Syeikh Ibnu Athoaillah al-Sakandari


 

Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma Soli ala Sayyidina Muhammmad wa ala ali Muhammad

Kelahiran dan keluarganya 


Pengarang kitab al-Hikam yang cukup populer di negeri kita ini adalah Tajuddin, Abu al-Fadl, Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin Athoâillah al-Sakandari al-Judzami al-Maliki al-Syadzili. Ia berasal dari bangsa Arab. Nenek moyangnya berasal dari Judzam yaitu salah satu Kabilah Kahlan yang berujung pada Bani Yaârib bin Qohton, bangsa Arab yang terkenal dengan Arab al-Aaâribah. Kota Iskandariah merupakan kota kelahiran sufi besar ini. Suatu tempat di mana keluarganya tinggal dan kakeknya mengajar. Kendatipun namanya hingga kini demikian harum, namun kapan sufi agung ini dilahirkan tidak ada catatan yang tegas. Dengan menelisik jalan hidupnya DR. Taftazani bisa menengarai bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 658 sampai 679 H.

Ayahnya termasuk semasa dengan Syaikh Abu al-Hasan al-Syadili -pendiri Thariqah al-Syadziliyyah-sebagaimana diceritakan Ibnu Athoâillah dalam kitabnya “Lathoiful Minan “ : “Ayahku bercerita kepadaku, suatu ketika aku menghadap Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili, lalu aku mendengar beliau mengatakan: “Demi Allah… kalian telah menanyai aku tentang suatu masalah yang tidak aku ketahui jawabannya, lalu aku temukan jawabannya tertulis pada pena, tikar dan dinding”.

Keluarga Ibnu Atho’ adalah keluarga yang terdidik dalam lingkungan agama, kakek dari jalur nasab ayahnya adalah seorang ulama fiqih pada masanya. Tajuddin remaja sudah belajar pada ulama tingkat tinggi di Iskandariah seperti al-Faqih Nasiruddin al-Mimbar al-Judzami. Kota Iskandariah pada masa Ibnu Atho’ memang salah satu kota ilmu di semenanjung Mesir, karena Iskandariah banyak dihiasi oleh banyak ulama dalam bidang fiqih, hadits, usul, dan ilmu-ilmu bahasa arab, tentu saja juga memuat banyak tokoh-tokoh tasawwuf dan para Auliya’ Sholihin
Oleh karena itu tidak mengherankan bila Ibnu Atho’illah tumbuh sebagai seorang faqih, sebagaimana harapan dari kakeknya. Namun kefaqihannya terus berlanjt sampai pada tingkatan tasawuf. Hal mana membuat kakeknya secara terang-terangan tidak menyukainya.

Ibnu Atho’ menceritakan dalam kitabnya “Lathoiful minan” : “Bahwa kakeknya adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawwuf, tapi mereka sabar akan serangan dari kakeknya. Di sinilah guru Ibnu Atho’ yaitu Abul Abbas al-Mursy mengatakan: “Kalau anak dari seorang alim fiqih Iskandariah (Ibnu Atho’illah) datang ke sini, tolong beritahu aku”, dan ketika aku datang, al-Mursi mengatakan: “Malaikat jibril telah datang kepada Nabi bersama dengan malaikat penjaga gunung ketika orang quraisy tidak percaya pada Nabi. Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi dan mengatakan: ” Wahai Muhammad.. kalau engkau mau, maka aku akan timpakan dua gunung pada mereka”. Dengan bijak Nabi mengatakan : ” Tidak… aku mengharap agar kelak akan keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak musyrik dari mereka”. Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek yang alim fiqih (kakek Ibnu Atho’illah) demi orang yang alim fiqih ini”.

Pada akhirnya Ibn Atho’ memang lebih terkenal sebagai seorang sufi besar. Namun menarik juga perjalanan hidupnya, dari didikan yang murni fiqh sampai bisa memadukan fiqh dan tasawuf. Oleh karena itu buku-buku biografi menyebutkan riwayat hidup Atho’illah menjadi tiga masa :

Masa pertama 
Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariah sebagai pencari ilmu agama seperti tafsir, hadits, fiqih, usul, nahwu dan lain-lain dari para alim ulama di Iskandariah. Pada periode itu beliau terpengaruh pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawuf karena kefanatikannya pada ilmu fiqih, dalam hal ini Ibnu Atho’illah bercerita: “Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursi, yaitu sebelum aku menjadi murid beliau. Pendapat saya waktu itu bahwa yaang ada hanya ulama ahli dzahir, tapi mereka (ahli tasawuf) mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syariat menentangnya”.

Masa kedua 
Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati ini. Masa ini dimulai semenjak ia bertemu dengan gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi, tahun 674 H, dan berakhir dengan kepindahannya ke Kairo. Dalam masa ini sirnalah keingkarannya ulama’ tasawwuf. Ketika bertemu dengan al-Mursi, ia jatuh kagum dan simpati. Akhirnya ia mengambil Thariqah langsung dari gurunya ini.
Ada cerita menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawuf ini. Suatu ketika Ibn Atho’ mengalami goncangan batin, jiwanya tertekan. Dia bertanya-tanya dalam hatinya : “apakah semestinya aku membenci tasawuf. Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi ?. setelah lama aku merenung, mencerna akhirnya aku beranikan diriku untuk mendekatnya, melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang ia ajarkan sejatinya. Kalau memang ia orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan. Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf.

Lalu aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan tekun tentang masalah-masalah syara’. Tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyat al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku”.
Maka demikianlah, ketika ia sudah mencicipi manisnya tasawuf hatinya semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai ia punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meningalkan aktivitas lain. Namun demikian ia tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru al-Mursi.

Dalam hal ini Ibn Athoilah menceritakan : “Aku menghadap guruku al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir. Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini tiba-tiba beliau mengatakan : €œDi kota Qous aku mempunyai kawan namanya Ibnu Naasyi’. Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa. Dia merasakan sedikit manisnya tariqah kita. Kemudian ia menghadapku dan berkata : “Tuanku… apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan?”. Aku memandangnya sebentar kemudian aku katakan : “Tidak demikian itu tariqah kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai padamu juga€.
Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku beliau berkata: “Beginilah keadaan orang-orang al-Siddiqiyyin. Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka€. Mendengar uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dan alhamdulillah Allah telah menghapus angan kebimbangan yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku. Aku pun rela tenang dengan kedudukan yang diberikan oleh Allah€.

Masa ketiga 
Masa ini dimulai semenjak kepindahan Ibn Atho’ dari Iskandariah ke Kairo. Dan berakhir dengan kepindahannya ke haribaan Yang Maha Asih pada tahun 709 H. Masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan Ibnu Atho’illah dalam ilmu fiqih dan ilmu tasawwuf. Ia membedakan antara Uzlah dan kholwah. Uzlah menurutnya adalah pemutusan (hubungan) maknawi bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara si Salik (orang yang uzlah) selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari perdaya dunia. Ketika seorang sufi sudah mantap dengan uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya ia memasuki tahapan khalwah. Dan khalwah dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan, kholwah adalah perendahan diri dihadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain Allah SWT.
Menurut Ibnu Atho’illah, ruangan yang bagus untuk ber-khalwah adalah yang tingginya, setinggi orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya sepanjang ia sujud. Luasnya seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak ada lubang untuk masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak ada dalam rumah yang banyak penghuninya.
Ibnu Atho’illah sepeninggal gurunya Abu al-Abbas al-Mursi tahum 686 H, menjadi penggantinya dalam mengembangkan Tariqah Syadziliah. Tugas ini ia emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariah. Maka ketika pindah ke Kairo, ia bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar.
Ibnu Hajar berkata: “Ibnu Atho’illah berceramah di Azhar dengan tema yang menenangkan hati dan memadukan perkatan-perkatan orang kebanyakan dengan riwayat-riwayat dari salafus soleh, juga berbagai macam ilmu. Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol kebaikan. Hal senada diucapkan oleh Ibnu Tagri Baradi : “Ibnu Atho’illah adalah orang yang sholeh, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri oleh hadirin yang banyak sekali. Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakekat dan orang orang ahli tariqah”. Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shoghoh. Beliau mempunyai banyak anak didik yang menjadi seorang ahli fiqih dan tasawwuf, seperti Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah Tajuddin al-Subki, pengarang kitab “Tobaqoh al-syafi’iyyah al-Kubro”.
Sebagai seoarang sufi yang alim Ibn Atho’ meninggalkan banyak karangan sebanyak 22 kitab lebih. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitobah.

Karomah Ibn Athoillah
Al-Munawi dalam kitabnya “Al-Kawakib al-durriyyah mengatakan: “Syaikh Kamal Ibnu Humam ketika ziarah ke makam wali besar ini membaca Surat Hud sampai pada ayat yang artinya: “Diantara mereka ada yang celaka dan bahagia…”. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam liang kubur Ibn Athoillah dengan keras: “Wahai Kamal… tidak ada diantara kita yang celaka”. Demi menyaksikan karomah agung seperti ini Ibnu Humam berwasiat supaya dimakamkan dekat dengan Ibnu Atho’illah ketika meninggal kelak.
Di antara karomah pengarang kitab al-Hikam adalah, suatu ketika salah satu murid beliau berangkat haji. Di sana si murid itu melihat Ibn Athoillah sedang thawaf. Dia juga melihat sang guru ada di belakang maqam Ibrahim, di Mas’aa dan Arafah. Ketika pulang, dia bertanya pada teman-temannya apakah sang guru pergi haji atau tidak. Si murid langsung terperanjat ketiak mendengar teman-temannya menjawab “Tidak”. Kurang puas dengan jawaban mereka, dia menghadap sang guru. Kemudian pembimbing spiritual ini bertanya : “Siapa saja yang kamu temui ?” lalu si murid menjawab : “Tuanku… saya melihat tuanku di sana “. Dengan tersenyum al-arif billah ini menerangkan : “Orang besar itu bisa memenuhi dunia. Seandainya saja Wali Qutb di panggil dari liang tanah, dia pasti menjawabnya”.

Ibn Atho’illah wafat
Tahun 709 H adalah tahun kemalangan dunia maya ini. Karena tahun tersebut wali besar yang tetap abadi nama dan kebaikannya ini harus beralih ke alam barzah, lebih mendekat pada Sang Pencipta. Namun demikian madrasah al-Mansuriyyah cukup beruntung karena di situlah jasad mulianya berpisah dengan sang nyawa. Ribuan pelayat dari Kairo dan sekitarnya mengiring kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman al-Qorrofah al-Kubro.

KESULTANAN KUBU


KESULTANAN KUBU

Bagian I LEMBAR SEJARAH Sejarah Kesultanan Kubu memiliki kaitan yang erat dengan sejarah Pontianak. Sejarah pantas berhutang budi kepada sekelompok kecil petualang dan saudagar Arab yang singgah di sana atas kemunculan serta tegaknya kedua Kesultanan tersebut pada awalnya. Yaitu ketika 45 penjelajah Arab yang berasal dari daerah Hadramaut di Selatan Jazirah Arab, yang pada mulanya bertujuan untuk mencari keuntungan dengan berdagang di lautan Timur-jauh (Asia) berlabuh di sana. Leluhur dan Tuan Besar (Sultan) Kesultanan Kubu pertama, yaitu Syarif Idrus Al-Idrus, adalah menantu dari Tuan Besar (Sultan) Mampawa (Mempawah). Beliau Syarif Idrus juga merupakan ipar dari Sultan pertama Kerajaan Pontianak (Al-Qadri). Pada awalnya Beliau Syarif Idrus membangun perkampungan di dekat muara sungai Terentang, barat-daya pulau Kalimantan.

Sebagaimana keluarga sepupunya (Al-Qadri), Keluarga Syarif Idrus Al-Idrus (the Idrusi) tumbuh menjadi keluarga yang kaya-raya melalui perdagangan yang maju. Mereka membangun hubungan yang terjaga baik dengan Kerajaan Inggris Raya, pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Sir Thomas Stanford Raffles (yang membangun Singapura), saat Raffles ditugaskan di Hindia Belanda. Hubungan ini berlanjut hingga setelah kembalinya Belanda ke Indonesia (Hindia Belanda) dan dirintisnya pembangunan pulau Singapura.

Bagaimanapun juga, hubungan ini tidak disukai oleh Kerajaan Belanda, yang secara formal mereka mengendalikan Pulau Kalimantan berdasarkan kontrak perjanjian bangsa-bangsa yang ditetapkan pada tahun 1823. beberapa keluarga Al-Idrus sempat juga mengalami perubahan kesejahteraan hidup menjadi sengsara pada masa itu. Mereka ada yang meninggalkan Kalimantan demi menjauhi sikap buruk Belanda ke daerah Serawak, yang mana waktu itu menjadi daerah territorial Kerajaan Inggris Raya, demi harapan yang lebih baik akan keberhasilan dalam perdagangan. Sedangkan Keluarga Al-Idrus yang memilin bertahan di Kubu, bagaimanapun juga, tak jua mendapatkan kehidupan serta perlakuan yang lebih baik dari pemerintah Belanda.

Pemerintah Belanda menurunkan Syarif Abbas Al-Idrus dari jabatan Tuan Besar Kesultanan atas dukungan sepupunya, Syarif Zainal Al-Idrus ketika terjadi perebutan jabatan Sultan pada tahun 1911. Akhirnya ia justru terbukti menemui kesulitan dalam pemerintahan serta diturun-tahtakan dengan tanpa memiliki pewaris/pengganti yang jelas, delapan tahun kemudian. Tidak adanya Pewaris tahta, baru ditetapkan dan disahkan setelah beberapa tahun kemudian. sehingga pejabat kesultanan yang ada selama kurun waktu itu hanyalah “Pelaksana sementara” (temporary ruler).

Setelah beberapa lama, akhirnya Syarif Shalih, mendapatkan kehormatan agung dari pemberi wewenang untuk menjabat sebagai Sultan, tetapi kemudian tertahan saat kedatangan tentara Jepang di Mandor, pada tahun 1943.

Dewan kesultanan dan Keluarga Bangsawan tak semudah itu menyutujui pergantian Kesultanan kepada Syarif Shalih. Hingga akhirnya justru Jepang menempatkan putra bungsu Sultan terdahulu yaitu Syarif Hasan, sebagai pemimpin Dewan Kesultanan akan tetapi belum sempat terjadi karena Jepang terlebih dulu kalah pada PD II dan meninggalkan Indonesia. Beliau justru baru menerima pengesahan sebagai Pemimpin Kesultanan (Tuan Besar) Kubu pada tahun 1949, setelah Pemerintah Indonesia terbentuk. Kesultanan Kubu itu sendiri akhirnya berakhir dan menghilang ketika dihapus oleh Pemerintahan Republik Indonesia pada tahun 1958.

Sayyid Idrus bin Sayyid ‘Abdu’l Rahman al-Idrus, Tuan Besar Kubu (1772 – 1795) –(lahir di Dukhum-Hadramaut Yaman, catatan sejarah menyatakan Beliau pernah singgah di Batavia bersama Al-Habib Husain bin Abubakar al-Idrus– makamnya di Keramat Luar Batang, Jakarta Utara)– membangun perkampungan Arab di pesisir Sungai Terentang, yang mana menjadi cikal-bakal Kesultanan Kubu pada tahun 1772. Gelar Sayyid atau Habib atau Syarif yang disandang beliau menandakan bahwa beliau termasuk keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Sayyid Al-Imam Husain ra.

Beliau Syarif Idrus menikahi putri H.H. Pangeran Ratu Kimas Hindi Sri Susuhanan Mahmud Badaruddin I Jayawikrama Candiwalang Khalifat ul-Mukminin Sayyidul-Iman, Sultan of Palembang, pada tahun 1747. Syarif Idrus wafat pada tahun 1795, penerus Beliau :

1) Syarif Muhammad bin Syarif Idrus al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu – lihat bawah.

2) Syarif ‘Alawi bin Syarif Idrus al-Idrus, Tuan (Sultan) Ambawang (Kerajaan kecil bagian dari Kesultanan Kubu). Beliau mencoba menjadikan Ambawang sebagai Kesultanan yang terpisah dari Kubu pada tahun 1800 akan tetapi tidak diijinkan oleh Pemerintah Belanda yang dideklarasikan pada tahun 1833 sebagai Kesultanan terpisah. Beliau wafat di Ambawang.

3) Syarif Abdurrahman bin Syarif Idrus (Sultan /Tuan Besar I Kubu) Al-Idrus. Syarif Abdurrahman bin Syarif Idrus Al-Idrus ini menikahi Syarifah Aisyah Al-Qadri yang merupakan putri dari Sultan Syarif Abdurrahman bin Husein Al-Qadri (Sultan I Kesultanan Pontianak di Kalimantan Barat). Berputra Sultan Syarif Ali Al-Idrus yang mendirikan Kesultanan Sabamban di Angsana (sekarang masuk wilayah Keramat Dermaga, Kabupaten Tanahbumbu –Kalimantan Selatan – Indonesia). Sultan Syarif Ali Al-Idrus menjabat sebagai Sultan Sabamban hingga akhir hayatnya. Jadi Keluarga Sultan Syarif Ali mempertemukan dua jalur kebangsawanan Kalimantan, yaitu dari jalur Kesultanan Kubu (Al-Idrus) dan Kesultanan Pontianak (Al-Qadri).

Syarif Ali Al-Idrus pendiri Kesultanan Sabamban yang merupakan cucu dari Sultan (Tuan Besar) Kubu -Syarif Idrus Al-Idrus ini, pada awalnya menetap di daerah Kubu-Kalimantan Barat (bersama keluarga bangsawan Kesultanan Kubu). Pada masa itu Beliau telah memiliki satu istri dan berputra dua orang yaitu : Syarif Abubakar Al-Idrus dan Syarif Hasan Al-Idrus. Karena ada suatu konflik kekeluargaan, akhirnya Syarif Ali Al-Idrus memutuskan untuk hijrah/pindah ke Kalimantan Selatan dengan meninggalkan istri dan kedua putranya yang masih tinggal di Kesultanan Kubu, melalui sepanjang Sungai Barito hingga sampai di daerah Banjar.

Di daerah Banjar tersebut, beliau mendirikan Kesultanan Sabamban dan menjadi Sultan yang Pertama, bergelar Sultan Syarif Ali Al-Idrus. Pada saat beliau menjadi Sultan Sabamban ini, Beliau menikah lagi dengan 3 (tiga) wanita; Yang pertama Putri dari Sultan Adam dari Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan, yang Kedua dari Bugis (Putri dari Sultan Bugis di Sulwesi Selatan), yang ketiga dari Bone (Putri dari Sultan Bone di Sulawesi Selatan). Pada saat beliau telah menjabat sebagai Sultan Sabamban inilah, kedua putra beliau dari Istri Pertama di Kubu-Kalimantan Barat yaitu Syarif Abubakar dan Syarif Hasan menyusul Beliau ke Angsana – Kesultanan Sabamban, dan menetap bersama Ayahandanya.

Dari Ketiga istri beliau di Banjar-Kalimantan Selatan serta satu Istri beliau di Kubu-Kalimantan Barat tersebut, Sultan Syarif Ali memiliki 12 (duabelas) putra. Putra-putra beliau yaitu : Dari Istri Pertama (Kubu-Kalimantan Barat) : 1) Syarif Hasan bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus, putra beliau : Sultan Syarif Qasim Al-Idrus, Sultan II Sabamban menjabat sebagai Sultan setelah sepeninggal Kakeknya yaitu Sultan Syarif Ali bin Syarif Abdurrahman Al-Idrus, hingga akhirnya Kesultanan Sabamban ini hilang dari bumi Kalimantan Selatan. 2) Syarif Abubakar bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus

Dari Istri ke-dua, Putri Kesultanan Banjar, Istri ke-tiga (Putri Sultan Bugis) dan Istri ke-empat (Putri Sultan Bone), menurunkan putra-putra beliau : 3) Syarif Musthafa bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus, 4) Syarif Thaha bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus, 5) Syarif Hamid bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus 6) Syarif Ahmad bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus 7) Syarif Muhammad bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus 8) Syarif Umar bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus 9) Syarif Thohir bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus 10) Syarif Shalih bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus 11) Syarif Utsman bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus dan 12) Syarif Husein bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus.

Setelah wafatnya Sultan Syarif Ali Al-Idrus, Jabatan Sultan tidak diteruskan oleh putra-putra beliau, akan tetapi yang menjadi Sultan II Sabamban adala justru cucu beliau yaitu Sultan Syarif Qasim Al-Idrus, putra dari Syarif Hasan (Syarif Hasan adalah putra Sultan Syarif Ali Al-Idrus dari Istri Pertama/Kubu, waktu Syarif Ali masih menetap di Kubu-Kalimantan Barat).

Jadi sepanjang sejarahnya, Kesultanan Sabamban ini hanya dijabat oleh dua Sultan saja, yaitu pendirinya Sultan Syarif Ali Al-Idrus sebagai Sultan I dan cucu beliau sebagai Sultan II Sabamban yaitu Sultan Syarif Qasim Al-Idrus.

Sementara itu, setelah tidak adanya lagi Kesultanan Sabamban tersebut, anak-cucu keluarga bangsawan dari keturunan Sultan Syarif Ali Al-Idrus ini, menyebar ke seluruh wilayah Kalimantan Selatan pada umumnya dan ada yang hijrah ke Malaysia, Filipina, pulau Jawa dan di belahan lain Nusantara hingga saat ini.

4) Syarif Mustafa bin Syarif Idrus al-Idrus (Tuan Besar Kubu).

5) Syarifa Muzayanah [dari Menjina] binti Syarif Idrus al-Idrus (Tuan Besar Kubu). Lahir pada 1748 (putri dari Putri Kerajaaan Palembang).

6) Syarif Muhammad (1795 – 1829) ibni al-Marhum Syarif Idrus al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Menggantikan Ayahandanya yang meninggal dunia pada 1795. Menerima perlindungan dari Belanda saat ia menyetujui kontrak perjanjian dengan Pemerintah NEI (Hindia Belanda), 4 Juni 1823. Beliau meniggal pada 7 Juni 1829, memiliki keturunan, tiga putra :

1) Syarif ‘Abdu’l Rahman bin Syarif Muhammad al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar of Kubu – lihat bawah. 2) Syarif Taha bin Syarif Muhammad al-Idrus, Kampong Sungai Pinang. 3) Syarif Mubarak bin Syarif Muhammad al-Idrus. Menggantikan kaknya sebagai Pemimpin di Kampong Sungai Pinang.

Syarif ‘Abdu’l Rahman (1829 – 1841) ibni al-Marhum Syarif Muhammad al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Menggantikan Ayahandanya yang meninggal pada 7 Juni 1829. Menikahi Syarifa Idja. Beliau meninggal pada 2 Februari 1841, memiliki keturunan, three putra : 1) Syarif Ismail bin Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Kubu – lihat bawah. 2) Syarif Hasan bin Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Kubu – lihat bawah. 3) Syarif Kasim bin Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus. menikahi putri Pangeran Syarif Hamid, Batavia. Beliau memilki, seorang putra: a) Syarif Ismail bin Syarif Kasim al-Idrus. 4) Syarif Aqil bin Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus. Menikahi Syarifa Jara. Beliau memiliki keturunan :

a) Syarif ‘Abdu’l Rahman bin Syarif Akil al-Idrus. Menikahi Syarifa Piah ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus, putri kedua dari Syarif Hasan bin Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Beliau memilki, dua anak. b) Syarif Hamid bin Syarif Akil al-Idrus. Menikahi Syarifa Kamala. a) Syarifa Saha binti Syarif Akil al-Idrus. Menikah dengan Syarif Umar ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus, Putra ke-empat Syarif Hasan bin Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Kubu. Beliau memilikidu anak – lihat bawah. b) Syarifa Bunta binti Syarif Akil al-Idrus. 1) Syarifa Saida binti Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus. Menikah dengan Syarif Muhammad Ba-Hasan, dan memiliki keturunan : a) Syarifa Saha binti Syarif Muhammad Ba-Hasan. Menikah dengan Syarif Umar Al-Qadri, of Pontianak. 2) Syarifa Nur binti Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus. Menikah dengan Syarif Alawi, memiliki keturunan dua putra : a) Syarif ‘Abdu’llah bin Syarif Alawi. Menikah dengan Syarifa Saliha, memiliki dua anak. b) Syarif ‘Abdu’l Rahman bin Syarif Alawi.

Syarif Ismail (1841 – 1864) ibni al-Marhum Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Menggantikan Ayahandanya yang meninggal pada 2 February 1841, dilantik pada 28th May 1841. memiliki beberapa istri, termasuk (yang pertama) Tengku Embong binti al-Marhum Tengku Besar Anum (d.s.p.), Putri bungsu dari H.H. Tengku Besar Anum ibni al-Marhum Sultan ‘Abdu’l Jalil Shah, Panembahan of Sukadana, dengan istri keduanya, Tengku Jeba binti Tengku Ja’afar, Putri tertua dari Tengku Ja’afar bin Tengku Musa, Tengku Panglima Besar of Karimata. Syarif Ismail juga menikahi (yang kedua) Syarifa Zina.

Beliau meninggal 19 September 1864, memiliki keturunan, 4 laki-laki dan 8 perempuan : 1) Syarif ‘Abdu’l Rahman ibni al-Marhum Syarif Ismail (Putra Mahkota) menikahi Syarifa Amina. Beliau hilang saat pergi ke Serawak (diperkirakan meninggal dunia), pada 1866. 2) Syarif Muhammad Zainal Idrus ibni al-Marhum Syarif Ismail, Tuan Kubu – lihat bawah. 3) Syarif Said ibni al-Marhum Syarif Ismail. Menikahi Syarifa Zina, dan memiliki dua anak. 4) Syarif ‘Ali ibni al-Marhum Syarif Ismail. Menikahi Syarifa Marian. 1) Syarifa Nur binti al-Marhum Syarif Ismail. She meninggal sebelum 1903. 2) Syarifa Dara binti al-Marhum Syarif Ismail. menikah dengan sepupunya, Syarif ‘Ali ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus, Putra Bungsu Syarif Hasan ibni al-Marhum Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Beliau memilki, 3 anak – lihat bawah. 3) Syarifa Fatima binti al-Marhum Syarif Ismail. 4) Syarifa Amina binti al-Marhum Syarif Ismail. 5) Syarifa Rola binti al-Marhum Syarif Ismail. menikah dengan Syarif Mahmud, dan memiliki 3 anak. 6) Syarifa Zina binti al-Marhum Syarif Ismail. menikah dengan Syarif Mansur, dan memiliki 1 anak. 7) Syarifa Talaha binti al-Marhum Syarif Ismail. 8) Syarifa Mariam binti al-Marhum Syarif Ismail.

Syarif Hasan (1864 – 1871) ibni al-Marhum Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Menggantikan Kakak tertuanya pada 19 September 1864. dilantik pada 5 Maret 1866. Resmi memegang jabatan Tuan Kubu mulai 7 July 1871. menikah dengan Syarifa Isa. Beliau meninggal pada 4 November 1900, memiliki 13 putra dan 6 putri : 1) Syarif Muhammad ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. Lahir sebelum 1862. 2) Syarif ‘Ali ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. Lahir sebelum 1862. Beliau meninggal pada waktu muda. 3) Syarif ‘Abbas ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu – lihat bawah. 4) Syarif ‘Abdu’llah ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. Lahir pada 1870. menikah dengan Syarifa Selina, dan memiliki lima anak. 5) Syarif Yasin ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. Lahir 1872. menikah dengan Syarifa Muna, dan memiliki keturunan, 4 anak. 6) Syarif ‘Umar ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. menikah dengan Syarifa Saha binti Syarif Akil al-Idrus, putri tertua Syarif Akil bin Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus. Beliau memilki, dua anak. 7) Syarif Kasim ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. DH Kubu, Mbr. of the Cncl. of Regency (Anggota Majelis Rakyat Kabupaten/DPRD) 1919-1921. menikah dengan Syarifa Kamariah. Beliau meninggal pada 16 Juni 1921. 8) Syarif Taha ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. menikah dengan Syarifa Darah, dan memiliki keturunan, 2 anak. 9) Syarif Usman ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. menikah dengan Syarifa ‘Isa al-Idrus. 10) Syarif Sajaf ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. 11) Syarif Husain ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. 12) Syarif ‘Ali ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. menikah dengan sepupunya, Syarifa Dara, Putri kedua Syarif Ismail ibni al-Marhum Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. 13) Syarif Zaman [Seman] ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus.

1) Syarifa Shaikha binti al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. 2) Syarifa Sipa binti al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. menikah dengan Syarif ‘Abu Bakar, dan memiliki keturunan, 2 anak. 3) Syarifa Piah binti al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. menikah dengan Syarif ‘Abdu’l Rahman bin Syarif Akil al-Idrus, Putra tertua Syarif Akil bin Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus. Beliau memilki, dua anak – lihat atas. 4) Syarifa Talaha binti al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. menikah dengan Syarif Kechil, dan memiliki keturunan 2 anak. 5) Syarifa Saida binti al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. menikah dengan Syarif Muhammad, dan memiliki keturunan dua anak. 6) Syarifa Mani binti al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. 7) Syarifa Kembong binti al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus.

Syarif ‘Abbas (1900 – 1911) ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Lahir 1853, Pendidikan Khusus. Menggantikan Ayahandanya yang meninggal pada 4 November 1900. Dilantik pada 6 July 1901. Diturunkan dari tahtanya pada April 1911. memiliki beberapa istri, termasuk Syarifa Kamariah. Beliau memiliki dua putra dan 10 putri : 1) Syarif ‘Abdu’l Rahman ibni al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus. Lahir 1903. Beliau meninggal pada usia muda.. 2) Syarif Ahmad ibni al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus [Wan Sulung]. Beliau terbunuh pada 1906. 1) Syarifa Inah binti al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus. 2) Syarifa Zubaida binti al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif Mahmud, dan memiliki keturunan tiga anak. 3) Syarifa Kamala binti al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif Hamid, dan memiliki satu anak. 4) Syarifa Buntat binti al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif Kasim, dan memiliki satu anak. 5) Syarifa Isa binti al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus. 6) Syarifa Tura binti al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif Muhammad Zainal Idrus ibni al-Marhum Syarif Ismail al-Idrus, Tuan Besar of Kubu (Lahir pada 1851), Putra kedua Syarif Ismail ibni al-Marhum Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. 7) Syarifa Nur binti al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif Muhammad [Mo] al-Idrus, dan memiliki satu anak. 8)Syarifa Saliha binti al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif ‘Umar al-Idrus. 9) Syarifa Kuning binti al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus. 10) Syarifa Kebong binti al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus.

Syarif Muhammad Zainal Idrus (1911 – 1921) ibni al-Marhum Syarif Ismail al-Idrus, Tuan Besar Kubu. Lahir 1851, Putra kedua Syarif Ismail ibni al-Marhum Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu, Pendidikan Khusus. Dipilih oleh Belanda untuk menggantikan sepupunya yang diturun-tahtakan sebelumnya pada 26 September 1911. Dilantik pada 15 January 1912. Menyerahkan menyerahkan wewenang Kesultanan kepada Dewan Kabupaten pada 1919. di-turun-tahtakan tanpa adanya pilihan pengganti pada 11 April 1921. memiliki 3 istri, termasuk Syarifa Tura binti al-Marhum

Syarif ‘Abbas al-Idrus, Putri ke-enam Syarif ‘Abbas ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Beliau memiliki, 7 putra : 1) Syarif Mustafa ibni al-Marhum Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus. 2) Syarif Akil [Agel] ibni al-Marhum Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus. Lahir1877, Pendidikan Khusus. Menikah dengan putri Syarif Said al-Idrus pada 1900. Beliau memilki 3 putra : a) Syarif ‘Usman ibni al-Marhum Syarif Akil al-Idrus. b) Syarif Tani ibni al-Marhum Syarif Akil al-Idrus. c) Syarif Mohsen [Mukhsin] ibni al-Marhum Syarif Akil al-Idrus. 3) Syarif Ja’afar ibni al-Marhum Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus. 4) Syarif Husain ibni al-Marhum Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus (putra dari istri pertama). 5) Syarif Hasan ibni al-Marhum Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus, Tuan Besar of Kubu (putra dari istri kedua)- lihat bawah. 6) Syarif ‘Usman ibni al-Marhum Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus (putra dari istri ke-tiga). 7) Syarif Salim ibni al-Marhum Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus.

Syarif Salih (1921 – 1943) ibni al-Marhum Idrus al-Idrus, Tuan Besar Kubu. Lahir 1881, Pendidikan khusus. Dipilih oleh Belanda, bersama Dewan Kesultanan, dikenal sebagai Senior Mbr. of the Cncl. of Regent 1919 (Anggota Senior Dewan Rakyat Kabupaten). Menjadi Asisten Bupati pada 16 Juni 1921. Dikenal sebagai Pelaksana Sementara Kesultanan, pada September 1921. Dilantik pada 7 February 1922. Ditangkap oleh Jepang pada 23 November 1943. Menerima: Knt. of the Order of Orange-Nassau (17.8.1940) Gelar Ksatria-Bangsawan dari Kerajaan Belanda (17 Agustus 1940), dan Lesser Golden Star for Loyalty dan Merit (Gelar Pengabdian dan Jasa Luar Biasa dari Kerajaan Belanda). Beliau dibunuh (dipancung) oleh tentara Jepang di Mandor pada 28 Juni 1944, memiliki dua putra : 1) Syarif Yahya ibni al-Marhum Syarif Salih al-Idrus. Beliau memiliki putra : a) Syarif Hamid bin Syarif Yahya al-Idrus. b) Syarif ‘Abdu’l Rahman bin Syarif Yahya al-Idrus. 2) Syarif Husain bin Syarif Salih al-Idrus. Excluded from the succession because of physical dan mental incapacity. Beliau memiliki seorang anak : a) Syarif Yusuf bin Syarif Husain al-Idrus. (Mbr. of the Cncl. of Regency (Anggota Senior Dewan Rakyat Kabupaten) 1946).

Syarif Hasan (1943 – 1958) ibni al-Marhum Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus, Tuan Besar of Kubu, Pendidikan: HIS Pontianak. Menjadi Ketua bestuur comite oleh Jepang pada tahun 1943. Dilantik sebagai Pemimpin Dewan Rakyat Daerah (Cncl. of Regency/DPRD) pada 1946. Terpilih sebagai head of the self-governing monarchy (Pemimpin Kerajaaan-kerajaan di Indonesia) pada 16 August 1949. Diturunkan dari tahtahnya saat Kesultanan Kubu dihapus oleh Pemerintah RI pada tahun 1958.

SELESAI

KETERANGAN

NASAB BANI ALAWI – AL-HUSAINI : Bani Alawi ialah gelar marga yang diberikan kepada mereka yang nasab-nya bersambung kepada Sayyid Alawi bin Ubaidullah (Abdullah) bin Ahmad bin Isa Al-Muhajir. Ahmad bin Isa Al-Muhajir telah meninggalkan Basrah di Iraq bersama keluarga dan pengikut-pengikutnya pada tahun 317H/929M untuk berhijrah ke Hadhramaut di Yaman Selatan. Cucu Ahmad bin Isa yang bernama Alawi, merupakan orang pertama yang dilahirkan di Hadramaut. Oleh itu anak-cucu Alawi digelar Bani Alawi, yang bermakna “Keturunan Alawi”. Panggilan Bani Alawi atau Ba’Alawi juga ialah bertujuan memisahkan kumpulan keluarga ini daripada cabang-cabang keluarga yang lain yang juga keturunan dari Nabi Muhammad SAW.

Bani Alawi (Ba ‘Alawi) juga dikenali dengan kata-nama Sayid (jamaknya: Sadah) atau Habib (jamaknya: Haba’ib) atau Syarif (jamaknya: Asyraf, khusus bagi bangsawan/ningrat-nya). Untuk kaum wanitanya dikenal juga dengan sebutan Syarifah. Keluarga yang bermula di Hadhramaut di negara Yaman ini, telah berkembang dan menyebar, dan saat ini banyak diantara mereka yang menetap di segenap pelosok dunia baik Arab, Indonesia, Asia Tenggara, India, Afrika dan lainnya.

GELAR DAN ISTILAH : Putra Mahkota/Pangeran : Syarif (atau Sayyid) (nama pribadi) ibni al-Marhum Syarif (atau Sayyid) (nama bapaknya) Al-Idrus (nama marga/keluarga), Tuan Besar Kubu (aslinya: Yang di-Pertuan Besar).

Anggota laki-laki keluarga Kesultanan yang lain, keturunan pada garis Bapak: Syarif (atau Sayyid) (nama pribadi) ibni Syarif (or Sayyid) (nama bapaknya) Al-Idrus (nama marga/keluarga).

Anggota wanita keluarga Kesultanan, keturunan pada garis bapak: Syarifah (nama pribadi) binti Syarif (atau Sayyid) (nama bapaknya) Al-Idrus (nama marga/keluarga).

ATURAN SUKSESI (PERGANTIAN) : Pemilihan Raja dijalankan oleh Dewan Kesultanan (Council of the State) dan Anggota Senior dari Keluarga kebangsawanan yang menjabat Mufti/Qadhi (Ruling House).

SUMBER DATA : Maktab Ad-Daimy, Badan Pencatatan Nasab Bani Alawi – Al-Husaini, Rabithah Alawiyah Pusat, Jakarta–Indonesia, Attn: Habib Zainal Abidin Seggaf As-Seggaf (Ketua) dan Habib Abubakar Seggaf As-Seggaf (Wakil), Buku Data Nasab Bani Alawi-Al-Husaini, No. 1, hlm. 149, (Jakarta: Maktab ad-Daimy), 1997

Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali Bin Yahya dan Team Penulis Panitia Muktamar ke-10 Jam’iyah Ahli Al Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah 1426H/2005 M – Pekalongan, Mengenal Thariqah – Panduan Pemula Mengenal Jalan Menuju Allah; Last Chapter, Sekilas Tentang Thariqah Alawiyah, (Jakarta: Aneka Ilmu), 2005

http://www.asyraaf.com (Telaah Kitab Al-Mu’Jamul Lathif halaman 140-141, tentang Qabilah Marga Al-Idrus)

Al-Habib Muhammad bin Abubakar Asy-Syalli Ba-‘Alawy, As-Syaikh Al-Akbar Abdullah Al-Idrus dalam Al-Masyra’ Ar-Rawiy fi Manaqib As-Sadah Al-Kiram Bani Alawiy, tt

Sayyid Ahmad bin Muhammad As-Syathiri, Sirah As-Salaf Min Bani ‘Alawiy Al-Husainiyin, (Jeddah: dicetak oleh Alam Ma’rifah), 1405H/1984

Prof Dr. HAMKA, Soal Jawab Agama Islam, (Kuala Lumpur: Pustaka Melayu Baru), 1978.

Ronald Lewcock, Wadi Hadhramaut and The Walled City of Shibam, UNESCO, 1986

D. Van Der Meulen dan H. Von Wissmann, Hadramaut -Some of Its Mysteries Unveiled

J. P. J. Barth, Overzicht der afdeeling Soekadana, Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van kunsten en wetenschappen. Deel L, Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Albrecht & Co., Batavia, 1897.

J.J.K. Enthoven, Bijdragen tot de Geographie van Borneo’s Wester-afdeeling. E.J. Brill, Leiden, 1903.

H. von Dewall, “Matan, Simpang, Soekadana, de Karimata-eilanden en Koeboe (Wester-afdeeling van Borneo)”, Tijdschrisft voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel XI, Vierde Serie Deel II, Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Batavia, 1862.

UCAPAN TERIMA KASIH :

D. Tick, Pusat Dokumentasi Kerajaan-Kerajaan di Indonesia “Pusaka”.pusaka.tick@tiscali.nl (Mirza Hafiz)dan christopher.buyers@virgin.net

Lambang Tarekat Qodiriyah Indonesia



KH Hasan Mustafa (Garut, Jawa Barat)



Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma sholi ala sayyidina muhammadin wa ala ali sayyidina muhammadin wa ala ahli bait

Haji Hasan Mustafa (Garut, Jawa Barat, 1268 H/3 Juni 1852 M – Bandung, 1348 H/13 Januari 1930) adalah seorang ulama dan pujangga Islam yang banyak menulis masalah agama dan tasawuf dalam bentuk guritan (pusisi yang berirama dalam bahasa Sunda), pernah menjadi kepala penghulu di Aceh pada zaman Hindia Belanda.

Haji Hasan Mustafa lahir dan hidup dalam lingkungan menak (bangsawan Sunda), tetapi berorientasi pada pesantren. [Ayahnya, Mas Sastramanggala, setelah naik haji disebut Haji Usman, camat perkebunan.] Karena kekerasan hati ayahnya ia tidak dididik melalui bangku sekolah yang akan membukakan dunia menak bagi masa depannya, melainkan dimasukkan ke pesantren. Pertama-tama ia belajar mengaji dari orang tuanya, kemudian belajar qiraah (membaca al-Qur’an dengan baik) dari Kiai Hasan Basri, seorang ulama dari Kiarakoneng, Garut, dan dari seorang qari yang masih berkerabat dengan ibunya.

Ketika berusia 8 tahun, ia dibawa ayahnya menunaikan ibadah haji untuk pertama kali. Di Mekah ia bermukim selama setahun dan belajar bahasa Arab dan membaca al-Qur’an. Sepulangnya dari Mekah di masukkan ke berbagai pesantren di Garut dan Sumedang. Ia belajar dasar-dasar ilmu syaraf dan nahwu (tata bahasa Arab) kepada Rd. H Yahya, seorang pensiunan penghulu di Garut. Kemudian ia pindah ke Abdul Hasan, seorang kiai dari Sawahdadap, Sumedang. Dari Sumedang ia kembali lagi ke Garut untuk belajar kepada Kiai Muhammad Irja, murid Kiai Abdul Kahar, seorang kiai terkenal dari Surabaya dan murid dari Kiai Khalil Madura, pemimpin Pesantren Bangkalan, Madura. Pada tahun 1874, ia berangkat untuk kedua kalinya ke Mekah guna memperdalam ilmu-ilmu keagamaan Islam. Kali ini ia bermukim di Mekah selama 8 tahun. Ketika berada di Mekah ia berkenalan dengan Christiaan Snouck Hurgronje, seorang orientalis Belanda yang sedang meneliti masyarakat Islam di Mekah. Pertemuan itu membuat hubungan keduanya akrab sampai Haji Hasan Mustafa meninggal dunia dan Snouck Hurgronje kembali ke negerinya setelah menunaikan tugas pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia.

Menurut data yang diperoleh dari P.S. van Koningsveld, seorang ahli bahasa Arab dan agama Islam di Belanda, melalui naskah asli Abu Bakar Djajadiningrat, seorang ulama Indonesia, yang dianggap sebagai sumber utama Snouck Hurgronje tentang Mekah, diperoleh informasi bahwa Haji Hasan Mustafa adalah seorang ulama terkemuka dari Jawa yang berada di Mekah menjelang akhir abad ke-19. Ia dianggap setingkat dengan Haji Ahmad Banten, putra Syekh Nawawi al-Jawi (Nawawi al-Bantani). Dalam urutan nama ulama Jawa terkemuka di Mekah saat itu, Haji Hasan Mustafa ditempatkan dalam urutan keenam. Ia mengajar di Masjidil Haram dan mempunyai 30 orang murid. Haji Hasan Mustafa menulis buku dalam bahasa Arab,Fath al-Mu’in (Kunci Penolong), yang diterbitkan di Mesir.

Haji Hasan Mustafa adalah seorang ulama yang menguasai berbagai macam ilmu yang diperoleh dari guru-gurunya di Mekah. Selain kepada Syekh Nawawi al-Bantani, ia juga berguru pada Syekh Mustafa al-Afifi, Syekh Abdullah az-Zawawi, Hasballah, dan Syekh Bakar as-Satha, semuanya adalah orang Arab.

Haji Hasan Mustafa meninggalkan Mekah pada tahun 1882, karena dipanggil oleh RH. Muhammad Musa, penghulu Garut pada masa itu. Ia dipanggil pulang untuk meredakan ketegangan akibat perbedaan paham di antara para ulama di Garut. Berkat usaha Haji Hasan Mustafa dan bantuan RH. Muhammad Musa, perselisihan itu dapat diredakan. Selama 7 tahun ia memberikan pelajaran agama siang dan malam, terutama di Masjid Agung Garut.

Karena pengetahuan agamanya yang luas, Snouck Hurgronje pada tahun 1889 memintanya untuk mendampinginya dalam perjalanan keliling Jawa dan Madura. Ketika itu Snouck Hurgronje adalah penasihat pemerintah Hindia Belanda tentang masalah Bumiputra dan Arab. Ia menjadi pembantu Snouck Hurgronje selama 7 tahun. Atas usul Snouck Hurgronje, pemerintah Belanda mengangkat Haji Hasan Mustafa menjadi kepala penghulu di Aceh pada tanggal 25 Agustus 1893.

Jabatan kepala penghulu di Aceh dipegangnya selama 2 tahun (1893-1895). Kemudian pada tahun 1895 ia kembali ke Bandung dan menjadi penghulu Bandung selama 23 tahun. Akhirnya pada tahun 1918, atas permintaannya sendiri ia memperoleh pensiun.

Haji Hasan Mustafa adalah seorang ulama yang sabar, berpendirian teguh dan berani mengemukakan pendapat serta pendirian. Ia mengembangkan ajaran islam melalui tugas sebagai penghulu dan kegiatannya sebagai pengajaran agama dan tasawuf dalam pertemuan-pertemuan informal. Di antara muridnya terdapat Kiai Kurdi dari Singaparna, Tasikmalaya, yang mempunyai sebuah pesantren.

Ajaran Islam ditulis dan diajarkannya dengan menggunakan lambang-lambang yang terdapat dalam pantun serta wayang tradisional Sunda. Metafora yang dipergunakan sering bersifat khas Sunda. Penyampaian ajaran agama Islam begitu dekat dengan kebudayaan setempat (Sunda). Ia memetik 104 ayat al-Qur’an untuk orang Sunda. Jumlah itu dianggap cukup dan sesuai dengan kemampuan orang Sunda dalam memahami ajaran islam.

Aliran mengenai tasawuf yang dianut dan diajarkan kepada muridnya tidak diketahui dengan pasti. Akan tetapi beberapa orang menyebutkan bahwa ia menganut aliran Syattariah, suatu tarekat yang berasal dari India, didirikan oleh Syekh Abdullah Asy-Syattar, dikembangkan di Indonesia mula-mula oleh Syekh Abdur Rauf Singkel, dan menyebar ke Jawa Barat karena peranan Syekh Haji Abdul Muhyi, salah seorang murid Syekh Abdur Rauf Singkel. Dalam karyanya ia sering menyebut nama al-Ghazali sebagai sufi yang dikaguminya.

Haji Hasan Mustafa menyebarkan ajaran Islam melalui karya-karya seninya yang sangat berlainan dengan karya-karya seni Sunda pada masa itu. Umumnya yang dibahas adalah maslah-masalah ketuhanan (tasawuf). Bentuk formalnya mirip dengan kitab-kitab suluk dalam bahasa Jawa, tetapi isinya lebih dekat dengan tradisi puisi tasawuf. Karya-karya itu merupakan perpaduan atas tanggapan, renungan, dan pendapat Haji Hasan Mustafa terhadap bermacam-macam pengetahuan yang dikuasainya, yakni agama Islam, tasawuf, kebudayaan Sunda, dan peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Hampir semua karyanya ditulis dalam huruf pegon (tulisan menggunakan huruf Arab tetapi kata-kata dalam bahasa Jawa atau Sunda).

[Sekitar tahun 1900 ia menulis lebih dari 10.000 bait dangding yang mutunya dianggap sangat tinggi oleh para pengeritik sastra Sunda. Karya tersebut umumnya membahas masalah suluk, terutama membahas hubungan antara hamba (kaula) dengan Tuhan (Gusti). Metafora yang sering digunakannya untuk menggambarkan hubungan itu ialah seperti rebung dengan bambu, seperti pohon aren dengancaruluk (bahan aren), yang menyebabkan sebagian ulama menuduhnya pengikut mazhab wahdatul-wujud. Terhadap tuduhan itu, ia sempat membuat bantahan Injaz al-Wa'd, fi Ithfa al-Ra'd (membalas kontan sekalian membekap guntur menyambar) dalam bahasa Arab yang salah satu salinan naskahnya masih tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden.]

Karya-karyanya yang pernah dicetak dan dijual kepada umum adalah Bab Adat-Adat Urang Sunda Jeung Priangan Liana ti Éta (1913), esei tentang suku Sunda, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan Belanda (1977); Leutik Jadi Patélaan Adatna Jalma-Jalma di Pasundan (1916); Pakumpulan Atawa Susuratanana Antara Juragan Haji Hasan Mustafa Sareng Kyai Kurdi (1925); Buku Pengapungan (Hadis Mikraj, tahun 1928); dan Syekh Nurjaman (1958).

Di samping itu terdapat pula buku-bukunya yang hanya dicetak dan diedarkan di kalangan terbatas, seperti Buku Pusaka Kanaga Wara, Pamalatén, Wawarisan, danKasauran Panungtungan. Semua buku tersebut tidak diketahui tahun terbitnya.

Karya-karyanya yang dipublikasikan dalam bentuk stensilan ialah Petikan Qur’an Katut Abad Padikana (1937) dan Galaran Sasaka di Kaislaman (1937). Masih ada karya lain yang tidak dipublikasikan dan disimpan oleh M. Wangsaatmadja (sekretarisnya, 1923-1930). Pada tahun 1960 naskah tersebut diketik ulang dan diberi judul Aji Wiwitan (17 jilid). [Selain itu, Haji Hasan Mustapa menulis naskah dalam bahasa melayu Kasful Sarair fi Hakikati Aceh wa Fidir (Buku Rahasia Sebetulnya Aceh dan Fidi) yang sampai sekarang naskahnya tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden.]

Pada tahun 1977 haji Hasan Mustafa sebagai sastrawan Sunda memperoleh hadiah seni dari presiden Republik Indonesia secara anumerta.*** (Sumber: Suplemen Ensiklopedi Islam Jilid 1, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, cet-9, 2003, hal. 183-184. Tulisan di dalam kurung tegak merupakan catatan tambahan dari Ensiklopedi Sunda.)

Syarifah Nafisah Ra


Bismillahir rahmanir Rahiim

Allahumma sholi ala Syaidina Muhammadin wa ali syayaidina Muhammadin wa ala ahki Bait
Seorang Syekh Sufi menuturkan, ada seorang pejabat kerajaan yang hendak menyiksa seseorang dari kalangan rakyat biasa. Orang ini lalu mencari perlindungan kepada seorang wanita yang zuhud, zahidah, putrid keturunan Rasulullah SAW, Syarifah Nafisah binti Hasan bin Zaid bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Wanita yang rajin ibadahnya itu kemudian mendoa’kan tamunya. Kepada orang itu, Syarifah Nafisah berpesan :
”Allah yang maha kuasa akan menutupi mata orang zalim, sehingga ia tidak bisa melihatmu.”
Orang itu lalu pergi. Sampai ditengah keramaian orang, disana sudah ada pejabat kerajaan bersama para pengawalnya. Pejabat itu bertanya kepada para pengawalnya,
“Dimana si Fulan?”
“Dia ada dihadapanmu, Tuan”. Mereka menjawab.
“Demi Allah, aku tidak melihatnya” ujar pejabat itu.
Berulang kali ia mencoba meyakinkan diri, tapi ia memang tidak melihat si Fulan. Para pengawalnya laku menceritakan kepada pejabat itu bahwa orang itu sebelumnya telah mengunjungi Syarifah Nafisah dan minta didoa’kan olehnya. Setelah berdoa’, Syarifah Nafisah mengatakan bahwa Allah SWT akan menutupi penglihatan orang yang akan berbuat zalim kepadanya.
Mendengar cerita itu, si pejabat merasa malu dan menyadari kesalahannya. Ia menundukkan kepala seraya berkata:
“Kalau begitu kezalimanku telah mencapai tingkat sedemikian rupa, sehingga karena doa’ manusia saja Allah SWT telah menutupi mataku dari melihat orang yang terzalimi! Ya Allah, aku bertobat kepadamu.”
Ketika pejabat itu mengangkat mukanya lagi, dia melihat orang yang dicarinya berdiri dihadapannya. Dia pun lalu mendoa’kan orang itu, mencium kepalanya dan menghadiahi seperangkat pakaian bagus. Dan tentu saja, membebaskannya dengan rasa kasih.
Sang pejabat kemudian mengumpulkan kekayaannya dan menyedekahkannya kepada orang-orang miskin. Ia juga mengirimkan seratus dirham kepada Syarifah Nafisah, sebagai tanda syukur, karena telah membuat dirinya bertobat. Syarifah Nafisah menerima uang itu dan membagi-bagikannya kembali kepada orang-orang miskin.

Salah seorang wanita yang menemaninya berkata:

“Wahai ibu, kalau ibu mau memberi saya sedikit uang, saya akan membeli sesuatu untuk berbuka puasa kita.”

“Ambillah benang ini dan juallah. Kita akan berbuka puasa dengan uang hasil penjualan itu.”
Jawab Syarifah Nafisah, yang bermata pencaharian memintal dan menjual benang-benang untuk kain. Wanita sahabatnya itu kemudian pergi menjual benang. Uang hasil penjualan dibelikan roti untuk berbuka puasa Syarifah Nafisah dan sahabat-sahabatnya.
Syarifah Nafisah lahir di Mekah, menikah dengan Ishaq Mu’tamin bin Ja’far Ash Shadiq. Kemudian hijrah ke Mesir, negeri tempat beliau menghabiskan waktunya selama sekitar tujuh tahun, sebelum akhirnya meninggal dunia pada tahun 208 H / 788 M.
Diceritakan menjelang wafatnya, Syarifah Nafisah sedang berpuasa, dan orang-orang menyarankan agar beliau membatalkan puasanya. Beliau berkata:
“Alangkah anehnya saran kalian ini. Selama tiga puluh tahun ini, aku telah bercita-cita hendak menghadap tuhanku dalam keadaan berpuasa. Apakah sekarang aku harus membatalkan puasaku? Tidak, tidak mungkin!”
Beliau lalu membaca ayat Al-Qur’an surah Al-An-‘am. Ketika sampai pada ayat “Bagi mereka Darussalam ( rumah kediaman ) di sisi Tuhan mereka dan dialah pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang mereka kerjakan” ( ayat 127 ). Zahidah ini menghembuskan nafas terakhir.
Semasa kehidupannya di Mesir, terlihat orang-orang disana sangat menghormati dan mengaguminya. Diceritakan, ketika Imam Syafi’i pergi ke Mesir, beliau mendengar Syarifah Nafisah menuturkan hadits-hadits Nabi, dan selanjutnya meriwayatkan hadits dari Syarifah Nafisah itu. Ketika Imam Syafi’i wafat, Syarifah Nafisah melakukan salat jenazah di hadapan jenazah sang Imam. Kemudian beliau mendirikan tempat tinggalnya tidak jauh dari makam Imam Syafi’i, dan sampai meninggalnya beliau tetap disana.
Sebelum wafat, Syarifah Nafisah menyuruh orang menggali kubur untuknya, dan membacakan di atasnya Al-Qur’an sebanyak enam ribu kali tamat. Dan, ketika beliau meninggal dunia seluruh Mesir diliputi suasana berkabung yang sangat mendalam, ratap dan tangis serta doa’ terdengar dari setiap rumah. Jenazah Syarifah Nafisah dikuburkan di rumahnya di Darb Samah, dekat Kairo, Mesir.
Makam Syarifah Nafisah termasyhur, karena orang-orang yang menziarahinya dan bertabaruk kepadanya merasakan doa’nya terkabul. Diceritakan, pernah suaminya, Sayyid Ishaq, menginginkan agar jenazah isteri tercintanya dibawa ke Madinah untuk dikuburkan disana. Namun orang-orang Mesir memohon agar jenazah zahidah itu tidak dipindahkan. Sayyid Ishaq akhirnya mengalah. Masyarakat Mesir rupanya menginginkan agar mereka biasa senantiasa berdekatan dengan beliau, yang memiliki maqam keberkatan dan karamah tinggi.
Sang suami sendiri ternyata sempat bermimpi ditemui Rasulullah SAW, yang mengatakan kepadanya:

“Wahai Ishaq, janganlah engkau berdebat dengan orang-orang Mesir karena Nafisah; sebab melalui maqamnya rahmat Allah akan tercurah kepada mereka.:”

Selamat Idul Fitri 1433 H


Seiring cahaya rahmat bulan Syawal
Kuberi maafku setulus lahirmu dan kupinta maafmu se dalam batinku.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Andai jemari tak sempat berjabat
Jika raga tak bisa bersua
Bila ada kata membekas luka
Semoga pintu maaf masih terbuka
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Keindahan Ramadhan tetap bersinar seiring datangnya hari yang Fitri
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Gadis menyulam di atas kain
Seindah bunga dalam jambangan
Walau hanya SMS yang bisa kukirim
Serasa kita berjabat tangan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Bila ada langka membekas lara
Ada kata menusuk sukma
Ada tingkah menoreh luka
Mohon maafkan segala kekhilafan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Ada 10 Jari Tersusun Rapi
Bunga Melati Pengharum Hati
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Buah Durian Buah Alpukat
Satu Keranjang Dengan Jeruk Bali
Meski Ramadhan Telah Lewat
Moga Tahun Depan Berjumpa Lagi
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Lemah lembut tuan puteri
Berkain cindai cantik dipandang
Meriah menyambut Idul Fitri
Sahabat handai datang bertandang
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Ketupat dibelah rata
Kita makan bersama-sama
Aduh esok lebaran tiba
Maaf segala salah dan sangka
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Kecubung batu dari kalimantan
Cantik di sanding dengan berlian
Berhubung minggu sudah lebaran
Salah dan khilaf mohon dimaafkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Melamar Susi pakai sorban
Dengan berdo’a mengucapkan amin
Sebentar lagi kita lebaran
Mohon maaf lahir dan batin
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Ya..Allah muliakanlah dan sayangilah saudaraku ini
Bahagiakanlah keluarganya
Berkahi rezekinya
Kuatkanlah imannya
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Seperti yang sudah-sudah, kita mudik kerumah
Entah dalam keadaan menang atau kalah
Lalu tiba-tiba merasakan ada air mata yang tumpah
Seolah olah kita pasrah bahwa besok
dan besok kita masih juga tak mampu lari dari berbuat salah
Selamat pulang ke hati yang fitrah
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Sajadah indah nan berseri
Jadi hiasan di hari nan suci
SMS tuan sudah kami terima tanda ingat khilaf dan dosa
Taqobbalolluminna Waminkum
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Dalam fisik nan layu
hendaknya fikir tetap jernih
Dalam fitri yang bertalu
Hendaknya zikir dan silaturahmi tetap tercermin
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Bunga melati bunga kasturi
Mekar indah dalam jembangan
Sucikan hati di hari fitri
Salah dan dosa mohon dimaafkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Gemalah takbir di subuh sepi
Mengagungkan suci nama Mu Yaa Illahi
Dengan menyusun 10 jari kami juga mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Sejauh kaki melangkah
Setajam lidah berkata
Se dalam makna bertingkah
Kadang kita tak sama searah
Maaf diberi, kuberserah
Yang kuingin kembali ke fitrah. Maaf yaa
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Air sejuk ramadhan basuh daki noda dosa
Kembalikan jati diri fitrah insani
Idul fitri tebar salam silaturahmi
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Rayakan kemenangan di hari idul fitri
Dengan hati yang saling ikhlas memaafkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Tiada kata Seindah dzikir
Tiada bulan seindah ramadhan
Mohon maaf untuk lisan yangg tak terjaga
Janji yang terabaikan
Hati yang berprasangka
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Word begin with ABC
Number begin with 123
Music begin with Do Re Mi
And Idul Fitri begin with I Am Sorry
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

SSH heart -p 1431 login as : Asis Sugianto (ganti dengan nama sobat)
Password : Lebaran@heart:~$ sudo /usr/local/sbin/maaf_enable :~$wall
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin
Broadcast Message at now

Ketika fajar Syawal akan tiba
Kita sambut hari kemenangan penuh pengampunan
Dengan membuka pintu maaf dlm hati yg suci
Jika jemari tak kuasa berjabat
Setidaknya kata masih dapat terungkap
Dengan segala kekurangan dan kerendahan hati serta dengan tulus
Kami sekeluarga mengucapkan :
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Hati kadang tak sebening sabu
Tak semengkilap foil dan tak seenak inex
Namun demikian seiring terbitnya Mentari aku mohon SIMPATImu FREN
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Bila canda mbuat luka
Bila lidah mulai berbisa
Bila senyum tak berharga
Hanya beribu maaf aku pinta
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Hanni's Eyes

It's good fun, this life thing.

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 274 other followers

%d bloggers like this: