pemikiran kamu dan fahamkan apa yang aku katakan.

Allah Yang Maha Tinggi pada permulaannya menciptakan cahaya Muhammad daripada cahaya suci Keindahan-Nya. Dalam hadis Qudsi Dia berfirman: “Aku ciptakan ruh Muhammad daripada cahaya Wajah-Ku”.

Ini dinyatakan juga oleh Nabi Muhammad s.a.w dengan sabdanya:

“Mula-mula Allah ciptakan ruhku. Pada permulaannya diciptakan-Nya sebagai ruh suci”.

“Mula-mula Allah ciptakan qalam”.

“Mula-mula Allah ciptakan akal”.

Apa yang dimaksudkan sebagai ciptaan permulaan itu ialah ciptaan hakikat kepada Nabi Muhammad s.a.w, Kebenaran tentang Muhammad yang tersembunyi. Dia juga diberi nama yang indah-indah. Dia dinamakan nur, cahaya suci, kerana dia dipersucikan dari kegelapan yang tersembunyi di bawah sifat jalal Allah. Allah Yang Maha Tinggi berfirman: “Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah, cahaya dan kitab yang menerangkan”. (Al-Maaidah, ayat 15)

Dia dinamakan akal yang meliputi (akal universal) kerana dia telah melihat dan mengenali segala-galanya. Dia dinamakan qalam kerana dia menyebarkan hikmah dan ilmu dan dia mencurahkan ilmu ke dalam huruf-huruf.

Roh Muhammad adalah zat atau hakikat kepada segala kejadian, permulaan dan kenyataan alam maya. Baginda s.a.w menyatakan hal ini dengan sabdanya, “Aku daripada Allah dan sekalian yang lain daripadaku” . Allah Yang Maha Tinggi menciptakan sekalian roh-roh daripada roh baginda s.a.w di dalam alam kejadian yang pertama, dalam bentuk yang paling baik. ‘Muhammad’ adalah nama kepada sekalian kemanusiaan di dalam alam arwah. Dia adalah sumber, asal usul dan kediaman bagi sesuatu dan segala-galanya.

Empat ribu tahun selepas diciptakan cahaya Muhammad, Allah ciptakan arasy daripada cahaya mata Muhammad. Dia ciptakan makhluk yang lain daripada arasy. Kemudian Dia hantarkan roh-roh turun kepada peringkat penciptaan yang paling rendah, kepada alam kebendaan, alam jirim dan badan.

“Kemudian Kami turunkan ia kepada peringkat yang paling rendah” . (Surah Tin, ayat 15)

Dia hantarkan cahaya itu daripada tempat ia diciptakan, dari alam lahut, iaitu alam kenyataan bagi Zat Allah, bagi keesaan, bagi wujud mutlak, kepada alam nama-nama Ilahi, kenyataan sifat-sifat Ilahi, alam bagi akal asbab kepunyaan roh yang meliputi (roh universal). Di sana Dia pakaikan roh-roh itu dengan pakaian cahaya. Roh-roh ini dinamakan ‘roh pemerintah’. Dengan berpakaian cahaya mereka turun kepada alam malaikat. Di sana mereka dinamakan ‘roh rohani’. Kemudian Dia arahkan mereka turun kepada alam kebendaan, alam jirim, air dan api, tanah dan angin dan mereka menjadi ‘roh manusia’. Kemudian daripada dunia ini Dia ciptakan tubuh yang berdaging, berdarah.

“Kemudian Kami jadikan kamu dan kepadanya kamu akan dikembalikan dan daripadanya kamu akan dibangkitkan sekali lagi”. (Surah Ta Ha, ayat 55)

Selepas peringkat-peringkat ini Allah memerintahkan roh-roh supaya memasuki badan-badan dan dengan kehendak-Nya mereka pun masuk.

“Maka apabila Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiup padanya roh-Ku…”. (Surah Shad, ayat 72)

Sampai masanya roh-roh itu terikat dengan badan, dengan darah dan daging dan lupa kepada asal usul kejadian dan perjanjian mereka. Mereka lupa tatkala Allah ciptakan mereka pada alam arwah Dia telah bertanya kepada mereka: “Adakah aku Tuhan kamu? Mereka telah menjawab:Iya, bahkan!.”

Mereka lupa kepada ikrar mereka. Mereka lupa kepada asal usul mereka, lupa juga kepada jalan untuk kembali kepada tempat asal mereka. Tetapi Allah Maha Penyayang, Maha Pengampun, sumber kepada segala keselamatan dan pertolongan bagi sekalian hamba-hamba-Nya. Dia mengasihani mereka lalu Dia hantarkan kitab-kitab suci dan rasul-rasul kepada mereka untuk mengingatkan mereka tentang asal usul mereka.

“Dan Sesungguhnya Kami telah utuskan Musa (membawa) ayat-ayat Kami (sambil Kami mengatakan): hendaklah kamu keluarkan kaum kamu dari kegelapan kepada cahaya, dan ingatkan mereka kepada hari-hari Allah”. (Surah Ibrahim, ayat 5)

Yaitu ‘ingatkan roh-roh tentang hari-hari di mana mereka tidak terpisah dengan Allah’.

Ramai rasul-rasul telah datang ke dunia ini, melaksanakan tugas mereka dan kemudian meninggalkan dunia ini. Tujuan semua itu adalah membawa kepada manusia perutusan, peringatan serta menyedarkan manusia dari kelalaian mereka. Tetapi mereka yang mengingati-Nya, yang kembali kepada-Nya, manusia yang ingin kembali kepada asal usul mereka, menjadi semakin berkurangan dan terus berkurangan ditelan zaman.

Nabi-nabi terus diutuskan dan perutusan suci berterusan sehingga muncul roh Muhammad yang mulia, yang terakhir di kalangan nabi-nabi, yang menyelamatkan manusia daripada kehancuran dan kelalaian. Allah Yang Maha Tinggi mengutuskannya untuk membuka  mata manusia iaitu membuka mata hati yang ketiduran. Tujuannya ialah mengejutkan manusia dari kelalaian dan ketidaksedaran dan untuk menyatukan mereka dengan keindahan yang abadi, dengan penyebab, dengan Zat Allah. Allah berfirman:
“Katakan: Inilah jalanku yang aku dan orang-orang yang mengikuti daku kepada Allah dengan pandangan yang jelas (basirah)”. (Surah Yusuf, ayat 108).

Ia menyatakan jalan Nabi Muhammad s.a.w. Baginda s.a.w dalam menunjukkan tujuan kita telah bersabda, “Sahabat-sahabatku adalah umpama bintang di langit. Sesiapa daripada mereka yang kamu ikuti kamu akan temui jalan yang benar”.

Pandangan yang jelas (basirah) datangnya daripada mata kepada roh. Mata ini terbuka di dalam jantung hati orang-orang yang hampir dengan Allah, yang menjadi sahabat Allah. Semua ilmu di dalam dunia ini tidak akan mendatangkan pandangan dalam (basirah). Seseorang itu memerlukan pengetahuan yang datangnya daripada alam ghaib yang tersembunyi pengetahuan yang mengalir daripada kesedaran Ilahi.

“Dan Kami telah  ajarkan kepadanya satu ilmu dari sisi Kami (ilmu laduni)”. (Surah Kahfi, ayat 65).

Apa yang perlu seseorang lakukan ialah mencari orang yang mempunyai pandangan dalam (basirah) yang mata hatinya celik, dan cetusan serta perangsang daripada orang yang seperti ini adalah perlu. Guru yang demikian, yang dapat memupuk pengetahuan orang lain, mestilah seorang yang hampir dengan Allah dan berupaya menyaksikan alam mutlak.

Wahai anak-anak Adam, saudara-saudara dan saudari-saudari! Bangunlah dan bertaubatlah kerana melalui taubat kamu akan memohon kepada Tuhan agar dikurniakan-Nya kepada kamu hikmah-Nya. Berusaha dan berjuanglah. Allah memerintahkan:

“Dan berlumba-lumbalah kepada keampunan Tuhan kamu dan syurga yang lebarnya (seluas) langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang berbakti. Yang menderma di waktu senang dan susah, dan menahan marah, dan memaafkan manusia, dan Allah kasih kepada mereka yang berbuat kebajikan”. (Surah Imraan, ayat 133 & 134).

Masuklah kepada jalan itu dan bergabunglah dengan kafilah kerohanian untuk kembali kepada Tuhan kamu. Pada satu masa nanti jalan tersebut tidak dapat dilalui lagi dan pengembara pada jalan tersebut tidak ada lagi. Kita tidak datang ke bumi ini untuk merosakkan dunia ini. Kita dihantar ke mari bukan untuk makan, minum dan berak. Roh penghulu kita menyaksikan kita. Baginda s.a.w berdukacita melihat keadaan kamu. Baginda  s.a.w telah mengetahui apa yang akan berlaku kemudian hari apabila baginda s.a.w bersabda, “Dukacitaku adalah untuk umat yang aku kasihi yang akan datang kemudian”.

Apa sahaja yang datang kepada kamu datang dalam keadaan salah satu bentuk, secara nyata atau tersembunyi; nyata dalam bentuk peraturan syarikat dan tersembunyi dalam bentuk hikmah kebijaksanaan atau makrifat. Allah Yang Maha Tinggi memerintahkan kita supaya mensejahterakan zahir kita dengan mematuhi peraturan syarikat dan meletakkan batin kita dalam keadaan yang baik dan teratur dengan memperolehi hikmah kebijaksanaan atau makrifat. Bila zahir dan batin kita menjadi satu dan hikmah kebijaksanaan atau makrifat dengan peraturan agama (syarikat) bersatu, seseorang itu sampai kepada makam yang sebenarnya (hakikat).

“Dia alirkan dua laut, padahal kedua-duanya bertemu. Antara dua itu ada dinding yang kedua-duanya tidak mampu melewatinya”. (Surah Imraan, ayat 19 & 20).

Kedua-duanya mesti menjadi satu. Kebenaran atau hakikat tidak akan diperolehi dengan hanya menggunakan pengetahuan melalui pancaindera dan deria-deria tentang alam kebendaan. Dengan cara tersebut tidak mungkin mencapai matlamat, sumber, iaitu Zat. Ibadat dan penyembahan memerlukan kedua-duanya iaitu peraturan syarikat dan makrifat. Allah berfirman tentang ibadat:
“Dan tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk mengabdikan diri kepada-Ku”. (Surah Dzaariyat, ayat 56).

Dalam lain perkataan, ‘mereka diciptakan supaya mengenali Daku’ . Jika seseorang tidak mengenali-Nya bagaimana dia boleh memuji-Nya dengan sebenar-benarnya, meminta pertolongan-Nya dan berkhidmat kepada-Nya?

Makrifat yang diperlukan bagi mengenali-Nya boleh dicapai dengan menyingkap tabir hitam yang menutupi cermin hati seseorang, menyucikannya sehingga bersih dan menggilapkannya sehingga bercahaya. Kemudian perbendaharaan keindahan yang tersembunyi akan memancar pada rahasia cermin hati.

Allah Yang Maha Tinggi telah berfirman melalui rasul-Nya:
“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi. Aku suka dikenali, lalu Aku ciptakan makhluk supaya Aku dikenali”.

Tujuan suci diciptakan manusia ialah supaya mereka mengenali Allah, memperolehi makrifat.

Ada dua peringkat makrifat yang suci. Seseorang itu perlu mengenali sifat-sifat Allah dan dalil-dalil yang menjadi kenyataan atau penzahiran bagi sifat-sifat tersebut. Satu lagi ialah mengenali Zat Allah. Di dalam mengenali sifat-sifat Allah manusia secara zahirnya dapat menikmati kedua-duanya iaitu dunia dan akhirat. Makrifat yang memimpin kepada Zat Allah tidak diperolehi dengan diri zahir manusia. Ia terjadi di dalam jiwa atau roh suci manusia yang berada di dalam dirinya yang zahir ini.

“Dan Kami telah perkuatkan dia (Isa) dengan roh kudus”. (Surah Baqarah, ayat 87).

Orang yang mengenali Zat Allah menemui kuasa ini melalui roh kudus (suci) yang dikurniakan kepada mereka.

Kedua-dua makrifat tersebut diperolehi dengan hikmah kebijaksanaan yang mempunyai dua aspek; hikmah kebijaksanaan kerohanian yang di dalam dan pengetahuan zahir tentang benda-benda nyata. Kedua-duanya diperlukan untuk mendapatkaan kebaikan. Nabi s.a.w bersabda, “Pengetahuan ada dua bahagian. Satu pada lidah yang menjadi dalil tentang kewujudan Allah, satu lagi di dalam hati manusia. Inilah yang diperlukan bagi melaksanakan harapan kita”.

Pada peringkat permulaannya seseorang itu memerlukan pengetahuan syarikat. Ini memerlukan pendidikan yang mengenalkan dalil-dalil luar tentang Zat Allah yang menyata di dalam alam sifat-sifat dan nama-nama ini. Apabila bidang ini telah sempurna sampailah giliran pendidikan kerohanian tentang rahasia-rahasia, di mana seseorang itu masuk ke dalam bidang makrifat yang murni untuk mengetahui yang sebenarnya (hakikat). Pada peringkat yang pertama seseorang itu mestilah meninggalkan segala-galanya yang tidak dipersetujui oleh syariat malah, kesilapan di dalam melakukan perbuatan yang baik mestilah dihapuskan. Perbuatan yang baik mestilah dilakukan dengan cara yang betul, sebagaimana keperluan pada jalan sufi. Keadaan ini boleh dicapai dengan melatihkan diri dengan melakukan perkara-perkara yang tidak dipersetujui oleh ego diri sendiri dan melakukan amalan yang bertentangan dengan kehendak hawa nafsu. Berhati-hatilah di dalam beramal agar amalan itu dilakukan bukan untuk dipertontonkan atau diperdengarkan kepada orang lain. Semuanya mestilah dilakukan semata-mata kerana Allah, demi mencari keredaan-Nya. Allah berfirman:

“Barangsiapa berharap menemui Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan amal salih dan janganlah dia mempersekutukan sesuatu dengan Allah dalam ibadatnya kepada Tuhannya”. (Surah Kahfi, ayat 110).

Apa yang dihuraikan sebagai daerah makrifat itu adalah tahap penghabisan bagi daerah kejadian yang pertama. Ia adalah permulaan dan merupakan rumah yang setiap orang kembali ke sana . Di samalah roh suci dijadikan. Apa yang dimaksudkan dengan roh suci adalah roh insan. Ia dijadikan dalam bentuk yang paling baik.

Kebenaran atau hakikat tersebut telah ditanam di tengah-tengah hati sebagai amanah Allah, diamanahkan kepada manusia agar disimpan dengan selamat. Ia bangkit dan menyata melalui taubat yang sungguh-sungguh dan usaha sebenar mempelajari agama. Keindahannya akan memancar ke permukaan apabila seseorang itu mengingati Allah terus menerus, mengulangi kalimah             “La ilaha illah Llah” . Pada mulanya kalimah ini diucapkan dengan lidah. Bila hati sudah hidup ia diucapkan di dalam, dengan hati.

Sufi menggambarkan keadaan kerohanian yang demikian dengan menganggapnya sebagai bayi, iaitu bayi yang lahir di dalam hati, dibela dan dibesarkan di sana . Hati memainkan peranan seperti ibu, melahirkannya, menyusun, memberi makan dan memeliharanya. Jika anak-anak diajarkan kepakaran keduniaan untuk kebaikannya, bayi hati pula diajarkan makrifat rohani. Sebagaimana kanak-kanak bersih daripada dosa, bayi hati adalah tulen, bebas daripada kelalaian, ego dan ragu-ragu. Kesucian bayi biasanya menyata dalam bentuk zahir yang cantik. Dalam mimpi, kesucian dan ketulenan bayi hati muncul dalam rupa malaikat. Manusia berharap mendapat ganjaran syurga sebagai balasan kepada perbuatan baik tetapi hadiah-hadiah yang didatangi dari syurga didatangkan ke mari melalui tangan-tangan bayi hati.

“Dalam kebun-kebun kenikmatan…melayani mereka anak-anak muda yang tidak berubah keadaan mereka”. (Surah Waqi’ah, ayat 12 – 17 ).

“Melayani mereka adalah anak-anak muda laksana mutiara yang tersimpan”. (Surah Tur, ayat 24).

Mereka adalah anak-anak kepada hati, menurut yang diilhamkan kepada sufi, dipanggil anak-anak kerana keelokan dan ketulenan mereka. Keindahan dan ketulenan mereka menyata dalam kewujudan zahir, dalam darah daging, dalam bentuk manusia. Oleh kerana keelokan dan kelembutan sifatnya ia dinamakan anak-anak hati, tetapi dia adalah manusia sejati yang mampu mengubah bentuk kejadian atau ciptaan kerana dia berhubung erat dengan Pencipta sendiri. Dia adalah wakil sebenar kemanusiaan. Di dalam kesedarannya tidak ada sesuatu malah dia tidak melihat dirinya sebagai sesuatu. Tiada hijab, tiada halangan di antara kewujudannya dengan Zat Allah.

Nabi Muhammad s.a.w menggambarkan suasana demikian sebagaimana sabda baginda s.a.w, “ Ada masa aku dengan Allah di mana tiada malaikat yang hampir dan tidak juga nabi yang diutus”. Maksud ‘nabi’ di sini ialah kewujudan lahiriah yang sementara bagi Rasulullah s.a.w sendiri. Malaikat yang paling hampir dengan Allah ialah cahaya suci Muhammad s.a.w, kejadian pertama. Dalam suasana kerohanian itu baginda s.a.w sangat hampir dengan Allah sehingga wujud zahirnya dan rohnya tidak berkesempatan menghijabkannya dengan Allah. Baginda s.a.w menggambarkan lagi suasana demikian, Ada syurga Allah yang tidak ada mahligai dan taman-taman atau sungai madu dan susu, syurga yang di dalamnya seseorang hanya menyaksikan Wajah Allah Yang Maha Suci” . Allah s.w.t berfirman: “Beberapa muka pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya dia memandang”. (Surah Qiamat, ayat 22 & 23).

Pada suasana atau makam tersebut jika seseorang makhluk termasuklah malaikat mendekatinya kewujudan badannya akan terbakar menjadi abu. Allah s.w.t berfirman melalui rasul-Nya:
“Jika Aku bukakan penutup sifat keperkasaan-Ku dengan bukaan yang sangat sedikit sahaja, semua akan terbakar sejauh yang dilihat oleh pandangan-Ku”.

Jibrail yang menemani Nabi Muhamamd s.a.w pada malam mikraj, apabila sampai di Sidratul Muntaha, telah mengatakan jika dia melangkah satu langkah sahaja lagi dia akan terbakar menjadi abu.

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 80 other followers